Chapter Forty Four
Mama
POV: Bianca
Sidang putusan dijadwalkan dua minggu kemudian.
Hari Kamis. Jam sepuluh pagi. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ruang sidang yang sama.
Om Hendra dan Marcel sudah mengaku bersalah. Jaksa sudah membacakan tuntutan. Pengacara sudah membacakan pembelaan, yang sekarang bukan lagi pembelaan, tapi permohonan keringanan. Hari ini, hakim akan membacakan vonis.
Aku nggak harus datang. Keteranganku sudah selesai. Aku bukan pihak dalam perkara ini lagi.
Aku datang.
Bukan untuk melihat Om Hendra dihukum. Bukan untuk melihat Marcel menangis lagi. Bukan untuk balas dendam.
Aku datang karena Mama ada di sana. Sebagai saksi mahkota, yang statusnya akan diputuskan di hari yang sama, dalam berkas yang terpisah. Dan aku nggak mau Mama duduk sendirian di bangku pengunjung, dengan kursi kosong di sampingnya, seperti dua minggu lalu.
Aku duduk di samping Mama.
Mama menatapku waktu aku duduk. Kaget. Lalu matanya basah.
Dia nggak bilang apa-apa. Aku juga nggak.
Tapi waktu hakim mulai membacakan putusan, tangan Mama bergerak di pangkuannya. Ke arahku. Lalu berhenti. Ragu.
Aku mengambil tangannya.
Tangan yang halus. Wangi parfum Prancis. Tangan yang dulu mengusap punggungku di sofa krem, waktu suamiku berlutut.
Tangan itu gemetar di tanganku.
Aku nggak melepaskannya.
Om Hendra dihukum tujuh tahun.
Penggelapan dalam jabatan. Pemalsuan dokumen. Pencucian uang. Persekongkolan jahat. Pengancaman terhadap saksi.
Marcel dihukum lima tahun.
Om Hendra mendengarkan vonis itu dengan wajah yang kosong. Dia nggak menoleh ke bangku pengunjung. Dia nggak menatap siapa-siapa. Waktu petugas pengadilan memborgol tangannya, dia cuma menatap borgol itu, lama, seperti orang yang baru pertama kali melihat benda semacam itu.
Marcel menangis. Pelan. Dan sebelum dibawa keluar, dia menoleh ke bangku pengunjung. Ke aku.
Dia nggak bilang apa-apa. Tapi dia mengangguk. Sekali. Pelan.
Aku nggak tahu apa artinya anggukan itu. Maaf, mungkin. Atau pengakuan. Atau cuma kebiasaan, seperti orang yang mengangguk pada kenalan di jalan.
Aku mengangguk balik.
Berkas Mama dibacakan sore hari. Ruang sidang yang berbeda. Lebih kecil.
Hakim mempertimbangkan statusnya sebagai saksi mahkota yang bersedia memberikan keterangan secara sukarela, keterangannya yang menjadi kunci terungkapnya perkara, dan penyesalannya yang tulus.
Satu tahun. Masa percobaan dua tahun.
Mama nggak akan masuk penjara.
Waktu hakim mengetuk palu, Mama menutup wajahnya dengan dua tangan dan menangis. Aku memeluknya dari samping. Dia bersandar di bahuku. Pertama kalinya dalam hidupku Mama bersandar di bahuku, bukan aku yang bersandar di bahu Mama.
“Maafin Mama,” bisiknya di bahuku. “Maafin Mama, Bianca.”
“Aku belum bisa, Ma,” bisikku.
Dia mengangguk di bahuku. Dia tahu.
“Tapi aku di sini,” kataku. “Aku nggak pergi.”
Mama menangis lebih keras.
Kami keluar dari gedung pengadilan jam empat sore.
Mama dijemput sopir keluarga. Bukan sopir Oma. Sopir Papa yang dulu, Pak Karyo, yang ternyata sudah pensiun tiga tahun lalu dan sekarang bekerja di bengkel di Cempaka Putih, dan yang Mama telepon sendiri minggu lalu untuk minta tolong.
Mama berdiri di tangga pengadilan. Dia menatapku. Lalu dia menatap sesuatu di belakangku.
Wajahnya berubah.
Aku berbalik.
Di kaki tangga pengadilan, di trotoar, di samping pohon angsana yang daunnya mulai gugur, berdiri tiga orang.
Bi Imah. Dengan daster batik bergambar burung merak dan kerudung hijau dan rantang empat susun di tangan.
Adrian. Dengan kemeja biru muda dan lengan yang digulung, memperlihatkan bekas jahitan yang sudah memudar jadi garis merah muda. Kacamata. Wajah yang tenang.
Dan di antara mereka, memegang tangan Bi Imah di satu sisi dan tangan Adrian di sisi lain, berdiri seorang anak perempuan.
Gaun kuning. Kaus kaki putih dengan renda. Sepatu merah. Rambut dikepang dua dengan pita kuning. Jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanan.
Dan di tangan kanannya, yang nggak memegang tangan ayahnya, selembar kertas yang dilipat dua.
Elea.
Aku membeku di tangga.
Dia menatapku. Dari kaki tangga. Dua puluh anak tangga di antara kami.
Adrian menatapku. Lalu dia membungkuk sedikit, ke telinga Elea, dan bilang sesuatu yang nggak bisa kudengar.
Elea mengangguk.
Lalu dia melepaskan tangan ayahnya. Dan tangan Bi Imah.
Dan dia berlari.
Dua puluh anak tangga.
Elea menaikinya dengan kaki kecil yang bergerak cepat, dua anak tangga sekaligus di beberapa tempat, satu anak tangga di tempat lain, tersandung sedikit di anak tangga kesebelas, menangkap dirinya sendiri dengan tangan di pegangan besi, terus naik.
Kepangan dua bergoyang. Pita kuning berkibar. Jepit kupu-kupu berkilau di bawah matahari sore.
Aku nggak bisa bergerak.
Peraturan nomor dua. Tante nggak boleh peluk Elea. Kecuali Elea yang peluk duluan.
Aku berdiri di tangga dengan tangan di sisi tubuh. Menunggu. Jantungku berdetak seperti genderang.
Lima anak tangga lagi.
Tiga.
Satu.
Elea berhenti di depanku. Di anak tangga di bawahku. Napasnya memburu. Pipinya merah. Matanya basah.
Dia menatapku. Dari bawah. Mata almond yang bulat. Tahi lalat kecil di bawah mata kiri.
Lalu dia membuka mulutnya.
“MAMA!”
Dunia berhenti.
Untuk keenam kalinya dalam hidupku. Waktu Papa meninggal. Waktu bidan meletakkan bayi merah di dadaku. Waktu nama Dr. A. Renaldi muncul di layar ruang rapat. Waktu jepit kupu-kupu tersangkut di akar pohon ketapang. Waktu Elea mengintip dari celah pintu ruanganku di lantai empat puluh.
Dan sekarang.
Di tangga pengadilan. Di bawah matahari sore. Dengan wartawan yang mulai menoleh dan pengunjung yang berhenti berjalan.
Anakku memanggilku Mama.
Bukan Tante. Bukan Tante cantik. Bukan Tante yang di hotel.
Mama.
Aku nggak bisa bernapas. Aku nggak bisa bicara. Aku nggak bisa bergerak.
Elea menatapku dengan wajah yang basah dan bibir yang gemetar.
“Mama,” ulangnya. Lebih pelan sekarang. Hampir berbisik. Seperti orang yang menguji sebuah kata yang baru, yang belum pernah dia ucapkan dengan sadar. “Mama.”
Lalu dia mengangkat kertas di tangannya. Kertas yang dilipat dua. Dia menyodorkannya padaku.
Tanganku gemetar waktu aku menerimanya.
Aku membukanya.
Gambar.
Bukan gambar krayon yang terburu-buru. Gambar yang dibuat dengan pensil warna empat puluh delapan warna, dengan sangat hati-hati, dengan garis-garis yang dihapus dan digambar ulang di beberapa tempat.
Tiga orang.
Laki-laki tinggi berkacamata, dengan kemeja biru muda dan lengan yang digulung. Di lengan kirinya, garis merah muda dari siku sampai pergelangan. Di garis itu, tiga plester kecil berbentuk bintang.
Anak perempuan kecil, dengan gaun kuning dan kepang dua dan pita kuning. Jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanan. Tahi lalat kecil di bawah mata kiri.
Dan perempuan.
Rambut panjang bergelombang, diwarnai empat warna cokelat yang berbeda. Kepang satu, menjuntai di bahu kiri. Blus putih dengan kancing kecil-kecil berwarna kuning. Mata cokelat. Bibir yang tersenyum, sedikit bengkok di sudut kiri.
Dan di bawah mata kiri, tahi lalat kecil.
Wajah.
Lengkap. Mata, hidung, mulut, tahi lalat. Wajah yang digambar dengan sangat hati-hati, dengan pensil yang ditekan pelan, dengan garis-garis yang lebih halus dari bagian gambar yang lain.
Wajahku.
Bukan lingkaran kosong. Bukan perempuan di bintang. Bukan Mama yang nggak punya wajah, yang Elea gambar selama tiga tahun di flat Cowley, di rumah Summertown, di rumah sewa Kebayoran.
Wajahku.
Ketiga orang itu bergandengan tangan. Laki-laki di kiri. Perempuan di kanan. Anak perempuan di tengah.
Di atas mereka, bukan bintang. Matahari. Kuning. Besar. Dengan sinar-sinar yang digambar seperti jari-jari roda sepeda.
Dan di bawah gambar itu, dengan huruf-huruf besar yang miring, ditulis dengan pensil warna merah, ditekan sangat keras sampai kertasnya hampir sobek:
PAPA. ELEA. MAMA.
ELEA SAYANG MAMA.
MAMA NGGAK DI BINTANG LAGI. MAMA DI SINI.
Aku jatuh berlutut.
Di tangga pengadilan. Di anak tangga yang sama dengan Elea. Supaya mataku sejajar dengan matanya.
Aku nggak bisa menahannya lagi. Peraturan nomor satu. Tante nggak boleh nangis. Aku sudah menahannya di kunjungan pertama. Di kunjungan kelima. Di kursi saksi. Di samping Mama tadi pagi.
Aku nggak bisa menahannya sekarang.
Aku menangis.
Elea menatapku. Lalu dia melangkah maju. Dan memelukku.
Tangan kecil yang melingkar di leherku. Wajah yang terbenam di bahuku. Di tempat kepanganku menjuntai.
Peraturan nomor dua. Kecuali Elea yang peluk duluan.
Aku memeluknya balik.
Bukan sekali. Bukan dua kali. Bukan pelan dan hati-hati seperti memeluk sesuatu yang bisa pecah.
Aku memeluknya seperti orang yang tenggelam memeluk kayu yang hanyut. Seperti orang yang lima tahun kehausan menemukan air. Seperti ibu yang memeluk anaknya untuk pertama kalinya.
Karena memang begitu.
Lima tahun. Empat bulan. Sejak bayi merah yang menangis di boks kayu putih, di kamar bercat krem dengan awan-awan kecil di langit-langit, dan aku berdiri di sampingnya dan nggak bisa mengangkatnya karena takut.
Aku mengangkatnya sekarang.
Aku berdiri dari tangga, dengan Elea di gendonganku. Dia berat. Lima tahun lebih berat dari bayi empat bulan. Kakinya melingkar di pinggangku. Tangannya melingkar di leherku. Wajahnya masih terbenam di bahuku.
“Mama,” bisiknya di bahuku. “Mama, Mama, Mama.”
Seperti dia mengulang-ulang kata itu karena takut lupa. Karena tiga tahun dia nggak punya kesempatan mengucapkannya ke siapa pun selain ke bintang.
“Iya, Sayang,” bisikku. “Mama di sini. Mama di sini.”
“Mama nggak pergi lagi?”
“Mama nggak pergi lagi.”
“Peraturan nomor sebelas?”
“Peraturan nomor sebelas,” kataku. Dan aku tertawa. Sambil menangis. Dengan anakku di gendonganku. “Mama udah tanda tangan. Pakai pulpen emas.”
Aku nggak tahu berapa lama kami berdiri di tangga pengadilan.
Aku tahu bahwa wartawan di trotoar mengangkat kamera mereka, lalu menurunkannya lagi, satu per satu, seperti mereka tahu bahwa ini bukan sesuatu yang harus difoto.
Aku tahu bahwa di belakangku, di puncak tangga, Mama berdiri dengan tangan menutup mulut, dan Pak Karyo memegangi lengannya supaya dia nggak jatuh.
Aku tahu bahwa di kaki tangga, Bi Imah menangis dengan rantang empat susun di pelukannya, dan Bayu, yang ternyata datang juga, entah dari mana, berdiri di sampingnya dengan kaus pink ZUMBA QUEEN di bawah jaket, menangis juga.
Dan aku tahu bahwa dia naik.
Pelan. Satu anak tangga demi satu. Dari kaki tangga, ke tempat aku berdiri dengan Elea di gendonganku.
Dia berhenti di depan kami. Di anak tangga yang sama.
Elea mengangkat kepala dari bahuku. Dia menatap ayahnya. Wajahnya basah. Hidungnya merah.
“Papa,” katanya. “Elea udah bilang.”
“Papa dengar, Sayang.”
“Elea bilang Mama.”
“Papa dengar.”
“Mama nangis. Peraturan nomor satu dilanggar.” Elea menatapku dengan wajah serius. “Tapi nggak apa-apa. Peraturan nomor satu dihapus. Mulai sekarang Mama boleh nangis.”
Aku tertawa lagi. Atau menangis. Aku nggak tahu yang mana.
Adrian menatap kami berdua.
Lalu dia mengangkat tangannya. Ke wajah Elea. Mengusap air mata di pipinya dengan ibu jari. Lalu tangannya bergerak. Ke wajahku. Mengusap air mata di pipiku dengan ibu jari yang sama.
Dia menatapku.
Dan dia bicara. Pelan. Hanya untukku. Dengan suara yang aku kenal dari ruang tengah rumah Menteng, dari lobi Hotel Arunaya, dari bazar sekolah, dari setiap kali dia mengucapkan kalimat itu seperti pisau.
“Dia nggak pernah benar-benar kamu buang, Bi.”
Aku membeku.
Kamu udah buang dia.
Kalimat itu. Kalimat pisau. Yang dia ucapkan di lobi hotel waktu menarik Elea ke belakang tubuhnya. Di bazar sekolah waktu aku memungut jepit kupu-kupu. Di depan pagar hitam di bawah hujan.
Sekarang dia membaliknya.
“Kamu cuma terlambat jemput,” katanya.
Aku menyandarkan dahiku di dahinya.
Di tangga pengadilan. Dengan Elea di gendonganku, di antara kami. Dengan matahari sore yang jingga dan daun-daun angsana yang gugur dan wartawan yang sudah berhenti memotret.
Dahinya hangat. Kacamatanya miring karena dahiku menekannya.
“Lima tahun terlambat,” bisikku.
“Lima tahun,” katanya. “Tapi kamu datang.”
Elea, di antara kami, menatap ke atas. Ke wajah ayahnya. Ke wajahku. Dahi yang menempel. Hidung yang hampir bersentuhan.
“Papa,” katanya. “Kontrak nomor delapan.”
Kami berdua membeku.
“Papa dan Tante Bianca harus baikan,“ baca Elea dari ingatannya, dengan suara yang sangat resmi. “Terus jadi Papa dan Mama lagi.“ Dia menatap ayahnya. “Tante udah jadi Mama. Elea udah bilang. Sekarang Papa.”
Adrian menatap anaknya.
“Papa harus apa, Sayang?”
“Papa harus jadi Papa-nya Mama lagi,” kata Elea, dengan logika anak lima tahun yang sederhana dan nggak bisa dibantah. “Kayak dulu. Waktu Elea masih bayi. Elea nggak ingat. Tapi Elea mau.”
Adrian menatapku.
Aku menatapnya.
Dan untuk satu detik yang sangat panjang, di tangga pengadilan, di depan Mama dan Bi Imah dan Bayu dan Pak Karyo dan wartawan yang sudah berhenti memotret, aku melihat sesuatu di matanya.
Bukan takut. Bukan benteng. Bukan batu.
Sesuatu yang sudah lama dia simpan. Lima tahun. Di halaman pertama buku catatan hitam. Di bawah sumpah yang dia tulis dengan tangan yang nggak gemetar.
Dia membuka mulut.
Lalu dia menutupnya lagi.
“Belum,” katanya. Ke Elea. Tapi matanya di aku. “Belum di sini. Papa mau bilang di tempat yang benar.”
Elea mengerutkan dahi. “Tempat yang benar di mana?”
Adrian tersenyum. Senyum yang sebenarnya. Yang membuat sudut matanya berkerut.
“Rahasia,” katanya. “Itu kenapa namanya rahasia.”
Elea menatap ayahnya dengan curiga yang dalam. Lalu dia menatapku.
“Mama,” katanya. “Papa curang.”
“Iya, Sayang,” kataku. Dan aku tertawa. Dengan dahi yang masih menempel di dahi laki-laki yang kucintai, dan anak yang kubuang di gendonganku, dan matahari sore yang jingga di atas kami. “Papa dari dulu curang.”
Malam itu, di rumah di Jalan Wijaya, Elea menolak tidur di kamarnya sendiri.
“Elea mau tidur sama Mama.”
“Mama harus pulang, Sayang,” kataku. “Udah malam.”
“Mama nggak usah pulang. Mama tidur di sini. Kamar Elea. Kasur Elea.”
Aku menatap Adrian. Adrian menatapku.
Bi Imah, dari dapur, berdeham keras sekali.
“Kunjungan hari Sabtu dua jam,” kataku pelan ke Adrian. “Ini hari Kamis. Dan udah lebih dari dua jam.”
Adrian menatapku lama.
“Syarat nomor tujuh,” katanya.
“Iya.”
“Aku cabut.”
Aku membeku.
“Semuanya,” lanjutnya. “Bukan diubah. Dicabut. Aku telepon Catherine besok. Nggak ada lagi radius lima puluh meter. Nggak ada lagi hari Sabtu dua jam. Nggak ada lagi aku di ruangan yang sama.” Dia menatapku. “Kamu ibunya. Kamu boleh di mana aja dia ada. Kapan aja.”
Aku nggak bisa bicara.
Elea menatap kami berdua. Lalu dia menarik tanganku ke tangga.
“Ayo, Mama. Elea mau Mama nyanyi Kau Tega Nian. Suara Mama jelek, tapi Elea suka.”
Elea tertidur di bait keempat.
Di kasur kecilnya. Di kamar lavender dengan bintang-bintang plastik di langit-langit. Dengan Mr. Snuggles di satu tangan, dan tanganku di tangan lain. Lima amplop putih di samping bantalnya, yang dia letakkan sendiri di sana sebelum tidur, berjajar rapi.
Aku duduk di tepi kasurnya. Menatap wajahnya yang tidur.
Lima tahun aku nggak melihat wajah ini tidur.
Aku menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Kebiasaan Adrian. Yang sekarang jadi kebiasaanku.
Normal.
Lalu aku membungkuk, dan mencium dahinya. Di antara alisnya.
“Mama sayang Elea,” bisikku.
Elea bergerak sedikit dalam tidurnya. Bibirnya bergerak. Hampir nggak terdengar.
“Elea tahu.”
Aku duduk di sana lama sekali.
Waktu akhirnya aku berdiri dan keluar dari kamar, Adrian berdiri di lorong. Bersandar ke dinding. Di samping pintu. Di tempat dia duduk empat malam berturut-turut waktu Elea mengunci pintunya. Di tempat aku duduk delapan jam waktu Elea bilang Tante jangan masuk.
Dia menatapku.
“Dia bilang Elea tahu,” bisikku.
“Aku dengar.”
“Itu jawaban dia ke kamu. Setiap malam.”
“Lima tahun,” katanya pelan. “Sekarang dia kasih ke kamu juga.”
Aku menatapnya.
Lalu aku menyandarkan punggungku ke dinding di sampingnya. Bahu ke bahu. Di lorong gelap rumah di Jalan Wijaya, di depan pintu kamar anak kami yang tidur.
Kami berdiri seperti itu lama.
Lalu dia meraih tanganku. Di antara kami. Jari-jarinya menyelinap di antara jari-jariku.
Nggak cuma ujung jari. Seluruh tangan. Menggenggam.
“Bi,” katanya.
“Hm?”
“Lusa. Grand opening Grand Nusantara.”
“Aku tahu. Aku bukan project lead lagi.”
“Catherine undang kamu. Sebagai tamu kehormatan.” Dia diam sebentar. “Aku yang minta dia undang kamu.”
Aku menoleh. Menatapnya.
“Kenapa?”
Dia menatap pintu kamar Elea. Lalu menatapku.
“Karena aku mau kamu lihat gedungnya bernapas,” katanya. “Gedung yang kamu bangun. Dari awal. Dari sebelum aku datang. Kamu yang tanda tangan proyeknya. Kamu yang berdiri dua jam tanpa kursi demi proyek itu. Kamu yang mundur supaya proyek itu nggak dipakai buat nukar kebenaran.”
Dia menggenggam tanganku lebih erat.
“Gedung itu punya kamu, Bi. Lebih dari punya siapa pun. Aku mau kamu ada di sana waktu dia buka.”
Aku menatapnya.
“Dan Elea?”
“Kelas Elea diundang juga. Field trip. Ms. Ratih bilang anak-anak mau lihat gedung yang bisa ngomong.” Dia tersenyum kecil. “Elea minta Mama yang jadi pendamping.”
Aku tertawa pelan. Di lorong gelap. Dengan tangan yang digenggam.
“Oke,” kataku. “Mama yang jadi pendamping.”
Dia menatapku. Lalu, pelan, dia menunduk. Dan mencium dahiku. Di antara alisku. Seperti aku mencium dahi Elea tadi. Seperti dia mencium dahi Elea setiap malam.
“Selamat tidur, Bi,” bisiknya.
“Aku nggak pulang?”
“Kamar tamu udah Bi Imah siapin. Dari tadi sore.” Dia tersenyum. “Sebelum kita berangkat ke pengadilan. Dia bilang dia udah tahu.”
“Bi Imah tahu semuanya.”
“Bi Imah selalu tahu semuanya.”
Dari ujung lorong, pintu kamar Bi Imah terbuka sedikit. Bi Imah mengintip. Dia melihat kami berdua. Tangan yang digenggam. Bahu yang bersentuhan.
Dia tersenyum. Lebar. Lalu dia berbicara pelan ke speaker di dinding kamarnya.
“Matiin lampu lorong. Biar mereka nggak malu.”
Lampu lorong mati.
Dan dalam gelap, tangannya masih menggenggam tanganku.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama reading
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama