Chapter Seventeen
Tante Kantor
POV: Bianca
Gudang arsip lantai B5 Rexton Tower bau kertas tua, debu, dan sesuatu yang Tasya yakini sebagai kotoran tikus.
“Bu, saya bersumpah, tadi ada yang lari. Item. Ekornya panjang.”
“Itu kabel, Tas.”
“Kabel nggak lari, Bu.”
Aku berdiri di tengah lorong sempit di antara rak-rak besi setinggi langit-langit, dengan senter ponsel di tangan dan setelan kantor yang sudah berdebu di bagian lutut. Jam enam pagi. Gedung masih sepi. Lampu neon di gudang ini cuma menyala separuh, dan yang menyala pun berkedip-kedip seperti di film horor.
Di depan kami, laki-laki tua bertubuh kurus dengan kacamata tebal dan kemeja batik yang sudah pudar berjalan pelan menyusuri rak, membaca label-label di kardus dengan senter kecil di tangannya.
Pak Joko. Dua puluh enam tahun bekerja di bagian arsip Rexton Group. Orang yang Tasya temukan setelah menelepon sebelas orang di bagian umum, dan yang menurut Tasya adalah “satu-satunya manusia di gedung ini yang tahu di mana semua kertas disembunyikan”.
“Divisi Building Systems, Bu,” kata Pak Joko tanpa menoleh. Suaranya pelan dan sabar, seperti guru SD. “Lima tahun lalu. Itu harusnya di rak empat belas sampai enam belas. Urut tahun. Urut proyek.”
Dia berhenti di depan rak empat belas. Senternya menyapu label-label kardus.
Building Systems — 2018. Building Systems — 2019. Building Systems — 2020.
Building Systems — 2022.
Pak Joko berhenti. Dia memiringkan kepala. Dia menyapu label-label itu sekali lagi dengan senternya. Lebih pelan.
“Aneh,” katanya.
“Kenapa, Pak?”
“Dua ribu dua puluh satu nggak ada, Bu.” Dia menunjuk celah di antara kardus 2020 dan 2022. Celah kosong selebar dua kardus. “Harusnya di sini. Dua kardus. Saya yang naruh sendiri. Saya ingat, karena waktu itu Mas Adrian dari Building Systems yang anterin kardusnya ke sini. Dia bilang, ‘Pak Joko, tolong simpan baik-baik. Ini penting.’”
Aku menatap celah kosong itu.
“Pak Joko ingat?”
“Ingat, Bu.” Pak Joko tersenyum kecil. “Mas Adrian satu-satunya kepala divisi yang pernah anterin kardus arsip sendiri. Biasanya kan nyuruh office boy. Dia malah bawa sendiri, terus bawain saya gorengan.” Senyumnya hilang. “Terus beberapa bulan kemudian, saya dengar dia keluar. Nggak tahu kenapa.”
“Kardusnya ke mana, Pak?”
Pak Joko menggeleng pelan. “Saya nggak tahu, Bu. Kalau ada yang ambil arsip, harus isi buku peminjaman. Saya cek nanti di buku. Tapi kalau nggak ada di buku…” Dia diam. “Berarti ada yang ambil tanpa izin. Dan yang bisa masuk gudang ini tanpa izin saya cuma direksi.”
Tasya, di belakangku, berhenti mencari-cari tikus.
“Bu,” bisiknya. “Ini kayak film detektif.”
“Ini bukan film, Tas.”
“Iya, Bu. Tapi kalau film, sekarang biasanya ada musik tegang.”
Pak Joko berjalan ke meja kecil di ujung gudang, mengambil sebuah buku besar bersampul hijau tua, dan mulai membalik halaman-halamannya dengan jari yang dijilat.
Aku menunggu. Jantungku berdetak di tenggorokan.
Lima menit kemudian, Pak Joko mengangkat kepala.
“Nggak ada di buku, Bu. Nggak ada yang pinjam kardus Building Systems tahun itu.”
Dia menutup buku itu. Pelan.
“Tapi Bu,” katanya. “Ada satu hal yang saya ingat. Sekitar dua atau tiga minggu setelah Mas Adrian keluar, ada staf yang datang ke sini malam-malam. Pakai kartu akses direksi. Saya kebetulan lembur, lagi rapiin rak. Saya tanya dia mau apa, dia bilang disuruh ambil dokumen. Saya tanya disuruh siapa.”
“Siapa, Pak?”
Pak Joko menatapku lama, di balik kacamata tebalnya.
“Dia bilang, disuruh Pak Marcel.”
Aku keluar dari gudang B5 jam setengah delapan dengan debu di lutut dan kepala yang berdenyut.
Marcel. Bukan Om Hendra. Marcel.
Sepupuku. Yang selalu tersenyum di ujung meja rapat. Yang tertawa waktu Adrian bilang nggak ada kursinya, ya. Yang dulu, lima tahun lalu, duduk di sudut ruang tengah rumah Menteng dan mendengus seperti menahan tawa waktu suamiku berlutut.
Kenapa Marcel mengambil arsip Building Systems?
Aku tahu jawabannya. Aku tahu sejak Adrian membacakan baris ketujuh dan baris kesembilan di slide empat belas. Aku cuma belum berani menyusunnya jadi kalimat yang utuh.
Lift naik ke lantai empat puluh. Aku menatap pantulanku di dinding baja. Setelan abu-abu. Lipstik merah. Rambut dicepol.
Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya-tanya, apa yang lain yang sudah dihapus?
Jam sebelas siang, aku sedang membaca kontrak tenant di ruanganku waktu pintu terbuka.
Bukan diketuk. Terbuka. Pelan. Sedikit. Celah selebar telapak tangan.
Aku mengangkat kepala, siap memarahi siapa pun yang masuk tanpa mengetuk.
Lalu aku melihat siapa yang mengintip dari celah pintu itu.
Mata almond yang bulat. Poni yang lepek. Kepang satu, yang sudah setengah lepas. Jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanan.
Elea.
Dunia berhenti untuk kelima kalinya.
“Halo, Tante,” bisik Elea dari celah pintu. Dengan senyum lebar dan sedikit takut, senyum anak kecil yang tahu dia sedang melakukan sesuatu yang nggak boleh. “Elea boleh masuk?”
Aku nggak bisa bicara.
Aku menatapnya. Lalu menatap pintu di belakangnya. Lorong. Kosong. Nggak ada siapa-siapa. Nggak ada Adrian. Nggak ada Bi Imah. Nggak ada siapa pun.
“Elea,” kataku akhirnya, dengan suara yang serak. “Kamu… kamu ngapain di sini? Kamu sama siapa?”
“Sama Nenek Imah.” Elea mendorong pintu lebih lebar dan melangkah masuk, sepatu merahnya berdecit di lantai kayu. “Tapi Nenek lagi ribut sama mbak-mbak di bawah. Nenek bawa rantang buat Papa. Nenek kira kantor Papa di sini. Kata Nenek, dulu Papa kerja di gedung R. Tapi mbak-mbaknya bilang Papa nggak kerja di sini. Terus Nenek marah. Terus Elea bosan.”
Dia berhenti di tengah ruanganku. Menatap sekeliling dengan mata lebar. Jendela kaca dari lantai sampai langit-langit. Pemandangan Jakarta dari lantai empat puluh. Rak buku. Sofa abu-abu. Meja kerjaku yang besar.
“Wah,” katanya. “Ruangan Tante gede banget. Kayak kastil.”
“Elea, kamu naik ke sini gimana?”
“Naik lift.” Dia mengatakannya dengan bangga. “Ada lift yang pintunya emas. Ada tulisannya R. Elea masuk aja. Terus Elea pencet tombol yang paling atas. Terus liftnya naik. Terus Elea keluar. Terus ada mbak-mbak cantik yang lagi telepon nggak lihat Elea. Terus Elea lihat pintu ini ada tulisannya Bianca Rexton. Elea bisa baca Bianca soalnya kayak Bintang, sama-sama B.”
Lift direksi. Dia naik lift direksi. Dari lobi. Sendirian. Lift yang seharusnya hanya bisa diakses dengan kartu, tapi yang kuncinya rusak sejak minggu lalu dan belum diperbaiki karena teknisinya cuti.
Tasya. Tasya yang sedang telepon di mejanya di luar dan nggak lihat anak kecil lewat.
Aku berdiri. Lalu berhenti. Lalu duduk lagi.
Lima puluh meter. Syarat nomor tujuh.
Aku harus menelepon seseorang. Aku harus memanggil Tasya. Aku harus membawa anak ini turun ke lobi dan menyerahkannya ke Bi Imah dan pergi sejauh mungkin.
Tapi tubuhku nggak bergerak. Aku duduk di kursiku, di balik meja kerja yang besar, dan menatap anak perempuan lima tahun yang sedang berdiri di depan jendela, menempelkan dahinya ke kaca, menatap Jakarta di bawah sana.
“Mobil-mobilnya kecil banget,” bisik Elea ke kaca. “Kayak semut. Kayak di stasiun Oxford.”
“Oxford?” Suaraku keluar sendiri.
“Iya. Papa bilang orang-orang di stasiun kayak semut yang bingung. Terus Papa bikin semutnya nggak bingung.” Elea menoleh padaku. “Papa pintar, Tante. Papa bisa bikin gedung ngomong.”
“Iya,” bisikku. “Papa kamu pintar.”
“Tante kenal Papa?”
Aku nggak bisa menjawab.
Elea menatapku dengan kepala dimiringkan sedikit ke kanan. Persis seperti anak perempuan di foto tahun 2001. Persis seperti aku.
Lalu dia berjalan ke arahku. Mengitari meja. Berdiri di samping kursiku.
“Tante,” katanya. “Tante kenapa matanya kayak mau nangis lagi? Kayak di hotel.”
Aku nggak menyentuhnya.
Aku ingin. Tuhan tahu aku ingin. Seluruh tubuhku ingin. Tanganku di pangkuan mengepal begitu keras sampai kuku-kukuku menusuk telapak tangan, supaya tangan itu nggak bergerak, supaya tangan itu nggak terangkat dan mengusap rambut kusut itu dan membetulkan kepangan yang setengah lepas itu.
Aku nggak menyentuhnya.
Tapi Elea nggak tahu aturan itu. Atau dia tahu, dan dia memutuskan bahwa aturan itu nggak berlaku di kastil di lantai empat puluh.
Dia memanjat ke pangkuanku.
Begitu saja. Tanpa izin. Seperti memanjat kursi biasa. Lutut kecilnya menekan pahaku, tangannya berpegangan di lengan kursi, lalu dia memutar badan dan duduk di pangkuanku, menghadap meja kerjaku, dengan punggung kecilnya bersandar di dadaku.
Aku membeku.
Dia ringan. Itu yang pertama kupikirkan. Dia ringan sekali. Seperti burung. Dan hangat. Dan bau sampo bayi dan matahari dan sedikit bau rendang, mungkin dari rantang Bi Imah.
“Tante punya pensil warna?” tanya Elea, menatap mejaku dengan serius.
Aku nggak bisa bicara. Tanganku masih mengepal di samping tubuhku. Melayang. Nggak menyentuhnya. Aku menahannya di udara, satu senti dari pinggang kecilnya, dan nggak menurunkannya.
“Tante?”
“A-ada.” Suaraku nggak terdengar seperti suaraku. “Di laci.”
Dengan tangan yang gemetar, tanpa menyentuhnya, aku membuka laci meja. Pensil warna dua belas warna, yang kubeli bertahun-tahun lalu untuk mewarnai grafik presentasi dan nggak pernah kupakai. Kertas HVS kosong.
Elea mengambil semuanya dengan riang.
“Elea mau gambar Tante,” katanya. “Boleh?”
“…Boleh.”
Dan dia mulai menggambar.
Dua puluh menit.
Aku menghitungnya di jam dinding di seberang ruangan. Dua puluh menit, aku duduk di kursi kerjaku dengan anakku di pangkuanku, dan tanganku melayang satu senti dari tubuhnya, dan aku nggak menyentuhnya.
Dua puluh menit, dia menggambar dan bicara tanpa henti.
Tentang Lucas dari Belanda dan hamster bernama Kapitein. Tentang Ms. Ratih yang punya taman kupu-kupu di kelas. Tentang Nenek Imah yang berantem sama pintu. Tentang Om Bayu yang kalah debat sama dia soal kucing dan anjing. Tentang Oxford, tentang Mr. Hakan yang punya toko kebab dan selalu kasih nasi tiap Jumat. Tentang Papa.
Papa yang bisa mengepang rambut. Papa yang bikin roti bentuk bintang. Papa yang nyanyi lagu dangdut dengan suara kayak pintu rusak. Papa yang cek dahinya tiap pagi pakai tangan. Papa yang nggak pernah telat jemput, kecuali sekali, karena Prof. Whitmore nggak berhenti ngomong soal burung.
Dan aku mendengarkan.
Aku mendengarkan seperti orang yang kehausan mendengarkan bunyi air. Setiap kata. Setiap cerita. Setiap detail kecil dari lima tahun yang nggak pernah kulihat.
Papa yang cek dahinya tiap pagi pakai tangan.
Aku melihat Adrian melakukan itu di lobi hotel. Aku nggak tahu itu kebiasaan. Aku nggak tahu itu ritual.
“Udah!” Elea mengangkat kertasnya dengan bangga. “Ini Tante!”
Seorang perempuan dengan rambut panjang bergelombang berwarna cokelat. Gaun putih. Mata besar yang diwarnai cokelat. Bibir merah yang tersenyum. Dan di bawah mata kirinya, titik hitam kecil.
“Ini apa?” tanyaku, menunjuk titik itu dengan jari yang gemetar.
“Tahi lalat,” kata Elea. “Tante punya. Di sini.” Dia menunjuk wajahnya sendiri, di bawah mata kirinya. “Elea juga punya. Kecil. Papa bilang itu tanda Elea istimewa.”
Aku menatap gambar itu sampai garis-garisnya buram.
“Tante,” kata Elea, menyandarkan kepalanya ke dadaku. “Tante cantik banget. Kayak putri.”
Aku menutup mata.
“Mama Elea juga pasti cantik kayak Tante,” lanjutnya, dengan suara yang tiba-tiba pelan. “Mama Elea di bintang. Papa bilang. Elea nggak pernah lihat muka Mama. Tapi Elea yakin Mama cantik. Kayak Tante.”
Aku nggak bisa bernapas.
“Tante,” bisik Elea. “Tante mau jadi teman Elea? Teman yang bukan teman cadangan?”
Dan dia memutar badannya di pangkuanku, menghadapku, dan memelukku. Tangan kecilnya melingkar di leherku. Wajahnya terbenam di bahuku.
“Elea sayang Tante.”
Tanganku turun.
Aku nggak bisa menahannya lagi. Satu senti itu habis. Tanganku turun, dan menyentuh punggung kecilnya. Telapak tanganku terbuka. Menempel. Merasakan tulang punggungnya yang kecil, napasnya yang naik-turun, jantungnya yang berdetak cepat seperti jantung burung.
Anakku.
Ini anakku.
Aku menyentuh anakku untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
Dan aku menangis tanpa suara, dengan bibir terkatup dan bahu yang gemetar dan air mata yang jatuh ke rambut kusut yang wangi sampo bayi. Aku menangis dengan seluruh tubuhku, dengan cara yang nggak boleh terdengar oleh anak kecil yang sedang memelukku.
“Tante?” Elea menarik diri sedikit, menatapku. “Tante nangis?”
“Nggak,” kataku. Suaraku pecah. “Tante cuma… kelilipan.”
Elea menatapku dengan mata almond yang menyipit. Mata yang tahu. Mata yang persis seperti mata ayahnya kalau sedang tahu aku bohong.
Lalu dia mengangkat tangan kecilnya dan mengusap pipiku. Menghapus air mataku dengan ibu jarinya yang lengket.
“Jangan sedih, Tante,” katanya. “Nanti cantiknya hilang.”
Pintu ruanganku terbuka. Keras.
“Bu! Bu, maaf, Bu, ada nenek-nenek di lobi bilang cucunya hilang, katanya cucunya pakai jepit kupu-kupu, saya udah cari di semua lantai—“
Tasya berhenti di ambang pintu.
Dia menatapku. Duduk di kursi kerja. Dengan anak kecil di pangkuan. Dengan wajah basah oleh air mata.
Tasya menutup mulutnya dengan dua tangan.
Di belakang Tasya, terengah-engah, dengan rantang di satu tangan dan wajah yang pucat, muncul Bi Imah.
Perempuan tua dengan daster batik dan kerudung cokelat dan sandal jepit hijau bergambar katak. Sandal jepit yang sama persis. Kembaran dari sandal yang kupakai menyetir pulang dari basement seminggu lalu, dan yang sekarang tersimpan di bawah meja kerjaku, karena aku nggak tahu harus kukembalikan ke mana.
Bi Imah menatap Elea di pangkuanku. Lalu dia menatapku.
Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuatku ingin menghilang.
Bukan kemarahan. Bukan kebencian.
Bi Imah menatapku dengan mata yang sedih. Mata yang tahu terlalu banyak. Mata yang menatapku seperti menatap anak kecil yang tersesat.
“Nenek!” Elea melompat turun dari pangkuanku dan berlari ke arah Bi Imah. “Nenek, Elea ketemu Tante cantik! Elea gambar Tante! Lihat!”
Bi Imah memeluk Elea erat-erat. Dengan satu tangan. Tangan lain masih memegang rantang. Dia nggak melepaskan tatapannya dariku.
“Maaf,” kataku. Aku berdiri. Kakiku gemetar. “Bi… Bu Imah. Maaf. Dia naik sendiri. Saya nggak tahu. Saya… saya nggak menyentuhnya, saya nggak…”
Aku berhenti. Karena itu bohong. Aku menyentuhnya.
Bi Imah diam lama. Lalu, dengan suara yang pelan dan serak, dia bilang:
“Nggak apa-apa, Nak.”
Nak. Lagi.
“Bibi yang salah. Bibi kira Adrian kerja di sini. Bibi lupa dia pindah kantor.” Bi Imah menatap rantang di tangannya. Lalu dia melakukan sesuatu yang nggak kuduga. Dia berjalan ke mejaku, meletakkan rantang itu di atasnya, di samping gambar Elea.
“Rendang,” katanya. “Buat makan siang. Kamu kurus.”
“Bu, saya nggak bisa—“
“Makan,” kata Bi Imah. Dengan nada yang sama dengan nada yang dipakai seorang nenek untuk menyuruh cucunya makan kacang panjang. “Rendangnya nggak bisa dibawa pulang lagi. Adrian nggak suka rendang yang udah jalan-jalan.”
Lalu dia menggandeng tangan Elea dan berbalik ke pintu.
Di ambang pintu, dia berhenti. Dia nggak menoleh. Tapi dia bilang satu kalimat lagi, sangat pelan:
“Adrian udah di jalan ke sini. Bibi telepon dia tadi. Dia marah sekali.” Diam sebentar. “Kamu kuat-kuatin diri, Nak.”
Elea menoleh dari balik bahu Bi Imah. Dia melambai padaku. Senyum lebar. Satu gigi depan yang goyang.
“Dah, Tante! Gambarnya buat Tante! Disimpan, ya!”
Lalu mereka pergi.
Aku berdiri di tengah ruanganku. Tasya masih di ambang pintu, dengan dua tangan di mulut dan mata yang basah.
“Bu,” bisiknya.
“Tutup pintunya, Tas.”
Tasya menutup pintu.
Aku menatap mejaku. Rantang empat susun yang dibungkus serbet kotak-kotak. Dan di sampingnya, selembar kertas HVS dengan gambar perempuan berambut panjang, bergaun putih, dengan tahi lalat di bawah mata kiri.
Di pojok bawah kertas itu, dengan huruf-huruf besar yang miring, ditulis dengan pensil warna ungu:
TANTE CANTIK. TEMAN ELEA. BUKAN CADANGAN.
Aku duduk di lantai. Di balik meja kerja. Di tempat yang nggak bisa dilihat dari pintu.
Aku memeluk gambar itu ke dadaku, dan menangis sampai suara langkah kaki yang kukenal terdengar di lorong, cepat dan keras seperti ketukan palu, mendekat ke pintu ruanganku.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor reading
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama