← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Forty Seven

[Rute Tamara] Delapan Tahun

POV: Andhika


Aku menulis suratnya hari Kamis malam.

Satu halaman.

Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah delapan tahun menulis dokumen dan aku hafal bahwa surat pengunduran diri yang panjang adalah surat orang yang belum yakin.

Yth. Bapak Wiratama Adiputra, Bersama ini saya menyampaikan pengunduran diri dari Wiratama & Partners, efektif akhir bulan ini, dengan masa pemberitahuan sesuai ketentuan. Saya menyampaikan terima kasih atas delapan tahun yang tidak dapat saya balas.

Tiga paragraf. Yang ketiga cuma satu kalimat.

Dan aku tidak mencantumkan alasan, karena kolomnya tidak wajib diisi, dan karena aku sudah memeriksanya.


Pak Wira memanggilku hari Senin.

Bukan telepon. Beliau terbang.

Aku mengetahuinya jam tujuh pagi dari pesan yang isinya empat kata: Aku di lobi hotel.

Dan aku turun sembilan menit kemudian dan beliau ada di sana, di sofa lobi hotel yang bau pengharum ruangannya terlalu manis, dengan koper kecil di samping kaki dan wajah orang yang naik penerbangan pertama.

“Pak.”

“Duduk.”


Aku duduk.

Dan beliau tidak mengatakan apa pun selama kira-kira satu menit, dan itu bukan gaya Pak Wira, dan aku menunggu.

“Dhik.”

“Iya, Pak.”

“Kolom alasan kamu kosong.”

“Nggak wajib diisi, Pak.”

“Aku tau nggak wajib.” Beliau menyandarkan punggung. “Delapan tahun aku baca dokumen kamu, dan kamu nggak pernah sekali pun ngosongin kolom yang bisa diisi.”

Dan aku duduk di sofa lobi hotel itu dan tidak menjawab.

“Jadi aku terbang,” katanya. “Buat nanya.”


Aku bercerita empat puluh menit.

Seluruhnya. Termasuk yang tidak perlu.

Aku bercerita tentang seorang perempuan yang mengirim dua foto jam 02.02 dari kabupaten di Nusa Tenggara Timur dan satu baris berbunyi “ndhik, ini bener nggak sih?”

Aku bercerita tentang delapan hari telepon, dan tentang tiga surat yang tidak pernah dibalas, dan tentang staf keuangan bernama Pak Dedy yang berhenti mengajukan karena dia pikir tidak ada yang akan mendengar.

Aku bercerita tentang rapat hari Rabu di ruang rapat besar yayasan, yang tidak kuhadiri, dan tentang tiga hal yang keluar dari ruangan itu.

Dan waktu aku selesai, Pak Wira berkata:

“Kamu nggak ngerjain satu pun dari itu.”

“Enggak, Pak.”

“Kamu cuma nelepon.”

“Iya.”

“Delapan hari.”

“Iya.”

Dan beliau mengangguk-angguk pelan.

“Dhik.”

“Iya, Pak.”

“Itu kerjaan kamu.”


Aku berhenti.

“Itu persis kerjaan kamu,” katanya. “Dan kamu ngerjainnya gratis, dari kamar hotel, buat orang yang bukan klien, tanpa satu pun dokumen resmi.”

“Pak—”

“Dan hasilnya sembilan perjanjian diaudit.” Beliau mencondongkan badan. “Sembilan, Dhik. Kalau itu penugasan berbayar, itu tiga bulan kerja dan tim empat orang.”

Dan aku duduk di sofa lobi itu dan tidak bisa membantah satu pun kata.

“Jadi aku nanya sekali lagi,” kata Pak Wira. “Kenapa resign?”


Dan aku memberikan jawaban yang benar.

Dan aku ingin mencatat bahwa itu keluar dalam satu kalimat, tanpa disusun sebelumnya, dan bahwa itu pertama kalinya seumur hidupku sebuah alasan muat dalam satu kalimat.

“Karena saya mau ke sana, Pak.”

Pak Wira menatapku.

“Ke NTT?”

“Iya.”

“Nggak ada kantor kita di sana.”

“Iya, Pak. Saya udah cek.”

“Kamu mau kerja apa?”

Dan aku berkata:

“Belum tau.”


Beliau tertawa.

Pendek, satu tarikan napas, dan berhenti.

“Delapan tahun aku kenal kamu,” katanya, “dan kamu belum pernah sekali pun bilang ‘belum tau’ buat pertanyaan yang ada jawabannya.”

“Ini nggak ada jawabannya, Pak.”

“Ho’oh.” Beliau mengambil kopinya. “Itu yang aku maksud.”


Aku ingin mencatat percakapan sepuluh menit berikutnya karena aku mengulangnya berkali-kali sejak saat itu.

“Dhik, kamu inget kamu nulis apa di laporan? Halaman tujuh puluh dua.”

“Inget, Pak.”

“Bacain.”

Dan aku membacakannya dari ingatan, karena aku mengingat segalanya, karena itu penyakitku:

Identitas mereka tidak tercatat dalam dokumen mana pun, sehingga dampak yang dialami masing-masing tidak dapat ditelusuri maupun dipulihkan.

“Ho’oh.” Pak Wira meletakkan gelasnya. “Editor mau nyoret. Aku yang nahan.”

“Iya, Pak. Bapak udah cerita.”

“Aku belum cerita bagian keduanya.”

Dan aku mengangkat wajah.

“Setelah aku nahan itu,” katanya, “aku baca laporan kamu yang lama. Semuanya. Dua puluh sembilan penugasan, delapan tahun.”

Beliau menoleh ke arahku.

“Dhik, di dua puluh delapan laporan pertama kamu, nggak ada satu pun kalimat yang nyebutin orang.”

Aku tidak menjawab.

“Ada angka. Ada pasal. Ada nama tersangka.” Beliau mengangkat bahu. “Nggak ada orang.”

Dan lalu beliau berkata:

“Dan aku dulu bangga sama itu. Aku pikir itu artinya kamu objektif.”


“Sekarang Bapak mikir apa?”

Dan Pak Wira berkata:

“Sekarang aku mikir kamu delapan tahun nulis laporan tentang orang yang nasibnya persis kayak kamu, dan kamu nggak pernah nyebutin mereka sekali pun, karena kalau kamu nyebutin mereka kamu harus ngaku kamu salah satunya.”

Dan aku duduk di sofa lobi hotel lantai satu pada hari Senin jam delapan pagi, dan aku tidak bisa mengatakan apa pun selama kira-kira dua puluh detik.

“Pak.”

“Hm.”

“Bapak tau saya sekolah di sana?”

“Sekarang tau. Kamu baru cerita empat puluh menit lalu.”

“Sebelumnya?”

Dan Pak Wira berkata:

“Enggak. Tapi aku tau ada sesuatu, dari kamu umur dua puluh dua.”

“Dari mana, Pak?”

Dan beliau berkata:

“Dari kamu berdiri di depan ruangan aku dua puluh menit sebelum ngetuk.”


Aku menutup mata di sofa lobi itu.

Karena ada orang lain yang mengatakan hal yang persis sama kepadaku lima minggu lalu, di kursi plastik di pintu belakang sebuah percetakan di gang di belakang pasar, dan orang itu berumur enam puluh sembilan tahun dan pernah punya anak yang pergi umur delapan belas.

“Pak Wira.”

“Hm.”

“Kenapa Bapak nerima saya waktu itu?”

Dan Pak Wira berkata:

“Karena aku juga pernah berdiri dua puluh menit di depan pintu orang, Dhik. Umur dua puluh satu.”

Beliau berdiri dan mengambil kopernya.

“Dan yang di dalem waktu itu nyuruh aku masuk,” katanya. “Jadi ya sudah, giliranku.”


Surat pengunduran diriku diterima hari Rabu.

Dan hari Kamis, Pak Wira mengirim satu pesan.

Pak Wira: Dhik, aku nggak bikin kantor cabang di sana. Itu nggak masuk akal secara bisnis dan kamu bakal tau aku maksa.

Pak Wira: Tapi aku ngirim nama kamu ke tiga lembaga yang minta konsultan lepas buat audit dana desa sama dana BOS di wilayah timur.

Pak Wira: Bayarannya kecil dan nggak tetap. Kamu bisa nolak semuanya.

Dan lalu, empat menit kemudian:

Pak Wira: Dan Dhik, satu lagi.

Pak Wira: Kalau nggak jalan, balik.

Pak Wira: Kursinya nggak aku isi orang lain sampai setahun.


Aku membaca empat pesan itu di kamar hotel lantai sembilan.

Dan aku duduk di tepi tempat tidur dan menyadari bahwa aku baru saja menerima hal yang persis sama dari dua orang laki-laki berumur, di dua kota berbeda, dengan jarak sebelas tahun.

Kamu masih bisa balik ke sini.

Kursinya nggak aku isi orang lain sampai setahun.

Dan sebelas tahun lalu aku mendengar yang pertama dan aku bilang terima kasih dan aku naik kereta dan aku tidak pernah kembali.

Dan aku mengetik balasan untuk yang kedua, dan aku menghapusnya, dan aku mengetik lagi.

Dan yang akhirnya kukirim cuma tiga kata:

Andhika: Iya, Pak. Terima kasih.

Dan lalu, tiga puluh detik kemudian, satu baris lagi — yang tidak pernah kukirim kepada Pak Har sebelas tahun lalu, dan yang seharusnya kukirim:

Andhika: Saya bakal kabarin, Pak. Rutin.


Aku mengemasi kamar hotel itu hari Jumat.

Enam kemeja, tiga celana, satu jas cadangan.

Dan aku melipat seluruhnya dan memasukkannya ke koper, dan butuh sembilan menit, dan aku ingat bahwa membongkarnya butuh sebelas menit pada malam hari ketiga puluh.

Selisihnya dua menit.

Aku menghitungnya, tentu saja.

Dan lalu aku berdiri di kamar kosong itu dan menyadari bahwa aku menghitung selisih waktu membongkar dan mengemasi koper, dan bahwa itu tidak berguna untuk apa pun, dan bahwa aku melakukannya bukan karena cemas.

Aku melakukannya karena aku memang begitu.

Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku aku tidak merasa perlu memperbaikinya.


Aku ke percetakan hari Sabtu pagi.

Pak Har di kursi plastik. Gelas kopi. Ampas.

“Pak.”

“Hm.”

“Saya berangkat Senin.”

Dan beliau menoleh.

“Ke mana?”

“Timur. Nusa Tenggara.”

“Kerja apa?”

Dan aku berkata:

“Belum tau, Pak.”

Dan Pak Har menyeruput kopi yang tidak ada isinya, dan meletakkan gelasnya di lantai, dan berkata:

“Ho’oh.”

Dan tidak menanyakan apa pun lagi.


Kami duduk empat puluh menit.

Dan sebelum aku pergi, beliau memanggil dari kursi plastik itu.

“Dhik.”

“Iya, Pak.”

Dan Pak Har berkata:

“Kabarin ya.”

Dan aku berdiri di gang di belakang pasar pada hari Sabtu jam sepuluh pagi, dan aku berkata:

“Iya, Pak.”

Dan kali ini aku mengatakannya sambil tahu bahwa aku akan melakukannya, dan itu satu-satunya perbedaan antara hari itu dan hari Sabtu sebelas tahun lalu, dan itu perbedaan yang butuh sebelas tahun untuk kupelajari.


Aku menelepon Sekar hari Minggu malam.

Dan aku sudah menceritakan sebagian besarnya kepadanya di telepon hari Selasa, malam setelah sidangnya, waktu aku berkata “Kar, saya harus ngomong sesuatu” dan dia berdiri dari kursinya sebelum aku selesai bicara.

Jadi hari Minggu itu bukan pengakuan.

Hari Minggu itu penutupan.

“Kar.”

“Iya.”

“Besok saya berangkat.”

“Jam berapa?”

“Sebelas.”

Dan tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

“Dhika.”

“Hm.”

“Aku nggak akan ke bandara.”

“Iya. Saya tau.”

“Kamu tau kenapa?”

Dan aku berkata:

“Karena kamu udah pernah nggak ke stasiun sebelas tahun lalu, dan waktu itu alasannya karena saya nggak ngasih tau kamu jamnya.”

“Iya.”

“Dan sekarang saya ngasih tau.”

“Iya.”

Dan Sekar Widyaningsih berkata, dengan suara yang rata sepenuhnya:

“Dan aku tetep nggak ke sana. Bedanya, sekarang itu pilihan aku.”


“Kar.”

“Hm.”

“Saya minta maaf.”

Dan dia berkata:

“Jangan.”

“Kar—”

“Dhika, aku udah sebelas tahun nunggu dan aku nggak nunggu kamu.” Suaranya goyang sekali dan lalu kembali. “Aku nunggu diri aku sendiri. Aku udah bilang itu di teras dan aku serius.”

Aku memegang ponsel dengan dua tangan.

“Dan aku sampe,” katanya. “Aku sampe dua bulan lalu. Dan itu nggak berubah gara-gara kamu naik pesawat besok.”

Dan lalu dia berkata satu hal lagi, dan aku menuliskannya di kepalaku di tempat yang sama dengan segala sesuatu yang tidak bisa kuhapus:

“Yang aku sesalin bukan kamu pergi, Dhika.”

“Terus apa?”

Dan Sekar berkata:

“Yang aku sesalin, sebelas tahun lalu aku punya tiga puluh dua menit dan aku diem. Dan itu tetep salah aku, dan itu tetep nggak bisa dibetulin, dan itu nggak ada hubungannya sama siapa yang kamu pilih sekarang.”


Kami bicara sembilan menit lagi.

Dan yang terakhir dia katakan, sebelum menutup telepon, adalah hal yang paling tidak kuduga:

“Dhika.”

“Hm.”

“Jagain dia.”

Dan aku berkata:

“Kar—”

“Dan satu lagi.” Dan aku bisa mendengar dia tersenyum di seberang, dan itu bukan senyum yang bagus, dan itu tetap senyum. “Kalau kamu kesusahan di sana, jangan telepon aku.”

“Kenapa?”

Dan Sekar Widyaningsih berkata:

“Karena aku bakal dateng.”