← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Nineteen

Tanpa Janji

POV: Sekar


Jam enam kurang sepuluh, Mbak Dini mengetuk pintu ruang praktikku.

“Dok, ada yang nyari.”

“Pasien?”

“Bukan. Nggak ada janji.” Dia melihat ke buku. “Namanya Pak Andhika.”

Dan aku meletakkan pulpen dengan sangat pelan supaya tidak berbunyi.

“Suruh masuk.”

“Dok, jadwal Dokter udah kosong dari jam lima. Mau saya bilang besok aja?”

“Suruh masuk, Mbak.”


Pintu ditahan sampai menyentuh kusen. Gagang dilepas pelan-pelan.

“Sore, Dok.”

“Sore.”

Dan dia berdiri di ambang pintu ruang praktikku pada hari Jumat jam enam kurang, tanpa janji, tanpa map, tanpa jas — kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, yang berarti dia dari gudang arsip dan bukan dari kantor.

“Sesi kelima hari Senin,” kataku.

“Iya.”

“Ini bukan sesi.”

“Iya.”

Dan lalu tidak ada apa-apa.

Dia berdiri di sana selama kira-kira empat detik dan tidak mengatakan apa pun lagi, dan aku duduk di kursiku dan tidak menawarkan apa pun, karena aku sudah memutuskan sejak sesi keempat bahwa aku tidak akan pernah lagi menyediakan jalan keluar untuk orang ini.

“Ada perlu apa, Pak Andhika?”

Dan dia berkata:

“Nggak ada.”


Aku ingin mencatat, sejelas-jelasnya, apa yang terjadi di dalam dadaku pada saat itu.

Karena selama dua puluh dua tahun aku mengenal orang itu, dan selama dua puluh dua tahun aku belum pernah sekali pun melihatnya berada di suatu tempat tanpa alasan.

Umur enam, dia tidak keluar main karena harus jaga nenek. Umur tiga belas, dia di percetakan karena kerja. Umur enam belas, dia di atas gudang karena tidak ada tempat lain. Umur dua puluh delapan, dia di kota ini karena penugasan.

Setiap menit dalam hidup laki-laki itu punya pembenaran yang bisa dituliskan di atas kertas.

Dan hari itu dia berdiri di ambang pintu ruang praktikku jam enam kurang sepuluh pada hari Jumat, dan waktu ditanya ada perlu apa, dia menjawab nggak ada.

Aku sudah dua belas tahun menangani pasien.

Aku pernah menangani orang yang tidak bisa keluar rumah selama empat tahun, dan orang yang tidak bisa tidur tanpa lampu menyala sejak umur sembilan, dan orang yang datang ke ruangan ini dua puluh delapan kali sebelum akhirnya mengucapkan satu kalimat yang benar.

Dan tidak satu pun dari mereka membuatku merasakan apa yang kurasakan pada detik itu.

Karena mereka semua datang untuk sembuh.

Orang ini datang tanpa alasan — dan orang yang datang tanpa alasan adalah orang yang sudah kehabisan tempat untuk dituju.

“Ya udah,” kataku. “Duduk.”


Dia duduk di kursi yang empat puluh sentimeter dari kursiku.

Dan tidak bicara.

Aku melanjutkan mengetik. Rekam medis pasien terakhir, dua ratus sepuluh kata, tujuh belas menit.

Dia duduk di sana selama tujuh belas menit tanpa mengatakan apa pun dan tanpa mengeluarkan ponsel dan tanpa melihat jam tangannya sekali pun.

Aku mengeceknya. Aku mengeceknya empat kali dari sudut mata.

Sekali pun tidak.


Jam enam lewat lima belas, aku menyimpan berkasnya dan menutup laptop.

Dan aku melakukan sesuatu.

Aku berdiri, dan aku berjalan ke sisi lain mejaku, dan aku duduk di atas meja itu.

Di depannya. Kaki menggantung. Tinggi meja tujuh puluh lima sentimeter, dan tinggiku seratus lima puluh dua, dan dengan begini untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun aku lebih tinggi daripada orang itu.

Dia mengangkat wajah.

“Dok.”

“Kamu nggak nyaman.”

“Enggak.”

“Kenapa?”

Dan dia menjawab, setelah kira-kira dua detik:

“Kamu ketinggian.”

“Iya,” kataku. “Sengaja.”


Aku ingin mencatat bahwa dia tidak mundur.

Kursinya beroda. Dia bisa mendorong dirinya ke belakang tiga puluh sentimeter dengan satu gerakan kaki dan seluruh situasi ini akan selesai.

Dia tidak melakukannya.

Dia duduk di sana dan mengangkat wajah dan menatapku, dan dari jarak itu aku bisa melihat garis di sudut matanya dan dua uban di pelipis kanan dan bekas luka kecil di bawah telinga yang sudah ada sejak dia kelas enam SD karena jatuh dari pohon jambu.

“Kar.”

“Hm.”

“Saya nggak tau kenapa saya di sini.”

“Aku tau.”

“Kamu tau?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku bersandar ke belakang, dua tangan di meja, dan berkata:

“Karena kamu capek dan kamu nggak punya tempat buat capek.”


Dia tidak menjawab.

“Dua puluh dua tahun aku ngeliatin kamu, Dhika,” kataku. “Kamu selalu ada di suatu tempat karena ada alasannya. Kerja, sekolah, nenek, penugasan. Nggak pernah sekali pun enggak.”

Aku mengayunkan kakiku sekali.

“Dan orang yang hidup kayak gitu nggak punya satu pun tempat di dunia yang boleh dia datengin cuma karena dia mau.”

Hening.

“Jadi kalau kamu nggak tau kenapa kamu di sini,” kataku, “nggak apa-apa. Nggak semua hal harus ada alasannya.”

“Kar.”

“Hm.”

“Kamu ngomong sebagai dokter?”

Dan aku menunduk sedikit — cukup untuk membuat jarak antara wajahku dan wajahnya jadi kira-kira lima puluh sentimeter, cukup untuk membuatnya harus memutuskan apakah dia akan mundur atau tidak.

Dia tidak mundur.

“Enggak,” kataku.


Kami duduk seperti itu selama entah berapa lama.

Aku tidak menghitungnya. Aku bisa. Aku memilih tidak.

Dan di suatu titik — aku tidak tahu kapan, dan aku tidak akan pernah tahu kapan — dia melakukan sesuatu yang membuatku harus menggigit bagian dalam pipiku sendiri.

Dia meletakkan tangannya di meja.

Di sebelah kiriku. Kira-kira sepuluh sentimeter dari pahaku.

Telapak menghadap ke atas.

Terbuka.

Dan dia tidak mengatakan apa pun, dan dia tidak menoleh ke arah tangannya sendiri, dan dia terus menatap ke depan seolah tidak terjadi apa-apa.


Aku tidak mengambilnya.

Aku ingin menuliskan alasannya, dan aku sudah memikirkannya selama berhari-hari setelahnya, dan alasannya ada dua.

Alasan pertama: kalau aku mengambilnya sekarang, di ruang praktikku, di jam kerja, dengan Mbak Dini di depan dan rekam medis di laptop — maka seluruh yang terjadi setelahnya akan punya tempat di berkas komite etik, dan aku sudah cukup merusak hidupku sendiri untuk bulan ini.

Alasan kedua yang benar: karena laki-laki itu baru saja melakukan satu-satunya bentuk permintaan yang dia tahu caranya, yaitu menyediakan sesuatu dan tidak mengatakan apa-apa.

Dan aku sudah dua puluh dua tahun mengambil apa pun yang disodorkan orang itu tanpa pernah membuatnya mengucapkan satu kata pun.

Jadi aku tidak mengambilnya.

Aku turun dari meja. Aku berdiri di depannya.

Dan aku berkata:

“Bukan di sini.”

Dia mengangkat wajah.

“Bukan sekarang, dan bukan di ruangan ini,” kataku. “Karena di ruangan ini aku dokter kamu, dan aku udah cukup ngerusak itu.”

Aku mengambil tasku dari kursi.

“Tapi kalau kamu mau naruh tangan kamu kayak gitu di tempat lain,” kataku, “aku ambil.”


Aku mematikan lampu ruang praktik jam enam lewat empat puluh.

Kami turun bersama. Lift. Empat lantai. Tidak ada yang bicara.

Di lobi klinik, dia berhenti.

“Dok.”

“Sekar.”

“Sekar.”

“Iya.”

Dan dia berdiri di lobi klinik itu memegang tas selempangnya, dan dia berkata sesuatu yang membuatku harus berjalan ke mobilku tanpa menoleh sekali pun setelahnya:

“Besok malem saya di gudang. Serah terima arsip. Jam sembilan.”

“Oh.”

“Sama Bu Renata.”

Dan dia mengatakan bagian kedua itu tanpa diminta, tanpa alasan, tanpa satu pun keperluan profesional untuk menyebutkannya kepada psikiaternya.

Aku berdiri di lobi klinik itu selama dua detik.

“Kenapa kamu ngasih tau aku?”

Dan Andhika Pratama, yang seumur hidupnya tidak pernah mengatakan satu pun kalimat tanpa menghitung biayanya lebih dulu, menjawab:

“Nggak tau.”


Aku sampai mobilku dan duduk di sana selama sepuluh menit tanpa menyalakan mesin.

Dan aku membuka ponsel dan mengetik ke grup.

sekar: dia dateng ke klinik tadi. tanpa janji. tanpa alesan.

tamara: HAH

Renata: Pukul berapa?

sekar: jam enam kurang. duduk tujuh belas menit. nggak ngomong apa2.

tamara: terus?

Dan aku menatap layar itu, dan aku memikirkan telapak tangan yang terbuka di meja praktikku sepuluh sentimeter dari pahaku, dan aku memutuskan untuk tidak menuliskannya.

Bukan karena aku menyembunyikannya.

Karena itu satu-satunya hal yang pernah diminta orang itu kepadaku seumur hidupnya, dan dia memintanya tanpa satu pun kata, dan aku sudah menolaknya sekali malam itu.

Aku tidak akan menolaknya dua kali dengan menceritakannya.

sekar: terus dia pulang

Renata: Sekar.

sekar: iya

Renata: Apakah Anda menyadari apa artinya seseorang datang ke suatu tempat tanpa alasan?

sekar: iya

Renata: Saya juga.

tamara: kalian dua2nya ngomong kayak lagi baca laporan

tamara: bilang aja artinya apa

Dan tidak ada satu pun dari kami yang mengetik selama hampir dua menit.

Lalu Renata mengetik satu baris, dan itu baris paling tidak-Renata yang pernah kubaca:

Renata: Artinya dia sudah kehabisan tempat.

tamara: terus?

Renata: Terus siapa pun yang menyediakan tempat berikutnya akan menjadi satu-satunya tempat yang dia punya.

Renata: Dan saya besok malam berdua dengannya di gudang arsip selama dua jam.

Aku menatap layar itu di dalam mobilku di parkiran klinik.

sekar: aku tau

Renata: Anda tahu?

sekar: dia yang ngasih tau aku. tadi. di lobi.

sekar: tanpa ditanya.

Dan tidak ada yang mengetik apa pun lagi malam itu.


Hari 22. Sisa 8.