Chapter Twenty Three

Lantai Empat Puluh

POV: Bianca


Aku datang jam enam lewat lima puluh.

Rexton Tower di malam hari terasa seperti gedung yang berbeda. Lobi yang kosong. Lampu-lampu yang dimatikan separuh. Bunyi langkahku sendiri di lantai marmer yang terdengar terlalu keras. Satpam malam yang menatapku dengan heran waktu aku menempelkan kartu akses di gerbang lift.

Lift direksi. Kuncinya sudah diperbaiki minggu lalu.

Aku menatap pantulanku di dinding baja lift. Aku nggak tahu kenapa aku memilih baju ini. Kemeja putih. Celana panjang hitam. Sepatu datar. Rambut digerai. Lipstik… nggak ada. Untuk pertama kalinya sejak dia kembali, aku datang ke pertemuan dengannya tanpa lipstik merah.

Aku nggak tahu kenapa.

Mungkin karena aku tahu, dari pesannya, bahwa malam ini bukan malam untuk baju zirah.

Ada yang harus kamu lihat. Lima tahun terlambat.

Lift berbunyi. Lantai empat puluh.


Ruang rapat utama gelap. Hanya lampu di ujung meja yang menyala, satu lampu gantung yang memancarkan cahaya kuning ke atas permukaan meja kayu panjang.

Dan di bawah lampu itu, duduk di kursi yang biasa diduduki Oma, ada Adrian.

Kemeja abu-abu. Lengan digulung, memperlihatkan perban baru di lengan kirinya. Kacamata. Di depannya, di atas meja: laptop yang terbuka, sebuah map cokelat tebal, dan sebuah ponsel lama dengan layar yang retak di sudut, terbungkus kantong plastik bening.

Dia mengangkat kepala waktu aku masuk.

Dia menatapku. Kemeja putih. Wajah tanpa lipstik. Rambut yang digerai.

Sesuatu bergerak di wajahnya. Cepat. Lalu hilang.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk. Di kursi di sebelah kanannya. Kursi yang biasa diduduki Om Hendra.

Dia menyadarinya. Aku melihat matanya melirik kursi itu, lalu kembali ke wajahku.

“Sebelum aku mulai,” katanya. Suaranya tenang. Datar. Suara yang dia pakai di setiap rapat, suara yang dia pakai waktu membongkar presentasiku dalam empat menit. “Aku mau kamu tahu satu hal. Apa pun yang kamu lihat malam ini, aku nggak akan berhenti di tengah. Kamu boleh pergi kapan aja. Tapi aku nggak akan berhenti.”

“Aku nggak akan pergi.”

Dia menatapku lama.

“Oke,” katanya.

Lalu dia membuka map cokelat itu.


Dia mulai dari faktur.

Faktur sepuluh Maret. Empat koma tujuh miliar. PT Sentra Bangun Abadi. Kolom persetujuan teknis yang kosong. Tanda tangan H. Rexton. Faktur yang sama yang kutemukan sendiri seminggu lalu di laptop ini, di ruangan sebelah, jam sebelas malam.

“Kamu udah lihat ini,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Udah.”

Dia nggak bertanya bagaimana aku tahu. Dia lanjut.

Rekening atas namanya. Dibuka sebelas Maret. Fotokopi KTP dari berkas HRD Rexton. Tanda tangan yang dipalsukan. Dia meletakkan dua dokumen berdampingan di depanku: tanda tangan di formulir pembukaan rekening, dan tanda tangan aslinya di formulir cerai yang kutandatangani lima tahun lalu.

Huruf A di tanda tangan rekening itu tegak. Lurus. Huruf A di tanda tangan aslinya miring ke kanan. Seperti orang yang selalu terburu-buru ke depan.

Aku menatap dua huruf A itu.

Lima tahun lalu, aku melihat tanda tangan di rekening koran itu. Aku melihatnya dan aku nggak memeriksanya. Aku nggak membandingkannya dengan tanda tangan yang kukenal, tanda tangan yang ada di surat cinta pertama di bawah pintu ruanganku, di kartu ulang tahun, di catatan belanja di kulkas.

Aku nggak memeriksa.

Dia lanjut. Uang masuk dua belas Maret. Ditarik dua puluh Maret. Ke PT Arunika. Ke perusahaan cangkang di Singapura dan Labuan. Ke trust keluarga atas nama Marcel. Garis-garis di kertas besar yang dia bentangkan di atas meja, kotak-kotak dan panah-panah, seperti peta harta karun.

Aku melihatnya. Aku mengikutinya. Aku mengerti semuanya.

Aku mengerti, dan setiap garis di kertas itu adalah satu langkah lagi menuruni tangga yang nggak ada dasarnya.


Lalu dia mengambil ponsel lama itu dari kantong plastik.

“Ini milik Sinta Maharani,” katanya. “Perempuan di foto itu. Dia merekamnya diam-diam. Lima tahun lalu. Di Hotel Parama, Surabaya. Kamar 714.”

Kamar 714.

Aku ingat nomor itu. Adrian meneleponku dari kamar itu, malam itu, tertawa, bilang ada mbak-mbak guest relation aneh yang mengetuk pintu jam sepuluh malam. Aku ingat aku ikut tertawa. Aku ingat aku bilang, Kamu ganteng sih, makanya didatangin. Aku ingat dia bilang, Aku cuma ganteng buat kamu.

Aku ingat semuanya.

Dan dua minggu kemudian, aku melihat foto dari kamar 714, dan aku nggak ingat satu pun.

Adrian menyambungkan ponsel itu ke laptop. Dia memutar laptop itu menghadapku. Dia menekan play.


Video pertama.

Gelap. Goyang. Parkiran basement. Suara laki-laki.

“…kamu masuk, duduk di kasur, taruh tangan di dadanya. Tiga menit. Jangan lebih. Fotografer kita di gedung seberang…”

Aku menatap layar.

“…Bos saya mau laki-laki ini keluar dari keluarga Rexton. Itu aja.”

Tanganku di atas meja mulai gemetar.

“Pak Hendra yang bayar. Tapi yang minta, yang paling mau laki-laki ini pergi, itu ibu mertuanya sendiri.”

Video berakhir.

Aku nggak bergerak.

Ibu mertuanya sendiri.

Mama.

Adrian nggak bicara. Dia nggak menatapku. Dia cuma menekan play lagi. Video kedua.

Lorong hotel. Lampu kuning. Bahu dan lengan laki-laki yang memegang ponsel ke telinga.

“Udah, Pak. Fotonya dapat. Bagus. Jelas… Bu Veronica udah tahu? Oke. Oke. Bilang ke Bu Veronica, fotonya bisa dipakai buat yakinin anaknya…”

Yakinin anaknya.

Aku.

“…Rekeningnya kapan dibuka, Pak?… Sebelas Maret. Siap. Uangnya masuk dua belas… Delapan hari cukup. Abis itu tarik lagi ke Arunika… Siap, Pak Hendra.”

Video berakhir.

Layar laptop menampilkan bingkai terakhir video itu, membeku. Lorong hotel yang kosong. Lampu kuning.


Aku nggak tahu berapa lama aku duduk menatap bingkai beku itu.

Aku tahu bahwa di suatu titik, tanganku berhenti gemetar. Bukan karena aku tenang. Karena seluruh tubuhku sudah nggak merasakan apa-apa lagi. Seperti tangan yang terlalu lama di air es. Mati rasa.

Aku tahu bahwa di suatu titik, aku mendengar suara napas yang cepat dan pendek dan putus-putus, dan aku baru sadar itu napasku sendiri.

Aku tahu bahwa di suatu titik, Adrian meletakkan segelas air di depanku. Aku nggak melihatnya mengambil air itu. Gelas itu muncul begitu saja.

Aku nggak meminumnya.

“Mama,” kataku. Suaraku keluar seperti suara orang lain. Seperti suara dari kejauhan. “Mama tahu.”

Adrian nggak menjawab.

“Mama tahu fotonya palsu.” Aku menatap bingkai beku di layar. “Mama tahu dari awal. Mama yang minta. Mama… Mama yang duduk di sampingku di sofa malam itu. Mama yang usap punggungku. Mama yang bilang jangan bikin dia tambah sakit.” Suaraku pecah. “Mama yang bilang ke aku… laki-laki baik nggak akan bawa pergi bayi dari ibunya yang lagi sakit…”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku menatap Adrian.

Dia duduk di kursi Oma, di bawah lampu kuning, dengan perban di lengan kiri dan wajah yang… yang nggak bisa kubaca. Bukan dingin. Bukan puas. Bukan marah. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang lelah.

“Kamu nggak pernah selingkuh,” bisikku.

Dia menatapku.

“Kamu nggak pernah ambil uang itu.”

Dia nggak menjawab. Dia nggak perlu.

“Kamu bilang ke aku,” kataku, dan suaraku hancur sepenuhnya sekarang. “Malam itu. Di telepon. Dari kamar 714. Kamu bilang ada mbak-mbak aneh yang ketuk pintu. Kamu bilang kamu panggil satpam. Kamu cerita ke aku. Sambil ketawa. Dan aku… aku ikut ketawa. Dan dua minggu kemudian aku lihat fotonya dan aku lupa. Aku lupa, Adrian. Aku lupa kamu udah cerita. Atau aku nggak lupa. Aku ingat. Tapi aku… aku pilih nggak ingat.”

Air mata jatuh. Aku nggak menghapusnya.

“Kamu minta satu kalimat,” bisikku. “Satu. Dan aku diam.”


Adrian berdiri.

Dia berjalan ke jendela. Kaca dari lantai sampai langit-langit. Jakarta di malam hari di bawah sana, lautan lampu yang berkilau.

Dia berdiri membelakangiku.

“Tahu apa yang paling lucu?” katanya pelan. Ke jendela. Bukan ke aku. “Lima tahun aku bayangin malam ini. Malam waktu kamu akhirnya tahu. Aku bayangin kamu nangis. Aku bayangin kamu minta maaf. Aku bayangin rasanya bakal kayak menang.”

Dia diam lama.

“Nggak kayak menang,” katanya.

Aku nggak bisa bicara.

“Aku cuma capek, Bi.” Dia menyandarkan dahinya ke kaca jendela. Seperti Elea. Seperti aku, minggu lalu. “Lima tahun aku bawa ini. Bukti ini. Kebenaran ini. Aku bawa sendirian. Di Oxford. Di flat Cowley. Di depan lemari es jam tiga pagi. Aku bawa sambil ngepang rambut anak kita. Sambil bikin roti bentuk bintang. Sambil bilang ke dia Mama ada di bintang.”

Anak kita.

“Dan sekarang aku taruh semuanya di meja ini,” lanjutnya. “Di depan kamu. Dan aku nunggu rasanya lega.”

Dia diam.

“Nggak lega juga.”


Aku berdiri.

Aku nggak tahu kenapa. Kakiku bergerak sendiri. Aku berjalan ke arahnya. Ke jendela. Ke punggungnya yang tegak di balik kemeja abu-abu.

Satu meter. Aku berhenti.

“Adrian.”

Dia nggak berbalik.

“Aku…”

Aku nggak tahu harus bilang apa. Nggak ada kata yang cukup. Nggak ada kalimat dalam bahasa apa pun yang bisa menampung lima tahun.

Aku percaya kamu.

Kalimat itu ada di ujung lidahku. Tiga kata. Kalimat yang dia minta sambil berlutut. Kalimat yang nggak kuberikan.

Aku membuka mulut.

“Jangan.”

Dia berbalik. Dia menatapku dari jarak satu meter. Mata di balik kacamata yang merah di sudut.

“Jangan bilang sekarang,” katanya. “Apa pun yang mau kamu bilang. Jangan sekarang. Kamu baru lihat video. Kamu baru tahu ibumu bohong. Kamu lagi hancur.” Rahangnya bergerak. “Lima tahun lalu kamu juga lagi hancur, dan kamu ambil keputusan dalam keadaan hancur. Aku nggak mau kamu ambil keputusan lain dalam keadaan hancur. Bahkan yang benar.”

Aku menatapnya.

Laki-laki ini. Laki-laki yang kubuang. Laki-laki yang kubiarkan berlutut di karpet Persia dan nggak kuberi satu kalimat pun. Laki-laki yang selama dua bulan terakhir mempermalukanku di setiap kesempatan.

Laki-laki ini, di detik ini, di puncak kemenangannya, dengan semua bukti di tangannya, sedang melindungiku dari diriku sendiri.

“Kenapa?” bisikku.

Dia nggak menjawab.

“Kenapa kamu tunjukin ini ke aku duluan? Bukan ke polisi? Bukan ke Catherine? Bukan ke wartawan?”

Dia menatapku lama.

“Karena lima tahun lalu,” katanya pelan, “kamu nggak mau lihat. Kamu lihat foto, lihat rekening, dan kamu percaya. Tanpa nanya. Tanpa periksa. Kamu nggak mau lihat aku. Kamu nggak mau lihat anak kita.” Dia menarik napas. “Sekarang kamu harus lihat. Semuanya. Dengan mata kamu sendiri. Bukan dari polisi. Bukan dari berita. Dari aku.”

“Supaya aku hancur?”

Dia diam.

“Supaya kamu tahu,” katanya akhirnya. Pelan. Sangat pelan. “Bahwa aku nggak pernah bohong sama kamu. Nggak sekali pun. Nggak dulu, nggak sekarang.”

Dia berjalan melewatiku. Ke meja. Dia mengambil map cokelat, menutup laptop, memasukkan ponsel lama Sinta kembali ke kantong plastik bening.

“Besok pagi, semua ini ke Catherine Hall dan ke kepolisian,” katanya, tanpa menoleh. “Hendra dan Marcel akan diperiksa. Ibumu juga. Mungkin dalam minggu ini. Kalau kamu mau bicara sama ibumu sebelum itu, kamu punya waktu satu malam.”

Dia berjalan ke pintu.

Di ambang pintu, dia berhenti. Dia nggak menoleh.

“Kopi tubruk itu,” katanya tiba-tiba.

Aku menatap punggungnya.

“Yang kamu bawa ke kantorku. Hari pertama. Yang aku buang ke wastafel.” Diam. “Dua sendok. Air mendidih. Tiga kali aduk. Ditutup empat menit.” Diam lagi. “Kamu nggak lupa.”

“Aku nggak pernah lupa,” bisikku.

Dia berdiri di ambang pintu satu detik lagi.

Lalu dia pergi.


Aku nggak tahu berapa lama aku berdiri di depan jendela.

Aku tahu bahwa di suatu titik, aku duduk di lantai. Bersandar ke kaca. Di bawah lampu kuning yang masih menyala di ujung meja.

Aku tahu bahwa di suatu titik, aku mengambil ponselku dan membuka galeri. Di sana ada satu foto yang nggak pernah kuhapus. Satu foto yang kusimpan di folder tersembunyi, yang kupasang kata sandi, yang nggak pernah kubuka dalam lima tahun.

Foto pernikahan kami.

Bukan foto resmi. Foto yang diambil teman Adrian dari kantor dengan kamera ponsel yang buram. Di resepsi. Adrian dengan jas pinjaman yang lengannya kepanjangan dua senti. Aku dengan kebaya putih dan jepit kupu-kupu perak di rambut. Kami berdua tertawa. Tangan Adrian di pinggangku. Tanganku memegang lengannya yang kepanjangan, menariknya ke atas.

Udah. Kamu ganteng. Berhenti narik-narik.

Aku menatap foto itu sampai layar meredup. Lalu menyentuhnya lagi. Lalu meredup lagi.

Lalu aku menangis.

Bukan seperti di ruang kerja Papa. Bukan seperti di lantai di balik meja kerja dengan gambar Elea di dada. Tangisan yang lain. Tangisan yang nggak bersuara. Tangisan yang keluar dari tempat yang lebih dalam dari dada, dari perut, dari tulang. Tangisan yang membuat seluruh tubuhku gemetar di lantai ruang rapat yang dingin, di bawah lampu kuning, di depan jendela yang menghadap lautan lampu Jakarta.

Aku menangis untuk laki-laki di foto itu, dengan jas pinjaman yang kepanjangan.

Aku menangis untuk laki-laki yang berlutut di karpet Persia dan menghitung tiga detik di ambang pintu.

Aku menangis untuk laki-laki yang mengepang rambut anak kami selama lima tahun. Sendirian. Yang menempelkan plester di lututnya. Yang bangun jam tiga pagi waktu dia demam. Yang bilang ke dia Mama ada di bintang, karena dia nggak sanggup bilang Mama ada di Jakarta dan nggak mau melihatnya.

Aku menangis untuk diriku sendiri. Perempuan bodoh dengan gaun tidur sutra gading, yang diam.

Dan di bawah semua tangisan itu, ada satu pikiran yang terus-menerus kembali, seperti ombak yang menghantam karang yang sama berulang-ulang.

Mama.

Mama tahu.

Mama yang minta.

Mama yang duduk di sampingku dan mengusap punggungku dan membiarkan aku membuang anakku.


Jam sepuluh malam, aku berdiri.

Aku berjalan ke toilet eksekutif di ujung lorong. Aku mencuci wajahku. Aku menatap cermin.

Perempuan di cermin itu bukan CEO Rexton Malls. Bukan wajah paling memesona di industri ritel Asia Tenggara. Perempuan di cermin itu punya mata yang bengkak dan hidung yang merah dan rambut yang kusut dan bibir yang pucat tanpa lipstik.

Di bawah mata kirinya, tahi lalat kecil.

Sama seperti anakku.

Aku membuka tasku. Lipstik merah ada di sana, di saku kecil, seperti biasa.

Aku menatapnya.

Lalu aku menutup tas itu tanpa mengambilnya.

Aku keluar dari toilet. Aku berjalan ke lift. Aku menekan tombol turun.

Basement tiga. Mobilku. Kunci. Mesin.

Aku menyetir keluar dari Rexton Tower, ke jalan Sudirman yang masih ramai meskipun sudah jam sepuluh malam. Aku menyetir ke arah selatan. Ke Menteng.

Di lampu merah Bundaran HI, aku berhenti. Hotel Arunaya di sebelah kanan. Hotel tempat aku menunggu tiga jam. Hotel tempat dia bilang kamu udah buang dia.

Kamu punya waktu satu malam.

Lampu berubah hijau.

Aku menginjak gas.