Chapter Twelve

Lima Puluh Meter

POV: Bianca


Turun.

Satu kata. Dikirim jam tiga lewat lima pagi.

Aku membaca kata itu mungkin seratus kali selama tiga hari berikutnya. Di mobil. Di ruang rapat. Di toilet eksekutif lantai empat puluh, dengan pintu terkunci. Di tempat tidur, jam dua pagi, dengan ponsel di bawah bantal seperti malam itu, menunggu sesuatu yang aku tahu nggak akan datang.

Turun.

Panasnya turun. Elea baik-baik saja.

Aku nggak tahu kenapa satu kata itu membuatku menangis di kamar mandi selama dua puluh menit, dengan air shower menyala supaya nggak ada yang dengar, padahal aku tinggal sendirian dan nggak ada siapa-siapa yang bisa mendengar.

Aku nggak tahu kenapa, setelah itu, aku mencari nomor telepon Bi Imah di dokumen lama Rexton, di arsip HRD lima tahun lalu, di kolom kontak darurat formulir karyawan atas nama Adrian Renaldi. Aku nggak tahu kenapa aku menelepon perempuan tua itu jam tujuh pagi hari Sabtu dan berbohong bahwa aku dari sekolah.

Bi Imah nggak percaya. Aku bisa mendengarnya dari suaranya. Tapi dia bilang Elea sudah sembuh. Dan sebelum menutup telepon, dia diam lama, lalu bilang satu kalimat:

“Hati-hati di jalan, Nak.”

Aku nggak tahu apa maksudnya. Aku nggak sedang di jalan.


Hari Sabtu berikutnya, Sekolah Cendekia Internasional mengadakan bazar tahunan.

Rexton Group adalah sponsor utama. Sudah lima tahun. Rexton Mall Pondok Indah ada di seberang jalan dari sekolah itu, dan setengah murid sekolah itu adalah anak-anak tenant premium kami. Setiap tahun, Rexton mengirim perwakilan untuk membuka bazar, memberi sambutan, dan memotong pita.

Biasanya, perwakilan itu adalah manajer pemasaran.

Tahun ini, aku yang datang.

Aku bilang ke diriku sendiri bahwa itu keputusan bisnis. Rexton sedang diserang di media. Judul berita Rexton Hebat, Kecuali Pemimpinnya sudah dibagikan dua ratus ribu kali dalam seminggu. Aku perlu terlihat di depan publik. Terlihat dekat dengan komunitas. Terlihat sebagai pemimpin yang hangat, bukan yang lebih sibuk menjaga nama daripada menjaga gedung.

Itu yang kubilang ke Tasya, ke Darren, ke Oma.

Aku nggak bilang bahwa aku tahu Elea Renaldi bersekolah di sana. Bahwa aku sudah tahu sejak hari pertama, karena Rexton punya data semua anak tenant dan staf yang terdaftar di sekolah-sekolah sekitar mal, dan nama itu muncul di daftar siswa baru Kindergarten 2, dengan nama wali Dr. Adrian Renaldi.

Aku nggak bilang ke siapa-siapa bahwa aku sudah menghitung jaraknya. Lapangan utama sekolah, tempat panggung sambutan berdiri, berjarak sembilan puluh meter dari area stan kelas Kindergarten.

Sembilan puluh meter. Lebih dari lima puluh.

Aku bisa berdiri di panggung. Aku bisa memberikan sambutan. Aku bisa memotong pita. Dan dari jarak sembilan puluh meter, kalau aku beruntung, kalau aku melihat ke arah yang tepat di saat yang tepat, aku mungkin bisa melihatnya.

Hanya melihat.

Itu nggak melanggar apa-apa.


Aku memakai gaun putih.

Bukan putih gading. Bukan krem. Putih bersih, katun ringan dengan potongan sederhana sampai bawah lutut, lengan pendek, kerah kecil. Aku membelinya dua hari lalu di butik di Rexton Mall Pondok Indah, dalam waktu lima menit, tanpa mencobanya.

Tasya menatapku waktu aku keluar dari mobil.

“Bu. Ibu pakai putih.”

“Iya.”

“Ibu nggak pernah pakai putih.”

“Sekarang pakai.”

Tasya menatapku lama, dengan mata yang menyipit seperti detektif amatir. Lalu dia bilang, dengan suara yang sangat hati-hati, “Bu, Ibu cantik banget. Kayak… kayak pagi.”

Aku berhenti melangkah.

“Kenapa kamu bilang gitu?”

“Nggak tahu, Bu. Kelihatannya gitu aja.” Tasya mengangkat bahu. “Ibu biasanya kayak malam. Merah, hitam, tajam. Hari ini kayak pagi.”

Aku nggak menjawab. Aku berjalan ke arah gerbang sekolah dengan langkah yang sedikit terlalu cepat.

Lipstikku hari ini juga bukan merah. Merah muda pucat. Hampir nggak berwarna.

Aku nggak tahu kenapa.


Lapangan sekolah penuh.

Stan-stan berjejer di sepanjang pinggir lapangan, dengan atap kain warna-warni dan papan nama yang ditulis tangan oleh anak-anak. Ada stan kue, stan kerajinan, stan permainan lempar bola, stan lukis wajah. Musik anak-anak diputar dari pengeras suara. Bau popcorn dan gulali dan sate ayam bercampur di udara panas bulan Juni.

Anak-anak berlarian di mana-mana. Orang tua berdiri bergerombol dengan kacamata hitam dan es teh di tangan.

Aku berdiri di panggung kecil di ujung lapangan, di samping kepala sekolah, dan memberikan sambutan.

Aku nggak ingat apa yang kubilang. Sesuatu tentang komunitas. Sesuatu tentang pendidikan. Sesuatu tentang Rexton yang bangga menjadi bagian dari tumbuh kembang anak-anak Jakarta. Kata-kata yang sudah kuucapkan puluhan kali di puluhan acara. Kata-kata yang keluar sendiri dari mulutku seperti rekaman.

Karena mataku nggak di naskah. Mataku di ujung lain lapangan.

Sembilan puluh meter.

Area stan Kindergarten. Stan kecil dengan atap kain kuning bertuliskan K2 — BUTTERFLY GARDEN, dihiasi kupu-kupu kertas yang digantung dengan benang. Di depannya, anak-anak kecil berseragam biru tua berdiri berjajar, menjual kupu-kupu kertas buatan mereka sendiri.

Dan di tengah barisan itu, dengan rambut cokelat gelap dikepang dua dengan pita kuning, dengan pipi yang sudah nggak merah lagi, dengan senyum lebar yang memperlihatkan satu gigi depan yang mulai goyang, berdiri seorang anak perempuan.

Aku berhenti bicara.

Kepala sekolah menoleh padaku. Beberapa orang tua di depan panggung menatapku dengan bingung.

“…sebagai bagian dari keluarga besar Sekolah Cendekia,” aku melanjutkan, dengan suara yang tiba-tiba serak. “Terima kasih. Selamat menikmati bazar.”

Tepuk tangan. Aku memotong pita. Kamera berkedip.

Lalu aku turun dari panggung, dan berdiri di pinggir lapangan, di bawah pohon ketapang yang besar, sembilan puluh meter dari stan kuning itu, dan menatap.

Hanya menatap.


Dia nggak bisa diam.

Itu yang pertama kuperhatikan. Anak-anak lain di stan itu berdiri di belakang meja dengan sopan, menunggu pembeli datang. Elea nggak. Elea berdiri di depan meja, menghampiri setiap orang dewasa yang lewat, mengangkat kupu-kupu kertas di tangannya, dan bicara dengan kecepatan yang membuat orang-orang tertawa.

Aku nggak bisa mendengar apa yang dia katakan. Tapi aku bisa melihat tangannya bergerak-gerak waktu dia bicara. Aku bisa melihat bagaimana dia memiringkan kepalanya waktu orang dewasa menjawab. Aku bisa melihat bagaimana dia menghentakkan kaki kecilnya ke tanah dengan frustrasi waktu seorang bapak-bapak menggeleng dan berjalan pergi tanpa membeli.

Lalu dia berbalik, menghampiri ibu-ibu berikutnya, dan memulai lagi.

Gigih. Keras kepala. Nggak mau kalah.

Aku nggak tahu dari siapa dia mewarisi itu.

Lalu aku tahu. Dan aku menutup mulutku dengan tangan.

Papa. Papa juga begitu. Papa yang datang ke setiap tenant secara pribadi waktu Rexton Mall pertama baru buka dan sepi, membujuk mereka satu per satu, ditolak sembilan kali sebelum diterima sekali. Papa yang bilang ke aku waktu aku umur sepuluh tahun, Rexton nggak pernah berhenti di “tidak”, Bi. “Tidak” itu cuma “belum”.

Dan aku. Aku juga begitu, dulu. Sebelum semuanya.

Anak di stan kuning itu, sembilan puluh meter dariku, adalah gabungan dari Papa dan aku dan Adrian. Dan aku nggak ada di sana waktu dia belajar berjalan. Waktu dia belajar bicara. Waktu dia belajar bahwa “tidak” itu cuma “belum”.

Aku nggak ada.

Aku memilih nggak ada.


“Bu.” Tasya muncul di sampingku dengan dua gelas es teh. “Ibu dari tadi berdiri di sini. Mau duduk? Ada kursi di tenda panitia.”

“Nggak usah.”

Tasya mengikuti arah pandangku. Lalu dia diam lama.

“Bu,” katanya pelan. “Itu dia, ya? Yang di stan kuning? Yang kepang dua?”

Aku nggak menjawab.

“Mirip Ibu banget,” bisik Tasya. “Matanya. Cara dia miringin kepala.”

“Tasya.”

“Iya, Bu. Saya diam.”

Tapi dia nggak pergi. Dia berdiri di sampingku, di bawah pohon ketapang, memegang dua gelas es teh yang mulai mencair, dan ikut menatap.


Kejadiannya cepat sekali.

Angin bertiup. Angin siang yang tiba-tiba, cukup kencang untuk membuat atap-atap kain stan berkibar dan kupu-kupu kertas yang digantung di stan kuning berputar-putar di benangnya.

Dan sesuatu yang kecil dan berkilau terlepas dari rambut Elea.

Aku melihatnya jatuh. Berkilau di bawah matahari. Memantul sekali di rumput. Lalu tertiup angin, terguling-guling, menjauh dari stan kuning, ke arah tengah lapangan.

Elea menjerit. Jeritan kecil yang panik, yang bisa kudengar dari sembilan puluh meter. Dia meninggalkan stan, meninggalkan meja, meninggalkan kupu-kupu kertasnya, dan berlari mengejar benda kecil yang berkilau itu.

Benda itu terus terguling. Tertiup angin. Melewati stan lukis wajah. Melewati stan lempar bola. Melewati gerombolan orang tua dengan es teh di tangan.

Ke arahku.

Delapan puluh meter. Tujuh puluh. Enam puluh.

Elea berlari di belakangnya, kepangan dua dengan pita kuning bergoyang-goyang, wajah merah, mata basah. Ms. Ratih berteriak memanggilnya dari stan. Elea nggak berhenti.

Lima puluh meter.

Aku harus pergi. Aku tahu aku harus pergi. Syarat nomor tujuh. Radius lima puluh meter. Aku harus berbalik dan berjalan menjauh sekarang juga.

Kakiku nggak bergerak.

Empat puluh meter. Tiga puluh. Dua puluh.

Benda kecil itu berhenti terguling. Tersangkut di akar pohon ketapang yang menonjol dari tanah. Tepat di depan sepatuku.

Aku menunduk.

Jepit rambut. Perak. Kecil. Berbentuk kupu-kupu dengan sayap berukir halus dan satu batu kecil berwarna biru pucat di tengahnya.

Dunia berhenti untuk keempat kalinya dalam hidupku.


Aku kenal jepit itu.

Aku kenal setiap ukiran di sayapnya. Aku kenal batu biru pucat di tengahnya, yang Papa bilang adalah aquamarine, batu kelahiran bulan Maret, bulan kelahiranku. Aku kenal goresan kecil di sayap kiri, yang terjadi waktu aku umur delapan belas dan menjatuhkannya di tangga marmer rumah Menteng.

Papa memberikannya padaku di ulang tahunku yang ketujuh belas. Di ruang kerjanya. Dalam kotak beludru biru kecil. Untuk putri Papa yang paling cantik, katanya. Biar kamu ingat, kupu-kupu itu awalnya ulat. Semua orang bisa berubah jadi lebih indah.

Aku memakainya setiap hari selama tujuh tahun.

Aku memakainya di hari pernikahanku.

Aku memakainya di hari aku melahirkan.

Dan aku nggak pernah memakainya lagi setelah… setelah malam itu. Aku nggak pernah mencarinya. Aku mengira aku menghilangkannya di suatu tempat. Aku nggak pernah bertanya ke mana perginya.

Aku berlutut. Gaun putih menyentuh rumput. Tanganku gemetar waktu aku memungut jepit itu dari akar pohon ketapang.

Logamnya hangat. Hangat dari matahari. Hangat dari rambut seorang anak kecil yang memakainya setiap hari.

Dan sesuatu bergerak di dasar ingatanku. Sesuatu yang gelap dan berat, yang sudah lima tahun kukubur di tempat paling dalam. Kamar bayi bercat krem. Langit-langit dengan awan-awan kecil. Tangisan dari boks. Tanganku sendiri, gemetar, meraih rambutku, melepas sesuatu, dan—

“Tante!”

Aku mendongak.

Elea berdiri tiga langkah di depanku. Napasnya memburu. Wajahnya merah. Air mata di pipinya. Kepangan kanannya setengah lepas karena berlari.

Dia menatap jepit di tanganku. Lalu menatap wajahku.

Dan wajahnya berubah. Air mata berhenti. Matanya membulat. Bibirnya terbuka dalam senyum yang lebar dan basah.

“Tante cantik! Tante yang di hotel!”

Aku nggak bisa bicara.

“Itu punya Elea!” Elea menunjuk jepit di tanganku. “Jepit Elea jatuh! Terus terbang! Terus Elea kejar! Terus Tante yang dapat!”

Dia melangkah maju. Satu langkah. Dua.

Tiga langkah. Dia sudah di depanku. Cukup dekat sehingga aku bisa mencium bau gulali dan keringat dan sampo bayi dari rambutnya. Cukup dekat sehingga aku bisa melihat bulu matanya yang panjang dan basah, dan tahi lalat kecil, sangat kecil, hampir nggak terlihat, di bawah mata kirinya.

Persis di tempat yang sama.

“Tante,” katanya, dengan suara yang tiba-tiba pelan dan hati-hati. “Papa bilang Elea nggak boleh dekat-dekat Tante.”

Aku menelan sesuatu yang tajam.

“Papa kamu benar,” bisikku.

“Tapi itu jepit Elea.”

“Iya.”

Aku mengulurkan tanganku. Telapak terbuka. Jepit kupu-kupu perak di tengahnya, berkilau di bawah matahari.

Aku nggak menyentuhnya. Aku nggak menyentuh rambutnya. Aku nggak menyelipkan jepit itu di atas telinga kanannya, walaupun seluruh tubuhku ingin melakukannya, walaupun tanganku gemetar karena menahannya.

Aku cuma mengulurkan tangan, dan menunggu.

Elea menatap telapak tanganku. Lalu, dengan jari-jari kecil yang lengket karena gulali, dia mengambil jepit itu dengan sangat hati-hati, seolah takut menyentuh kulitku.

Ujung jarinya menyentuh telapak tanganku. Sedetik. Kurang dari sedetik.

Hangat.

“Makasih, Tante,” katanya. Lalu dia menggenggam jepit itu di dadanya, persis seperti bayi empat bulan menggenggam sesuatu yang dingin dan berkilau di kursi belakang taksi lima tahun lalu, persis seperti cerita yang nggak pernah kudengar dan yang baru akan kudengar jauh kemudian.

“Ini punya Elea,” katanya dengan bangga. “Dari dulu punya Elea.”


“ELEA.”

Suara itu datang dari belakang anakku. Keras. Tajam. Seperti cambuk.

Elea menoleh. Aku mendongak.

Adrian berdiri dua puluh meter dari kami, di tengah lapangan. Kemeja biru muda dengan lengan digulung, memperlihatkan bekas jahitan panjang di lengan kirinya. Kacamata. Wajah yang putih seperti kertas.

Dia berjalan ke arah kami. Cepat. Setiap langkahnya terdengar seperti ketukan palu.

“Papa!” Elea mengangkat jepit di tangannya dengan riang. “Papa, jepit Elea jatuh terus Tante—“

Adrian sampai. Dia nggak menatapku. Dia berlutut di depan Elea, memeriksa wajahnya, tangannya, lututnya, seperti memeriksa apakah ada yang hilang atau patah. Lalu dia mengangkat Elea ke gendongannya, berdiri, dan mundur tiga langkah dariku.

Baru setelah itu dia menatapku.

Aku masih berlutut di rumput, dengan gaun putih yang kotor oleh tanah di bagian lutut.

“Lima puluh meter,” katanya. Suaranya rendah. Sangat tenang. Lebih menakutkan daripada kalau dia berteriak. “Kamu tanda tangan. Kamu tahu.”

“Dia yang lari ke sini,” kata Tasya di belakangku, dengan suara gemetar. “Pak, Bu Bianca nggak—“

“Saya nggak bicara sama Mbak Tasya.”

Tasya diam.

Adrian menatapku. Elea di gendongannya menatapku juga, dari balik bahu ayahnya, dengan mata yang bingung dan mulai berkaca-kaca lagi.

“Kamu udah buang dia,” kata Adrian. Pelan. Hanya untukku. “Kamu nggak berhak pungut apa pun yang jatuh dari dia.”

Dia berbalik. Dia berjalan pergi dengan Elea di gendongannya.

Elea menoleh ke belakang, ke arahku, dari balik bahu ayahnya. Dia mengangkat tangan kecilnya yang menggenggam jepit kupu-kupu, dan melambai. Sekali. Malu-malu.

Lalu dia membenamkan wajahnya di leher ayahnya.


Surat teguran resmi dari dewan direksi Rexton Group datang hari Senin.

Pelanggaran Lampiran C, Syarat Nomor Tujuh, Perjanjian Kerja Sama Rexton Group — Hallworth Capital. Ditandatangani oleh Ketua Dewan Direksi, Margareth Rexton.

Surat teguran pertama dalam karierku. Oma menandatanganinya tanpa memanggilku. Tanpa bertanya. Tanpa membaca penjelasan yang kuserahkan.

Dan di bawahnya, satu lampiran lagi. Dari Hallworth. Atas permintaan Dr. Renaldi.

Pernyataan Permintaan Maaf Tertulis. Kepada: Dr. Adrian Renaldi, selaku wali sah Elea Renaldi.

Aku harus menandatanganinya di kantor Hallworth, di depan dia.

Hari Selasa jam sembilan pagi, aku duduk di seberang mejanya. Lipstik merah lagi. Setelan hitam lagi. Gaun putih itu sudah kumasukkan ke kantong plastik dan kuletakkan di sudut lemari, di samping setelan krem yang bernoda darah.

Adrian menyodorkan dokumen itu tanpa bicara.

Aku membacanya. Paragraf pertama: pengakuan pelanggaran. Paragraf kedua: komitmen untuk nggak mengulangi. Paragraf ketiga: permintaan maaf kepada wali sah.

Dan di bagian tanda tangan, di bawah garis kosong, sudah diketik rapi:

Bianca Rexton Pihak yang tidak memiliki hak asuh

Aku menatap kata-kata itu lama.

Pihak yang tidak memiliki hak asuh.

“Tanda tangan di sini, Bu Rexton,” kata Adrian. Dia menunjuk garis kosong itu dengan ujung pulpen. Pulpen hitam biasa. Bukan Montblanc.

Aku mengambil pulpenku sendiri dari tas. Montblanc hitam dengan ujung emas.

Aku menandatanganinya.

Adrian mengambil dokumen itu. Dia membacanya sekali, dari atas sampai bawah, pelan, tanpa ekspresi. Lalu dia memasukkannya ke dalam map biru tanpa komentar. Map itu dia masukkan ke laci meja. Laci itu dia kunci.

“Terima kasih, Bu Rexton. Itu saja.”

Aku berdiri. Aku berjalan ke pintu. Aku memegang gagangnya.

Lalu aku berhenti, dan berbalik.

“Jepit itu,” kataku.

Adrian, yang sudah kembali menatap monitornya, membeku.

“Jepit kupu-kupu perak yang dipakai Elea.” Suaraku tenang. Aku memastikannya tenang. “Dari mana kamu dapat?”

Dia nggak menoleh. Dia menatap monitornya. Tapi jemarinya di atas keyboard nggak bergerak.

“Kenapa Ibu mau tahu?”

Aku menatap punggungnya. Bahunya yang tegang di balik kemeja abu-abu. Bekas jahitan di lengan kirinya yang terlihat dari balik lengan kemeja yang digulung.

Aku bisa bilang, Karena itu jepitku. Aku bisa bilang, Karena Papa memberikannya padaku di ulang tahun ketujuh belas. Aku bisa bilang, Karena aku baru ingat sesuatu tentang malam itu, sesuatu yang lima tahun kukubur, dan aku nggak tahu apakah itu ingatan atau mimpi.

Aku nggak bilang apa-apa dari itu.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Jepitnya cantik. Cocok sama dia.”

Aku membuka pintu dan keluar.

Di koridor, aku berjalan sampai ke lift dengan langkah tegak dan sepatu hak sepuluh senti yang bunyinya tajam di lantai marmer. Aku menekan tombol turun. Pintu terbuka. Aku masuk.

Pintu tertutup.

Aku menatap telapak tangan kananku. Telapak yang tiga hari lalu disentuh ujung jari kecil yang lengket karena gulali. Kurang dari sedetik.

Aku menutup tanganku, pelan, seperti menutup sesuatu yang berharga di dalam genggaman.

Lalu aku menekan tombol berhenti darurat, untuk kedua kalinya dalam hidupku.