Chapter Thirty Four

Aku Berhenti Memakai Dia

POV: Bianca


Hari Selasa, jam sebelas pagi, Ms. Ratih meneleponku.

Bukan Adrian. Aku.

“Bu Bianca? Ini Ratih, wali kelas Elea. Maaf mengganggu. Elea bilang… Elea bilang Ibu kontak darurat keduanya. Dia kasih nomor Ibu ke saya hari Jumat. Katanya Papanya udah setuju.”

Aku berhenti menandatangani dokumen di mejaku.

“Elea mengeluh pusing, Bu. Dia minta dijemput. Saya udah coba telepon Pak Renaldi, tapi nggak diangkat. Kata asistennya, beliau lagi di Kejaksaan. Rapat persiapan berkas perkara.”

Kejaksaan. Hari ini. Berkas perkara Om Hendra dan Marcel. Adrian sudah bilang minggu lalu, di pesan singkat yang sangat formal: Selasa aku di Kejaksaan seharian. Bayu ikut. Bi Imah jaga Elea pulang sekolah.

“Saya ke sana sekarang, Bu Ratih.”

Aku sudah berdiri. Tas sudah di bahu. Kunci mobil sudah di tangan.

Lalu aku berhenti.

Dia kasih nomor Ibu ke saya hari Jumat. Katanya Papanya udah setuju.

Hari Jumat. Waktu Elea demam sungguhan dan aku duduk di lorong delapan jam. Adrian nggak pernah bilang apa-apa soal kontak darurat. Kalau dia setuju, dia pasti bilang. Dia selalu bilang soal Elea. Dia bahkan mengirimiku daftar alergi dan jadwal tidur.

“Bu Ratih,” kataku pelan. “Elea pusing dari kapan?”

“Dari… sekitar jam sepuluh, Bu. Waktu jam istirahat.”

“Sebelum jam istirahat, dia ngapain?”

Hening sebentar.

“Ehm. Ada ulangan menggambar, Bu. Tema ‘Keluargaku’. Elea nggak mau ngerjain. Dia bilang dia udah pernah gambar. Terus saya bilang harus gambar lagi, karena ini penilaian. Terus… terus dia bilang pusing.”

Aku menutup mata.

“Bu Ratih. Elea demam?”

“Saya udah cek pakai termometer, Bu. Tiga puluh enam koma lima.”

Normal.

“Dia pucat?”

“…Nggak, Bu. Dia main sama Lucas di pojok baca sambil nunggu.”

Aku duduk lagi. Pelan. Di kursi kerjaku.

“Bu Ratih,” kataku. “Saya nggak jadi jemput.”


Setelah menutup telepon, aku duduk di ruanganku lama sekali.

Sakit perut di hari Rabu, sebelah perut, waktu Adrian rapat dengan auditor Singapura. PR origami yang “nggak bisa” dikerjakan, sehari sebelum dikumpulkan. Kontrak dengan nomor empat, kalau Elea sakit, Tante Bianca boleh datang, bukan cuma hari Sabtu. Nomor kontak darurat yang dia kasih ke gurunya, Papanya udah setuju.

Dan sekarang pusing. Di tengah ulangan menggambar. Di hari ayahnya di Kejaksaan.

Dan setiap kali, aku datang.

Aku datang dengan senang hati. Aku datang dalam delapan belas menit. Aku meninggalkan rapat, meninggalkan kontrak, meninggalkan semuanya, karena Elea memanggil. Karena itu artinya aku bisa melihat Elea. Karena itu artinya aku bisa melihat dia. Di dapurnya. Di ruang tengahnya. Mengeringkan piring di sampingku. Dengan leher yang merah.

Elea memanggil, dan aku datang, dan aku nggak pernah bertanya apakah panggilannya benar.

Karena aku nggak mau bertanya.

Karena kalau aku bertanya, aku harus berhenti datang.

Aku menatap pantulanku di jendela kaca. Lantai empat puluh. Jakarta di bawah sana.

Dan untuk satu detik yang dingin, aku melihat wajah Mama di pantulan itu.

Mama mau percaya. Itu bedanya, Sayang. Mama nggak periksa. Mama nggak nanya. Mama mau percaya, karena itu artinya Mama benar.

Mama memakai Om Hendra untuk menyingkirkan Adrian. Mama memakai foto palsu untuk meyakinkanku. Mama memakai rasa takutku, rasa lelahku, untuk mendapatkan apa yang Mama mau. Dan Mama bilang itu semua karena sayang.

Aku memakai anak lima tahun untuk mendapatkan laki-laki yang kumau.

Dan aku bilang itu semua karena sayang.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Elea belajar berbohong. Sebelah perut. Papanya udah setuju. Pusing di tengah ulangan. Dia belajar bahwa kebohongan kecil bisa mendatangkan Tante Bianca. Dan dia belajar itu karena setiap kali dia berbohong, Tante Bianca datang. Tersenyum. Membawa termos sup. Membawa kertas origami.

Aku yang mengajarinya.

Lima tahun aku nggak ada di hidupnya. Dan sekarang, setelah tiga bulan, hal pertama yang kuajarkan padanya adalah bahwa berbohong itu berhasil.

Persis seperti yang Mama ajarkan padaku.


Sabtu, kunjungan kelima.

Aku datang jam sepuluh. Tanpa rantang. Tanpa kantong kertas. Cuma aku, dengan kaus abu-abu dan jins dan rambut yang diikat ekor kuda.

Elea membukakan pintu dengan wajah yang sangat bersemangat.

“Tante! Kunjungan kelima! Elea udah siapin!”

“Selamat datang di rumah,” kata pintu.

“Pagi,” kataku ke pintu itu. Lalu ke Elea: “Pagi, Sayang.”

Adrian di ruang tengah. Di kursi tunggal. Lengan terlipat. Dia menatapku waktu aku masuk, dan matanya berhenti di wajahku sedetik lebih lama. Seperti dia bisa melihat ada yang berbeda.

Dia selalu bisa melihat.

“Peraturan nomor sepuluh!” kata Elea, menarik tanganku ke sofa. “Tante datang lima kali! Elea janji kasih lihat gambar Tante!”

Dia berlari ke kamarnya. Turun lagi dengan buku gambar di pelukan. Dia duduk di sampingku di sofa, membuka buku itu dengan upacara yang sangat serius, dan membaliknya ke halaman yang dia tandai dengan kertas origami kupu-kupu.

Gambar perempuan.

Rambut panjang bergelombang, cokelat gelap, digambar dengan empat warna pensil berbeda supaya terlihat bergelombang. Gaun putih dengan kancing kuning kecil-kecil. Kepang satu yang menjuntai di bahu kiri. Mata cokelat. Bibir yang tersenyum, sedikit bengkok di sudut kiri.

Dan di bawah mata kiri, titik hitam kecil.

Wajah. Lengkap. Mata, hidung, mulut, tahi lalat.

Bukan lingkaran kosong.

Di bawah gambar itu, dengan huruf-huruf besar yang miring:

TANTE BIANCA. CANTIK. TAPI MASIH TANTE.

Aku menatap gambar itu.

Peraturan nomor satu. Aku nggak menangis. Aku menggigit bagian dalam pipiku.

“Kenapa masih Tante, Sayang?” tanyaku pelan.

Elea menatap gambarnya. “Soalnya Elea belum siap panggil Mama. Elea masih agak marah.” Dia diam sebentar. “Tapi Elea udah tahu muka Tante. Jadi Elea bisa gambar. Dulu Elea nggak tahu muka Mama, jadi Elea nggak bisa gambar mukanya. Sekarang Elea tahu.”

Dia menunjuk wajah di gambar itu.

“Ini muka Mama. Elea udah tahu. Tapi namanya masih Tante.”

Aku menatap anakku.

Lalu aku menutup buku gambar itu. Pelan. Dan meletakkannya di pangkuan Elea.

“Elea,” kataku. “Tante mau ngomong sesuatu. Boleh?”

Elea menatapku. Wajahku pasti berbeda, karena senyumnya hilang pelan-pelan.

“Boleh.”

Di kursi tunggal, Adrian menegakkan punggungnya.


“Hari Selasa,” kataku. “Ms. Ratih telepon Tante. Katanya Elea pusing.”

Elea membeku.

“Ms. Ratih bilang Elea kasih nomor Tante sebagai kontak darurat. Katanya Papa udah setuju.”

Elea menatap pangkuannya. Ke buku gambar.

Di kursi tunggal, Adrian menatapku. Lalu menatap Elea. Rahangnya bergerak.

“Papa nggak setuju, kan?” tanyaku pelan.

Elea nggak menjawab.

“Dan Elea nggak pusing beneran, kan? Elea cuma nggak mau gambar keluarga di ulangan.”

Bibir bawah Elea mulai bergetar.

“Dan hari Rabu yang dulu. Sakit perut sebelah perut. Waktu Papa rapat. Itu juga nggak beneran.”

“…Sedikit beneran,” bisik Elea.

“Sedikit?”

“…Nggak,” bisik Elea. “Nggak beneran.”

Aku mengambil napas.

“Elea. Tante nggak marah.”

Elea mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca. Peraturan nomor satu berlaku buat Tante, bukan buat Elea.

“Tante nggak marah sama Elea,” ulangku. “Tante marah sama Tante sendiri.”

“Kenapa?”

“Karena setiap kali Elea bilang sakit, Tante datang. Tante senang. Tante nggak nanya beneran sakit atau nggak. Karena Tante mau ketemu Elea. Dan mau ketemu…” Aku berhenti. Aku nggak menatap kursi tunggal. “Dan Tante nggak nanya, karena Tante takut kalau nanya, Tante nggak bisa datang lagi.”

Elea menatapku.

“Jadi Tante ngajarin Elea bahwa bohong itu berhasil,” lanjutku. Suaraku bergetar sedikit. Aku memaksanya tenang. “Elea bilang sakit, Tante datang. Elea bilang Papa setuju, Ms. Ratih percaya. Bohongnya berhasil. Dan Tante senang bohongnya berhasil.”

“Tapi Elea mau Tante datang,” bisik Elea.

“Tante tahu, Sayang. Tante juga mau datang.”

“Terus kenapa salah?”

Aku menatap anakku. Mata almond yang basah. Pipi yang mulai merah.

Aku harus menjawab. Peraturan nomor tiga. Yang jujur.

“Karena Nenek Elea,” kataku pelan. “Mama Tante. Dulu juga begitu.”

Elea diam.

“Nenek Veronica mau sesuatu. Nenek mau Papa pergi dari Tante. Jadi Nenek bohong. Nenek bilang hal-hal yang nggak benar soal Papa. Dan Nenek bilang itu semua karena Nenek sayang Tante.” Aku menelan sesuatu yang tajam. “Dan bohongnya berhasil. Papa pergi. Elea dibawa jauh. Lima tahun.”

Elea menutup mulutnya dengan tangan kecilnya.

“Tante nggak mau Elea jadi kayak gitu,” bisikku. “Tante nggak mau Elea belajar bahwa kalau kita mau sesuatu, kita boleh bohong asal alasannya sayang. Karena itu yang bikin Elea dan Papa harus pergi. Itu yang bikin Tante nggak ada di hidup Elea lima tahun.”

Hening.

Ruang tengah sunyi. Dari dapur, nggak ada bunyi Bi Imah mengaduk.

Di kursi tunggal, Adrian sudah nggak bersandar. Dia duduk tegak. Tangannya nggak lagi terlipat. Tangannya mencengkeram lengan kursi.

“Jadi mulai sekarang,” kataku, “Elea nggak usah pura-pura sakit lagi. Ya? Nggak usah bilang Papa setuju kalau Papa nggak setuju. Kalau Elea mau Tante datang, bilang aja. Tante, Elea mau ketemu. Gitu aja. Terus Tante tanya Papa. Kalau Papa bilang boleh, Tante datang. Kalau Papa bilang nggak boleh, Tante nunggu sampai hari Sabtu.”

Elea menatapku lama.

“Kalau Papa bilang nggak boleh terus?”

“Kalau Papa bilang nggak boleh terus,” kataku, “Tante tetap datang hari Sabtu. Setiap hari Sabtu. Sampai Elea bosan. Peraturan nomor sebelas. Tante nggak pergi lagi.”

Elea menatapku.

Lalu, pelan, dia mengangguk.

“Oke,” bisiknya. “Elea nggak pura-pura sakit lagi.”

“Janji?”

“Janji.” Dia mengulurkan kelingking kecilnya.

Aku menatap kelingking itu. Lalu aku mengulurkan kelingkingku sendiri, dan mengaitkannya.

“Tante juga janji,” kataku. “Tante nggak datang lagi kalau Tante tahu Elea bohong. Walaupun Tante pengin banget.”

Elea menatap kelingking kami yang terkait. Lalu dia menatapku dengan mata yang serius.

“Tante,” katanya. “Itu susah, kan? Buat Tante?”

“Susah banget.”

“Tapi Tante tetap janji.”

“Iya.”

Elea diam. Lalu dia melepaskan kelingkingnya, dan memelukku. Cepat. Kencang. Seperti di kunjungan pertama.

“Tante boleh peluk balik,” bisiknya. “Dua kali.”


Waktu Elea naik ke kamarnya untuk menyimpan buku gambar, Adrian berdiri dari kursinya.

Dia berjalan ke arahku. Berhenti di depan sofa. Menatapku dari atas.

“Kamu bilang ke dia soal ibumu,” katanya pelan.

“Dia harus tahu.”

“Itu keluargamu, Bi. Neneknya. Kamu bilang ke anak lima tahun bahwa neneknya bohong.”

“Aku bilang ke anak lima tahun kenapa bohong itu salah.” Aku menatapnya. “Dan aku pakai contoh yang paling jujur yang aku punya. Aku nggak mau dia tumbuh kayak aku, Adrian. Aku tumbuh dengan Mama yang bilang semuanya karena sayang. Dan aku nggak pernah belajar bedanya sayang sama kontrol.”

Dia menatapku lama.

“Kenapa kamu nggak jemput dia hari Selasa?” tanyanya. “Ms. Ratih telepon aku juga. Setelah Kejaksaan. Dia bilang kamu bilang nggak jadi jemput.”

“Karena dia nggak sakit.”

“Kamu bisa datang. Pura-pura nggak tahu. Bawa dia pulang. Main origami. Nunggu aku pulang dari Kejaksaan.” Dia diam sebentar. “Aku nggak akan tahu.”

“Aku yang tahu.”

Dia menatapku.

Aku berdiri. Sekarang kami sejajar. Satu meter.

“Adrian,” kataku. “Aku mau kamu tahu satu hal. Dan setelah ini aku nggak akan bilang lagi, sampai kamu siap dengar.”

Dia menunggu.

“Selama tiga bulan ini, aku pakai Elea,” kataku. “Bukan sengaja. Tapi aku pakai. Setiap kali dia panggil, aku datang, dan aku seneng, karena itu artinya aku bisa lihat kamu. Di dapur kamu. Di ruang tengah kamu. Ngeringin piring di samping kamu. Aku pakai anak kita sebagai pintu ke kamu.”

Dia nggak bergerak.

“Aku berhenti,” kataku. “Hari ini. Mulai sekarang, aku datang buat Elea hari Sabtu, karena Elea anakku, dan aku mau jadi ibunya. Itu satu hal.”

Aku melangkah maju. Setengah meter.

“Dan hal yang lain,” kataku pelan, “aku mau kamu karena aku. Bukan karena Elea. Bukan karena kontrak nomor delapan. Bukan karena Bi Imah bilang aku mantu di pasar. Bukan karena aku merasa bersalah. Bukan karena aku mau nebus lima tahun.”

Aku menatapnya. Langsung. Tanpa berkedip.

“Aku cinta kamu, Adrian.”

Dia menatapku.

“Bukan yang dulu,” kataku. “Bukan laki-laki dengan jas pinjaman yang lengannya kepanjangan. Aku udah cinta dia. Aku buang dia. Aku nggak berhak minta dia balik.” Aku menarik napas. “Aku cinta yang sekarang. Yang ngepang rambut anak kita jam enam pagi. Yang lari ke bawah panel. Yang bikin gedung bernapas. Yang buang kopiku ke wastafel tapi pelan-pelan banget. Yang makan sayur asem asin tiga mangkuk. Yang bilang jangan tapi bales ciumanku lima detik.”

Lehernya merah. Seluruhnya.

“Aku cinta yang sekarang,” ulangku. “Dan yang sekarang jauh lebih susah dicintai. Lebih keras. Lebih dingin. Lebih nggak percaya. Dan aku tetap cinta. Lebih dalam dari yang dulu.”

Hening.

Dia menatapku lama sekali.

Lalu dia bicara. Pelan. Serak.

“Cinta kamu datang telat lima tahun, Bi.”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

“Lima tahun aku nunggu kamu bilang satu kalimat. Satu. Dan kamu nggak bilang. Dan sekarang kamu bilang semua kalimat. Percaya. Sayang. Cinta. Semua dalam tiga bulan.” Suaranya bergetar. “Kamu tahu rasanya? Kayak orang yang kelaparan lima tahun, terus tiba-tiba dikasih makan sepuluh piring sekaligus. Aku nggak bisa makan semuanya. Aku nggak tahu harus mulai dari mana.”

“Mulai dari mana aja,” bisikku. “Atau nggak usah mulai. Aku nggak minta kamu makan. Aku cuma taruh piringnya di meja.”

Dia menatapku.

“Aku bakal taruh piring yang sama setiap hari,” kataku. “Kayak kopi. Kamu boleh buang. Kamu boleh biarin dingin. Kamu boleh minum jam delapan setelah aku pergi. Terserah kamu. Tapi piringnya tetap ada di meja. Setiap hari.”

Dari lantai dua, Elea berteriak, “TANTE! ELEA MAU TUNJUKIN KUPU-KUPU BARU!”

Aku nggak bergerak. Dia juga nggak.

“Aku udah bilang,” kataku pelan. “Sekarang aku nggak akan bilang lagi. Sampai kamu siap dengar.”

Aku berbalik, dan naik ke lantai dua.


Malam itu, aku makan malam dengan Darren.

Di warung nasi goreng kambing di Sabang. Warung kaki lima dengan bangku plastik dan meja kayu yang lengket, di bawah lampu neon yang berkedip. Darren memesan dua porsi, kambing dobel untukku, dan dua gelas es teh manis.

“Bi,” katanya, waktu nasi goreng datang. “Oma telepon aku tadi pagi.”

“Soal pesta pertunangan.”

“Soal pesta pertunangan.” Darren mengaduk es tehnya. “Oma bilang ditunda. Karena ‘keadaan keluarga’. Oma bilang setelah semua ini selesai, kita bisa atur lagi.”

Aku meletakkan sendok.

“Dar.”

Dia menatapku. Mata cokelat yang sabar.

“Aku nggak mau ditunda,” kataku. “Aku mau dibatalin.”

Darren diam.

“Kamu baik, Dar. Kamu laki-laki paling baik yang aku kenal di lingkaran keluargaku. Kamu bawain aku nasi goreng kambing tengah malam. Kamu ingat aku dari SMA waktu aku nggak ingat kamu. Kamu pilih aku yang benar, bukan aku yang kamu pengin.” Aku menarik napas. “Dan karena kamu sebaik itu, kamu pantas dapat perempuan yang natap kamu kayak aku natap dia di video itu. Aku nggak bisa natap kamu kayak gitu. Aku udah coba. Aku nggak bisa.”

Darren menatap nasi gorengnya lama.

Lalu dia tersenyum. Senyum kecil yang sedih dan lega.

“Aku tahu, Bi,” katanya. “Aku tahu dari lama.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Dia mengambil sendoknya. Menyendok nasi goreng. “Kamu udah jujur. Itu lebih dari yang kebanyakan orang di keluarga kamu pernah kasih ke aku.”

Kami makan dalam diam. Nasi goreng kambing yang pedas dan berminyak. Kambing dobel.

Waktu piring kami kosong, Darren meletakkan sendoknya dan menatapku.

“Bi. Aku mau ngomong sama dia.”

“Sama siapa?”

“Adrian.” Darren menatapku. “Laki-laki ke laki-laki. Aku mau dia tahu dari aku. Bahwa aku mundur. Dan kenapa.”

“Dar, kamu nggak perlu—“

“Aku perlu.” Darren tersenyum lagi. “Aku duduk di ruang rapat itu waktu dia suruh kamu berdiri dua jam. Aku marahin dia di koridor. Aku bilang kamu pantas dapat yang lebih baik dari dua-duanya.” Dia mengangkat bahu. “Aku mau bilang ke dia bahwa aku salah. Kamu nggak butuh yang lebih baik dari dua-duanya. Kamu butuh yang ketiga. Yang sekarang. Yang dia lagi coba jadi.”

Aku menatap Darren.

“Kamu tahu dari mana?”

“Bayu,” kata Darren. “Grup senam Zumba. Bayu pakai baju pink hari Minggu kemarin. Dia bilang dia kalah taruhan. Dia nggak mau cerita taruhan apa. Tapi Tasya cerita.” Darren tertawa kecil. “Bi, seluruh grup senam Zumba udah tahu. Kamu satu-satunya yang belum sadar bahwa dia udah kalah.”


Di mobil, perjalanan pulang, ponselku bergetar.

Nomor yang belum kusimpan.

Elea nanya kenapa Tante sedih pas makan bubur tadi. Aku bilang Tante nggak sedih. Dia bilang aku bohong lagi.

Lalu, sepuluh detik kemudian:

Dia benar. Aku bohong. Tante nggak sedih. Tante jujur. Dan aku nggak tahu harus ngapain sama orang yang jujur.

Lalu, tiga puluh detik kemudian:

Piringnya. Aku lihat. Aku belum makan. Tapi aku lihat.

Aku menepi di pinggir jalan Thamrin. Di depan Hotel Arunaya.

Aku menatap tiga pesan itu sampai layar meredup.

Lalu aku menyimpan nomor itu. Akhirnya. Setelah tiga bulan.

Aku mengetik namanya di kolom kontak. Lalu aku menghapusnya. Lalu aku mengetik ulang.

Bukan Adrian. Bukan Dr. Renaldi.

Dok.

Simpan.

Aku menyalakan mesin, dan menyetir pulang.