← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Twenty Eight

Yang Melaporkan Dirinya Sendiri

POV: Renata


Saya mengetahuinya pada hari Sabtu pukul 08.14, dari sumber yang paling tidak masuk akal.

Wisnu.

Wisnu: Ketua, ini di luar konteks tapi saya rasa Ketua perlu tau.

Wisnu: Kantor saya nangani perkara etik profesi kesehatan. Kemarin masuk satu berkas ke Majelis Kehormatan Etik Kedokteran wilayah.

Wisnu: Pelapornya dokternya sendiri.

Renata: Sebutkan namanya.

Wisnu: dr. Sekar Widyaningsih, Sp.KJ.

Saya berdiri dari meja makan.

Wisnu: Ketua kenal?

Renata: Ya.

Wisnu: Ketua, saya nggak boleh kasih detail. Saya cuma bisa bilang: berkasnya lengkap dan yang bersangkutan nggak pakai kuasa hukum.

Wisnu: Dan Ketua, satu lagi.

Renata: Ya.

Wisnu: Rekam medisnya diserahin utuh. Nggak disunting satu kata pun.


Saya menelepon Sekar pukul 08.20.

Diangkat pada dering keempat.

“Ren.”

“Anda menyerahkannya.”

“Iya.”

“Kapan?”

“Kamis.”

“Termasuk catatan terapis?”

“Iya.”

“Termasuk sesi ketiga?”

Dan Sekar Widyaningsih berkata, dengan nada orang yang sedang menyebutkan bahwa hari ini mendung:

“Terutama sesi ketiga.”


Saya duduk di meja makan apartemen saya sendiri.

“Sekar.”

“Iya.”

“Tidak ada yang menuntut Anda.”

“Iya.”

“Tidak ada satu pun pihak yang mengetahuinya kecuali kami bertiga.”

“Iya.”

“Pasien tersebut tidak melaporkan Anda.”

“Iya.”

“Klinik tidak melaporkan Anda.”

“Iya, Ren.”

“Lalu mengapa—”

Dan dia memotong.

“Ren.”

“Ya.”

“Kamu inget nggak tanggal 27 Februari sebelas tahun lalu?”

Saya berhenti bicara.

“Kamu nyampe stasiun jam satu siang,” katanya. “Keretanya jam sebelas. Kamu ngitung salah dua belas ribu rupiah.”

“Ya.”

“Dan kamu masih inget angkanya sampai sekarang.”

“Ya.”

“Aku juga inget angkanya,” katanya. “Tiga puluh dua menit. Aku duduk di teras rumah aku sendiri selama tiga puluh dua menit dan aku pegang tangannya dan aku punya enam kalimat yang udah aku hafalin dan aku nggak ngomong satu pun.”

Terdengar suara di seberang. Cangkir diletakkan.

“Kamu nyalahin diri kamu sendiri karena salah ngitung, Ren,” katanya. “Aku nyalahin diri aku sendiri karena diem.”

“Sekar—”

“Dan bedanya, salah ngitung itu kecelakaan. Diem itu pilihan.”


Saya tidak berkata apa pun selama beberapa detik.

“Sanksinya apa?” kata saya akhirnya.

“Belum tau. Sidangnya bulan depan.”

“Kemungkinan terburuk?”

“Pencabutan izin praktik. Tapi itu buat pelanggaran berat berulang, dan punyaku sekali.”

“Kemungkinan terbesar?”

“Peringatan tertulis, sama kewajiban ikut pembinaan. Mungkin pembatasan praktik enam bulan.”

“Enam bulan.”

“Iya.”

Dan saya berdiri di dapur saya sendiri pada pukul setengah sembilan pagi hari Sabtu, dengan dua cangkir kopi di meja karena Arya menginap dan sudah membuatkan satu untuk saya dan meletakkannya di sisi kanan.

“Sekar.”

“Hm.”

“Apakah dia mengetahuinya?”

“Belum.”

“Anda tidak akan memberitahukannya?”

Dan Sekar berkata:

“Enggak.”

“Mengapa?”

“Karena kalau aku ngasih tau, itu jadi tagihan.”


Saya menutup telepon pukul 08.41.

Dan saya berdiri di dapur saya selama empat menit dengan ponsel di tangan.

Dan Arya keluar dari kamar dan berkata, “Pagi,” dan mengambil cangkirnya, dan bertanya siapa yang menelepon sepagi ini.

“Teman.”

“Teman yang mana?”

Dan saya menoleh ke arahnya.

Tiga puluh satu tahun. Kemeja tidur. Rambut belum disisir. Membuatkan saya kopi setiap pagi selama dua tahun dan meletakkannya di sisi kanan tanpa pernah saya beri tahu.

“Teman SMA,” kata saya.

“Yang mana? Yang dokter itu?”

Saya berhenti.

“Anda mengetahui saya punya teman yang dokter.”

“Ya tau.” Beliau tertawa. “Kamu pernah cerita. Dua tahun lalu, waktu kita baru kenal.”

“Saya bercerita?”

“Iya. Kamu cerita ada tiga orang temen SMA kamu. Yang dokter, yang artis, sama—”

Beliau berhenti.

Dan beliau menaruh cangkirnya di meja.

Dan beliau menoleh ke arah saya, dan wajah itu berubah, pelan sekali, dengan cara yang membuat saya ingin duduk.

“Ren.”

“Ya.”

“Kamu nggak pernah nyebut yang ketiga.”


Saya berdiri di dapur saya sendiri.

“Dua tahun,” kata beliau. “Kamu cerita panjang lebar soal yang dokter dan yang artis. Kamu inget nama mereka, kamu inget kelas berapa, kamu inget kalian pernah ketemuan di mana.”

“Arya—”

“Dan yang ketiga kamu cuma bilang ‘ada satu lagi’.”

Beliau berdiri.

“Aku nanya waktu itu, siapa yang ketiga. Kamu bilang ‘nggak penting’.”

Dan saya berdiri di sana dan tidak bisa mengucapkan satu pun kata, karena tidak ada satu pun kalimat di dalam kepala saya yang benar, dan karena saya belum pernah dalam hidup saya berada dalam situasi di mana saya harus berbicara tanpa kalimat yang sudah disusun.

“Ren.”

“Ya.”

“Yang audit itu.”

Saya tidak menjawab.

Dan Arya berdiri di dapur apartemen saya pada pukul setengah sembilan pagi hari Sabtu, dan beliau tidak berteriak, dan beliau tidak marah, dan beliau tidak melempar apa pun.

Beliau mengangguk sekali.

Dan berkata:

“Oke.”


“Arya—”

“Aku mandi dulu ya.”

“Arya.”

“Ren, aku nggak marah.” Beliau berhenti di ambang pintu kamar. “Aku beneran nggak marah. Aku cuma butuh mandi.”

“Saya belum—”

“Kamu belum ngapa-ngapain,” kata beliau. “Aku tau. Kamu nggak bakal.”

Dan itu.

Itu kalimat yang menghancurkan saya, dan bukan yang lain.

Bukan karena kalimat itu salah.

Karena kalimat itu benar — saya belum melakukan apa pun, tidak satu pun, tidak ada satu detik pun dalam dua puluh delapan hari terakhir yang dapat digugat oleh siapa pun di pengadilan mana pun.

Dan laki-laki itu mengetahuinya.

Dan mengatakannya dengan nada orang yang sedang memberikan sesuatu.


Beliau keluar dari kamar mandi dua puluh menit kemudian, sudah berpakaian.

Dan beliau duduk di seberang saya di meja makan.

“Ren.”

“Ya.”

“Aku mau nanya satu hal, dan aku mau kamu jawab yang bener, dan abis itu aku nggak akan nanya lagi.”

“Baik.”

Dan Arya bertanya:

“Kalau dia nggak dateng ke kota ini, kita bakal nikah bulan Agustus?”

Dan saya membuka mulut.

Dan saya menutupnya.

Dan saya duduk di meja makan itu selama sembilan detik — saya menghitungnya, karena saya menghitung segala hal, dan sembilan detik adalah angka yang sudah pernah saya hitung sebelumnya di atas atap gudang sebelas tahun yang lalu.

“Ya,” kata saya.

“Dan kamu bakal bahagia?”

Dan saya berkata:

“Saya tidak tahu.”


Arya mengangguk.

Beliau mengambil kunci mobilnya dari meja.

Dan sebelum keluar, beliau berkata satu hal yang saya tulis kata per kata di dalam kepala saya, di tempat yang sama dengan segala sesuatu yang tidak dapat saya tuliskan:

“Ren, dua tahun ini aku selalu mikir kamu itu orang paling jujur yang pernah aku kenal.”

Beliau membuka pintu.

“Dan ternyata kamu jujur banget,” katanya. “Kamu cuma nggak pernah ngasih tau apa-apa.”

Pintu ditutup.

Pelan. Tanpa dibanting.

Dan saya duduk sendirian di meja makan apartemen saya sendiri dengan dua cangkir kopi, satu di sisi kanan, dan yang satu lagi belum tersentuh sama sekali.


Pukul 14.00, saya melakukan sesuatu yang seharusnya saya lakukan sepuluh hari yang lalu.

Saya membuka surel dan menyusun dua lampiran: berita acara penutupan akses dan berita acara serah terima akhir penugasan WP-1147.

Keduanya sudah selesai sejak hari Selasa.

Keduanya dapat dikirim melalui surel.

Keduanya tidak memerlukan pertemuan langsung sama sekali, dan saya telah mengetahui hal tersebut sejak saya membaca kontraknya pada halaman ketiga, dan saya telah menjadwalkan dua pertemuan tatap muka untuk hari kedua puluh sembilan dan ketiga puluh dengan alasan yang tidak dapat saya pertanggungjawabkan kepada siapa pun.

Saya melampirkan keduanya.

Saya mengetik badan surelnya:

Yth. Saudara Andhika Pratama, Bersama ini kami sampaikan berita acara penutupan akses dan serah terima akhir. Mohon ditandatangani secara elektronik dan dikembalikan. Dengan demikian, seluruh kewajiban administratif penugasan WP-1147 dinyatakan selesai. Terima kasih atas kerja samanya.

Saya membacanya empat kali.

Dan saya menekan kirim pukul 14.11.


Saya perlu menuliskan apa yang saya lakukan setelahnya, karena apa yang saya lakukan setelahnya adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah saya lakukan sepanjang hidup saya.

Saya menutup laptop.

Dan saya duduk di kursi meja kerja saya, dan saya berkata kepada diri saya sendiri, dengan suara — betulan bersuara, di ruangan kosong, sendirian:

“Selesai.”

Dan saya menunggu.

Saya menunggu selama kira-kira dua menit untuk merasakan sesuatu yang mendekati lega, sebagaimana yang saya rasakan setiap kali saya menyelesaikan sesuatu dengan benar, sebagaimana yang telah saya rasakan ribuan kali sejak usia dua belas tahun.

Tidak ada.

Saya baru saja menghapus satu-satunya alasan sah yang saya miliki untuk berada di ruangan yang sama dengan orang itu, dengan tangan saya sendiri, sepuluh hari lebih awal dari yang seharusnya.

Dan saya melakukannya dengan benar. Sepenuhnya. Tanpa satu pun celah.

Dan saya duduk di kursi itu dan menyadari bahwa saya baru saja melakukan hal yang persis sama seperti yang saya lakukan pada tanggal 20 November sebelas tahun lalu ketika saya membaca Pasal 8 ayat (5) dan tidak mencatatnya:

Saya menutup pintu keluar saya sendiri, dan menyebutnya prosedur.


Balasannya masuk pukul 16.52.

Andhika Pratama: Sudah saya tanda tangani, Bu. Terlampir.

Andhika Pratama: Terima kasih untuk seluruhnya.

Saya membaca dua baris itu.

Dan lalu, empat menit kemudian, masuk baris ketiga.

Andhika Pratama: Bu Renata, besok hari terakhir kontrak. Saya masih di kota sampai lusa.

Saya menatap layar itu.

Tidak ada pertanyaan di dalamnya.

Tidak ada undangan, tidak ada permintaan, tidak ada satu pun kalimat yang dapat diartikan sebagai apa pun oleh siapa pun yang membacanya.

Sebuah pernyataan faktual, dikirimkan tanpa diminta, kepada seseorang yang tidak lagi memiliki keperluan administratif dengannya.

Dan saya sudah dua puluh delapan hari mengamati orang itu, dan saya sudah sebelas tahun ditambah dua puluh delapan hari mengamati orang itu, dan saya mengetahui persis apa artinya sebuah kalimat yang tidak memiliki keperluan.

Saya mengetik.

Renata: Baik.

Saya menghapusnya.

Renata: Terima kasih atas informasinya.

Saya menghapusnya.

Dan saya duduk di kursi meja kerja saya sampai pukul tujuh malam dengan ponsel di tangan dan tidak mengirim apa pun.


Hari 29. Sisa 1.