Chapter Thirty
Kontrak Elea
POV: Adrian
“Om Bayu, Elea butuh bantuan.”
“Bantuan apa, Elea?”
“Bikin kontrak.”
Bayu, yang sedang memakan pisang goreng buatan Bi Imah di meja makan hari Senin sore, berhenti mengunyah. Dia menatapku di seberang meja. Aku menatap laptopku dengan sangat fokus.
“Kontrak apa?” tanya Bayu hati-hati.
“Kontrak buat Papa sama Tante Bianca.”
Pisang goreng di tangan Bayu jatuh ke piring.
Elea naik ke kursi di samping Bayu, membawa buku gambar dan kotak pensil warna empat puluh delapan warna. Dia membuka buku gambarnya ke halaman kosong dengan gerakan yang sangat profesional, seperti notaris membuka berkas.
“Tante Bianca udah tanda tangan kontrak Elea,” jelas Elea. “Sebelas peraturan. Sekarang Elea mau bikin kontrak buat Papa sama Tante Bianca. Barengan.”
“Barengan,” ulang Bayu.
“Iya. Biar adil.”
Bayu menatapku lagi. Aku masih menatap laptop. Aku nggak membaca apa pun di layarnya. Aku sudah membaca kalimat yang sama sejak Elea turun dari tangga.
“Papa,” kata Elea. “Papa boleh dengerin. Tapi Papa nggak boleh protes sampai Elea selesai.”
Bayu tersedak udara.
Aku akhirnya mengangkat kepala. “Itu kalimat Papa, Sayang.”
“Elea tahu. Elea dengar Papa ngomong gitu di telepon sama orang kantor.” Elea mengambil pensil warna ungu. “Om Bayu, gimana cara nulis kontrak?”
Kontrak itu selesai dalam satu jam.
Satu halaman penuh. Ditulis dengan pensil warna berbeda-beda. Dihiasi gambar bintang, kupu-kupu, dan sesuatu yang menurut Elea adalah hamster bernama Kapitein. Bayu membantunya mengeja kata-kata sulit, dan sesekali menyarankan kata-kata yang menurutku sangat mencurigakan.
Elea berdiri di depan meja makan, memegang kertasnya dengan dua tangan, dan membacakannya dengan suara keras dan resmi.
“Kontrak Papa dan Tante Bianca. Dibuat oleh Elea Renaldi. Dibantu Om Bayu.“
“Saksi,” koreksi Bayu.
“Disaksikan Om Bayu.“ Elea berdeham. “Satu. Papa dan Tante Bianca nggak boleh berantem di depan Elea.“
Aku mengangguk.
“Dua. Kalau Papa dan Tante Bianca berantem, harus baikan sebelum Elea tidur.“
“Elea, kami nggak—“
“Papa. Nggak boleh protes sampai selesai.”
Aku menutup mulut. Bayu menggigit pisang goreng untuk menyembunyikan senyumnya.
“Tiga. Papa dan Tante Bianca harus bantu Elea bikin PR. Barengan.“
Bayu mendengus.
“Empat. Kalau Elea sakit, Tante Bianca boleh datang. Bukan cuma hari Sabtu.“
Aku berhenti mengangguk.
“Lima. Papa harus senyum kalau Tante Bianca datang. Elea lihat Papa nggak senyum hari Sabtu. Muka Papa kayak lagi rapat.“
“Elea—“
“Enam,“ lanjut Elea, mengabaikanku dengan sangat profesional. “Papa dan Tante Bianca harus antar Elea ke sekolah. Barengan. Sekali aja. Biar Lucas lihat Elea punya Papa dan Mama.“
Dia berhenti.
Dia menatap kertasnya. Di nomor enam, ada kata Mama yang ditulis, lalu dicoret dengan pensil, lalu ditulis lagi di atasnya dengan pensil yang lebih tipis: Tante.
Lalu coretan itu dihapus. Dan kata Mama dibiarkan, setengah pudar karena penghapus.
Elea menatap kata itu. Lalu dia melanjutkan tanpa membahasnya.
“Tujuh. Papa harus bilang ke Tante Bianca kalau Papa capek. Biar Tante bantu pijitin.“
Bayu menyemburkan teh manisnya ke meja.
“Om Bayu!” protes Elea. “Kertas Elea kena!”
“Maaf, maaf. Om kesedak.” Bayu menatapku dengan mata berair, entah karena tersedak atau karena menahan tawa. “Mas. Itu bukan saran Om, sumpah. Itu ide dia sendiri.”
Aku menatap Bayu dengan tatapan yang bisa membekukan air.
“Delapan,” kata Elea. Lalu dia berhenti. Dia menatap kertasnya. Lalu dia menatapku. “Delapan Elea belum tulis. Elea nggak tahu mau tulis apa. Papa ada usul?”
Aku menatap anakku.
“Papa boleh protes sekarang?”
“Boleh.”
“Papa nggak protes,” kataku. “Papa cuma mau tanya. Kenapa Elea bikin kontrak ini?”
Elea menatapku lama. Lalu dia meletakkan kertasnya di meja, dan menatap ujung sepatunya.
“Soalnya Lucas bilang,” katanya pelan, “papa sama mamanya dulu juga berantem. Terus pisah. Terus Lucas tinggal sama mamanya, papanya di Belanda. Lucas bilang dia ketemu papanya cuma Natal.” Dia menatapku. “Elea nggak mau ketemu Tante Bianca cuma hari Sabtu. Elea mau ketemu kalau Elea mau.”
Dapur sunyi. Bayu meletakkan pisang gorengnya.
“Elea masih marah sama Tante,” lanjut Elea. “Tapi Elea mau Tante datang. Itu boleh, kan? Marah tapi mau ketemu?”
Aku menatap anakku. Gaun kuning dengan noda pensil warna di lengan. Kepang dua yang sudah setengah lepas. Jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanan.
Marah tapi mau ketemu.
Aku tahu persis rasanya.
“Boleh,” kataku. “Itu boleh, Sayang.”
Elea tersenyum. Lalu dia mengambil pensil warna merah dan menulis sesuatu di nomor delapan. Dia menyembunyikan kertasnya dengan tangannya waktu menulis, supaya aku nggak bisa membaca.
Lalu dia melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku gaunnya.
“Nanti Papa baca kalau Tante udah tanda tangan,” katanya. “Tante duluan.”
“Mas,” kata Bayu malam itu, setelah Elea tidur, di teras belakang dengan dua cangkir kopi tubruk. “Aku sama Bi Imah taruhan.”
“Taruhan apa?”
“Berapa lama sampai kamu nyerah.”
Aku menatapnya.
“Bi Imah bilang sebulan. Aku bilang dua.” Bayu menyeruput kopinya. “Kalau aku menang, Bi Imah masakin rendang tiap Jumat selama sebulan. Kalau Bi Imah menang, aku harus ikut senam Zumba bareng Tasya, pakai baju senam warna pink.”
“Kalian taruhan soal hidupku.”
“Soal kebahagiaan kamu, Mas. Itu beda.”
“Nyerah apa, Bay?”
Bayu menatapku dengan wajah orang yang sabar menghadapi anak kecil yang pura-pura nggak tahu.
“Mas. Aku lihat leher kamu hari Sabtu. Waktu dia pegang lengan kamu di pagar. Aku lihat dari jendela dapur.” Bayu menggeleng. “Merah kayak kepiting rebus. Bi Imah sampai harus pura-pura nyari sesuatu di kulkas biar nggak ketawa.”
Aku menatap kopiku.
“Itu reaksi fisiologis,” kataku. “Vasodilatasi. Bisa karena suhu. Bisa karena—“
“Mas. Kamu doktor engineering. Bukan doktor kedokteran. Jangan pakai istilah medis buat ngeles.”
Aku diam.
Bayu menatapku lama. Lalu suaranya berubah. Pelan. Serius.
“Mas. Aku nggak bilang kamu harus maafin dia. Itu urusan kamu. Lima tahun, Mas. Aku tahu rasanya. Aku lihat sendiri. Aku nggak akan pernah bilang kamu harus lupa.” Dia menatap pohon mangga. “Tapi aku juga lihat kamu hari Sabtu. Waktu Elea gambar dia, empat puluh menit. Kamu berdiri di ambang dapur. Muka kamu, Mas…”
“Muka aku kenapa?”
“Muka kamu kayak waktu Elea bilang Pa pertama kali. Di depan lemari es. Di Cowley.”
Aku nggak bisa menjawab.
Bayu menghabiskan kopinya. Berdiri. Menepuk bahuku dua kali.
“Dua bulan, Mas,” katanya. “Aku pasang dua bulan. Jangan bikin aku kalah. Aku nggak mau pakai baju senam pink.”
Elea mulai melanggar kontraknya sendiri hari Rabu.
Bukan melanggar. Memanfaatkan. Dengan kreativitas yang mengerikan.
Rabu jam satu siang, Ms. Ratih menelepon. Pak Renaldi, Elea mengeluh sakit perut. Dia minta dijemput.
Aku sedang dalam rapat dengan Catherine Hall dan tim auditor dari Singapura, membahas restrukturisasi direksi keuangan Rexton.
“Saya jemput sekarang,” kataku.
Ehm, Pak. Ms. Ratih ragu. Elea bilang… dia minta dijemput Tante Bianca. Katanya ada di kontrak. Nomor empat. Kalau Elea sakit, Tante Bianca boleh datang.
Aku menatap Catherine Hall di layar. Catherine menatapku balik dengan alis terangkat.
“Bu Ratih,” kataku pelan. “Tolong berikan teleponnya ke Elea.”
Bunyi gemerisik. Lalu suara kecil.
“Halo, Papa.”
“Elea. Perut kamu sakit?”
“Sakit, Pa. Sakit banget.” Jeda. “Di sini.”
“Di mana?”
“…Di perut.”
“Perut sebelah mana?”
Hening.
“Sebelah… sebelah perut.”
Aku menutup mata. Di layar, Catherine Hall menutup mulutnya dengan tangan.
“Elea,” kataku. “Papa jemput sekarang. Papa sendiri.”
“Tapi kontraknya—“
“Kontraknya belum ditandatangani Tante Bianca, Sayang. Belum berlaku.”
Hening panjang.
“…Oh,” kata Elea. “Iya, ya.” Lalu, dengan suara yang tiba-tiba sangat sehat: “Kalau gitu Elea nggak sakit lagi. Elea balik ke kelas. Dah, Papa.”
Telepon ditutup.
Catherine Hall tertawa sampai harus melepas kacamatanya.
“Adrian,” katanya, masih tertawa. “Your daughter is a menace.”
“She’s a lawyer,” kataku. “Bayu’s been saying it for years.”
Kamis, Elea “lupa” PR-nya.
PR membuat kupu-kupu dari kertas lipat. Harus dikumpulkan hari Jumat. Elea bilang dia nggak bisa membuatnya. Dia sudah coba. Kupu-kupunya selalu jadi kodok.
“Papa bisa bantu,” kataku.
“Papa nggak bisa bikin kupu-kupu. Papa bikin beruang aja kayak kentang.”
Bi Imah, di dapur, tertawa.
“Nenek bisa?”
“Nenek nggak bisa origami, Sayang,” kata Bi Imah. “Nenek bisanya bikin ketupat.”
Elea menatapku dengan mata almond yang bulat dan polos dan sangat, sangat mencurigakan.
“Tante Bianca bisa bikin kupu-kupu kertas,” katanya. “Tante bilang hari Sabtu. Tante dulu waktu kecil suka bikin kupu-kupu kertas. Ada fotonya.”
Aku menatap anakku.
“Elea,” kataku pelan. “Kamu sengaja?”
Elea menatapku. Lama. Lalu dia menunduk.
“Sedikit,” bisiknya.
Aku menghela napas. Panjang.
Lalu aku mengeluarkan ponselku.
PR Elea. Kupu-kupu origami. Harus dikumpul besok. Dia bilang kamu bisa. Dia bilang Papanya bikin beruang kayak kentang.
Balasan datang dalam tiga puluh detik.
Aku bisa. Bisa aku datang? Atau aku kirim video tutorial?
Aku menatap pesan itu.
Syarat nomor tujuh. Sabtu. Dua jam. Di rumah. Aku ada di ruangan yang sama.
Hari ini Kamis.
Aku mengetik.
Video.
Lalu aku menghapusnya.
Aku menatap Elea, yang duduk di meja makan dengan kertas lipat warna-warni di depannya, dan tiga kupu-kupu gagal yang memang terlihat seperti kodok. Dia menatapku dengan mata yang menunggu.
Aku mengetik lagi.
Satu jam. Sekarang. Aku ada di ruangan yang sama.
Kirim.
Balasan datang dalam lima detik.
20 menit.
Dia datang dalam delapan belas menit.
Masih dengan setelan kantor. Kemeja abu-abu. Rok pensil hitam. Sepatu hak, hak rendah kali ini. Rambut dicepol. Lipstik merah muda pucat.
Dia pasti langsung dari kantor. Dia pasti meninggalkan sesuatu yang penting.
“Tante!” Elea melompat dari kursinya. Lalu dia berhenti. Ingat peraturannya. Dia nggak lari ke arah Bianca. Dia berdiri di samping meja makan dan melambai. Sopan. Seperti menyambut tamu.
“Halo, Elea.” Bianca melepas sepatunya di depan pintu. Menatapku. “Halo.”
“Halo.”
“Selamat datang di rumah,” kata pintu depan.
“Selamat sore,” jawab Bianca ke pintu itu.
Bi Imah, dari dapur, menatapku dengan alis terangkat penuh arti.
Satu jam itu, aku duduk di ujung meja makan dengan laptop terbuka, pura-pura bekerja.
Aku nggak bekerja.
Aku menatap mereka berdua di seberang meja. Bianca duduk di samping Elea, dengan kertas lipat merah muda di tangannya, melipat dengan gerakan yang lambat dan sabar.
“Lipat jadi segitiga dulu. Kayak gini.”
“Kayak gini?”
“Hampir. Ujungnya ketemu ujung. Pas.”
“Pas!”
“Pintar. Sekarang lipat lagi. Jadi segitiga yang lebih kecil.”
Dia mengajar seperti dia memimpin rapat. Tenang. Jelas. Selangkah demi selangkah. Tapi suaranya berbeda. Lebih pelan. Lebih hangat. Suara yang nggak pernah kudengar dia pakai di ruang rapat. Suara yang dulu, lima tahun lalu, dia pakai waktu bicara ke perutnya sendiri, setiap malam, di bulan ketujuh kehamilan, waktu kami mengecat awan-awan di langit-langit kamar bayi.
Aku sudah lupa suara itu.
Atau aku memaksa diriku lupa.
“Tante,” kata Elea, waktu kupu-kupu pertamanya jadi. Merah muda, sedikit miring, tapi jelas kupu-kupu. “Ini kupu-kupu! Bukan kodok!”
“Bukan kodok,” kata Bianca, tersenyum. “Kupu-kupu yang cantik.”
“Tante bilang cantik. Peraturan nomor empat.”
“Itu buat kamu, Sayang. Bukan buat kupu-kupu.”
Elea berpikir. “Oke. Kupu-kupu boleh dibilang cantik.”
Aku menunduk ke laptopku dan menekan sudut bibirku dengan jari.
Lalu aku merasakan tatapan.
Aku mengangkat kepala. Bianca menatapku dari seberang meja. Satu detik. Matanya turun ke jariku yang menekan sudut bibir. Lalu naik lagi ke mataku.
Dia tahu aku menahan senyum.
Dan dia tersenyum. Pelan. Hanya untukku. Senyum yang sedikit bengkok di sudut kiri.
Lalu dia kembali menatap Elea, seolah nggak terjadi apa-apa.
Leherku memanas.
Waktu dia pulang, aku mengantarnya ke pintu. Elea sudah berlari ke atas untuk memamerkan tujuh kupu-kupu origami ke Bi Imah.
Di ambang pintu, dia memakai sepatunya. Pelan. Satu kaki. Lalu kaki lain. Dia berpegangan pada lenganku untuk menjaga keseimbangan.
Lengan kiriku. Bekas jahitan.
Dia nggak melepaskannya setelah sepatunya terpasang.
“Terima kasih,” katanya. “Udah izinin aku datang. Hari Kamis.”
“Elea yang minta.”
“Aku tahu.” Dia menatapku. “Tapi kamu yang izinin.”
Tangannya masih di lenganku. Ibu jarinya bergerak. Sedikit. Menyusuri bekas jahitan di bawah siku. Sama seperti hari Sabtu di pagar.
“Bi,” kataku.
“Hm?”
“Tangan kamu.”
Dia menatap tangannya di lenganku. Seolah baru sadar. Lalu dia menatapku lagi, dengan mata yang nggak menyesal sama sekali.
“Kenapa?”
“Kamu nggak boleh—“
“Itu ada di syarat nomor berapa?” tanyanya pelan. “Aku baca sebelas syarat kamu sepuluh kali. Nggak ada yang bilang aku nggak boleh pegang lengan kamu.”
Aku nggak bisa menjawab.
Dia melepaskan lenganku. Pelan. Jarinya menyusuri sepanjang lenganku waktu menarik diri. Dari siku. Ke pergelangan. Ke punggung tangan. Ke ujung jari.
Lalu lepas.
“Sampai jumpa,” kata pintu depan waktu dia keluar.
“Sampai jumpa,” jawabnya ke pintu itu. Lalu dia menoleh padaku, sekali, dari teras. “Sabtu, Dok.”
Dok.
Dia berjalan ke mobilnya. Aku menutup pintu.
Aku berdiri di ruang depan sebentar. Lalu aku memasukkan tangan ke saku celanaku.
Ada sesuatu di sana. Kertas kecil. Terlipat. Aku nggak ingat memasukkan kertas apa pun ke saku.
Aku mengeluarkannya.
Kertas memo kecil, berwarna kuning. Wangi. Parfum yang… aku kenal parfum itu. Parfum yang dulu dia pakai setiap hari. Lima tahun lalu. Parfum yang menempel di bantal, di kemeja, di jaket yang dia pinjam dan nggak pernah dikembalikan.
Tulisan tangan yang rapi dan sedikit miring ke kiri.
Kamu masih tidur di sisi kiri kasur. Aku lihat dari mobil, malam itu, jam empat pagi. Lampu kamarmu yang terakhir mati, dan bayanganmu ke kiri.
Selamat tidur, Dok.
Aku menatap kertas itu.
Kapan dia memasukkannya? Waktu dia berpegangan di lenganku untuk memakai sepatu. Pasti. Waktu tangannya yang satu di lenganku, tangannya yang lain…
Leherku panas. Seluruhnya. Dari bawah telinga sampai ke tulang selangka.
“Mas,” kata Bayu, yang ternyata berdiri di ambang dapur entah sejak kapan, memegang piring berisi pisang goreng. “Leher kamu.”
“Diam, Bay.”
“Vasodilatasi, Mas?”
“Bay.“
Bayu tertawa sampai pisang gorengnya jatuh. Dari lantai dua, aku mendengar Bi Imah tertawa juga, dan Elea bertanya, Nenek, kenapa ketawa? dan Bi Imah menjawab, Nggak apa-apa, Sayang, Papa lagi kena kupu-kupu.
Jumat malam, Elea demam.
Bukan pura-pura kali ini. Tiga puluh delapan koma tujuh. Flu yang sedang menyebar di kelasnya. Lucas sudah absen sejak Rabu.
Aku memberinya parasetamol sirup. Aku mengompresnya. Aku memutar Kau Tega Nian dengan volume pelan.
Jam sembilan malam, waktu panasnya belum turun, Elea menarik ujung lengan bajuku.
“Papa. Kontrak nomor empat.”
“Kontraknya belum ditandatangani, Sayang.”
“Tapi Elea sakit beneran.” Matanya berkaca-kaca karena demam. “Elea mau Tante.”
Aku menatapnya.
Lalu aku mengirim pesan.
Elea demam. 38,7. Flu. Bukan pura-pura. Dia minta kamu.
Balasan datang dalam lima detik.
Aku ke sana.
Dia datang dalam lima belas menit. Dengan termos sup ayam yang dia beli di restoran dua puluh empat jam, satu kotak tisu, dan kaus kaki tebal bergambar kupu-kupu.
Aku membukakan pintu.
Dia menatapku. Napasnya memburu. Rambutnya berantakan. Dia memakai piyama satin hitam yang ditutupi mantel panjang, dan sandal jepit. Sandal jepit hijau bergambar katak. Yang dulu dia kembalikan. Yang ternyata Bi Imah kembalikan lagi ke dia, entah kapan, entah lewat siapa.
“Di mana dia?”
“Di kamar. Tapi Bi—“
Dia sudah di tangga.
Dia berhenti di depan pintu kamar Elea yang setengah terbuka. Dia mengetuk. Pelan.
“Elea? Ini Tante.”
Dari dalam, suara Elea. Lemah. Serak. Mengantuk karena demam.
“Tante… Tante jangan masuk…”
Bianca membeku.
“Elea nggak mau Tante lihat Elea jelek,” lanjut Elea, setengah mengigau. “Muka Elea merah… rambut Elea basah… Tante jangan masuk… Elea malu…”
Bianca menatapku. Wajahnya, di bawah lampu lorong, bingung dan terluka dan takut.
“Dia demam,” bisikku. “Dia nggak tahu apa yang dia bilang.”
“Dia tahu,” bisik Bianca. “Dia minta aku jangan masuk.”
Dia menatap pintu yang setengah terbuka itu. Lalu dia berbalik ke arahku.
“Peraturan nomor tujuh,” katanya pelan. “Tante nggak boleh ke mana-mana. Kalau mau ke toilet, bilang dulu.”
Dia menyerahkan termos sup dan kaus kaki kupu-kupu padaku.
“Kasih ini ke dia. Bilang dari Tante. Bilang Tante nggak masuk, karena dia bilang jangan.”
“Bi—“
“Dan bilang Tante di sini.”
Lalu dia duduk.
Di lantai lorong. Di samping pintu kamar Elea. Bersandar ke dinding. Dengan mantel panjang dan piyama satin dan sandal jepit katak. Persis di tempat aku duduk empat malam berturut-turut, waktu Elea mengunci pintunya dan nggak mau bicara denganku.
Dia memeluk lututnya. Dan menatap pintu yang setengah terbuka.
Aku berdiri di lorong dengan termos sup di satu tangan dan kaus kaki kupu-kupu di tangan lain.
Aku masuk ke kamar Elea. Aku memakaikan kaus kaki itu di kakinya yang dingin.
“Dari Tante,” bisikku.
Elea membuka mata. Setengah. Dia menatap kaus kaki bergambar kupu-kupu di kakinya.
“Tante di mana?”
“Di luar. Di lorong. Duduk di lantai. Tante nggak masuk karena kamu bilang jangan.”
Elea diam. Matanya berkaca-kaca.
“Tante nunggu?”
“Iya.”
“Sampai kapan?”
Aku menatap pintu. Celah setengah terbuka. Di baliknya, bayangan seorang perempuan yang duduk di lantai, memeluk lutut.
“Sampai kamu sembuh, kayaknya,” kataku.
Elea menatap celah pintu itu lama. Lalu dia memejamkan mata.
“Tante bodoh,” bisiknya. “Lantainya dingin.”
Lalu dia tertidur.
Panasnya turun jam tiga pagi.
Aku tertidur di kursi di samping kasur Elea jam setengah empat, dengan tangan masih memegang handuk kompres.
Waktu aku bangun, jam lima pagi, langit di luar jendela mulai abu-abu.
Elea tidur nyenyak. Dahinya dingin dan sedikit berkeringat. Kaus kaki kupu-kupu masih di kakinya.
Aku berdiri. Punggungku kaku. Aku berjalan ke pintu.
Dan aku melihatnya.
Bianca masih di lorong. Masih duduk di lantai. Tapi dia tertidur. Kepalanya terkulai ke bahu kirinya, bersandar di dinding. Lututnya masih dipeluk. Mantelnya melorot dari satu bahu, memperlihatkan piyama satin hitam. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah.
Sandal jepit katak tergeletak di lantai di sampingnya. Dia melepasnya di suatu titik di malam itu. Kakinya telanjang di lantai kayu yang dingin.
Delapan jam. Dia duduk di sana delapan jam.
Aku berdiri di ambang pintu, menatapnya.
Lima tahun lalu, aku duduk di lantai flat Cowley jam tiga pagi, bersandar ke lemari es, dengan bayi demam di dadaku. Sendirian. Nggak ada yang menunggu di luar pintu. Nggak ada yang duduk di lorong.
Malam ini, ada.
Aku kembali ke kamarku. Aku mengambil selimut dari kasurku. Selimut abu-abu yang tebal.
Aku kembali ke lorong. Aku berlutut di sampingnya. Pelan. Supaya nggak membangunkannya.
Aku menyelimutkan selimut itu di tubuhnya. Dari bahu sampai kaki. Aku membetulkan mantelnya yang melorot. Aku menyelipkan ujung selimut di bawah kakinya yang telanjang dan dingin.
Lalu tanganku, tanpa izinku, bergerak.
Ke wajahnya. Menyibakkan rambut yang menutupi pipinya. Pelan. Satu helai. Dua. Menyelipkannya ke belakang telinga.
Dia nggak bangun. Napasnya teratur. Bulu matanya yang panjang menyentuh pipinya. Tahi lalat kecil di bawah mata kiri.
Aku menatapnya.
Dan aku teringat.
Dulu, lima tahun lalu, setiap malam, aku mencium tahi lalat itu waktu dia tidur. Aku kira dia nggak tahu. Aku nggak pernah bilang.
Tanganku masih di pipinya.
Aku menariknya kembali. Cepat. Seperti menyentuh kompor panas.
Aku berdiri. Aku mundur. Aku kembali ke kamar Elea, duduk di kursi di samping kasurnya, dan menatap dinding sampai matahari terbit.
Waktu aku keluar lagi jam tujuh, lorong itu kosong.
Selimut abu-abu terlipat rapi di lantai, di tempat dia duduk. Sandal jepit katak di atasnya, berjajar rapi.
Dan di atas sandal jepit itu, selembar kertas memo kuning. Wangi parfum yang sama.
Terima kasih selimutnya.
Aku nggak tidur waktu kamu nyelipin rambutku.
Dulu juga nggak.
— B.
Aku menatap kertas itu sampai Bi Imah keluar dari kamarnya dan menemukanku berdiri di lorong dengan wajah merah dari dahi sampai leher.
“Kenapa, Adrian?” tanya Bi Imah. “Kamu demam juga?”
“Nggak, Bi.”
Bi Imah menatap kertas di tanganku. Lalu menatap selimut yang terlipat. Lalu menatap sandal jepit katak.
Dia tersenyum. Lebar sekali.
“Bibi kayaknya bakal menang taruhan,” katanya, dan masuk ke dapur sambil bersenandung.
“Selamat pagi,” kata speaker dapur.
“Pagi yang indah,” jawab Bi Imah.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea reading
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama