Chapter Two

Malam Itu, Aku Lega

POV: Bianca


Ada yang nggak pernah diceritakan orang tentang melahirkan.

Orang cerita soal sakitnya. Soal kontraksi, soal jahitan, soal betapa ajaibnya waktu bayi pertama kali diletakkan di dadamu. Orang cerita soal bahagianya. Ucapan selamat, karangan bunga, foto-foto dengan caption “Welcome to the world, little one.”

Nggak ada yang cerita soal minggu-minggu sesudahnya. Soal tubuh yang terasa bukan milikmu lagi. Soal jam dua pagi, jam tiga pagi, jam empat pagi yang menyatu jadi satu malam panjang yang nggak pernah selesai. Soal suara tangisan yang lama-lama terdengar seperti alarm kebakaran di dalam kepalamu, dan kamu nggak tahu di mana apinya, dan kamu nggak bisa memadamkannya.

Nggak ada yang cerita bahwa kamu bisa menatap bayimu sendiri, bayi yang kamu kandung sembilan bulan, bayi yang kamu inginkan, dan merasa takut.

Malam itu, aku sudah tiga hari nggak tidur.

Bukan tiga hari kurang tidur. Tiga hari benar-benar nggak tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, Elea menangis. Atau aku mengira Elea menangis, padahal nggak. Atau Elea benar-benar menangis, dan Adrian sudah bangun duluan, dan aku berbaring di ranjang mendengarkan suaminya bersenandung pelan di kamar sebelah, dan rasa bersalah karena bukan aku yang bangun lebih berat daripada rasa capeknya.

Dokter bilang namanya baby blues. Dokter bilang itu normal. Dokter bilang akan hilang sendiri.

Mama bilang aku cuma butuh istirahat, dan butuh “dijauhkan dari stres”.

Dan malam itu, Mama datang ke kamarku dengan secangkir teh chamomile dan sebuah map cokelat.


“Mama nggak mau kasih tahu kamu sekarang,” katanya sambil duduk di tepi ranjangku. Rambutnya yang disanggul rapi masih wangi parfum Prancis yang sama yang dipakainya sejak aku kecil. “Kamu lagi lemah. Tapi Om Hendra bilang ini nggak bisa ditunda lagi. Bisa jadi skandal kalau sampai bocor ke media.”

“Apa, Ma?”

Dia membuka map itu.

Aku masih ingat urutan kertasnya. Foto pertama, Adrian di kamar hotel, dengan perempuan itu. Foto kedua, dari sudut lain, tangan perempuan itu di dada suamiku. Lalu bukti pemesanan kamar. Lalu rekening koran dengan angka yang terlalu banyak nol.

Aku menatap foto-foto itu lama.

Kalau aku cukup tidur malam itu, aku mungkin akan bertanya. Aku mungkin akan bilang, ini kan kamar hotel Tunjungan, Adrian dinas ke sana. Aku mungkin akan bilang, kemejanya dia pakai hari itu, aku yang setrika, jadi aku tahu ini hari yang sama, tapi dia pulang dan cerita ada pegawai hotel aneh yang masuk kamar. Aku mungkin akan ingat bahwa Adrian memang cerita soal itu. Malam itu juga, di telepon, sambil tertawa, bilang, “Bi, masa ada mbak-mbak guest relation ngecek AC jam sepuluh malam, aku langsung panggil satpam.”

Aku mungkin akan ingat.

Tapi aku sudah tiga hari nggak tidur, dan otakku seperti kaca berembun. Yang bisa kulihat cuma gambar-gambar di depanku. Tangan perempuan itu. Dada suamiku. Angka-angka itu.

Dan suara Mama, lembut dan sabar, menyusun semuanya jadi cerita.

“Dia anak yatim, Sayang. Mama dari awal sudah bilang. Bukan karena miskinnya. Mama nggak peduli miskin. Tapi orang yang tumbuh tanpa apa-apa itu, lapar terus seumur hidup. Nggak pernah cukup. Kamu kasih dia rumah, dia mau isinya. Kamu kasih dia isinya, dia mau perusahaannya.”

“Adrian nggak gitu, Ma.”

Suaraku pelan sekali. Bahkan aku sendiri nggak yakin.

“Mama juga berharap dia nggak gitu.” Mama mengusap rambutku. “Tapi uangnya ada di rekening dia, Bianca. Empat koma tujuh miliar. Dan perempuan ini, Om Hendra sudah cek, sudah tiga kali ketemu dia.”

Dari kamar sebelah, Elea mulai menangis.

Aku tersentak. Seluruh tubuhku menegang. Bukan naluri ibu yang ingin berlari ke bayinya, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat dadaku sesak dan tanganku dingin. Suara itu lagi. Alarm itu lagi.

Mama melihatnya. Dia melihat tanganku yang gemetar.

“Sudah, sudah,” bisiknya. “Biar suster yang urus. Kamu turun ke bawah sebentar. Oma mau bicara.”


Aku nggak akan menceritakan ulang apa yang terjadi di ruang tengah malam itu.

Bukan karena aku nggak ingat. Aku ingat semuanya. Aku ingat warna kemeja Adrian, biru tua dengan lengan digulung sampai siku. Aku ingat bagaimana dia berlutut di atas karpet Persia Oma, dan bagaimana suaranya pecah waktu dia bilang namaku. Aku ingat matanya. Mata yang selama satu setengah tahun selalu menatapku seolah aku satu-satunya hal yang masuk akal di dunia.

Bilang kamu percaya aku.

Aku ingat semuanya. Aku cuma nggak sanggup menulisnya dua kali.

Yang perlu kamu tahu cuma ini: aku hampir bilang iya.

Kalimat itu sudah ada di ujung lidahku. Aku percaya kamu. Tiga kata. Aku bahkan sudah merasakan bentuknya di mulutku.

Lalu tangan Mama mengusap punggungku.

Dan aku memikirkan foto-foto itu. Dan rekening itu. Dan suara Mama, nggak pernah cukup, nggak pernah cukup. Dan aku memikirkan betapa capeknya aku, betapa aku nggak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan siapa pun, betapa gampangnya kalau aku diam saja dan membiarkan orang-orang yang lebih kuat dariku mengambil keputusan.

Jadi aku diam.

Itu bukan karena aku dimanipulasi. Aku mau jujur soal ini dari awal, karena kalau aku nggak jujur sekarang, aku nggak akan pernah jujur. Ya, Mama membisikkan banyak hal. Ya, Om Hendra menyiapkan semua kertas itu. Ya, aku lelah sampai nggak bisa berpikir.

Tapi diam itu pilihanku. Mulut itu mulutku. Aku yang menutupnya.

Dan kalimat yang keluar sesudahnya juga kalimatku.

Bawa anak itu. Aku nggak mau lihat dia.

Aku ingat mengucapkannya. Aku ingat tanganku menutup telinga. Aku ingat bahwa di detik itu, aku benar-benar, sepenuhnya, dengan seluruh tubuhku, ingin suara tangisan itu berhenti. Ingin alarm itu mati. Ingin semua orang pergi dan membiarkanku tidur.

Dan mereka pergi.


Aku tidur empat belas jam.

Waktu aku bangun, matahari sudah tinggi, dan rumah itu sunyi dengan cara yang nggak pernah kurasakan sejak Elea lahir.

Nggak ada tangisan. Nggak ada senandung Adrian dari kamar sebelah. Nggak ada bunyi botol susu disterilkan di dapur kecil di ujung lorong.

Aku duduk di ranjang lama sekali, menatap pintu yang menghubungkan kamarku dengan kamar bayi.

Lalu aku memanggil Bi Sumi, kepala pelayan.

“Bi. Elea mana?”

Bi Sumi menunduk. “Dibawa Pak Adrian, Non. Semalam.”

“Ke mana?”

“Nggak tahu, Non. Kata Ibu, Pak Adrian sudah blokir semua nomor keluarga. Nggak bisa dihubungi.”

Aku menatapnya.

Ini bagian yang paling sulit untuk kuceritakan. Bagian yang selama lima tahun kusimpan di tempat paling dalam, di bawah semua lapisan, di tempat yang bahkan nggak berani kuintip sendiri kalau sedang sendirian.

Aku nggak bertanya lagi.

Aku nggak bilang, cari dia. Aku nggak bilang, telepon polisi. Aku nggak bilang, itu anakku, kembalikan anakku.

Aku cuma bilang, “Oh.”

Lalu Bi Sumi keluar, dan aku berbaring lagi, menatap langit-langit, dan sesuatu yang hangat dan menjijikkan menjalar pelan di dadaku.

Lega.

Aku lega.

Nggak ada lagi alarm. Nggak ada lagi jam tiga pagi. Nggak ada lagi rasa takut setiap kali aku menatap wajah kecil itu dan nggak merasakan apa yang seharusnya dirasakan seorang ibu.

Aku menangis setelah itu. Lama. Tapi bukan karena kehilangan anakku. Aku menangis karena aku tahu, bahkan saat itu, bahwa orang yang merasa lega waktu bayinya pergi adalah orang yang nggak pantas dimaafkan.


Surat cerainya datang sembilan hari kemudian.

Pengacara keluarga membawanya ke kamarku dalam map biru. Semua sudah terisi. Semua sudah diurus. Aku cuma perlu tanda tangan di tiga tempat yang ditandai stiker kuning.

Di halaman terakhir, di kolom tanda tangan pihak tergugat, ada tanda tangan Adrian. Aku mengenalnya. Garis lurus yang tajam dengan huruf A besar yang sedikit miring ke kanan, seperti orang yang selalu terburu-buru ke depan.

Di bawahnya, dia menulis satu kalimat kecil dengan pulpen. Bukan bagian dari dokumen. Pengacaranya pasti marah kalau melihat ini.

Hak asuh Elea Renaldi ada pada saya. Kamu sendiri yang bilang.

Aku menatap kalimat itu lama.

Lalu aku tanda tangan di tiga tempat yang ditandai stiker kuning.

Waktu pengacara itu pergi, aku berdiri di depan cermin besar di kamar mandiku. Rambutku kusut. Wajahku pucat dan bengkak. Tapi di bawah mata kiriku, tahi lalat kecil itu masih di sana, satu-satunya titik gelap di wajah yang seputih kertas.

Adrian dulu suka menciumnya. Dia pikir aku tidur waktu dia melakukannya. Aku nggak pernah bilang bahwa aku selalu bangun.

Aku menyentuh tahi lalat itu dengan ujung jari.

Lalu aku memalingkan muka dari cermin, dan memutuskan untuk nggak memikirkan itu lagi.


Malam itu aku turun ke ruang kerja Papa.

Ruangan itu sudah dua tahun nggak dipakai sejak Papa meninggal. Rak-rak bukunya masih penuh, kursi kulitnya masih menghadap jendela, dan di mejanya masih ada miniatur Rexton Mall pertama yang dibangun Papa waktu aku masih SD. Aku dulu sering duduk di pangkuannya di kursi itu, mendengarkan dia menjelaskan kenapa eskalator harus diletakkan di sudut tertentu dan kenapa air mancur di tengah atrium membuat orang mau berlama-lama.

Aku duduk di kursi itu. Kursinya terlalu besar untukku.

Dari celah pintu yang nggak tertutup rapat, aku mendengar suara Oma dan Mama di lorong.

“Dia harus kembali kerja secepatnya,” kata Oma. “Kalau dia diam di kamar terus, orang akan bicara.”

“Dia masih lemah, Ma.”

“Justru itu. Kerja akan membuatnya lupa.” Jeda. Lalu suara Oma, lebih pelan, dengan nada yang nggak bisa kubaca. “Dan kamu, Veronica. Kamu sudah dapat yang kamu mau. Jangan sampai ada yang perlu disesali.”

Mama nggak menjawab. Aku mendengar langkah sepatunya menjauh.

Aku nggak memikirkan kalimat itu lebih jauh. Waktu itu kukira Oma cuma bicara soal Mama yang dari awal nggak setuju aku menikah dengan Adrian. Kamu sudah dapat yang kamu mau. Masuk akal. Mama memang selalu ingin Adrian pergi, dan sekarang dia pergi.

Aku menyalakan lampu meja Papa, membuka laptop, dan membuka laporan kuartal Rexton Malls yang sudah empat bulan nggak kusentuh.

Angka-angka. Persentase okupansi tenant. Proyeksi pengunjung. Biaya perawatan.

Angka nggak menangis jam tiga pagi. Angka nggak menatapmu dengan mata yang mirip mata orang yang kamu benci. Angka cuma diam di tempatnya dan menunggu dirapikan.

Aku bekerja sampai subuh.

Dan untuk pertama kalinya dalam empat bulan, aku merasa bisa bernapas.

Aku nggak tahu waktu itu bahwa itulah cara aku akan hidup selama lima tahun ke depan. Bekerja sampai subuh, merapikan angka, menumpuk prestasi seperti orang menumpuk karung pasir di depan pintu supaya banjir nggak masuk. Lipstik merah setiap pagi. Setelan rapi. Sepatu hak tinggi yang bunyinya membuat staf berhenti bergosip begitu aku lewat.

Orang-orang akan bilang aku perempuan paling cantik dan paling dingin di gedung itu.

Mereka benar soal dua-duanya.


Ada satu hal lucu yang terjadi minggu itu. Aku mencatatnya di sini karena selama lima tahun berikutnya, itu satu-satunya hal dari minggu itu yang bisa kuingat tanpa merasa ingin muntah.

Oma punya kucing Persia bernama Duchess. Kucing itu lebih tua dariku, lebih gemuk dari anak SD, dan lebih galak dari Oma sendiri. Duchess punya pengasuh pribadi bernama Mbak Lilis, yang tugasnya menyisir bulunya dua kali sehari dan memastikan Duchess makan salmon impor yang suhunya pas.

Hari Kamis itu, Duchess hilang.

Seluruh rumah panik. Oma, yang tiga hari sebelumnya mengusir menantunya ke bawah hujan tanpa berkedip, berdiri di tangga dengan wajah pucat dan memerintahkan enam orang satpam menggeledah seluruh rumah. Mbak Lilis menangis histeris di dapur, bilang dia mau bunuh diri pakai sisir kutu. Om Hendra menelepon tiga dokter hewan. Marcel memasang foto Duchess di Instagram dengan caption “HADIAH 50 JUTA”.

Duchess ditemukan dua jam kemudian.

Di kamar bayi. Di dalam boks Elea yang kosong. Tidur melingkar di atas seprai bermotif awan, di tempat yang masih menyimpan bau bayi.

Mbak Lilis bilang mungkin Duchess suka baunya.

Semua orang tertawa lega. Oma menggendong Duchess seperti menggendong cucu. Marcel menghapus postingan Instagram-nya.

Aku nggak tertawa.

Aku berdiri di pintu kamar bayi lama sekali setelah semua orang pergi, menatap boks kosong itu, menatap kucing tua yang memilih tidur di tempat yang ditinggalkan anakku.

Bahkan kucing itu lebih tahu dariku apa yang hilang dari rumah ini.


Pagi berikutnya, aku turun ke dapur jam lima pagi. Pertama kalinya sejak melahirkan.

Bi Sumi kaget melihatku. “Non mau apa? Biar Bibi buatin.”

“Nggak usah, Bi.”

Aku membuka lemari, mengambil toples kopi bubuk hitam yang dibeli Adrian dari pasar di Bandung, kopi tubruk kampung yang nggak pernah disentuh siapa pun di rumah ini selain dia. Aku menuang dua sendok ke cangkir. Air mendidih. Nggak pakai gula. Diaduk tiga kali, lalu dibiarkan sampai ampasnya turun.

Persis seperti yang kulakukan setiap pagi selama satu setengah tahun.

Aku membawa cangkir itu ke meja makan dan meletakkannya di depan kursi yang dulu selalu dia duduki.

Lalu aku duduk di kursiku sendiri, dan menatap uap kopi itu naik, dan menghilang, dan naik lagi, dan menghilang lagi, sampai kopinya dingin.

Nggak ada yang datang untuk meminumnya.

Bi Sumi membuangnya ke wastafel jam tujuh pagi, tanpa bilang apa-apa.

Dan aku nggak pernah membuat kopi tubruk lagi.

Selama lima tahun, nggak sekali pun.