Chapter Twenty Five
Terlambat Lima Tahun
POV: Adrian
“Ada tamu di pintu depan,” kata speaker di dinding kamar tidurku.
Jam dua belas lewat empat puluh dua menit.
Aku belum tidur. Aku duduk di tepi kasur dengan lampu tidur menyala dan buku catatan hitam terbuka di pangkuan. Halaman pertama. Dua kalimat yang kutulis di dapur rumah Summertown, tujuh bulan lalu, dengan pulpen hitam dan tangan yang nggak gemetar sama sekali.
Aku tidak akan memaafkan mereka.
Tidak dia.
Aku sudah menatap dua kalimat itu sejak jam sebelas. Sejak aku pulang dari Rexton Tower dan menemukan rumah sudah gelap, Elea sudah tidur, Bi Imah sudah masuk kamar. Sejak aku duduk di sini dan menunggu rasa lega yang nggak datang-datang.
“Ada tamu di pintu depan,” ulang speaker itu.
Aku menutup buku catatan. Aku berjalan ke jendela kamar, yang menghadap halaman depan.
Hujan. Deras. Lampu jalan kuning memantul di aspal yang tergenang. Pagar hitam. Dan di depan pagar hitam itu, di bawah hujan, tanpa payung, berdiri seseorang.
Kemeja putih yang sudah transparan karena basah. Rambut panjang yang menempel di wajah dan leher. Tangan yang terkepal di sisi tubuh.
Dia nggak menekan bel. Speaker itu mendeteksinya dari kamera, bukan dari bel. Dia cuma berdiri di sana. Diam. Di bawah hujan. Menatap rumah ini.
Aku berdiri di jendela lama sekali.
Lalu aku turun.
“Selamat malam,” kata pintu depan waktu aku membukanya.
Hujan menghantam wajahku. Dingin. Aku nggak mengambil payung. Aku berjalan menyeberangi halaman, melewati pot-pot bunga Bi Imah, ke pagar hitam.
Dia melihatku datang. Dia nggak bergerak.
Aku berhenti di balik pagar. Satu meter. Jeruji besi hitam di antara kami.
Dari dekat, dia terlihat lebih buruk. Bibirnya pucat, hampir biru. Bahunya gemetar. Kemeja putihnya menempel di kulit. Matanya merah dan bengkak, dan aku tahu itu bukan cuma karena hujan.
“Kamu ke rumah ibumu,” kataku. Bukan pertanyaan.
Dia mengangguk.
“Dia ngaku.”
Dia mengangguk lagi.
Hening. Cuma hujan. Hujan yang menderu di atap, di dedaunan pohon mangga, di aspal jalan.
Lalu dia bicara. Suaranya serak dan pecah dan hampir tenggelam oleh hujan, tapi aku mendengarnya. Setiap kata.
“Aku percaya kamu.”
Tiga kata.
Lima tahun lalu, aku berlutut di karpet Persia dan memohon tiga kata itu. Aku menunggu tiga detik di ambang pintu kayu jati setinggi tiga meter. Aku menghitung. Satu. Dua. Tiga.
Dan aku nggak mendapatkannya.
Lima tahun aku membayangkan mendengar kalimat itu. Di Oxford, jam tiga pagi, di depan lemari es. Di perpustakaan dengan bayi di gendongan. Di Sheldonian Theatre dengan toga hitam dan merah. Aku membayangkan bagaimana rasanya. Aku membayangkan apa yang akan kulakukan.
Sekarang aku mendengarnya. Di bawah hujan. Di balik pagar hitam. Dari perempuan yang basah kuyup dan gemetar.
Dan aku nggak merasakan apa-apa.
Nggak. Itu bohong. Aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang naik dari perut ke dada ke tenggorokan, panas dan tajam dan pahit seperti ampas kopi tubruk.
Itu bukan lega.
Itu marah.
“Percaya,” kataku pelan.
“Aku percaya kamu, Adrian. Aku…”
“Kamu percaya aku sekarang.” Suaraku keluar rendah. Sangat rendah. “Setelah lihat video. Setelah lihat faktur. Setelah lihat rekening. Setelah ibumu sendiri ngaku. Setelah semua bukti di dunia ditaruh di depan mata kamu.”
Dia diam.
“Itu bukan percaya, Bi.” Aku memegang jeruji pagar. Besinya dingin dan basah. “Itu namanya tahu. Semua orang bisa tahu kalau buktinya udah segitu banyak. Polisi bisa tahu. Hakim bisa tahu. Orang asing di jalan bisa tahu.”
“Adrian—“
“Percaya itu waktu nggak ada bukti.” Suaraku naik. Aku nggak menghentikannya. “Percaya itu waktu semua orang di ruangan bilang aku salah, dan kamu tetap pilih aku. Percaya itu waktu foto ada di meja dan rekening ada di meja dan ibumu usap punggung kamu, dan kamu tetap lihat aku dan bilang aku percaya kamu. Itu percaya. Itu yang aku minta. Lima tahun lalu. Sambil berlutut.”
Air mata mengalir di wajahnya, bercampur air hujan. Dia nggak menghapusnya.
“Kamu nggak kasih,” kataku.
“Aku tahu.”
“Dan sekarang kamu datang ke sini, jam satu pagi, basah kuyup, dan kasih kalimat itu. Lima tahun terlambat. Setelah semua bukti di dunia. Dan kamu harap apa?”
Dia menatapku. Bibirnya bergetar.
“Aku nggak harap apa-apa,” bisiknya.
“Bohong.”
“Aku nggak—“
“Kamu harap aku buka pagar ini.” Aku menatapnya. “Kamu harap aku bilang nggak apa-apa, Bi, yang penting kamu udah tahu sekarang. Kamu harap aku peluk kamu di bawah hujan kayak di film.”
Dia nggak menjawab.
Aku mencengkeram jeruji pagar lebih erat.
“Percaya kamu nggak ada harganya lagi, Bi.”
Kalimat itu jatuh di antara kami seperti batu ke dalam sumur.
Aku melihatnya mendarat. Aku melihat wajahnya. Aku melihat sesuatu di matanya yang hancur, sesuatu yang terakhir, sesuatu yang dia bawa sepanjang perjalanan dari Menteng ke sini di bawah hujan.
Dan aku nggak menariknya kembali.
Dia nggak membantah. Dia nggak memohon. Dia nggak bilang tapi Adrian, Mama yang, atau aku lagi sakit waktu itu, atau kamu nggak tahu rasanya. Semua alasan yang bisa dia pakai. Semua alasan yang mungkin benar.
Dia cuma mengangguk. Pelan.
“Aku tahu,” katanya. “Aku tahu nggak ada harganya. Aku cuma… aku cuma mau kamu dengar. Sekali. Walaupun terlambat. Walaupun nggak ada artinya.” Dia menarik napas yang bergetar. “Kamu pantas dengar itu. Dari dulu. Bahkan kalau sekarang udah nggak berguna.”
Aku nggak bisa bicara.
“Ada satu hal lagi,” lanjutnya. “Bi Sumi. Pagi itu. Kamu telepon ke rumah. Kamu bilang ke Bi Sumi…” Suaranya pecah. “Kamu bilang, kalau suatu hari aku mau ketemu, kamu nggak akan halangin.”
Aku membeku.
“Aku nggak pernah tahu, Adrian. Bi Sumi nggak pernah bilang. Mama larang. Aku baru tahu tadi. Satu jam lalu. Di karpet itu.” Dia menatapku. “Kalau aku tahu… kalau aku tahu pintunya terbuka…”
Dia berhenti.
“Aku nggak tahu apakah aku bakal datang,” bisiknya. “Itu yang paling jujur yang bisa aku bilang. Aku nggak tahu. Mungkin aku tetap nggak datang. Mungkin aku tetap terlalu takut. Tapi aku mau kamu tahu bahwa aku nggak pernah tahu pintunya terbuka.”
Lima tahun lalu, jam sembilan pagi, aku berdiri di kamar hotel murah di Cengkareng dengan bayi empat bulan yang nggak mau minum dari botol. Aku menelepon rumah Menteng untuk keempat kalinya. Bi Sumi yang mengangkat. Aku menangis. Aku nggak malu mengakuinya. Aku menangis di telepon ke kepala pelayan rumah mertuaku, karena anakku sudah dua belas jam nggak minum dan badannya mulai panas dan aku nggak tahu harus berbuat apa.
Bi Sumi bilang, coba diangetin lebih anget, kayak suhu badan.
Aku mencobanya. Elea minum.
Dan sebelum menutup telepon, aku bilang ke Bi Sumi untuk menyampaikan pesan ke Bianca. Bahwa Elea sehat. Bahwa aku menjaganya. Bahwa kalau suatu hari Bianca mau bertemu, aku nggak akan menghalangi.
Lima tahun aku menunggu.
Lima tahun aku mengira dia menerima pesan itu dan memilih nggak datang.
“Kamu nggak pernah dapat pesannya,” kataku. Suaraku keluar aneh. Datar. Seperti orang yang menyebutkan fakta.
“Nggak.”
Aku menatap jeruji pagar di tanganku.
Itu seharusnya mengubah sesuatu. Aku tahu itu seharusnya mengubah sesuatu.
Tapi yang muncul di kepalaku cuma satu hal. Satu angka.
Dua belas jam.
Elea dua belas jam nggak minum. Badannya panas. Dan aku menelepon empat kali. Dan ibunya, yang nggak tahu, tidur.
“Adrian.”
Suara itu datang dari belakangku.
Aku berbalik.
Bi Imah berdiri di teras depan. Daster batik. Kerudung yang dipakai terburu-buru. Payung besar berwarna hijau di tangan kanan, dan handuk tebal di tangan kiri. Wajahnya keras.
“Bi, masuk.”
“Kamu yang masuk.” Bi Imah berjalan menyeberangi halaman, di bawah payung, sandal jepit katak menimbulkan bunyi plak-plak di genangan air. Dia berhenti di sampingku. Dia menatap Bianca di balik pagar. Lalu menatapku. “Buka pagarnya.”
“Bi—“
“Buka. Pagarnya.”
“Bi, ini bukan urusan Bibi.”
Bi Imah menatapku. Lama. Dengan mata yang aku kenal sejak umur sembilan tahun. Mata yang menatapku waktu aku pulang sekolah dengan baju sobek karena berkelahi dengan anak yang bilang aku anak buangan. Mata yang nggak marah, tapi kecewa.
“Ini urusan Bibi,” katanya pelan. “Dari dulu ini urusan Bibi.”
Lalu dia menoleh ke Bianca.
“Neng,” katanya. “Bibi minta maaf.”
Bianca menatapnya. Bingung.
“Bibi yang salah,” lanjut Bi Imah. Suaranya bergetar. “Bibi yang nyimpen rahasia. Lima tahun. Bibi pikir Bibi lagi ngelindungin Adrian. Tapi Bibi salah.”
“Bi,” kataku. “Apa maksudnya?”
Bi Imah menatapku. Lalu dia menarik napas panjang, seperti orang yang mau melompat ke air dingin.
“Uang yang masuk ke rekening Bibi tiap bulan,” katanya. “Tanggal empat belas. Dari rekening yang nggak ada namanya. Empat tahun. Empat puluh sembilan kali sama yang kemarin.”
Aku menatapnya.
“Itu bukan dari kamu, Adrian,” kata Bi Imah. “Uang dari kamu masuk tanggal satu. Tiap bulan. Yang tanggal empat belas itu beda. Jumlahnya beda. Rekening pengirimnya beda.”
“Bi…”
“Bibi tahu dari awal itu dari siapa.” Bi Imah menatap Bianca. “Tanggal empat belas. Bibi ingat tanggal itu. Bibi lihat di undangan pernikahan kalian. Bianca Rexton, lahir 14 Maret. Bibi simpan undangannya di lemari. Bibi baca berkali-kali waktu Adrian udah di Oxford dan Bibi kangen.”
Bianca menutup mulutnya dengan tangan.
“Bibi nggak pernah pakai uangnya. Sepeser pun.” Bi Imah merogoh saku dasternya. Dia mengeluarkan selembar kertas yang terlipat kecil, dibungkus plastik supaya nggak basah. Buku tabungan. Sampul biru. Dia membukanya di bawah payung dan menyodorkannya padaku.
Di halaman pertama, tulisan tangan Bi Imah yang besar dan miring:
TABUNGAN ELEA.
Dan di halaman-halaman berikutnya, kolom demi kolom. Tanggal empat belas. Tanggal empat belas. Tanggal empat belas. Empat puluh sembilan baris. Saldo yang terus naik. Nggak ada satu pun penarikan.
Kecuali satu. Kemarin. Tanggal empat belas. Penarikan kecil. Di kolom keterangan, Bi Imah menulis dengan pensil:
Pensil warna 48. Sesuai pesan.
Aku menatap buku tabungan itu.
“Bibi nggak bilang ke kamu,” kata Bi Imah, “karena Bibi tahu kamu bakal marah. Kamu bakal nolak. Kamu bakal suruh Bibi kembalikan. Dan Bibi pikir… Bibi pikir, suatu hari Elea butuh uang ini. Buat sekolah. Buat kuliah. Dan suatu hari Elea harus tahu bahwa ibunya nggak sepenuhnya lupa sama dia.”
Dia menutup buku tabungan itu. Pelan.
“Tapi Bibi salah. Bibi harusnya bilang dari dulu. Biar kamu yang milih. Bukan Bibi.”
Aku menatap Bianca melalui jeruji pagar.
Hujan masih turun. Lebih deras sekarang. Dia masih berdiri di sana, basah kuyup, gemetar, dengan tangan yang menutup mulutnya dan mata yang menatap buku tabungan di tangan Bi Imah.
Empat puluh sembilan kali.
Empat tahun.
Sementara aku di Oxford, menggendong Elea yang demam jam tiga pagi. Sementara aku berlatih mengepang rambut di kepala boneka bekas. Sementara aku menjawab pertanyaan Mama Elea mana? dengan kebohongan tentang bintang.
Dia mengirim uang.
Setiap bulan. Tanggal empat belas. Tanpa nama. Tanpa pesan. Tanpa satu pun pertanyaan.
Dan sesuatu di dalam dadaku, sesuatu yang sudah retak sejak lobi hotel, sejak atrium Kemayoran, sejak dua detik di fan meeting, sejak hati-hati di jalan, Bi, sesuatu itu nggak pecah.
Sesuatu itu mengeras.
“Lima tahun,” kataku pelan.
Bianca menurunkan tangannya dari mulut.
“Lima tahun kamu kirim uang.” Suaraku nggak naik. Tetap rendah. Tetap tenang. Tenang seperti es. “Empat puluh sembilan kali. Tanggal empat belas. Kamu tahu di mana dia. Kamu tahu alamatnya. Kamu tahu nomor rekening bibiku. Kamu tahu dia hidup.”
Dia nggak bergerak.
“Satu kali pun,” kataku, “kamu nggak kirim diri kamu.”
Hening.
Hanya hujan.
Bianca menatapku. Wajahnya, di bawah lampu jalan kuning, di balik jeruji pagar hitam, berubah. Bukan hancur. Sudah lewat dari hancur. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang seperti orang yang akhirnya mendengar vonis yang sudah lama dia tahu akan datang.
“Iya,” bisiknya.
Satu kata. Tanpa pembelaan.
“Itu benar,” lanjutnya. “Semuanya benar. Aku kirim uang karena aku nggak berani datang. Aku sebut itu biaya rasa bersalah. Aku pikir itu cukup. Aku tahu itu nggak cukup.” Dia menarik napas yang bergetar. “Uang nggak pernah bisa jadi ibu. Aku tahu. Aku tahu dari awal. Aku cuma… nggak sanggup.”
Bi Imah, di sampingku, menutup mata.
“Aku nggak minta kamu maafin aku,” kata Bianca. “Aku nggak datang ke sini buat minta maaf. Aku datang karena kamu pantas dengar kalimat itu, sekali aja, walaupun terlambat. Dan sekarang kamu udah dengar.”
Dia mundur selangkah dari pagar.
“Aku pulang.”
Dia berbalik.
Dan di langkah pertama, lututnya goyah.
Aku melihatnya jatuh.
Bukan jatuh. Lututnya menekuk. Tangannya meraih tiang lampu jalan. Dia berpegangan di sana, bahu yang gemetar hebat, tubuh yang basah kuyup selama entah berapa jam di bawah hujan, wajah yang pucat seperti kertas.
“Ya Allah,” kata Bi Imah.
Aku nggak bergerak.
Tanganku di jeruji pagar. Kunci pagar di saku celanaku. Dua langkah. Dua langkah dan aku bisa membuka pagar ini.
Aku nggak bergerak.
Aku tidak akan memaafkan mereka.
Tidak dia.
“Adrian.” Suara Bi Imah. Keras. “Buka pagarnya.”
“Bi—“
“Bibi nggak minta kamu maafin dia.” Bi Imah menatapku. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Bi Imah marah. Benar-benar marah. “Bibi nggak minta kamu peluk dia. Bibi nggak minta kamu lupain apa-apa. Bibi cuma minta kamu buka pagar, karena ada perempuan basah kuyup yang mau pingsan di depan rumah Bibi jam satu pagi, dan Bibi nggak membesarkan kamu jadi laki-laki yang biarin orang pingsan di bawah hujan.”
Aku menatapnya.
“Bibi nggak peduli dia siapa,” lanjut Bi Imah. Suaranya bergetar. “Bibi nggak peduli dia pernah bikin salah apa. Kalau ada kucing basah di depan pagar, Bibi buka. Kalau ada maling basah di depan pagar, Bibi buka, kasih handuk, terus lapor polisi. Itu yang Bibi ajarin ke kamu. Kamu lupa?”
Aku nggak lupa.
Bandung. Musim hujan. Aku umur sepuluh tahun. Seorang laki-laki tua pemabuk yang sering mengejekku di jalan, jatuh di depan pagar rumah kami, basah, menggigil. Aku bilang ke Bi Imah, biarin aja, Bi, dia jahat. Bi Imah membuka pagar, menyeretnya ke teras, memberinya handuk dan teh jahe.
Jahat atau nggak jahat, Adrian, dia tetap manusia yang kedinginan. Yang jahat urusan Tuhan. Yang kedinginan urusan kita.
Aku mengeluarkan kunci pagar dari saku.
Bianca nggak mau masuk.
“Nggak usah,” katanya. Masih berpegangan pada tiang lampu. Giginya bergemeletuk. “Aku… aku nggak apa-apa. Aku bisa nyetir.”
“Kamu nggak bisa nyetir,” kata Bi Imah. Dia sudah di samping Bianca, menyelimutkan handuk tebal di bahunya, memegangi lengannya. “Bibi lihat mobil kamu dari jendela. Kamu parkir miring. Setengah di trotoar. Kamu nyetir ke sini dalam keadaan begini, itu udah ajaib kamu nggak nabrak.”
“Bu Imah, saya nggak boleh masuk. Syarat nomor tujuh. Elea ada di dalam. Saya nggak boleh—“
“Elea tidur,” kata Bi Imah. “Dan Bibi nggak tanda tangan syarat apa-apa.” Dia menoleh padaku. Tatapannya menantang. “Ini rumah Bibi juga. Bibi yang masak di sini. Bibi yang berantem sama pintunya. Bibi yang pasang ayunan di pohon mangganya. Bibi yang bilang siapa yang boleh masuk dapur Bibi.”
Aku membuka mulut.
“Kamu mau bilang apa?” tanya Bi Imah.
Aku menutup mulut.
“Bagus.” Bi Imah menuntun Bianca melewati pagar, menyeberangi halaman, di bawah payung hijau besar. “Masuk, Neng. Bibi bikinin teh jahe. Ganti baju. Pakai daster Bibi dulu, nanti kebesaran nggak apa-apa. Habis itu kamu boleh pulang, kalau masih mau pulang.”
Bianca menoleh padaku. Sekali. Di tengah halaman. Di bawah payung.
Dia nggak bicara. Matanya bertanya.
Aku nggak menjawab.
Aku menutup pagar, menguncinya, dan berjalan masuk di belakang mereka, di bawah hujan, tanpa payung.
“Selamat datang di rumah,” kata pintu depan.
Bianca berhenti di ambang pintu. Dia menatap pintu itu. Lalu dia menatap ruang tengah. Sofa. Rak buku. Foto-foto berbingkai di dinding. Foto Elea di Oxford, di Sheldonian Theatre, di taman University Parks memberi makan bebek. Gambar-gambar krayon yang ditempel di pintu lemari es di dapur, terlihat dari ruang tengah.
Lima tahun hidup anaknya, terpajang di dinding rumah ini.
Dia berdiri di sana, basah kuyup, dengan handuk di bahu, dan menatap semuanya.
Lalu dia mulai menangis lagi. Tanpa suara.
Bi Imah menggandengnya ke dapur.
Aku berdiri di ruang tengah, meneteskan air hujan ke lantai, dan menatap tangga ke lantai dua. Ke kamar di ujung lorong. Ke pintu yang tertutup, di mana anakku sedang tidur, nggak tahu bahwa ibunya ada di dapur rumahnya, memakai daster Bi Imah yang kebesaran.
Di luar, petir menyambar.
Dan dari lantai dua, aku mendengar bunyi pintu dibuka.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun reading
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama