Chapter Sixteen
Sinta
POV: Adrian
“Mas, aku nemu dia.”
Bayu mengatakannya hari Senin jam tujuh pagi, waktu aku masih di dapur dengan Elea di kursi tinggi, mengoleskan selai stroberi ke roti tawar yang sudah dipotong jadi bentuk bintang. Elea nggak mau makan roti kalau bentuknya kotak. Katanya roti kotak itu roti orang dewasa.
Aku meletakkan pisau selai. “Siapa?”
“Sinta Maharani. Perempuan di foto itu.”
Elea menatapku dengan mulut penuh roti bintang. “Siapa Sinta, Pa?”
“Teman kerja Papa, Sayang. Makan rotinya.”
Aku membawa ponsel ke teras belakang. Pohon mangga. Ayunan ban bekas buatan Bi Imah yang tergantung miring di dahan terendah.
“Di mana?”
“Bekasi Timur. Kontrakan petak tiga, di gang belakang pasar. Aku cari lewat data BPJS lama, terus cocokin sama alamat di catatan sipil. Butuh dua minggu.” Bayu diam sebentar. “Mas. Kondisinya nggak bagus.”
“Maksudnya?”
“Dia kerja jadi kasir di minimarket. Shift malam. Tinggal sendiri. Ibunya meninggal dua tahun lalu, kanker. Dan…” Bayu ragu. “Ada laporan polisi atas nama dia. Tiga tahun lalu. Laporan pengancaman. Pelapornya dia sendiri. Kasusnya ditutup karena nggak cukup bukti.”
Aku menatap ayunan ban yang bergoyang pelan tertiup angin.
“Pengancaman dari siapa?”
“Nggak disebut, Mas. Dia cuma bilang ‘orang tak dikenal’. Tapi tanggalnya…” Bayu menarik napas. “Tanggalnya dua minggu setelah Rexton Mall Kemayoran resmi buka. Setelah PT Sentra terima pembayaran terakhir.”
Aku nggak langsung ke Bekasi.
Aku menyelesaikan roti bintang Elea dulu. Aku mengepang rambutnya, kepang satu hari ini, karena katanya hari Senin itu hari yang serius dan butuh kepangan yang serius. Aku menyelipkan jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanannya. Aku menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Normal.
Aku mengantarnya ke sekolah. Di gerbang, Lucas dari Belanda sudah menunggu dengan kotak bekal berbentuk hamster, dan Elea langsung melupakan aku dan berlari ke arahnya sambil berteriak sesuatu soal Kapitein yang katanya kemarin kabur dari kandang.
Aku berdiri di gerbang sampai kepangan satu itu menghilang di balik pintu kaca.
Lalu aku menyetir ke Bekasi.
Bayu sudah menunggu di ujung gang. Dia memakai topi, kacamata hitam, dan rompi oranye bertuliskan KILAT EXPRESS yang jelas-jelas dibeli di toko online kemarin malam, karena masih ada lipatan dari bungkus plastiknya. Di tangannya, sebuah kardus kosong yang dilakban rapi.
Aku menatapnya.
“Bay.”
“Penyamaran, Mas.”
“Penyamaran apa?”
“Kurir paket.” Bayu mengangkat kardus kosong itu dengan bangga. “Aku udah analisis. Orang yang pernah diancam pasti curiga sama orang asing yang datang. Tapi nggak ada yang curiga sama kurir paket. Kurir paket itu nggak kelihatan. Kurir paket itu kayak udara.”
“Terus?”
“Terus aku ketuk pintunya, bilang ada paket. Dia buka pintu. Terus kamu muncul dari belakang aku.”
“Terus dia lihat aku, laki-laki yang ada di foto bareng dia lima tahun lalu, dan dia tutup pintu.”
Bayu berpikir. “Iya, kemungkinan itu ada.”
“Bay, kamu doktor statistik.”
“Mas, statistik nggak ngajarin cara jadi kurir.”
Kami berdiri di ujung gang yang becek, di antara gerobak sayur dan anak-anak kecil yang main kelereng, dan seorang ibu-ibu yang menjemur pakaian di tali rafia menatap kami berdua dengan curiga yang dalam.
“Mas-mas nyari siapa?” tanya ibu itu.
“Ehm, paket, Bu,” kata Bayu cepat. “Kilat Express. Buat Mbak Sinta. Rumah nomor berapa, ya?”
Ibu itu menatap rompi oranye Bayu. Lalu menatap kardus kosong di tangannya. Lalu menatap aku, yang memakai kemeja lengan panjang dan celana bahan dan sepatu kulit.
“Kurir kok bawa bos?” tanyanya.
Bayu membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.
“Ini… ini supervisor saya, Bu. Lagi quality control.”
Ibu itu menatapnya dengan tatapan yang bisa membekukan air. Lalu dia menunjuk ke ujung gang. “Nomor tujuh. Pintu biru. Tapi Sinta baru pulang shift malam. Biasanya tidur sampai siang. Jangan berisik.”
“Makasih, Bu.”
Kami berjalan ke ujung gang. Di belakang kami, aku mendengar ibu itu bergumam ke tetangganya, cukup keras untuk didengar: “Kurir sekarang aneh-aneh. Paketnya kosong, bawa bos.”
Bayu menunduk. “Mas. Penyamaranku gagal total.”
“Dari awal udah gagal, Bay.”
“Rompinya mahal, Mas. Seratus dua puluh ribu.”
Pintu biru itu kecil dan catnya mengelupas. Ada sepasang sandal jepit di depannya, dan pot plastik berisi tanaman lidah buaya yang hampir mati.
Aku mengetuk. Tiga kali. Pelan.
Nggak ada jawaban.
Aku mengetuk lagi.
Bunyi langkah kaki dari dalam. Pelan. Ragu. Lalu suara perempuan, serak karena tidur.
“Siapa?”
“Mbak Sinta. Saya Adrian. Adrian Renaldi.”
Hening.
Hening yang sangat panjang. Aku bisa mendengar napasnya dari balik pintu tipis itu. Cepat. Lalu lebih cepat.
Lalu bunyi kunci diputar. Bukan dibuka. Dikunci. Dua kali.
“Pergi,” kata suara di balik pintu. Gemetar. “Tolong pergi.”
“Mbak, saya cuma mau bicara.”
“Saya nggak mau bicara. Saya nggak tahu apa-apa. Saya udah bilang ke mereka saya nggak akan bilang apa-apa. Saya udah janji. Tolong pergi.”
Ke mereka.
“Mbak,” kataku pelan, mendekatkan mulut ke celah pintu. “Saya bukan dari mereka. Saya orang yang ada di foto itu. Orang yang kamar hotelnya Mbak masuki lima tahun lalu.”
“Saya tahu Mas siapa.” Suaranya pecah. “Makanya Mas harus pergi. Kalau mereka tahu Mas ke sini—“
“Siapa mereka?”
Nggak ada jawaban.
“Mbak Sinta. Lima tahun lalu, saya kehilangan istri saya karena foto itu. Saya diusir dari rumah dengan bayi empat bulan. Saya dituduh mencuri uang yang nggak pernah saya sentuh. Saya cuma mau tahu satu hal.” Aku menempelkan telapak tanganku di pintu. “Siapa yang menyuruh Mbak?”
Hening lagi.
Lalu, sangat pelan, bunyi isakan.
“Maaf,” bisik Sinta dari balik pintu. “Maaf, Mas. Maaf. Saya nggak tahu waktu itu… saya nggak tahu Mas punya bayi. Mereka cuma bilang… cuma bilang masuk ke kamar, duduk di kasur, sentuh dadanya, tiga menit, terus keluar. Mereka bilang nggak akan ada yang terluka. Mereka bilang cuma buat… buat urusan bisnis.”
“Siapa yang bilang?”
“Saya nggak bisa.”
“Mbak—“
“Saya nggak bisa, Mas!” Suaranya naik, panik. “Mas nggak ngerti. Tiga tahun lalu saya mau ngomong. Saya mau lapor. Terus ada orang datang ke rumah ibu saya. Ibu saya lagi kemo. Mereka berdiri di depan kamarnya. Nggak ngomong apa-apa. Cuma berdiri. Terus besoknya saya dapat SMS. Foto ibu saya di ranjang rumah sakit. Nggak ada tulisannya. Cuma foto.”
Aku memejamkan mata.
“Ibu saya udah meninggal sekarang,” lanjut Sinta, lebih pelan. “Tapi saya masih punya adik. Di Cirebon. Punya dua anak. Masih kecil-kecil.”
Bayu, di belakangku, melepas topinya pelan-pelan dan menunduk.
“Saya ngerti,” kataku.
“Mas nggak ngerti.”
“Saya ngerti, Mbak.” Aku menatap pintu biru yang catnya mengelupas. “Saya juga punya anak kecil. Perempuan. Lima tahun. Saya ngerti rasanya takut ada yang menyentuh dia.”
Isakan di balik pintu berhenti.
“Saya nggak akan maksa Mbak,” kataku. “Hari ini. Tapi saya mau Mbak tahu satu hal. Orang-orang yang menyuruh Mbak, saya akan cari mereka. Dengan atau tanpa Mbak. Dan waktu saya menemukan mereka, mereka nggak akan bisa mengancam siapa pun lagi. Nggak Mbak. Nggak adik Mbak. Nggak anak-anaknya.”
Aku mengambil kartu nama dari dompetku. Kartu Hallworth. Dengan nomor ponsel pribadiku di baliknya, kutulis dengan pulpen. Aku menyelipkannya di celah bawah pintu.
“Kalau Mbak berubah pikiran.”
Aku berbalik.
Aku sudah tiga langkah dari pintu biru itu waktu suaranya terdengar lagi. Pelan. Hampir tenggelam oleh suara anak-anak yang main kelereng di gang.
“Mas Adrian.”
Aku berhenti.
“Bukan cuma Pak Hendra,” bisik Sinta dari balik pintu. “Yang di belakang semua ini. Bukan cuma dia.”
Lalu bunyi langkah kaki menjauh dari pintu. Lalu hening.
Di mobil, Bayu nggak bicara selama sepuluh menit.
Lalu, waktu kami terjebak macet di tol Bekasi, dia akhirnya bilang: “Mas. Ada orang berdiri di depan kamar ibunya yang lagi kemo.”
“Iya.”
“Cuma berdiri.”
“Iya.”
“Mas, ini bukan lagi soal mark-up proyek. Ini…” Bayu mencari kata. “Ini kayak film.”
“Ini bukan film, Bay. Di film, orang jahatnya kelihatan jahat.”
Bayu menatapku. Lalu menatap ke depan lagi. Ke deretan lampu rem merah yang panjang di bawah langit siang yang kelabu.
“Rekening empat koma tujuh miliar itu,” katanya pelan. “Aku udah lacak. Mas mau dengar sekarang atau nanti?”
“Sekarang.”
Bayu membuka tabletnya. “Rekening atas nama kamu dibuka tanggal sebelas Maret, lima tahun lalu. Pakai fotokopi KTP kamu dari berkas HRD Rexton. Tanda tangannya dipalsukan, nggak terlalu bagus juga sebenarnya. Uang empat koma tujuh miliar masuk tanggal dua belas, dari rekening perusahaan cangkang. Dan rekeningnya ditutup tanggal dua puluh, seminggu setelah kamu diusir.”
“Uangnya ke mana?”
“Dipindahin sebelum rekeningnya ditutup. Semuanya. Ke rekening lain.” Bayu menggeser layar. “Ke PT Arunika Cipta Investama, Mas. Pemegang saham mayoritas PT Sentra. Yang ujungnya di trust Singapura atas nama Marcel.”
Aku menatap layar tabletnya.
“Jadi uangnya nggak pernah hilang,” kataku pelan. “Uangnya cuma dipinjam. Ditaruh di rekening atas namaku selama delapan hari. Cukup lama buat dicetak rekening korannya dan dilempar ke meja marmer di depan istriku. Terus dikembalikan ke tempat asalnya.”
“Ke kantong Marcel,” kata Bayu.
“Ke kantong Hendra.”
Kami diam lama. Macet nggak bergerak. Seorang pedagang asongan mengetuk jendela mobil, menawarkan tahu sumedang. Bayu membeli dua bungkus tanpa sadar.
“Mas,” katanya akhirnya, dengan mulut penuh tahu. “Kamu mau ngapain sekarang? Ini udah cukup buat lapor polisi. Pemalsuan dokumen. Pencucian uang. Penggelapan.”
“Belum cukup.”
“Mas, ini udah—“
“Belum cukup, Bay.” Aku menatap deretan lampu rem merah. “Sinta bilang bukan cuma Hendra. Aku mau tahu siapa lagi.”
“Terus?”
“Terus aku mau semuanya. Semua nama. Semua bukti. Semua dalam satu waktu.” Aku mengambil satu tahu sumedang dari bungkus di pangkuan Bayu dan menggigitnya. Panas. Asin. Enak. “Aku nggak mau satu orang jatuh. Aku mau semuanya jatuh bareng.”
Bayu menatapku. Lama.
“Termasuk Bianca?”
Aku berhenti mengunyah.
“Dia ada di ruangan itu, Mas,” kata Bayu pelan. “Malam itu. Dia yang diam. Kalau semuanya jatuh, dia juga jatuh. Itu yang kamu mau?”
Aku nggak menjawab.
Macet mulai bergerak. Pelan. Aku menginjak gas.
Malam itu, aku nggak tidur.
Bayu pulang jam sembilan dengan semua data di laptopnya. Bi Imah tidur jam sepuluh setelah mengomel soal mata zombie-ku. Elea tidur jam setengah sembilan setelah ritual “Selalu” dan setelah bertanya kenapa Om Bayu pulang bawa rompi oranye.
Jam sebelas malam, aku duduk di meja makan dengan laptop, tiga cangkir kopi tubruk, dan selembar kertas besar yang kubentangkan di atas meja.
Di tengah kertas, aku menulis satu nama. PT SENTRA BANGUN ABADI.
Lalu aku mulai menggambar.
Garis-garis. Kotak-kotak. Panah. Perusahaan cangkang di Labuan, dengan direktur nominee yang namanya muncul di tiga perusahaan lain. Perusahaan cangkang di Singapura, yang alamatnya sama dengan sebuah firma hukum yang juga mengurus trust keluarga Rexton untuk aset properti di Bali. Firma hukum yang sama yang notarisnya mengesahkan dokumen pendirian PT Arunika.
Aku menarik garis dari firma hukum itu ke nama lain di daftar klien mereka yang Bayu temukan dari arsip publik Singapura.
Jam satu pagi, kertas itu penuh. Tiga lapis perusahaan cangkang. Tujuh nama direktur nominee. Dua firma hukum. Lima rekening bank di tiga negara. Semua terhubung. Semua berujung ke dua nama di bagian bawah kertas.
Marcel Hendrawan Rexton.
Hendra Rexton.
Dan satu garis putus-putus yang belum bisa kutarik dengan pasti. Garis dari firma hukum di Singapura ke satu nama lain di daftar klien mereka. Klien sejak lima belas tahun lalu. Klien untuk urusan trust keluarga dan warisan.
Aku menatap nama itu lama.
V. Rexton.
Nggak cukup. Itu belum bukti. Banyak orang punya pengacara yang sama. Banyak keluarga kaya pakai firma yang sama untuk urusan warisan.
Tapi Sinta bilang, bukan cuma Pak Hendra.
Dan di rapat dewan tiga minggu lalu, waktu aku melewati kursi pengamat di sudut ruangan dan bilang lima tahun di tempat yang jauh dari orang-orang tertentu memang baik untuk kesehatan, aku melihat jemari Veronica Rexton mencengkeram tali tasnya.
Aku menatap garis putus-putus itu sampai jam dua pagi.
Lalu aku mendengar bunyi pintu di lorong.
Elea berdiri di ambang ruang makan dengan piyama bergambar kelinci, Mr. Snuggles di pelukan, rambut kusut karena tidur, dan jepit kupu-kupu perak yang entah bagaimana masih terselip miring di rambutnya. Dia selalu tidur dengan jepit itu. Aku sudah berhenti melepasnya sejak dia umur tiga tahun, karena setiap kali kulepas, dia akan bangun jam dua pagi dan menangis mencarinya.
“Papa belum tidur?”
“Papa lagi kerja, Sayang. Kamu kenapa bangun?”
“Mimpi.” Elea berjalan ke arahku dengan langkah setengah tidur dan memanjat ke pangkuanku tanpa minta izin, seperti biasa. Dia menatap kertas besar di meja dengan mata yang setengah terpejam. “Itu apa, Pa?”
“Peta.”
“Peta harta karun?”
Aku menatap kertas itu. Garis-garis. Kotak-kotak. Dua koma tiga triliun rupiah.
“Iya,” kataku. “Peta harta karun.”
“Hartanya di mana?”
Aku menunjuk ke dua nama di bagian bawah kertas.
Elea menatap dua nama itu. Dia belum bisa membaca kata-kata panjang. Dia cuma bisa membaca huruf-huruf besar dan nama-nama pendek.
“Itu ada R-nya,” katanya, menunjuk huruf R besar di nama Rexton. “Kayak di gedung yang di jalan. Yang ada R emasnya.”
“Iya, Sayang.”
“R-nya cantik.” Elea menguap lebar. “Kayak tante cantik di bazar.”
Aku diam.
“Tante cantik itu kerja di gedung R, kan, Pa? Om Bayu bilang.” Matanya mulai menutup. “Om Bayu bilang tante itu bos besar. Bosnya gedung R.”
“Om Bayu terlalu banyak ngomong.”
“Papa,” kata Elea, dengan suara yang makin pelan, makin jauh, kepalanya terkulai di dadaku. “Mimpi Elea tadi… Elea mimpi ketemu Mama… terus muka Mama… muka Mama…”
Napasnya jadi teratur. Dia tertidur di pangkuanku, di atas peta harta karun berisi nama-nama orang yang menghancurkan hidup kami.
Aku nggak bertanya muka Mama seperti apa di mimpinya.
Aku nggak berani.
Aku menggendongnya kembali ke kamarnya, menyelimutinya, membetulkan jepit kupu-kupu di rambutnya, menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Normal.
Lalu aku kembali ke meja makan dan menatap garis putus-putus itu sampai matahari terbit.
V. Rexton.
Dan pertanyaan Bayu di tol Bekasi.
Termasuk Bianca?
Aku masih belum punya jawabannya.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta reading
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama