Chapter Forty Two
Kursi Saksi
POV: Bianca
Ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Pusat lebih kecil dari yang kubayangkan.
Di televisi, ruang sidang selalu terlihat besar. Megah. Dengan langit-langit tinggi dan kursi-kursi kayu berderet panjang dan lampu kristal. Ruang sidang ini nggak seperti itu. Langit-langitnya rendah. Lampunya neon putih yang berdengung pelan. Kursi-kursi pengunjungnya plastik biru, berderet di belakang pagar kayu yang catnya mulai mengelupas.
Tapi ruangan itu penuh.
Wartawan di barisan belakang, dengan kamera yang diturunkan karena hakim melarang pemotretan selama sidang. Pengamat hukum. Mahasiswa. Orang-orang yang penasaran, karena kasus ini sudah tiga minggu jadi berita utama. Keluarga Rexton di Kursi Pesakitan. Penggelapan Dua Triliun. Fitnah Menantu. Rekaman Kamar 714.
Dan di barisan terdepan, di belakang meja terdakwa, Om Hendra dan Marcel. Setelan gelap. Wajah pucat. Om Hendra menatap lurus ke depan, ke meja hakim, dengan rahang yang terkunci. Marcel menunduk, menatap tangannya sendiri, tanpa senyum. Pertama kalinya dalam hidupku aku melihat Marcel tanpa senyum selama lebih dari satu menit.
Di samping mereka, tiga pengacara. Dari firma Sastrowardoyo & Rekan. Firma yang sama yang mengajukan gugatan hak asuh atas namaku seminggu lalu.
Aku duduk di bangku saksi yang menunggu, di sisi kiri ruang sidang, dengan Bu Laras di sampingku.
Aku nggak memakai lipstik merah hari ini. Aku nggak memakai setelan. Aku memakai blus putih sederhana dengan kancing kecil-kecil berwarna kuning, yang dipilihkan Tasya untuk kunjungan pertamaku ke Elea. Rok hitam selutut. Sepatu datar. Rambut dikepang satu, menjuntai di bahu kiri.
Aku mau terlihat seperti aku. Bukan seperti CEO. Bukan seperti Rexton.
Aku mau terlihat seperti ibu Elea.
Mama duduk di barisan kedua bangku pengunjung.
Aku melihatnya waktu aku masuk. Setelan krem. Mutiara di leher. Rambut disanggul rapi. Wajah yang dirias sempurna.
Tapi tangannya. Tangannya di pangkuan, meremas sapu tangan putih sampai buku-buku jarinya putih.
Dia menatapku waktu aku duduk. Dia nggak tersenyum. Dia nggak mengangguk. Dia cuma menatapku, dengan mata yang aku nggak bisa baca.
Oma nggak datang.
Kursi di samping Mama kosong.
Dan di barisan ketiga, di ujung, di kursi plastik biru yang paling dekat dengan bangku saksi, duduk Adrian.
Kemeja putih. Jas abu-abu gelap. Kacamata. Wajah yang tenang.
Dia menatapku waktu aku duduk.
Kalau kamu takut, lihat aku.
Di sampingnya, Bayu. Setelan yang terlalu ketat di bagian perut. Wajah yang tegang. Dan di samping Bayu, Tasya, dengan tisu yang sudah setengah habis di tangannya, padahal sidang belum dimulai.
Dan di samping Tasya, di ujung paling jauh, Pak Darto. Dengan seragam satpam yang kebesaran, karena dia bilang dia nggak punya setelan, dan payung lipat jelek dengan gagang patah di pangkuannya, padahal di luar nggak hujan.
Bi Imah nggak datang. Bi Imah di rumah, menjaga Elea.
Pagi tadi, jam enam, Bi Imah meneleponku. “Neng. Bibi nggak bisa datang. Elea nggak boleh tahu. Tapi Bibi doain. Dari tadi subuh Bibi doain.”
Lalu suara kecil di belakang Bi Imah, terdengar samar di telepon: “Nenek, Nenek telepon siapa?”
“Teman Nenek, Sayang.”
“Bilang ke teman Nenek, semangat.”
Bi Imah diam sebentar. Lalu dia bilang, dengan suara yang bergetar: “Neng. Ada yang bilang semangat.”
Jam sepuluh lewat lima belas, namaku dipanggil.
“Saksi Bianca Rexton.”
Aku berdiri. Kakiku gemetar. Bu Laras menyentuh lenganku sekali, cepat, lalu melepaskannya.
Aku berjalan ke kursi saksi. Kursi kayu di tengah ruangan, menghadap meja hakim, membelakangi pengunjung.
Membelakangi Adrian.
Aku duduk. Aku mengucapkan sumpah. Tangan di atas kitab suci. Suaraku bergetar. Aku membiarkannya.
Jaksa penuntut umum, seorang perempuan paruh baya berkerudung dengan kacamata dan suara yang tenang, memulai.
Dia bertanya soal faktur sepuluh Maret. Aku menjawab. Aku menjelaskan bagaimana aku menemukannya di sistem keuangan Rexton Malls. Empat koma tujuh miliar. PT Sentra Bangun Abadi. Kolom persetujuan teknis yang kosong. Tanda tangan H. Rexton.
Dia bertanya soal PT Arunika dan Kelvin Tan. Aku menjawab. Aku menjelaskan registri Singapura, yang ditemukan dengan bantuan pemegang saham minoritas Rexton, Darren Wiratama.
Dia bertanya soal gudang arsip lantai B5. Aku menjawab. Pak Joko. Dua kardus Building Systems yang hilang. Staf yang datang malam-malam dengan kartu akses direksi, atas perintah Marcel.
Di meja terdakwa, Marcel menutup matanya.
Dia bertanya soal percakapan di rumah Menteng. Malam makan malam keluarga. Lorong lantai dua. Ruang kerja Om Hendra yang pintunya nggak tertutup rapat.
Aku menjawab.
Kata demi kata. Persis seperti yang kudengar. Pak Joko udah diurus. Dipindahkan ke Medan. Pastikan perempuan Bekasi itu tetap diam. Dengan cara yang sama seperti dulu. Adiknya di Cirebon masih punya dua anak, kan?
Dan satu kalimat lagi.
Kalau dia sampai ke faktur, kita bicara sama mamanya. Veronica tahu cara menenangkan Bianca. Dia sudah melakukannya sekali.
Aku nggak menoleh ke barisan kedua. Aku nggak bisa.
Tapi aku mendengar sesuatu. Suara kecil dari bangku pengunjung. Seperti napas yang tercekat.
Lalu giliran pengacara terdakwa.
Pak Sastrowardoyo sendiri. Pendiri firma. Laki-laki tua berambut perak dengan setelan yang dijahit sempurna dan suara yang lembut seperti beludru. Laki-laki yang dulu, waktu aku kecil, menghadiri ulang tahunku di rumah Menteng dan memberiku boneka porselen.
Dia berdiri. Dia berjalan ke depan kursi saksi. Dia tersenyum padaku. Senyum kakek yang ramah.
“Bu Bianca,” katanya. “Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Pak.”
“Saya kenal Ibu sejak Ibu masih kecil. Ibu ingat?”
“Ingat, Pak.”
“Saya ingat Ibu di ulang tahun ketujuh. Ibu pakai gaun kuning. Ibu menangis karena harus pidato di depan karyawan.” Dia tersenyum lebih lebar. “Dan sekarang Ibu di sini. Bersaksi melawan om dan sepupu Ibu sendiri. Hidup memang aneh, ya.”
“Pertanyaan, Pak Sastrowardoyo,” kata hakim ketua.
“Tentu, Yang Mulia.” Pak Sastrowardoyo menatapku. “Bu Bianca. Ibu bilang tadi, Ibu menemukan faktur sepuluh Maret di sistem keuangan. Ibu bilang Ibu mendengar percakapan di rumah Menteng. Ibu bilang Ibu mendengar pengakuan ibu Ibu sendiri.” Dia diam sebentar. “Ibu sangat yakin dengan semua yang Ibu lihat dan dengar, ya?”
“Ya, Pak.”
“Ibu memang orang yang sangat yakin dengan apa yang Ibu lihat.” Dia mengangguk pelan. “Lima tahun lalu, Ibu juga sangat yakin. Waktu Ibu melihat foto-foto mantan suami Ibu dengan perempuan lain. Waktu Ibu melihat rekening atas namanya. Ibu sangat yakin dia bersalah. Ibu bahkan mengusirnya.”
Ruangan itu hening.
“Saya nggak mengusirnya, Pak. Keluarga saya yang—“
“Ibu nggak menghalanginya.” Suaranya masih lembut. Masih seperti beludru. “Ibu duduk di sofa. Ibu diam. Itu yang dikatakan mantan suami Ibu sendiri dalam keterangannya di BAP. Halaman empat puluh dua.”
Aku menelan.
“Benar, Pak. Saya diam.”
“Dan Ibu ingat apa yang Ibu katakan malam itu? Tentang anak Ibu?”
Aku nggak bisa bernapas.
Bu Laras berdiri dari bangkunya. “Keberatan, Yang Mulia. Pertanyaan ini tidak relevan dengan perkara penggelapan dan pemalsuan—“
“Relevansinya, Yang Mulia,” kata Pak Sastrowardoyo dengan suara yang tenang, “adalah kredibilitas saksi. Saksi ini adalah perempuan yang lima tahun lalu sangat yakin bahwa suaminya bersalah, berdasarkan bukti yang dia lihat. Sekarang dia sangat yakin bahwa om dan sepupunya bersalah, berdasarkan bukti yang dia lihat. Majelis berhak menilai apakah keyakinan saksi ini bisa dipercaya, atau apakah saksi ini adalah orang yang mudah dipengaruhi oleh siapa pun yang paling dekat dengannya pada saat itu.”
Hakim ketua menatapku. Lama.
“Keberatan ditolak. Saksi silakan menjawab.”
Pak Sastrowardoyo kembali menatapku. Senyumnya hilang.
“Bu Bianca. Malam itu. Apa yang Ibu katakan tentang anak Ibu?”
Aku menatap meja hakim di depanku. Kayu cokelat tua. Palu kayu kecil. Tiga hakim berjubah hitam.
Di belakangku, ratusan orang. Wartawan. Pengamat. Mahasiswa. Mama.
Adrian.
Aku nggak bisa menoleh. Kursi saksi menghadap ke depan.
“Saya bilang…” Suaraku keluar kecil. Aku memaksanya lebih keras. “Saya bilang, bawa anak itu. Aku nggak mau lihat dia.“
Bisikan menyebar di bangku pengunjung. Seperti riak di kolam.
“Ibu mengucapkan itu tentang bayi Ibu sendiri? Umur empat bulan?”
“Iya, Pak.”
“Ibu nggak mau melihat bayi Ibu sendiri?”
“Waktu itu…” Aku berhenti. Menarik napas. “Waktu itu, iya. Saya nggak mau melihatnya.”
Bisikan lagi. Lebih keras.
“Dan pagi harinya?” Pak Sastrowardoyo melangkah lebih dekat. “Waktu Ibu bangun. Waktu Ibu tahu anak Ibu sudah dibawa pergi. Apa yang Ibu lakukan?”
Aku menatapnya.
Aku bisa berbohong. Aku bisa bilang aku menangis. Aku bisa bilang aku mencari. Aku bisa bilang aku sakit, aku bingung, aku nggak sadar. Semua itu sebagian benar.
Tapi aku sudah berjanji. Di bawah pohon mangga. Dengan kelingking. Pada anak lima tahun.
Nggak boleh bohong.
“Saya nggak melakukan apa-apa, Pak,” kataku.
Ruang sidang sunyi.
“Saya tanya satu kali ke kepala pelayan di mana anak saya. Dia bilang dibawa suami saya. Saya bilang oh. Lalu saya tidur lagi.” Suaraku bergetar. Aku membiarkannya. “Saya nggak mencarinya. Saya nggak minta dia dibawa pulang. Saya nggak bertanya lagi.”
“Kenapa?”
Aku menutup mata.
“Karena saya lega, Pak.”
Ruangan itu meledak.
Bukan dengan suara keras. Dengan gerakan. Kursi-kursi plastik yang bergeser. Wartawan yang mencatat dengan cepat. Bisikan-bisikan yang naik jadi gumaman. Seseorang di barisan belakang berkata astaga cukup keras untuk didengar.
Hakim ketua mengetuk palu. Sekali. “Tenang. Pengunjung harap tenang.”
Pak Sastrowardoyo menatapku. Ada sesuatu di wajahnya. Bukan kemenangan. Sesuatu yang mirip kemenangan, tapi lebih dingin.
“Ibu lega,” ulangnya pelan. “Lega waktu bayi Ibu dibawa pergi.”
“Iya, Pak.”
“Dan lima tahun, Ibu nggak pernah mencari anak Ibu.”
“Saya tahu di mana dia. Saya menyewa penyelidik setahun kemudian. Saya tahu dia di Oxford. Saya tahu dia sehat.” Air mata jatuh. Aku nggak menghapusnya. “Saya mengirim uang setiap bulan. Empat puluh sembilan kali. Tapi saya nggak pernah datang. Nggak sekali pun.”
“Kenapa?”
“Karena saya takut.”
“Takut apa?”
“Takut melihat wajahnya.” Suaraku pecah. “Takut kalau saya lihat wajahnya, saya akan tahu apa yang sudah saya buang. Dan saya nggak sanggup tahu itu.”
Pak Sastrowardoyo diam lama.
Lalu dia berbalik ke meja hakim.
“Yang Mulia. Saksi ini, dengan pengakuannya sendiri, adalah ibu yang membuang bayinya. Yang merasa lega waktu bayinya dibawa pergi. Yang lima tahun tidak pernah datang, meskipun tahu di mana anaknya berada.” Dia berbalik lagi padaku. “Dan perempuan ini mau bicara kepada Majelis soal kejujuran? Soal siapa yang berbohong dan siapa yang tidak? Seorang ibu yang membuang bayinya sendiri, mau bicara soal kebenaran?”
Ruang sidang sunyi.
Aku menatap Pak Sastrowardoyo. Laki-laki tua yang memberiku boneka porselen di ulang tahun ketujuh.
Dan aku nggak menunduk.
“Iya, Pak,” kataku.
Suaraku nggak bergetar lagi.
“Saya ibu yang membuang bayinya. Saya ibu yang lega. Saya ibu yang lima tahun nggak datang. Itu semua benar. Saya nggak akan membantah satu kata pun.”
Aku menatap meja hakim. Tiga hakim berjubah hitam.
“Dan karena itu semua benar, Yang Mulia, saya tahu persis bagaimana rasanya dibohongi. Saya tahu persis bagaimana bohong yang rapi bisa membuat orang membuang hal yang paling berharga dalam hidupnya. Lima tahun lalu, saya melihat foto yang diatur. Rekening yang dipalsukan. Bukti yang disusun dengan sangat rapi oleh orang-orang yang tahu persis apa yang mereka lakukan.”
Aku menoleh ke meja terdakwa. Ke Om Hendra. Yang menatapku dengan wajah putih.
“Dan saya percaya. Karena saya sakit. Karena saya lelah. Karena orang yang membawakan bukti itu adalah om saya sendiri, dan orang yang memeluk saya waktu saya melihatnya adalah ibu saya sendiri.”
Aku menatap meja hakim lagi.
“Itu bukan alasan. Saya yang memilih diam. Saya yang memilih lega. Saya yang memilih nggak datang. Itu pilihan saya, dan saya akan menanggungnya seumur hidup.” Aku menarik napas. “Tapi hari ini, Yang Mulia, saya nggak mau memilih diam lagi. Lima tahun lalu saya diam waktu harusnya bicara. Harganya lima tahun anak saya. Lima tahun suami saya membesarkan dia sendirian, di negeri orang, dengan nama yang dicemarkan oleh keluarga saya.”
Aku menoleh. Akhirnya. Ke belakang. Ke bangku pengunjung.
Ke barisan ketiga. Ke kursi plastik biru yang paling dekat dengan bangku saksi.
Dia di sana.
Dia nggak menunduk. Dia nggak menutup wajahnya. Dia duduk tegak, dengan tangan di lutut, dan menatapku. Langsung. Mata di balik kacamata yang merah di sudut. Basah.
Kalau kamu takut, lihat aku.
Aku melihatnya.
“Saya nggak bersaksi karena saya orang baik, Yang Mulia,” kataku. Ke meja hakim. Tapi mataku masih di dia. “Saya bersaksi karena saya pernah jadi orang yang sangat buruk. Dan saya nggak mau anak saya tumbuh dengan ibu yang tetap diam.”
Ruang sidang sunyi.
Sangat sunyi.
Lalu, dari barisan kedua bangku pengunjung, ada suara.
Suara kursi plastik yang bergeser. Keras. Seperti seseorang berdiri terlalu cepat.
Mama berdiri.
Di tengah ruang sidang. Di barisan kedua. Dengan setelan krem dan mutiara di leher dan sapu tangan putih yang jatuh ke lantai.
Semua kepala menoleh.
Hakim ketua mengangkat palu. “Pengunjung harap duduk—“
“Yang Mulia.”
Suara Mama. Bergetar. Pecah. Tapi keras. Cukup keras untuk didengar sampai ke barisan paling belakang.
“Yang Mulia, saya Veronica Rexton. Ibu dari saksi. Kakak ipar dari terdakwa Hendra Rexton.”
Hakim ketua menatapnya. Lama.
“Ibu, ini bukan waktunya. Silakan duduk. Kalau Ibu ingin memberikan keterangan, Ibu bisa menghubungi Jaksa Penuntut Umum—“
“Saya ingin memberikan keterangan, Yang Mulia.” Mama menarik napas. Tangannya gemetar. Aku bisa melihatnya dari kursi saksi. “Saya ingin menjadi saksi. Untuk penuntut umum.”
Ruang sidang meledak lagi.
Di meja terdakwa, Om Hendra berdiri. Wajahnya putih. “Veronica. Veronica, duduk.“
Mama nggak menatapnya. Mama menatapku.
Dari barisan kedua, di tengah ruang sidang yang bergemuruh, dengan wartawan yang berdiri dan mencatat dan hakim yang mengetuk palu berkali-kali, Mama menatapku.
Dan dia bilang, dengan suara yang hanya bisa kubaca dari gerakan bibirnya, karena ruangan itu terlalu ramai untuk mendengar:
Mama yang bilang sendiri.
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Hakim ketua mengetuk palu. Keras. Tiga kali.
“Sidang diskors tiga puluh menit! Jaksa Penuntut Umum, temui Ibu Veronica Rexton di ruang jaksa. Terdakwa, duduk!”
Aku turun dari kursi saksi dengan kaki yang gemetar.
Bu Laras menyambutku di bawah. Dia memegang lenganku. Dia nggak bilang apa-apa. Dia cuma memegang lenganku, kuat, seperti orang memegang sesuatu supaya nggak jatuh.
Ruang sidang masih bergemuruh. Wartawan berlari ke luar untuk menelepon. Pengacara terdakwa berkumpul di sekitar meja, bicara dengan suara rendah dan cepat. Om Hendra duduk kembali di kursinya, menatap meja di depannya dengan wajah yang kosong. Marcel menangis. Pelan. Dengan kepala di tangan.
Mama sudah dibawa keluar oleh petugas pengadilan dan jaksa. Lewat pintu samping. Dia nggak menoleh lagi.
Aku berdiri di tengah ruang sidang. Di antara kursi saksi dan bangku pengunjung. Nggak tahu harus ke mana.
Lalu aku melihatnya.
Dia sudah berdiri. Dari barisan ketiga. Dia berjalan melewati Bayu dan Tasya dan Pak Darto. Melewati pagar kayu yang memisahkan bangku pengunjung dari ruang sidang. Petugas pengadilan mencoba menghentikannya. Dia nggak berhenti.
Dia berhenti di depanku. Satu meter.
Lalu satu jengkal.
Dia nggak memelukku. Di ruang sidang. Di depan wartawan. Di depan hakim yang masih duduk di meja, mengumpulkan berkas.
Dia cuma mengangkat tangannya. Ke wajahku. Ibu jarinya mengusap pipiku. Menghapus air mata yang mengalir di sana.
“Kamu lihat aku,” bisiknya.
“Kamu bilang kalau takut, lihat kamu.”
“Kamu takut?”
“Takut banget.”
Dia menatapku. Matanya merah. Basah. Dan sesuatu di dalamnya yang belum pernah kulihat sejak dia kembali. Sesuatu yang sangat tenang, dan sangat, sangat bangga.
“Aku juga,” katanya. “Tapi kamu nggak menunduk.”
“Aku lihat kamu.”
“Aku tahu.”
Di belakangnya, Tasya menangis keras sekali. Bayu menepuk-nepuk punggung Tasya sambil mengusap matanya sendiri dengan lengan setelan yang terlalu ketat. Dan Pak Darto, di ujung barisan ketiga, berdiri dengan payung lipat jelek di tangan, dan mengangguk padaku. Sekali. Pelan.
Seperti mengangguk pada seseorang yang akhirnya pulang.
Sidang dilanjutkan jam dua siang.
Aku nggak ada di ruang sidang. Bu Laras membawaku keluar, ke kantin pengadilan, dan memesankanku teh manis dan nasi bungkus yang nggak kumakan.
Adrian juga nggak ada di ruang sidang. Dia duduk di seberangku di meja kantin yang lengket, dengan kopi sachet dari mesin otomatis di depannya, yang nggak dia minum.
Kami nggak bicara. Kami cuma duduk.
Jam empat sore, Bayu datang berlari ke kantin dengan wajah merah dan napas memburu.
“Mas! Bu Bianca!” Dia berhenti di depan meja kami. Membungkuk. Memegang lututnya. “Veronica Rexton… resmi jadi saksi mahkota. Jaksa terima. Dia kasih keterangan dua jam. Soal foto. Soal Hendra yang bawa bukti palsu ke dia. Soal telepon yang dia tolak. Soal Oma Margareth yang tahu dari awal.”
Aku menatap Bayu.
“Dan Mas,” lanjut Bayu, masih terengah-engah. “Waktu Veronica selesai kasih keterangan, Hendra Rexton minta bicara sama pengacaranya. Sepuluh menit. Terus pengacaranya ngomong ke jaksa.”
“Ngomong apa?”
Bayu menegakkan badannya. Dia menatapku. Lalu menatap Adrian.
“Hendra minta mengaku bersalah,” katanya. “Semua dakwaan. Penggelapan. Pemalsuan. Persekongkolan. Semuanya. Marcel juga.”
Kantin itu sunyi.
Aku menatap gelas teh manis di depanku. Uapnya sudah nggak naik lagi. Sudah dingin.
Di seberang meja, Adrian menatap kopi sachet di depannya.
Lalu dia mengambil gelas kertas itu. Dan meminumnya. Seteguk. Dua.
Ujung hidungnya mengerut. Seperti orang yang menelan obat.
“Krimer itu kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya pelan.
Aku tertawa.
Di kantin pengadilan. Dengan mata yang masih bengkak dan pipi yang masih basah dan teh manis yang sudah dingin. Aku tertawa sampai Bu Laras menatapku dengan khawatir, dan Bayu ikut tertawa, dan Tasya, yang baru datang di belakang Bayu dengan tisu habis, menangis lagi sambil tertawa.
Dan di seberangku, di meja kantin yang lengket, laki-laki yang lima tahun lalu berlutut di karpet Persia dan memohon satu kalimat, tersenyum.
Senyum yang sebenarnya. Yang membuat sudut matanya berkerut.
Senyum yang dulu milikku.
Yang, hari ini, di kantin pengadilan, dengan kopi sachet di tangannya, dia berikan padaku lagi.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi reading
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama