Chapter Twenty Two

Rekaman Surabaya

POV: Adrian


Pesan itu masuk jam sepuluh lewat tujuh malam.

Aku sedang duduk di lantai kamar Elea, membacakan buku cerita tentang beruang yang nggak bisa tidur karena bulan terlalu terang. Elea sudah setengah terpejam di kasurnya, Mr. Snuggles di pelukan, jepit kupu-kupu miring di rambut. Halaman sembilan. Beruang itu baru saja memutuskan untuk menutup bulan dengan selimut.

Ponselku bergetar di saku.

Aku nggak langsung membukanya. Aku menyelesaikan halaman sembilan. Halaman sepuluh. Halaman sebelas, di mana beruang itu akhirnya sadar bahwa bulan nggak bisa ditutup selimut, dan bahwa terang bukan musuhnya, dan tertidur di bawahnya dengan tenang.

Elea sudah tertidur di halaman sepuluh.

Aku menutup buku, menyelimutinya, menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Normal. Aku keluar dan menutup pintu pelan-pelan.

Di lorong yang gelap, aku membuka ponselku.

Nomor yang nggak kusimpan. Nomor yang kuhafal tanpa sengaja, karena dua puluh tiga kali nomor itu muncul di layar ponselku dalam satu malam.

Pak Joko dari arsip dipindahkan ke Medan minggu depan. Sinta di Bekasi dalam bahaya. Adiknya di Cirebon punya dua anak. Om Hendra baru saja bilang “pastikan dia tetap diam, dengan cara yang sama seperti dulu.”

Aku membacanya tiga kali.

Om Hendra baru saja bilang.

Dia ada di sana. Di rumah Menteng. Dia mendengarnya sendiri. Dan dia mengirimkannya padaku.

Padaku.

Aku berdiri di lorong yang gelap lama sekali. Dari kamar Bi Imah, terdengar suara sinetron dari televisi kecil. Dari kamar Elea, napas yang teratur. Dari luar, bunyi jangkrik di pohon mangga.

Lima tahun lalu, perempuan ini diam waktu aku berlutut dan memintanya percaya.

Malam ini, perempuan ini mengkhianati omnya sendiri, keluarganya sendiri, untuk memperingatkan aku tentang seorang perempuan asing di Bekasi yang pernah dibayar untuk menghancurkan pernikahan kami.

Aku nggak tahu apa yang harus kurasakan.

Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang aku tahu cara melakukannya. Aku membalas.

Terima kasih.

Lalu, sebelum aku sempat berpikir, sebelum aku sempat menghentikan jariku, aku menambahkan:

Hati-hati di jalan, Bi.

Terkirim.

Aku menatap dua kata terakhir itu. Bi. Bukan Bu Rexton. Bukan Bianca. Bi. Panggilan yang dulu kupakai setiap pagi, setiap malam, setiap kali dia menjatuhkan sesuatu atau menertawakan sesuatu atau tertidur di bahuku.

Aku nggak bisa menariknya kembali.

Aku memasukkan ponsel ke saku dan menelepon Bayu.


“Mas? Jam sepuluh malam. Ada apa?”

“Bay. Kamu masih punya kontak pengacara Hallworth yang di Jakarta?”

“Pak Sutomo? Masih. Kenapa?”

“Telepon dia. Sekarang. Bilang aku butuh perlindungan saksi swasta untuk satu keluarga di Cirebon. Perempuan dewasa, dua anak kecil. Malam ini. Paling lambat subuh.”

Hening di ujung telepon.

“Mas. Ini soal Sinta?”

“Adiknya. Hendra tahu kita ke Bekasi. Dia mau pakai adiknya buat ngancam Sinta lagi.”

“Dari mana Mas tahu—“

“Bianca.”

Hening lagi. Lebih panjang.

“Bianca,” ulang Bayu pelan. “Bianca Rexton. Kasih tahu kamu soal rencana omnya sendiri.”

“Iya.”

“Mas…”

“Bay. Nanti. Telepon Pak Sutomo. Aku telepon Catherine.”


Catherine Hall mengangkat telepon di dering kedua. Di London, saat itu jam empat sore.

Aku menjelaskan semuanya dalam lima menit. Bahasa Inggris yang cepat dan tepat, seperti menulis abstrak jurnal. Sinta. Foto-foto lima tahun lalu. Rekening empat koma tujuh miliar. PT Sentra. Marcel. Hendra. Ancaman terhadap ibu Sinta tiga tahun lalu. Ancaman terhadap adiknya sekarang.

Catherine diam sepanjang penjelasanku. Waktu aku selesai, dia bertanya satu hal.

“Adrian. Are you certain about Hendra Rexton?”

“I have the financial trail. I have the shell companies. I have the timing. What I don’t have yet is the witness.”

“And the witness is frightened.”

“Her family is in danger. Tonight.”

Catherine diam lagi. Lalu suaranya berubah. Bukan suara investor. Suara perempuan tua yang punya anak dan cucu.

“Hallworth has a security contractor in Jakarta. Ex-police. Very discreet. I’ll have them in Cirebon by three a.m. Sutomo can arrange the safe house.” Dia berhenti. “Adrian. This changes everything. If Hendra Rexton has been defrauding his own company for ten years, and framing employees who discovered it, Hallworth cannot remain in partnership with Rexton Group under his financial leadership.”

“I know.”

“You understand what that means for the project? For Bianca?”

Aku menatap pintu kamar Elea yang tertutup di ujung lorong.

“I understand,” kataku.

“Do you?” Catherine bertanya pelan. “Because from where I sit, Adrian, the woman you’ve spent two months humiliating just risked everything to protect a witness who could destroy her family. I’d want to understand that very carefully, if I were you.”

Aku nggak menjawab.

“Three a.m.,” kata Catherine. “Cirebon. Go to bed, Adrian. You’ll need to be sharp tomorrow.”

Dia menutup telepon.

Aku nggak tidur.


Jam tiga pagi, aku dan Bayu sudah di tol Cipali, menuju Cirebon, di dalam mobil yang dikemudikan laki-laki berbadan besar dengan potongan rambut cepak dan wajah yang sama sekali nggak bisa dibaca, bernama Pak Gunawan. Di belakang kami, mobil kedua dengan dua laki-laki lain yang sama nggak bisa dibacanya.

Bayu tertidur dengan mulut terbuka di kursi tengah, kepalanya bersandar di jendela.

Aku menatap jalan tol yang gelap dan lurus, lampu-lampu jalan yang lewat silih berganti seperti detak jantung yang lambat.

Sebelum berangkat, aku masuk ke kamar Elea. Dia masih tidur, posisi tidurnya berubah total sejak jam sepuluh, kepalanya di ujung kasur dan kakinya di bantal. Mr. Snuggles terlempar ke lantai.

Aku memungut Mr. Snuggles, meletakkannya di pelukan Elea. Aku memutar tubuhnya pelan supaya kepalanya kembali ke bantal. Dia mengigau sesuatu, Lucas curang, lalu tidur lagi.

Aku menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Normal.

Lalu aku menulis catatan kecil dan menempelkannya di lampu tidur berbentuk bulan.

Papa kerja pagi-pagi. Pulang sore. Nenek Imah yang antar sekolah. Kepangnya minta Nenek, tapi jangan kecewa kalau miring. Papa sayang Elea. — Papa

Di bawahnya, aku menggambar beruang kecil di bawah bulan. Gambarku jelek. Elea pasti akan menertawakannya.

Di depan pintu kamar, Bi Imah sudah berdiri dengan daster dan kerudung yang dipakai asal-asalan, memegang termos kecil.

“Kopi,” katanya, menyodorkan termos itu. “Tubruk. Nggak pakai gula. Diaduk tiga kali.”

Aku menatapnya. “Bibi bangun?”

“Bibi denger kamu telepon dari jam sepuluh. Bibi nggak tuli.” Dia menepuk lenganku. Yang nggak diperban. “Hati-hati di jalan.”


Rumah adik Sinta ada di pinggiran kota Cirebon, di gang kecil di belakang pabrik batik. Rumah petak dua kamar dengan pagar besi yang berkarat.

Kami sampai jam lima lewat lima belas. Langit masih gelap, tapi azan subuh sudah berkumandang dari masjid di ujung gang.

Pak Gunawan turun duluan. Dia berjalan ke ujung gang, lalu kembali, lalu bicara pelan ke radio kecil di bahunya. Lalu dia menoleh padaku.

“Ada satu motor parkir di ujung gang sejak jam satu, Pak. Dua orang. Belum pergi.”

Bayu, yang sudah bangun, menatapku dengan mata lebar.

“Mas…”

“Pak Gunawan,” kataku. “Bisa Bapak urus?”

Pak Gunawan nggak menjawab. Dia cuma mengangguk ke dua laki-laki di mobil kedua, dan mereka bertiga berjalan ke ujung gang dengan langkah santai, seperti orang yang mau beli gorengan.

Lima menit kemudian, aku mendengar suara motor dinyalakan. Lalu menjauh. Cepat.

Pak Gunawan kembali dengan wajah yang sama nggak bisa dibacanya.

“Udah pergi, Pak. Mereka kenal saya. Dulu.”

Aku nggak bertanya maksudnya.


Adik Sinta bernama Nur. Umurnya mungkin dua puluh delapan. Dia membuka pintu dengan kerudung yang dipakai terburu-buru dan wajah yang ketakutan, dengan seorang anak perempuan kecil memegang ujung dasternya, dan bayi laki-laki menangis dari dalam rumah.

Pak Sutomo, pengacara Hallworth, laki-laki tua berkacamata dengan suara yang tenang seperti pembaca berita, menjelaskan semuanya. Siapa kami. Kenapa kami di sini. Bahwa ada orang yang mungkin mau mencelakai mereka untuk menekan kakaknya. Bahwa kami bisa membawa mereka ke tempat yang aman, sementara. Sampai semuanya selesai.

Nur menatap kami satu per satu. Laki-laki berkacamata dengan perban di lengan. Laki-laki gemuk yang masih memakai rompi oranye bertuliskan KILAT EXPRESS, karena Bayu lupa melepasnya waktu berangkat. Tiga laki-laki berbadan besar dengan potongan rambut cepak. Pengacara tua berkacamata.

“Teh Sinta tahu?” tanyanya akhirnya.

“Belum,” kataku. “Kami ke Bekasi setelah ini. Tapi saya mau dia tahu dari Mbak Nur sendiri. Bahwa Mbak aman. Bahwa anak-anak aman.”

Nur menatapku lama. Anak perempuan kecil di kakinya juga menatapku. Lima tahun, mungkin. Rambutnya pendek, dikuncir satu.

“Om,” kata anak itu tiba-tiba. “Tangan Om kenapa?”

Aku berlutut supaya mataku sejajar dengannya. “Kena besi, Sayang. Waktu nolongin orang.”

“Sakit?”

“Sedikit.”

Anak itu mengangguk serius. Lalu dia merogoh saku dasternya dan mengeluarkan sesuatu. Plester. Bergambar kucing. Agak kusut.

“Buat Om,” katanya.

Aku menerimanya. Dan untuk satu detik, aku nggak bisa bicara.

Nur, di ambang pintu, menutup mulutnya dengan tangan. Lalu dia mengangguk.

“Saya ikut,” katanya. “Saya telepon Teh Sinta sekarang.”


Jam sepuluh pagi, aku berdiri lagi di depan pintu biru dengan cat yang mengelupas di gang belakang pasar Bekasi Timur.

Kali ini, pintunya sudah terbuka sebelum aku mengetuk.

Sinta berdiri di ambang pintu. Perempuan kurus dengan rambut panjang yang diikat asal-asalan, mata bengkak, dan ponsel yang masih menempel di telinganya. Dari ponsel itu, terdengar suara Nur, bergetar dan menangis.

“…Teh, kami udah aman… di rumah di Bandung… ada bapak-bapak yang jagain… anak-anak udah tidur… Teh, Mas Adrian itu baik, Teh… dia ke sini jam lima pagi… tangannya diperban… Teh…”

Sinta menurunkan ponselnya. Dia menatapku.

Lima tahun lalu, di kamar hotel di Surabaya, perempuan ini duduk di tepi ranjangku dan meletakkan tangannya di dadaku, tiga menit, sebelum aku berdiri dan memanggil satpam. Aku nggak ingat wajahnya waktu itu. Aku cuma ingat bahwa dia gemetar. Waktu itu kukira dia gemetar karena malu.

Sekarang aku tahu dia gemetar karena takut.

“Masuk, Mas,” kata Sinta pelan.


Rumah petaknya cuma satu ruangan. Kasur tipis di lantai. Lemari plastik. Kompor satu tungku di pojok. Foto seorang perempuan tua berkerudung di dinding, dengan bingkai kayu murah dan untaian melati plastik di atasnya.

Sinta duduk di kasur. Aku duduk di lantai. Bayu berdiri di dekat pintu, akhirnya sudah melepas rompi oranyenya.

Sinta membuka lemari plastik. Dari laci paling bawah, di balik tumpukan baju, dia mengeluarkan sebuah kotak sepatu. Dari dalam kotak sepatu, dia mengeluarkan kantong plastik bening. Dan dari dalam kantong plastik bening itu, sebuah ponsel. Ponsel lama. Model yang sudah nggak dijual lagi. Layarnya retak di sudut.

“Saya simpan ini lima tahun,” katanya. “Nggak pernah saya nyalain. Takut. Tapi saya juga nggak berani buang.”

Dia menyerahkannya padaku.

“Malam itu, sebelum saya masuk kamar Mas, laki-laki yang nyuruh saya itu kasih instruksi di parkiran hotel. Saya rekam diam-diam. Pakai ponsel ini. Di saku. Saya nggak tahu kenapa. Mungkin karena saya takut nanti dia nggak bayar. Mungkin karena saya takut nanti saya yang disalahin.” Dia menunduk. “Terus waktu saya keluar dari kamar Mas, dia nunggu di lorong. Dia kasih saya amplop. Terus dia telepon seseorang. Di depan saya. Saya rekam juga.”

Bayu, di dekat pintu, berhenti bernapas.

Aku menyalakan ponsel itu dengan tangan yang tiba-tiba sangat stabil. Lebih stabil dari yang pernah kurasakan dalam lima tahun.

Baterainya mati. Tentu saja. Lima tahun.

Bayu sudah mengeluarkan charger universal dari tasnya sebelum aku sempat bertanya.


Dua puluh menit kemudian, ponsel itu menyala.

Galeri. Dua file video. Tanggal: lima tahun lalu. Lokasi: Surabaya.

Video pertama. Gelap, goyang, diambil dari dalam saku. Parkiran basement hotel. Suara laki-laki, rendah, dengan logat Jakarta yang kental.

“…kamu masuk, duduk di kasur, taruh tangan di dadanya. Tiga menit. Jangan lebih. Fotografer kita di gedung seberang, dia udah siap dari tadi. Lampu kamarnya terang, jendelanya nggak ditutup. Kamu cuma perlu duduk di posisi yang pas. Abis itu keluar. Nggak ada yang terluka.”

Suara Sinta, gemetar: “Pak, ini buat apa?”

“Bukan urusan kamu. Bos saya mau laki-laki ini keluar dari keluarga Rexton. Itu aja.”

“Bos Bapak siapa?”

Hening. Lalu tawa pendek.

“Pak Hendra yang bayar. Tapi yang minta, yang paling mau laki-laki ini pergi, itu ibu mertuanya sendiri.”

Video berakhir.

Aku menatap layar yang retak itu. Tanganku masih stabil. Dadaku nggak.

Bayu, di dekat pintu, berbisik, “Ya Allah.”

Video kedua. Lorong hotel. Lampu kuning. Bunyi pintu ditutup. Laki-laki yang sama, sekarang terlihat sebagian, bahu dan lengan dan tangan yang memegang ponsel ke telinga. Sinta pasti memegang ponselnya di dada, pura-pura memeriksa sesuatu di layar.

Suara laki-laki itu, bicara di telepon:

“Udah, Pak. Fotonya dapat. Bagus. Jelas… Iya… Iya, langsung saya kirim ke Bapak malam ini… Bu Veronica udah tahu? Oke. Oke. Bilang ke Bu Veronica, fotonya bisa dipakai buat yakinin anaknya. Rekeningnya kapan dibuka, Pak?… Sebelas Maret. Siap. Uangnya masuk dua belas… Iya, Pak. Delapan hari cukup. Abis itu tarik lagi ke Arunika… Siap, Pak Hendra.”

Video berakhir.


Aku memutar kedua video itu lima kali.

Lalu aku meminta Bayu memutar kedua video itu di laptopnya, dengan perangkat lunak forensik yang dia pasang dalam sepuluh menit. Aku memeriksa metadatanya. Tanggal pembuatan file. Kode perangkat. Koordinat GPS yang tersimpan, yang menunjuk ke Hotel Parama, Surabaya, basement dan lantai tujuh. Kamar 714. Kamarku.

Nggak ada tanda pengeditan. Nggak ada pemotongan. Nggak ada jejak manipulasi.

Asli.

Aku memeriksanya sekali lagi, karena aku ilmuwan, dan ilmuwan nggak percaya pada satu kali pemeriksaan. Lalu sekali lagi.

Asli.

“Mas,” kata Bayu pelan. “Ini cukup. Ini lebih dari cukup. Pemalsuan rekening, pengaturan bukti palsu, persekongkolan, ditambah data keuangan PT Sentra. Hendra nggak bisa lolos dari ini. Marcel juga.”

“Dan Veronica.”

Bayu diam.

“Bu Veronica udah tahu,“ ulangku pelan. “Fotonya bisa dipakai buat yakinin anaknya.“

Aku menatap foto perempuan tua berkerudung di dinding, dengan untaian melati plastik di atasnya. Ibu Sinta. Yang meninggal karena kanker. Yang kamarnya di rumah sakit pernah dijaga orang-orang suruhan Hendra Rexton, yang cuma berdiri, nggak bicara apa-apa.

Lalu aku menatap Sinta.

“Mbak,” kataku. “Saya mau minta satu hal lagi. Mbak bersedia bersaksi? Di pengadilan? Dengan perlindungan penuh dari Hallworth dan LPSK?”

Sinta menatap foto ibunya di dinding. Lama.

“Ibu saya dulu bilang,” katanya pelan. “Kalau kita bikin salah, kita harus benerin. Walaupun telat.” Dia menoleh padaku. “Lima tahun itu telat banget ya, Mas.”

“Telat,” kataku. “Tapi belum terlambat.”

Sinta tersenyum. Senyum kecil yang patah dan basah.

“Saya bersedia, Mas.”


Di mobil, perjalanan pulang ke Jakarta, Bayu memegang ponsel lama Sinta di pangkuannya seperti memegang bom.

“Mas,” katanya. “Kamu mau langsung lapor polisi? Atau ke Catherine dulu?”

Aku menatap jendela. Tol Bekasi. Siang hari. Macet.

“Belum.”

“Mas, kita punya semua yang kita butuh—“

“Ada satu orang yang harus lihat ini duluan.”

Bayu menatapku. Lama. Lalu dia mengerti.

“Bianca,” katanya.

Aku nggak menjawab.

“Mas. Kamu yakin? Kamu mau dia lihat video yang bilang ibunya sendiri yang minta kamu dihancurkan?” Bayu menggeleng pelan. “Itu kejam, Mas. Bahkan buat kamu.”

“Lima tahun lalu,” kataku pelan, “dia nggak mau lihat apa-apa. Dia lihat foto, dia lihat rekening, dan dia percaya. Tanpa bertanya. Tanpa memeriksa. Dia nggak mau lihat aku. Dia nggak mau lihat anaknya.”

“Mas—“

“Sekarang dia harus lihat.” Aku menatap Bayu. “Semuanya. Dari awal sampai akhir. Dengan matanya sendiri. Bukan dari polisi. Bukan dari berita. Dari aku.”

Bayu menatapku dengan wajah yang nggak bisa kubaca. Lalu dia bertanya, sangat pelan:

“Kamu mau dia lihat karena kamu mau dia hancur? Atau karena kamu mau dia akhirnya tahu bahwa kamu nggak pernah bohong?”

Aku menatap jendela.

Aku nggak tahu jawabannya. Itu yang paling menakutkan. Lima tahun aku tahu persis apa yang kumau. Malam ini, di tol Bekasi yang macet, dengan ponsel lama Sinta di pangkuan Bayu dan pesan Hati-hati di jalan, Bi yang masih tersimpan di ponselku sendiri, aku nggak tahu lagi.

Aku mengeluarkan ponselku. Aku membuka percakapan dengan nomor yang nggak kusimpan.

Pesan terakhirnya masih di layar. Dari semalam.

Pak Joko dari arsip dipindahkan ke Medan minggu depan. Sinta di Bekasi dalam bahaya…

Dan di bawahnya, balasanku. Terima kasih. Hati-hati di jalan, Bi.

Dia nggak membalas lagi setelah itu.

Aku mengetik.

Besok. Lantai 40 Rexton Tower. Ruang rapat utama. Jam 7 malam. Datang sendiri.

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu aku menambahkan satu kalimat.

Ada yang harus kamu lihat. Lima tahun terlambat.

Kirim.


Malam itu, waktu aku pulang, Elea sudah menunggu di ruang tengah dengan catatan yang kutempel di lampu tidurnya.

“Papa,” katanya, mengangkat catatan itu dengan wajah yang sangat serius. “Ini beruang?”

“Iya.”

“Kok kayak kentang?”

Bi Imah, di dapur, tertawa sampai harus duduk di kursi.

“Itu beruang, Sayang. Di bawah bulan.”

Elea menatap gambar itu lama. Lalu menatapku. Lalu dia memelukku, tiba-tiba, kencang, wajahnya terbenam di perutku.

“Papa jangan pergi pagi-pagi lagi tanpa bangunin Elea,” katanya teredam. “Elea bangun, Papa nggak ada. Elea takut.”

Aku memeluknya. Lama.

“Maaf, Sayang. Papa nggak akan pergi tanpa pamit lagi.”

“Janji?”

“Janji.”

Dia mengangguk di perutku. Lalu dia mendongak, menatapku dengan mata almond yang bulat.

“Papa nemu harta karunnya?”

Aku menatapnya. Lalu aku ingat. Peta di atas meja makan. Garis-garis dan kotak-kotak. Peta harta karun?

“Iya,” kataku pelan. “Papa nemu.”

“Hartanya apa?”

Aku nggak tahu bagaimana menjelaskan kepada anak lima tahun bahwa harta karun itu adalah dua video di ponsel lama yang retak. Bahwa harta karun itu adalah kebenaran. Bahwa kebenaran itu akan menghancurkan sebuah keluarga, keluarga ibunya, dan mungkin juga ibunya sendiri.

“Hartanya,” kataku, “adalah bukti bahwa Papa nggak pernah bohong.”

Elea memiringkan kepalanya.

“Papa emang nggak pernah bohong,” katanya, dengan logika anak lima tahun yang sederhana dan menghancurkan. “Kecuali soal brokoli.”

Dia berlari ke kamarnya.

Aku berdiri di ruang tengah, di bawah lampu yang menyala kuning, dan menatap punggung kecil itu menghilang di lorong.

Kecuali soal brokoli.

Dan soal Mama yang di bintang.

Tapi Elea belum tahu soal itu.