Chapter Five

Tiga Jam di Lobi

POV: Adrian


“Papa, Jakarta panas.”

“Iya, Sayang.”

“Panasnya kayak di dalam oven. Kayak waktu Om Bayu bikin pizza terus lupa dimatiin.”

“Iya, Sayang.”

“Papa, Elea mau balik ke Oxford.”

“Kita baru turun dari pesawat dua puluh menit, Elea.”

Elea menatapku dari kursi belakang mobil jemputan hotel dengan ekspresi yang sangat serius, ekspresi yang dia warisi entah dari siapa, karena aku yakin wajahku nggak pernah sesombong itu. Pipinya merah. Poninya lepek menempel di dahi. Ransel kelincinya dipeluk erat di pangkuan seperti perisai.

“Dua puluh menit itu udah lama,” katanya.

Di kursi depan, Bayu menoleh dengan wajah penuh simpati palsu. “Elea, Om setuju sama kamu. Om juga mau balik ke Oxford. Di Oxford nggak ada yang nyuruh Om bawa tiga koper sekaligus.”

“Om Bayu cuma bawa satu koper.”

“Satu koper Om, satu koper Papa kamu, satu koper isi boneka kamu. Itu tiga.”

“Boneka Elea nggak berat.”

“Elea, ada empat belas boneka di dalam koper itu.”

“Lima belas,” koreksi Elea. “Om Bayu lupa Mr. Snuggles.”

Bayu menatapku dengan tatapan orang kalah. “Mas. Anakmu makin hari makin jadi lawyer.”

“Dari dulu,” kataku.

Aku menatap keluar jendela. Jakarta. Jalan tol yang macet, gedung-gedung tinggi yang berdiri berdesakan di bawah langit kelabu, papan reklame raksasa di kiri-kanan jalan. Salah satunya, di persimpangan Semanggi, memajang gambar mal dengan atrium kaca dan air mancur menari.

REXTON GRAND NUSANTARA. Coming Soon. The Future of Living.

Di sudut bawah papan reklame itu, logo Rexton Group, huruf R berwarna emas yang dililit daun.

Aku menatap logo itu sampai mobil melewatinya.

Lima tahun lalu, aku meninggalkan kota ini di kursi belakang taksi dengan dangdut koplo menggelegar dan bayi empat bulan di dadaku. Sekarang aku kembali di kursi belakang mobil hotel bintang lima, dengan kontrak dua tahun bernilai lebih besar dari gaji tujuh tahunku dulu di Rexton, dan seorang anak lima tahun yang protes soal cuaca.

Nggak ada yang tahu bahwa tanganku dingin.


Hotel Arunaya berdiri di Jalan Thamrin, empat puluh lantai kaca dan baja dengan lobi setinggi tiga lantai yang dipenuhi lampu kristal. Hallworth Capital memesan suite di lantai tiga puluh delapan untuk kami selama dua minggu pertama, sebelum rumah yang kusewa di Kebayoran selesai disiapkan.

Mobil berhenti di depan lobi. Petugas hotel membuka pintu. Udara dingin dari dalam langsung menyergap, dan Elea mendesah lega seperti orang yang baru keluar dari padang pasir.

Lalu aku melihatnya.

Bukan dia. Belum. Tapi aku melihat tanda-tandanya.

Dua orang laki-laki berjas dengan name tag emas berlogo Rexton berdiri kaku di dekat pintu masuk. Tiga orang wartawan dengan kamera yang berpura-pura nggak sedang menunggu siapa-siapa di sofa lobi. Seorang perempuan muda berambut sebahu dengan kemeja merah muda yang terus-menerus melirik ponselnya dan melirik pintu masuk bergantian, dengan kegelisahan yang hampir lucu.

Dan di tengah lobi, di sofa beludru hijau tua yang menghadap pintu masuk, duduk tegak seperti patung, seorang perempuan dengan setelan putih gading dan lipstik merah.

Langkahku nggak berhenti. Aku memastikan langkahku nggak berhenti.

Tapi untuk satu detik yang sangat panjang, aku melihatnya.

Lima tahun membuatnya berubah. Rambutnya yang dulu selalu tergerai berantakan sekarang dicepol rendah dan rapi. Wajahnya lebih tirus. Tulang pipinya lebih tajam. Bibirnya, bibir yang dulu selalu polos tanpa warna karena dia bilang lipstik bikin dia nggak bisa makan kerupuk dengan tenang, sekarang merah tua, merah yang tegas dan dingin dan sama sekali bukan warna perempuan yang kukenal.

Dan dia masih cantik.

Itu yang paling kubenci. Lima tahun aku membayangkan pertemuan ini. Dalam bayanganku, dia akan terlihat lebih tua, lebih lelah, lebih kecil. Seolah kesalahannya akan tertulis di wajahnya. Seolah dunia punya keadilan yang sederhana: orang yang berbuat jahat akan terlihat jahat.

Tapi dunia nggak sesederhana itu. Perempuan yang diam saja waktu aku berlutut di depannya duduk di lobi hotel bintang lima dengan setelan yang harganya bisa membiayai sewa flat Cowley-ku selama setahun, dan dia secantik hari pertama aku melihatnya di lift Rexton Tower, sepuluh tahun lalu, waktu dia menjatuhkan kopinya ke sepatuku dan bilang “Maaf, maaf, maaf” tiga kali dengan wajah merah.

Dia berdiri waktu melihatku.

Aku belok kiri. Ke arah meja resepsionis.


“Selamat siang, Pak Renaldi. Selamat datang di Arunaya.” Resepsionisnya perempuan muda dengan senyum yang terlatih. “Suite Bapak sudah siap. Ehm…” Dia melirik ke arah lobi. Suaranya turun. “Pak, ada tamu yang sudah menunggu Bapak sejak jam sebelas. Ibu Bianca Rexton, dari—“

“Saya tahu dia dari mana.”

“Beliau minta waktu sebentar untuk menyambut Bapak secara resmi.”

Aku menandatangani kartu registrasi tanpa menoleh. “Apa dia punya janji?”

Resepsionis itu berkedip. “Janji, Pak?”

“Janji temu. Dengan saya. Hari ini.”

“Ehm… sepertinya nggak ada di sistem, Pak, tapi beliau—“

“Kalau begitu tolong sampaikan,” kataku, cukup keras untuk didengar sampai sofa beludru di tengah lobi, “bahwa Pak Renaldi hanya menerima tamu yang punya janji. Dan Ibu Rexton tidak punya.”

Lobi itu hening.

Aku mendengar bunyi rana kamera dari sofa wartawan. Satu kali. Dua kali. Aku mendengar perempuan berkemeja merah muda itu terkesiap kecil seperti tikus yang terinjak. Aku mendengar salah satu laki-laki berjas Rexton berdeham dengan canggung.

Aku nggak mendengar apa-apa dari sofa beludru.

“Bapak bisa langsung ke ruang tunggu VIP di lantai dua, Pak, sementara barang-barang Bapak dibawa ke atas,” kata resepsionis itu dengan suara yang sedikit gemetar. Dia jelas nggak dibayar cukup untuk ini.

“Terima kasih.”

Aku menggandeng tangan Elea dan berjalan ke lift tanpa menoleh ke tengah lobi.

Bayu menyusul di belakangku, menyeret koper boneka. Waktu pintu lift menutup, dia menatapku lama.

“Mas.”

“Jangan.”

“Aku cuma mau bilang—“

“Bay.”

Dia diam. Lalu, setelah lantai satu berganti jadi lantai dua, dia bergumam pelan, “Aku cuma mau bilang, itu tadi dingin banget. Kayak kulkas. Aku sampai merinding.”

Elea menarik-narik ujung kemejaku. “Papa. Tante yang di sofa itu siapa?”

“Bukan siapa-siapa, Sayang.”

“Tantenya cantik.”

Aku nggak menjawab.


Aku membuatnya menunggu tiga jam.

Bukan karena aku sibuk. Ruang tunggu VIP Arunaya punya kursi kulit yang empuk, jendela besar menghadap Bundaran HI, dan mesin kopi yang bisa membuat dua puluh jenis minuman. Elea makan es krim vanila dua mangkuk. Bayu tertidur di sofa dengan mulut terbuka sambil memeluk Mr. Snuggles. Aku membaca dokumen teknis Grand Nusantara yang dikirim Hallworth, menandai empat belas halaman dengan catatan, dan menghabiskan dua cangkir kopi hitam yang rasanya kurang pahit.

Aku tahu dia masih di bawah. Petugas hotel melapor tiap jam, dengan nada yang makin lama makin seperti orang meminta tolong.

Ibu Rexton masih menunggu, Pak.

Ibu Rexton menolak pulang, Pak.

Ibu Rexton bilang beliau akan menunggu sampai Bapak turun, Pak. Ada wartawan yang mulai bertanya-tanya, Pak.

Aku membalas setiap laporan dengan kalimat yang sama. “Terima kasih. Saya belum selesai.”

Di jam ketiga, aku menutup dokumenku, dan berlutut di depan Elea.

“Sini, Sayang. Kepangnya udah berantakan.”

Elea memutar badannya di kursi dengan patuh, membelakangiku. Aku melepas ikat rambutnya yang sudah longgar, menyisir rambutnya dengan jari. Rambut cokelat gelap yang halus, sedikit bergelombang di ujung. Rambut ibunya.

Aku membagi rambut itu jadi dua. Lalu masing-masing jadi tiga bagian. Kanan ke tengah. Kiri ke tengah. Kanan ke tengah. Kiri ke tengah.

Empat tahun lalu, di flat Cowley, aku menonton tutorial YouTube berjudul Easy French Braid for Dads sebanyak tiga puluh dua kali sambil berlatih di kepala boneka bekas dari charity shop. Kepangan pertamaku untuk Elea miring ke kiri seperti menara Pisa, dan dia menangis karena rambutnya ketarik. Kepangan keseratusku sudah lumayan. Kepangan keseribuku dipuji guru TK-nya di Summertown, yang bertanya apakah istriku penata rambut.

Aku bilang, Saya nggak punya istri.

Guru itu minta maaf. Aku bilang nggak apa-apa.

“Papa,” kata Elea, dengan kepala tertunduk sementara aku mengepang.

“Hm?”

“Tante di bawah masih nunggu?”

Tanganku berhenti sebentar. Lalu lanjut. Kanan ke tengah. Kiri ke tengah.

“Kenapa kamu tanya gitu?”

“Om satpam yang tadi bilang tantenya nunggu dari siang. Kasihan. Nanti tantenya laper.” Dia diam sebentar. “Elea kalau nunggu lama jadi laper.”

“Tante itu bisa beli makan sendiri, Sayang.”

“Tapi kalau nunggunya sambil sedih, makanannya nggak enak.”

Aku mengikat ujung kepangan kanan dengan karet rambut merah. Lalu mulai kepangan kiri.

“Dari mana kamu tahu tantenya sedih?”

Elea mengangkat bahu kecilnya. “Mukanya kayak Elea waktu Mr. Snuggles ketinggalan di kereta.”

Aku nggak menjawab. Aku menyelesaikan kepangan kiri. Kuikat dengan karet merah. Lalu, seperti setiap hari, aku mengambil jepit kupu-kupu perak dari saku kemejaku, tempat aku menyimpannya setiap kali melepas rambut Elea, dan menyelipkannya di atas telinga kanannya.

Batu biru kecil di tengah sayapnya berkilau di bawah lampu.

“Udah. Cantik.”

“Elea selalu cantik,” kata anakku dengan percaya diri penuh, lalu meloncat turun dari kursi.

Aku mengusap kepalanya. Aku menyentuh dahinya sekilas dengan punggung tangan, kebiasaan yang nggak bisa kuhentikan sejak dia demam tiga puluh delapan derajat di umur sepuluh bulan. Normal. Nggak panas.

“Papa sayang Elea.”

“Elea tahu,” katanya. “Ayo, Pa. Elea mau lihat kamar. Om Bayu bilang ada bathtub-nya.”

Aku membangunkan Bayu dengan menendang kakinya pelan. Dia terbangun dengan kaget dan berkata “Saya nggak tidur, Prof!” ke udara kosong.


Kami turun ke lobi jam tiga lewat dua puluh.

Bukan karena aku mau menemuinya. Lift ke lantai tiga puluh delapan memang hanya bisa diakses dari lobi utama dengan kartu khusus. Itu yang kubilang ke diriku sendiri.

Dia masih di sana.

Masih di sofa beludru hijau tua. Masih duduk tegak. Tapi tiga jam membuat sesuatu bergeser. Cepol rambutnya sedikit longgar, ada beberapa helai yang lepas di tengkuk. Kakinya, dengan sepatu hak tinggi hitam, disilangkan dengan kaku, dan aku bisa melihat dari cara dia memindahkan berat badannya bahwa kakinya sakit. Perempuan berkemeja merah muda itu duduk di sampingnya, memegang sebotol air mineral yang nggak diminum.

Wartawannya tinggal satu. Yang paling sabar. Atau yang paling haus berita.

Waktu melihatku keluar dari lift VIP, dia berdiri lagi.

Kali ini aku nggak belok.

Aku berjalan lurus, menggandeng tangan Elea, melewati tengah lobi, ke arah lift umum di seberang. Jalurku melewati sofa itu. Aku tahu. Aku nggak mengubahnya.

“Dr. Renaldi.”

Suaranya.

Lima tahun aku nggak mendengar suara itu. Lebih rendah dari yang kuingat. Lebih tegas. Suara perempuan yang terbiasa membuat orang lain diam waktu dia bicara.

“Selamat datang di Jakarta,” katanya. Formal. Tenang. “Atas nama Rexton Group, saya—“

Dia berhenti.

Dia berhenti karena Elea menoleh.

Anakku, yang selalu penasaran, yang selalu nggak bisa melewati sesuatu yang menarik tanpa menatapnya, berhenti melangkah, menarik tanganku, dan menoleh ke arah suara itu. Dengan mata almond yang bulat dan bersih. Dengan kepangan dua yang baru kubuat. Dengan jepit kupu-kupu perak berkilau di atas telinga kanannya.

Dan aku melihat Bianca menatap jepit itu.

Aku melihat warna hilang dari wajahnya. Bukan pelan-pelan. Seketika. Seperti seseorang mencabut kabel. Bibir merahnya sedikit terbuka. Tangannya, yang tadi terulur sopan untuk berjabat tangan, membeku di udara.

“Tante cantik,” kata Elea, polos, sambil tersenyum.

Bianca menatapnya. Napasnya terdengar. Pendek. Tercekat.

Lalu, sangat pelan, nyaris tanpa disadarinya sendiri, kakinya maju satu langkah. Tangannya yang membeku itu bergerak, turun sedikit, ke arah Elea, ke arah kepala kecil itu, ke arah kupu-kupu perak itu.

Aku bergerak lebih cepat.

Satu langkah ke samping. Tanganku menarik Elea ke belakang tubuhku, menyembunyikannya di balik kakiku. Elea terkesiap kecil karena kaget. Bayu, di belakang kami, berhenti menyeret koper.

Aku menatap Bianca. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku menatap mata perempuan itu dari jarak satu meter.

Dan aku mengucapkan kalimat yang sudah kusimpan selama lima tahun. Pelan. Tanpa menaikkan suara sedikit pun. Cukup pelan supaya wartawan di sofa sana nggak bisa mendengar, tapi cukup jelas supaya setiap katanya masuk ke telinganya dan tinggal di sana.

“Kamu udah buang dia.”

Bianca nggak bergerak.

“Kamu nggak punya hak lihat dia lagi.”

Tangannya yang terulur jatuh perlahan ke sisi tubuhnya.

Aku berbalik. Aku menggandeng Elea, yang terus menoleh ke belakang dengan bingung, ke arah lift umum. Aku menekan tombolnya. Pintu terbuka. Kami masuk. Bayu masuk dengan koper-koper. Pintu mulai menutup.

Di celah pintu yang makin sempit, aku melihatnya untuk terakhir kali hari itu.

Bianca Rexton, CEO Rexton Malls, wajah paling memesona di industri ritel Asia Tenggara, berdiri sendirian di tengah lobi Hotel Arunaya. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Matanya menatap lantai.

Lalu pintu lift tertutup.


“Papa,” kata Elea di dalam lift, menarik ujung kemejaku. “Kenapa Elea nggak boleh salaman sama tante itu?”

Aku menatap angka lantai yang berganti di atas pintu. Lima. Enam. Tujuh.

“Karena tante itu orang asing, Sayang.”

“Tapi tante itu kayak kenal Elea.”

Sepuluh. Sebelas. Dua belas.

“Dia nggak kenal kamu.”

“Tapi matanya…” Elea berhenti, mencari kata. “Matanya kayak mau nangis.”

Bayu, di pojok lift, menatap langit-langit dengan sangat serius, seolah langit-langit lift itu karya seni yang luar biasa.

Lima belas. Enam belas.

Aku berlutut di dalam lift supaya mataku sejajar dengan mata anakku. Aku membetulkan letak jepit kupu-kupu di rambutnya, yang sedikit miring waktu aku menariknya tadi.

“Elea,” kataku pelan. “Papa minta satu hal, ya. Kalau ketemu tante itu lagi, kamu nggak boleh ngobrol sama dia. Nggak boleh dekat-dekat. Bisa?”

Elea menatapku lama dengan mata almond yang bulat itu. Mata ibunya.

“Kenapa?”

Aku nggak punya jawaban yang bisa kuberikan kepada anak lima tahun.

“Papa percaya Elea?” tanya Elea tiba-tiba, dengan suara kecil. Ritual kami. Di tempat yang salah, di jam yang salah.

Aku menelan sesuatu yang tajam.

“Selalu.”

“Ya udah,” katanya, mengangguk serius. “Elea juga percaya Papa. Elea nggak dekat-dekat.”

Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh delapan. Elea berlari keluar mencari bathtub. Bayu menyeret koper bonekanya sambil bergumam soal punggungnya.

Aku berdiri di dalam lift sebentar lagi, sendirian.

Lima tahun aku membayangkan momen tadi. Lima tahun aku menyusun kalimat itu, memolesnya, menyimpannya seperti pisau di sarung. Aku membayangkan rasanya akan seperti menang.

Aku menatap tanganku. Tangan yang tadi menarik Elea ke balik tubuhku.

Tanganku gemetar.

Aku mengepalkannya, keluar dari lift, dan menutup pintu suite di belakangku.