Chapter Nine
Atrium Kemayoran
POV: Adrian
Kopi sachet tiga ribuan rasanya seperti air got yang diberi gula.
Aku meminumnya setiap pagi selama empat hari. Bianca mengantarkannya jam tujuh tepat, dalam gelas kertas dari minimarket di lobi, diletakkan di mejaku tanpa kata, lalu pergi. Dia nggak lagi memakai termos. Dia nggak lagi membawa cangkir keramik putih. Dia melakukan persis apa yang kusuruh, dengan presisi yang hampir seperti ejekan.
Dan setiap pagi, aku meminum air got bergula itu sampai habis, karena aku yang memintanya, dan aku bukan orang yang menarik kata-katanya sendiri.
Bayu, yang sudah lima tahun melihatku minum kopi tubruk tanpa gula, menatapku di hari keempat dengan wajah ngeri.
“Mas. Itu kopi sachet.”
“Iya.”
“Yang ada krimer-nya.”
“Iya.”
“Mas, kamu pernah bilang krimer itu kejahatan terhadap kemanusiaan.”
Aku meletakkan gelas kertas yang kosong. “Bay. Hasil penelusuran PT Sentra udah sampai mana?”
Bayu menatapku lama. Lalu memutar kursinya kembali ke monitor dengan desahan panjang. “Lapis kedua, Mas. Pemegang saham mayoritasnya PT Arunika Cipta Investama. Terus PT Arunika dimiliki sama dua perusahaan lagi, satu di Singapura, satu di Labuan. Ini kayak bawang. Dikupas, ada lagi, dikupas, ada lagi.”
“Terus kupas.”
“Iya, Mas. Sambil nangis.”
Hari kelima, aku mengunjungi Rexton Mall Kemayoran.
Bukan proyek Grand Nusantara, yang masih berupa kerangka baja dan beton di lahan seberang. Tapi mal lama di sebelahnya. Rexton Mall Kemayoran yang sudah beroperasi enam tahun, yang dibangun waktu aku masih jadi Head of Building Systems, yang pengadaan strukturnya kulaporkan sebagai anomali lima tahun lalu.
Rencananya sederhana. Sebelum memasang AURA di gedung baru, aku mau mengujinya di gedung lama. Selama tiga hari terakhir, tim teknisi Hallworth memasang dua ratus sensor portabel di seluruh mal: di kolom-kolom utama, di rangka atap, di eskalator, di pintu-pintu darurat. Sensor beban, sensor getaran, sensor suhu, kamera kepadatan. Hari ini adalah hari pertama sistem itu dinyalakan penuh.
Bianca ikut. Tentu saja dia ikut. Syarat nomor lima.
Dia datang jam sembilan dengan setelan krem dan sepatu datar, untuk pertama kalinya sejak aku kembali dia nggak memakai hak tinggi, dengan helm proyek putih di tangan dan tablet di lengan. Rambutnya diikat ekor kuda. Lipstiknya masih merah.
Dia nggak bicara padaku kecuali perlu. Aku juga.
“Ini atriumnya,” katanya, waktu kami berdiri di lantai dasar mal, di tengah ruang terbuka setinggi empat lantai dengan atap kaca berbentuk kubah di atasnya. “Area acara utama. Sabtu ini ada fashion show tenant baru. Panggungnya sedang dipasang.”
Aku melihat ke atas.
Atap kubah itu indah. Rangka baja putih yang melengkung, panel-panel kaca segitiga yang membiarkan cahaya matahari masuk. Di bawahnya, menggantung dari rangka itu, ada instalasi plafon dekoratif. Puluhan panel aluminium berbentuk daun, masing-masing selebar dua meter, digantung dengan kabel baja di ketinggian dua puluh meter, membentuk pola seperti kanopi pohon.
Aku ingat panel-panel itu. Aku ingat gambar kerjanya. Aku ingat menandai spesifikasi kabel penggantungnya sebagai perlu diverifikasi dalam laporan yang kuserahkan ke Hendra Rexton.
Di bawah kanopi itu, sekitar dua puluh pekerja sedang merakit panggung catwalk. Rangka besi. Papan kayu. Lampu sorot. Kabel-kabel yang berserakan. Seorang mandor berteriak-teriak lewat toa.
“Bay,” kataku ke earpiece. “Nyalakan semua sensor atrium.”
“Siap, Mas. Tiga… dua… satu. AURA online.”
Di tabletku, gedung itu menyala.
Aku nggak tahu bagaimana menjelaskan rasanya melihat AURA bekerja untuk pertama kalinya di gedung sungguhan. Gedung yang hidup, yang dipenuhi orang, yang bernapas.
Di layar tablet, Rexton Mall Kemayoran muncul sebagai model tiga dimensi transparan, garis-garis biru yang membentuk lantai, kolom, dan atap. Lalu titik-titik mulai muncul. Ratusan. Ribuan. Setiap titik adalah satu manusia, dibaca dari kamera kepadatan, bergerak di koridor-koridor mal seperti sel-sel darah di pembuluh. Di kolom-kolom, angka-angka beban muncul dan berubah-ubah. Di rangka atap, garis-garis getaran berdenyut pelan, hijau, normal.
Gedung itu hidup di tanganku.
Bianca berdiri satu meter di sebelahku, menatap tablet yang sama. Aku melihatnya dari sudut mataku. Bibirnya sedikit terbuka. Matanya bergerak cepat, mengikuti titik-titik yang bergerak.
“Itu… pengunjung?” tanyanya pelan. Pertanyaan pertama yang dia ajukan padaku hari itu yang bukan soal pekerjaan.
“Iya.”
“Semuanya?”
“Semuanya. Real-time. AURA bisa memprediksi ke mana mereka bergerak lima belas menit ke depan, berdasarkan pola.”
Dia menatap layar lama. Lalu dia bergumam, lebih ke dirinya sendiri: “Papa pasti suka ini.”
Aku nggak menjawab. Tapi aku ingat Robert Rexton. Laki-laki tinggi berkacamata tebal yang meninggal dua tahun sebelum aku diusir. Laki-laki yang pernah menghabiskan satu sore penuh di ruang kerjanya bersamaku, menjelaskan kenapa eskalator di Rexton Mall pertama diletakkan di sudut empat puluh lima derajat, dan yang di akhir sore itu menepuk bahuku dan bilang, Kamu ngerti gedung, Adrian. Kebanyakan orang cuma ngerti uang.
Robert Rexton satu-satunya orang di keluarga itu yang nggak pernah menatapku seperti noda di taplak meja.
Dia benar. Dia pasti suka ini.
Aku menelan sesuatu, dan kembali menatap layar.
Lalu aku melihatnya.
Satu garis di rangka atap berubah warna.
Hijau. Lalu kuning. Lalu kembali hijau. Lalu kuning lagi, lebih lama.
Aku memperbesar tampilannya. Panel dekoratif nomor tujuh belas. Sisi timur kanopi. Tepat di atas area panggung catwalk.
Sensor beban di kabel penggantungnya menunjukkan angka yang naik-turun dengan pola yang nggak normal. Bukan getaran biasa dari angin atau AC. Polanya bergerigi. Patah-patah. Seperti sesuatu yang perlahan-lahan menyerah.
“Bay. Panel tujuh belas. Kamu lihat?”
“Lihat, Mas.” Suara Bayu berubah. “Itu… Mas, itu nggak bagus. Kabel penggantung utaranya beban turun tiga puluh persen dalam satu menit terakhir. Bebannya pindah ke tiga kabel lain. Kabel selatan udah di atas batas aman.”
“Model prediksi?”
Hening sebentar. Bunyi ketikan cepat.
“Mas. AURA bilang kabel utaranya udah putus sebagian. Mungkin korosi, mungkin cacat material. Kalau kabel selatan ikut gagal, panelnya jatuh.” Jeda. “Estimasi… empat sampai sembilan menit. Interval kepercayaannya lebar karena datanya baru, tapi—“
Aku sudah bergerak.
“Semua orang keluar dari atrium!”
Suaraku menggema di ruang setinggi empat lantai itu. Dua puluh pekerja di area panggung menoleh dengan bingung. Mandor dengan toa menatapku dengan wajah orang yang nggak suka diperintah.
“Bapak siapa?”
“Konsultan keselamatan gedung. Panel di atas kepala kalian mau jatuh. Keluar. Sekarang.”
Mandor itu mendongak. Panel-panel aluminium berbentuk daun itu menggantung diam di ketinggian dua puluh meter, berkilau di bawah cahaya matahari dari atap kaca. Nggak ada yang terlihat salah.
“Pak, itu udah enam tahun di situ, nggak pernah—“
“Pak.” Aku menatapnya. “Empat menit. Mungkin kurang. Saya nggak akan minta dua kali.”
Sesuatu di wajahku pasti meyakinkannya. Dia mengangkat toanya dan berteriak, “SEMUA KELUAR! KELUAR DARI AREA PANGGUNG! CEPAT!”
Pekerja-pekerja mulai bergerak. Lambat, bingung, tapi bergerak. Beberapa meninggalkan alat mereka. Beberapa mencoba membawa kabel dan lampu.
“Tinggalkan!” teriakku. “Tinggalkan semuanya!”
Aku menoleh ke Bianca. Dia masih berdiri di tempatnya, wajahnya pucat, tablet di tangannya.
“Bu Rexton. Tutup akses atrium dari semua lantai. Hubungi manajemen mal. Evakuasi pengunjung di lantai satu sampai empat yang menghadap atrium. Sekarang.”
Dia menatapku satu detik. Lalu dia mengangguk dan langsung mengangkat ponselnya, bicara dengan suara yang cepat dan tegas, suara yang nggak pernah kudengar darinya dulu. Suara CEO.
Aku berlari ke arah panggung.
“Mas!” Suara Bayu di earpiece. “Kabel selatan mulai turun! Dua menit, Mas! Mungkin kurang!”
Di tengah rangka panggung yang setengah jadi, masih ada tiga orang. Dua pekerja muda sedang menurunkan lampu sorot dari tiang, terlalu sibuk untuk mendengar. Dan seorang laki-laki tua, mungkin teknisi listrik, berjongkok di bawah papan panggung, memasang kabel, dengan earphone di telinga.
Aku menarik dua pekerja muda itu dari tiang lampu. “Keluar! Sekarang!” Mereka melihat wajahku dan langsung berlari.
Laki-laki tua itu masih berjongkok. Aku merunduk ke bawah papan panggung, menarik earphone dari telinganya. Dia kaget.
“Pak, keluar. Panelnya mau jatuh.”
“Hah? Panel apa?”
Lalu terdengar bunyi itu.
Bunyi yang nggak akan pernah kulupakan. Bunyi logam yang ditarik terlalu keras. Melengking. Seperti senar gitar raksasa yang dipetik sampai putus.
Kami berdua mendongak.
Di ketinggian dua puluh meter, panel tujuh belas miring. Satu sisinya turun, menggantung dengan sudut yang salah, berayun pelan seperti daun yang hampir lepas dari ranting.
Aku menarik laki-laki tua itu keluar dari bawah panggung dan mendorongnya ke arah pintu keluar timur. “LARI!”
Dia lari.
Aku berbalik untuk mengikutinya.
Dan aku melihat Bianca.
Dia nggak di tempatnya.
Dia di tengah atrium, sepuluh meter dari panggung, berjongkok di samping seorang pekerja perempuan muda yang terjatuh. Pekerja itu tersandung kabel waktu berlari, kakinya terbelit, dan dia nggak bisa bangun. Bianca berlutut di sebelahnya, menarik-narik kabel yang melilit pergelangan kaki perempuan itu dengan tangannya sendiri, dengan setelan krem yang sudah kotor dan helm proyek yang terlepas dari kepalanya.
Tepat di bawah panel tujuh belas.
Aku nggak berpikir. Nggak ada ruang untuk berpikir. Ada jarak sepuluh meter antara aku dan mereka, dan ada panel aluminium selebar dua meter yang berayun di atas kepala mereka, dan ada bunyi logam yang melengking lagi, lebih keras.
Aku berlari.
Kabel di pergelangan kaki pekerja itu lepas tepat waktu aku sampai. Aku menyambar lengan perempuan muda itu dan mendorongnya ke depan, ke arah pintu keluar, dengan seluruh kekuatanku. Dia terhuyung, lalu berlari.
Lalu aku meraih Bianca.
Satu tangan di pinggangnya. Satu tangan di belakang kepalanya. Aku menariknya ke dadaku dan memutar tubuh kami, menjauh dari titik di bawah panel, satu langkah, dua langkah—
Kabel terakhir putus.
Bunyinya seperti tembakan. Lalu bunyi angin. Lalu benturan yang menggetarkan seluruh lantai atrium, bunyi aluminium yang menghantam rangka besi panggung, besi yang melengkung, papan kayu yang pecah, kaca lampu sorot yang meledak jadi ribuan serpihan.
Aku merasakan sesuatu menyambar lengan kiriku. Panas. Tajam. Lalu basah.
Lalu hening.
Debu turun pelan dari udara, berkilau di bawah cahaya matahari dari atap kaca.
Aku masih memeluk Bianca. Kami berdua berdiri, entah bagaimana, empat meter dari tumpukan logam dan kayu yang tadinya panggung catwalk. Panel tujuh belas tergeletak di tengahnya, terlipat seperti kertas yang diremas, sudutnya tertancap di lantai granit yang retak.
Tepat di tempat Bianca tadi berlutut.
Tubuhnya gemetar di dadaku. Aku bisa merasakannya, getaran kecil yang terus-menerus, seperti burung yang kedinginan. Wajahnya terbenam di bahuku. Tangannya mencengkeram bagian depan kemejaku, erat sekali, sampai kancingnya menekan kulitku.
Aku bisa mencium rambutnya. Bau sampo yang sama. Lima tahun, dan dia masih memakai sampo yang sama.
Tiga detik. Mungkin empat. Aku berdiri di sana memeluk perempuan yang kubenci, dengan lengan yang berdarah dan jantung yang berdentum seperti mau pecah, dan aku nggak melepaskannya.
Lalu aku melepaskannya.
Aku mundur satu langkah. Tanganku turun dari pinggangnya. Dia mendongak, menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak aku kembali, nggak ada lipstik merah atau setelan atau baju zirah di antara kami. Cuma wajahnya. Pucat. Berdebu. Mata yang lebar dan basah.
“Kamu…” Suaranya serak. “Lengan kamu.”
Aku melihat ke bawah. Lengan kemeja kiriku robek dari siku sampai pergelangan. Ada luka panjang di bawahnya, garis merah yang terbuka, darah mengalir dan menetes dari ujung jariku ke lantai granit.
Lalu aku melihat lengan setelan Bianca. Krem. Di bagian bahu dan lengan kanannya, tempat tadi lenganku melingkarinya, ada noda merah yang menyebar.
Darahku. Di bajunya.
“Pak! Bapak nggak apa-apa?” Mandor itu berlari menghampiri, diikuti beberapa pekerja dan dua satpam mal. “Ya Allah, Pak, lengan Bapak!”
“Saya nggak apa-apa.” Aku menekan lukanya dengan tangan kanan. “Ada yang luka lain?”
“Nggak ada, Pak. Semua keluar. Semuanya selamat.” Mandor itu menatapku, lalu menatap tumpukan logam di belakangku, lalu menatapku lagi. Wajahnya putih. “Pak. Kalau tadi kita masih di situ…”
“Nggak usah dipikirin.”
“Bapak tahu dari mana? Panelnya kelihatan normal—“
Aku mengangkat tabletku yang retak di pojok. Di layarnya, model tiga dimensi Rexton Mall Kemayoran masih menyala. Panel tujuh belas sudah hilang dari gambar. Di tempatnya, sebuah tanda merah berkedip.
“Gedungnya yang kasih tahu,” kataku.
Bianca masih berdiri di tempatnya.
Para pekerja mulai berkerumun. Satpam mal memasang garis polisi kuning. Seseorang berteriak memanggil ambulans. Dan Bianca berdiri di tengah semua itu, dengan setelan krem bernoda darahku, menatapku.
Lalu dia melangkah maju.
“Dr. Renaldi.” Suaranya lebih tenang sekarang, tapi masih bergetar di ujung. Cukup keras untuk didengar mandor, pekerja, satpam. “Terima kasih. Kamu menyelamatkan—“
“Jangan salah paham, Bu Rexton.”
Aku nggak meninggikan suara. Aku cuma bicara dengan cukup jelas.
“Saya nyelamatin proyek, bukan Ibu.” Aku menatapnya. “Kalau CEO Rexton tewas di gedung Rexton seminggu setelah saya tanda tangan kontrak, Hallworth akan mundur, dan AURA nggak akan pernah dipasang di Grand Nusantara. Ibu cuma kebetulan berdiri di dalamnya.”
Mandor itu menatapku dengan bingung. Salah satu pekerja muda menyikut temannya.
Bianca nggak bergerak. Wajahnya nggak berubah. Tapi tangannya, yang tadi terangkat sedikit ke arahku, entah mau menyentuh lenganku atau apa, turun pelan ke sisi tubuhnya.
Aku berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar, ke arah ambulans yang suara sirenenya mulai terdengar.
Di belakangku, aku mendengar suaranya. Pelan. Hampir nggak terdengar di tengah keributan.
“Kamu bohong.”
Aku nggak berhenti.
Luka di lenganku butuh dua belas jahitan.
Dokter IGD di rumah sakit terdekat bilang aku beruntung. Dua senti lebih dalam, dan tendonnya kena. Dia bertanya bagaimana kejadiannya. Aku bilang kena serpihan logam. Dia bertanya apakah ada orang lain yang luka. Aku bilang nggak ada.
Bayu datang satu jam kemudian dengan napas memburu, laptop di bawah lengan, dan wajah seperti orang yang baru lihat hantu.
“Mas. Mas, kamu gila. Kamu lari ke bawah panel yang mau jatuh.”
“Panelnya belum jatuh waktu aku lari.”
“Itu bukan poinnya!” Bayu duduk di kursi plastik di samping ranjang IGD dan membuka laptopnya dengan tangan gemetar. “Oke. Oke. Aku udah tarik data sensor kabel penggantung panel tujuh belas. Dan Mas, kamu harus lihat ini.”
Dia memutar laptopnya.
Grafik. Spektrum material. Data getaran kabel yang dibandingkan dengan profil standar.
“Kabelnya bukan kabel baja grade yang ada di spesifikasi,” kata Bayu pelan. “AURA bisa baca frekuensi getarannya, Mas. Itu kabel baja yang lebih murah. Grade jauh di bawah. Dan korosinya parah. Kayak udah karatan dari dalam bertahun-tahun.”
Aku menatap grafik itu.
“Siapa vendor instalasi plafon atriumnya?”
Bayu menatapku. Dia nggak perlu menjawab. Aku sudah tahu. Tapi dia menjawab juga, karena dia Bayu, dan dia percaya data harus diucapkan keras-keras.
“PT Sentra Bangun Abadi, Mas. Enam tahun lalu.”
Aku menyandarkan kepalaku ke bantal ranjang IGD yang keras dan menatap langit-langit putih.
Enam tahun lalu. Proyek yang kulaporkan. Spesifikasi yang kutandai perlu diverifikasi. Laporan yang kuserahkan ke Hendra Rexton, dua bulan sebelum aku diusir.
Kalau laporanku dibaca. Kalau ada yang memverifikasi. Kalau ada satu orang saja di keluarga itu yang mau percaya.
Hari ini, panel itu jatuh tepat di tempat Bianca berlutut.
Aku pulang jam tujuh malam.
“Selamat datang di rumah,” kata pintu depan.
“PAPA!”
Elea berlari dari ruang tengah, lalu berhenti mendadak tiga langkah di depanku. Matanya menatap lengan kiriku. Perban putih tebal dari siku sampai pergelangan, menyembul dari lengan kemeja baru yang dibelikan Bayu di minimarket rumah sakit.
Wajahnya berubah. Bibir bawahnya mulai bergetar.
“Papa kenapa?”
“Nggak apa-apa, Sayang. Papa cuma kegores sedikit.”
“Itu bukan sedikit! Itu putih semua!”
Bi Imah muncul dari dapur dengan sutil di tangan. Dia menatap perbanku, lalu wajahku, lalu perbanku lagi. Dia nggak bertanya. Dia cuma meletakkan sutil di meja, berjalan ke arahku, dan menempelkan telapak tangannya di pipiku, seperti waktu aku umur sembilan tahun dan jatuh dari sepeda.
“Kamu makan dulu,” katanya. “Terus cerita.”
Elea berlari ke atas. Aku mendengarnya membuka-buka laci di kamarnya. Lalu dia turun lagi, dengan sesuatu di tangannya, dan menarik lenganku yang nggak terluka ke sofa.
“Papa duduk.”
Aku duduk.
Elea membuka kotak plester bergambar kartun yang dibawanya dari Oxford. Kucing. Dinosaurus. Bintang. Dengan wajah sangat serius, dia mulai menempelkan plester-plester itu satu per satu di atas perban putihku. Satu kucing di dekat siku. Satu dinosaurus di tengah. Dua bintang di dekat pergelangan.
“Ini biar sembuhnya cepat,” katanya. “Plester kucing buat yang sakit. Plester dinosaurus buat yang berani. Plester bintang buat…” Dia berhenti, berpikir. “Buat yang di bintang.”
Aku menatapnya.
“Siapa yang di bintang, Sayang?”
“Mama,” kata Elea, dengan logika anak lima tahun yang sederhana dan nggak bisa dibantah. “Biar Mama di bintang tahu Papa sakit. Terus Mama bantu doain.”
Bi Imah, di ambang pintu dapur, menunduk dan mengusap matanya dengan ujung celemek. Lalu dia berbalik ke dapur dan mengaduk sesuatu terlalu keras.
Aku menatap lenganku. Perban putih, dihiasi kucing, dinosaurus, dan dua bintang kecil berwarna kuning.
Lalu aku menarik anakku ke pelukanku dengan lengan yang nggak terluka, dan memeluknya lama sekali, dan nggak bilang apa-apa.
“Papa,” kata Elea teredam di dadaku.
“Hm?”
“Papa bau debu.”
“Iya.”
“Terus bau… bau kayak parfum cewek.”
Aku diam.
Bau sampo. Lima tahun, dan dia masih memakai sampo yang sama. Dan baunya masih menempel di bahu kemejaku, kemeja robek yang tadi kutinggal di rumah sakit, dan entah bagaimana, masih menempel di kulitku.
“Itu bau rumah sakit, Sayang,” kataku.
Elea mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata almond yang menyipit curiga, persis seperti mata ibunya kalau sedang tahu aku bohong.
Tapi dia nggak bilang apa-apa. Dia cuma menempelkan satu plester bintang lagi di perbanku, yang ketiga, lalu memelukku lagi.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran reading
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama