Chapter Forty Seven

Pernikahan Kedua

POV: Bianca


Kami menikah lagi di Bandung.

Bukan di ballroom hotel bintang lima. Bukan di gedung pernikahan dengan lampu kristal dan empat ratus tamu dan karangan bunga setinggi dua meter. Bukan di rumah Menteng, dengan karpet Persia dan kursi beludru hijau dan sofa krem.

Di halaman belakang rumah Bi Imah. Di gang kecil di belakang pasar Cicadas.

Rumah bercat hijau muda yang sudah pudar. Atap genteng yang, dua minggu sebelum hari itu, akhirnya diganti seluruhnya oleh tukang-tukang yang Adrian sewa dari kampung sebelah, karena katanya nomor empat di dinding kamarku belum dicentang, Bi. Teras kecil berlantai tegel kuning. Pot-pot bunga kertas di pagar bambu. Dan di halaman belakang, di bawah pohon jambu air yang berbuah lebat, sebuah tenda putih sederhana yang dipasang Bayu dan Pak Darto dan tiga tetangga Bi Imah dalam satu sore, sambil bertengkar soal tali mana yang harus diikat ke mana.

Tiga puluh kursi plastik putih. Taplak meja putih. Bunga melati dan mawar putih yang dirangkai sendiri oleh Bi Imah dan Ceu Enok dari pasar dan ibu-ibu pengajian.

Dan aku berdiri di kamar Adrian waktu kecil. Kamar dengan kasur tipis di atas dipan kayu dan lemari dengan cermin retak di pintunya dan daftar target di dinding.

Nomor empat sudah dicentang. Minggu lalu. Dengan pulpen hitam. Oleh Adrian sendiri.

4. Beliin Bi Imah rumah yang atapnya nggak bocor. ✓

Di bawahnya, dengan pulpen yang sama, ada baris baru. Ditulis dengan huruf A yang miring ke kanan.

6. Nikah lagi sama perempuan yang sama. Yang bikin Elea senang.

Belum dicentang.

Hari ini.


“Mama, jangan gerak.”

Elea berdiri di atas kursi plastik di belakangku, dengan sisir di satu tangan dan karet rambut di mulutnya. Dia mengepang rambutku.

Dia yang minta. Seminggu yang lalu, waktu kami makan malam di rumah Jalan Wijaya, dia bilang dengan sangat serius: Mama, waktu Mama nikah sama Papa, Elea yang kepang rambut Mama. Nenek bilang Elea udah pinter kepang. Elea latihan di kepala manekin Mama.

Kepala manekin. Yang sekarang tinggal di kamar Elea, dengan kepangan-kepangan miring di rambut sintetisnya, hasil latihan seminggu penuh.

“Kanan ke tengah,” gumam Elea, dengan karet rambut masih di mulutnya. “Kiri ke tengah. Kanan ke tengah. Tarik sedikit. Sedikit aja. Cuma biar rapat.”

Kalimat Adrian. Persis. Waktu dia mengajariku dengan tangannya di atas tanganku di sofa ruang tengah, dan aku bersandar ke dadanya, dan kami sampai di detik keempat.

Aku menatap cermin retak di pintu lemari. Di cermin itu, aku melihat diriku sendiri dengan kebaya putih.

Putih bersih. Bukan putih gading. Bukan krem. Putih seperti kertas.

Kebaya katun sederhana dengan bordir kecil di pinggir lengan. Kain batik di bawahnya, batik tulis warna cokelat muda dengan motif kupu-kupu kecil, yang Bi Imah beli dari pengrajin di Garut. Nggak ada perhiasan. Kecuali cincin perak dengan batu aquamarine di jari manis kiri.

Kamu kelihatan kayak pagi, kata Adrian dulu. Waktu kami baru menikah. Waktu dia bilang warna favoritnya untukku adalah putih.

Aku nggak memakai putih lima tahun.

Hari ini aku memakainya.

“Udah,” kata Elea. Dia melepas karet rambut dari mulutnya, mengikat ujung kepanganku. Lalu dia turun dari kursi, berdiri di depanku, dan menatap hasil kerjanya.

Kepang satu. Menjuntai di bahu kiri. Sedikit miring di tengah. Ada beberapa helai yang mencuat di atas telinga.

“Agak miring,” kata Elea, dengan dahi berkerut.

“Sempurna,” kataku.

“Mama bohong.”

“Mama nggak bohong. Mama janji nggak bohong lagi. Kelingking.” Aku mengulurkan kelingkingku. “Ini kepangan paling sempurna yang pernah Mama punya.”

Elea menatap kelingkingku. Lalu menatap wajahku. Lalu, pelan, dia tersenyum. Senyum dengan gigi depan yang sudah copot. Sudah mulai tumbuh gigi baru di sana, kecil dan putih, mengintip dari gusi.

Dia mengaitkan kelingkingnya.

Lalu dia merogoh saku gaunnya. Gaun putih juga, dengan pita kuning di pinggang. Dia mengeluarkan sesuatu.

Jepit kupu-kupu perak.

“Elea mau Mama pakai ini,” katanya.

Aku membeku.

“Elea, Sayang, itu jepit kamu. Kamu nggak pernah lepas. Lima tahun.”

“Elea tahu.” Dia menatap jepit itu di telapak tangannya. Batu biru pucat di tengah sayapnya. “Tapi ini punya Mama dulu. Dari Kakek. Waktu Mama tujuh belas tahun. Terus Mama kasih ke Elea. Waktu Elea bayi. Waktu Mama… waktu Mama sakit.”

Dia mengangkat kepala. Menatapku.

“Hari ini Mama nikah sama Papa lagi. Jadi hari ini Elea kasih balik. Pinjem. Satu hari aja.” Dia diam sebentar. “Biar Mama pakai yang dari Kakek. Biar Kakek di bintang lihat.”

Aku nggak bisa bicara.

Elea naik lagi ke kursi plastik. Dia menyelipkan jepit kupu-kupu perak itu di rambutku. Di atas telinga kanan. Di tempat yang sama, persis, di mana dia memakainya setiap hari selama lima tahun.

Di cermin retak, aku melihat diriku. Kebaya putih. Kepang satu yang sedikit miring. Jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanan. Batu biru pucat di sayapnya, dan batu biru pucat yang sama di cincin di jariku.

Dari satu kupu-kupu.

“Mama nangis,” kata Elea.

“Peraturan nomor satu udah dihapus,” bisikku.

“Iya. Tapi nanti bedaknya luntur.”

“Mama nggak pakai bedak.”

Elea berpikir. “Oh iya. Ya udah. Nangis aja.”


Mama datang jam sembilan.

Bukan dengan sopir. Dengan kereta. Argo Parahyangan dari Gambir, jam lima pagi, sendirian, dengan tas kecil dan setelan krem yang dia setrika sendiri, kata Bi Imah, yang menjemputnya di Stasiun Bandung dengan angkot.

Aku mengundangnya. Dua minggu lalu. Dengan pesan singkat yang kutulis, kuhapus, kutulis lagi selama satu jam.

Ma. Aku nikah lagi sama Adrian. Tanggal 14 Maret. Di Bandung. Di rumah Bi Imah. Kalau Mama mau datang, datang. Kalau nggak, aku ngerti.

Mama nggak membalas selama tiga hari.

Lalu, hari keempat, satu pesan.

Mama datang. Mama duduk di belakang. Mama nggak akan ganggu.

Dia duduk di belakang. Di kursi plastik putih paling ujung, di barisan paling belakang, di samping pohon pisang tetangga. Setelan krem. Tanpa mutiara. Tanpa riasan berat. Tangan meremas sapu tangan putih di pangkuan.

Waktu aku keluar dari rumah dengan kebaya putih, dia menatapku. Dari jauh. Dari barisan paling belakang.

Dan dia menangis. Tanpa suara. Dengan sapu tangan menutup mulut.


Oma nggak datang.

Aku mengundangnya juga. Lewat surat. Ditulis tangan. Dikirim ke rumah Menteng lewat Pak Karyo, yang bilang dia akan memastikan Oma membacanya.

Pak Karyo bilang Oma membacanya. Di kursi beludru hijau. Dengan Duchess Kedua di pangkuannya. Dua kali. Lalu Oma melipatnya, memasukkannya ke saku kebaya, dan menatap jendela ruang tengah lama sekali.

Oma nggak membalas.

Tapi pagi ini, jam enam, sebuah paket datang ke rumah Bi Imah. Dikirim lewat kurir dari Jakarta. Kotak kayu kecil. Tanpa nama pengirim. Tanpa surat.

Di dalamnya, sebuah foto berbingkai perak. Foto hitam-putih. Papa muda, mungkin dua puluh lima tahun, berdiri di depan toko kelontong Kakek di Glodok, dengan kacamata tebal dan senyum lebar. Di sampingnya, Oma muda. Rambut hitam yang disanggul. Kebaya sederhana. Dan dia tersenyum. Dengan seluruh wajahnya. Senyum yang belum pernah kulihat di wajah Oma seumur hidupku.

Di balik bingkai, dengan tulisan tangan yang tegak dan tajam dan sedikit gemetar:

Robert akan datang. Kalau dia masih ada.

Itu saja.

Aku meletakkan foto itu di meja kecil di samping tenda. Di samping rangkaian melati dan mawar putih. Menghadap ke kursi-kursi tamu.

Supaya Papa bisa lihat. Dan supaya Oma, di rumah Menteng yang terlalu besar, dengan kucing tua di pangkuannya, tahu bahwa fotonya sampai.


Tamu-tamunya sedikit.

Tiga puluh kursi. Dua puluh delapan terisi.

Bi Imah, di barisan paling depan, dengan kebaya hijau tua yang dia jahit sendiri dan kerudung putih dan wajah yang sudah basah sejak subuh.

Bayu, di samping Bi Imah, dengan setelan jas yang, untuk pertama kalinya, pas di badannya. Tasya yang membelikannya. Seminggu lalu. Di Rexton Mall Pondok Indah. Tasya bilang Bayu nggak boleh datang ke pernikahan bosnya dengan jas yang kancingnya mau lepas. Bayu bilang terima kasih. Tasya bilang sama-sama. Lalu mereka berdua diam lama sekali di depan ruang ganti, dan Tasya nggak pernah menceritakan apa yang terjadi setelah itu di grup senam Zumba.

Tasya, di samping Bayu. Gaun hijau zamrud yang sama dengan yang dia pakai di gala. Tisu. Banyak tisu.

Darren. Di barisan kedua. Setelan abu-abu. Sendirian. Dia datang dari Surabaya kemarin malam. Dia jadi saksi. Saksi untukku. Dia yang menawarkan diri, waktu aku bilang aku nggak punya keluarga laki-laki yang bisa jadi saksi. Aku bawa nasi goreng kambing ke kantor kamu tengah malam, Bi. Itu udah lebih dari saudara.

Pak Darto. Di barisan kedua. Seragam satpam yang, untuk hari ini, sudah dijahitkan ulang supaya pas. Bi Imah yang menjahitnya. Payung lipat jelek dengan gagang patah di pangkuannya. Langit Bandung cerah. Nggak ada tanda-tanda hujan. Dia tetap membawanya.

Pak Joko. Dari Medan. Dia terbang kemarin, dengan tiket yang dibayar grup senam Zumba lewat patungan. Lima puluh tujuh orang. Dua ratus ribu per orang. Pak Joko membawa oleh-oleh bika ambon untuk semua orang dan menangis waktu menyalami Adrian.

Sinta. Di barisan ketiga. Dengan adiknya, Nur, dan dua anak kecil Nur. Anak perempuan dengan rambut dikuncir satu, yang memberikan plester bergambar kucing ke Adrian di Cirebon, duduk di pangkuan ibunya dan melambai ke Elea. Elea melambai balik.

Ms. Ratih. Dan Lucas, dengan ibunya. Lucas membawa hamster bernama Kapitein di kandang kecil, karena katanya Kapitein juga harus datang ke pernikahan, karena Kapitein juga keluarga.

Ceu Enok dari pasar. Ibu-ibu pengajian Bi Imah. Tetangga-tetangga di gang.

Dan di layar laptop di meja kecil di samping foto Papa, terhubung lewat panggilan video, tiga wajah dari Oxford.

Prof. Edmund Whitmore, dengan alis seperti dua ekor ulat bulu dan dasi kupu-kupu berwarna merah muda yang menurutnya appropriately festive.

Gwen, teknisi lab, yang dulu menyediakan matras untuk Elea di sudut laboratorium.

Dan Mr. Hakan. Pemilik toko kebab di Cowley Road. Dengan celemek bernoda saus dan sepiring nasi dan daging panggang yang dia angkat ke depan kamera, dan dia bilang dalam bahasa Inggris beraksen Turki yang kental: “For the wedding. Every Friday for five years. Today is Saturday. But I make an exception.”

Catherine Hall nggak bisa datang. Dia di London. Tapi dia mengirim karangan bunga mawar putih yang sangat besar, terlalu besar untuk tenda kecil di halaman belakang rumah Bi Imah, dengan kartu bertuliskan: It’s about bloody time. — C.H.


Adrian menunggu di ujung tenda.

Di bawah pohon jambu air. Di depan meja kecil dengan rangkaian melati dan foto Papa dan laptop dengan tiga wajah dari Oxford.

Dia memakai jas hitam. Kemeja putih. Dasi hitam yang lurus. Kacamata.

Dan lengan jasnya terlalu panjang. Dua senti.

Aku berhenti di ambang pintu belakang rumah Bi Imah.

Aku menatap lengan jas itu. Yang menutupi sebagian punggung tangannya. Yang terlalu panjang dua senti.

Dia menatapku dari ujung tenda. Lalu dia melirik lengan jasnya sendiri. Lalu dia menatapku lagi.

Dan dia tersenyum. Senyum yang sedikit malu. Senyum orang yang sengaja.

Dia sengaja.

Lima tahun lalu, di pernikahan kami yang pertama, dia memakai jas pinjaman dari teman kantornya. Lengannya kepanjangan dua senti. Dan dia terus-menerus menarik ujung lengannya sepanjang resepsi, sampai aku memegang tangannya dan bilang—

Aku berjalan ke arahnya.

Bukan dengan iring-iringan musik. Bukan dengan pengantin yang digandeng ayahnya, karena ayahku di bintang. Aku berjalan sendiri. Di antara kursi-kursi plastik putih. Di atas rumput halaman belakang rumah Bi Imah. Dengan sepatu kanvas putih, karena kata Bi Imah, halaman Bibi becek, Neng, sepatu hak tinggi nanti nancep.

Elea berjalan di depanku. Dengan keranjang kecil berisi kelopak melati dan mawar putih. Dia menaburkannya di rumput. Segenggam demi segenggam. Dengan sangat serius. Dengan lidah sedikit menjulur di sudut mulut.

Dia berhenti di depan ayahnya. Dia menatap ayahnya. Lalu dia membalikkan keranjangnya, dan menuangkan semua sisa kelopak bunga di atas sepatu ayahnya.

“Elea,” kata Adrian.

“Biar sepatu Papa wangi,” kata Elea. “Mama dulu jatuhin kopi ke sepatu Papa. Sekarang Elea jatuhin bunga.”

Tamu-tamu tertawa. Bi Imah tertawa sambil menangis. Mr. Hakan, di layar laptop, bertanya what did she say? dan Prof. Whitmore menjawab I believe the child has made a callback, Hakan.

Aku berhenti di depan Adrian.

Satu jengkal.

Aku menatap lengan jasnya. Lalu aku mengulurkan tangan. Dan memegang ujung lengan jas itu. Dan menariknya ke atas. Pelan. Dua senti. Sampai punggung tangannya terlihat.

“Udah,” kataku. Pelan. Sama persis seperti lima tahun lalu. “Kamu ganteng. Berhenti narik-narik.”

Dia menatapku.

Matanya, di balik kacamata, merah dan basah.

“Aku nggak narik-narik,” bisiknya. “Kamu yang narik.”

“Dulu kamu yang narik.”

“Dulu aku gugup.”

“Sekarang?”

Dia menatapku lama.

“Sekarang lebih gugup,” katanya.


Kami mengucapkan janji di bawah pohon jambu air.

Nggak ada naskah. Nggak ada kalimat-kalimat yang dibaca dari kertas. Penghulu dari kantor urusan agama setempat, laki-laki tua yang ramah dengan peci hitam, membimbing kami melalui bagian-bagian yang harus diucapkan. Kalimat-kalimat resmi yang sama, yang dulu kami ucapkan lima tahun lalu, di ruangan yang jauh lebih megah, di depan tamu-tamu yang jauh lebih banyak, dengan Oma di barisan depan menatap seperti menatap transaksi bisnis.

Darren dan Bayu menjadi saksi. Bi Imah menjadi wali dari pihak Adrian, berdiri di sampingnya dengan tangan di bahunya.

Dan setelah semua kalimat resmi selesai, setelah penghulu tersenyum dan mengangguk, Adrian nggak langsung melepaskan tanganku.

“Boleh saya bilang satu hal lagi, Pak?” tanyanya ke penghulu.

Penghulu itu tersenyum. “Silakan, Nak.”

Adrian menatapku.

Lalu dia menoleh. Ke tamu-tamu. Ke tiga puluh kursi plastik putih. Ke Bi Imah yang menangis. Ke Bayu dan Tasya yang menangis. Ke Darren yang tersenyum dengan mata basah. Ke Pak Darto dengan payung di pangkuan. Ke Sinta dan Nur dan anak-anak kecil. Ke Pak Joko dengan bika ambon. Ke Ms. Ratih dan Lucas dan hamster bernama Kapitein. Ke laptop dengan tiga wajah dari Oxford. Ke foto hitam-putih Papa dan Oma muda di depan toko kelontong Glodok.

Ke Mama. Di barisan paling belakang. Di samping pohon pisang tetangga.

“Lima tahun lalu,” kata Adrian, dengan suara yang cukup keras untuk didengar sampai barisan paling belakang, “saya berlutut di depan perempuan ini. Di ruang tengah. Di depan keluarganya. Dan saya minta dia bilang satu kalimat. Dan dia diam.”

Hening.

Di barisan belakang, Mama menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Seminggu lalu, saya berlutut lagi. Di lobi hotel. Dan dia bilang iya sebelum saya nanya.”

Beberapa tamu tertawa. Pelan. Basah.

“Saya udah bilang ke dia. Di lobi itu. Berdua. Tapi saya mau bilang lagi. Di sini. Di depan semua orang yang pernah lihat saya jatuh. Dan semua orang yang bantu saya berdiri.”

Dia menatapku lagi.

“Aku cinta kamu, Bi,” katanya. “Kali ini di depan semua orang.”


Aku nggak tahu siapa yang mulai bertepuk tangan.

Mungkin Bayu. Mungkin Tasya. Mungkin Mr. Hakan di layar laptop, yang tepuk tangannya terdengar terlambat satu detik karena koneksi internet dari Oxford.

Tapi aku tahu siapa yang terakhir.

Di barisan paling belakang. Di samping pohon pisang tetangga. Perempuan dengan setelan krem dan sapu tangan putih.

Dia bertepuk tangan. Pelan. Sendirian. Lama setelah semua orang berhenti.

Lalu dia berdiri. Dan berjalan pergi. Ke arah gang. Ke arah angkot yang akan membawanya kembali ke stasiun.

Elea melihatnya.

Elea, yang berdiri di samping kami dengan keranjang bunga kosong, melihat perempuan dengan setelan krem yang berjalan pergi. Dia menatap perempuan itu lama. Lalu dia menatapku.

“Mama,” bisiknya. “Itu siapa?”

Aku menatap punggung Mama. Yang berjalan pelan di antara kursi-kursi plastik. Yang menunduk.

“Itu Nenek Elea,” kataku pelan. “Nenek Veronica. Mama-nya Mama.”

Elea menatap punggung itu.

“Nenek yang bohong?”

“Iya, Sayang.”

“Yang udah bilang sendiri di pengadilan?”

“Iya.”

Elea diam lama. Lalu dia menatap ayahnya. Adrian menatapnya balik. Dan dia mengangguk. Pelan. Bukan izin. Bukan perintah. Cuma pengakuan. Itu pilihanmu.

Elea meletakkan keranjang bunganya di rumput.

Dia merogoh saku gaunnya. Mengeluarkan sesuatu. Kecil. Kertas. Kupu-kupu origami. Warna merah muda. Yang dia lipat sendiri pagi tadi, di kamar Adrian waktu kecil, sambil menunggu aku selesai dikepang.

Lalu dia berlari.

Di antara kursi-kursi plastik putih. Di atas rumput yang ditaburi kelopak melati. Ke arah perempuan dengan setelan krem yang hampir sampai di ujung halaman.

“NENEK!”

Mama berhenti.

Dia berbalik. Pelan. Wajahnya basah.

Elea berhenti di depannya. Napasnya memburu. Dia mendongak. Menatap neneknya. Wajah yang nggak pernah dia lihat sebelumnya. Wajah yang mirip wajah ibunya, tapi lebih tua, lebih lelah, lebih takut.

Elea mengulurkan tangannya. Kupu-kupu origami merah muda di telapak tangannya.

“Buat Nenek,” katanya.

Mama menatap kupu-kupu itu. Tangannya gemetar.

“Elea masih marah sama Nenek,” kata Elea. Dengan suara yang jujur dan tegas, suara anak lima tahun yang sudah belajar bahwa kebenaran harus diucapkan. “Soalnya Nenek bohong. Dan gara-gara Nenek bohong, Elea nggak punya Mama lima tahun.”

Mama menutup mulutnya dengan tangan.

“Tapi Nenek udah bilang yang benar,” lanjut Elea. “Di pengadilan. Mama bilang itu berani. Jadi Elea kasih kupu-kupu.”

Dia menyodorkan kupu-kupu itu lebih dekat.

“Kupu-kupu awalnya ulat,” kata Elea. “Kakek yang bilang. Ke Mama. Nenek tahu?”

Mama menerima kupu-kupu origami itu dengan dua tangan. Seperti menerima sesuatu yang bisa pecah.

“Nenek tahu,” bisiknya. Suaranya hancur. “Nenek yang ada di sana. Waktu Kakek bilang itu. Waktu Mama kamu tujuh belas tahun.”

Elea menatapnya.

“Nenek boleh duduk lagi,” kata Elea. “Di kursi. Nanti ada nasi uduk. Nenek Imah yang masak. Enak.”

Mama menatap cucunya. Lama.

Lalu dia berlutut. Di rumput. Di halaman belakang rumah Bi Imah. Supaya matanya sejajar dengan mata Elea.

Dia nggak memeluk Elea. Dia nggak menyentuhnya. Dia cuma menatapnya, dengan kupu-kupu origami merah muda di tangannya, dan menangis.

“Terima kasih,” bisiknya. “Terima kasih, Elea.”

Elea mengangguk. Lalu dia berbalik dan berlari kembali ke arah kami. Ke bawah pohon jambu air.

Dan Mama, setelah lama sekali berlutut di rumput, berdiri. Dan berjalan kembali. Ke kursi plastik di barisan paling belakang. Di samping pohon pisang tetangga.

Dan duduk lagi.


Malam itu, kami nggak menginap di Bandung.

Bi Imah bilang rumahnya terlalu kecil. Bi Imah bilang dindingnya tipis. Bi Imah bilang dia sudah tua dan nggak mau dengar apa-apa. Bi Imah bilang Elea tidur sama Nenek malam ini, di kamar Nenek, dan besok pagi Bayu yang antar ke Jakarta.

Bi Imah bilang semua itu dengan wajah datar dan nada resmi, seperti juru bicara istana. Lalu dia berbalik ke dapur dan bahunya bergetar.

Jadi kami menyetir pulang ke Jakarta. Berdua. Jam sembilan malam. Di mobil sedan abu-abu tua milik Hallworth, yang Catherine Hall bilang sekarang resmi jadi hadiah pernikahan.

Aku duduk di kursi penumpang. Sepatu kanvas kulepas. Kakiku di dasbor. Kebaya putih masih kupakai, dengan jepit kupu-kupu perak masih di rambutku. Elea bilang pinjem satu hari. Satu hari belum habis.

Dia menyetir. Dengan jas yang sudah dilepas dan lengan kemeja yang digulung sampai siku. Bekas jahitan di lengan kirinya, dua puluh enam jahitan dalam tiga garis yang sudah memudar jadi merah muda, terlihat di bawah lampu jalan tol yang lewat silih berganti.

Radio menyala. Saluran dangdut. Rhoma Irama.

Dia nggak mematikannya. Aku nggak mengganti salurannya.

Di jalan tol Cipularang, dia meraih tanganku. Di atas konsol tengah. Jari-jarinya menyelinap di antara jari-jariku. Menggenggam. Cincin perak dengan batu aquamarine di jariku menekan jari-jarinya.

“Bi,” katanya.

“Hm.”

“Kita ke mana?”

Aku menatapnya.

“Rumah,” kataku.

“Rumah yang mana? Apartemen kamu? Atau rumah sewa di Wijaya?”

Aku memikirkannya.

Apartemen di lantai tiga puluh dua. Dengan kepala manekin dan toples berlabel GARAM dan GULA dan foto Elea di pintu lemari es.

Rumah sewa di Jalan Wijaya. Dengan pintu yang bicara dan pohon mangga dan ayunan ban bekas dan lemari es penuh gambar krayon.

“Wijaya,” kataku. “Pintunya udah kenal aku.”

Dia tertawa.


“Selamat datang di rumah,” kata pintu depan.

“Selamat malam,” jawabku ke pintu itu.

“Selamat malam,” jawab Adrian juga. Untuk pertama kalinya, aku mendengar dia menjawab pintu itu.

Rumah itu gelap dan sunyi. Nggak ada Bi Imah di dapur. Nggak ada Elea di kamar lavender. Nggak ada Bayu yang tertidur di sofa.

Cuma kami.

Dia berdiri di ruang tengah. Di depan sofa. Di tempat aku berlutut dua puluh menit, empat bulan lalu.

Dia menatapku.

Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Dengan kebaya putih dan kaki telanjang di lantai kayu.

Aku berhenti di depannya. Satu jengkal.

Aku mengangkat tangan. Ke rambutku. Ke jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanan. Aku melepasnya. Pelan. Rambutku yang dikepang Elea, kepang satu yang sedikit miring, tergerai sebagian.

Aku meletakkan jepit itu di meja kecil di samping pintu. Di samping termos hitam. Hati-hati. Seperti meletakkan sesuatu yang paling berharga di dunia.

Besok pagi, aku akan mengembalikannya ke Elea. Satu hari sudah habis.

Lalu aku berbalik ke Adrian.

Dia mengangkat tangan. Ke kepanganku. Dia melepas karet rambut di ujungnya. Pelan. Lalu jari-jarinya menyusup ke rambutku. Mengurai kepangan itu. Helai demi helai. Kanan dari tengah. Kiri dari tengah. Kebalikan dari cara dia mengajariku mengepang.

Rambutku tergerai. Sepenuhnya.

Dia menatapku.

“Kayak pagi,” bisiknya.

“Ini malam, Dok.”

“Kamu kayak pagi,” katanya. “Selalu.”

Lalu dia menciumku.

Dan dia nggak berhenti.


Di kamar di lantai dua, dengan seprai yang dulu kuganti sendirian di malam demam, dengan jaket wol abu-abu yang tergantung di belakang pintu, dengan buku catatan hitam di laci meja samping kasur yang halaman pertamanya berbunyi sumpah ini kalah, aku rela, lampu tidur dimatikan.

Dan untuk satu malam, aku berhenti menghitung juga.

Lima tahun.

Empat puluh sembilan transfer.

Dua puluh menit berlutut.

Delapan jam di lantai lorong.

Malam itu, aku nggak menghitung apa-apa.

Malam itu, aku pulang.