Chapter Nineteen

Angka yang Tidak Mau Diam

POV: Bianca


Surat teguran kedua nggak pernah datang.

Aku menunggunya hari Selasa. Hari Rabu. Hari Kamis. Setiap pagi aku membuka email dengan jantung yang berdetak terlalu cepat, menunggu surat dari sekretaris dewan dengan subjek Pelanggaran Lampiran C, Syarat Nomor Tujuh. Kedua kalinya. Kali ini mungkin bukan teguran. Kali ini mungkin pemecatan.

Nggak ada.

Hari Jumat, Tasya masuk ke ruanganku dengan dua gelas teh dan wajah orang yang membawa gosip penting.

“Bu. Saya udah tanya ke sekretaris dewan. Diam-diam. Nggak ada laporan masuk dari Hallworth soal hari Senin.”

Aku menatapnya.

“Nggak ada sama sekali?”

“Nggak ada, Bu.” Tasya meletakkan teh di mejaku. “Terus saya tanya ke Mbak Desi, asistennya Bu Catherine Hall. Kita temenan dari grup senam Zumba. Mbak Desi bilang, Senin sore Pak Dokter balik ke kantor Hallworth, duduk di mejanya dua jam nggak ngapa-ngapain, terus nulis sesuatu, terus dihapus, terus nulis lagi, terus dihapus lagi. Terus pulang.”

“Terus?”

“Terus nggak ada apa-apa, Bu.” Tasya mengangkat bahu. “Pak Dokter nggak lapor.”

Aku menatap gelas teh di depanku. Uapnya naik pelan.

Syarat nomor tujuh. Ini akan dilaporkan.

Laporkan.

Dia nggak melaporkannya.

“Bu,” kata Tasya pelan. “Itu artinya apa?”

“Saya nggak tahu, Tas.”

Dan itu jujur. Aku benar-benar nggak tahu.


Rantang Bi Imah masih di mejaku.

Empat susun, dibungkus serbet kotak-kotak. Rendangnya sudah habis. Aku memakannya hari Senin, sendirian, di lantai di balik meja kerja, dengan tangan yang masih gemetar. Rendang yang lembut dan pedas dan berbumbu dalam. Rendang yang rasanya seperti rumah orang lain, rumah yang nggak pernah kukunjungi, rumah tempat anakku tumbuh.

Aku mencuci rantang itu sendiri di pantri lantai empat puluh. Office boy menatapku dengan horor, seolah melihat Presiden menyapu jalan.

Lalu aku nggak tahu harus mengembalikannya ke mana.

Aku nggak bisa datang ke rumah di Kebayoran. Aku nggak bisa mengirimnya ke kantor Hallworth, karena Adrian akan melihatnya dan mungkin membuangnya ke tempat sampah. Aku nggak punya alamat lain.

Hari Jumat sore, aku memanggil Tasya lagi.

“Tas. Kamu kenal Bayu Pratama? Asisten Dr. Renaldi?”

Tasya berkedip. “Kenal, Bu. Dari grup senam Zumba juga.”

“Ada orang di gedung ini yang nggak kamu kenal dari grup senam Zumba?”

“Ada, Bu. Pak Joko dari arsip. Tapi saya udah ajak dia gabung.”

Aku menatapnya. Lalu aku menyerahkan rantang yang sudah bersih, terbungkus serbet kotak-kotak yang sudah kucuci dan kusetrika sendiri. Dan sepasang sandal jepit hijau bergambar katak, di dalam kantong kertas.

“Tolong titipkan ini ke Bayu. Bilang untuk Bu Imah.”

Tasya menerimanya dengan dua tangan, hati-hati, seperti menerima pusaka. Lalu matanya jatuh ke selembar kertas kecil yang kuselipkan di antara susunan rantang.

“Boleh saya baca, Bu?”

“Nggak.”

Tasya membacanya.

Bu Imah. Terima kasih. Rendangnya habis. Saya cuci sendiri rantangnya, mohon maaf kalau kurang bersih. Sandalnya pas. — B.

“Bu,” bisik Tasya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Ibu nyuci rantang sendiri?”

“Tasya.”

“Iya, Bu. Saya titipkan. Sekarang.”

Dia berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti, dan berbalik.

“Bu. Saya boleh tambahin satu kalimat di kertasnya nggak? Dari saya?”

“Apa?”

“P.S. Bu Bianca belum pernah nyuci piring seumur hidupnya. Jadi ini istimewa.“

“Tasya.“

“Iya, Bu. Nggak jadi.”

Dia keluar. Aku mendengar dia tertawa kecil di lorong, sendirian.

Aku menatap pintu yang tertutup. Dan, untuk pertama kalinya dalam seminggu, aku tersenyum.


Malam itu aku nggak pulang.

Jam sembilan, setelah semua staf lantai empat puluh pulang, aku menutup pintu ruanganku, mematikan lampu utama, dan menyalakan lampu meja. Lingkaran cahaya kuning, seperti di ruang kerja Papa.

Aku membuka laptop.

Sebagai CEO Rexton Malls, aku punya akses ke sistem keuangan anak perusahaan. Bukan akses ke keuangan grup, itu wilayah Om Hendra. Tapi akses ke catatan pembayaran setiap proyek Rexton Malls. Setiap faktur. Setiap transfer ke vendor. Setiap kontrak yang pernah ditandatangani atas nama Rexton Malls, sejak perusahaan itu didirikan Papa dua puluh tahun lalu.

Aku nggak pernah membukanya lebih jauh dari tiga bulan terakhir. Nggak ada alasan untuk itu. Om Hendra yang mengurus audit. Om Hendra yang mengurus vendor. Om Hendra yang menjamin semuanya rapi.

Aku percaya Om Hendra.

Aku membuka catatan lima tahun lalu.

Rexton Mall Kemayoran. Pengadaan Struktur. Tahap Akhir.

Faktur demi faktur. Pembayaran demi pembayaran. PT Sentra Bangun Abadi. PT Sentra Bangun Abadi. PT Sentra Bangun Abadi.

Aku mencari tanggal. Sebelas Maret. Lima tahun lalu. Tanggal yang tertera di rekening koran yang dilempar ke meja marmer. Tanggal rekening atas nama Adrian dibuka.

Aku menemukan sesuatu di tanggal sepuluh Maret.

Pembayaran ke PT Sentra Bangun Abadi. Empat koma tujuh miliar rupiah. Dengan keterangan: Pembayaran tambahan — revisi spesifikasi rangka atap atrium.

Aku menatap angka itu.

Empat koma tujuh miliar.

Persis.

Bukan empat koma enam. Bukan empat koma delapan. Empat koma tujuh. Angka yang sama yang tercetak di rekening koran atas nama suamiku. Angka yang sama yang Om Hendra bacakan di ruang tengah dengan intonasi menu makan siang.

Satu hari sebelum rekening itu dibuka, Rexton Malls membayar empat koma tujuh miliar ke PT Sentra. Untuk revisi spesifikasi.

Aku mencari dokumen revisi spesifikasinya.

Nggak ada.

Aku mencari persetujuan teknisnya. Dokumen yang seharusnya ditandatangani Head of Building Systems untuk setiap perubahan spesifikasi struktur.

Nggak ada. Kolom persetujuan teknis kosong. Hanya ada satu tanda tangan di faktur itu. Tanda tangan persetujuan keuangan.

H. Rexton.


Aku nggak tahu berapa lama aku duduk menatap layar itu.

Lima menit. Sepuluh. Satu jam. Lampu-lampu di gedung-gedung di seberang jalan mulai mati satu per satu. Jakarta di bawah sana berubah dari lautan cahaya jadi pulau-pulau cahaya kecil yang terpencar.

Kalau dia nggak salah…

Kalimat itu muncul di kepalaku dan aku menutupnya. Seperti menutup pintu yang berderit. Cepat. Keras.

Tapi pintu itu terbuka lagi.

Kalau dia nggak salah…

Satu hari sebelum rekening dibuka. Angka yang persis sama. Tanpa dokumen revisi. Tanpa persetujuan teknis. Hanya tanda tangan Om Hendra.

Kalau dia nggak salah, berarti…

Aku menutup laptop. Keras.

Aku berdiri. Berjalan ke jendela. Menempelkan dahi ke kaca yang dingin, seperti Elea di hari Senin, menatap mobil-mobil yang kecil seperti semut di bawah sana.

Berarti Om Hendra yang menaruh uang itu di rekening Adrian.

Berarti foto-foto itu…

Berarti malam itu…

Berarti aku…

Aku menekan dahiku lebih keras ke kaca. Sampai sakit.

Bilang kamu percaya aku.

Dan aku diam. Karena ada foto. Karena ada rekening. Karena ada angka-angka yang rapi dan dokumen-dokumen yang lengkap dan Om Hendra yang tenang dan Mama yang lembut.

Karena aku nggak memeriksa.

Karena aku nggak mau memeriksa.

Karena memeriksa berarti mempertanyakan keluargaku, dan mempertanyakan keluargaku berarti berdiri sendirian, dan malam itu aku terlalu lelah untuk berdiri sendirian.

Jadi aku duduk. Dan diam. Dan membiarkan orang lain memutuskan.


“Bi?”

Aku berbalik.

Darren berdiri di ambang pintu. Kemeja putih yang lengannya digulung, dasi yang sudah dilepas, wajah lelah. Di tangannya, dua kotak styrofoam dan dua botol air mineral.

“Tasya bilang kamu belum pulang,” katanya. “Dan belum makan. Lagi.”

“Tasya terlalu banyak ngomong.”

“Tasya peduli sama kamu.” Darren masuk, meletakkan kotak-kotak itu di meja sofa. “Nasi goreng kambing. Dari warung di Sabang. Yang kamu suka waktu SMA.”

Aku menatapnya. “Dari mana kamu tahu aku suka itu waktu SMA?”

Darren tersenyum kecil. “Kita satu SMA, Bi. Aku dua tahun di atas kamu. Kamu nggak ingat aku. Tapi aku ingat kamu. Kamu selalu beli nasi goreng kambing di Sabang tiap Jumat sore, sama teman-teman kamu, dan selalu minta kambingnya dobel.”

Aku nggak ingat dia. Sama sekali. Dan entah kenapa, itu membuatku merasa bersalah.

“Duduk, Bi,” katanya. “Makan dulu. Terus cerita.”

Aku duduk di sofa. Aku membuka kotak styrofoam. Bau nasi goreng kambing yang pedas dan berminyak naik ke wajahku.

Lalu aku menangis.

Aku nggak tahu kenapa. Mungkin karena nasi goreng kambing. Mungkin karena Darren ingat aku waktu SMA dan aku nggak ingat dia. Mungkin karena empat koma tujuh miliar. Mungkin karena tanda tangan H. Rexton di kolom yang seharusnya diisi tanda tangan orang lain.

Darren nggak bilang apa-apa. Dia cuma duduk di sampingku, nggak terlalu dekat, dan menunggu.

Waktu aku selesai menangis, dia menyodorkan tisu.

“Kamu nemu sesuatu,” katanya. Bukan pertanyaan.

Aku menatap laptop di meja kerjaku. Tertutup. Lampu indikatornya berkedip pelan.

“Kalau aku bilang,” kataku pelan, “kamu harus pilih. Kamu pemegang saham Rexton. Keluargamu punya hubungan bisnis sama Om Hendra sepuluh tahun. Kalau aku bilang, kamu harus pilih.”

Darren menatapku dengan mata cokelat yang tenang.

“Bi,” katanya. “Aku udah pilih dari lama.”

Aku menatapnya.

“Aku pilih kamu,” katanya sederhana. “Bukan kamu yang aku pengin jadi tunanganku. Kamu yang benar. Itu beda.”

Aku nggak mengerti apa maksudnya. Waktu itu, aku belum mengerti.

Aku berdiri, mengambil laptop, membukanya, dan menunjukkan padanya. Faktur sepuluh Maret. Empat koma tujuh miliar. Kolom persetujuan teknis yang kosong. Tanda tangan H. Rexton.

Darren membacanya lama. Wajahnya berubah. Pelan. Dari tenang, jadi tegang, jadi pucat.

“Ini…” katanya. “Bi, ini tanggal sebelum…”

“Satu hari sebelum.”

“Dan angkanya…”

“Persis.”

Darren menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia menatap langit-langit. Lama.

“Keluargaku punya akses ke registri perusahaan Singapura,” katanya akhirnya. “Kami punya entitas di sana. Kalau kamu mau aku cek PT Sentra—“

“PT Arunika Cipta Investama,” kataku. “Pemegang saham mayoritas PT Sentra. Aku mau tahu siapa di belakangnya.”

Darren menatapku. “Kamu udah tahu sebanyak itu?”

“Dr. Renaldi menyebutnya di laporan audit.” Aku menelan sesuatu. “Dia bilang di presentasi. Di depan Om Hendra. Dan Om Hendra nggak bilang apa-apa.”

Darren mengangguk pelan. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik.

Aku duduk di sampingnya dan memakan nasi goreng kambing dengan tangan yang gemetar. Kambingnya dobel. Darren ingat.


Jam dua belas lewat empat puluh, ponsel Darren berbunyi.

Dia membaca pesannya. Lalu dia membacanya lagi. Lalu dia menyerahkan ponselnya padaku tanpa bicara.

Dokumen registri perusahaan Singapura. PT Arunika Cipta Investama, terdaftar sebagai Arunika Capital Pte. Ltd. Direktur: seorang nama Singapura yang nggak kukenal. Pemegang saham: dua perusahaan lain. Dan di bawahnya, catatan kecil dari staf Darren:

Direktur ini, Kelvin Tan, adalah teman kuliah Marcel Rexton di NUS. Mereka satu angkatan, satu jurusan. Kelvin juga tercatat sebagai direktur di tiga perusahaan lain yang semuanya pernah menerima transfer dari PT Sentra.

Aku membaca nama itu sampai hurufnya buram.

Marcel.

Sepupuku yang tertawa di ujung meja rapat. Yang mengirim staf ke gudang arsip B5 malam-malam untuk mengambil dua kardus laporan Building Systems. Yang mendengus menahan tawa waktu Adrian berlutut di karpet Persia.

Bukan Om Hendra sendirian. Om Hendra dan anaknya.

“Bi,” kata Darren pelan. “Kamu tahu ini artinya apa?”

Aku tahu.

Artinya laki-laki yang kubenci selama lima tahun mungkin nggak pernah mencuri apa-apa.

Artinya foto-foto itu mungkin juga…

Aku nggak bisa menyelesaikan kalimat itu. Bahkan di dalam kepalaku sendiri.

“Belum,” kataku. “Ini belum cukup. Ini cuma faktur dan nama direktur. Ini belum bukti apa-apa.”

“Bi—“

“Belum, Dar.”

Darren menatapku lama. Lalu dia mengangguk.

“Oke,” katanya. “Belum. Tapi kamu tahu itu bohong, kan?”

Aku nggak menjawab.


Darren pulang jam satu.

Aku nggak. Aku duduk di ruanganku sampai jam dua, menatap layar laptop yang menampilkan faktur sepuluh Maret, dan nama Kelvin Tan, dan satu kalimat yang terus-menerus berputar di kepalaku seperti piringan hitam yang tersangkut.

Kalau dia nggak salah.

Kalau dia nggak salah.

Kalau dia nggak salah.

Jam dua lewat sepuluh, aku membuka aplikasi bank di ponselku.

Hari ini tanggal empat belas.

Transfer keempat puluh sembilan. Yang pertama kulakukan dengan tanganku sendiri, sejak aku mengubah pengaturan otomatisnya di depan Hotel Arunaya.

Aku membuka formulir transfer. Aku memasukkan nomor rekening. Nama penerima muncul di layar.

Imah Rohimah.

Aku memasukkan jumlahnya. Angka yang sama, empat puluh delapan kali.

Lalu jariku berhenti di atas tombol Kirim.

Dan untuk pertama kalinya, aku membayangkan uang itu. Bukan sebagai angka di layar. Sebagai sesuatu yang nyata. Sesuatu yang sampai ke rumah di Kebayoran dengan pohon mangga dan ayunan ban bekas. Sesuatu yang mungkin dipakai untuk membeli pensil warna. Sepatu merah. Ransel kelinci. Plester bergambar kartun.

Aku membayangkan Bi Imah, perempuan tua dengan daster batik dan sandal jepit katak, menerima uang ini setiap bulan selama empat tahun. Dari rekening perantara. Tanpa nama. Tanpa pesan.

Apa yang dia pikirkan setiap tanggal empat belas?

Hati-hati di jalan, Nak.

Kamu kuat-kuatin diri, Nak.

Aku menekan Kirim.

Lalu aku menulis sesuatu di kolom berita transfer. Kolom yang selama empat puluh delapan kali selalu kukosongkan. Kolom yang terbatas tiga puluh karakter.

Aku menulis, menghapus, menulis lagi.

Akhirnya aku menulis tiga kata.

Untuk pensil warna.

Dan menekan Kirim lagi.

Transfer berhasil.

Aku menatap layar sampai meredup. Lalu aku menyandarkan kepalaku di meja kerja, di samping gambar perempuan bergaun putih yang dibuat dengan pensil warna dua belas warna, dan tertidur di sana, sampai Tasya membangunkanku jam tujuh pagi dengan teh hangat dan wajah yang khawatir.


“Bu. Ibu tidur di kantor lagi.”

“Saya ketiduran, Tas.”

“Itu namanya tidur di kantor, Bu.” Tasya meletakkan teh di depanku. Lalu dia menyodorkan sesuatu yang lain. Kantong plastik kecil. “Ini dari Mas Bayu. Dititipin ke saya tadi pagi di grup senam Zumba. Eh, maksudnya di lobi.”

Aku menatap kantong itu.

“Dari Bayu?”

“Katanya dari Bu Imah. Balasan rantang.”

Aku membuka kantong itu dengan tangan yang tiba-tiba gemetar.

Di dalamnya, sebuah toples plastik kecil berisi kerupuk udang. Kerupuk udang dari Bandung, yang menurut Adrian dulu adalah satu-satunya kerupuk yang layak dimakan di dunia. Dan selembar kertas buku tulis bergaris, dilipat dua.

Tulisan tangan yang besar dan miring. Tulisan tangan orang tua yang nggak terbiasa menulis.

Neng Bianca. Rantangnya bersih kok. Nggak usah minta maaf. Ini kerupuk buat temen makan. Jangan lupa makan. Kamu kurus.

Elea titip salam. Katanya dia gambar Neng lagi. Tapi gambarnya disimpen dulu, belum boleh dikasih. Katanya nunggu Papanya udah nggak marah.

Hati-hati di jalan, Nak.

— Imah

Dan di bagian paling bawah kertas, dengan tulisan yang lebih kecil, lebih ragu, seperti ditambahkan belakangan:

Pensil warnanya udah Bibi beliin. Yang 48 warna.