Chapter Four
Nama yang Tidak Boleh Disebut
POV: Bianca
Lipstikku merah. Selalu merah.
Bukan merah muda, bukan nude, bukan warna-warna aman yang disarankan konsultan citra waktu aku pertama kali diangkat jadi CEO Rexton Malls tiga tahun lalu. Merah. Merah tua yang tegas, warna yang membuat orang menatap mulutmu waktu kamu bicara, dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari sana.
Jam enam pagi, aku berdiri di depan cermin kamar mandi apartemenku di lantai tiga puluh dua, memulas bibir dengan gerakan yang sudah kulakukan ribuan kali. Satu garis di bibir atas. Satu garis di bibir bawah. Rapatkan. Tekan dengan tisu. Ulangi.
Setelan hari ini warna gading. Blazer berpotongan tajam, celana panjang yang jatuh lurus sampai mata kaki, kemeja sutra di dalamnya. Rambutku kucepol rendah, satu-satunya cara supaya rambut panjang bergelombang ini nggak menarik perhatian lebih dari yang perlu. Sepatu hak sepuluh senti, hitam, bunyinya tajam di lantai marmer.
Aku memeriksa wajahku sekali lagi. Mata yang tajam. Tulang pipi yang tinggi. Tahi lalat kecil di bawah mata kiri, satu-satunya bagian wajahku yang nggak bisa kututup dengan concealer karena aku, entah kenapa, nggak pernah mau menutupnya.
Orang bilang aku cantik. Majalah bisnis bilang aku “wajah paling memesona di industri ritel Asia Tenggara”, yang menurutku kalimat paling nggak berguna yang pernah ditulis tentang seorang CEO. Tasya, sekretarisku, bilang kalau aku lewat di lobi, satpam lupa cara bernapas.
Aku nggak peduli soal cantik. Cantik nggak membuat okupansi tenant naik. Cantik nggak menyelesaikan proyek senilai empat koma dua triliun.
Tapi lipstik merah ini, setelan ini, sepatu ini, ini bukan soal cantik.
Ini baju zirah.
Rapat darurat dewan dimulai jam delapan tepat di lantai empat puluh Rexton Tower.
Aku tahu ada yang salah begitu masuk ruangan. Om Hendra sudah duduk di kursinya, padahal biasanya dia datang terlambat lima menit supaya semua orang menunggunya. Oma Margareth hadir, dan Oma nggak pernah hadir di rapat dewan kecuali ada yang mau dipecat atau ada yang mau mati. Marcel duduk di ujung meja sambil memainkan pulpen, dengan senyum yang membuatku ingin melemparkan sepatu ke wajahnya.
Dan Darren Wiratama berdiri waktu aku masuk. Selalu. Dia satu-satunya orang di ruangan ini yang berdiri waktu seorang perempuan masuk, dan satu-satunya yang menatapku seolah aku manusia, bukan aset perusahaan.
“Pagi, Bi.”
“Pagi, Dar.”
Darren adalah tunanganku. Atau calon tunanganku, tergantung siapa yang ditanya. Oma bilang kami sudah bertunangan. Aku bilang kami sedang “mempertimbangkan”. Darren sendiri, dengan kesabaran yang membuatku kadang merasa bersalah, bilang dia akan menunggu sampai aku tahu jawabannya.
Dia laki-laki baik. Anak keluarga Wiratama, pemilik jaringan properti di Surabaya dan Bali, pemegang saham minoritas Rexton. Tampan dengan cara yang tenang. Sopan dengan cara yang nggak dibuat-buat. Oma memilihnya karena keluarganya. Aku menoleransinya karena dia nggak pernah memaksaku bicara soal hal-hal yang nggak mau kubicarakan.
Seperti lima tahun lalu.
“Duduk, Bianca,” kata Oma.
Aku duduk.
Om Hendra menyalakan layar. “Hallworth Capital mengirim surat semalam.”
Hallworth Capital. Investor utama Rexton Grand Nusantara. Konsorsium Inggris yang menanam satu koma delapan triliun di proyek kami, yang membuat proyek terbesar dalam sejarah Rexton Group ini bisa berdiri. Tanpa mereka, Grand Nusantara cuma lubang raksasa di Kemayoran yang menunggu diisi air hujan.
“Mereka mengancam mundur,” lanjut Om Hendra.
Aku menegakkan punggung. “Atas dasar apa? Kita on schedule. Kita bahkan di bawah anggaran tiga persen.”
“Atas dasar keselamatan.” Om Hendra mengklik slide berikutnya. “Mereka menuntut sistem manajemen gedung kelas dunia. Bukan yang sekarang kita pakai. Mereka mau satu sistem spesifik, yang sudah dipakai di Bandara Frankfurt, Stadion Yokohama, dan Stasiun King’s Cross. Mereka bilang tanpa sistem ini, asuransi proyek nggak bisa diterbitkan dan mereka harus menarik dana.”
“Sistem apa?”
Om Hendra menatapku. Lalu menatap Oma. Lalu, untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya, Om Hendra yang selalu tenang terlihat ragu.
Marcel yang menjawab. Dengan senyum lebar.
“AURA, Bi. Adaptive Urban Response Architecture. Penemunya dari Oxford.” Dia memutar pulpennya sekali. “Namanya Dr. A. Renaldi.”
Ada momen-momen dalam hidup ketika dunia berhenti.
Bukan melambat. Berhenti. Seperti film yang dijeda. Kamu masih bisa melihat semuanya: wajah-wajah di sekitarmu, debu yang melayang di bawah sinar lampu, jam dinding yang jarumnya membeku di antara dua detik. Tapi nggak ada yang bergerak, dan kamu juga nggak bisa bergerak.
Aku pernah merasakannya dua kali sebelumnya. Waktu dokter bilang Papa nggak akan bangun lagi. Dan waktu bidan meletakkan bayi merah yang menangis di dadaku.
Ini yang ketiga.
Dr. A. Renaldi.
“Ada banyak Renaldi,” kataku. Suaraku terdengar normal. Aku bangga pada diriku sendiri karena suaraku terdengar normal.
“Cuma satu yang namanya Adrian,” kata Marcel. “Dan cuma satu yang pernah jadi Head of Building Systems di Rexton Malls.”
Layar berganti. Foto. Seorang laki-laki di podium Sheldonian Theatre, toga hitam dan merah, kacamata berbingkai tipis, rambut yang lebih pendek dari yang kuingat. Lebih kurus. Rahangnya lebih tegas. Ada sesuatu di matanya yang dulu nggak ada, sesuatu yang keras dan tenang, seperti batu di dasar sungai yang sudah lama dikikis air.
Adrian.
Lima tahun. Lima tahun nggak sekali pun aku menyebut namanya. Nggak di rumah, nggak di kantor, nggak bahkan di dalam kepalaku sendiri. Aku melatih diriku untuk berhenti di huruf pertama. Setiap kali pikiranku mulai membentuk “A”, aku membelokkannya ke hal lain. Angka. Proyek. Jadwal rapat.
Dan sekarang namanya terpampang di layar empat meter, di ruang rapat milik keluargaku.
“Pezina itu,” kataku pelan.
Nggak ada yang menjawab.
“Pencuri itu.” Suaraku masih tenang. “Laki-laki yang menggelapkan empat koma tujuh miliar dari perusahaan ini. Laki-laki yang tidur dengan perempuan lain waktu istrinya baru melahirkan. Dia yang Hallworth mau?”
“Hallworth nggak tahu sejarah itu,” kata Om Hendra hati-hati. “Kita nggak pernah melaporkannya ke polisi. Secara hukum, catatannya bersih.”
“Kita nggak melaporkannya demi nama baik keluarga,” kataku. “Bukan demi dia.”
“Dan sekarang nama baik keluarga butuh dia,” kata Oma.
Semua kepala menoleh ke ujung meja.
Oma Margareth duduk tegak di kursinya, tangan terlipat di atas tongkat berkepala perak. Tujuh puluh sembilan tahun, dan dia masih bisa membuat satu ruangan penuh direktur menahan napas.
“Empat koma dua triliun, Bianca,” katanya. “Dua ribu tiga ratus pekerja. Seratus delapan puluh tenant yang sudah tanda tangan kontrak. Kalau Hallworth mundur, Rexton nggak cuma kehilangan proyek. Rexton kehilangan muka. Bank akan menarik kredit. Investor lain akan ikut lari.” Dia mengetuk tongkatnya sekali ke lantai. “Saya nggak peduli siapa dia. Saya peduli apa yang dia punya.”
“Kalau begitu, biar Om Hendra yang bicara sama dia.”
“Hallworth mensyaratkan CEO,” kata Om Hendra. “Surat undangan resmi, atas nama dan tanda tangan CEO Rexton Malls sebagai project lead. Mereka bilang Dr. Renaldi hanya akan mempertimbangkan kerja sama kalau undangannya datang dari pimpinan tertinggi proyek.”
Aku menatapnya.
“Dia yang minta itu,” kataku. “Kan? Itu bukan syarat Hallworth. Itu syarat dia.”
Om Hendra nggak menjawab. Itu sudah jawaban.
Darren, di sampingku, bergeser sedikit. Di bawah meja, tangannya menyentuh punggung tanganku. Hangat. Sabar. Pertanyaan tanpa kata: kamu nggak apa-apa?
Aku menarik tanganku.
“Baik,” kataku. “Saya yang tulis suratnya.”
Surat pertama kukirim hari itu juga, lewat email resmi ke kantor Hallworth di London dan ke alamat Oxford yang tercantum di dokumen mereka.
Tiga paragraf. Formal. Profesional. Rexton Group dengan ini mengundang Dr. Adrian Renaldi untuk bergabung sebagai Konsultan Teknologi Utama proyek Rexton Grand Nusantara. Aku menulisnya seperti menulis surat ke vendor. Aku nggak akan memberinya lebih dari itu.
Jawabannya datang dua hari kemudian. Bukan lewat email.
Kurir internasional. Amplop cokelat tebal, dikirim ke ruanganku dengan label Personal & Confidential. Tasya yang menerimanya. Dia meletakkannya di mejaku dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu yang nggak bisa disembunyikan.
“Dari Oxford, Bu.”
“Terima kasih, Tas.”
“Oxford, Bu. Inggris. Yang kampusnya kayak di Harry Potter.”
“Tasya.”
“Iya, Bu, saya keluar.”
Dia keluar. Aku tahu dia akan langsung mengetik sesuatu di grup WhatsApp kantor yang dia kira aku nggak tahu keberadaannya.
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya, suratku sendiri. Dicetak. Dan di atasnya, di seluruh halaman, coretan tinta merah.
Seperti tugas murid yang diperiksa guru.
Kata “mengundang” dilingkari, dengan catatan di margin: Terlalu setara. Kalimat “kami meyakini kerja sama ini saling menguntungkan” dicoret satu garis panjang: Tidak relevan. Saya tidak butuh Rexton. Tanda tanganku di bagian bawah diberi tanda tanya kecil.
Dan di bagian paling bawah, dengan tulisan tangan yang tegas, besar, dan sangat tenang:
Ditolak. Kurang memohon.
Aku menatap tulisan itu lama.
Huruf “D” yang tegak. Huruf “K” dengan kaki yang panjang. Dan di tanda tangan kecil di pojok, inisial “A.R.”, huruf A besar yang sedikit miring ke kanan. Seperti orang yang selalu terburu-buru ke depan.
Aku kenal tulisan tangan itu. Aku pernah melihatnya di surat cinta pertama yang diselipkan di bawah pintu ruanganku waktu dia masih staf baru di gedung ini. Aku pernah melihatnya di kartu ucapan ulang tahun, di catatan belanja yang ditempel di kulkas, di buku nama bayi yang kami isi berdua sambil bertengkar soal huruf vokal.
Aku pernah melihatnya di halaman terakhir surat cerai, menulis Kamu sendiri yang bilang.
Tanganku nggak gemetar. Aku memastikannya.
Surat kedua kutulis malam itu. Lebih panjang. Lebih hormat. Rexton Group dengan hormat memohon kesediaan.
Kembali tiga hari kemudian. Tinta merah lagi.
Lebih baik. Masih kurang. Anda menulis seperti orang yang yakin akan dikabulkan.
Surat ketiga kutulis jam dua pagi di ruang kerja Papa, dengan segelas anggur merah yang nggak kuminum dan lampu meja satu-satunya yang menyala di rumah. Aku menulis, menghapus, menulis lagi. Aku menulis kata-kata yang belum pernah kutulis untuk siapa pun dalam hidupku.
Dengan segala kerendahan hati, kami memohon.
Aku menatap kalimat itu lama sebelum mengirimnya.
Lalu aku mengirimnya. Untuk dua ribu tiga ratus pekerja. Untuk seratus delapan puluh tenant. Untuk Papa, yang membangun Rexton Mall pertama dengan tangannya sendiri dan yang nggak akan memaafkanku kalau aku membiarkan semuanya runtuh karena harga diri.
Bukan untuk dia. Nggak akan pernah untuk dia.
“Bu, Ibu udah lihat grup?”
Tasya berdiri di pintu ruanganku keesokan harinya, dengan ponsel di tangan dan wajah orang yang membawa berita besar dan nggak sabar menyampaikannya.
“Grup apa?”
“Grup… ehm.” Dia sadar sudah salah ngomong. “Grup kantor, Bu. Yang… yang biasa.”
“Grup yang namanya ‘Pantauan Pak Dokter’?”
Wajah Tasya berubah dari merah muda ke putih ke merah tua dalam waktu dua detik. “Ibu… Ibu tahu?”
“Saya tahu ada empat puluh tujuh anggota. Saya tahu kamu adminnya. Saya tahu kalian sudah mengirim dua ratus tiga belas foto Dr. Renaldi hasil screenshot dari wawancara televisi Inggris. Dan saya tahu ada polling ‘Lebih ganteng pakai kacamata atau nggak’.” Aku menatapnya datar. “Hasilnya delapan puluh tujuh persen pakai kacamata.”
Tasya menelan ludah. “Ibu… ikut vote?”
“Tasya.”
“Iya, Bu. Saya bubarin grupnya, Bu.”
“Nggak usah.” Aku kembali menatap laptop. “Saya cuma mau tahu satu hal. Apa yang mau kamu sampaikan tadi?”
Tasya ragu sebentar. Lalu dia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan menyodorkan ponselnya.
Sebuah berita dari portal bisnis Inggris. Foto bandara Heathrow. Laki-laki tinggi berkacamata dengan mantel abu-abu, mendorong troli berisi dua koper besar. Di sampingnya, menggandeng tangannya, seorang anak perempuan kecil dengan rambut dikepang dua dan ransel berbentuk kelinci.
Oxford’s AURA Inventor Heads to Jakarta for Landmark Project.
“Suratnya diterima, Bu,” kata Tasya pelan. “Hallworth konfirmasi tadi pagi. Dia mendarat lusa.”
Aku nggak menatap laki-laki di foto itu.
Aku menatap anak perempuan di sampingnya.
Rambut cokelat gelap yang dikepang rapi, kepangan yang terlalu rapi untuk anak lima tahun, kepangan yang jelas dibuat dengan sabar oleh tangan seseorang yang sudah berlatih bertahun-tahun. Wajah kecil yang menoleh ke kamera, setengah tersembunyi di balik lengan ayahnya. Ransel kelinci. Sepatu merah.
Dan di rambutnya, sesuatu yang berkilau kecil, terlalu kecil untuk terlihat jelas di foto beresolusi rendah itu.
Aku memperbesar gambarnya. Pecah. Buram.
“Bu?”
Aku mengembalikan ponselnya. “Siapkan lobi Hotel Arunaya hari Kamis. Saya akan menyambutnya sendiri.”
“Bu, Hallworth bilang Dr. Renaldi nggak minta disambut—“
“Dia akan disambut,” kataku. “Oleh CEO Rexton. Dengan hormat. Dengan profesional. Dengan semua yang dia minta di surat-surat itu.” Aku memutar kursiku, menghadap jendela, menghadap Jakarta yang kelabu oleh asap dan matahari pagi. “Dan waktu dia lihat aku, dia akan tahu bahwa aku nggak kalah. Aku cuma bekerja.”
Tasya diam. Lalu, dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya, dia bertanya:
“Bu. Anak kecil di foto itu… anak Ibu?”
Aku nggak menjawab.
Di kaca jendela, aku melihat bayanganku sendiri. Setelan gading. Lipstik merah. Mata yang tajam.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, baju zirah itu terasa terlalu tipis.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut reading
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama