Chapter One
Bilang Kamu Percaya Aku
POV: Adrian
Foto-foto itu dilempar ke meja marmer, dan salah satunya meluncur sampai berhenti tepat di depan lututku.
Aku masih berdiri. Nggak ada yang menawariku duduk, dan di rumah ini, kursi selalu punya arti. Selama satu setengah tahun menikah dengan putri tunggal keluarga Rexton, aku sudah belajar membaca kursi-kursi di ruang tengah ini seperti orang membaca cuaca. Kursi beludru hijau di ujung itu milik Oma Margareth. Sofa panjang krem itu tempat Mama Veronica duduk kalau sedang ingin terlihat ramah. Dan kursi kayu jati tanpa sandaran tangan di dekat pintu itu, yang malam ini bahkan tidak disediakan untukku, adalah kursi untuk orang yang sedang diadili.
Aku menunduk melihat foto itu.
Kamar hotel. Surabaya. Aku kenal karpetnya yang bercorak burung, kenal lampu tidurnya yang berbentuk tabung. Aku menginap di sana dua minggu lalu waktu dinas mengecek sistem pendingin Rexton Mall Tunjungan. Di foto itu ada aku, dengan kemeja yang sama yang kupakai hari itu, duduk di tepi ranjang. Dan ada seorang perempuan berambut panjang yang duduk terlalu dekat, tangannya di dadaku.
Aku ingat perempuan itu. Dia mengetuk pintu jam sepuluh malam, bilang dari bagian guest relation, bilang ada keluhan AC di lantai yang sama. Aku membukakan pintu. Dia masuk dua langkah. Lalu dia duduk, dan aku langsung berdiri dan bilang, “Mbak, maaf, ini kamar saya, saya panggilkan petugas.” Dia keluar dalam waktu kurang dari tiga menit.
Tiga menit. Dan seseorang mengabadikan detik yang paling salah dari tiga menit itu.
“Namanya Sinta,” kata Om Hendra. Suaranya tenang, seperti sedang membacakan laporan kuartal. Dia memang selalu begitu. Direktur Keuangan Rexton Group itu bisa membacakan vonis mati dengan intonasi yang sama seperti membacakan menu makan siang. “Kamu ketemu dia tiga kali dalam dua bulan terakhir. Ada bukti pemesanan kamar. Ada bukti transfer.”
“Saya nggak kenal dia, Om.”
“Lalu ini?”
Selembar kertas lagi. Rekening koran. Atas namaku. Bank yang tidak pernah kupakai, cabang yang tidak pernah kudatangi. Saldo yang membuat perutku terasa jatuh ke lantai.
Empat koma tujuh miliar rupiah.
“Uang pengadaan proyek Kemayoran,” lanjut Om Hendra. “Yang kamu laporkan ke saya bulan lalu sebagai ‘anomali’. Pintar. Kamu lapor duluan, supaya kalau ketahuan, kamu kelihatan seperti pahlawannya.”
Aku menatapnya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu yang dingin merayap naik dari tengkukku.
Karena aku memang melaporkan anomali itu. Ke dia. Hanya ke dia.
“Om,” kataku pelan, “saya lapor ke Om karena Om Direktur Keuangan. Saya bahkan belum tahu vendor itu punya siapa. Saya cuma—“
“Cukup.”
Itu suara Oma Margareth. Dia tidak meninggikan suara. Dia tidak perlu. Empat puluh tahun memimpin keluarga ini membuat satu kata darinya cukup untuk membuat seluruh ruangan berhenti bernapas.
Dan di tengah keheningan itu, aku akhirnya menoleh ke tempat yang sejak tadi sengaja kuhindari.
Bianca.
Istriku duduk di ujung sofa krem, di samping ibunya. Dia mengenakan gaun tidur sutra berwarna gading yang tadi sore kubantu kancingkan karena jarinya gemetar terlalu lelah. Rambutnya yang panjang bergelombang, cokelat gelap seperti kopi yang terlalu lama diseduh, dibiarkan tergerai berantakan di bahunya. Matanya bengkak. Ada lingkaran gelap di bawahnya, dan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, yang dulu sering kucium diam-diam waktu dia tidur, terlihat lebih jelas di wajah yang sepucat itu.
Dan bahkan malam ini, bahkan dengan semua itu, dia masih perempuan paling cantik yang pernah kulihat.
Aku benci menyadarinya. Aku benci bahwa di tengah semua ini, bagian bodoh dari diriku masih sempat berpikir begitu.
“Bi,” panggilku.
Dia tidak menjawab. Dia menatap foto di meja, bukan aku.
“Bianca. Lihat aku.”
Mama Veronica meletakkan tangannya di punggung Bianca, mengusap pelan, seperti menenangkan anak kecil yang mimpi buruk. “Adrian, tolong. Dia baru melahirkan empat bulan. Dia sudah tiga hari nggak tidur. Jangan bikin dia tambah sakit.”
“Saya cuma mau bicara sama istri saya, Ma.”
“Kamu sudah bicara cukup banyak,” kata Mama Veronica. Lembut. Selalu lembut. “Dengan perempuan itu.”
Seseorang di sudut ruangan, sepupu Bianca, Marcel, mendengus seperti menahan tawa. Aku tidak menoleh ke arahnya.
Aku melangkah satu langkah ke depan. Dua satpam di pintu langsung bergerak. Aku mengangkat kedua tanganku, menunjukkan bahwa aku tidak berbahaya, lalu berlutut. Di atas karpet Persia yang harganya lebih mahal dari rumah Bi Imah di Bandung, aku berlutut di depan istriku supaya mata kami sejajar.
“Bi,” kataku, dan suaraku pecah di tengah. “Aku nggak pernah sentuh perempuan itu. Aku nggak pernah ambil uang sepeser pun. Aku nggak tahu rekening itu dari mana. Aku cuma minta satu hal. Satu aja.”
Matanya akhirnya bergerak. Pelan sekali. Naik dari foto, ke tanganku, ke wajahku.
“Bilang kamu percaya aku.”
Jam besar di sudut ruangan berdetak. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Aku menunggu. Aku menunggu seperti orang yang menunggu di tepi tebing, berharap ada tangan yang terulur.
Bibirnya terbuka. Aku melihat sesuatu bergerak di matanya, sesuatu yang hampir, yang nyaris, yang sudah ada di ujung lidahnya.
Lalu Mama Veronica mengusap punggungnya sekali lagi.
Dan bibir itu tertutup.
Bianca diam.
Aku tidak tahu berapa lama aku berlutut di sana. Rasanya lama sekali. Rasanya seperti seluruh pernikahan kami, semua pagi waktu dia membuatkan kopi tubruk tanpa gula karena hafal seleraku, semua malam waktu dia tertidur di bahuku menonton film yang tidak pernah selesai, semua hari waktu dia bilang ke keluarganya bahwa dia memilihku dan tidak peduli aku cuma anak yatim dari Bandung, semuanya, dihitung ulang dan dinyatakan palsu dalam keheningan itu.
Lalu dari lantai atas terdengar tangisan bayi.
Elea.
Seluruh tubuhku bereaksi sebelum otakku. Aku sudah setengah berdiri. Empat bulan, dan aku sudah hafal semua jenis tangisannya. Yang ini tangisan lapar yang bercampur takut, tangisan yang muncul kalau dia bangun dan tidak ada yang langsung datang.
Bianca juga bereaksi. Aku melihatnya. Bahunya menegang, jemarinya mencengkeram ujung gaunnya. Tapi wajahnya, wajahnya berubah jadi sesuatu yang belum pernah kulihat. Ketakutan. Seperti suara tangisan itu adalah suara yang menyakitinya.
“Bawa anak itu.”
Suaranya serak dan pelan. Tidak ditujukan ke siapa-siapa. Dia menatap lantai.
“Bi?”
“Bawa anak itu.” Lebih keras. Tangannya naik menutup telinga. “Aku nggak mau lihat dia. Aku nggak mau lihat dia, aku nggak mau... setiap aku lihat dia, aku lihat kamu. Bawa dia. Bawa dia pergi.”
Ruangan itu sunyi.
Bahkan Marcel berhenti mendengus.
Aku tidak ingat berdiri. Aku hanya ingat, tiba-tiba, aku sudah di tangga, dan tidak ada satpam yang menghalangiku, dan aku sudah di kamar bayi yang dicat warna krem dengan awan-awan kecil di langit-langitnya, yang kami cat berdua di bulan ketujuh kehamilannya sambil bertengkar soal apakah awan boleh berwarna merah muda.
Elea menangis di boksnya dengan wajah merah, tangan kecilnya mengepal di udara.
Aku mengangkatnya. Dia langsung diam begitu menempel di dadaku, seperti biasa. Bayi selalu tahu siapa yang bangun jam dua pagi untuk mereka.
“Papa di sini,” bisikku. “Papa di sini, Sayang.”
Aku mengambil tas popok yang selalu siap di samping boks. Aku mengambil selimut rajut biru muda yang dirajut Bi Imah. Aku tidak mengambil apa-apa lagi. Tidak ada yang di rumah ini yang benar-benar milikku, kecuali anak di pelukanku.
Waktu aku turun, mereka sudah menungguku di pintu depan. Satpam. Om Hendra. Seorang pria berkacamata yang menyerahkan amplop cokelat, pengacara keluarga, dan menjelaskan dengan nada sopan bahwa gugatan cerai akan diproses secepatnya, bahwa keluarga Rexton tidak akan melaporkan penggelapan ke polisi “demi nama baik dan demi anak”, asalkan aku tidak pernah lagi menghubungi Bianca atau siapa pun dari keluarga ini.
“Demi anak,” ulangku.
“Ya, Pak.”
Aku tertawa. Aku tidak tahu kenapa aku tertawa. Suaranya aneh di telingaku sendiri.
Aku menoleh sekali lagi ke ruang tengah. Dari pintu depan, aku masih bisa melihat sofa krem itu. Bianca masih duduk di sana. Mama Veronica memeluknya. Oma Margareth menatapku dari kursi hijaunya seperti menatap noda di taplak meja yang akhirnya berhasil dibersihkan.
Bianca tidak menoleh.
Aku menunggu tiga detik. Kalau dia menoleh, pikirku, satu kali saja, aku akan bertahan. Aku akan berdiri di depan pintu ini sampai pagi. Aku akan cari pengacara. Aku akan buktikan semuanya.
Satu. Dua. Tiga.
Dia tidak menoleh.
Satpam mendorong bahuku. Tidak kasar, tapi cukup untuk membuatku melangkah keluar. Pintu kayu jati setinggi tiga meter itu tertutup di belakangku, dan bunyinya terdengar seperti sesuatu yang dikunci untuk selamanya.
Di luar, hujan turun.
Tentu saja hujan turun. Seolah langit Jakarta juga sedang bekerja untuk keluarga Rexton malam itu.
Aku berdiri di bawah kanopi gerbang, memeluk Elea di balik jaketku supaya tidak kena air. Satpam yang menjaga pos gerbang, Pak Darto, laki-laki tua yang sering kutraktir kopi sachet waktu aku pulang lembur, menatapku dengan mata merah. Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya diam-diam memanggilkan taksi lewat ponselnya, lalu menyodorkan payung lipatnya yang jelek dengan gagang patah.
“Buat Neng kecil, Mas,” katanya pelan.
Itu satu-satunya kebaikan yang kuterima malam itu dari rumah itu. Dari seorang satpam.
Sopir taksinya bernama Pak Udin, dan dia memutar dangdut koplo dengan volume yang cukup untuk membangunkan seluruh Menteng.
“Maaf, Pak, bisa dikecilin?”
“Oh, iya, iya, Mas, maaf.” Dia mengecilkan volumenya. Elea, yang sudah hampir tertidur, langsung membuka mata dan mulai merengek. “Waduh. Kayaknya Neng-nya suka, Mas.”
Aku menatap anakku. Dia menatap balik dengan mata almond yang persis mata ibunya, bibir bawahnya bergetar siap menangis.
“Gedein lagi, Pak,” kataku pasrah.
Pak Udin menaikkan volumenya. Elea langsung diam. Tangan kecilnya bergerak-gerak mengikuti irama kendang, dan mulutnya membuat bunyi “bububu” yang serius sekali, seperti sedang ikut menyanyi.
“Wah, bakat, Mas,” kata Pak Udin bangga, seolah itu anaknya sendiri. “Nanti gedenya jadi biduan.”
Dan entah kenapa, di taksi yang bau pengharum jeruk itu, dengan dangdut koplo berjudul Kau Tega Nian menggelegar di speaker, aku tertawa. Lalu tawaku berubah. Aku menunduk dan menempelkan dahiku ke kepala kecil Elea yang wangi minyak telon, dan bahuku bergetar, dan Pak Udin, untungnya, cukup bijak untuk pura-pura fokus ke jalan.
Ponselku berdering. Bi Imah.
Aku tidak mau mengangkatnya. Aku tidak mau perempuan yang membesarkanku sejak umur sembilan tahun mendengar suaraku seperti ini. Tapi Bi Imah bukan tipe orang yang berhenti menelepon.
“Halo, Bi.”
“Adrian! Kamu di mana? Bibi dari tadi nggak tenang. Perasaan Bibi nggak enak dari magrib, makanya Bibi telepon. Kamu kenapa? Suaramu kenapa begitu?”
Aku menarik napas. Lalu menceritakannya. Tidak semuanya, karena aku sendiri belum bisa memahami semuanya. Tapi cukup.
Bi Imah diam lama. Aku hanya mendengar napasnya, dan suara televisi di belakangnya yang memutar sinetron.
“Elea sama kamu?”
“Sama aku, Bi.”
“Bagus.” Suaranya keras dan tegas, seperti waktu dia memarahi tetangga yang dulu mengejekku anak yatim. “Bagus. Dengar Bibi. Kamu jangan berani-berani nangis di depan anak itu lebih dari lima menit. Bayi itu tahu. Mereka tahu kalau bapaknya sedih. Kamu nangis lima menit, terus berhenti, terus kamu bawa dia ke tempat yang hangat, terus kamu kasih dia susu. Ngerti?”
“Ngerti, Bi.”
“Uang kamu masih ada?”
“Ada. Tabunganku sendiri. Mereka nggak bisa sentuh itu.”
“Ya sudah. Besok pagi kamu ke sini. Bibi masakin sayur asem. Nanti kita pikirin sama-sama.” Jeda sebentar. Lalu suaranya turun, jadi pelan dan gemetar dengan cara yang tidak pernah kudengar sebelumnya. “Adrian. Bibi percaya kamu. Kamu dengar? Bibi nggak perlu lihat bukti apa-apa. Bibi yang besarin kamu. Bibi percaya kamu.”
Aku menutup mata.
Kalimat itu. Kalimat yang kuminta dari istriku sambil berlutut di atas karpet Persia, datang dari seorang perempuan tua di rumah kecil di Bandung, yang bahkan tidak kuminta.
“Makasih, Bi,” bisikku.
“Lima menit,” ulangnya galak, lalu menutup telepon.
Lima menit. Aku melihat jam di dasbor taksi. Aku memberi diriku lima menit.
Dan di menit keempat, waktu aku membetulkan letak selimut rajut biru muda di tubuh Elea, jariku menyentuh sesuatu yang keras dan dingin di lipatan kainnya.
Aku menariknya keluar.
Sebuah jepit rambut. Perak, kecil, berbentuk kupu-kupu dengan sayap berukir halus dan satu batu kecil berwarna biru pucat di tengahnya.
Aku menatapnya lama di bawah lampu jalan yang lewat silih berganti.
Aku tidak tahu jepit ini milik siapa. Bukan milikku, jelas. Bukan milik Bi Imah, yang tidak pernah memakai perhiasan apa pun selain cincin kawin almarhum suaminya. Mungkin milik salah satu pengasuh di rumah itu. Mungkin terselip waktu ada yang mengganti seprai boks. Mungkin tidak berarti apa-apa.
Aku hampir membuangnya ke luar jendela.
Tapi Elea, yang matanya setengah terpejam, tiba-tiba mengulurkan tangan kecilnya dan menggenggam jepit itu. Menggenggamnya erat, dengan kekuatan yang mengejutkan untuk tangan sekecil itu, lalu menariknya ke dadanya dan tertidur.
Aku membiarkannya.
Taksi terus melaju ke arah tol, menembus hujan, meninggalkan Menteng, meninggalkan rumah besar dengan pintu jati setinggi tiga meter, meninggalkan perempuan bergaun sutra gading yang tidak menoleh.
Di kursi belakang, dengan anak perempuanku tidur di dadaku sambil menggenggam kupu-kupu perak yang entah milik siapa, aku membuat keputusan pertama dari hidupku yang baru.
Aku tidak akan pernah lagi berlutut di depan siapa pun.
Dan aku tidak akan pernah lagi meminta siapa pun untuk percaya padaku.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku reading
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama