← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Forty One

[Rute Tamara] Papan Pengumuman

POV: Tamara


Bab ini adalah rute alternatif. Ceritanya bercabang dari akhir Bab 36 dan berjalan sampai selesai. Bab 37–40 tetap berlaku sebagai rute utama.


Syutingnya baru mulai delapan hari lagi.

Aku sampai lebih awal karena sutradaranya menyuruhku. Dua minggu riset, katanya, dan aku boleh melakukan apa pun asal aku tidak mengumumkannya ke siapa-siapa.

“Jangan bikin konten,” katanya di telepon. “Kalau kamu bikin konten, kamu jadi turis.”

“Terus saya jadi apa?”

Dan dia berkata:

“Jadi orang yang lagi belajar. Bedanya, orang yang lagi belajar itu diem.”


RSUD kabupaten letaknya empat puluh menit dari penginapan.

Bangunannya dua lantai. Cat kuning gading yang sudah mengelupas di bagian bawah. Kanopi di depan pintu masuk yang tiangnya dilas ulang dan tidak dicat.

Dan lobinya penuh.

Aku ingin mencatat itu, karena aku tidak siap.

Aku sudah dua puluh delapan tahun hidup di negara ini dan aku sudah masuk ke belasan rumah sakit dan tidak satu pun dari mereka seperti ini.

Kursi tunggu untuk empat puluh orang, dan yang duduk enam puluh, dan yang berdiri dua puluh. Orang tua dengan map plastik di pangkuan. Anak kecil tidur di lantai beralas jaket. Seorang bapak yang sudah tiga jam memegang nomor antrean tanpa melepasnya sekali pun.

Aku memakai topi dan masker dan kacamata, dan tidak satu pun orang menoleh ke arahku selama empat jam.

Dan aku menyadari, di jam kedua, bahwa itu bukan karena penyamaranku bagus.

Itu karena tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang punya tenaga untuk memperhatikan siapa pun.


Aku ke sana enam hari berturut-turut.

Suster Yani yang mengizinkan. Perawat, tiga puluh empat tahun, koordinator shift malam. Kepala rumah sakit yang memberi izin resminya, tapi Suster Yani yang benar-benar membiarkanku ikut.

Dan aku ingin mencatat satu hal yang dia katakan di hari pertama, karena itu yang paling kuingat dari seluruh dua minggu itu.

“Mbak mau ikut?”

“Boleh, Sus?”

“Boleh. Tapi jangan bantu.”

“...Kenapa?”

Dan dia berkata:

“Karena kalau Mbak bantu terus Mbak salah, yang tanggung jawab saya.”

Dan lalu dia melanjutkan berjalan, dan aku berdiri di koridor itu selama beberapa detik, karena aku baru saja diberi tahu batas oleh seseorang yang tidak tahu siapa aku dan yang tidak akan berubah sikapnya kalau tahu.


Hari keempat, aku mulai melihat.

Bukan melihat orangnya. Aku sudah melihat orangnya sejak hari pertama.

Aku mulai melihat cara mereka berjalan.

Suster Yani jalan cepat selama empat jam pertama. Jam kelima langkahnya sama cepatnya tapi bahunya turun. Jam kedelapan dia mulai memakai dinding — bukan bersandar, cuma menyentuhnya dengan ujung jari waktu belok, seperti orang yang butuh memastikan lantainya masih ada.

Jam kesebelas dia berhenti mengangkat kaki. Dia menggeser.

Dan jam kedua belas, waktu shift-nya selesai dan dia berjalan ke ruang ganti, langkahnya kembali normal selama kira-kira lima meter — dan lalu tidak lagi.

Aku menuliskannya di ponselku malam itu, empat ratus kata, dan aku membacanya ulang empat kali.

Dan aku memikirkan seseorang yang berkata “buat liat perawatnya jalan gimana kalau shift-nya udah dua belas jam” dengan nada orang yang menyebutkan bahwa kertas yang ditaruh lurus tidak akan menyangkut.

Aku tidak mengirim apa pun kepadanya.


Papan pengumuman itu ada di lobi, di sebelah kiri pintu masuk.

Aku sudah lewat di depannya kira-kira tiga puluh kali dalam enam hari.

Isinya: jadwal poli, tarif kamar, alur pendaftaran BPJS, imbauan cuci tangan, dan satu lembar A4 yang dilaminasi dan ditempel agak miring.

PROGRAM BANTUAN BIAYA PERAWATAN PASIEN TIDAK MAMPU Kerja sama dengan mitra penyalur dana

Dan di bawahnya dua baris.

Kuota tahun berjalan: 340 pasien. Realisasi s.d. triwulan III: 96 pasien.


Aku berhenti.

Aku ingin mencatat kenapa aku berhenti, karena aku sudah memeriksanya berkali-kali dan alasannya bukan yang diperkirakan orang.

Aku tidak berhenti karena aku pintar.

Aku berhenti karena otakku menghitung sebelum aku sempat menghentikannya.

Tiga ratus empat puluh dikurangi sembilan puluh enam.

Dua ratus empat puluh empat.

Dan aku berdiri di lobi RSUD kabupaten pada hari Rabu jam sebelas siang dengan enam puluh orang duduk di belakangku, dan angka itu menempel di kepalaku dan tidak mau pergi, karena aku sudah sebelas tahun tidak bisa berhenti menghitung dan karena orang yang menularkannya berada dua ratus empat puluh kilometer dan satu penerbangan dari sini.


Aku memotretnya.

Dan aku berdiri di sana empat menit lagi, dan aku membaca dua baris itu berkali-kali, dan aku menyusun sebelas alasan kenapa angka itu wajar.

Satu: triwulan ketiga belum selesai. Masih ada satu triwulan lagi. Tapi tiga triwulan adalah tiga perempat tahun, dan sembilan puluh enam bukan tiga perempat dari tiga ratus empat puluh. Sembilan puluh enam adalah dua puluh delapan persen.

Dua: mungkin memang tidak ada dua ratus empat puluh empat pasien tidak mampu di kabupaten ini. Aku duduk di lobi ini enam hari. Aku melihat empat ratus orang. Aku melihat bapak yang memegang nomor antrean tiga jam tanpa melepasnya.

Tiga: mungkin syaratnya ketat. Mungkin.

Empat sampai sebelas: aku menyusun delapan lagi, dan kedelapannya runtuh dalam waktu kurang dari dua menit masing-masing.

Dan lalu aku menyadari apa yang sedang kulakukan.

Aku sedang mencari alasan supaya aku tidak perlu mengerjakan apa-apa.

Dan aku sudah sebelas tahun sangat mahir melakukan itu.


Aku bertanya ke Suster Yani malam itu, jam sepuluh, waktu dia break.

“Sus.”

“Iya, Mbak?”

“Yang di papan depan itu. Program bantuan.”

“Oh, itu.”

“Realisasinya sembilan puluh enam dari tiga ratus empat puluh.”

Dan Suster Yani mengaduk kopi sachet-nya dan berkata:

“Ho’oh.”

“Sus nggak aneh?”

“Aneh gimana?”

Dan aku duduk di ruang jaga perawat RSUD kabupaten jam sepuluh malam dan menyadari bahwa aku baru saja menanyakan sesuatu yang salah.

“Maksud saya,” kataku, “kenapa sisanya nggak kepakai?”

Dan Suster Yani berkata:

“Nggak tau, Mbak. Saya nggak ngurusin itu.”

“Yang ngurusin siapa?”

“Bagian keuangan.”

“Sus pernah nanya?”

Dan dia menoleh ke arahku — dan wajahnya tidak marah, dan itu justru yang paling menyakitkan — dan berkata:

“Buat apa saya nanya, Mbak?”


Aku duduk di sana dan tidak bisa menjawab.

“Saya perawat,” katanya. “Kerjaan saya dua belas jam. Kalau ada pasien nggak sanggup bayar, saya kasih tau ada program, terus dia daftar, terus urusannya di depan.”

Dia meminum kopinya.

“Kalau diterima, ya syukur. Kalau nggak diterima, ya saya nggak bisa apa-apa.”

“Sus pernah ngeliat ada yang nggak diterima?”

“Sering.”

“Berapa sering?”

Dan Suster Yani meletakkan gelasnya.

“Mbak,” katanya. “Saya di sini sembilan tahun.”


Aku pulang jam dua belas lewat.

Dan di penginapan, aku duduk di tepi kasur dan membuka ponselku dan menatap foto papan pengumuman itu selama entah berapa lama.

Dan aku melakukan hal yang biasa kulakukan kalau ada sesuatu yang tidak enak: aku membuka grup.

Tiga orang. Sekar. Renata.

Dan aku mengetik.

tamara: ren

tamara: kalau ada program bantuan, kuotanya 340, realisasinya 96, itu artinya apa

Dan lalu aku menghapusnya.


Aku ingin mencatat kenapa aku menghapusnya, karena itu keputusan paling penting yang kuambil sepanjang dua minggu itu dan aku tidak menyadarinya sampai berbulan-bulan kemudian.

Kalau aku mengirim itu ke Renata, Renata akan menjawab dalam empat menit dengan tiga kemungkinan penjelasan, disusun dari yang terkuat ke yang terlemah, dengan dasar peraturan yang relevan.

Dan aku akan membacanya, dan aku akan mengangguk, dan aku akan tidur.

Dan besok pagi aku akan berangkat riset lagi dan angka itu akan jadi milik Renata.

Sebelas tahun aku hidup begitu.

Ada Nayla yang menjaga imej. Ada Vina yang menutupi. Ada Mama yang menentukan. Ada Sekar yang selalu tahu apa yang harus dikatakan. Ada Renata yang selalu tahu pasal berapa.

Dan ada satu orang di atap gudang yang menyerahkan tiga hal kepadaku pada suatu pagi bulan Februari sebelas tahun lalu dan berkata “kamu yang ngerjain” — dan aku mengerjakannya, dan aku menang, dan aku berdiri di depan anak kelas dua belas bernama Kevin dan berkata “aku ngitung sendiri.”

Dan itu bohong.

Dan aku sudah sebelas tahun tahu itu bohong.


Aku menghapus pesan itu.

Dan aku menaruh ponselku telungkup di kasur, dan aku mengambil buku catatan yang kubawa untuk riset peran, dan aku membuka halaman kosong.

Dan aku menulis dua baris di atasnya:

340 96

Dan di bawahnya, satu pertanyaan:

Kenapa?


Aku tidak tidur sampai jam tiga.

Dan sepanjang tiga jam itu aku memikirkan satu hal, dan hal itu bukan tentang rumah sakit.

Aku memikirkan seorang perempuan yang duduk di ruang rapat lantai dua puluh satu lima bulan lalu, sebagai peninjau, dengan kertas pinjaman dari notulis di sebelahnya.

Dan yang mengangkat tangan dan bertanya “berapa anak?” di ruangan berisi dua belas orang yang sedang membicarakan angka satu koma empat miliar.

Dan yang, waktu dijawab dua ratus tujuh puluh satu, bertanya lagi: “namanya ada?”

Aku ingat wajah semua orang di ruangan itu waktu aku bertanya.

Mereka menoleh ke arahku dengan tatapan orang yang sedang menghitung berapa lama lagi acara ini selesai.

Dan cuma satu orang yang menjawabnya dengan serius, dan orang itu menjawabnya tanpa melihat catatan.


Jam tiga pagi, aku menulis satu baris lagi di bawah Kenapa?

Dan siapa yang mau nyariin namanya.