Chapter Twenty Four

Mama, Kenapa?

POV: Bianca


Pak Satpam muda membuka gerbang dengan wajah yang sama kagetnya seperti tiga minggu lalu.

“Non Bianca? Malam-malam lagi?”

“Mama di mana?”

“Di… di ruang kerja Bapak, Non. Almarhum Bapak. Ibu sering di sana kalau malam.”

Aku nggak tahu itu.

Lima tahun aku datang ke rumah ini setiap bulan, dan aku nggak tahu bahwa Mama sering duduk di ruang kerja Papa kalau malam. Aku nggak tahu banyak hal tentang Mama. Aku cuma tahu apa yang Mama izinkan aku tahu. Senyum yang lembut. Tangan yang hangat. Teh chamomile.

Aku memarkir mobil. Aku masuk ke rumah.

Karpet Persia di ruang tengah gelap seperti danau. Aku melewatinya tanpa melihat. Duchess Kedua di anak tangga ketiga. Aku melangkahinya. Dia nggak mengeong kali ini. Dia cuma menatapku dengan mata kuning, seolah dia tahu.

Lorong lantai dua. Pintu ruang kerja Papa. Terbuka sedikit. Lampu meja menyala kuning di dalam.

Aku mendorong pintunya.


Mama duduk di kursi kulit Papa, menghadap jendela, membelakangiku.

Gaun tidur sutra biru muda. Rambut tergerai. Di tangannya, sebuah bingkai foto. Aku nggak bisa melihat fotonya dari sini.

“Bianca,” katanya tanpa menoleh. Suaranya tenang. “Mama tahu kamu bakal datang.”

Aku berdiri di ambang pintu.

“Hendra telepon tadi sore,” lanjut Mama, masih menatap jendela. “Orang-orangnya di Cirebon diusir. Ada pengawal dari Hallworth. Adik perempuan Bekasi itu udah dipindahkan.” Dia diam sebentar. “Terus Hendra bilang, kamu ke Rexton Tower jam tujuh malam. Ke ruang rapat lantai empat puluh. Dan Adrian ada di sana.”

“Mama nyuruh orang ngawasin aku?”

“Hendra yang nyuruh. Bukan Mama.” Mama akhirnya memutar kursi itu. Pelan. Menghadapku.

Wajahnya tanpa riasan. Lebih tua dari yang kuingat. Lebih lelah. Ada garis-garis di sekitar matanya yang biasanya tertutup foundation mahal. Dan matanya, mata yang selalu lembut, malam itu kering dan sangat tenang.

Di pangkuannya, bingkai foto itu. Sekarang aku bisa melihatnya.

Foto Papa. Papa muda, mungkin tiga puluh tahun, berdiri di depan Rexton Mall pertama, tersenyum lebar dengan kacamata tebal.

“Duduk, Sayang,” kata Mama.

“Aku nggak mau duduk.”

Mama mengangguk pelan. Seolah dia sudah menduganya.

“Kamu udah lihat videonya,” katanya.

Bukan pertanyaan.


“Mama tahu ada video?”

“Mama nggak tahu ada video.” Mama meletakkan bingkai foto Papa di meja, pelan, menghadap ke bawah. “Tapi Mama tahu suatu hari kamu bakal tahu. Mama tahu dari hari dia kembali. Dari hari Mama lihat dia di ruang rapat, di kursi tamu kehormatan, dengan muka yang… yang tenang. Orang yang bohong nggak bisa setenang itu, Bianca. Mama udah lebih dari lima puluh tahun hidup. Mama tahu.”

“Mama tahu dari dulu,” kataku. Suaraku keluar rendah. Bergetar. “Dari lima tahun lalu. Mama tahu fotonya palsu.”

Mama diam.

“Jawab, Ma.”

“Iya.”

Satu kata. Sama seperti satu kata yang kuberikan pada Adrian di ruanganku, waktu dia tanya apakah aku menyentuh Elea.

Iya.

Tanpa alasan. Tanpa pembelaan.

Aku menatap Mama. Perempuan yang membesarkanku. Dan aku nggak mengenalinya.

“Kenapa?”


Mama menatap jendela lagi. Lama.

“Kamu tahu Papa kamu dulu dari mana, Bianca?”

“Apa hubungannya—“

“Dengar Mama. Sekali ini aja. Dengar sampai selesai.” Suaranya nggak naik. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuatku diam. “Papa kamu anak keluarga Rexton. Kaya dari lahir. Tapi Mama bukan. Mama anak guru SD di Semarang. Mama ketemu Papa kamu di Jakarta waktu Mama kerja jadi sekretaris di kantor Kakek. Gaji Mama waktu itu tiga ratus ribu sebulan.”

Aku nggak tahu itu. Aku nggak pernah tahu itu.

“Oma nggak pernah suka Mama,” lanjutnya. “Oma bilang Mama pengincar harta. Oma bilang Mama cuma mau uang Rexton. Tiga puluh tahun, Bianca, tiga puluh tahun Mama hidup di rumah ini dengan Oma yang natap Mama kayak natap noda di taplak meja. Dan Mama bertahan. Karena Mama cinta Papa kamu. Dan karena Mama punya kamu.”

Dia menoleh padaku.

“Terus kamu bawa pulang laki-laki itu. Anak yatim dari Bandung. Staf teknik. Gajinya sepuluh juta sebulan. Dan Mama lihat dia, dan Mama lihat diri Mama sendiri. Tiga puluh tahun lalu.”

“Mama—“

“Mama takut, Bianca.” Suaranya akhirnya pecah. Sedikit. “Mama takut dia sama kayak Mama. Atau lebih buruk. Mama takut dia cuma mau uang. Mama takut suatu hari dia ninggalin kamu dengan anak dan nggak ada apa-apa. Atau dia ambil separuh Rexton waktu cerai. Atau dia… Mama nggak tahu. Mama cuma takut.”

Dia menekan tangannya di dada.

“Terus Hendra datang ke Mama. Dua bulan sebelum… sebelum malam itu. Hendra bawa dokumen. Bukti bahwa Adrian menggelapkan uang dari proyek Kemayoran. Mark-up. Pembayaran fiktif. Semuanya kelihatan nyata. Semuanya kelihatan rapi. Hendra bilang dia mau lapor ke polisi, tapi itu bakal jadi skandal. Rexton bakal malu. Kamu bakal malu.”

“Dan Mama percaya.”

“Mama mau percaya.” Mama menatapku dengan mata yang basah sekarang. “Itu bedanya, Sayang. Mama nggak periksa. Mama nggak nanya. Mama mau percaya, karena itu artinya Mama benar. Artinya ketakutan Mama selama ini benar. Artinya laki-laki itu memang kayak yang Mama kira.”

Aku nggak bisa bernapas.

Karena itu persis. Persis seperti yang kulakukan. Aku nggak memeriksa. Aku nggak bertanya. Aku mau percaya, karena percaya lebih mudah daripada berdiri sendirian.

Aku adalah anak ibuku.

“Terus Hendra bilang, kalau cuma soal uang, Bianca mungkin nggak akan cerai,” lanjut Mama pelan. “Bianca cinta dia. Bianca bakal maafin. Bianca bakal bilang, Ma, dia khilaf, kita bisa ganti uangnya. Hendra bilang, butuh sesuatu yang… yang lebih. Sesuatu yang bikin Bianca nggak bisa maafin.”

“Foto itu.”

“Foto itu.” Mama menutup matanya. “Hendra bilang dia bisa atur. Mama bilang… Mama bilang iya.”

Hening.

“Mama tahu itu palsu,” bisikku.

“Mama tahu fotonya palsu. Tapi Mama kira uangnya nyata. Mama kira dia memang mencuri. Mama kira foto itu cuma… cuma mempercepat sesuatu yang memang harus terjadi. Mama kira Mama nyelamatin kamu.”

“Dengan bohong.”

“Dengan bohong.”

“Dengan nyuruh perempuan asing masuk ke kamar hotel suamiku.”

Mama menunduk.

“Dengan duduk di sampingku di sofa,” suaraku naik, bergetar, pecah, “dan usap punggungku, dan bilang jangan bikin dia tambah sakit, waktu suamiku berlutut minta aku percaya. Mama tahu dia nggak salah. Mama tahu dan Mama diam dan Mama usap punggungku.”

“Mama kira dia salah soal uangnya—“

“Mama nggak periksa!“

Teriakanku menggema di ruang kerja Papa. Di antara rak-rak buku. Di atas miniatur Rexton Mall pertama.

Mama tersentak. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Mama menangis. Bukan air mata yang anggun, satu-dua tetes di sudut mata seperti di pemakaman Papa. Menangis. Dengan bahu yang bergetar. Dengan tangan yang menutup wajah.

Aku nggak mendekatinya.


“Ada satu hal lagi,” kataku, waktu tangisan Mama mulai reda. Suaraku dingin sekarang. Dingin dan sangat jernih. “Pagi itu. Pagi setelah malam itu. Aku bangun. Aku tanya Bi Sumi di mana Elea. Bi Sumi bilang dibawa Adrian, dan Adrian udah blokir semua nomor keluarga.”

Mama menurunkan tangannya dari wajah.

“Itu benar, Ma? Dia blokir semua nomor?”

Mama menatapku. Lama.

Lalu dia menggeleng. Pelan.

“Mama yang suruh Bi Sumi bilang gitu,” bisiknya.

Aku membeku.

“Adrian nggak blokir nomor siapa-siapa. Adrian telepon ke rumah ini. Tiga kali. Pagi itu. Mama yang angkat.” Mama menatap tangannya sendiri. “Dia minta bicara sama kamu. Dia bilang Elea rewel, nggak mau minum susu formula, cuma mau ASI. Dia tanya apakah kamu mau… apakah kamu mau dia bawa Elea balik sebentar. Buat disusuin. Sekali aja.”

Ruang kerja Papa berputar.

“Mama bilang kamu nggak mau,” lanjut Mama, sangat pelan. “Mama bilang kamu masih tidur dan nggak mau diganggu. Mama bilang kamu udah bilang semalam, kamu nggak mau lihat anak itu. Mama bilang jangan telepon lagi.”

Aku berpegangan pada kusen pintu.

“Dia telepon lagi besoknya. Mama nggak angkat. Mama ganti nomor telepon rumah minggu itu juga.”

“Ma.” Suaraku nggak keluar. Cuma bisikan. “Mama…”

“Mama kira kamu lega, Sayang.” Mama menatapku dengan mata yang merah. “Pagi itu, waktu kamu tanya ke Bi Sumi, kamu cuma tanya sekali. Kamu nggak nanya lagi. Kamu nggak minta dicari. Kamu nggak minta Elea dibawa pulang. Kamu cuma bilang oh, terus tidur lagi. Bi Sumi cerita ke Mama. Dan Mama pikir… Mama pikir kamu lega. Mama pikir Mama ngelakuin yang kamu mau.”

Aku menatap Mama.

Dan aku nggak bisa membantahnya.

Karena itu benar. Aku memang lega. Aku memang cuma bertanya sekali. Aku memang bilang oh. Aku memang tidur lagi.

Mama bohong. Mama mengatur foto palsu. Mama menolak telepon Adrian yang memohon untuk menyusui anaknya.

Tapi kelegaan itu milikku. Bukan milik Mama.

Diam itu milikku.

Oh itu milikku.

Dan aku nggak bisa menyalahkan siapa-siapa untuk itu. Bahkan Mama.


“Kamu sudah selesai, Veronica?”

Suara itu datang dari lorong di belakangku.

Aku berbalik.

Oma berdiri di lorong. Gaun tidur beludru ungu tua. Tongkat perak di tangan kanan. Rambut putih yang tergerai, bukan disanggul. Di belakangnya, Duchess Kedua duduk di lantai, menatap kami semua dengan mata kuning.

“Oma.”

“Bianca.” Oma melangkah masuk ke ruang kerja Papa. Pelan. Tongkatnya mengetuk lantai kayu setiap langkah. Dia berhenti di depan rak buku, di depan album-album bersampul cokelat. “Saya dengar suara teriakan dari kamar saya. Saya kira ada maling.”

“Oma tahu juga?”

Oma menatapku. Wajahnya nggak berubah. Tenang. Dingin. Seperti pualam.

“Saya tahu semuanya, Bianca. Saya selalu tahu semuanya di rumah ini.”

Aku menatapnya.

“Oma tahu Om Hendra menggelapkan uang?”

“Sejak sebelum Robert meninggal.”

“Oma tahu foto itu palsu?”

“Hendra melapor ke saya sebelum fotonya diambil. Dia selalu melapor ke saya.”

“Oma tahu Adrian nggak salah?”

Oma diam sebentar.

“Saya tahu dia melapor soal PT Sentra ke Hendra,” katanya. “Saya tahu dia akan terus menggali kalau dibiarkan. Saya tahu kalau dia terus menggali, dia akan sampai ke Hendra. Dan kalau dia sampai ke Hendra, Rexton akan jadi berita utama di setiap koran di negeri ini. Penggelapan. Skandal. Keluarga Rexton yang mencuri dari perusahaannya sendiri.”

Dia mengetukkan tongkatnya ke lantai sekali.

“Saya memilih Rexton.”

“Oma memilih Om Hendra.”

“Saya memilih nama, Bianca.” Mata Oma menyala untuk pertama kalinya. “Nama yang dibangun Kakek kamu dari toko kelontong di Glodok. Nama yang dijaga Papa kamu. Nama yang sekarang kamu pakai di kartu nama kamu, di pintu ruangan kamu, di setiap kontrak yang kamu tanda tangani. Satu laki-laki dari Bandung nggak sebanding dengan nama itu.”

“Dan anakku?”

Oma diam.

“Elea. Cucu Oma. Cicit Oma. Bayi empat bulan yang dibawa ke bawah hujan malam itu. Dia juga nggak sebanding dengan nama itu?”

Oma menatapku lama. Lalu dia bilang, dengan suara yang sama tenangnya, sama dinginnya, sama seperti menyebut tolong ambilkan garam:

“Nama Rexton lebih tua dari kamu, Bianca. Dan akan lebih lama dari kamu. Dan dari anak itu.”


Aku nggak ingat bagaimana aku sampai di ruang tengah.

Aku ingat tangga. Aku ingat Duchess Kedua yang mengikutiku, entah kenapa, dengan langkah-langkah kecil yang berat. Aku ingat karpet Persia di bawah kakiku.

Aku berhenti di tengah karpet itu. Di depan sofa krem. Di tempat yang sedikit lebih pudar dari sekelilingnya.

Lalu aku berlutut.

Aku nggak tahu kenapa. Lututku menyentuh karpet itu sebelum aku sempat berpikir. Di tempat yang sama. Persis di tempat yang sama. Tempat seorang laki-laki dengan kemeja biru tua yang lengannya digulung sampai siku berlutut lima tahun lalu, dan memohon satu kalimat.

Karpet itu dingin di bawah lututku.

Aku menatap sofa krem di depanku. Kosong. Tempat aku duduk malam itu. Tempat Mama duduk di sampingku dan mengusap punggungku.

Dari sini, dari karpet ini, sofa itu terlihat sangat tinggi. Sangat jauh.

Aku nggak pernah tahu.

Lima tahun aku nggak pernah tahu seperti apa rasanya berlutut di sini dan menatap ke atas, ke perempuan yang diam.

Sekarang aku tahu.

Setengahnya.


“Non.”

Aku mendongak.

Bi Sumi berdiri di ambang ruang makan. Perempuan tua, kepala pelayan rumah ini sejak sebelum aku lahir. Daster cokelat. Rambut putih yang dikonde. Matanya basah.

“Non Bianca,” bisiknya. “Bibi minta maaf.”

“Bi…”

“Pagi itu. Bibi yang bilang ke Non. Ibu yang suruh. Bibi nggak berani nolak.” Dia melangkah mendekat. Pelan. “Tapi Bibi juga yang angkat telepon kedua. Yang Ibu nggak tahu. Waktu Ibu lagi mandi.”

Aku menatapnya.

“Mas Adrian telepon lagi. Bibi yang angkat.” Bi Sumi berlutut di sampingku, di atas karpet itu, dengan lutut tuanya yang berderit. “Dia nangis, Non. Laki-laki itu nangis di telepon. Dia bilang Neng kecil nggak mau minum susu dari botol, udah dua belas jam, badannya mulai panas. Dia tanya cara bikin Neng kecil mau minum. Dia bilang dia udah coba semuanya.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Bibi bilang… Bibi bilang coba susunya diangetin lebih anget, kayak suhu badan. Coba pakai sendok kecil. Coba gendong sambil jalan-jalan, jangan diem. Terus Bibi bilang…” Bi Sumi menunduk. “Bibi bilang Non masih tidur. Bibi nggak berani bilang yang lain.”

“Terus?”

“Terus dia bilang makasih, Bi. Terus dia bilang…” Bi Sumi menarik napas. “Dia bilang, Bi, tolong bilang ke Bianca, Elea sehat. Bilang aku jaga dia. Bilang aku nggak akan biarin dia kenapa-kenapa. Kalau suatu hari Bianca mau ketemu, aku nggak akan halangin.“

Ruang tengah itu sunyi.

“Bibi nggak pernah bilang ke Non,” bisik Bi Sumi. “Ibu bilang jangan. Lima tahun Bibi simpan. Maafin Bibi, Non. Maafin Bibi.”

Kalau suatu hari Bianca mau ketemu, aku nggak akan halangin.

Lima tahun lalu, dia bilang itu.

Lima tahun lalu, dia membuka pintu. Dan aku nggak pernah tahu pintu itu terbuka. Dan ketika aku nggak pernah datang, pintu itu pelan-pelan tertutup. Dan dikunci. Dan menjadi syarat nomor tujuh.

Radius lima puluh meter.

Aku menangis di atas karpet Persia, dengan Bi Sumi yang berlutut di sampingku dan memeluk bahuku dengan tangan tua yang gemetar.


Aku keluar dari rumah Menteng jam dua belas malam.

Aku nggak membawa apa-apa. Nggak album foto. Nggak barang-barang dari kamarku yang dulu. Nggak apa-apa.

Aku cuma berhenti di ambang pintu kayu jati setinggi tiga meter, dan menoleh ke belakang. Sekali.

Mama berdiri di tangga. Gaun tidur sutra biru muda. Wajah tanpa riasan. Tangan yang mencengkeram pegangan tangga.

“Bianca,” katanya. “Sayang. Mama cuma mau kamu selamat.”

Aku menatapnya.

“Aku tahu, Ma,” kataku. “Itu yang paling susah dimaafin.”

Aku menutup pintu.


Di luar, hujan turun.

Tentu saja hujan turun.

Pak Satpam muda berlari dengan payung ke arahku. Aku menggeleng. Aku berjalan ke mobilku di bawah hujan, tanpa payung, kemeja putihku basah seketika, rambutku menempel di wajah.

Aku masuk ke mobil. Aku menyalakan mesin.

Aku nggak menyetir ke apartemenku di Sudirman.

Aku menyetir ke selatan. Ke Kebayoran.

Aku nggak tahu alamatnya. Aku nggak pernah mencarinya, karena syarat nomor tujuh, karena aku takut kalau aku tahu, aku nggak akan bisa menahan diri.

Tapi Tasya tahu. Tasya tahu semua hal. Dan di lampu merah Blok M, aku mengirim pesan ke Tasya, jam dua belas lewat lima belas malam:

Alamat rumah Dr. Renaldi.

Balasan datang dalam sepuluh detik. Tasya, yang nggak pernah tidur.

Jl. Wijaya XIII No. 17, Kebayoran Baru. Pagar hitam, ada pohon mangga di halaman belakang. Bu, Ibu nggak apa-apa?

Lalu, lima detik kemudian:

Bu, hujan deras. Hati-hati di jalan.

Aku menatap pesan itu.

Hati-hati di jalan.

Aku menyetir ke Wijaya.