Chapter Seven

Papa Kepang Dua

POV: Adrian


Rumah di Kebayoran itu pintar. Terlalu pintar.

Aku memilihnya dari foto di Oxford karena tiga alasan: dekat dengan sekolah internasional yang direkomendasikan Hallworth, punya halaman belakang dengan pohon mangga yang cukup besar untuk ayunan, dan sistem keamanannya terintegrasi penuh. Kunci digital, kamera di setiap sudut, sensor gerak, dan asisten suara yang bisa diperintah menyalakan lampu, AC, atau tirai.

Aku nggak memperhitungkan Bi Imah.

“Selamat datang di rumah,” kata pintu depan dengan suara perempuan yang lembut dan sopan, waktu Bi Imah melangkah masuk hari Sabtu pagi dengan dua tas jinjing besar, satu karung beras lima kilo, dan sebuah rantang empat susun yang dibungkus serbet kotak-kotak.

Bi Imah berhenti di ambang pintu. Dia menatap pintu itu. Lalu menatapku.

“Adrian. Pintunya ngomong.”

“Iya, Bi. Itu sistem rumahnya.”

“Sistem apa?”

“Kayak… asisten. Bisa disuruh-suruh.”

Bi Imah menatap pintu itu lagi, kali ini dengan curiga yang dalam, seperti menatap tetangga baru yang terlalu ramah. Lalu, dengan suara keras dan jelas, dia berkata ke arah pintu:

“Terima kasih. Saya Imah. Bibinya Adrian.”

Hening.

“Maaf, saya tidak mengerti permintaan Anda,” kata pintu itu.

Bi Imah tersinggung. “Lho. Saya kan cuma kenalan.”

“Bi, itu bukan orang—“

“Bibi tahu itu bukan orang. Tapi kalau dia bisa ngomong, dia harus bisa sopan.” Bi Imah melangkah masuk dengan dagu terangkat, meninggalkan pintu itu dengan sikap orang yang baru saja dihina. “Bibi nggak mau tinggal serumah sama pintu yang sombong.”

Dari tangga, Elea berteriak “NENEK IMAH!” dengan volume yang membuat lampu gantung bergetar, lalu berlari turun dan menubruk perut Bi Imah dengan kekuatan penuh.

Bi Imah terhuyung, tertawa, dan memeluk Elea dengan kedua tangan yang masih memegang rantang. “Ya ampun, ya ampun. Cucu Nenek udah segede ini. Terakhir Nenek lihat langsung, kamu masih sebesar guling. Sekarang udah kayak tiang listrik.”

“Elea nggak kayak tiang listrik!”

“Iya, iya. Kayak tiang bendera.”

Elea tertawa sampai cegukan.

Aku berdiri di ruang depan, menatap mereka berdua. Perempuan tua yang membesarkanku sejak umur sembilan tahun. Dan anak perempuan yang kubesarkan sendirian sejak umur empat bulan. Selama lima tahun, mereka cuma bertemu lewat layar ponsel dan satu kali kunjungan Bi Imah ke Oxford di musim panas kedua, waktu dia menghabiskan dua minggu mengeluh soal roti Inggris yang “nggak ada rasanya” dan memasak sayur asem di dapur sempit Cowley sampai seluruh gedung bau asam jawa.

Mr. Hakan, pemilik toko kebab di bawah, minta resepnya.


Bi Imah mengambil alih dapur dalam waktu satu jam.

Dia mengeluarkan semua isi lemari, membuang tiga botol saus impor yang menurutnya “nggak jelas bahannya”, menata ulang bumbu dapur sesuai sistem yang hanya dia sendiri yang paham, dan mendeklarasikan bahwa kompor induksi adalah “kompor setan yang nggak ada apinya” dan memasang kompor gas portabel di sebelahnya.

“Bi, kompor induksinya lebih aman—“

“Masak itu harus ada apinya, Adrian. Kalau nggak ada apinya, gimana kamu tahu makanannya mateng?”

“Ada sensornya, Bi.”

“Sensor, sensor. Pintunya juga ada sensornya, tapi nggak bisa diajak kenalan.”

Aku menyerah.

Jam dua belas siang, meja makan penuh. Sayur asem dengan jagung manis dan kacang panjang. Ikan asin. Tempe goreng. Sambal terasi. Nasi putih yang mengepul. Kerupuk udang di toples kaca yang Bi Imah bawa sendiri dari Bandung karena katanya “kerupuk Jakarta keras kayak genteng”.

Bayu datang jam dua belas lewat lima, padahal nggak diundang. Dia bilang mencium bau sambal dari Kemang.

“Kemang itu jauh dari sini, Bay.”

“Hidungku kuat, Mas.”

Elea duduk di kursi tinggi dengan serbet terselip di kerah bajunya. Dia makan sayur asem dengan sendok kecil, serius, satu per satu, memisahkan kacang panjang ke pinggir piring.

“Elea, kacang panjangnya dimakan,” kata Bi Imah.

“Elea nggak suka kacang panjang, Nek.”

“Kenapa?”

“Kepanjangan.”

Bi Imah menatapnya. Lalu, tanpa bicara, dia mengambil gunting dapur, memotong-motong kacang panjang di piring Elea jadi potongan sebesar kuku, dan mengembalikan piringnya.

“Sekarang kacang pendek,” kata Bi Imah.

Elea menatap piringnya dengan wajah orang yang baru kalah argumen. Lalu dia makan kacang pendek itu, semuanya, sambil cemberut.

Bayu menatap Bi Imah dengan kagum yang tulus. “Bi. Saya lima tahun nggak pernah menang debat sama anak ini. Bibi menang dalam tiga detik.”

“Itu namanya pengalaman, Nak Bayu. Dulu bapaknya lebih susah lagi.” Bi Imah melirikku. “Adrian umur sembilan tahun nggak mau makan apa-apa selain nasi kecap. Tiga bulan. Nasi kecap tiap hari. Bibi sampai bingung.”

“Bi.”

“Terus akhirnya Bibi bilang, kalau nggak mau makan sayur, nanti nggak bisa pintar. Terus dia makan sayur. Terus beneran pintar.” Bi Imah menunjuk ke arahku dengan sendok sayur. “Itu bukti. Sekarang jadi doktor.”

Elea menatapku dengan mata bulat. “Papa dulu nggak mau makan sayur?”

“Itu cerita lama, Sayang.”

“Papa bohong sama Elea! Papa bilang Papa dari kecil suka brokoli!”

Bayu tertawa sampai tersedak kerupuk. Bi Imah memukul punggungnya keras-keras dengan telapak tangan, yang menurutku justru memperparah keadaan.

Aku menatap mereka bertiga, di meja makan yang penuh, di rumah yang terlalu pintar, dengan sayur asem yang rasanya persis sama dengan yang kumakan di umur sembilan tahun di rumah kecil di Bandung.

Untuk pertama kalinya sejak mendarat di Jakarta, aku merasa bisa bernapas.


Sore itu, waktu Elea tidur siang dan Bayu sudah pulang membawa sisa sayur asem dalam wadah plastik, Bi Imah duduk di teras belakang menghadap pohon mangga. Aku membawakannya teh manis dan duduk di sebelahnya.

“Rumahnya bagus,” kata Bi Imah.

“Sewa, Bi. Dua tahun.”

“Tetap bagus.” Dia menyeruput tehnya. “Pohon mangganya bagus. Nanti Bibi pasang ayunan di situ buat Elea.”

“Aku udah pesan ayunan. Datang minggu depan.”

“Yang beli di toko itu jelek. Nanti Bibi bikin sendiri. Pakai ban bekas.”

Aku tersenyum. Lalu kami diam sebentar, mendengarkan suara burung dan klakson mobil di kejauhan.

“Adrian,” kata Bi Imah akhirnya. “Kamu udah ketemu dia?”

Aku nggak perlu bertanya siapa.

“Udah, Bi.”

“Terus?”

Aku menceritakannya. Surat yang kukembalikan tiga kali. Lobi hotel. Tiga jam. Kalimat yang kuucapkan waktu dia mengulurkan tangan ke arah Elea. Rapat dewan. Empat menit.

Bi Imah mendengarkan tanpa memotong. Waktu aku selesai, dia meletakkan cangkir tehnya di lantai teras, pelan-pelan, dengan bunyi kecil.

“Kamu puas?” tanyanya.

Aku membuka mulut untuk bilang iya.

Lalu aku menutupnya lagi.

Bi Imah mengangguk pelan, seolah diamku sudah cukup menjawab. Dia menatap pohon mangga lama. Lalu dia bicara, dengan suara yang pelan dan hati-hati, seperti orang yang memilih jalan di atas batu licin.

“Bibi nggak akan bilang kamu salah. Mereka sudah jahat sama kamu. Sama Elea. Kamu berhak marah.” Dia diam sebentar. “Tapi Bibi cuma mau tanya satu hal. Elea nanti kalau sudah besar, kamu mau dia ingat papanya sebagai orang yang kayak apa?”

Aku nggak menjawab.

“Pikir-pikir aja,” kata Bi Imah. “Nggak usah dijawab sekarang.”

Dia mengambil cangkir tehnya lagi. Lalu, seperti baru teringat sesuatu, dia menambahkan sambil lalu:

“Oh, iya. Tabungan Elea yang di rekening Bibi itu, nanti Bibi pindahin ke rekening kamu, ya. Biar kamu yang pegang. Udah lumayan banyak.”

Aku mengerutkan dahi. “Tabungan apa, Bi?”

“Ya tabungan. Buat sekolah Elea nanti.” Bi Imah tiba-tiba sangat sibuk meniup tehnya yang sudah nggak panas. “Bibi kan nabung.”

“Bi, aku kan rutin kirim uang buat Bibi. Bibi nggak usah nabung buat Elea dari uang Bibi sendiri—“

“Udah, udah. Bibi mau ke dapur. Mau rendam kacang hijau buat bubur besok pagi.” Bi Imah berdiri dengan cepat, terlalu cepat untuk perempuan lima puluh delapan tahun dengan lutut yang sering sakit, dan masuk ke dalam rumah.

“Selamat datang di dapur,” kata speaker di dinding dapur.

“Diam kamu,” jawab Bi Imah.

Aku menatap pintu dapur. Lalu menggeleng pelan. Bi Imah memang selalu begitu, sejak aku kecil, menyembunyikan uang di bawah kasur, di kaleng biskuit, di saku daster, lalu lupa di mana dia menyimpannya. Mungkin dia menabung dari uang yang kukirim. Mungkin dia nggak mau mengaku karena takut aku marah dia nggak memakainya untuk dirinya sendiri.

Aku nggak memikirkannya lagi.


Hari Senin, Elea masuk sekolah.

Sekolah Cendekia Internasional di Pondok Indah, sekolah dengan gedung kaca, lapangan rumput sintetis, dan seragam berwarna biru tua dengan dasi kecil bergaris. Elea masuk kelas Kindergarten 2, kelas yang isinya enam belas anak dari sebelas negara.

Jam enam pagi, aku berlutut di belakang kursi meja rias kecil di kamarnya.

“Kepang dua atau kepang satu?”

“Kepang dua. Yang kayak Elsa, tapi dua.”

“Elsa kepangnya satu, Sayang.”

“Makanya, Elea mau dua. Biar lebih keren dari Elsa.”

Logika yang nggak bisa dibantah. Aku mulai mengepang.

Elea duduk dengan tenang, sesuatu yang dulu mustahil di umur dua tahun dan sekarang jadi ritual pagi kami yang paling tenang. Dia memainkan ujung dasi seragamnya sambil bersenandung, dan aku mengepang sambil mendengarkannya. Kanan ke tengah. Kiri ke tengah.

“Papa.”

“Hm?”

“Kalau di sekolah baru nggak ada yang mau temenan sama Elea gimana?”

Tanganku berhenti sebentar. Lalu lanjut.

“Kenapa kamu pikir nggak ada yang mau?”

“Elea kan baru. Terus Elea ngomongnya campur-campur. Bahasa Indonesia campur bahasa Inggris. Nanti diketawain.”

Aku mengikat kepangan kanan dengan karet biru, warna yang cocok dengan seragamnya. Lalu memutar kursinya pelan supaya dia menghadapku.

“Elea. Dengar Papa. Di kelas kamu ada enam belas anak dari sebelas negara. Semuanya ngomong campur-campur. Ada yang campur bahasa Jepang, ada yang campur bahasa Prancis. Kamu nggak aneh. Kamu cuma baru.”

“Terus kalau tetap nggak ada yang mau temenan?”

“Kalau gitu,” kataku, “kamu pulang, terus Papa yang jadi teman kamu. Papa kan teman kamu yang paling hebat.”

Elea menatapku dengan wajah serius. “Papa bukan teman. Papa itu Papa.”

“Papa nggak boleh jadi teman juga?”

Dia berpikir keras. Lalu mengangguk. “Boleh. Tapi teman cadangan.”

Aku tertawa. Lalu menyelesaikan kepangan kiri, dan menyelipkan jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanannya. Batu biru kecilnya berkilau di bawah lampu kamar.

Aku menyentuh dahinya sekilas dengan punggung tangan. Normal.

“Papa sayang Elea.”

“Elea tahu.”


Di gerbang sekolah, Elea menggenggam tanganku erat-erat.

Di sekeliling kami, orang tua mengantar anak-anak mereka. Ibu-ibu dengan kacamata hitam dan tas mahal. Bapak-bapak berjas yang terus-menerus mengecek ponsel. Sopir dan pengasuh. Dan anak-anak kecil berseragam biru yang berlarian, tertawa, menangis.

Seorang guru muda berkerudung dengan name tag “Ms. Ratih” menyambut kami di gerbang. “Good morning! Kamu pasti Elea, ya? Selamat datang!”

Elea bersembunyi di belakang kakiku.

“Ayo, Elea. Bilang selamat pagi ke Ms. Ratih.”

“…Pagi,” bisik Elea dari balik celanaku.

Ms. Ratih berjongkok supaya matanya sejajar dengan Elea. “Elea, jepit rambutnya cantik sekali. Kupu-kupu, ya?”

Elea mengintip. “Iya.”

“Dari siapa?”

“Dari dulu punya Elea,” jawabnya, kalimat yang selalu dia ucapkan setiap kali ada yang bertanya.

Ms. Ratih tersenyum. “Di kelas kita ada taman kupu-kupu kecil, lho. Mau lihat?”

Mata Elea membulat. Genggamannya di tanganku melonggar.

Lalu dia menoleh padaku. Ragu.

“Pergi aja,” kataku. “Papa jemput jam dua belas. Papa janji.”

Elea menatapku lama. Lalu, tiba-tiba, dia memelukku. Kencang. Wajahnya dibenamkan di perutku.

“Papa jangan telat.”

“Papa nggak pernah telat.”

“Papa pernah telat sekali. Waktu di Oxford. Terus Papa bilang ada rapat sama Prof. Whitmore.”

“Itu karena Prof. Whitmore nggak berhenti ngomong soal burung.”

Elea tertawa di perutku. Lalu dia melepaskanku, menggandeng tangan Ms. Ratih, dan berjalan ke dalam sekolah tanpa menoleh.

Aku berdiri di gerbang sampai kepangan dua dengan pita biru itu menghilang di balik pintu kaca.

Seorang ibu di sebelahku, perempuan dengan kacamata hitam besar dan tas berwarna krem, menatapku dengan senyum simpatik. “Hari pertama, ya, Pak? Memang berat. Ibunya nggak ikut?”

“Nggak,” kataku.

“Oh, sibuk, ya. Kerja?”

Aku menatap pintu kaca tempat anakku menghilang.

“Ya,” kataku. “Sibuk.”


Jam sembilan pagi aku sudah di kantor sementara Hallworth di lantai dua puluh enam sebuah gedung di Sudirman. Bayu sudah di sana, dikelilingi tiga monitor dan dua gelas kopi kosong.

“Mas, dokumen audit yang kamu minta. Semua kontrak PT Sentra Bangun Abadi dengan Rexton Group, sepuluh tahun terakhir. Rexton nggak mau kasih awalnya, tapi Bu Hall telepon langsung ke Oma Margareth, terus tiba-tiba semuanya datang dalam satu jam.”

“Makasih, Bay.”

Aku duduk. Aku membuka file pertama.

Aku nggak bilang ke Bayu, atau ke Catherine Hall, atau ke siapa pun di ruang rapat empat puluh lantai itu kemarin lusa, bahwa aku nggak perlu semalaman untuk menemukan nama PT Sentra Bangun Abadi.

Aku sudah tahu nama itu. Aku sudah tahu sejak sebelum pesawatku mendarat.

Lima tahun lalu, waktu aku masih Head of Building Systems di Rexton Malls, aku menemukan anomali di pengadaan struktur Rexton Mall Kemayoran. Mark-up yang aneh. Spesifikasi baja yang nggak cocok antara dokumen dan lapangan. Dan satu nama vendor yang muncul di setiap kejanggalan itu.

PT Sentra Bangun Abadi.

Aku melaporkannya ke Direktur Keuangan. Ke Hendra Rexton. Hanya ke dia.

Dua bulan kemudian, aku berlutut di atas karpet Persia di ruang tengah rumah Menteng, dengan foto-foto perempuan bernama Sinta dan rekening berisi empat koma tujuh miliar atas namaku.

Aku menatap layar. Kontrak demi kontrak. Nilai demi nilai. Nama yang sama, sepuluh tahun berturut-turut.

Lima tahun lalu, aku nggak tahu siapa pemilik PT Sentra Bangun Abadi. Aku cuma tahu vendor itu terlalu mahal, dan bajanya terlalu lemah, dan aku terlalu naif untuk mengerti bahwa orang yang kulapori mungkin adalah orang yang paling nggak ingin aku tahu.

Sekarang aku bukan lagi orang yang naif.

“Bay,” kataku tanpa mengangkat kepala. “Cari tahu siapa pemegang saham PT Sentra Bangun Abadi. Semua lapisan. Kalau pemegang sahamnya perusahaan lain, cari tahu siapa pemilik perusahaan itu. Terus lagi. Sampai ketemu nama manusia.”

Bayu menatapku. “Mas. Kamu kenal vendor ini?”

Aku nggak menjawab.

Bayu, yang sudah lima tahun mengenalku, nggak bertanya lagi. Dia cuma memutar kursinya kembali ke monitornya dan mulai mengetik.


Jam dua belas kurang lima, aku sudah berdiri di gerbang Sekolah Cendekia.

Jam dua belas tepat, Elea keluar dari pintu kaca dengan kepangan yang sudah setengah lepas, noda cat air di lengan seragam, dan seorang anak laki-laki kecil berambut pirang yang menggandeng tangannya.

“PAPA! Ini Lucas! Dia dari Belanda! Dia punya hamster namanya Kapitein!”

Lucas melambai padaku dengan malu-malu.

“Halo, Lucas.”

“Lucas bilang Elea ngomongnya lucu,” lanjut Elea dengan napas memburu, “terus Elea bilang Lucas ngomongnya lebih lucu, terus kita ketawa, terus kita main kupu-kupu, terus Ms. Ratih bilang Elea pintar gambar, terus—“

Aku berlutut dan memeluknya, di tengah gerbang sekolah, dengan Lucas dari Belanda menatap kami dengan bingung.

“Papa kenapa?”

“Nggak apa-apa. Papa cuma senang.”

Malam itu, waktu aku menyelimuti Elea di kasurnya yang baru, di kamar yang dicat warna lavender atas permintaannya, dia memegang ujung lengan bajuku seperti biasa.

“Papa percaya Elea?”

“Selalu.”

Dia tersenyum dengan mata terpejam. Lalu, setengah tertidur, dia bergumam:

“Papa. Tante cantik di hotel itu… dia tinggal di Jakarta juga, ya?”

Aku diam.

“Kalau ketemu lagi, Elea nggak boleh dekat-dekat. Elea ingat.” Suaranya makin pelan. “Tapi Elea boleh senyum, kan? Dari jauh?”

Napasnya berubah jadi teratur. Dia sudah tidur.

Aku duduk di tepi kasurnya lama sekali, menatap wajah kecil yang tenang itu di bawah lampu tidur berbentuk bulan.

Lalu aku keluar, menutup pintu pelan-pelan, dan menemukan Bi Imah berdiri di ujung lorong dengan segelas susu hangat di tangan. Dia nggak bilang apa-apa. Dia cuma menyerahkan susu itu padaku, menepuk lenganku dua kali, dan masuk ke kamarnya sendiri.

“Selamat malam,” kata speaker di lorong.

“Iya, iya. Selamat malam juga,” jawab Bi Imah dari balik pintu, dengan nada orang yang sudah mulai menerima tetangga barunya.