Chapter Thirty Six

Bogor, Badai

POV: Bianca


Sabtu ini bukan di rumah.

Pesan itu masuk hari Rabu malam, dari kontak yang sekarang tersimpan sebagai Dok.

Hallworth minta aku cek lokasi uji AURA yang kedua. Resort Rexton di Puncak, Bogor. Gedung konvensi baru, mau dipakai buat simulasi kerumunan sebelum Grand Nusantara buka. Aku harus ke sana Sabtu.

Lalu, satu menit kemudian:

Elea mau ikut. Dia bilang ada kebun stroberi di Puncak. Lucas pernah ke sana.

Lalu, dua menit kemudian. Seperti orang yang mengetik, menghapus, mengetik lagi:

Kamu mau ikut? Kunjungan Sabtu. Dua jam jadi seharian. Aku di ruangan yang sama. Atau di mobil yang sama. Atau di kebun stroberi yang sama.

Aku membaca pesan itu di tempat tidur, jam sebelas malam, dengan lampu tidur menyala dan buku laporan keuangan Rexton Malls terbuka di pangkuan.

Aku membacanya lima kali.

Lalu aku membalas.

Aku bawa topi. Elea nggak boleh kena matahari kelamaan.

Lalu, sebelum aku sempat menghentikan diriku:

Aku juga bawa jaket buat kamu. Kamu selalu lupa bawa jaket. Puncak dingin.

Balasan datang dalam lima detik.

Dari mana kamu tahu aku selalu lupa bawa jaket?

Aku tersenyum ke layar ponsel.

Satu setengah tahun nikah, Dok. Kamu lupa jaket tiap kali kita ke Puncak. Tiga kali. Aku yang bawain. Tiga kali.

Lama nggak ada balasan.

Lalu:

Aku lupa kamu ingat.


Sabtu pagi, jam tujuh, aku berdiri di depan pagar hitam di Jalan Wijaya dengan tas ransel, topi lebar, dan jaket wol abu-abu laki-laki terlipat di lengan.

Jaket itu baru. Aku membelinya hari Kamis, di Rexton Mall Pondok Indah, ukuran L. Aku tahu ukurannya. Aku selalu tahu ukurannya. Dulu aku yang membelikan semua bajunya, karena dia selalu membeli baju yang terlalu besar dan bilang biar lega.

Pagar terbuka. Elea berlari keluar dengan topi kelinci dan ransel kelinci dan sepatu boot karet bergambar kelinci.

“TANTE! KITA KE KEBUN STROBERI!”

“Iya, Sayang.”

“Elea mau petik seribu stroberi!”

“Seribu itu banyak.”

“Elea kuat!”

Di belakangnya, Adrian keluar dari pintu depan. Kaus abu-abu. Celana jins. Sepatu kets. Kacamata. Tas laptop di satu bahu, dan… nggak ada jaket.

Dia menatap jaket di lenganku.

Lalu dia menatapku.

Aku mengangkat alis.

Lehernya merah. Satu detik.

“Selamat jalan,” kata pintu depan.

Bi Imah berdiri di teras dengan rantang empat susun di tangan. “Bekal,” katanya, menyerahkan rantang itu padaku. Bukan pada Adrian. Padaku. “Nasi, ayam goreng, tempe, sambal, lalapan. Jangan beli makanan di jalan, nggak sehat.”

“Bibi nggak ikut?”

Bi Imah tersenyum. Lebar. Terlalu lebar. “Bibi ada pengajian. Seharian. Sampai malam.”

Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan wajah yang sangat polos dan sangat, sangat bersalah.

“Bi Imah,” kataku pelan. “Pengajiannya beneran?”

“Beneran, Neng.”

“Di mana?”

“Di… di masjid.”

“Masjid mana?”

“Masjid yang… yang deket.” Bi Imah melambaikan tangan ke arah yang nggak jelas. “Udah, berangkat. Nanti macet.”


Perjalanan ke Puncak butuh tiga jam.

Elea duduk di kursi belakang dengan sabuk pengaman dan buku gambar, menggambar setiap hal yang dia lihat dari jendela. Truk. Sapi di pinggir jalan tol. Penjual jagung bakar. Pegunungan yang mulai terlihat di kejauhan, hijau dan berkabut.

Adrian menyetir. Aku duduk di kursi penumpang.

Pertama kalinya dalam lima tahun aku duduk di kursi penumpang mobilnya.

Dulu, di mobil sedan bekas yang dia beli dengan cicilan, aku selalu duduk di sini. Kakiku di dasbor. Sepatuku dilepas. Aku mengatur radio dan dia protes setiap kali aku mengganti lagu. Aku makan keripik dan remahannya berjatuhan di jok dan dia pura-pura marah.

Sekarang aku duduk dengan kaki di lantai mobil, sepatu terpasang, tangan di pangkuan. Sopan. Seperti tamu.

Di jalan tol Jagorawi, Elea tertidur. Kepalanya terkulai di jendela. Buku gambarnya jatuh ke lantai mobil.

Mobil jadi sunyi.

Lima menit. Sepuluh. Cuma bunyi mesin dan ban di aspal.

Lalu Adrian menyalakan radio.

Dangdut. Saluran dangdut. Lagu lama. Rhoma Irama.

Aku menatapnya.

“Elea suka,” katanya, tanpa menoleh. “Biar tidurnya nyenyak.”

“Dia udah nyenyak.”

Dia nggak menjawab. Dia nggak mematikan radionya.

Aku menatap jalan di depan. Lalu, pelan, aku melepas sepatuku. Aku menaikkan kakiku ke dasbor. Sedikit. Ujung jari kakiku saja.

Dia melirik kakiku.

Dia nggak bilang apa-apa.

Tapi sudut bibirnya bergerak.


Kebun stroberi di Puncak dingin dan berkabut dan penuh lumpur.

Elea memetik empat puluh tujuh stroberi. Bukan seribu. Empat puluh tujuh. Dia menghitungnya satu per satu dengan suara keras, dan setiap kali dia salah hitung, dia memulai dari awal. Tujuh belas stroberi dia makan langsung dari tangkainya, dengan jus merah mengalir di dagunya.

Aku memakaikan topi lebar di kepalanya setiap kali dia melepasnya. Sembilan kali.

Adrian berdiri di pinggir kebun, dengan jaket wol abu-abu yang kuberikan di mobil, dan memotret kami dengan ponselnya.

Dia pikir aku nggak lihat.

Aku lihat.

Jam satu siang, kami makan bekal Bi Imah di gazebo kayu di pinggir kebun. Nasi, ayam goreng, tempe, sambal, lalapan. Elea makan dengan tangan, dengan sambal di pipi dan nasi di rambut.

“Tante, Tante juga makan pakai tangan.”

“Tante nggak biasa, Sayang.”

“Coba. Enak. Papa juga makan pakai tangan.”

Aku menatap Adrian. Dia memang makan dengan tangan. Jari-jarinya mengepal nasi dan sambal dengan gerakan yang terlatih, gerakan orang yang tumbuh di rumah kecil di Bandung.

Aku nggak pernah melihatnya makan dengan tangan. Satu setengah tahun menikah. Di rumah Menteng, selalu ada sendok dan garpu perak.

Aku mengulurkan tangan. Mengambil sedikit nasi. Sambal. Tempe. Mengepalnya dengan canggung. Memasukkannya ke mulut.

Nasi berjatuhan di pangkuanku. Sambal menempel di sudut bibirku.

Elea tertawa sampai cegukan.

Adrian nggak tertawa. Dia mengulurkan tangannya. Ke wajahku. Ibu jarinya mengusap sudut bibirku. Pelan. Membersihkan sambal yang menempel di sana.

Lalu dia menarik tangannya. Menatap ibu jarinya, yang merah karena sambal.

Lalu, tanpa berpikir, dia menjilat ibu jarinya.

Dia membeku.

Aku membeku.

Elea berhenti cegukan.

“Papa,” kata Elea pelan. “Itu sambal dari muka Tante.”

Wajah Adrian berubah jadi merah. Dari dahi. Ke pipi. Ke leher. Ke telinga. Sampai ke tulang selangka, yang terlihat dari kerah kaus abu-abu.

Aku menutup wajahku dengan dua tangan, yang masih penuh nasi dan sambal.


Gedung konvensi baru Resort Rexton di Puncak berdiri di lereng bukit, menghadap lembah yang hijau dan kabut yang turun pelan dari gunung.

Adrian bekerja dua jam di sana. Memeriksa sensor. Mengkalibrasi kamera kepadatan. Menguji sistem pintu darurat. Bicara dengan teknisi lokal dalam bahasa teknis yang nggak kumengerti.

Aku dan Elea duduk di lobi gedung, di sofa besar yang menghadap jendela kaca, menggambar dan bermain origami dan menonton kabut.

Jam lima sore, langit berubah gelap.

Bukan gelap karena malam. Gelap karena awan. Awan hitam yang tebal dan berat, yang turun dari gunung seperti tirai.

Jam lima lewat sepuluh, petir pertama menyambar.

Elea menjerit dan memelukku.

Jam lima lewat lima belas, hujan turun. Bukan hujan. Badai. Air yang menghantam jendela kaca lobi dengan kekuatan yang membuat kaca itu bergetar. Angin yang melolong di antara pepohonan. Petir yang menyambar setiap beberapa detik, diikuti guntur yang menggetarkan lantai.

Adrian keluar dari ruang kontrol dengan wajah serius.

“Jalan ke bawah ditutup,” katanya. “Longsor kecil di tikungan Gunung Mas. Polisi bilang paling cepat besok pagi baru dibuka.”

Elea, di pelukanku, gemetar.

“Kita nginep di sini?” tanyaku.

“Resort punya villa. Manajernya bilang ada satu yang kosong. Dua kamar.” Dia menatap Elea di pelukanku. Lalu menatapku. “Aku udah telepon Bi Imah. Dia bilang… dia bilang dia udah tahu dari radio bakal badai.”

Aku menatapnya.

“Dia bilang udah tahu?”

“Dia bilang pengajiannya juga dibatalin karena hujan.” Adrian diam sebentar. “Di Jakarta nggak hujan, Bi. Aku cek.”

Aku menatapnya. Dia menatapku.

Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, kami tertawa bersama. Di lobi gedung konvensi. Di tengah badai. Dengan Elea yang gemetar di pelukanku dan bertanya kenapa ketawa, kenapa ketawa?


Villa itu kecil. Kayu. Dua kamar tidur, satu ruang tengah dengan perapian yang nggak dinyalakan, satu beranda yang menghadap lembah, sekarang tertutup kabut dan hujan.

Listriknya mati jam enam.

Petugas villa datang membawa lilin dan senter dan dua selimut tambahan, lalu pergi lagi menembus hujan dengan payung yang terbalik tertiup angin.

Elea menolak tidur di kamar sendiri.

“Elea takut petir,” katanya, memeluk Mr. Snuggles, yang ternyata dia bawa di ransel kelinci. “Elea mau tidur sama Papa. Sama Tante. Di tengah.”

Adrian menatapku.

Aku menatapnya.

“Kasurnya kecil, Sayang,” kata Adrian.

“Elea kecil.”

“Papa sama Tante nggak kecil.”

“Papa sama Tante bisa mepet.”

Kami berdua menatap anak kami. Anak kami menatap kami balik dengan mata almond yang bulat dan polos dan sangat, sangat licik.

“Elea,” kataku pelan. “Kamu beneran takut? Atau…?”

Elea menatapku. Lalu dia mengangkat kelingkingnya.

“Elea janji nggak bohong,” katanya. “Elea beneran takut. Petirnya keras. Lihat.” Dia menunjuk jendela. Petir menyambar. Guntur menggelegar. Elea melompat dan memeluk kakiku.

Dia memang takut. Badannya gemetar.

Aku menatap Adrian.

Adrian menghela napas.


Kasur di kamar utama villa itu ukuran queen. Nggak kecil. Tapi juga nggak besar.

Elea berbaring di tengah. Dengan Mr. Snuggles di pelukan dan jepit kupu-kupu di rambutnya. Selimut sampai ke dagu.

Aku berbaring di sisi kanan. Adrian di sisi kiri. Di tepi masing-masing. Sejauh mungkin dari tengah, tanpa jatuh.

Lilin di meja samping kasur menyala kuning. Bayangan-bayangan bergerak di dinding kayu.

Di luar, badai terus menderu.

Petir menyambar. Elea menjerit kecil dan menarik selimut menutupi kepalanya.

“Papa. Nyanyi.”

“Papa nyanyi apa, Sayang?”

“Kau Tega Nian.“

Adrian diam.

“Sinyalnya hilang, Sayang,” katanya, menatap ponselnya. “Lagunya nggak bisa diputar.”

“Papa nyanyi sendiri.”

“Suara Papa jelek, Sayang. Kayak pintu berderit.”

“Elea udah biasa.”

Adrian menarik napas. Lalu dia mulai bersenandung.

Dia benar. Suaranya kayak pintu berderit. Nadanya meleset di setiap bait. Ritmenya terlalu cepat, lalu terlalu lambat.

Elea menurunkan selimutnya. Menatap ayahnya.

“Papa,” katanya. “Itu salah.”

“Papa tahu.”

“Nadanya salah.”

“Papa tahu, Sayang.”

Petir menyambar lagi. Elea melompat. Bibir bawahnya mulai bergetar.

Aku menarik napas.

Lalu aku mulai bernyanyi.


Aku nggak bisa nyanyi.

Pelatih paduan suara SMA bilang suaraku kayak kucing kejepit pintu. Bayu, dengan sangat sopan dan sangat sabar, bilang suaraku punya karakter. Tiga minggu aku latihan dengan dia, di apartemennya di Kemang, dengan gitar akustik dan poster Starlight Seven. Tiga minggu aku menyanyikan lagu yang sama, berulang-ulang, sampai tetangga Bayu mengetuk pintu dan bertanya apakah ada yang sakit.

Aku bernyanyi. Pelan. Dengan suara kucing kejepit pintu.

Lagu yang diputar Pak Udin di taksi. Malam itu. Lima tahun lalu. Waktu seorang laki-laki membawa bayi empat bulan ke bawah hujan, dan bayi itu berhenti menangis karena dangdut koplo.

Aku nggak ada di taksi itu. Aku nggak pernah mendengar Elea menyanyi bububu mengikuti irama kendang.

Tapi aku bernyanyi sekarang.

Nadaku meleset. Suaraku pecah di nada tinggi. Aku lupa satu bait dan menggantinya dengan na-na-na.

Elea menatapku.

Lalu, pelan, dia memejamkan mata.

Badannya yang tadi tegang, gemetar karena petir, pelan-pelan melunak. Tangannya yang mencengkeram Mr. Snuggles mengendur. Napasnya melambat.

Aku terus bernyanyi. Bait kedua. Bait ketiga. Kembali ke bait pertama.

Di bait keempat, napas Elea sudah teratur.

Dia tertidur.

Aku berhenti bernyanyi.

Hening. Cuma badai di luar. Dan lilin yang bergoyang.

Aku menoleh ke sisi kiri kasur.

Adrian nggak ada di sana.


Aku menemukannya di beranda.

Dia berdiri di ujung beranda, membelakangi pintu, dengan tangan di pegangan kayu. Hujan masih turun, tapi angin sudah sedikit reda. Atap beranda melindunginya dari hujan, tapi nggak dari dingin. Jaket wol abu-abu yang kuberikan di mobil tergantung di sandaran kursi di belakangnya. Dia nggak memakainya.

Bahunya bergetar.

Aku berdiri di ambang pintu. Aku nggak bergerak.

Lima menit. Aku menghitungnya. Bi Imah bilang lima menit.

Dia menangis lima menit. Tanpa suara. Bahu yang bergetar di bawah kaus abu-abu, di ujung beranda villa di tengah badai di Puncak.

Lalu dia berhenti. Dia mengusap wajahnya dengan dua tangan. Dia menarik napas panjang.

Aku mengambil jaket wol dari sandaran kursi. Aku berjalan ke arahnya. Pelan.

Aku menyampirkan jaket itu di bahunya dari belakang.

Dia membeku.

Aku nggak menarik tanganku dari bahunya. Aku melangkah lebih dekat. Lalu lebih dekat.

Lalu aku memeluknya dari belakang.

Tanganku melingkar di pinggangnya. Di atas kaus abu-abu. Di bawah jaket wol. Dadaku menempel di punggungnya. Pipiku di bahunya. Daguku di bahunya.

Dia nggak bergerak.

“Kamu dengar,” bisikku. Di bahunya.

“Iya.” Suaranya serak. Hancur.

“Suaraku jelek.”

“Iya.”

“Kayak kucing kejepit pintu.”

“Iya.”

“Bayu ngajarin tiga minggu. Tetangganya sampai ngetuk pintu.”

Dia tertawa. Satu kali. Patah. Lalu tawa itu berubah jadi sesuatu yang lain, dan bahunya bergetar lagi, dan aku memeluknya lebih erat.

“Lima tahun,” bisiknya. “Lima tahun aku nyanyiin lagu itu sendirian. Jam tiga pagi. Di flat Cowley. Di Summertown. Di hotel. Dengan suara pintu berderit. Sendirian.”

“Aku tahu.”

“Dan tadi kamu nyanyi. Dan dia tidur. Dengan suara kamu.” Dia menarik napas yang bergetar. “Kamu nggak ada di taksi itu, Bi. Kamu nggak dengar dia nyanyi bububu. Gimana kamu tahu lagu itu?”

“Bi Imah cerita. Soal taksi. Soal Pak Udin. Soal dangdut koplo.” Aku menempelkan pipiku lebih erat di bahunya. “Aku nggak ada di taksi itu. Aku nggak bisa balikin itu. Tapi aku bisa belajar lagunya. Biar lain kali dia takut petir, kamu nggak nyanyi sendirian.”

Dia diam lama.

Lalu tangannya bergerak. Turun dari pegangan kayu. Ke tanganku, yang melingkar di pinggangnya. Dia menutupkan tangannya di atas tanganku. Jari-jarinya menyelinap di antara jari-jariku. Menggenggam.


Kami berdiri seperti itu lama.

Hujan mereda jadi gerimis. Angin berhenti melolong. Kabut di lembah mulai bergerak, perlahan, seperti air yang mengalir. Di kejauhan, lampu-lampu desa di bawah bukit mulai terlihat, kecil dan kuning dan berkedip.

“Bi,” katanya akhirnya.

“Hm.”

“Tadi. Di kasur. Waktu kamu nyanyi.” Dia diam sebentar. “Kamu lihat aku. Waktu dia udah tidur. Sebelum aku keluar.”

“Iya.”

“Jangan lihat aku kayak gitu.”

“Kayak gimana?”

“Kayak…” Dia mencari kata. “Kayak dulu. Kayak waktu kita baru nikah. Waktu kamu bangun pagi dan aku lagi pakai dasi di depan cermin dan kamu lihat aku dari kasur.”

Aku tersenyum ke bahunya.

“Kenapa jangan?”

“Karena aku nggak bisa mikir.”

Aku mengangkat kepala dari bahunya. Sedikit. Supaya bibirku dekat dengan telinganya.

“Jangan lihat aku kayak gitu di depan anak kita,” bisiknya. Lebih pelan.

Aku membeku.

Anak kita.

Dia juga membeku. Aku merasakan seluruh tubuhnya menegang di pelukanku. Dia nggak sadar dia mengatakannya. Kata-kata itu keluar sendiri. Lolos.

Anak kita.

Bukan putri saya. Bukan Elea Renaldi. Bukan anak yang kamu buang.

Anak kita.

Aku menempelkan dahiku di belakang lehernya. Di tengkuknya. Di tempat yang dulu, lima tahun lalu, setiap malam, kucium waktu dia tertidur membelakangiku.

“Dok,” bisikku.

Dia diam.

“Kamu bilang anak kita.”

“Aku tahu.”

“Kamu sadar?”

“Barusan.”

“Kamu mau tarik?”

Dia diam lama sekali.

“Nggak,” katanya akhirnya.


Aku melepaskan pelukanku. Pelan. Aku berjalan memutar, ke depannya. Supaya aku bisa melihat wajahnya.

Dia bersandar di pegangan kayu beranda. Jaket wol di bahunya. Kacamata di wajahnya, berembun sedikit karena dingin. Mata yang merah. Pipi yang basah, bukan karena hujan.

Aku berdiri di depannya. Satu jengkal.

Aku mengangkat tangan. Melepas kacamatanya. Pelan. Melipatnya. Menyelipkannya di saku jaket wol.

“Biasanya,” kataku pelan, “kamu lepas ini kalau udah kalah.”

Dia menatapku. Tanpa kacamata. Mata yang telanjang dan lelah dan basah.

“Aku nggak lepas,” katanya. “Kamu yang lepas.”

“Itu sama aja.”

Aku meletakkan dua tanganku di dadanya. Di atas kaus abu-abu. Di bawah jaket wol.

“Aku jatuh cinta lagi sama kamu,” kataku.

Dia menatapku.

“Lebih parah,” lanjutku. Pelan. Sangat pelan. Supaya hanya dia yang dengar, di beranda villa di Puncak, di tengah gerimis yang tersisa dari badai. “Lebih parah dari yang pertama. Yang pertama, aku jatuh cinta karena kamu baik dan pintar dan natap aku kayak aku satu-satunya hal yang masuk akal. Yang kedua…”

Aku berhenti. Aku menelan.

“Yang kedua, aku jatuh cinta karena aku lihat kamu ngepang rambut anak kita jam enam pagi. Karena aku lihat kamu makan sayur asem asin tiga mangkuk. Karena aku lihat kamu nangis di beranda lima menit karena aku nyanyi dangdut dengan suara kucing kejepit pintu.”

Aku mendongak. Menatapnya.

“Kamu yang tanggung jawab,” bisikku. “Kamu yang bikin aku jatuh lagi. Lebih dalam. Aku nggak bisa keluar.”

Dia menatapku.

Lama sekali.

Lalu dia bicara. Pelan. Serak. Hampir nggak terdengar.

“…Aku tahu.”

Dua kata.

Bukan aku juga. Bukan aku sayang kamu. Bukan aku cinta kamu.

Aku tahu.

Tapi dia mengatakannya dengan tangan yang naik ke wajahku. Ke rambutku. Menyelipkan helai yang basah karena gerimis ke belakang telingaku. Dengan ibu jari yang mengusap tahi lalat kecil di bawah mata kiriku. Pelan. Seperti dulu. Seperti setiap malam, lima tahun lalu, waktu dia pikir aku tidur.

Dia menatap tahi lalat itu. Lalu menatap mataku.

Lalu dia membungkuk.

Dan dia mencium tahi lalat itu.

Bukan bibirku. Tahi lalat di bawah mata kiriku. Pelan. Satu kali. Bibirnya hangat di kulitku yang dingin.

Aku menutup mata.

“Dulu,” bisiknya, di kulitku, “aku kira kamu tidur.”

“Aku nggak pernah tidur,” bisikku. “Setiap malam. Aku nunggu.”

Dia menarik diri. Sedikit. Menatapku.

Lalu dia menyandarkan dahinya ke dahiku. Seperti di basement. Hidung kami bersentuhan. Napas kami bercampur, putih di udara yang dingin.

Kami berdiri seperti itu sampai gerimis berhenti.


Kami kembali ke kamar jam sebelas malam.

Elea masih tidur di tengah kasur. Mr. Snuggles sudah terlempar ke lantai. Jepit kupu-kupu miring di rambutnya. Mulutnya terbuka sedikit. Satu kakinya keluar dari selimut.

Adrian memungut Mr. Snuggles. Meletakkannya di pelukan Elea. Membetulkan selimutnya. Menyentuh dahinya dengan punggung tangan.

Normal.

Kami berbaring lagi. Di tepi masing-masing. Elea di tengah.

Lilin sudah hampir habis. Cahayanya kecil dan bergoyang.

Aku berbaring miring, menghadap Elea. Menghadap Adrian di seberang Elea.

Dia juga berbaring miring. Menghadapku.

Di antara kami, anak kami tidur.

Aku mengulurkan tanganku. Melewati Elea. Pelan, supaya nggak membangunkannya. Di atas selimut. Di atas pinggang kecil yang naik-turun dengan napas teratur.

Tanganku berhenti di tengah. Di atas Elea. Telapak terbuka.

Adrian menatap tanganku.

Lalu dia mengulurkan tangannya juga. Dari seberang. Di atas Elea. Di atas selimut.

Tangannya menyentuh tanganku.

Jari-jarinya menyelinap di antara jari-jariku. Menggenggam.

Kami berbaring seperti itu. Tangan yang bertaut di atas anak kami yang tidur. Di bawah cahaya lilin yang hampir padam.

“Bi,” bisiknya, sangat pelan, supaya Elea nggak bangun.

“Hm.”

“Tangan kamu masih di sini.”

“Iya.”

Dia menatap tangan kami. Lalu menatapku.

“Itu bukan kesalahan, kan?” tanyanya.

Aku tersenyum. Dalam gelap. Dengan mata yang basah.

“Itu kalimatku,” bisikku. “Aku udah siapin. Buat nanya ke kamu.”

“Aku duluan.”

“Curang.”

“Kamu yang ngajarin.”

Lilin padam.

Dalam gelap, tangannya masih menggenggam tanganku. Di atas Elea. Hangat.

Dan aku tertidur, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, di kasur yang sama dengan laki-laki yang kucintai dan anak yang kubuang.

Tangan kami nggak lepas sampai pagi.


Jam satu pagi, aku terbangun karena ponselku bergetar di meja samping kasur.

Satu pesan. Dari Dok.

Dia di seberang kasur. Matanya terpejam. Napasnya teratur. Tangannya masih menggenggam tanganku di atas Elea.

Dia pasti mengetiknya sebelum tertidur, dengan satu tangan, sementara tangan yang satunya masih di tanganku. Pesannya tertahan karena sinyal hilang, dan baru terkirim sekarang, waktu badai benar-benar reda.

Parfum kamu. Masih yang sama. Dari pertama kali kamu masuk mobilku tadi pagi, aku nggak bisa mikir apa-apa selain itu.

Nggak ada alasan aku bilang ini. Cuma pengin kamu tahu.

Aku menatap pesan itu.

Lalu aku menatap laki-laki yang tidur di seberang anak kami, dengan tangan yang menggenggam tanganku, dengan leher yang, bahkan dalam tidur, bahkan dalam gelap, aku yakin sedang merah.

Aku nggak membalas.

Aku cuma menggenggam tangannya lebih erat. Dan tidur lagi.