Chapter Fourteen

Rapat Tanpa Kursi

POV: Adrian


“Papa, Ms. Ratih kasih PR.”

Elea meletakkan selembar kertas di meja makan, di antara mangkuk bubur kacang hijau buatan Bi Imah dan cangkir kopi tubruk pertamaku hari itu. Kertas putih dengan kop sekolah dan gambar matahari tersenyum di pojok.

Proyek Kelas K2: KELUARGAKU. Gambarlah keluargamu dan ceritakan tentang mereka di depan kelas hari Jumat!

“Oh. Bagus.” Aku membaca instruksinya. “Kamu mau gambar siapa?”

“Papa. Elea. Nenek Imah. Om Bayu.” Elea menghitung dengan jari. “Mr. Snuggles boleh nggak?”

“Mr. Snuggles kan boneka.”

“Tapi dia keluarga.”

Bi Imah, dari dapur, tertawa. “Boleh, Sayang. Gambar aja semua yang kamu sayang.”

Elea mengangguk puas. Lalu dia diam sebentar, menatap kertas itu dengan dahi berkerut.

“Mama juga boleh?”

Sendok di tanganku berhenti di udara.

“Mama yang di bintang,” lanjut Elea, dengan nada sambil lalu, seperti menanyakan apakah dia boleh pakai krayon warna emas. “Elea gambar di atas. Di bintang. Terus Elea cerita ke teman-teman, Mama Elea di bintang, jadi Mama lihat Elea dari atas.”

Bi Imah berhenti mengaduk di dapur.

Aku meletakkan sendok. “Boleh, Sayang,” kataku. Suaraku terdengar normal. “Gambar aja.”

Elea tersenyum dan berlari ke kamarnya mengambil krayon.

Bi Imah muncul di ambang pintu dapur dengan sutil di tangan. Dia nggak bilang apa-apa. Dia cuma menatapku. Lama. Dengan mata yang menanyakan hal yang sama seperti di teras belakang tiga minggu lalu.

Elea nanti kalau sudah besar, kamu mau dia ingat papanya sebagai orang yang kayak apa?

Aku menghabiskan kopiku dan berangkat ke kantor.


Hasil audit awal keluar hari Kamis.

Firma audit independen dari Singapura yang kutunjuk, firma yang nggak punya hubungan apa pun dengan Rexton dan nggak punya alasan untuk takut pada Hendra Rexton, menyerahkan laporan setebal dua ratus empat puluh halaman. Bayu membacanya semalaman dan menyusun ringkasannya dalam tiga puluh slide.

Ringkasannya sederhana: PT Sentra Bangun Abadi telah menerima kontrak senilai total dua koma tiga triliun rupiah dari Rexton Group dalam sepuluh tahun terakhir. Rata-rata mark-up tiga puluh lima persen di atas harga pasar. Spesifikasi material di lapangan secara konsisten lebih rendah dari spesifikasi di dokumen. Dan di empat proyek berbeda, termasuk atrium Rexton Mall Kemayoran, ada indikasi penggunaan material di bawah standar keselamatan.

Rapat dewan gabungan dijadwalkan Jumat jam satu siang. Rapat besar. Seluruh dewan direksi Rexton. Perwakilan Hallworth. Auditor dari Singapura melalui video.

Dan aku membuat satu permintaan ke sekretaris Catherine Hall, sehari sebelumnya, melalui email resmi.

Mengacu pada Lampiran C syarat nomor sembilan, laporan proyek dipresentasikan oleh penghubung secara langsung. Mohon diatur agar penghubung berdiri di depan ruangan selama rapat berlangsung, untuk memudahkan koordinasi. Kursi untuk penghubung tidak perlu disediakan.

Bayu membaca email itu dari balik bahuku, dan diam lama.

“Mas,” katanya akhirnya. “Ini nggak ada di kontrak.”

“Syarat nomor sembilan bilang laporan dipresentasikan oleh penghubung secara langsung.”

“Iya, tapi nggak bilang dia harus berdiri dua jam.”

“Presentasi biasanya berdiri, Bay.”

Bayu menatapku. Lalu menatap email itu. Lalu menatapku lagi.

“Mas. Aku temenan sama kamu lima tahun. Aku ngelihat kamu begadang ngurus Elea demam. Aku ngelihat kamu nangis di depan lemari es waktu Elea pertama kali bilang ‘Pa’. Aku ngelihat kamu lari ke bawah panel yang mau jatuh buat nyelamatin orang asing.” Dia diam sebentar. “Aku nggak pernah lihat kamu kayak gini.”

“Kayak gimana?”

“Kayak orang yang lagi berusaha keras banget buat jadi jahat.”

Aku menekan tombol Kirim.

Bayu menghela napas panjang dan kembali ke mejanya.


Ruang rapat lantai empat puluh Rexton Tower penuh jam satu kurang sepuluh.

Kursi-kursi di sekeliling meja panjang itu terisi semua. Oma Margareth di ujung, dengan tongkat perak. Hendra Rexton di kanannya, wajahnya lebih kaku dari biasanya. Marcel di ujung lain, tanpa senyum, untuk kedua kalinya. Darren Wiratama di tengah, dengan tangan terlipat dan rahang terkunci. Lima direktur lain. Veronica Rexton di kursi pengamat di sudut. Catherine Hall dan dua stafnya. Aku dan Bayu.

Layar besar di dinding menampilkan wajah tiga auditor dari Singapura, menunggu.

Dan di depan ruangan, di samping layar, di tempat yang biasanya ada podium kecil, nggak ada podium. Nggak ada kursi. Cuma ruang kosong di lantai karpet abu-abu.

Bianca masuk jam satu tepat.

Setelan hitam. Lipstik merah. Rambut dicepol rendah dan rapat. Sepatu hak tinggi, hitam, sepuluh senti, tumit yang lancip seperti pisau. Tablet di tangannya.

Dia melihat ruang kosong di depan ruangan. Dia melihat semua kursi yang sudah terisi. Dia nggak menoleh padaku.

Dia berjalan ke ruang kosong itu, dan berdiri.

“Selamat siang,” katanya. “Saya akan memulai presentasi hasil audit awal.”


Dia berdiri selama dua jam.

Aku tahu, karena aku menghitungnya. Aku menghitungnya seperti dia dulu menghitung empat menit di dinding ruangan ini. Aku menatap jam di pergelangan tanganku setiap lima belas menit, dan aku menatap dia di antaranya.

Lima belas menit pertama, dia sempurna. Suaranya jernih. Posturnya tegak. Dia membawakan ringkasan Bayu dengan cara yang lebih baik dari Bayu sendiri, menyederhanakan angka-angka teknis jadi kalimat yang bisa dimengerti semua orang di ruangan itu.

Tiga puluh menit, dia masih sempurna. Hendra memotongnya dua kali dengan pertanyaan yang sengaja dibuat rumit. Dua kali dia menjawabnya dengan tenang.

Empat puluh lima menit, aku melihat dia memindahkan berat badannya dari kaki kanan ke kaki kiri. Sekali. Cepat. Hampir nggak terlihat.

Satu jam, dia memindahkannya lagi. Lebih sering. Setiap lima menit. Dan aku melihat sesuatu di wajahnya, di sudut mulutnya yang merah, ketegangan kecil yang muncul setiap kali dia memindahkan berat badannya. Seperti orang yang menahan sakit.

Satu jam lima belas menit, auditor dari Singapura mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan teknis dari dewan, dan dia harus berdiri diam di depan ruangan, nggak bicara, cuma berdiri, sambil semua orang di ruangan itu duduk.

Aku melihat Darren Wiratama menatapnya. Lalu menatapku. Lalu menatapnya lagi. Rahangnya bergerak. Tangannya mengepal di atas meja.

Satu jam tiga puluh menit, aku melihat tangan Bianca yang memegang tablet. Buku-buku jarinya putih.

Satu jam empat puluh lima menit, Catherine Hall menoleh padaku dan berbisik, dalam bahasa Inggris, sangat pelan, “Adrian. That’s enough.”

Aku nggak menjawab.


Jam dua lewat lima puluh, aku berdiri.

“Terima kasih atas presentasinya, Bu Rexton,” kataku. “Sebelum rapat ditutup, saya mau mengajukan satu usulan formal kepada dewan.”

Semua kepala menoleh padaku.

“Berdasarkan hasil audit awal, terlihat jelas bahwa pengawasan pengadaan di bawah project lead saat ini nggak memadai. Mark-up tiga puluh lima persen. Material di bawah standar. Empat proyek berisiko. Semua terjadi di bawah pengawasan, atau tanpa pengawasan, pimpinan proyek.” Aku menatap Oma Margareth di ujung meja. “Saya mengusulkan agar dewan mempertimbangkan penggantian project lead Rexton Grand Nusantara dengan pimpinan yang lebih kompeten. Untuk keselamatan delapan puluh ribu pengunjung per hari.”

Ruangan itu meledak.

Bukan dengan suara keras. Dengan bisikan. Dengan gerakan. Dengan kursi-kursi yang bergeser dan kepala-kepala yang menoleh ke sana-sini dan direktur-direktur yang saling berbisik di balik tangan.

Darren berdiri. “Itu nggak adil. Bu Bianca baru jadi project lead dua tahun. Kontrak-kontrak PT Sentra sudah ada sepuluh tahun. Dia mewarisi masalah ini, bukan menciptakannya—“

“Pak Wiratama, silakan duduk,” kata Oma.

Darren duduk. Dengan wajah merah.

Hendra Rexton, yang selama dua jam terakhir duduk dengan wajah seperti patung, tiba-tiba terlihat… lega. Hanya sedikit. Di sudut matanya. Seperti orang yang baru saja melihat seseorang lain berdiri di tempat yang tadinya akan dia tempati.

Aku melihatnya. Aku mencatatnya.

“Kita voting,” kata Oma. “Usulan untuk mengganti project lead. Yang setuju?”

Tiga tangan terangkat. Marcel. Dua direktur senior yang kutahu adalah orang-orang Hendra.

Hendra nggak mengangkat tangan. Tapi dia juga nggak terlihat keberatan.

“Yang menolak?”

Darren mengangkat tangan dengan cepat. Lalu dua direktur lain, yang lebih muda. Lalu, setelah ragu sebentar, satu direktur perempuan di ujung meja.

Empat.

“Hendra?” tanya Oma.

“Saya abstain,” kata Hendra. “Konflik kepentingan. Dia keponakan saya.”

Oma mengangguk. Lalu semua kepala menoleh ke ujung meja. Ke Oma. Ketua dewan. Satu suara terakhir.

Oma menatap Bianca, yang masih berdiri di depan ruangan dengan tablet di tangan dan wajah yang pucat di balik lipstik merah.

Lama.

“Saya abstain,” kata Oma.

Hening.

Bianca nggak bergerak. Tapi aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang kukenal, karena aku pernah merasakannya sendiri, lima tahun lalu, di ruangan lain, di rumah yang sama.

Wajah seseorang yang baru menyadari bahwa keluarganya sendiri nggak akan membelanya.

“Empat lawan tiga,” kata sekretaris dewan, dengan suara yang canggung. “Usulan ditolak. Bu Bianca Rexton tetap sebagai project lead.”

Darren menghembuskan napas keras. Hendra menutup mapnya. Marcel memainkan pulpennya.

Aku menatap Bianca.

Dia masih berdiri. Dua jam tiga belas menit. Di sepatu hak sepuluh senti.

Aku tahu apa yang harus kukatakan. Aku sudah menyiapkannya sejak kemarin. Kalimat pisau. Kalimat yang akan mengakhiri rapat ini dengan cara yang akan diingat semua orang di ruangan itu.

“Bu Rexton,” kataku. Pelan. Sopan. “Rapatnya sudah selesai. Ibu boleh duduk sekarang.”

Aku melihat ke sekeliling meja. Ke semua kursi yang terisi.

“Oh,” kataku. “Nggak ada kursinya, ya.”

Marcel tertawa. Satu orang direktur ikut tertawa, canggung, lalu berhenti waktu Darren menatapnya.

Bianca nggak tertawa. Bianca nggak bereaksi. Bianca cuma menatapku dari depan ruangan dengan mata yang tajam dan kering dan sangat tenang.

“Terima kasih, Dr. Renaldi,” katanya. “Saya baik-baik saja berdiri.”

Lalu dia berjalan keluar. Tegak. Tanpa tergesa. Sepatu hak sepuluh senti yang bunyinya tajam di lantai.

Dan aku melihatnya.

Di langkah ketiga, kaki kanannya goyah. Sedikit. Sangat sedikit. Dia menangkap dirinya sendiri dengan menyentuh sandaran kursi Darren, sekilas, satu detik, lalu melepaskannya dan terus berjalan.

Di tumit kanannya, di balik kulit sepatu hitam yang mengilap, ada noda gelap yang menyebar di stoking tipisnya.

Darah.


“Kamu puas?”

Darren Wiratama berdiri di depanku di koridor, setelah semua orang keluar. Jaraknya terlalu dekat. Suaranya terlalu rendah.

“Pak Wiratama.”

“Jangan Pak Wiratama sama aku.” Matanya, yang biasanya sabar dan tenang, sekarang menyala. “Dua jam. Kamu bikin dia berdiri dua jam. Di depan keluarganya sendiri. Di depan Oma yang abstain. Kamu tahu apa yang kamu lakukan?”

“Saya tahu persis.”

“Nggak. Kamu nggak tahu.” Darren melangkah lebih dekat. “Kamu tahu dia nggak tidur? Tasya bilang dia di kantor sampai jam dua pagi setiap hari sejak kamu datang. Kamu tahu dia nggak makan? Kamu tahu tumitnya udah lecet dari minggu pertama, tapi dia terus pakai sepatu itu karena nggak mau kelihatan lemah di depan kamu?”

Aku nggak menjawab.

“Aku nggak tahu apa yang terjadi lima tahun lalu,” kata Darren. “Aku nggak pernah tanya. Aku nggak mau tahu. Tapi aku tahu satu hal.” Suaranya bergetar. “Laki-laki yang nyelamatin dua puluh tiga pekerja di Kemayoran, laki-laki yang lari ke bawah panel itu, bukan laki-laki yang ada di ruang rapat tadi. Aku nggak tahu yang mana kamu yang asli. Tapi aku tahu dia pantas dapat yang lebih baik dari dua-duanya.”

Dia berbalik dan pergi.

Bayu, yang berdiri di belakangku sepanjang waktu itu, menatap punggung Darren yang menjauh. Lalu menatapku.

“Mas.”

“Jangan, Bay.”

“Aku cuma mau bilang, dia benar.”

Aku berjalan ke lift.


Di mobil, perjalanan pulang, Bayu menyerahkan tabletnya padaku tanpa bicara.

Hasil penelusuran lapisan terakhir PT Sentra Bangun Abadi. PT Arunika Cipta Investama. Lalu dua perusahaan cangkang di Singapura dan Labuan. Lalu sebuah trust keluarga di Singapura yang dikelola oleh firma hukum lokal.

Dan di halaman terakhir, dokumen yang Bayu dapatkan entah bagaimana, dokumen yang nggak kutanyakan bagaimana dia mendapatkannya: daftar penerima manfaat trust itu.

Satu nama.

Marcel Hendrawan Rexton.

Aku menatap nama itu lama.

“Marcel,” kata Bayu pelan. “Anak Hendra. Mas, Hendra pakai perusahaan anaknya sendiri buat mark-up proyek keluarga. Sepuluh tahun. Dua koma tiga triliun.”

“Dan lima tahun lalu,” kataku, “aku melaporkannya ke Hendra.”

Bayu diam.

Lalu dia bertanya, dengan suara yang hati-hati, “Mas. Rekening empat koma tujuh miliar yang atas nama kamu itu. Yang jadi bukti kamu menggelapkan. Uangnya dari mana?”

Aku menatap jendela. Jakarta di sore hari. Langit kelabu. Gedung-gedung tinggi. Papan reklame Rexton Grand Nusantara di persimpangan Semanggi.

“Cari tahu, Bay,” kataku. “Ke mana uang itu pergi setelah rekeningnya ditutup.”


Malam itu, waktu aku menyelimuti Elea, dia menunjukkan PR-nya padaku.

Selembar kertas putih, penuh warna krayon. Di bawah, berdiri berjajar: laki-laki tinggi berkacamata dengan kacamata yang lebih besar dari kepalanya. Anak perempuan berkepang dua dengan pita kuning. Perempuan tua berdaster dengan sutil di tangan. Laki-laki berkacamata tebal sedang makan. Dan boneka beruang cokelat dengan satu telinga yang lebih pendek.

Dan di atas mereka, di langit yang diwarnai biru tua, dikelilingi bintang-bintang kuning yang digambar dengan sangat hati-hati, seorang perempuan dengan rambut panjang bergelombang berwarna cokelat dan gaun berwarna putih.

Tanpa wajah.

“Kenapa gaunnya putih, Sayang?” tanyaku. “Biasanya kamu warnain merah muda.”

Elea menatap gambarnya. Berpikir.

“Soalnya tadi di bazar, Tante cantik yang ambil jepit Elea pakai baju putih,” katanya. “Terus Elea pikir, Mama Elea pasti juga cantik kayak Tante itu. Jadi Elea warnain putih juga.”

Aku nggak bisa bicara.

“Papa?”

“Gambarnya bagus, Sayang.”

“Elea juga tulis nama-namanya. Lihat.” Dia menunjuk satu per satu dengan jari kecilnya. Huruf-huruf besar yang miring, ditulis dengan pensil. PAPA. ELEA. NENEK IMAH. OM BAYU. MR SNUGLES.

Dan di atas, di samping perempuan tanpa wajah:

MAMA. ELEA SAYANG MAMA.

Aku menatap tulisan itu sampai hurufnya buram.

“Papa percaya Elea?” tanyanya, menarik ujung lengan bajuku.

“Selalu.”

Dia tersenyum, memejamkan mata, dan tertidur dengan gambar keluarga di dadanya.

Aku duduk di tepi kasurnya lama sekali.

Lalu aku keluar, menutup pintu, dan berdiri di lorong yang gelap. Aku mengeluarkan ponselku. Aku membuka email. Aku mencari email ke sekretaris Catherine Hall yang kukirim kemarin. Kursi untuk penghubung tidak perlu disediakan.

Aku membacanya sekali.

Lalu aku menghapusnya. Seolah dengan menghapusnya, aku bisa menghapus dua jam tiga belas menit itu. Dan noda gelap di stoking tipis di tumit kanan seorang perempuan yang berjalan keluar dari ruangan dengan kepala tegak.

Itu nggak berhasil.