Chapter Twenty Seven

Papa Bohong

POV: Adrian


Elea membuka pintu kamarnya jam empat pagi.

Bukan untukku. Untuk ke kamar mandi.

Dia keluar dengan mata yang bengkak sampai hampir tertutup, wajah yang merah dan lengket karena air mata yang mengering, rambut yang kusut seperti sarang burung. Dia melihatku duduk di lantai lorong, bersandar ke dinding di samping pintunya, dengan Mr. Snuggles di pangkuanku.

Dia berhenti.

Aku menyodorkan Mr. Snuggles.

Dia mengambilnya. Cepat. Tanpa menyentuh tanganku. Lalu dia berjalan ke kamar mandi, menutup pintunya, dan aku mendengar keran dinyalakan.

Waktu dia keluar, dia berjalan melewatiku ke kamarnya tanpa menoleh.

Pintu ditutup. Nggak dibanting kali ini. Ditutup pelan.

Tapi dikunci.

Aku mematikan lampu lorong dengan perintah suara yang hampir nggak terdengar. Lampu kamarnya juga mati beberapa menit kemudian.

Di luar, hujan sudah berhenti. Dan di jalan depan rumah, aku mendengar bunyi mesin mobil dinyalakan. Lalu menjauh.

Dia menunggu di sana sampai lampunya mati.

Aku nggak tahu kenapa aku tahu itu. Aku cuma tahu.


Pagi itu, Elea nggak mau kukepang.

“Nenek aja,” katanya, ke Bi Imah, tanpa menatapku. Dia duduk di kursi meja rias kecil di kamarnya, membelakangi pintu tempat aku berdiri dengan sisir di tangan.

Bi Imah menatapku. Aku mengangguk. Aku menyerahkan sisir itu padanya.

Bi Imah mengepang dengan jari-jari tua yang nggak terbiasa. Kepangannya miring. Terlalu longgar di atas, terlalu kencang di bawah. Elea meringis dua kali karena rambutnya tertarik. Dia nggak protes.

Waktu Bi Imah selesai, Elea mengambil jepit kupu-kupu perak dari meja riasnya. Dia menatapnya lama. Lama sekali.

Lalu dia meletakkannya kembali di meja.

Dia nggak memakainya.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Elea keluar dari kamarnya tanpa jepit kupu-kupu.

Bi Imah menatap jepit itu di meja rias. Lalu menatapku. Nggak ada yang bicara.


Di meja makan, Elea makan roti tawar dengan selai stroberi. Roti kotak. Nggak dipotong bentuk bintang.

“Elea, mau Papa potongin bintang?”

Dia menggeleng tanpa menatapku. Dan menggigit roti kotak itu. Roti orang dewasa.

Aku duduk di seberangnya dengan kopi tubruk yang nggak kuminum.

“Elea.”

Dia mengunyah.

“Papa mau ngomong sesuatu.”

Dia mengunyah.

“Papa tahu kamu marah. Papa ngerti. Papa—“

Elea turun dari kursinya. Membawa piringnya ke wastafel, berjinjit untuk meletakkannya di sana. Mengambil ransel kelincinya dari kursi. Berjalan ke pintu depan.

“Nenek,” katanya. “Elea mau berangkat.”

Bi Imah, dari dapur, menatapku. Lalu dia melepas celemeknya, mengambil kunci mobil yang Bayu tinggalkan untuk keadaan darurat, dan mengikuti Elea ke pintu.

“Selamat jalan,” kata pintu depan.

“Dah,” jawab Elea ke pintu itu. Bukan ke aku.

Pintu tertutup.

Aku duduk di meja makan sendirian dengan kopi tubruk yang dingin dan selai stroberi yang tumpah sedikit di taplak.


Bayu datang jam sembilan dengan laptop dan wajah yang serius.

“Mas. Catherine udah terima semua bukti semalam. Dia udah koordinasi sama Pak Sutomo. Laporan polisi resmi masuk jam delapan tadi. Bareskrim. Penggelapan, pemalsuan dokumen, pencucian uang, persekongkolan jahat.” Dia membuka laptopnya. “Hendra dan Marcel bakal dapat surat panggilan pemeriksaan dalam tiga hari. Veronica juga, sebagai saksi dulu. Status bisa naik tergantung pemeriksaan.”

Aku mengangguk.

“Dan Hallworth resmi membekukan semua transfer dana ke Rexton Group sampai audit selesai. Catherine kirim surat ke Oma Margareth jam tujuh pagi.”

Aku mengangguk lagi.

Bayu menatapku. “Mas. Ini kemenangan. Lima tahun. Ini yang kamu tunggu.”

“Iya.”

“Kok muka kamu kayak orang kalah?”

Aku nggak menjawab.

Bayu menutup laptopnya pelan. Dia melihat ke sekeliling. Meja makan yang berantakan. Piring kotor di wastafel. Kopi tubruk dingin. Dan di dinding dapur, lemari es yang penuh gambar krayon.

Dia berdiri. Dia berjalan ke lemari es. Dia menatap gambar-gambar perempuan tanpa wajah.

“Elea tahu,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Semalam.”

Bayu diam lama. Lalu dia kembali ke meja, duduk di kursi yang tadi diduduki Elea, dan bertanya dengan suara yang pelan dan hati-hati, suara yang dia pakai waktu kami pertama kali bertemu di Oxford dan dia bertanya kenapa aku membesarkan bayi sendirian.

“Mas. Kamu oke?”

Aku menatap kopi tubrukku. Ampasnya sudah mengendap di dasar cangkir. Hitam. Pekat.

“Dia nggak pakai jepitnya, Bay.”

Bayu nggak mengerti. Lalu dia mengerti.

“Ya Allah,” bisiknya.


Hari Selasa, Elea nggak mau dijemput olehku.

Dia bilang ke Ms. Ratih, yang menelepon dengan suara bingung, bahwa dia mau dijemput Nenek Imah. Ms. Ratih bertanya apakah ada masalah di rumah. Aku bilang ada, dan aku sedang menyelesaikannya.

Hari Rabu, Elea nggak mau makan malam di meja yang sama denganku. Dia makan di ruang tengah, di depan televisi, dengan Bi Imah.

Hari Kamis, dia nggak bertanya.

Ritual kami. Lima tahun. Setiap malam tanpa kecuali. Di flat Cowley. Di rumah Summertown. Di hotel Arunaya. Di sini. Bahkan di malam setelah aku membentaknya di mobil, waktu dia bilang Papa jahat, dia tetap bertanya.

Papa percaya Elea?

Kamis malam, aku berdiri di ambang pintu kamarnya waktu Bi Imah menyelimutinya. Aku menunggu.

Elea memejamkan mata. Membalikkan badan menghadap dinding.

Nggak bertanya.

Bi Imah menatapku dari tepi kasur. Matanya bilang sabar.

Aku melangkah masuk. Pelan. Aku duduk di lantai di samping kasurnya, seperti di malam demam itu.

“Elea,” bisikku.

Dia nggak bergerak.

“Papa percaya Elea,” kataku. Pelan. Ke punggung kecilnya. “Selalu. Walaupun Elea nggak tanya.”

Nggak ada jawaban.

Aku menunggu. Satu menit. Dua.

“Elea masih percaya Papa?” tanyaku.

Pertanyaan yang nggak pernah kutanyakan. Karena dalam lima tahun, aku nggak pernah perlu bertanya. Jawabannya selalu ada. Di caranya memegang tanganku di gerbang sekolah. Di caranya memanjat ke pangkuanku jam dua pagi. Di caranya bilang Papa jangan telat.

Elea nggak menjawab.

Dia menarik selimut sampai menutupi kepalanya.

Bi Imah berdiri, menyentuh bahuku sekali, dan keluar dari kamar.

Aku duduk di lantai di samping kasur anakku sampai napasnya berubah jadi teratur. Lalu aku keluar, menutup pintu, dan berjalan ke dapur.


Aku nggak tahu berapa lama aku berdiri di depan lemari es.

Gambar-gambar krayon. Perempuan tanpa wajah. Bertahun-tahun.

Aku menatap gambar yang paling tua. Coretan merah muda yang hampir nggak berbentuk. Tulisan tanganku sendiri di bawahnya. Elea, 2 tahun 6 bulan. “Mama Elea di bintang. Elea nggak tahu muka Mama. Nanti kalau udah tahu, Elea gambar.”

Aku yang menulis keterangan itu. Aku yang menempelkan gambar itu di lemari es flat Cowley. Aku yang membawanya ke Summertown, lalu ke Jakarta, lalu menempelkannya lagi di sini, di tempat yang paling tinggi.

Aku yang membuat anakku menggambar perempuan tanpa wajah selama tiga tahun.

Karena aku yang bilang ibunya di bintang.

Bukan Bianca. Bukan Veronica. Bukan Hendra. Bukan Oma. Aku.

Lima tahun aku menuduh Bianca diam. Lima tahun aku menyimpan kalimat kamu udah buang dia seperti pisau di sarung. Lima tahun aku yakin bahwa aku satu-satunya orang di cerita ini yang nggak pernah bohong.

Papa emang nggak pernah bohong. Kecuali soal brokoli.

Dan soal bintang.

Bohong yang paling besar. Bohong yang paling lama. Bohong yang kuceritakan setiap kali dia bertanya, setiap kali dia menggambar, setiap kali dia menempelkan plester bintang di perbanku buat Mama yang di bintang.

Aku bilang ke diriku sendiri bahwa aku melindunginya. Bahwa lebih baik dia mengira ibunya di bintang daripada tahu ibunya di Jakarta dan nggak mau melihatnya.

Tapi itu bukan untuk melindunginya.

Itu untuk melindungi aku. Supaya aku nggak perlu menjelaskan. Supaya aku nggak perlu bilang Mama kamu nggak mau lihat kamu, dan melihat wajahnya waktu mendengar itu. Supaya aku bisa terus membenci Bianca tanpa harus melihat anakku mencintainya.

Lututku goyah.

Aku berpegangan di pintu lemari es. Gambar-gambar krayon berkerisik di bawah telapak tanganku.

Dan aku menangis.


Lima menit, kata Bi Imah. Lima menit dan berhenti.

Aku nggak bisa berhenti.

Aku menangis berdiri di depan lemari es, dengan tangan menempel di gambar-gambar perempuan tanpa wajah. Lalu aku menangis bersandar di lemari es. Lalu aku menangis duduk di lantai dapur, dengan punggung menempel di pintu lemari es yang dingin, dan lutut ditekuk ke dada, dan tangan menutup wajah.

Aku menangis seperti di flat Cowley, jam tiga pagi, di depan lemari es yang lain, waktu Elea bilang Pa untuk pertama kalinya.

Tapi waktu itu aku menangis karena bahagia.

Malam ini aku menangis karena aku baru sadar bahwa aku sama seperti mereka.

Aku sama seperti Bianca, yang diam karena takut.

Aku sama seperti Veronica, yang bohong karena mengira dia melindungi.

Aku sama seperti Oma, yang memilih sesuatu yang lain di atas kebenaran.

Aku memilih dendam.

Lima tahun.


Aku merasakan tangan di kepalaku.

Mengusap rambutku. Pelan. Naik-turun. Naik-turun.

Bi Imah duduk di lantai dapur di sampingku. Daster batik. Kerudung yang dipakai asal-asalan. Lutut tuanya berderit waktu dia duduk, dan dia meringis sedikit, tapi dia nggak bilang apa-apa.

Dia cuma menarik kepalaku ke bahunya. Seperti waktu aku umur sembilan tahun. Seperti waktu aku pulang sekolah dengan baju sobek. Seperti waktu aku terbangun di malam pertama setelah pemakaman Bapak dan Ibu, dan bertanya kenapa mereka nggak pulang.

“Sudah,” bisik Bi Imah. “Sudah, Nak. Nangis aja. Nggak usah lima menit. Malam ini nggak usah lima menit.”

Aku menangis di bahu Bi Imah, di lantai dapur rumah sewa di Kebayoran, di depan lemari es penuh gambar perempuan tanpa wajah.

Dan Bi Imah mengusap rambutku dan bersenandung pelan. Lagu yang dulu dia nyanyikan waktu aku kecil. Bukan Nina Bobo. Lagu dangdut lama. Rhoma Irama. Lagu yang selalu dia putar di radio kecil di dapur rumah Bandung.

Aku nggak pernah tahu kenapa Elea suka dangdut.

Mungkin dia memang mewarisinya. Dari perempuan tua yang membesarkan ayahnya.


“Bi,” kataku, akhirnya, waktu tangisku sudah habis. Suaraku serak. “Aku harus bilang apa ke dia?”

Bi Imah diam sebentar.

“Yang benar,” katanya.

“Yang benar itu nyakitin, Bi.”

“Bohong juga nyakitin. Bedanya, bohong nyakitin belakangan. Lebih lama.” Bi Imah menepuk kepalaku. “Kamu sudah lihat sendiri.”

“Dia lima tahun, Bi. Gimana caranya aku jelasin ke anak lima tahun bahwa ibunya…” Aku berhenti. “Bahwa ibunya nggak mau lihat dia?”

Bi Imah menatapku.

“Itu yang benar?” tanyanya.

Aku membuka mulut. Menutupnya.

“Kamu dengar sendiri semalam,” kata Bi Imah pelan. “Di dapur ini. Dia bilang dia lepas jepit dari rambutnya dan selipin di selimut anaknya. Karena dia mau anaknya punya sesuatu dari dia. Karena sebagian dari dia udah tahu dia bakal buang anaknya, dan sebagian lain nggak mau.”

Aku diam.

“Dia sakit, Adrian. Waktu itu. Kamu tahu itu. Dia tiga hari nggak tidur, baru melahirkan, terus ibunya sendiri yang nyodorin foto palsu.” Bi Imah menghela napas. “Itu bukan alasan buat yang dia lakuin sesudahnya. Lima tahun nggak datang. Itu tetap salah dia. Dia sendiri bilang begitu. Bibi dengar.”

“Iya.”

“Tapi nggak mau lihat? Bibi nggak yakin itu yang benar.” Bi Imah menatap gambar-gambar di lemari es di atas kepala kami. “Orang yang nggak mau lihat nggak akan nyelipin jepit di selimut. Orang yang nggak mau lihat nggak akan kirim uang empat puluh sembilan kali di tanggal ulang tahunnya sendiri. Orang yang nggak mau lihat nggak akan lari ke tengah kerumunan karena ada anak kecil yang mirip anaknya.”

Dia diam.

“Orang yang nggak mau lihat,” kata Bi Imah pelan, “nggak akan nunggu di mobil di depan rumah sampai jam empat pagi, sampai lampu kamar anaknya mati.”

Aku menatapnya.

“Bibi lihat dari jendela,” katanya. “Kamu juga lihat. Bibi tahu.”


Jumat pagi, aku masuk ke kamar Elea sebelum Bi Imah.

Dia sudah bangun. Duduk di tepi kasurnya, dengan piyama kelinci, menatap meja riasnya. Menatap jepit kupu-kupu perak yang sudah empat hari tergeletak di sana, nggak disentuh.

Dia menoleh waktu aku masuk. Lalu menatap jepit itu lagi.

Aku duduk di lantai. Di depannya. Supaya mataku lebih rendah dari matanya. Supaya dia yang menatapku dari atas.

“Elea,” kataku. “Papa mau cerita. Boleh?”

Dia nggak menjawab. Tapi dia nggak membalikkan badan.

Aku mengambil napas.

“Waktu Elea masih bayi. Kecil sekali. Masih empat bulan. Mama Elea sakit.” Aku memilih kata-kata seperti memilih langkah di atas batu licin. “Bukan sakit kayak demam. Sakit di hati. Sakit yang bikin orang sedih terus, nggak bisa tidur, takut sama hal-hal yang biasanya nggak bikin takut. Kadang ibu-ibu yang baru punya bayi bisa sakit kayak gitu.”

Elea menatapku.

“Terus ada orang-orang yang bohong ke Mama soal Papa. Orang-orang jahat. Mereka bilang Papa ngelakuin hal-hal buruk. Dan Mama lagi sakit, jadi Mama percaya. Dan Mama bilang… Mama bilang Papa harus pergi. Dan bawa Elea.”

“Mama nggak mau Elea?”

Pertanyaan itu lagi.

Aku menatap anakku. Mata almond yang bengkak. Pipi yang lebih tirus dari seminggu lalu, karena dia nggak mau makan dengan benar sejak Senin.

Yang benar, kata Bi Imah.

“Papa nggak tahu, Sayang,” kataku. “Papa kira gitu. Lima tahun Papa kira gitu. Papa marah sekali sama Mama. Papa pikir Mama nggak mau Elea. Jadi Papa bilang ke Elea Mama di bintang, karena Papa nggak mau Elea tahu bahwa… bahwa Papa pikir Mama nggak mau Elea.”

Elea menatapku.

“Tapi Papa salah,” kataku. “Papa baru tahu minggu ini. Mama nggak pernah tahu bahwa Papa bilang Mama boleh ketemu Elea kapan aja. Ada orang yang sembunyiin pesan Papa dari Mama. Dan Mama… Mama sebenarnya nggak lupa sama Elea. Mama kirim uang buat Elea. Tiap bulan. Buat sekolah Elea. Buat pensil warna Elea.”

Mata Elea melebar.

“Pensil warna empat puluh delapan?”

“Iya. Itu dari Mama.”

Elea menatap meja riasnya. Di samping jepit kupu-kupu, ada kotak pensil warna empat puluh delapan warna, terbuka, beberapa pensil sudah tumpul karena terlalu sering dipakai.

“Dan jepit kupu-kupu itu,” kataku pelan. “Itu dari Mama. Dari kakek Elea, Papanya Mama, buat Mama waktu Mama umur tujuh belas. Terus Mama kasih ke Elea. Malam itu. Malam Papa pergi. Mama selipin di selimut Elea.”

Elea menatap jepit itu.

“Kenapa Mama kasih ke Elea kalau Mama nggak mau Elea?”

“Karena,” kataku, dan suaraku pecah, “karena sebagian dari Mama mau Elea, Sayang. Bahkan waktu Mama lagi sakit. Bahkan waktu Mama lagi bingung. Ada bagian dari Mama yang mau Elea punya sesuatu dari Mama. Supaya Elea nggak lupa.”

Elea diam lama.

“Terus Papa?” tanyanya akhirnya. “Kenapa Papa bohong?”

Aku menunduk.

“Karena Papa takut,” kataku. “Papa takut Elea sedih. Papa takut Elea nanya pertanyaan yang Papa nggak bisa jawab. Papa takut Elea sayang sama Mama, dan Papa masih marah sama Mama, dan Papa nggak tahu harus gimana.” Aku mengangkat kepala. Menatapnya. “Papa salah, Elea. Bohong itu salah. Bahkan kalau alasannya karena sayang. Papa harusnya bilang yang benar dari awal. Biar Elea yang milih mau sedih atau nggak. Bukan Papa yang milihin.”

Elea menatapku.

“Papa minta maaf,” kataku. “Bukan karena Elea marah. Karena Papa memang salah.”


Elea turun dari kasurnya.

Dia berjalan ke meja rias. Dia mengambil jepit kupu-kupu perak itu. Dia memegangnya di telapak tangannya, menatapnya, seperti melihatnya untuk pertama kali.

“Kakek Elea,” bisiknya. “Papanya Mama.”

“Iya.”

“Kakek Elea masih hidup?”

“Udah meninggal, Sayang. Sebelum Elea lahir.”

“Di bintang?”

Aku menelan sesuatu yang tajam.

“Iya,” kataku. “Kakek Elea beneran di bintang.”

Elea mengangguk pelan. Dia menatap jepit itu sekali lagi. Lalu dia menyelipkannya di rambutnya. Di atas telinga kanan. Miring, karena rambutnya belum dikepang.

Dia berbalik padaku.

“Papa,” katanya. “Elea masih marah.”

“Iya. Papa ngerti.”

“Elea masih marah sama Papa. Elea masih marah sama Mama. Elea nggak tahu kenapa Mama nggak datang lima tahun. Papa juga nggak tahu. Elea nggak suka nggak tahu.”

“Papa juga nggak suka, Sayang.”

Elea menatapku lama.

Lalu dia berjalan ke arahku. Ke tempat aku duduk di lantai. Dan dia berdiri di depanku, lebih tinggi dariku untuk sekali ini, dan dia mengulurkan tangannya.

Sisir. Sisir rambutnya. Dia mengambilnya dari meja rias tanpa aku sadari.

“Kepangin Elea,” katanya. “Kepangan Nenek miring.”

Aku menatap sisir itu. Lalu menatap wajahnya.

Aku mengambil sisir itu dengan tangan yang gemetar.

Elea berbalik, duduk di lantai di depanku, membelakangiku. Aku mulai menyisir rambutnya. Pelan. Rambut cokelat gelap yang halus, bergelombang di ujung. Rambut ibunya.

Aku membagi rambut itu jadi dua. Lalu masing-masing jadi tiga bagian. Kanan ke tengah. Kiri ke tengah.

“Papa,” kata Elea tanpa menoleh.

“Hm?”

“Elea mau ketemu Mama.”

Tanganku berhenti.

“Bukan sekarang,” lanjut Elea cepat. “Elea masih marah. Tapi nanti. Kalau Elea udah nggak terlalu marah. Elea mau ketemu Mama. Elea mau tanya sendiri kenapa Mama nggak datang. Boleh?”

Aku menatap kepangan setengah jadi di tanganku.

Syarat nomor tujuh. Radius lima puluh meter.

Aku tidak akan memaafkan mereka. Tidak dia.

Kalau suatu hari Bianca mau ketemu, aku nggak akan halangin.

Kanan ke tengah. Kiri ke tengah.

“Boleh,” kataku.

Elea mengangguk. Dia nggak menoleh. Tapi bahunya, yang selama empat hari tegang seperti tali busur, turun sedikit.

Aku menyelesaikan kepangan kanan. Lalu kepangan kiri. Aku mengikat ujungnya dengan karet rambut biru. Aku membetulkan letak jepit kupu-kupu perak, menyelipkannya dengan lurus di atas telinga kanannya.

Lalu aku menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Kebiasaan.

Normal.

Elea memutar badan. Menatapku. Dan untuk pertama kalinya dalam empat hari, matanya nggak menghindar.

“Papa percaya Elea?” bisiknya.

Aku menatapnya.

Dia nggak tersenyum. Dia nggak memejamkan mata. Dia menatapku dengan wajah yang serius dan bengkak dan menunggu.

“Selalu,” kataku.

Elea mengangguk pelan.

Dia nggak bilang Elea juga percaya Papa. Dia belum bisa. Aku tahu dia belum bisa.

Tapi dia bertanya.

Itu cukup. Untuk hari ini, itu cukup.