Chapter Forty Five

Grand Opening

POV: Adrian


Rexton Grand Nusantara buka hari Sabtu, jam sepuluh pagi.

Seratus dua puluh ribu meter persegi. Tujuh lantai pusat perbelanjaan, tiga lantai kawasan hiburan, satu atrium setinggi tujuh lantai dengan atap kaca berbentuk gelombang yang menangkap cahaya matahari dan memantulkannya ke lantai granit di bawah seperti permukaan air. Bioskop dua belas layar. Arena konser untuk lima ribu orang. Taman bermain anak di lantai tiga. Air mancur menari di tengah atrium, yang menurut desainnya akan menyala setiap jam dengan musik dan cahaya.

Dan di dalam dinding, di bawah lantai, di balik langit-langit, di setiap kolom, di setiap tangga, di setiap pintu: empat ribu dua ratus sensor AURA.

Gedung yang bernapas.

Aku berdiri di ruang kendali pusat di lantai bawah tanah dua jam sebelum pintu dibuka. Ruangan seluas lapangan voli dengan dinding layar dari ujung ke ujung. Model tiga dimensi gedung itu menyala di layar utama, garis-garis biru yang membentuk lantai, kolom, atap. Ribuan titik hijau kecil, setiap titik satu sensor, berkedip pelan seperti kunang-kunang.

Bayu di sampingku. Dengan tiga monitor dan dua gelas kopi dan wajah yang sudah tegang sejak subuh.

“Mas. Semua sistem hijau. Sensor struktural normal. Sensor kerumunan siap. Pintu darurat terkunci di mode normal, siap buka otomatis. Sprinkler aktif. Ventilasi asap aktif.” Dia menarik napas. “Kita siap.”

“Berapa yang daftar?”

“Undangan resmi tiga ribu. Publik… perkiraan Rexton tiga puluh ribu sepanjang hari. Puncaknya jam satu siang, waktu konser pembukaan.” Bayu menatapku. “Starlight Seven, Mas. Mereka diundang lagi. Setelah fan meeting itu, manajemen mereka bilang mereka mau tampil di gedung yang dibuat sama orang yang nyelamatin fans mereka.”

Aku memejamkan mata sebentar.

“Tiga puluh ribu.”

“Gedung ini dirancang buat delapan puluh ribu, Mas. Kita aman.”

Aku membuka mata. Menatap layar utama. Titik-titik hijau yang berkedip.

“Aku tahu,” kataku.

Tapi tanganku dingin. Aku nggak tahu kenapa.


Jam sembilan, Bianca menelepon.

“Aku udah di lobi selatan. Sama Ms. Ratih dan enam belas anak K2. Elea nggak bisa diam. Dia udah tanya empat kali kapan gedungnya mulai ngomong.”

“Bilang ke dia, jam sepuluh.”

“Udah. Dia bilang jam sepuluh kelamaan.”

Aku tersenyum.

“Adrian.” Suaranya berubah. Lebih pelan. “Aku baru masuk ke atrium. Lihat dari lantai dasar ke atas. Ke atap kaca.”

“Terus?”

Hening sebentar.

“Aku tanda tangan proyek ini dua tahun lalu,” katanya. “Waktu itu cuma lahan kosong di Kemayoran. Lubang raksasa yang nunggu diisi air hujan. Aku berdiri di pinggirnya pakai helm proyek dan sepatu hak tinggi, terus bilang ke diriku sendiri, ini bakal jadi yang paling bagus. Buat Papa.”

Aku menunggu.

“Sekarang aku berdiri di tengahnya,” bisiknya. “Dan dia lebih bagus dari yang aku bayangin. Dan dia bernapas.” Suaranya bergetar. “Terima kasih udah bikin dia bernapas.”

Aku nggak bisa menjawab.

“Elea mau ngomong,” katanya. Lalu bunyi gemerisik.

“PAPA! Gedungnya gede banget! Ada air mancur! Lucas bilang air mancurnya bisa joget! Beneran, Pa?”

“Beneran, Sayang. Jam sebelas. Tunggu.”

“Kelamaan!”

“Sabar.”

“Papa, Elea pegang tangan Mama terus. Ms. Ratih bilang anak-anak harus pegang tangan pendamping. Elea pegang tangan Mama.” Jeda. “Mama nggak lepas-lepas, Pa. Dari tadi. Tangan Mama keringetan.”

Bayu, di sampingku, tertawa tertahan.

“Pegang terus, Sayang,” kataku. “Jangan lepas.”

“Elea nggak akan lepas. Elea janji.”


Jam sepuluh tepat, pintu-pintu dibuka.

Di layar utama, titik-titik kecil mulai muncul. Biru. Satu. Sepuluh. Seratus. Seribu. Mengalir masuk dari empat pintu utama seperti air yang mengisi kolam. Setiap titik, satu manusia, dibaca dari kamera kepadatan di langit-langit, bergerak di koridor-koridor gedung seperti sel-sel darah di pembuluh.

Gedung itu menerima mereka. Bernapas. Menghitung. Memprediksi.

Jam sebelas, air mancur di atrium menyala. Musik. Cahaya. Air yang menari setinggi lima belas meter. Di layar, aku melihat titik-titik di atrium berkumpul di sekeliling air mancur. Di antara mereka, di dekat pagar pembatas di lantai dasar, sekumpulan titik kecil yang bergerak bersama. Enam belas titik kecil, dan dua titik dewasa.

K2. Ms. Ratih. Bianca.

Di kamera atrium nomor tiga, aku bisa melihat mereka. Enam belas anak berseragam biru tua, dengan topi kuning seragam yang dibagikan panitia. Ms. Ratih di depan dengan papan nama. Dan di belakang, menggandeng tangan seorang anak perempuan berkepang dua, berdiri seorang perempuan dengan blus putih berkancing kuning dan rambut dikepang satu.

Bianca mendongak. Ke langit-langit atrium. Ke salah satu kamera.

Dia tersenyum. Langsung ke kamera. Seolah dia tahu aku melihatnya.

Lalu dia mengangkat tangan Elea yang dia genggam, dan melambaikannya ke kamera.

Elea melambai juga. Dengan tangan yang satunya.

Bayu, di sampingku, menutup mulutnya dengan tangan. “Mas. Aku nggak kuat.”

“Fokus, Bay.”

“Iya, Mas. Fokus.” Bayu mengusap matanya. “Tapi aku screenshot dulu.”


Jam dua belas lewat empat puluh, aku melihatnya.

Bukan di layar utama. Di layar kecil di sudut. Layar log sistem, yang menampilkan setiap perintah yang masuk ke jaringan AURA. Baris demi baris teks hijau di latar hitam, bergulir cepat. Ribuan baris per menit. Rutinitas. Kalibrasi sensor. Penyesuaian ventilasi. Pembaruan model kerumunan.

Satu baris berwarna kuning.

12:40:17 — Access granted: maint_legacy_03. Subsystem: FIRE_SUPPRESSION_ZONE_C. Command: MAINTENANCE_MODE.

Aku berhenti bernapas.

“Bay.”

“Hm?”

“Siapa maint_legacy_03?”

Bayu menoleh ke layar log. Wajahnya berubah. “Itu… itu akun pemeliharaan lama, Mas. Dari kontraktor sebelumnya. Yang pasang sistem dasar sebelum AURA. Harusnya udah dinonaktifkan semua bulan lalu, waktu audit.”

“Kontraktor sebelumnya siapa?”

Bayu menatapku. Wajahnya pucat.

“PT Sentra Bangun Abadi, Mas.”

Baris kuning kedua.

12:40:31 — Access granted: maint_legacy_03. Subsystem: EMERGENCY_EXITS_LEVEL_3. Command: LOCK_OVERRIDE.

Baris kuning ketiga.

12:40:44 — Access granted: maint_legacy_03. Subsystem: SMOKE_VENTILATION_ZONE_C. Command: DISABLE.

Aku sudah bergerak sebelum baris keempat muncul.


“Bay. Putus akses maint_legacy_03. Sekarang.”

Bayu mengetik. Cepat. Jarinya bergerak di atas keyboard seperti pianis yang panik.

“Mas, nggak bisa! Akunnya punya hak root di subsistem lama! AURA dipasang di atas sistem dasar mereka, kita nggak pernah ganti fondasi kodenya, cuma tambah lapisan di atasnya! Dia masuk dari bawah!”

“Zona C itu di mana?”

Bayu memperbesar model tiga dimensi. Sebuah area di lantai tiga menyala kuning.

“Lantai tiga, sayap timur. Area… area taman bermain anak, Mas. Sama ruang servis di belakangnya. Ruang sampah. Ruang panel listrik.”

Taman bermain anak. Lantai tiga.

Aku menatap kamera atrium nomor tiga. Lantai dasar. Di dekat air mancur.

K2 nggak ada di sana lagi.

“Bay. Kelas K2. Di mana?”

Bayu mengetik. Kamera demi kamera. Lantai dasar. Lantai satu. Lantai dua.

Lantai tiga.

Kamera nomor empat puluh satu. Taman bermain anak. Lantai karet berwarna-warni. Perosotan. Kolam bola. Panjatan berbentuk kapal.

Enam belas anak berseragam biru tua dengan topi kuning, bermain di kolam bola. Ms. Ratih di pinggir, memotret dengan ponselnya.

Dan di dekat panjatan berbentuk kapal, menggandeng tangan seorang anak perempuan berkepang dua, berdiri Bianca.

Baris kuning keempat di layar log.

12:41:02 — Sensor anomaly: ZONE_C, Room 3-S-07 (Waste). Temperature: 68°C. Rising.

Ruang sampah. Di belakang taman bermain anak.

Enam puluh delapan derajat. Naik.

Sesuatu terbakar.

Dan sprinkler di zona itu dalam mode pemeliharaan. Ventilasi asap mati. Pintu darurat di lantai tiga terkunci.


“Bay. Panggil Pak Gunawan. Bilang ada sabotase. Akun maint_legacy_03 masuk dari mana? Lacak IP-nya. Sekarang.”

“Mas—“

“Sekarang, Bay.”

Bayu menelepon sambil mengetik dengan satu tangan.

Aku menarik keyboard utama ke depanku. Lima tahun aku membangun AURA. Lima tahun aku menulis setiap baris kodenya. Di flat Cowley jam tiga pagi. Di laboratorium dengan Elea tidur di matras di sudut. Aku tahu setiap pintu yang bisa dibuka. Setiap jalan belakang. Setiap celah.

Dan aku tahu satu hal yang orang di balik maint_legacy_03 nggak tahu.

AURA bukan cuma dipasang di atas sistem lama. AURA mengamati sistem lama. Setiap perintah yang masuk lewat fondasi, AURA melihatnya. Mencatatnya. Dan kalau AURA nggak bisa memotong aksesnya dari atas, AURA bisa melakukan sesuatu yang lain.

AURA bisa bicara langsung dengan perangkat keras.

“Bay. Aku masuk ke mode manual. Lapisan fisik.”

“Mas, itu belum pernah diuji di gedung sebesar ini—“

“Aku tahu.”

Aku mengetik.

Bypass software layer. Direct hardware command. Zone C.

Sprinkler valve C-1 through C-14: OPEN. Physical solenoid trigger.

Bukan perintah lewat sistem. Perintah langsung ke katup fisik. Sinyal listrik yang menggerakkan kumparan kawat di dalam setiap katup sprinkler, melewati semua perangkat lunak, melewati akun maint_legacy_03, langsung ke logam.

Enter.

Di layar, empat belas titik di zona C berubah. Dari kuning. Ke biru.

Sprinkler C-1 to C-14: ACTIVE.

Suhu di ruang sampah. Tujuh puluh dua derajat. Tujuh puluh. Enam puluh lima.

“Mas! Turun!”

“Belum cukup.”

Emergency exit locks Level 3: Physical release. Magnetic hold: CUT POWER.

Pintu darurat di gedung ini dikunci dengan magnet. Magnet butuh listrik. Kalau listriknya diputus, magnetnya lepas, pintunya terbuka.

Aku memutus listrik ke semua kunci magnetik di lantai tiga.

Enter.

Di layar, delapan pintu darurat di lantai tiga berubah warna. Merah ke hijau.

Exit 3-E1 to 3-E8: UNLOCKED.

Smoke ventilation Zone C: Override. Fans to MAXIMUM. Direct motor command.

Enter.

Kipas-kipas besar di langit-langit zona C mulai berputar. Menyedot asap keluar. Lewat saluran ke atap.

Public address Level 3: Emergency announcement. All languages. Calm tone.

Lighting Level 3: Emergency path. Green floor indicators: ACTIVE. Direction: Exits 3-E1, 3-E2, 3-E3.

Enter.


Di kamera empat puluh satu, aku melihatnya.

Asap. Tipis. Abu-abu. Merembes dari pintu ruang servis di belakang taman bermain anak. Belum banyak. Belum tebal. Tapi ada.

Dan anak-anak di kolam bola mulai batuk.

Ms. Ratih berdiri. Menatap asap itu. Wajahnya berubah. Dia mulai memanggil anak-anak. Satu per satu. Menarik mereka keluar dari kolam bola.

Dari pengeras suara, suara perempuan yang tenang dan jelas:

“Perhatian. Untuk keselamatan Anda, mohon bergerak perlahan ke arah pintu darurat yang ditandai lampu hijau di lantai. Tidak perlu terburu-buru.”

Lampu-lampu hijau menyala di lantai karet taman bermain. Membentuk garis panah. Menunjuk ke pintu darurat 3-E1, lima belas meter dari taman bermain.

Ms. Ratih menggiring anak-anak ke arah panah hijau. Delapan anak. Sepuluh. Dua belas.

Dan Bianca.

Bianca nggak bergerak ke pintu.

Bianca berdiri di dekat panjatan berbentuk kapal. Menatap ke atas. Ke puncak panjatan.

Aku memperbesar kamera.

Di puncak panjatan, di dalam ruang kecil berbentuk kabin kapal, dua anak kecil meringkuk. Ketakutan. Terlalu takut untuk turun. Batuk-batuk.

Satu anak laki-laki berambut pirang.

Lucas.

Dan satu anak perempuan berkepang dua dengan topi kuning.

Elea.

Tangan Bianca kosong.

Elea melepaskan tangannya.


Aku nggak ingat berdiri dari kursi.

Aku ingat Bayu berteriak Mas! Mas, mau ke mana? Aku ingat pintu ruang kendali. Tangga darurat. Lima lantai dari bawah tanah ke lantai tiga. Aku ingat menaikinya tiga anak tangga sekaligus. Aku ingat bekas jahitan di lengan kiriku berdenyut setiap kali aku memegang pegangan tangga.

Aku ingat earpiece di telingaku. Suara Bayu. Cepat. Panik. Tapi jernih.

“Mas, asap di zona C turun tiga puluh persen. Sprinkler kerja. Kipas kerja. Suhu ruang sampah lima puluh delapan. Turun. Tapi asap yang udah keluar belum habis, Mas. Di taman bermain masih ada.”

“Anak-anak?”

“Ms. Ratih udah keluarin dua belas lewat 3-E1. Masih ada empat. Dua di panjatan. Dua lagi… dua lagi di belakang Ms. Ratih, lagi digandeng.”

“Bianca?”

Hening sebentar.

“Mas. Bu Bianca manjat panjatannya.”


Lantai tiga. Pintu tangga darurat terbuka ke koridor belakang sayap timur. Asap. Tipis tapi menyengat. Bau plastik terbakar dan bahan kimia. Lampu hijau di lantai. Suara pengumuman yang terus berulang.

Aku berlari ke taman bermain anak.

Asap di sini lebih tebal. Abu-abu yang menggantung di langit-langit, turun pelan seperti kabut. Sprinkler di langit-langit menyemprotkan air, membasahi lantai karet berwarna-warni, kolam bola, perosotan. Kipas-kipas di atas berdengung keras, menyedot asap ke atas.

Panjatan berbentuk kapal. Tiga meter tingginya. Tali-tali dan papan-papan kayu dan jaring-jaring.

Di puncaknya, di dalam kabin kapal, dua anak kecil dan satu perempuan.

Bianca sudah di sana. Berlutut di dalam kabin sempit itu, dengan blus putih yang basah kuyup karena sprinkler dan rambut kepang yang lepas sebagian. Dia memeluk Lucas, yang menangis histeris. Dan dia memegang tangan Elea, yang menangis tanpa suara, dengan mata yang lebar dan wajah yang pucat.

“Bi!”

Dia menoleh. Ke bawah. Melihatku.

Wajahnya, di bawah asap dan air sprinkler, berubah. Lega. Takut. Sesuatu yang lain.

“Mereka nggak mau turun,” teriaknya. “Lucas nggak bisa. Kakinya kejepit di jaring. Elea nggak mau turun tanpa Lucas.”

Aku memanjat.

Tali-tali basah dan licin. Papan-papan kayu yang dirancang untuk kaki anak lima tahun, bukan laki-laki dewasa. Jaring-jaring yang melengkung di bawah beratku. Aku memanjat. Bekas jahitan di lengan kiriku robek lagi. Aku merasakannya. Panas. Basah. Aku memanjat.

Kabin kapal. Sempit. Pengap. Asap tipis.

Bianca. Lucas. Elea.

“Papa,” bisik Elea. Suaranya kecil sekali. “Papa, Elea lepas tangan Mama. Elea janji nggak lepas. Tapi Lucas di atas sendirian. Lucas takut. Elea naik buat nemenin Lucas.”

“Papa tahu, Sayang.”

“Elea ingkar janji.”

“Nggak, Sayang. Elea nolongin teman. Itu bukan ingkar janji. Itu berani.”

Aku memeriksa kaki Lucas. Terjepit di antara dua tali jaring yang terpilin. Aku memisahkan tali-tali itu dengan tangan. Pelan. Lucas menjerit. Kakinya lepas.

“Bi. Kamu bawa Lucas. Aku bawa Elea.”

Bianca menatapku. Mengangguk.

Dia mengangkat Lucas ke gendongannya. Anak laki-laki itu memeluk lehernya erat-erat, wajah terbenam di bahunya, masih menangis.

Aku mengangkat Elea.

Dia memeluk leherku. Wajahnya terbenam di bahuku. Badannya gemetar. Ringan. Hangat. Bau asap dan air dan sampo bayi.

“Pegang Papa,” bisikku. “Jangan lepas.”

“Elea nggak lepas,” bisiknya. “Kali ini Elea nggak lepas.”


Turun dari panjatan dengan anak di gendongan lebih sulit dari naik.

Bianca duluan. Dengan Lucas. Pelan. Satu papan demi satu papan. Aku di atasnya, mengawasi, siap menangkap kalau dia tergelincir.

Dia nggak tergelincir.

Aku menyusul. Dengan Elea. Satu tangan memeluk Elea, satu tangan berpegangan pada tali basah. Lengan kiriku berdarah. Aku merasakan darahnya mengalir di bawah lengan kemeja, sampai ke pergelangan, sampai ke tali.

Lantai karet. Basah. Licin.

Lampu hijau di lantai. Panah ke pintu 3-E1.

Asap masih tipis. Kipas di atas berdengung. Sprinkler masih menyemprot.

Kami berjalan. Bianca di depan dengan Lucas. Aku di belakang dengan Elea. Menembus asap tipis dan air sprinkler, mengikuti panah hijau di lantai.

Lima belas meter.

Sepuluh.

Lima.

Pintu 3-E1. Terbuka. Udara segar dari tangga darurat. Ms. Ratih di sana, dengan dua belas anak berseragam biru, menangis dan menghitung kepala anak-anak, tiga belas, empat belas, Lucas, lima belas, Elea, enam belas.

Bianca menyerahkan Lucas ke Ms. Ratih. Lucas langsung memeluk Ms. Ratih dan menangis lebih keras.

Lalu Bianca berbalik.

Dia menatapku. Dengan Elea di gendonganku. Dengan lengan kemeja kiriku yang merah karena darah.

Dia nggak bicara. Dia cuma melangkah maju, dan memeluk kami berdua.

Aku dan Elea. Dalam satu pelukan. Di tangga darurat lantai tiga Rexton Grand Nusantara. Basah kuyup. Bau asap. Dengan sprinkler yang masih menyemprot di belakang kami dan pengumuman yang masih berulang dalam tiga bahasa.

Elea, di antara kami, mengangkat kepala.

“Mama,” katanya. “Papa berdarah lagi.”

Bianca menatap lengan kiriku. Wajahnya berubah.

“Kamu jadi dinding lagi,” bisiknya.

“Nggak. Kali ini aku cuma manjat.”

“Kamu robek jahitannya lagi.”

“Itu jahitan yang kamu cium,” kataku. “Mungkin dia mau dicium lagi.”

Bianca menatapku. Mata yang basah, bukan cuma karena sprinkler.

Lalu dia tertawa. Di tangga darurat. Dengan asap di rambutnya dan air di wajahnya. Dia tertawa sampai Elea ikut tertawa, dan Ms. Ratih menatap kami bertiga dengan wajah yang bingung dan basah.


Earpiece. Suara Bayu.

“Mas! Mas, kamu dengar? Pak Gunawan dapat dia! Lantai basement satu, ruang panel listrik! Laki-laki, lima puluhan, pakai seragam teknisi! Namanya Yusuf Hermawan! Mantan site manager PT Sentra di proyek ini! Dia masih punya kartu akses lama, nggak pernah dikembalikan! Dia bawa laptop, Mas, terhubung langsung ke panel kontrol lama!”

Aku memejamkan mata.

“Pak Gunawan bilang dia nggak melawan. Dia cuma bilang satu kalimat waktu ditangkap.”

“Apa?”

“Dia bilang, ‘Pak Marcel bilang gedung ini nggak boleh buka dengan nama orang itu.’”

Aku membuka mata. Menatap Bianca. Yang menatapku balik, dengan Elea di antara kami.

Dia mendengar. Earpiece-ku cukup keras.

“Marcel,” bisiknya.

“Dari penjara,” kataku. “Lewat orang yang masih setia.”

Bianca menatapku lama. Lalu dia menatap Elea. Lalu dia menatap lorong di belakang kami. Taman bermain yang basah. Panjatan berbentuk kapal. Asap yang mulai menipis, tersedot kipas ke atas.

“Berapa yang di dalam gedung?” tanyanya.

“Dua puluh tujuh ribu, Bu,” kata Bayu di earpiece, mendengar pertanyaannya. “Dan semuanya aman. Zona C udah dievakuasi. Asap udah dikendalikan. Api di ruang sampah udah padam. Sprinkler kerja. Nggak ada korban. Nggak satu pun.”

Bianca menutup matanya.

“Nggak satu pun,” ulangnya.

“Nggak satu pun, Bu,” kata Bayu. Suaranya bergetar. “Gedungnya bernapas. Mas Adrian bikin dia bernapas pakai tangan. Lewat kabel. Langsung ke logam. Aku nggak tahu itu bisa. Aku lima tahun kerja sama dia dan aku nggak tahu itu bisa.”


Jam dua siang, Starlight Seven tampil di arena konser.

Tepat waktu. Di depan lima ribu penggemar. Di lantai empat, jauh dari zona C, yang sudah ditutup dengan garis polisi kuning dan dijaga Pak Gunawan dan timnya.

Sebelum lagu pertama, salah satu anggota grup mengambil mikrofon dan bicara dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata:

“Teman-teman. Hari ini ada yang nyelamatin kita lagi. Orang yang sama. Dokter yang bikin gedung ngomong. Kami nggak tahu dia di mana sekarang. Tapi kami mau bilang… terima kasih, Dokter!”

Lima ribu orang bersorak.

Aku nggak di arena konser.

Aku di ruang P3K di lantai dasar, dengan lengan kiri yang dijahit ulang oleh paramedis. Delapan jahitan. Paramedis itu, perempuan muda berkerudung, bertanya bagaimana kejadiannya. Aku bilang manjat panjatan di taman bermain anak.

Dia menatapku dengan wajah aneh. Lalu dia melihat siapa yang duduk di kursi di samping ranjang P3K. Perempuan dengan blus putih basah kuyup dan rambut kepang yang berantakan, memangku anak perempuan berkepang dua yang tertidur dengan topi kuning masih di kepalanya.

Paramedis itu tersenyum. Dan nggak bertanya lagi.


Waktu paramedis itu keluar, Bianca berdiri. Pelan. Supaya Elea yang tertidur di pelukannya nggak bangun. Dia berjalan ke samping ranjang P3K. Dia menatap lengan kiriku. Perban baru, putih, dari siku sampai pergelangan.

“Delapan,” katanya. “Kemayoran dua belas. Fan meeting enam. Sekarang delapan.”

“Dua puluh enam total.”

“Kamu ngitung?”

“Bayu yang ngitung. Dia bikin spreadsheet.”

Bianca tertawa pelan. Lalu dia menatap Elea di pelukannya. Tidur. Mulut sedikit terbuka. Topi kuning miring.

“Dia lepas tanganku,” bisiknya. “Aku pegang dari pagi. Nggak lepas-lepas. Terus Lucas naik ke panjatan, terus asapnya keluar, terus aku nengok ke pintu ruang servis cuma satu detik… dan tangannya udah lepas.”

“Dia nolongin teman.”

“Aku tahu.” Bianca menatapku. “Aku lihat dia manjat. Aku lihat dia nyamperin Lucas. Aku lihat dia meluk Lucas di dalam kabin kapal itu, nggak mau turun sendirian.” Suaranya bergetar. “Dia nggak ninggalin temannya. Dia nggak diam. Dia nggak lari.”

Aku menatapnya.

“Dia nggak kayak aku,” bisik Bianca. “Lima tahun lalu.”

“Dia kayak kamu,” kataku. “Hari ini.”

Bianca menatapku.

“Kamu manjat juga, Bi,” kataku pelan. “Kamu nggak lari ke pintu. Kamu nggak nunggu orang lain. Kamu lihat anak kita di atas panjatan dalam asap, dan kamu manjat. Pakai rok. Pakai sepatu datar. Kamu manjat.”

Air mata jatuh dari matanya.

“Dia kayak kamu,” ulangku. “Yang sekarang.”


Bianca menunduk. Ke lengan kiriku. Ke perban putih yang baru.

Dan dia mencium perban itu. Di bagian dekat siku. Di tempat jahitan yang paling baru. Pelan. Satu kali.

“Kamu bilang dia mau dicium lagi,” bisiknya.

“Aku bilang mungkin.”

“Aku pastiin aja.”

Aku menatapnya. Perempuan yang memanjat panjatan dalam asap. Perempuan yang mundur dari semua kursi. Perempuan yang berdiri di kursi saksi dan bilang saya ibu yang membuang bayinya, tanpa menunduk. Perempuan yang dipanggil Mama di tangga pengadilan.

Dan aku tahu.

Aku tahu dengan kepastian yang sama seperti aku tahu bahwa kabel penggantung panel tujuh belas di atrium Kemayoran sedang menyerah. Kepastian data. Kepastian yang dibaca dari getaran, dari suhu, dari pola.

Kepastian yang dibaca dari dia.

Bukan hari ini. Bukan di ruang P3K dengan bau antiseptik dan lampu neon dan Elea yang tertidur di pelukannya.

Di tempat yang benar.

Aku tahu tempatnya. Aku sudah tahu dari lama.

“Bi,” kataku.

“Hm?”

“Senin. Jam tujuh pagi.”

Dia mengerutkan dahi. “Kopi?”

“Bukan di kantor Hallworth.”

“Di mana?”

Aku menatapnya. Lalu aku tersenyum.

“Rahasia,” kataku. “Itu kenapa namanya rahasia.”

Bianca menatapku dengan curiga yang dalam. Persis seperti Elea.

“Kamu curang,” katanya.

“Dari dulu.”

Di pelukan Bianca, Elea bergerak dalam tidurnya. Bibirnya bergerak. Hampir nggak terdengar.

“Papa curang.”

Kami berdua menatap anak kami. Lalu menatap satu sama lain.

Dan kami tertawa. Pelan. Di ruang P3K di lantai dasar Rexton Grand Nusantara. Gedung yang bernapas. Gedung yang hari ini menyelamatkan dua puluh tujuh ribu orang tanpa satu pun korban.

Gedung yang dibangun Bianca. Yang diselamatkan aku. Yang sekarang menjadi rumah bagi sesuatu yang nggak bisa dibaca oleh empat ribu dua ratus sensor.

Sesuatu yang cuma bisa dibaca dari tangan yang menggenggam tangan. Di ruang P3K. Di atas perban putih. Di atas anak yang tertidur.