Chapter Eight
Syarat Nomor Tujuh
POV: Bianca
Aku membawa pulpen sendiri.
Montblanc hitam dengan ujung emas, hadiah dari Papa waktu aku lulus S2. Pulpen yang kupakai untuk menandatangani kontrak tenant pertamaku sebagai CEO. Pulpen yang kupakai untuk menandatangani persetujuan pembangunan Grand Nusantara.
Pulpen yang kupakai untuk menandatangani surat cerai.
Aku menatap pulpen itu di dalam tasku waktu lift naik ke lantai dua puluh enam gedung Sudirman, kantor sementara Hallworth. Aku nggak tahu kenapa aku membawa yang ini. Aku punya dua puluh pulpen lain. Tapi tadi pagi, tanganku mengambil yang ini, dan aku nggak menghentikannya.
Pintu lift terbuka.
Ruang rapat Hallworth kecil dibanding ruang rapat Rexton. Meja kayu panjang untuk dua belas orang. Jendela kaca menghadap jalan Sudirman yang macet. Dinding putih polos tanpa lukisan.
Oma sudah di sana. Om Hendra sudah di sana. Mama nggak datang. Darren datang, sebagai pemegang saham, dan dia berdiri waktu aku masuk.
Catherine Hall duduk di ujung meja. Dan di sebelah kanannya, dengan tablet, buku catatan hitam bersampul kulit, dan secangkir teh yang belum diminum, duduk Adrian.
Dia menatapku waktu aku masuk. Itu yang pertama kuperhatikan. Kemarin dia nggak menatapku sampai menit kesepuluh. Hari ini dia menatapku dari detik pertama, dengan mata yang tenang di balik kacamata, dan aku merasakan tatapan itu menyusuri wajahku, setelanku, sepatuku, lalu kembali ke wajahku.
Hari ini aku memakai setelan biru tua. Lipstik merah. Rambut digerai, untuk pertama kalinya di depan dia sejak dia kembali. Aku nggak tahu kenapa aku menggerainya. Tadi pagi, tanganku melepas jepit cepol, dan aku nggak menghentikannya juga.
Dia menatap rambutku satu detik lebih lama dari bagian lain.
Lalu dia menatap tabletnya.
“Silakan duduk, Bu Rexton.”
Catherine Hall membuka rapat dalam bahasa Inggris. Ringkasan singkat: Hallworth setuju melanjutkan kerja sama, dengan syarat Dr. Renaldi bergabung sebagai Konsultan Teknologi Utama dengan otoritas penuh atas sistem keselamatan dan manajemen gedung. Kontrak dua tahun. Dr. Renaldi telah mengajukan syarat-syarat tambahan, yang akan dia sampaikan sendiri.
“Adrian,” katanya, “the floor is yours.”
Adrian membuka buku catatan hitamnya. Dia nggak membacanya dari tablet. Dia membacanya dari buku itu, dari tulisan tangannya sendiri, dan entah kenapa, itu terasa lebih buruk.
“Ada sebelas syarat,” katanya. “Saya akan membacakannya satu per satu. Kalau ada pertanyaan, silakan tunggu sampai saya selesai.”
Om Hendra berdeham. Oma nggak bergerak.
“Satu. Saya memiliki otoritas veto penuh atas seluruh keputusan teknis yang berkaitan dengan keselamatan struktur dan sistem gedung Rexton Grand Nusantara, termasuk pemilihan vendor dan material.”
Om Hendra menegang.
“Dua. Audit independen pengadaan struktur dilakukan oleh firma yang saya tunjuk, bukan firma yang ditunjuk Rexton.”
“Itu tidak lazim,” kata Om Hendra.
“Saya bilang tunggu sampai saya selesai, Pak Hendra.” Adrian nggak mengangkat kepala. “Tiga. Akses penuh ke seluruh arsip pengadaan Rexton Group sepuluh tahun terakhir, tanpa penyaringan.”
Aku melihat jemari Om Hendra di atas meja. Diam. Terlalu diam.
“Empat. Tim saya bekerja dari kantor Hallworth, bukan dari Rexton Tower. Lima. Seluruh komunikasi saya dengan Rexton Group dilakukan melalui satu orang penghubung.”
Dia berhenti. Mengangkat kepalanya. Menatapku.
“Dan penghubung itu adalah project lead. Bu Bianca Rexton. Secara pribadi.”
Ruangan itu hening.
“Enam,” lanjut Adrian, menatap buku catatannya lagi seolah barusan nggak terjadi apa-apa. “Sebagai penghubung, Bu Rexton bersedia dihubungi dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, selama masa kontrak. Telepon dari saya harus diangkat paling lambat dalam tiga dering. Termasuk akhir pekan. Termasuk hari libur nasional. Termasuk jam dua pagi.”
Darren bergeser di kursinya. “Dr. Renaldi, dengan hormat, itu—“
“Pak Wiratama, saya bilang tunggu sampai saya selesai.”
Darren menatapnya. Rahangnya mengeras. Tapi dia diam.
Adrian membalik halaman.
“Tujuh.”
Dia berhenti. Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, dia berhenti di tengah kalimat. Aku melihat jarinya di atas kertas, ujung jari telunjuk yang menekan halaman sedikit lebih keras.
Lalu dia membaca, dengan suara yang sama datarnya, tapi lebih pelan.
“Tujuh. Bu Bianca Rexton dilarang berada dalam radius lima puluh meter dari Elea Renaldi, putri saya, di mana pun dan kapan pun selama masa kontrak. Pelanggaran terhadap syarat ini akan dilaporkan kepada dewan direksi Rexton Group dan Hallworth Capital sebagai pelanggaran kontrak.”
Aku nggak bergerak.
Aku merasakan semua kepala menoleh padaku. Oma. Om Hendra. Darren. Catherine Hall, yang alisnya sedikit terangkat, yang jelas sudah membaca syarat ini sebelumnya dan jelas sudah bertanya kenapa dan jelas sudah mendapat jawaban yang membuatnya memutuskan untuk nggak bertanya lagi.
Putri saya.
Bukan putri kami. Bukan anak Bianca. Putri saya.
Aku menatap meja kayu di depanku. Ada serat kayu yang melingkar seperti mata. Aku menatap mata kayu itu dan menghitung serat-seratnya dan nggak memikirkan apa-apa.
“Delapan,” lanjut Adrian. “Bu Rexton bertanggung jawab mengantarkan kopi saya ke kantor Hallworth setiap hari kerja, jam tujuh pagi, secara pribadi. Tidak melalui sekretaris, kurir, atau layanan pengantaran.”
Seseorang tertawa kecil. Bukan Marcel, karena Marcel nggak ada di sini. Salah satu staf Hallworth di ujung meja, yang langsung berhenti waktu Catherine Hall meliriknya.
“Sembilan. Seluruh laporan mingguan proyek disusun dan dipresentasikan oleh Bu Rexton secara langsung kepada saya, tanpa didampingi staf. Sepuluh. Dalam setiap rapat gabungan antara Rexton dan tim saya, Bu Rexton membuka rapat dengan pernyataan resmi: ‘Rexton Group berterima kasih atas kesediaan Dr. Renaldi bekerja sama dengan kami.’”
Darren mengepalkan tangan di atas meja.
“Sebelas. Seluruh syarat di atas tidak dapat dinegosiasikan. Jika Rexton Group menolak satu saja di antaranya, saya mundur, dan Hallworth Capital akan menarik pendanaan sesuai klausul empat belas perjanjian investasi.”
Dia menutup buku catatannya.
“Selesai. Sekarang silakan kalau ada pertanyaan.”
Nggak ada yang bertanya.
Om Hendra membuka mulut, lalu menutupnya lagi waktu Oma mengangkat satu tangan. Darren menatapku dengan wajah yang campur aduk antara marah dan memohon, seolah memintaku untuk menolak. Catherine Hall menunggu dengan tenang.
Oma menatapku.
Aku tahu apa arti tatapan itu. Aku sudah melihatnya seumur hidupku. Tatapan yang sama yang dia berikan padaku waktu aku umur tujuh tahun dan menangis karena harus pidato di depan karyawan pada ulang tahun Rexton Mall pertama. Tatapan yang sama waktu aku umur dua puluh tiga tahun dan bilang aku mau menikah dengan staf teknik yatim piatu dari Bandung.
Kamu Rexton. Rexton nggak menangis. Rexton nggak mundur. Rexton melakukan apa yang perlu dilakukan.
Aku membuka tasku.
Aku mengambil Montblanc hitam dengan ujung emas itu.
Catherine Hall menyodorkan dokumen kontrak, sudah dicetak, dengan sebelas syarat yang tercantum di lampiran C. Aku membaliknya ke halaman tanda tangan.
Lalu aku berhenti. Dan membalik kembali ke lampiran C. Dan membacanya. Satu per satu. Sebelas. Dengan tenang. Di depan semua orang. Termasuk nomor tujuh.
Aku membiarkan mereka semua menunggu.
Lalu aku menandatanganinya.
Waktu aku mengangkat kepala, Adrian sedang menatap pulpen di tanganku.
Hanya sedetik. Tapi aku melihatnya. Aku melihat matanya mengenali pulpen itu. Montblanc hitam dengan ujung emas, yang dulu dia pinjam untuk mengisi formulir pendaftaran pernikahan karena pulpennya macet. Yang dia kembalikan sambil bilang, Pulpen orang kaya beda, ya. Tulisanku jadi kelihatan lebih pintar.
Dia mengalihkan mata. Dia berdiri. Dia menjabat tangan Catherine Hall.
Dia nggak menjabat tanganku.
“Itu penghinaan,” kata Darren di dalam lift. Suaranya rendah dan bergetar. “Itu… Bi, itu penghinaan. Di depan Hallworth. Di depan Oma. Kamu nggak harus terima itu.”
“Aku harus.”
“Kita bisa cari sistem lain. Kita bisa negosiasi ulang dengan Hallworth. Kita bisa—“
“Dar.” Aku menatap angka lantai yang turun. Dua puluh. Sembilan belas. “Nggak ada sistem lain. Nggak ada negosiasi ulang. Hallworth bilang AURA atau nggak sama sekali. Dan AURA itu dia.”
“Kalau gitu biar aku yang jadi penghubung. Aku pemegang saham. Aku—“
“Dia nggak mau kamu. Dia mau aku.”
Darren diam. Lalu, dengan suara yang jauh lebih pelan, dia bertanya:
“Kenapa?”
Aku nggak menjawab.
Tapi aku tahu jawabannya. Aku tahu sejak dia membaca syarat nomor lima. Dia nggak butuh penghubung. Dia butuh saksi. Dia butuh aku berdiri di depannya setiap hari, setiap pagi, setiap jam dua pagi kalau dia mau, dan melihat apa yang sudah kubuang.
Dua tahun.
Lift berhenti di lobi. Pintu terbuka. Darren menahan pintunya untukku, seperti biasa.
“Bi,” katanya waktu aku melangkah keluar. “Syarat nomor tujuh. Anak itu… anak kamu, kan?”
Aku berjalan ke pintu keluar tanpa menjawab. Dan Darren, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, nggak mengikutiku.
Malam itu, aku membuka lemari dapur.
Aku mengambil toples kaca kecil dari rak paling atas, di belakang teh chamomile dan granola yang nggak pernah kumakan. Kopi bubuk hitam. Kopi tubruk kampung dari pasar Bandung.
Aku membukanya untuk pertama kalinya. Baunya langsung menyerbu: pahit, gosong, tanah, asap. Bau yang dulu memenuhi dapur rumah Menteng setiap jam lima pagi. Bau yang menempel di kemeja seorang laki-laki yang mencium dahiku sebelum berangkat kerja.
Aku menutupnya lagi. Lalu membukanya lagi.
Dia nggak bilang kopi apa. Syarat nomor delapan cuma bilang kopi saya. Aku bisa membawakan apa saja. Americano dari kafe di lobi. Latte. Kopi sachet dari minimarket. Dia nggak bisa protes, karena dia nggak menyebutkan jenisnya.
Tapi aku tahu dia minum apa.
Aku tahu takarannya. Dua sendok penuh. Air mendidih, bukan air panas, mendidih yang baru diangkat dari kompor. Nggak pakai gula. Diaduk tiga kali, searah jarum jam. Lalu ditutup dengan tatakan selama empat menit, supaya ampasnya turun.
Aku tahu semua itu. Lima tahun aku menolak mengingatnya, dan tanganku masih ingat.
Jam enam lewat empat puluh pagi, aku berdiri di depan pintu kantor Hallworth di lantai dua puluh enam dengan termos kecil berwarna hitam di tangan.
Lipstik merah. Setelan abu-abu. Rambut digerai lagi. Aku nggak tahu kenapa.
Pintu kantor sudah terbuka. Lampu menyala. Dia sudah di sana.
Tentu saja dia sudah di sana. Dia selalu bangun jam lima. Dulu, jam lima dia bangun untuk menyiapkan kopinya sendiri sebelum aku mengambil alih tugas itu di bulan ketiga pernikahan kami, karena aku ingin jadi orang pertama yang dia lihat setiap pagi.
Aku mengetuk pintu yang sudah terbuka.
Adrian duduk di balik meja dekat jendela, dikelilingi tiga monitor yang menampilkan grafik-grafik yang nggak kumengerti. Dia mengangkat kepala.
“Kopi Anda, Dr. Renaldi.”
Aku meletakkan termos itu di mejanya. Aku membuka tutupnya. Aku menuangkan isinya ke cangkir keramik putih yang kubawa sendiri dari apartemen. Uap naik. Bau kopi tubruk menyebar ke seluruh ruangan, pahit dan gosong dan seperti rumah.
Dia menatap cangkir itu.
Dan untuk satu detik yang sangat panjang, aku melihat sesuatu runtuh di wajahnya.
Bukan runtuh. Retak. Seperti kaca yang dipukul pelan dari dalam. Matanya berhenti di permukaan kopi yang hitam pekat itu, di ampas yang belum sepenuhnya turun, di uap yang naik melingkar. Tangannya, yang tadi sedang mengetik, berhenti di atas keyboard. Dan rahangnya bergerak, sekali, seperti orang yang menelan sesuatu yang tajam.
Lalu retakan itu hilang.
Dia berdiri. Dia mengangkat cangkir itu. Dia berjalan ke pantri kecil di sudut ruangan, ke wastafel stainless di bawah jendela.
Dan di depanku, pelan-pelan, tanpa terburu-buru, dia menuangkan kopi itu ke wastafel.
Aku melihat cairan hitam itu mengalir ke lubang pembuangan. Ampasnya menempel di dasar wastafel yang putih seperti noda.
Dia meletakkan cangkir kosong itu di samping wastafel. Lalu dia menatapku, dengan wajah yang sudah kembali datar dan tenang.
“Dulu ada orang yang bikin kopi kayak gini tiap pagi,” katanya. “Rasanya ngingetin saya ke pengkhianat.”
Dia kembali ke mejanya. Duduk. Menatap monitornya.
“Besok, kopi sachet aja, Bu Rexton. Yang tiga ribuan di minimarket. Saya nggak pilih-pilih.”
Aku nggak ingat bagaimana aku sampai di lift.
Aku ingat bunyi sepatuku di lantai koridor. Aku ingat menekan tombol turun. Aku ingat pintu lift terbuka dan tertutup dan aku berdiri sendirian di dalamnya, menatap pantulanku di dinding baja yang mengilap.
Lipstik merah. Setelan abu-abu. Rambut yang digerai.
Termos hitam kosong di tanganku.
Rasanya ngingetin saya ke pengkhianat.
Aku menekan tombol lantai satu. Lalu, entah kenapa, aku menekan tombol berhenti darurat di antara lantai dua puluh dan sembilan belas. Lift berhenti dengan sentakan kecil. Alarm nggak berbunyi. Cuma lampu merah kecil yang berkedip di panel.
Aku bersandar di dinding lift.
Pengkhianat. Dia menyebutku pengkhianat. Laki-laki yang tidur dengan perempuan lain waktu aku baru melahirkan. Laki-laki yang mencuri empat koma tujuh miliar dari keluargaku. Laki-laki itu menuangkan kopiku ke wastafel dan menyebutku pengkhianat.
Aku seharusnya marah. Aku memang marah.
Tapi bukan itu yang membuatku menekan tombol berhenti darurat.
Yang membuatku menekan tombol itu adalah detik sebelum dia menuangkan kopinya. Detik waktu dia menatap cangkir itu dan wajahnya retak. Detik waktu aku melihat, dengan jelas, bahwa laki-laki yang kubenci ini masih hafal bau kopi buatanku. Dan bahwa bau itu menyakitinya.
Kenapa orang yang berkhianat bisa sesakit itu dikhianati?
Ponselku bergetar di tas. Aku mengeluarkannya.
Tasya.
Bu, Ibu di mana? Grup ‘Tim Bu Bianca’ heboh. Pak Darto lihat Ibu masuk lift Hallworth jam 6.40 bawa termos. Mbak Rina dari legal tanya itu termos isi apa. Saya bilang rahasia. Bener kan, Bu? Rahasia?
Lalu satu pesan lagi, dua detik kemudian:
Bu, satu lagi. Kok lift Hallworth berhenti di antara lantai 20 dan 19? Pak Darto lihat di CCTV basement. Ibu nggak apa-apa?
Aku menatap pesan itu lama.
Lalu aku menekan tombol berhenti darurat lagi. Lift kembali bergerak, turun pelan.
Saya nggak apa-apa, Tas, ketikku. Termosnya isi kopi. Bukan rahasia. Besok saya beli kopi sachet.
Aku memasukkan ponsel ke tas.
Lalu aku mengeluarkannya lagi, dan menambahkan satu pesan:
Dan bilang ke Pak Darto, berhenti nonton CCTV saya.
Balasan Tasya datang sebelum lift sampai di lantai satu.
Siap, Bu. Pak Darto bilang maaf. Pak Darto bilang dia cuma khawatir. Pak Darto juga bilang, Ibu cantik hari ini. Katanya rambutnya bagus digerai. Itu Pak Darto yang bilang ya, Bu, bukan saya.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh reading
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama