Chapter Thirty Three

Sayur Asem

POV: Bianca


“Neng, ikut Bibi ke Bandung.”

Bi Imah mengatakannya hari Senin sore, di telepon, dengan nada yang bukan pertanyaan.

“Ke Bandung, Bi?”

“Bibi mau pulang kampung tiga hari. Ada pengajian di rumah. Terus Bibi mau nengok makam.” Jeda. “Kamu ikut.”

“Bi, saya kerja—“

“Kamu CEO. Kamu bisa libur. Bibi lihat di TV, CEO-CEO itu sering libur ke Bali.”

“Itu bukan libur, Bi, itu—“

“Kamu mau belajar masak sayur asem atau nggak?”

Aku diam.

Hari Sabtu kemarin, setelah kepangan dan kontrak dan lima detik yang sampai di detik keempat, waktu aku pamit di dapur, aku bertanya pada Bi Imah dengan suara pelan, supaya Adrian nggak dengar: Bi, sayur asem yang Adrian suka. Bisa ajarin saya?

Bi Imah menatapku lama waktu itu. Lalu dia bilang, Nanti. Bibi pikirin.

Ternyata ini yang dia pikirkan.

“Sayur asem itu nggak bisa dipelajari di dapur Jakarta,” lanjut Bi Imah. “Asam jawanya beda. Kacang panjangnya beda. Air di Bandung juga beda. Kalau mau masak sayur asem yang Adrian suka, harus belajar di tempat Adrian pertama kali makan.”

“Di rumah Bibi.”

“Di rumah Bibi.”

Aku menatap jendela kantor. Jakarta di sore hari. Langit kelabu. Gedung-gedung tinggi.

“Adrian tahu?”

“Adrian nggak perlu tahu,” kata Bi Imah. “Bibi bilang Bibi pulang kampung. Bibi nggak bilang bawa siapa.”


Rumah Bi Imah ada di gang kecil di belakang pasar Cicadas.

Rumah satu lantai bercat hijau muda yang sudah pudar, dengan teras kecil berlantai tegel kuning dan pot-pot bunga kertas yang berjajar di pagar bambu. Pintu kayu dengan kaca buram. Atap genteng yang di beberapa tempat ditambal seng.

Rumah tempat Adrian tumbuh. Dari umur sembilan tahun sampai umur dua puluh dua, waktu dia lulus ITB dan pindah ke Jakarta.

Aku berdiri di depan pagar bambu itu dengan tas kecil di bahu dan nggak bisa bergerak.

Lima tahun bersama dia, tiga setengah tahun pacaran dan satu setengah tahun menikah, aku nggak pernah ke sini. Adrian mengajakku tiga kali. Tiga kali aku bilang nanti. Karena ada rapat. Karena ada acara keluarga. Karena Mama bilang Bandung macet dan aku nggak perlu ke sana. Karena, kalau aku jujur, aku takut melihat rumah kecil ini dan merasa aneh.

Sekarang aku berdiri di depannya, dan yang kurasakan bukan aneh.

Yang kurasakan adalah malu. Karena aku pernah merasa terlalu baik untuk tempat ini.

“Masuk, Neng,” kata Bi Imah, membuka pintu kayu. “Rumahnya kecil. Tapi hangat.”


Rumah itu memang kecil. Dan memang hangat.

Ruang tamu dengan kursi rotan dan meja kaca. Foto-foto berbingkai di dinding. Foto Bi Imah muda dengan almarhum suaminya. Foto pernikahan sederhana, laki-laki kurus berkacamata dan perempuan berkerudung putih yang tersenyum malu-malu.

“Bapak sama Ibunya Adrian,” kata Bi Imah, mengikuti arah pandangku. “Kakak Bibi sama suaminya. Meninggal waktu Adrian sembilan tahun. Kecelakaan bus di Nagreg.”

Aku menatap foto itu. Laki-laki kurus berkacamata. Rahang yang tegas. Mata yang tenang.

Adrian punya mata ayahnya.

Lalu foto-foto lain. Adrian kecil dengan seragam SD, rambut dipotong terlalu pendek, kacamata yang terlalu besar untuk wajahnya. Adrian remaja memegang piala lomba sains. Adrian di depan gedung kampus ITB dengan toga, Bi Imah di sampingnya menangis. Adrian dan aku. Di pernikahan kami. Foto resmi. Aku dengan kebaya putih. Dia dengan jas pinjaman.

Bi Imah membingkainya dan menggantungnya di ruang tamu. Di tempat yang paling tengah.

Lima tahun setelah aku membuang keponakannya, Bi Imah nggak pernah menurunkan foto itu.

“Bi,” bisikku. “Kenapa foto ini masih di sini?”

Bi Imah menatap foto itu. Lalu menatapku.

“Karena Adrian bahagia di foto itu,” katanya. “Bibi nggak mau ngilangin foto waktu Adrian bahagia.”


Aku tidur di kamar Adrian.

Kamar kecil di belakang, dengan jendela yang menghadap kebun pisang tetangga. Kasur tipis di atas dipan kayu. Lemari kayu dengan cermin retak di pintu. Meja belajar dengan lampu belajar tua dan rak berisi buku-buku pelajaran SMA yang sudah menguning.

Di dinding di atas meja belajar, ditempel dengan selotip yang sudah menguning, ada selembar kertas. Tulisan tangan anak SMA. Huruf A yang sudah miring ke kanan.

Target: 1. Lulus ITB. ✓ 2. Kerja di Jakarta. ✓ 3. Kuliah S2 di luar negeri. 4. Beliin Bi Imah rumah yang atapnya nggak bocor. 5. Nikah sama perempuan yang baik. Yang bikin Bi Imah senang.

Nomor empat belum dicentang. Nomor lima dicentang. Dengan pulpen yang berbeda. Pulpen yang lebih baru. Mungkin ditambahkan waktu dia pulang ke sini setelah menikah, untuk mengunjungi Bi Imah. Kunjungan yang nggak pernah kuikuti.

Aku menatap centang itu.

Nikah sama perempuan yang baik. Yang bikin Bi Imah senang.

Dia mencentangnya. Untuk aku.

Aku berbaring di kasur tipis itu malam itu, menatap langit-langit yang dicat putih dengan noda rembesan air di sudut, dan nggak bisa tidur.

Kasur itu keras. Bantalnya tipis dan wangi sabun cuci murah. Dari luar jendela, terdengar suara jangkrik dan katak dan sesekali motor yang lewat di gang.

Aku memikirkan anak laki-laki sembilan tahun yang tidur di kamar ini setelah pemakaman orang tuanya. Yang menulis daftar target di dinding. Yang mencentang nomor lima dengan pulpen baru setelah menikah denganku.

Aku menangis. Pelan. Ke bantal tipis yang wangi sabun cuci murah.


Jam empat pagi, Bi Imah membangunkanku.

“Bangun, Neng. Ke pasar.”

“Jam empat, Bi?”

“Sayur paling segar jam segini. Kalau jam tujuh, udah dipilih-pilihin orang.”

Pasar Cicadas jam empat pagi seperti dunia lain. Gelap, kecuali lampu-lampu petromaks dan bohlam kuning yang tergantung di kios-kios. Lantai becek dan licin. Bau sayur segar, ikan, daging, rempah, dan sesuatu yang busuk yang nggak bisa kuidentifikasi. Suara orang tawar-menawar dalam bahasa Sunda yang cepat dan nggak kumengerti.

Aku memakai sandal jepit katak. Bi Imah yang memberikannya padaku di rumah, biar nggak licin, Neng, sepatu orang Jakarta nggak tahan pasar.

Bi Imah berjalan di depanku dengan langkah yang cepat dan pasti, keranjang rotan di lengan, menyapa setiap pedagang dengan nama.

“Ceu Enok, kacang panjangnya seger?”

“Seger, Ceu Imah! Baru dipetik subuh! Eh, ini siapa? Cantik banget!”

Bi Imah menoleh padaku. Lalu menoleh ke Ceu Enok. Lalu dengan sangat santai, dengan nada seperti menyebut harga cabai:

“Ini mantu.”

Aku berhenti di tengah pasar. Di antara tumpukan kacang panjang dan labu siam.

Bi Imah nggak menoleh. Dia terus menawar harga kacang panjang dengan Ceu Enok, seolah dia nggak baru saja mengucapkan sesuatu yang membuat lututku lemas.

“Bi,” bisikku waktu kami berjalan ke kios berikutnya. “Tadi Bibi bilang apa?”

“Bilang apa?” Bi Imah memilih tomat. Satu per satu. Menekannya dengan jempol. “Bibi bilang kamu mantu. Emang bukan?”

“Bi, saya… kami udah cerai. Lima tahun. Saya…”

Bi Imah berhenti memilih tomat. Dia menatapku. Di bawah lampu bohlam kuning yang berayun pelan.

“Neng,” katanya. “Bibi udah tua. Bibi nggak ngerti surat-surat cerai. Yang Bibi ngerti, kamu ibunya cucu Bibi. Kamu yang Adrian pilih. Kamu yang bikin Adrian bahagia di foto itu. Kamu yang sekarang bangun jam empat pagi pakai sandal jepit katak ke pasar Cicadas, buat belajar masak sayur asem buat dia.”

Dia menyerahkan tomat yang sudah dipilih ke pedagang.

“Itu namanya mantu,” kata Bi Imah. “Surat-surat itu urusan pengadilan. Bibi urusannya dapur.”


Kami pulang jam enam dengan keranjang penuh. Kacang panjang. Labu siam. Jagung manis. Melinjo dan daun melinjo. Kacang tanah. Asam jawa yang masih dalam bungkus daun pisang. Gula merah. Lengkuas. Daun salam.

Dan aku mulai belajar.

“Asam jawanya jangan langsung dicemplungin, Neng. Direndam air panas dulu. Diremas-remas. Terus disaring. Biar bijinya nggak ikut.”

“Begini, Bi?”

“Jangan kebanyakan airnya. Itu bukan jus.”

Aku meremas asam jawa dengan tangan. Lengket. Cokelat. Wangi asam yang tajam.

“Bumbunya diulek. Bukan diblender. Adrian bisa ngerasain kalau diblender.”

“Masa, Bi?”

“Beneran. Waktu SMA, Bibi pernah coba pakai blender karena tangan Bibi sakit. Dia makan satu sendok, terus bilang, Bi, kok rasanya kayak sayur asem restoran?“

Aku tertawa. Lalu mencoba mengulek. Cabai merah. Bawang merah. Bawang putih. Kemiri. Terasi.

Cobeknya terlalu berat. Ulekannya licin. Cabainya meloncat keluar dua kali. Satu mengenai mataku.

“Aduh! Bi! Mataku!”

“Ya Allah, Neng! Jangan digosok! Cuci! Cuci pakai air!”

Aku berlari ke kamar mandi dengan mata yang terbakar dan air mata yang mengalir deras. Bukan air mata sedih. Air mata cabai.

Waktu aku kembali, mata merah dan bengkak, Bi Imah sudah mengulek bumbunya sendiri. Dia menatapku dengan wajah yang menahan tawa.

“Neng,” katanya. “Kamu CEO, kan?”

“Iya, Bi.”

“CEO kalah sama cabai.”

“Cabainya curang, Bi. Dia loncat.”

Bi Imah tertawa sampai harus duduk di bangku dapur. Aku ikut tertawa. Dengan mata yang masih perih.


Percobaan pertama, sayur asemnya terlalu asam. Aku memasukkan seluruh air asam jawa sekaligus.

Percobaan kedua, terlalu manis. Aku salah mengira gula merah yang sudah diserut sebagai bumbu lain, dan memasukkan semuanya.

Percobaan ketiga, terlalu asin. Bi Imah menyimpan garam dan gula pasir di toples kaca yang sama bentuknya, dan aku mengambil toples yang salah.

“Neng,” kata Bi Imah, mencicipi percobaan ketiga. Wajahnya mengerut. “Ini kayak air laut.”

“Maaf, Bi.”

“Nggak apa-apa. Bibi juga dulu begitu. Waktu pertama kali masak buat suami Bibi, Bibi masukin garam satu toples. Dia makan semuanya. Habis itu minum air tiga liter.”

“Dia makan semuanya?”

Bi Imah tersenyum. Senyum yang sedih dan hangat.

“Laki-laki yang sayang sama kamu,” katanya, “akan makan masakan kamu walaupun rasanya kayak air laut.”

Percobaan keempat, hari ketiga, jam sepuluh pagi.

Aku memasukkan air asam jawa sedikit demi sedikit, sambil mencicipi. Gula merah sedikit demi sedikit. Garam, dari toples yang benar, setelah Bi Imah menempelkan label GARAM dan GULA di masing-masing toples dengan selotip dan spidol.

Bi Imah mencicipi.

Dia diam lama.

Lalu dia mengangguk.

“Belum seenak punya Bibi,” katanya. “Tapi udah sayur asem.”

Aku memeluknya. Di dapur kecil itu. Dengan celemek yang terlalu besar dan tangan yang bau terasi dan mata yang masih sedikit merah karena cabai kemarin.

Bi Imah memelukku balik. Tangannya mengusap punggungku. Naik-turun. Naik-turun.

Bukan seperti tangan Mama. Tangan Mama halus dan wangi parfum Prancis.

Tangan Bi Imah kasar dan wangi bawang. Dan hangat. Jauh lebih hangat.


Siang hari ketiga, sebelum kembali ke Jakarta, Bi Imah mengajakku ke pemakaman.

Taman pemakaman umum di pinggir kota. Bukit kecil dengan pohon-pohon kamboja yang tinggi. Nisan-nisan putih berjajar. Rumput liar tumbuh di sela-selanya.

Bi Imah berjalan di depanku dengan keranjang kecil berisi bunga tabur dan sebotol air.

Kami berhenti di dua nisan yang berdampingan. Nisan putih yang sederhana, dengan nama yang sudah sedikit pudar.

Rahmat Renaldi.

Siti Aminah.

Tanggal wafat yang sama. Dua puluh empat tahun lalu.

Bi Imah berlutut. Dia mulai mencabuti rumput liar di sekitar nisan. Pelan. Dengan tangan tua yang sudah melakukan ini ratusan kali.

Aku berlutut di sampingnya. Dan ikut mencabuti rumput.

Kami bekerja dalam diam. Bi Imah di nisan kiri. Aku di nisan kanan. Rumput liar. Daun kering. Ranting kecil. Lalu Bi Imah menuangkan air ke kedua nisan, dan aku membersihkan debu dan lumut dari huruf-huruf nama dengan tisu basah yang kubawa di tas.

Siti Aminah.

Ibu Adrian. Perempuan berkerudung putih yang tersenyum malu-malu di foto pernikahan sederhana di ruang tamu.

Aku nggak pernah mengenalnya. Dia meninggal waktu aku berumur enam tahun, di kecelakaan bus di Nagreg, waktu anaknya sembilan tahun.

Bi Imah menaburkan bunga. Mawar merah dan putih. Melati. Pandan.

Lalu dia berdoa. Pelan. Dengan bibir yang bergerak tanpa suara.

Aku nggak tahu doa apa yang harus kuucapkan. Aku nggak tahu apakah aku berhak berdoa di sini.

Jadi aku cuma bicara. Dalam hati. Ke nisan putih di depanku.

Bu. Saya Bianca. Saya… saya mantan istri anak Ibu.

Saya yang buang dia. Lima tahun lalu. Dia berlutut di depan saya dan saya diam. Saya biarin dia pergi sama anak kami, di bawah hujan, malam-malam. Dan saya nggak pernah nyari.

Anak Ibu besarin cucu Ibu sendirian. Di negeri orang. Lima tahun. Dia nggak pernah bilang apa-apa yang jelek soal saya ke cucu Ibu. Dia cuma bilang saya di bintang.

Dia orang baik, Bu. Ibu pasti tahu. Ibu yang besarin dia sampai sembilan tahun. Bi Imah yang lanjutin. Kalian berdua bikin dia jadi orang yang paling baik yang pernah saya kenal.

Dan saya buang dia.

Air mata jatuh. Ke nisan. Ke bunga mawar putih.

Saya minta maaf, Bu. Saya nggak minta Ibu maafin saya. Saya cuma mau Ibu tahu. Saya sekarang tahu siapa yang saya buang. Dan saya sayang dia. Lebih dari dulu. Jauh lebih dari dulu.

Saya akan jaga dia, Bu. Kalau dia izinin. Dan kalau dia nggak izinin, saya akan tetap jaga dia dari jauh. Saya janji.

Aku menyentuh nisan itu. Pelan. Dengan ujung jari yang masih berplester kupu-kupu.

Di sampingku, Bi Imah sudah berhenti berdoa. Dia menatapku.

Lalu dia mengulurkan tangan, dan mengusap kepalaku. Sekali. Seperti mengusap kepala anak kecil.

“Mereka dengar, Neng,” katanya pelan. “Bibi yakin. Mereka dengar.”


Sabtu, kunjungan keempat.

Aku datang jam sepuluh dengan rantang empat susun. Rantang yang Bi Imah pinjamkan padaku di Bandung. Isinya sayur asem. Percobaan kelima. Dimasak tadi pagi jam lima di dapur apartemenku, dengan asam jawa dan kacang panjang dan labu siam yang kubawa dari pasar Cicadas.

Bi Imah nggak ikut kembali ke Jakarta bersamaku. Dia bilang mau tinggal dua hari lagi di Bandung. Biar dapur Jakarta kamu yang pegang hari Sabtu, Neng. Bibi udah bilang ke Adrian, Bibi nggak masak.

Jadi hari ini, nggak ada bubur kacang hijau. Nggak ada Bi Imah di dapur.

Cuma aku. Dan sayur asem percobaan kelima.

Adrian membuka pintu. Dia menatap rantang di tanganku. Lalu wajahku.

“Bi Imah bilang kamu ke Bandung,” katanya.

“Iya.”

“Tiga hari.”

“Iya.”

“Ke rumah.”

“Iya.”

Dia diam. Lalu dia bilang, dengan suara yang sedikit aneh, “Bi Imah juga bilang kamu ke makam.”

Aku menatapnya. “Bi Imah cerita?”

“Kemarin malam. Di telepon.” Dia menatap rantang di tanganku. Lalu menatapku lagi. Matanya di balik kacamata merah di sudut. “Dia bilang kamu nyabutin rumput. Pakai tangan. Bersihin nama Ibu pakai tisu basah.”

Aku nggak bisa menjawab.

“Kamu nggak pernah mau ke Bandung,” katanya pelan. “Dulu. Aku ajak tiga kali.”

“Aku tahu.”

“Kenapa sekarang?”

Aku menatapnya. Langsung.

“Karena sekarang aku tahu apa yang aku lewatin,” kataku. “Dan aku nggak mau lewatin lagi.”

Dia menatapku lama.

Lalu dia membuka pintu lebih lebar, dan minggir.

“Selamat datang di rumah,” kata pintu.


Elea langsung curiga.

“Tante bawa apa?”

“Sayur asem.”

“Nenek yang masak?”

“Tante yang masak.”

Elea menatap rantang itu. Lalu menatapku. Lalu menatap ayahnya. Lalu dia mendekat ke rantang, membuka tutupnya sedikit, dan mengendus.

“Baunya kayak punya Nenek,” katanya, setengah heran.

“Nenek yang ngajarin.”

“Di mana?”

“Di Bandung. Di rumah Nenek. Di kamar Papa waktu kecil.”

Elea menatapku dengan mata lebar. “Tante tidur di kamar Papa waktu kecil?”

“Iya.”

“Kasurnya keras?”

“Keras banget.”

“Ada daftar target Papa di dinding?”

Aku berhenti. “Elea tahu?”

“Papa pernah cerita. Waktu di Oxford. Papa bilang Papa nulis target waktu SMA. Terus Papa bilang nomor lima udah dicentang.” Elea menatapku. “Nomor lima apa, Tante?”

Di belakangku, Adrian berdeham. Keras.

“Elea,” katanya. “Siapin piring.”

“Tapi Papa, nomor lima—“

“Piring, Sayang.”

Elea menatap ayahnya. Lalu menatapku. Lalu dia tersenyum. Senyum yang penuh rahasia. Senyum yang dia warisi dariku.

“Oke,” katanya, dan berlari ke dapur.


Kami makan siang di meja makan kecil. Bertiga.

Pertama kalinya. Bertiga. Di meja yang sama. Dengan nasi putih dan ikan asin yang Adrian goreng sendiri dan sambal terasi yang Bi Imah tinggalkan di kulkas, dan sayur asem percobaan kelima di mangkuk besar di tengah meja.

Elea mencicipi duluan. Satu sendok kuah.

Wajahnya berubah. Dahinya berkerut. Bibirnya mengerucut.

“Tante,” katanya pelan. “Ini asin.”

Aku membeku.

Aku mengambil sendok, mencicipi. Dan aku tahu.

Terlalu asin. Bukan seperti air laut. Tapi asin. Jelas asin. Lebih asin dari yang kucicipi tadi pagi jam lima di apartemen.

Toples garam dan toples gula di apartemenku nggak punya label.

“Maaf,” bisikku. “Maaf, Elea. Tante salah toples. Tante… Tante kira itu gula…”

Wajahku panas. Mataku panas. Aku menatap mangkuk sayur asem itu. Tiga hari di Bandung. Pasar jam empat pagi. Cabai di mata. Empat percobaan gagal. Dan percobaan kelima, yang seharusnya berhasil, gagal karena aku lupa menempelkan label di toples garam.

Aku hampir menangis. Peraturan nomor satu. Aku menggigit bagian dalam pipiku.

Lalu aku mendengar bunyi sendok.

Adrian mengambil mangkuk kecilnya. Menyendok sayur asem dari mangkuk besar. Penuh. Kuah, kacang panjang, labu siam, jagung, melinjo.

Dan dia makan.

Satu sendok. Dua. Tiga.

Wajahnya nggak berubah. Nggak mengerut. Nggak meringis. Dia makan dengan tenang, seperti makan sayur asem paling enak di dunia.

“Papa,” kata Elea, menatap ayahnya dengan ngeri. “Itu asin.”

“Iya,” kata Adrian, dan menyendok lagi.

“Papa nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

Dia menghabiskan mangkuknya. Lalu dia menyendok lagi dari mangkuk besar. Penuh lagi.

Dan menghabiskannya juga.

Aku menatapnya. Aku nggak bisa bicara.

Laki-laki yang sayang sama kamu akan makan masakan kamu walaupun rasanya kayak air laut.

Dia menghabiskan tiga mangkuk. Lalu dia meminum dua gelas air putih. Lalu dia meletakkan sendoknya di mangkuk kosong.

“Kacang panjangnya pas,” katanya. “Nggak terlalu lembek. Labu siamnya juga. Asam jawanya…” Dia diam sebentar. “Asam jawanya kayak punya Bi Imah. Diremas pakai tangan. Bukan diblender.”

“Gimana kamu tahu?”

“Aku bisa ngerasain.” Dia menatapku. Matanya di balik kacamata merah. “Kayak waktu SMA. Bi Imah pernah pakai blender.”

Dia berdiri. Dia membawa mangkuknya ke wastafel.

Elea menatap ayahnya. Lalu menatapku. Lalu dia mengambil sendoknya lagi, dan makan satu sendok sayur asem. Wajahnya mengerut. Tapi dia menelannya.

“Elea juga makan,” katanya dengan wajah yang sangat berani. “Biar Tante nggak sedih.”


Elea pergi tidur siang jam setengah satu. Kunjungan dua jam hampir selesai.

Aku berdiri di wastafel dapur, mencuci rantang. Adrian berdiri di sampingku, mengeringkan piring.

Kami nggak bicara. Bunyi air. Bunyi piring. Bunyi kain lap di keramik.

Dapur itu kecil. Bahunya sesekali menyentuh bahuku waktu dia meraih piring.

“Kamu nggak perlu habisin semuanya,” kataku akhirnya. Pelan. Ke air di wastafel. “Itu asin. Kamu bisa sakit.”

“Aku nggak sakit.”

“Tiga mangkuk, Adrian.”

“Kamu masak tiga hari.”

Aku berhenti mencuci.

Aku menoleh padanya. Dia nggak menatapku. Dia mengeringkan piring yang sudah kering.

“Bi Imah cerita,” katanya. “Soal cabai di mata. Soal garam satu toples. Soal pasar jam empat pagi pakai sandal jepit katak.” Rahangnya bergerak. “Soal kamu nyabutin rumput di makam Ibu. Pakai tangan. Lama.”

Dia meletakkan piring.

“Kamu masak tiga hari,” ulangnya pelan. “Aku makan tiga mangkuk. Itu nggak seberapa.”

Aku menatapnya.

Lalu aku mematikan keran. Aku melepas sarung tangan karet. Aku mengeringkan tanganku di celemek.

Dan aku berbalik menghadapnya. Sepenuhnya. Di dapur yang kecil itu. Di depan lemari es yang penuh gambar perempuan tanpa wajah, dan di atasnya, paling tinggi, kontrak Elea dengan nomor delapan yang ditulis dengan pensil merah.

“Adrian.”

Dia menatapku.

Aku melangkah maju. Satu langkah. Jarak kami tinggal satu jengkal.

Aku mengangkat tangan. Ke wajahnya. Ke rahangnya. Telapak tanganku menempel di sana. Hangat. Sedikit kasar karena dia belum bercukur pagi ini.

Dia nggak mundur.

“Aku sayang kamu,” bisikku. “Kamu boleh nggak jawab. Aku cuma mau kamu dengar.”

Lalu aku menciumnya.


Bibirnya hangat.

Itu yang pertama. Hangat dan sedikit asin, karena sayur asem. Dan diam. Bibirnya diam di bawah bibirku. Nggak bergerak. Nggak membalas. Nggak menolak.

Satu detik.

Tanganku di rahangnya. Tangannya masih memegang kain lap. Di sisi tubuhnya. Diam.

Dua detik.

Aku merasakan napasnya berhenti.

Tiga detik.

Lalu bibirnya bergerak.

Pelan. Sangat pelan. Seperti orang yang terbangun dari tidur panjang. Bibirnya membalas bibirku. Lembut. Ragu. Lalu sedikit lebih yakin. Kain lap jatuh dari tangannya ke lantai. Tangannya naik. Ke pinggangku. Menempel di sana. Menarikku sedikit lebih dekat.

Empat detik.

Aku bisa merasakan jantungnya. Di dadaku. Berdentum. Seperti genderang.

Lima detik.

Lain kali, aku mau sampai lima.

Sampai lima.

Lalu dia menarik diri.

Cepat. Tiba-tiba. Seperti orang yang menyentuh kompor panas. Tangannya lepas dari pinggangku. Dia mundur selangkah. Lalu dua. Punggungnya menabrak pintu lemari es. Gambar-gambar krayon berkerisik.

Dia menatapku. Napasnya memburu. Wajahnya merah dari dahi sampai leher. Matanya di balik kacamata lebar dan basah dan takut.

“Jangan,” bisiknya.

Aku menatapnya.

“Jangan, Bi.” Suaranya pecah. “Aku… aku belum bisa.”

Dia berjalan melewatiku. Keluar dari dapur. Ke ruang tengah. Ke pintu belakang. Ke halaman. Ke pohon mangga.

Aku melihatnya dari jendela dapur. Berdiri di bawah pohon mangga, membelakangi rumah, dengan dua tangan menutup wajah.

Aku berdiri di dapur.

Kain lap di lantai. Rantang setengah dicuci di wastafel. Lemari es dengan gambar-gambar krayon yang berantakan karena punggungnya menabraknya tadi.

Dan kontrak Elea, paling atas, sedikit miring sekarang. Nomor delapan.

PAPA DAN TANTE BIANCA HARUS BAIKAN. TERUS JADI PAPA DAN MAMA LAGI.

Aku membetulkan letak kontrak itu. Lurus lagi.

Lalu aku menyentuh bibirku dengan ujung jari.

Lima detik.

Dia membalasnya.

Dia bilang jangan. Dia bilang belum bisa. Dia lari ke pohon mangga.

Tapi lima detik itu, dia membalasnya.

Dan aku tahu, dengan kepastian yang aneh dan tenang dan sangat sabar, bahwa belum bukan nggak akan.

Belum artinya aku harus nunggu.

Dan aku bisa nunggu.

Kali ini, aku yang nunggu.