Chapter Forty Eight
Rumah
POV: Adrian
Aku bangun karena bau kopi.
Bukan bunyi alarm. Bukan suara Elea yang mengetuk pintu dengan kepalan kecil dan bilang Papa, Papa, udah pagi, matahari udah bangun duluan. Bukan getar ponsel dengan surel dari London jam empat pagi.
Bau kopi tubruk. Pahit. Gosong. Tanah dan asap. Naik dari lantai bawah, menyelinap lewat celah pintu kamar, sampai ke bantal.
Aku membuka mata.
Sisi kasur di sebelahku kosong. Seprai kusut. Bantal yang masih menyimpan cekungan kepala. Dan di atasnya, satu helai rambut hitam panjang.
Selama lima tahun, aku bangun di kasur yang sisi sebelahnya rapi. Seprai yang nggak kusut. Bantal yang nggak pernah dipakai. Di Oxford, aku bahkan berhenti membeli dua bantal. Satu cukup. Satu lebih jujur.
Pagi ini ada helai rambut di bantal kedua.
Aku menatapnya lama. Lebih lama dari yang masuk akal untuk laki-laki dewasa dengan gelar doktor yang menatap sehelai rambut.
Lalu aku turun.
Dia berdiri di dapur. Membelakangiku.
Kemeja putihku. Yang semalam tergantung di sandaran kursi. Kebesaran di badannya, lengannya digulung tiga kali sampai siku, ujungnya jatuh sampai pertengahan paha. Kaki telanjang di lantai keramik. Rambut tergerai, masih bergelombang bekas kepangan Elea, kusut di bagian belakang.
Dia berdiri di depan kompor. Menatap termos hitam di meja dapur dengan konsentrasi yang biasanya dipakai orang untuk menjinakkan bom.
Bibirnya bergerak tanpa suara. Menghitung.
Aku bersandar di ambang pintu dapur. Aku nggak bersuara. Aku cuma melihat.
Matahari pagi masuk lewat jendela di atas wastafel. Jatuh di rambutnya. Di garis lehernya. Di tulang pipinya yang, tanpa riasan sama sekali, tanpa lipstik merah dan bedak dan apa pun, terlihat lebih muda dari yang kuingat. Tanda lahir kecil di bawah mata kirinya. Yang sama persis dengan milik Elea.
Lima tahun lalu aku bilang dia kelihatan kayak pagi.
Aku salah. Dia bukan kayak pagi.
Dia pagi.
“Tiga…” bisiknya ke termos. “Empat.”
Dia membuka tutup termos. Menuang isinya ke cangkir keramik putih. Uap naik.
Lalu dia berbalik. Dan melihatku di ambang pintu.
Dia terlonjak. Sedikit kopi tumpah ke punggung tangannya. “Aduh. Panas. Kamu dari kapan di situ?”
“Dari tiga.”
“Kamu ngintip.”
“Aku ngelihatin istriku bikin kopi di dapurku. Itu bukan ngintip. Itu hak.”
Pipinya memerah. Dari leher. Naik pelan-pelan ke tulang pipi, sampai ke telinga.
Istriku.
Kata itu keluar begitu saja. Tanpa kurencanakan. Dan kami berdua mendengarnya menggantung di udara dapur, di antara uap kopi dan cahaya pagi.
“Ulang,” katanya pelan.
“Apa?”
“Yang tadi. Ulang.”
Aku menatapnya.
“Istriku,” kataku.
Dia menutup mata. Sebentar. Seperti orang yang menyimpan sesuatu.
Lalu dia membuka mata dan menyodorkan cangkir itu padaku. Dengan dua tangan.
Aku menerimanya.
Kopi tubruk. Hitam. Ampas yang perlahan turun ke dasar cangkir.
Satu setengah tahun menikah dulu, dia membuatkan ini setiap pagi. Aku meminumnya setiap pagi. Tanpa berpikir. Seperti orang bernapas.
Empat bulan terakhir, dia meletakkannya di mejaku setiap pagi. Dua cangkir. Dan setiap pagi, selama berminggu-minggu, aku membiarkannya dingin. Aku menunggu dia keluar dari ruangan. Lalu aku menatap cangkir itu sampai uapnya hilang. Lalu aku meminumnya dingin. Sendirian. Karena aku nggak mau dia lihat aku meminumnya. Karena aku nggak mau dia tahu rasanya masih pas.
Pagi ini, aku meminumnya di depannya.
Hangat.
Satu teguk.
Pahit. Gosong. Tanah dan asap. Dan, di bawah semua itu, sesuatu yang nggak bisa kujelaskan dengan rumus apa pun. Sesuatu yang seperti rumah Bi Imah di Bandung waktu aku sepuluh tahun. Seperti dapur kecil kami waktu kami baru menikah. Seperti pagi.
“Gimana?” tanyanya. Pelan. Gugup. Seperti dia belum pernah membuatkannya lima ratus kali.
“Pas,” kataku.
Dia tersenyum.
“Hangat,” tambahku.
Senyumnya berubah. Pelan. Dia mengerti. Dia selalu mengerti lebih cepat dari yang orang kira.
“Kamu dulu minumnya dingin,” katanya. “Di kantor. Aku tahu.”
Aku menurunkan cangkir.
“Kamu tahu?”
“Bayu yang cerita. Minggu ketiga. Katanya tiap pagi kamu nunggu aku keluar, terus kamu minum kopi dingin sambil ngelihatin pintu.” Dia menunduk. Jari-jarinya memainkan ujung lengan kemeja yang digulung. “Aku nggak pernah bilang aku tahu. Aku takut kalau aku bilang, kamu berhenti minum.”
Aku menatapnya.
Dia tahu. Selama berminggu-minggu, dia tahu, dan dia tetap meletakkan cangkir itu setiap pagi. Dua cangkir. Keluar dari ruangan. Membiarkanku meminumnya dingin. Membiarkanku punya harga diriku.
Itu juga cinta. Jenis yang diam. Jenis yang nggak minta dilihat.
Aku meletakkan cangkir di meja dapur. Aku mengulurkan tangan. Memegang pinggangnya. Menariknya pelan, sampai dia berdiri di antara lenganku dan meja dapur.
“Mulai hari ini,” kataku, “aku minum hangat. Di depan kamu. Tiap pagi.”
Dia mendongak. Menatapku.
Lalu dia meletakkan dua tangannya di dadaku. Di atas kaus yang kupakai tidur. Di atas jantung.
“Aku cinta kamu,” katanya.
Pelan. Jelas. Tanpa gemetar.
“Tiap pagi aku bakal bilang ini,” lanjutnya. “Biar kamu nggak lupa. Biar nggak ada satu pagi pun, sampai kita tua, sampai kamu pikun dan aku cerewet, yang kamu bangun dan nggak tahu.”
Aku nggak bisa bicara.
Lima tahun aku bangun tanpa kalimat itu. Lima tahun aku membuat kopi untuk diriku sendiri di dapur sempit di Summertown, dengan Elea tidur di kamar sebelah, dengan dendam yang kurawat seperti tanaman.
“Bi,” kataku. Suaraku serak.
“Hm.”
“Aku cinta kamu juga.”
“Aku tahu.” Dia tersenyum. Matanya basah. “Kamu bilang di depan tiga puluh orang dan satu hamster.”
“Dan tiga orang di Oxford.”
“Dan Mr. Hakan yang nggak ngerti bahasa Indonesia.”
“Dia ngerti bagian yang penting.”
Dia tertawa. Aku menciumnya. Di dapur. Dengan kopi yang mulai dingin di meja, untuk alasan yang sangat berbeda dari sebelumnya.
“PAPAAAA! MAMAAAA!”
Pintu depan.
“Selamat datang di rumah,” kata pintu itu.
“MAKASIH, PINTU!”
Bianca melompat mundur dari pelukanku. Dia menatap kemeja putihku yang dia pakai. Menatap kakinya yang telanjang. Menatapku dengan horor.
“Itu Elea. Itu Bayu. Jam berapa ini?”
“Delapan.”
“Bi Imah bilang Bayu antar jam sepuluh.”
“Bayu nggak pernah tepat waktu,” kataku. “Biasanya telat. Hari ini dia kecepetan. Dua jam. Itu disengaja.”
“Adrian!”
Dia berlari ke tangga. Kemeja putih berkibar. Dia hampir sampai di anak tangga pertama waktu Elea muncul di ujung lorong dari ruang depan.
Elea berhenti.
Dia menatap ibunya. Dengan kemeja putih ayahnya. Dengan rambut kusut dan kaki telanjang. Di tengah tangga. Dengan wajah merah.
Lalu dia menatapku. Di dapur. Dengan kaus tidur dan rambut berantakan dan cangkir kopi.
Elea menyipitkan mata. Lama.
“Mama pakai baju Papa,” katanya.
“Mama… kedinginan,” kata Bianca.
“Ini Jakarta, Mama.”
Di belakang Elea, Bayu muncul dengan tas ransel Elea di satu bahu dan rantang Bi Imah di tangan. Dia menatap Bianca di tangga. Lalu dia langsung menatap langit-langit dengan sangat serius, seperti sedang memeriksa struktur bangunan.
“Wah,” kata Bayu ke langit-langit. “Plafonnya bagus ya, Mas. Gipsum? Saya nggak lihat apa-apa. Saya cuma lihat plafon.”
“Bay.”
“Saya buta, Mas. Sejak lahir. Bi Imah nyuruh saya antar jam sepuluh tapi saya bangun kepagian karena bahagia. Itu bukan salah saya. Itu salah kebahagiaan.”
Bianca menghilang ke lantai atas dengan kecepatan yang belum pernah kulihat sejak dia berlari ke basement di malam hujan.
Elea masih menatapku. Menyipit.
“Papa.”
“Iya, Sayang.”
“Papa sama Mama tidur di kamar yang sama?”
Bayu tersedak. Ke langit-langit.
“Iya,” kataku. “Papa sama Mama udah nikah lagi. Orang yang udah nikah tidur di kamar yang sama.”
Elea berpikir. Lama.
“Kayak Kakek Pak Darto sama Nenek Pak Darto?”
“Iya.”
“Kayak Om Bayu sama Tante Tasya nanti?”
Bayu tersedak lebih keras.
“Itu tanya Om Bayu,” kataku.
Elea menoleh ke Bayu. Bayu menatap langit-langit dengan intensitas seorang astronom.
“Om Bayu buta, Elea,” kata Bayu. “Om Bayu juga tuli. Sejak tadi.”
Bianca turun sepuluh menit kemudian. Celana panjang. Kaus. Rambut disisir. Wajah yang masih sedikit merah.
Dia berlutut di depan Elea di ruang tengah. Di depan sofa. Di tempat yang sama di mana dia pernah berlutut dua puluh menit tanpa minta apa-apa.
Dia mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, jepit kupu-kupu perak. Batu biru pucat di sayapnya berkilau di bawah cahaya pagi.
“Satu hari udah habis,” kata Bianca. “Mama kembaliin. Makasih udah minjemin.”
Elea menatap jepit itu.
“Kakek lihat?” tanyanya.
Bianca diam sebentar. “Mama nggak tahu, Sayang. Tapi Mama ngerasa iya. Waktu Papa bilang aku cinta kamu di depan semua orang, ada angin. Di pohon jambu. Elea ingat?”
Elea mengangguk. Serius. “Daunnya goyang.”
“Mungkin itu Kakek.”
Elea mengambil jepit itu. Lalu dia berbalik, memunggungi ibunya, dan menunggu.
Bianca menatap punggung kecil itu. Lalu, dengan tangan yang sedikit gemetar, dia mengambil jepit dari tangan Elea dan menyelipkannya di rambut anaknya. Di atas telinga kanan. Di tempat yang benar.
Lima tahun lalu, dia menyelipkan jepit itu di selimut bayi. Diam-diam. Tanpa siapa pun melihat.
Pagi ini, dia menyelipkannya di rambut anaknya. Dengan aku di ambang pintu dapur, dan Bayu yang pura-pura buta, dan matahari yang masuk lewat jendela.
“Udah,” bisik Bianca.
Elea berbalik. Memegang jepit di rambutnya dengan satu tangan. Lalu dia memeluk ibunya. Erat. Lehernya. Dengan seluruh badan.
“Mama tinggal di sini sekarang?” bisik Elea. “Beneran? Nggak pulang ke apartemen?”
“Beneran.”
“Tiap hari?”
“Tiap hari.”
“Kalau Elea bangun pagi, Mama ada?”
“Mama ada.”
“Kalau Elea mimpi buruk?”
“Mama ada. Papa juga ada. Dua-duanya.”
Elea menarik diri. Menatap ibunya dengan mata yang sangat serius.
“Janji kelingking?”
Bianca mengulurkan kelingkingnya.
Elea mengaitkan kelingkingnya. Lalu dia menoleh padaku. “Papa juga.”
Aku berjalan dari ambang pintu dapur. Aku berlutut di samping Bianca. Aku mengulurkan kelingkingku.
Tiga kelingking. Terkait. Di lantai kayu ruang tengah rumah sewa di Jalan Wijaya.
“Sah,” kata Elea.
Dari ruang depan, Bayu bilang ke langit-langit, dengan suara bergetar: “Saya nggak nangis. Plafonnya bocor.”
Minggu-minggu setelahnya berjalan pelan.
Dunia nggak berhenti untuk kami. Dunia nggak pernah berhenti untuk siapa pun. Tapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku nggak merasa sedang berlari mendahuluinya.
Hendra dipindahkan ke Lapas Cipinang di akhir Maret. Tujuh tahun. Pengacaranya mengajukan banding. Banding ditolak dalam enam minggu. Aku membaca beritanya di ponsel, di meja makan, sambil Elea menggambar di sebelahku. Aku menutup ponsel dan membantu Elea mewarnai matahari.
Marcel lima tahun. Dia dipindahkan ke lapas lain, di luar Jakarta. Aku nggak tahu di mana. Aku nggak mencari tahu.
Yusuf Hermawan, operator yang membakar ruang sampah di samping taman bermain atas perintah Marcel, dihukum tiga tahun. Di persidangannya, dia minta maaf ke orang tua anak-anak yang ada di taman bermain sore itu. Satu ibu memaafkannya. Yang lain nggak.
Itu adil. Memaafkan bukan kewajiban. Aku tahu itu lebih baik dari siapa pun.
Oma Margareth tinggal di rumah Menteng. Sendirian. Dengan Pak Karyo dan dua pembantu dan Duchess Kedua.
Dewan direksi Rexton Group memilih CEO baru dari luar keluarga. Seorang perempuan lima puluhan, mantan direktur di jaringan ritel besar, yang di wawancara pertamanya dengan media bilang hal pertama yang akan dia lakukan adalah mengaudit ulang semua kontrak pemasok sepuluh tahun terakhir. Saham Rexton naik empat persen hari itu.
Oma nggak pernah menelepon. Oma nggak pernah membalas surat.
Tapi setiap Minggu sore, Bianca mengirim satu foto Elea ke Pak Karyo. Elea di ayunan ban bekas. Elea dengan kepangan dua yang rapi. Elea dengan mulut belepotan es krim cokelat di taman bermain Atrium Kemayoran.
Dan Pak Karyo, suatu Minggu di bulan April, membalas dengan satu pesan.
Ibu Bianca. Ibu Besar mencetak semua foto yang Ibu kirim. Ditaruh di meja samping kursi hijau. Dua belas foto sekarang. Ibu Besar tidak bilang apa-apa. Tapi tiap sore beliau lihat. Lama. Saya pikir Ibu harus tahu.
Bianca membaca pesan itu di sofa ruang tengah. Dengan kepala di bahuku. Dia membacanya tiga kali.
Lalu dia mengetik balasan.
Makasih, Pak Karyo. Minggu depan saya kirim yang Elea pakai jepit Papa.
Mama Veronica tinggal di apartemen kecil di Kebayoran. Satu kamar. Dia menjual mobilnya, perhiasannya, semua tas yang dulu berderet di lemari kaca di rumah Menteng. Dia menjalani masa percobaan satu tahun. Wajib lapor ke kejaksaan setiap bulan.
Bianca menjenguknya sebulan sekali. Hari Kamis. Sendirian. Dia nggak pernah membawa Elea. Elea nggak pernah minta.
Tapi setiap kali Bianca pulang dari Kebayoran, dia membawa sesuatu. Kupu-kupu origami. Dari kertas warna-warni. Satu setiap kunjungan. Dari Nenek. Buat Elea.
Elea menerimanya tanpa komentar. Dan menempelkannya di dinding kamarnya. Di samping gambar Papa Elea Mama dengan wajah Mama yang sekarang sudah lengkap. Mata. Hidung. Mulut yang tersenyum. Dan, di bawah mata kiri, satu titik kecil.
Bulan Juni, ada empat kupu-kupu origami di dinding itu.
Elea belum bilang dia memaafkan neneknya.
Tapi dia menempelkannya. Satu per satu. Lurus. Rapi. Dengan selotip yang dia minta dari Bi Imah.
Bianca mengundurkan diri dari Rexton Group di akhir April.
Bukan karena dipaksa. Dewan memintanya tinggal. CEO baru memintanya tinggal sebagai direktur pengembangan. Sahamnya masih ada. Namanya masih ada.
“Aku nggak mau lagi kerja di gedung yang lantai empat puluhnya pernah dipakai buat ngancurin kamu,” katanya. Di meja makan. Sambil menyendok nasi untuk Elea.
Dia mendirikan perusahaan sendiri. Kecil. Kantornya di ruko dua lantai di Kemang, di atas toko roti.
Namanya Ruang Pagi.
Dia dan Tasya. Berdua. Dengan tiga staf pertama, dan satu di antaranya adalah Sinta, yang pindah dari Cirebon dengan adiknya, Nur, dan dua anak kecil Nur, karena Bianca menawarinya pekerjaan sebagai kepala keuangan dan Sinta menangis di telepon selama sepuluh menit sebelum bisa bilang iya.
Pak Joko pulang dari Medan di bulan Mei. Dia bilang dia terlalu tua untuk mulai lagi dari awal. Bianca bilang dia nggak mulai dari awal. Dia mulai dari tempat yang seharusnya, lima tahun lalu, sebelum dia dipecat karena menolak tanda tangan dokumen palsu. Pak Joko sekarang mengurus semua pengadaan di Ruang Pagi. Dia memeriksa setiap faktur dua kali. Dengan kacamata baca dan kalkulator yang sudah dia pakai sejak tahun sembilan puluhan.
Ruang Pagi membangun ruang bermain anak. Di mal-mal kecil. Di pasar-pasar tradisional yang direnovasi. Di rusun. Di tempat-tempat di mana anak-anak nggak punya taman bermain dengan sensor kebakaran dan sistem evakuasi AURA.
Proyek pertama mereka: pasar Cicadas, Bandung. Di lahan kosong di belakang los sayur. Lima puluh meter dari rumah Bi Imah.
Aku yang merancang sistem keamanannya. Gratis. Bianca memaksa membayar. Aku menolak. Kami bertengkar soal itu selama dua hari. Lalu Elea memutuskan, sebagai pemegang kontrak tertinggi, bahwa Papa harus dibayar pakai sayur asem buatan Mama setiap hari Minggu selama satu tahun.
Bianca menerima. Aku menerima.
Sayur asemnya masih keasinan. Aku menghabiskannya setiap Minggu.
Bayu melamar Tasya di bulan Juni.
Di kelas senam Zumba. Di depan lima puluh tujuh anggota. Dengan kaus pink ZUMBA QUEEN.
Aku nggak di sana. Aku dapat videonya dari tujuh orang berbeda dalam sepuluh menit. Di video itu, Bayu berlutut di tengah lantai aula kecamatan yang dipakai kelas Zumba, dengan musik dangdut koplo yang masih menyala karena nggak ada yang ingat mematikannya, dan dia bilang: Tasya. Kamu belikan aku jas yang pas. Seumur hidup aku pakai jas kebesaran. Aku mau kamu yang pilihin jasku seumur hidup.
Tasya bilang iya sambil menangis dan memukul bahunya dengan botol minum.
Bi Imah, di video ketiga, terlihat di pojok aula, menelepon seseorang dan bilang dengan sangat keras: Bibi menang taruhan yang ini! Bibi bilang enam bulan! Ini lima bulan dua minggu! Itu dibulatkan!
Bulan Juli, Prof. Whitmore menelepon.
Malam. Jam sembilan Jakarta. Jam tiga sore Oxford. Elea sudah tidur. Bianca di sofa dengan laptop, mengerjakan proposal Ruang Pagi untuk pasar di Yogyakarta.
“Adrian, my boy,” kata Prof. Whitmore, dengan alis yang bergerak-gerak di layar. “The department has approved a permanent chair. Engineering Science. It has your name on it. Literally. They’ve already had the brass plate made. Rather presumptuous of them.”
Aku diam.
Profesor tetap. Di Oxford. Di departemen yang menerimaku waktu aku datang dengan satu koper dan satu bayi dan nggak punya apa-apa selain rumus di kepala dan dendam di dada.
Lima tahun lalu, ini mimpiku. Dua tahun lalu, ini rencanaku. Tujuh bulan lalu, waktu aku mendarat di Soekarno-Hatta, ini tujuan akhirku. Selesaikan proyek. Hancurkan mereka. Pulang ke Oxford. Jangan pernah kembali.
Aku menoleh.
Bianca di sofa. Dia sudah berhenti mengetik. Dia menatapku. Dia mendengar. Wajahnya diam. Sangat diam. Diam yang dia pelajari dari Oma, diam yang menyimpan semuanya di balik wajah yang tenang.
Tapi tangannya, di atas keyboard laptop, sedikit gemetar.
Dia nggak bilang apa-apa. Dia nggak minta. Dia nggak akan pernah minta. Aku tahu itu. Dia sudah belajar bahwa cinta yang meminta orang lain mengecilkan dirinya bukan cinta.
Aku kembali ke layar.
“Edmund,” kataku. “Terima kasih. Sungguh. Tolong sampaikan ke departemen, saya terhormat.”
“But.”
“But saya tinggal di Jakarta.”
Prof. Whitmore menatapku lama. Alis ulat bulunya diam. Lalu dia tersenyum. Senyum yang sangat Inggris, sangat kering, dan sangat hangat.
“I rather thought you might,” katanya. “Catherine bet me twenty pounds you’d say that. I suppose I owe her.”
“Bilang ke Catherine dia menang.”
“She always does. Insufferable woman.” Dia diam. “Adrian. The child. And the wife. Are they… well?”
Aku menoleh lagi ke sofa.
Bianca sudah menutup laptop. Dia menatapku. Matanya basah.
“Mereka di rumah,” kataku ke Prof. Whitmore. “Mereka baik.”
Hallworth Capital membuka kantor Asia Tenggara di Jakarta di bulan Agustus. Catherine Hall terbang dari London untuk peresmiannya. Dia memeluk Bianca di lobi dan bilang finally, a Rexton with a spine, lalu memeluk Elea dan bilang and you must be the one who wrote the contract. I’ve read it. Excellent drafting. Clause eight is particularly well constructed.
Elea bilang terima kasih, Nenek Catherine. Catherine Hall, yang nggak pernah menikah dan nggak punya anak dan menurut Bayu lebih menakutkan dari pajak, diam lama sekali. Lalu dia bilang Nenek. Well. I suppose I’ll take it.
Aku jadi kepala riset AURA untuk Asia Tenggara. Kantorku di lantai dua puluh. Nggak ada termos di mejaku. Nggak ada dua cangkir.
Karena kopiku sekarang diminum di rumah. Hangat. Jam enam pagi. Di dapur. Di depan perempuan dengan kemeja putih kebesaran yang bilang aku cinta kamu sebelum aku sempat menelan teguk pertama.
Setiap pagi.
Dia nggak pernah lupa. Nggak satu pagi pun.
Bahkan pagi di bulan September, waktu dia bangun dengan wajah pucat dan berlari ke kamar mandi dan muntah dua kali dan duduk di lantai kamar mandi dengan punggung bersandar ke bak, napas tersengal. Bahkan pagi itu, waktu aku berlutut di sampingnya dan memegangi rambutnya, dia mendongak dan bilang dengan suara serak:
“Aku cinta kamu. Jangan pikir aku lupa cuma karena aku muntah.”
Aku tertawa. Dia tertawa. Lalu dia muntah lagi.
Lalu dia menatap sesuatu di tangannya. Benda kecil putih, panjang, yang dia keluarkan dari laci di bawah wastafel. Benda yang, aku sadar sekarang, dia sembunyikan di sana tiga hari yang lalu.
Dua garis.
Dia menatapku. Aku menatap dua garis itu.
“Kali ini,” bisiknya, “aku ada. Dari hari pertama. Dari detik pertama. Aku nggak akan ke mana-mana.”
Aku nggak bisa bicara. Aku cuma memeluknya. Di lantai kamar mandi. Dengan rambutnya masih di tanganku.
Hari Minggu terakhir di bulan September, kami pergi ke Bandung.
Bi Imah memasak sayur asem. Yang benar. Yang nggak keasinan. Bianca mencatat takarannya di buku kecil, untuk kesekian puluh kalinya, sambil Bi Imah bilang Neng, ini bukan rumus kimia, ini perasaan.
Setelah makan, Elea menarik tanganku. Ke kamarku waktu kecil. Ke dinding dengan daftar target.
Dia menatap daftar itu. Huruf-huruf yang kutulis waktu SMA. Dan baris-baris yang ditambahkan kemudian.
1. Lulus ITB. ✓
2. Kerja di Jakarta. ✓
3. Kuliah S2 di luar negeri. ✓
4. Beliin Bi Imah rumah yang atapnya nggak bocor. ✓
5. Nikah sama perempuan yang baik. Yang bikin Bi Imah senang. ✓
6. Nikah lagi sama perempuan yang sama. Yang bikin Elea senang.
Elea menatap nomor enam. Lalu dia menatapku. Lalu dia mengulurkan tangan.
“Pulpen, Papa.”
Aku memberinya pulpen hitam.
Elea berdiri di atas dipan kayu, berjinjit, dan dengan lidah sedikit menjulur di sudut mulut, dia mencentang nomor enam.
Centangnya miring. Terlalu besar. Melewati garis.
Sempurna.
Lalu dia turun dari dipan. Menatap dinding. Lalu naik lagi.
Dan di bawah nomor enam, dengan huruf-huruf besar yang miring ke kiri, huruf anak yang baru belajar menulis tegak bersambung di sekolah, dia menulis:
7. Adek.
Aku menatap tulisan itu.
“Elea,” kataku pelan. “Siapa yang bilang?”
Elea menatapku dengan wajah polos.
“Nggak ada yang bilang,” katanya. “Elea dengar Mama muntah tiap pagi. Elea lihat Papa beliin Mama asinan tiap malam. Elea lihat Nenek Imah senyum-senyum tiap lihat perut Mama.” Dia mengangkat bahu. “Elea pinter, Papa. Papa yang bilang.”
Di ambang pintu, Bianca berdiri. Dia menutup mulutnya dengan tangan. Di belakangnya, Bi Imah tertawa sambil menangis, seperti biasa.
Malam itu, di kamar lavender di rumah Jalan Wijaya, Elea tidur di antara kami.
Dia yang minta. Sekali aja. Malam ini aja. Soalnya Elea yang centang nomor enam.
Kasurnya terlalu kecil untuk tiga orang. Kakiku menggantung di ujung. Bianca terjepit di dinding. Elea di tengah, dengan piyama kelinci dan jepit kupu-kupu perak yang nggak mau dia lepas bahkan untuk tidur.
Lampu tidur bintang-bintang berputar pelan di langit-langit.
Elea menatap bintang-bintang itu. Matanya mulai berat.
“Papa,” gumamnya.
“Iya, Sayang.”
“Papa percaya Elea?”
“Selalu.”
Elea tersenyum. Matanya tertutup. Lalu terbuka lagi. Sedikit.
“Mama,” gumamnya.
“Iya, Sayang.”
“Mama percaya Elea?”
“Selalu.”
Elea tersenyum lagi. Lalu dia menoleh, pelan, ke arahku. Matanya hampir tertutup.
“Papa percaya Mama?”
Aku menatap perempuan di sisi lain kasur. Terjepit di dinding. Dengan rambut tergerai di bantal lavender. Dengan tangan yang tanpa sadar ada di perutnya. Dengan tanda lahir kecil di bawah mata kirinya, yang sama dengan milik anak kami. Dengan mata yang menatapku balik, di bawah bintang-bintang yang berputar.
Lima tahun lalu, di ruang tengah rumah Menteng, aku berlutut dan minta satu kalimat. Dan aku pergi tanpa mendengarnya.
Hari ini aku punya kalimat itu. Dari dia. Untukku. Setiap pagi. Di dapur. Dengan kopi hangat.
Dan aku punya kalimatku sendiri. Untuknya. Setiap malam. Di sini.
“Selalu,” kataku.
Elea tertidur.
Bianca mengulurkan tangan. Di atas kepala anak kami. Jari-jarinya menemukan jari-jariku. Cincin perak dengan batu biru pucat menekan buku jariku.
Kami nggak bicara lagi.
Kami nggak perlu.
Di luar, di pohon mangga, angin bergerak. Daun-daunnya goyang.
Di dalam, di kasur yang terlalu kecil untuk tiga orang, dengan satu lagi yang sedang tumbuh, aku memejamkan mata.
Aku pulang.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah reading
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama