Chapter Three

Oxford, Jam Tiga Pagi

POV: Adrian


Flat pertamaku di Oxford ada di Cowley Road, di atas toko kebab yang buka sampai jam dua pagi, dan luasnya kira-kira sama dengan kamar mandi di rumah keluarga Rexton.

Satu kamar. Satu dapur yang sebenarnya cuma kompor dua tungku menempel di dinding. Satu jendela yang menghadap tembok bata. Pemanas ruangan yang menyala kalau dipukul dua kali di sisi kiri dan mati kalau dipukul sekali di sisi kanan. Dan tetangga di bawah, Mr. Hakan pemilik toko kebab, yang di minggu pertama naik ke atas membawa sepiring nasi dan daging panggang tanpa diminta, menatap Elea di gendonganku, lalu bertanya dalam bahasa Inggris beraksen Turki yang kental, “Where is the mother?”

Aku menjawab, “There isn’t one.”

Mr. Hakan mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang masuk akal. Lalu dia meninggalkan piring itu di meja dan turun lagi tanpa bertanya apa-apa.

Setiap Jumat selama lima tahun berikutnya, piring nasi dan daging panggang itu muncul di depan pintuku.


Aku datang ke Oxford dengan tiga hal: tabungan dari tujuh tahun kerja yang tidak bisa disentuh keluarga Rexton, surat penerimaan program MSc Engineering Science yang dulu kutolak karena memilih menikah, dan seorang bayi berumur empat bulan yang menolak tidur kalau tidak ada dangdut koplo.

Yang terakhir itu masalah serius.

Ternyata Elea benar-benar jatuh cinta pada lagu yang diputar Pak Udin di taksi malam itu. Di minggu-minggu pertama, cuma ada satu cara untuk membuatnya tidur: memutar Kau Tega Nian dari ponselku, berulang-ulang, dengan volume sedang. Aku mencoba Mozart. Aku mencoba white noise. Aku mencoba menyanyikan Nina Bobo dengan suaraku sendiri, yang sejujurnya terdengar seperti pintu berderit.

Elea menolak semuanya. Bibir bawahnya akan bergetar, wajahnya akan memerah, lalu dia akan menangis dengan kekuatan yang bisa membangunkan seluruh Cowley Road.

Jadi selama tiga bulan, flat kecil di atas toko kebab itu dipenuhi dangdut koplo setiap malam. Mr. Hakan, yang awalnya bingung, lama-lama ikut hafal liriknya. Aku pernah mendengarnya bersiul di dapur tokonya, nadanya persis.


Kuliah dimulai bulan Oktober.

Aku tidak punya uang untuk nursery penuh waktu. Jadi di tahun pertama, aku membawa Elea ke mana-mana.

Ke perpustakaan Radcliffe Science, di dalam gendongan kain yang kujahit sendiri dari tutorial YouTube, dengan jahitan yang miring di tiga tempat. Ke laboratorium, di mana teknisi lab bernama Gwen akhirnya menyediakan satu sudut dengan matras kecil dan mainan kerincingan, karena katanya “bayi ini lebih tenang daripada setengah mahasiswa doktoral di gedung ini”. Ke ruang seminar, di mana aku berdiri di pojok paling belakang sambil mengayun-ayun pelan supaya Elea tidak rewel.

Ada satu dosen, Profesor Edmund Whitmore, laki-laki tua beruban dengan alis seperti dua ekor ulat bulu, yang di minggu ketiga berhenti di tengah kuliahnya, menatapku di pojok belakang, menatap bayi di dadaku, lalu bertanya dengan suara keras di depan dua puluh mahasiswa:

“Mr. Renaldi. Does your daughter have a question about thermodynamic equilibrium?”

Seisi kelas menoleh. Wajahku memanas.

“No, Professor. Sorry. She’s just—“

Elea, di detik itu juga, mengeluarkan bunyi “bububu” yang keras dan sangat serius.

Profesor Whitmore menatapnya. Lalu dia mengangguk dalam-dalam, seperti sedang mempertimbangkan argumen dari rekan sejawat.

“A valid point,” katanya. “We’ll address it next week.”

Seisi kelas tertawa. Dan sejak hari itu, Profesor Whitmore selalu menyapa Elea sebelum menyapaku.

Dua tahun kemudian, dia jadi pembimbing DPhil-ku.


Ada satu malam yang nggak akan pernah kulupakan.

Elea berumur sepuluh bulan. Gigi gerahamnya mau tumbuh. Dia demam tiga puluh delapan derajat, rewel tanpa henti, dan menolak semua hal di dunia kecuali digendong sambil berjalan.

Dan besoknya jam sembilan pagi, aku harus menyerahkan laporan proyek akhir semester yang menentukan apakah beasiswaku diperpanjang atau tidak.

Laporannya baru setengah jadi.

Jadi jam tiga pagi itu, aku berjalan bolak-balik di flat sempit itu, tiga langkah ke jendela, tiga langkah ke pintu, dengan Elea di gendongan kiri dan laptop yang kuletakkan di atas lemari es, karena itu satu-satunya permukaan yang tingginya pas untuk mengetik sambil berdiri. Setiap tiga langkah ke jendela, aku mengetik satu kalimat. Setiap tiga langkah ke pintu, aku membaca ulang kalimat itu sambil bersenandung Kau Tega Nian dengan suara pintu berderit.

Jam empat pagi, Elea akhirnya tertidur di bahuku.

Aku tidak berani meletakkannya. Aku tahu kalau aku meletakkannya, dia akan bangun. Jadi aku terus mengetik dengan satu tangan, berdiri di depan lemari es, bayi yang panas karena demam tidur dengan napas berat di leherku.

Jam setengah tujuh, laporannya selesai.

Aku duduk di lantai, bersandar ke lemari es, dan untuk pertama kalinya sejak malam di Menteng, aku membiarkan diriku memikirkan Bianca.

Aku bertanya-tanya apakah dia tidur nyenyak malam itu. Apakah dia pernah memikirkan anak ini. Apakah dia tahu bahwa anak yang dia buang punya gigi geraham yang sedang tumbuh, dan demam tiga puluh delapan derajat, dan tidak mau tidur kalau tidak dengar dangdut.

Lalu aku berhenti memikirkannya.

Karena aku tahu jawabannya. Dia tidak tahu. Dia tidak bertanya. Dia tidak peduli.

Laporanku mendapat nilai tertinggi di angkatan. Beasiswaku diperpanjang. Dan Elea, waktu bangun jam sembilan pagi dengan demam yang sudah turun, menatapku dengan mata almond yang mengantuk dan mengucapkan kata pertamanya.

“Pa.”

Aku menangis di depan lemari es. Lima menit. Bi Imah pasti marah kalau tahu aku lebih.


Aku bertemu Bayu di tahun kedua.

Bayu Pratama, mahasiswa DPhil Statistik dari Yogyakarta, satu-satunya orang Indonesia lain di gedung kami. Dia datang ke flatku pertama kali karena mencium bau sambal dari tangga, dan dia pulang dengan pengetahuan bahwa dia tidak sanggup memenangkan debat apa pun melawan bayi berumur satu setengah tahun.

“Elea, ini namanya kucing,” kata Bayu, menunjuk gambar di buku cerita.

“Gukguk,” kata Elea.

“Bukan. Kucing. Ku-cing.”

“Gukguk.”

“Elea, Om ini lulusan terbaik UGM. Om ini dapat beasiswa penuh ke Oxford. Om tahu yang mana kucing yang mana anjing. Ini. Kucing.”

Elea menatapnya lama dengan serius. Lalu dia mengambil buku itu, membaliknya ke halaman yang ada gambar anjing, menunjuk gambar anjing, dan berkata dengan sangat tegas:

“Kucing.”

Bayu menatapku dengan tatapan orang yang baru saja kehilangan seluruh harga dirinya. “Mas. Anakmu ini sengaja.”

“Iya.”

“Dia baru satu setengah tahun.”

“Iya.”

“Mas, ini bukan bayi. Ini lawyer.”

Sejak hari itu, Bayu datang setiap Sabtu. Dia bilang untuk numpang makan. Tapi aku tahu dia datang karena di flat kecil di atas toko kebab itu, dengan dangdut koplo yang diputar pelan-pelan dan bayi yang terus-menerus memenangkan debat, ada sesuatu yang mirip rumah.


Elea berumur dua setengah tahun waktu dia pertama kali bertanya soal ibunya.

Kami sedang di taman University Parks. Musim semi. Bunga-bunga kecil berwarna kuning tumbuh di rumput. Elea sedang memberi makan bebek dengan roti sisa sarapan, dan seorang anak perempuan seusianya lewat bersama ibunya, bergandengan tangan, tertawa.

Elea menatap mereka lama.

Lalu dia berbalik ke arahku, dengan roti di tangannya yang kecil, dan bertanya dengan polos:

“Papa. Mama Elea mana?”

Aku sudah tahu pertanyaan ini akan datang. Aku sudah memikirkan jawabannya berbulan-bulan. Aku sudah menulis beberapa versi di buku catatanku, mencoret semuanya, menulis lagi.

Dan di detik itu, semua versi itu lenyap dari kepalaku.

Karena aku membayangkan menjelaskan kepada anak dua setengah tahun bahwa ibunya masih hidup. Bahwa ibunya tinggal di rumah besar di Jakarta dengan pintu setinggi tiga meter. Bahwa ibunya sehat, cantik, kaya. Dan bahwa ibunya tidak mau melihatnya.

Aku membayangkan wajah Elea waktu mendengar itu.

Aku tidak sanggup.

“Mama udah pergi, Sayang,” kataku.

Elea memiringkan kepala. “Pergi ke mana?”

Aku menatap langit Oxford yang biru pucat, dengan awan-awan tipis yang bergerak pelan.

“Jauh,” kataku. “Jauh sekali.”

Elea ikut menatap langit. Lama. Dengan konsentrasi penuh, seperti sedang mencari sesuatu.

“Di bintang?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak mengoreksinya. Dan itulah kebohongan pertamaku kepada anakku. Kebohongan yang lahir dari keinginan untuk melindunginya, dan yang akan, bertahun-tahun kemudian, menjadi luka yang kubuat sendiri.

Malam itu, Elea menggambar.

Dengan krayon dari Bayu, di atas kertas bekas laporan lab, dia menggambar tiga orang. Satu laki-laki tinggi dengan kacamata, itu aku, dia selalu menggambar kacamataku lebih besar dari kepalaku. Satu anak perempuan kecil dengan rambut dikepang, itu dia. Dan satu perempuan dengan rambut panjang bergelombang berwarna cokelat.

Perempuan itu tidak punya wajah.

Elea mewarnai rambutnya dengan sangat hati-hati, mewarnai gaunnya dengan warna merah muda, menggambar bintang-bintang kecil di sekelilingnya. Tapi wajahnya dibiarkan kosong. Lingkaran putih tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut.

“Kenapa nggak ada mukanya, Sayang?”

“Elea nggak tahu muka Mama,” jawabnya dengan logika anak dua setengah tahun yang tidak bisa dibantah. “Nanti kalau Elea udah tahu, Elea gambar.”

Aku menempelkan gambar itu di pintu lemari es.

Dan setiap tahun setelahnya, Elea menggambar perempuan tanpa wajah itu lagi. Rambutnya selalu panjang dan bergelombang. Gaunnya berganti warna. Bintang-bintangnya bertambah banyak.

Tapi wajahnya selalu kosong.


Malam itu juga, ritual kami dimulai.

Waktu aku menyelimuti Elea di kasur kecilnya, dia memegang ujung lengan bajuku dan bertanya dengan suara mengantuk:

“Papa percaya Elea?”

Aku tidak tahu dari mana dia mendapat pertanyaan itu. Mungkin dari kartun. Mungkin dari Bayu. Mungkin dia cuma suka bunyi kalimatnya.

Tapi pertanyaan itu menghantamku seperti palu.

Bilang kamu percaya aku.

Aku menelan sesuatu yang tajam di tenggorokanku. Lalu aku membungkuk, mencium dahinya, tepat di antara alisnya, dan menjawab:

“Selalu.”

Elea tersenyum dengan mata terpejam. Dan sejak malam itu, setiap malam tanpa kecuali, dia akan bertanya, dan aku akan menjawab.

Papa percaya Elea?

Selalu.

Satu kata yang tidak pernah kudapat dari ibunya. Satu kata yang akan kuberikan pada anak ini setiap malam sampai aku mati.


Ide AURA lahir di stasiun kereta Oxford, di tahun ketiga.

Hari itu ada gangguan sinyal. Semua kereta ke London tertunda. Peron yang biasanya diisi seratus orang tiba-tiba diisi seribu. Dan aku berdiri di tengahnya dengan Elea berumur tiga setengah tahun di bahuku, karena di bawah sana terlalu sesak untuk anak kecil.

Dari atas bahuku, Elea menunjuk kerumunan dan berkata, “Papa, orang-orangnya kayak semut. Semutnya bingung.”

Aku menatap kerumunan itu dari ketinggian yang sama dengan Elea.

Dan aku melihatnya.

Pola. Arus. Bagaimana orang-orang itu bergerak seperti cairan, melambat di titik-titik tertentu, menumpuk di dekat tangga, mendesak ke arah pintu keluar yang paling dekat padahal ada pintu lain di ujung peron yang kosong. Bagaimana tekanan terbentuk di satu titik, menjalar, menumpuk. Bagaimana kalau tidak ada yang mengalihkan arus itu dalam sepuluh menit, seseorang di dekat tangga akan terdorong jatuh.

Aku menurunkan Elea, menggandengnya erat, berjalan ke petugas stasiun, dan menyarankan mereka mengumumkan bahwa pintu keluar timur dibuka.

Petugas itu menatapku dengan curiga. Lalu dia melihat ke arah tangga, melihat seorang perempuan tua yang sudah terjepit di pagar, dan langsung meraih radionya.

Lima menit kemudian, arus kerumunan itu terbelah. Tekanan di tangga turun. Perempuan tua itu dibantu keluar.

Elea menarik-narik tanganku. “Semutnya udah nggak bingung, Pa.”

“Iya, Sayang.”

“Papa yang bikin semutnya nggak bingung?”

Aku menatapnya. Lalu menatap kerumunan yang mulai bergerak teratur.

“Belum,” kataku. “Tapi nanti Papa bikin.”

Malam itu aku mulai menulis.

Adaptive Urban Response Architecture. Jaringan sensor yang membaca gedung seperti tubuh membaca dirinya sendiri. Kepadatan orang, beban struktur, suhu, aliran udara, konsumsi energi, dibaca real-time, dianalisis dengan model prediktif, lalu gedung itu bisa bereaksi sebelum bencana terjadi. Membuka pintu. Mengalihkan eskalator. Menyalakan pendingin di titik yang tepat. Menemukan retakan sebelum retakan itu jadi runtuhan.

Gedung yang bernapas. Gedung yang tahu kalau semutnya bingung.

Profesor Whitmore membaca proposal awalku, menurunkan kacamatanya, dan berkata, “Mr. Renaldi, this is either the best thing I’ve read this decade, or the work of a man who hasn’t slept in three years.”

“Both, Professor.”

“Good,” katanya. “The best work usually is.”


Dua tahun kemudian, aku resmi menjadi Dr. Adrian Renaldi.

Elea, yang waktu itu berumur lima tahun, duduk di barisan depan Sheldonian Theatre dengan gaun kuning dan rambut dikepang dua, kepangan yang kubuat sendiri jam enam pagi setelah empat tahun latihan dari video YouTube. Dia memegang papan kecil buatan Bayu bertuliskan MY PAPA IS A DOCTOR (NOT THE INJECTION KIND). Di sebelahnya, Bayu menangis lebih keras dari siapa pun di ruangan itu.

Di rambut Elea, seperti setiap hari, terselip jepit kupu-kupu perak dengan batu biru pucat di tengahnya.

Dia tidak pernah mau melepasnya. Sejak bisa memegang benda, dia selalu mencarinya. Kalau hilang, dia akan menangis sampai ketemu. Aku pernah mencoba menggantinya dengan jepit lain yang lebih bagus, lebih berkilau, lebih cocok untuk anak kecil. Dia menolak semuanya.

“Ini punya Elea,” katanya selalu, menggenggam kupu-kupu itu. “Dari dulu punya Elea.”

Aku tidak pernah tahu jepit itu milik siapa. Aku berhenti bertanya.

Bulan berikutnya, paten AURA dibeli.

Konsorsium dari Jerman dan Jepang, untuk sistem di bandara, stadion, dan stasiun. Angka di kontraknya membuat Bayu harus duduk di lantai dan minum air putih dua gelas. Majalah-majalah sains menulis tentangku. Sebuah stasiun televisi Inggris mewawancaraiku di flat yang sekarang tidak lagi di atas toko kebab, tapi rumah kecil bertaman di Summertown dengan pemanas yang tidak perlu dipukul.

Mr. Hakan tetap mengirimkan nasi dan daging panggang setiap Jumat. Dia menyuruh anaknya mengantar dengan sepeda.


Lalu surel itu datang.

Dari Hallworth Capital, konsorsium investasi Inggris yang menjadi mitra utama sebuah proyek raksasa di Jakarta. Pusat perbelanjaan dan kawasan hiburan terbesar di Asia Tenggara. Seratus dua puluh ribu meter persegi. Kapasitas delapan puluh ribu pengunjung per hari. Investasi triliunan rupiah.

Mereka butuh AURA. Mereka butuh aku. Kontrak dua tahun, sebagai konsultan teknologi utama dengan otoritas penuh atas sistem keselamatan dan manajemen gedung.

Nama proyeknya Rexton Grand Nusantara.

Aku membaca surel itu di meja dapur, jam sebelas malam, dengan Elea sudah tidur di kamarnya dan secangkir kopi tubruk tanpa gula yang sudah dingin di samping laptop.

Aku membacanya sepuluh kali.

Lalu aku mengambil buku catatan hitam dari laci, buku catatan yang kubeli di minggu pertama di Oxford dan yang halaman pertamanya tidak pernah kusentuh. Aku membukanya. Dan di halaman pertama itu, dengan pulpen hitam, dengan tangan yang tidak gemetar sama sekali, aku menulis:

Aku tidak akan memaafkan mereka.

Aku berhenti. Menatap kalimat itu.

Lalu aku menambahkan dua kata di bawahnya, lebih kecil, lebih tajam:

Tidak dia.

Aku menutup buku itu. Aku membuka laptop. Aku membalas surel Hallworth Capital dengan satu kalimat.

I accept, with conditions to follow.

Dari kamar di ujung lorong, aku mendengar Elea mengigau dalam tidurnya. Aku berdiri, berjalan ke sana, membetulkan selimutnya yang tersingkap, dan memungut gambar terbarunya yang jatuh dari tempat tidur.

Tiga orang. Laki-laki berkacamata besar. Anak perempuan berkepang. Dan perempuan berambut panjang bergelombang dengan gaun biru, dikelilingi bintang, tanpa wajah.

Aku meletakkan gambar itu kembali di meja kecilnya.

Lima tahun lalu, aku berlutut dan meminta satu kalimat, dan tidak mendapatkannya.

Sekarang aku akan pulang.

Dan kali ini, merekalah yang akan berlutut.