Chapter Fifteen

Basement, Hujan

POV: Bianca


Aku melepas sepatuku di lift.

Lift pribadi direksi, dari lantai empat puluh langsung ke basement tiga. Nggak ada orang lain. Nggak ada kamera, atau setidaknya aku berdoa nggak ada kamera, karena Pak Darto pasti sedang menonton.

Aku bersandar di dinding lift dan melepas sepatu kanan dulu.

Rasanya seperti mencabut paku. Kulit di tumitku menempel di bagian dalam sepatu, dan waktu aku menariknya, sesuatu robek. Aku menggigit bibir supaya nggak bersuara. Stoking tipisku di bagian tumit sudah berubah warna jadi cokelat kemerahan. Lecet yang tiga minggu ini kututup dengan plester, kubuka, kututup lagi, kubuka lagi, dan nggak pernah sempat sembuh.

Sepatu kiri lebih mudah. Cuma perih.

Aku berdiri di lantai lift dengan kaki telanjang, dengan stoking yang bernoda darah, dengan sepasang sepatu hak sepuluh senti di tangan kiri dan tablet di tangan kanan.

Dua jam tiga belas menit.

Oh. Nggak ada kursinya, ya.

Dan Oma. Oma, yang mengangkat tongkat peraknya dan berkata saya abstain dengan nada yang sama seperti mengatakan tolong ambilkan garam.

Lift berbunyi. Basement tiga.

Pintu terbuka.


Hujan.

Aku bisa mendengarnya dari basement tiga. Hujan deras yang menghantam jalan Sudirman, yang mengalir turun lewat ramp kendaraan dan membentuk genangan-genangan di lantai beton basement. Bau tanah basah dan oli dan asap knalpot. Lampu-lampu neon yang berkedip di langit-langit rendah. Mobil-mobil yang terparkir berjajar seperti binatang besar yang tidur.

Mobilku diparkir di ujung, di slot direksi, di dekat ramp.

Aku berjalan ke sana tanpa sepatu. Lantai beton dingin dan kasar di telapak kakiku. Sesekali genangan air. Aku nggak peduli.

Lalu aku melihatnya.

Mobil sedan abu-abu tua, terparkir tiga slot dari mobilku. Mobil Hallworth. Dan di sampingnya, berdiri dengan ponsel di telinga, dengan jas yang sudah dilepas dan disampirkan di lengan kiri dan kemeja putih yang lengannya digulung, memperlihatkan bekas jahitan panjang yang mulai memudar jadi garis merah muda—

Adrian.

Dia belum melihatku. Dia sedang bicara di telepon, dengan suara yang pelan dan lembut, suara yang nggak pernah dia pakai untukku sejak dia kembali.

“…iya, Sayang. Papa sebentar lagi pulang. Hujan, jadi macet… Iya, Nenek Imah masak apa? Sop buntut? Wah… Iya. Iya. Papa sayang Elea juga. Dah.”

Dia menutup telepon. Dia memasukkan ponsel ke saku celananya. Dia mengangkat kepala.

Dan dia melihatku.


Aku nggak tahu apa yang dia lihat. Aku nggak tahu seperti apa aku terlihat malam itu, berdiri di tengah basement tiga dengan kaki telanjang dan stoking berdarah, dengan sepatu di satu tangan dan tablet di tangan lain, dengan rambut yang sudah mulai lepas dari cepol, dengan lipstik merah yang mungkin sudah luntur di sudut-sudutnya.

Tapi aku melihat wajahnya.

Matanya turun ke kakiku. Ke tumit kananku. Ke noda cokelat kemerahan di stoking.

Dan sesuatu bergerak di wajahnya. Sesuatu yang dia tutup dengan cepat, tapi nggak cukup cepat.

Lalu dia berbalik ke mobilnya. Membuka pintu.

“Adrian.”

Dia berhenti.

Itu pertama kalinya aku memanggil namanya sejak dia kembali. Bukan Dr. Renaldi. Bukan di telepon jam dua pagi yang setengah tidur. Namanya. Dengan suara yang sadar sepenuhnya.

Dia nggak berbalik. Tangannya masih di pintu mobil.

“Apa lagi yang kamu mau dari aku?”

Suaraku menggema di basement. Lebih keras dari yang kuinginkan. Bergetar. Pecah di ujung.

Hening. Cuma bunyi hujan dari ramp. Bunyi air menetes dari pipa di langit-langit.

Dia menutup pintu mobilnya. Pelan.

Lalu dia berbalik.

“Lima tahun,” katanya.


Aku melempar sepatuku.

Bukan ke arahnya. Ke lantai. Sepasang sepatu hak sepuluh senti itu jatuh di beton basah dengan bunyi yang keras dan nggak anggun. Tablet kuletakkan di atas kap mobil di sampingku, terlalu keras, sampai layarnya mungkin retak.

Lalu aku berjalan ke arahnya.

Tiga slot. Sepuluh langkah. Kaki telanjang di beton basah. Setiap langkah tumitku berdenyut. Aku nggak peduli.

“Lima tahun?” Aku berhenti satu meter di depannya. “Kamu mau lima tahun? Kamu mau aku bayar lima tahun? Untuk apa? Untuk kamu yang selingkuh waktu aku baru melahirkan? Untuk kamu yang ambil empat koma tujuh miliar dari keluargaku? Untuk kamu yang bawa anakku ke ujung dunia dan nggak pernah sekali pun—“

“Kamu yang suruh aku bawa dia.”

Suaranya nggak naik. Tetap tenang. Tetap rendah. Tapi kalimat itu menghantamku seperti tamparan.

“Kamu yang bilang bawa anak itu.” Dia melangkah maju. Setengah meter sekarang. “Kamu yang bilang aku nggak mau lihat dia. Kamu yang tutup telinga waktu dia nangis. Kamu yang nggak menoleh waktu aku keluar pintu. Aku nunggu tiga detik, Bi. Tiga detik. Aku hitung. Kalau kamu menoleh, satu kali aja, aku bakal tinggal. Aku bakal berdiri di depan pintu itu sampai pagi.”

Aku nggak bisa bernapas.

“Kamu nggak menoleh.”

“Aku…”

“Lima tahun aku nggak pernah sekali pun dapat kabar dari kamu. Satu pun. Nggak ada telepon. Nggak ada surat. Nggak ada satu pertanyaan pun soal anak kamu masih hidup atau udah mati.” Dia menatapku. Matanya di balik kacamata nggak dingin lagi. Matanya terbakar. “Dan sekarang kamu tanya apa yang aku mau?”

“Kamu nggak tahu apa-apa soal lima tahun aku,” bisikku.

“Aku tahu cukup.”

“Kamu nggak tahu!”

Aku meraih kerah kemejanya. Dengan dua tangan. Aku nggak tahu kenapa. Aku nggak merencanakannya. Tanganku bergerak sendiri, meraih kain putih itu, mencengkeramnya, menarik.

Dia nggak mundur.

Tangannya naik. Menangkap pergelangan tangan kananku. Nggak kasar. Tapi kuat. Jari-jarinya melingkar di sana, di tempat nadiku berdenyut cepat.

Jarak kami nggak ada lagi.

Aku bisa mencium bau kemejanya. Sabun yang berbeda dari lima tahun lalu. Tapi di bawahnya, di bawah sabun dan hujan dan oli basement, ada bau yang sama. Bau kulit. Bau hangat. Bau yang dulu kucari di bantal setiap pagi setelah dia berangkat kerja.

Aku bisa merasakan napasnya di dahiku. Cepat. Nggak teratur.

Dia bisa merasakan nadiku di bawah jarinya. Aku tahu dia bisa. Berdentum seperti genderang.

Kami berdiri seperti itu. Tanganku di kerahnya. Tangannya di pergelangan tanganku. Hujan menderu dari ramp. Lampu neon berkedip.

Tiga detik. Empat. Lima.

“Kamu tahu rasanya,” katanya, sangat pelan, sangat dekat, suaranya serak, “berlutut dan nggak dijawab?”

Aku menatapnya.

“Sekarang kamu baru tahu setengahnya.”


Dia melepaskan pergelangan tanganku.

Aku nggak melepaskan kerahnya. Selama satu detik lagi, aku nggak bisa melepaskannya. Jari-jariku membeku di kain putih itu, mencengkeram seperti orang tenggelam yang mencengkeram kayu yang hanyut.

Lalu aku melepaskannya.

Dia mundur satu langkah. Lalu dua. Dia membuka pintu mobilnya.

Lalu dia berhenti.

Dia menatap kakiku. Kaki telanjang di beton basah. Stoking yang robek di tumit. Noda yang sekarang bercampur dengan air genangan, menyebar jadi warna merah muda pucat.

Dia membuka mulut. Menutupnya lagi.

Lalu dia membuka bagasi mobilnya, mengambil sesuatu, dan melemparkannya ke arahku. Aku menangkapnya refleks.

Sandal jepit. Sandal jepit hijau dengan gambar katak, ukuran perempuan dewasa, masih dengan label harga dari minimarket.

Aku menatapnya.

“Punya Bi Imah,” katanya, tanpa menatapku. “Dia selalu nyelipin sandal di mobil, buat jaga-jaga kalau hujan. Katanya sepatu orang Jakarta nggak tahan banjir.”

Lalu dia masuk ke mobilnya, menutup pintu, dan menyalakan mesin.

Mobil sedan abu-abu tua itu mundur dari slotnya, berbelok, dan naik ke ramp. Ke dalam hujan. Lampu belakangnya merah, lalu kecil, lalu hilang.

Aku berdiri di tengah basement tiga, dengan kaki telanjang dan sandal jepit katak di tangan.


“Bu?”

Aku nyaris melompat.

Pak Darto berdiri di ujung deretan mobil, di dekat pos jaga basement. Laki-laki tua dengan seragam satpam yang sedikit kebesaran, rambut putih yang dipotong cepak, dan payung lipat jelek dengan gagang patah di tangannya.

Payung yang sama. Aku tahu itu payung yang sama.

“Pak Darto. Bapak… dari tadi di situ?”

“Dari tadi, Bu.” Pak Darto berjalan mendekat, pelan. “Maaf, Bu. Saya nggak nonton CCTV. Saya beneran di sini. Saya lagi patroli.”

“Bapak dengar semuanya?”

Pak Darto berhenti di depanku. Dia menatap sandal jepit di tanganku. Lalu menatap kakiku. Lalu menatap wajahku.

“Saya udah tua, Bu,” katanya. “Telinga saya nggak bagus. Saya nggak dengar apa-apa.”

Dia bohong. Aku tahu dia bohong. Dan aku tahu dia tahu aku tahu.

“Pakai sandalnya, Bu,” katanya lembut. “Lantai basement dingin. Nanti masuk angin.”

Aku menatap sandal jepit katak itu. Lalu, pelan-pelan, aku meletakkannya di lantai dan memasukkan kakiku ke dalamnya.

Pas.

Pak Darto memungut sepatu hak tinggiku dari lantai, mengusap airnya dengan ujung seragam, dan memegangnya dengan hati-hati seperti memegang barang pecah belah. Lalu dia mengambil tablet dari atas kap mobil, yang layarnya memang retak di pojok.

“Saya antar ke mobil, Bu.”

Kami berjalan bersama ke mobilku. Pelan. Sandal jepit katak mengeluarkan bunyi plak-plak di lantai beton basah. Bunyi yang konyol. Bunyi yang sama sekali bukan bunyi CEO Rexton Malls.

“Pak Darto,” kataku.

“Iya, Bu.”

“Kenapa Bapak pindah ke Rexton Tower? Tiga tahun lalu. Dari rumah Menteng.”

Pak Darto diam sebentar. Dia membukakan pintu mobilku. Dia meletakkan sepatu dan tablet di kursi penumpang, dengan hati-hati.

“Saya nggak betah di rumah itu lagi, Bu,” katanya akhirnya. “Setelah malam itu.”

Aku menatapnya.

“Malam waktu Mas Adrian diusir,” lanjutnya pelan. “Saya yang jaga gerbang. Saya yang panggilin taksi. Saya yang kasih payung ini ke dia, buat Neng kecil.” Dia mengangkat payung lipat jelek itu sedikit. “Waktu itu dia kembalikan lewat sopir taksi, besoknya. Dibungkus kertas koran. Ada tulisan terima kasih, Pak Darto di kertasnya.”

Aku nggak bisa bicara.

“Saya nggak percaya Mas Adrian kayak gitu, Bu. Yang dituduhkan itu. Saya nggak pernah percaya.” Pak Darto menatapku dengan mata tua yang basah. “Dulu tiap pulang lembur, dia selalu berhenti di pos saya. Bawain kopi sachet. Nanya kabar cucu saya yang sakit. Orang kayak gitu nggak mungkin…”

Dia berhenti. Menggeleng.

“Maaf, Bu. Saya cuma satpam. Saya nggak tahu apa-apa.”

“Pak Darto—“

“Hati-hati di jalan, Bu. Hujan deras.”

Dia menutup pintu mobilku dengan pelan. Lalu dia berjalan kembali ke pos jaganya, dengan payung lipat jelek di tangan dan punggung yang sedikit membungkuk, dan nggak menoleh.


Aku nggak langsung menyalakan mesin.

Aku duduk di kursi pengemudi, dengan sandal jepit katak dan stoking berdarah, dan menatap kaca depan yang buram oleh embun.

Pergelangan tangan kananku masih terasa hangat. Di tempat jari-jarinya tadi melingkar.

Aku nunggu tiga detik, Bi. Aku hitung.

Aku nggak tahu. Aku nggak pernah tahu. Malam itu, aku duduk di sofa krem dan menatap lantai, dan aku nggak tahu bahwa dia berdiri di pintu dan menghitung. Kalau aku tahu…

Kalau aku tahu, apa? Apa aku akan menoleh?

Aku nggak tahu jawabannya. Dan itu yang paling menakutkan.

Hujan terus turun dari ramp. Aku menatapnya. Dan sebuah pertanyaan, yang sudah berputar-putar di kepalaku sejak empat menit di ruang rapat tiga minggu lalu, sejak angka tiga puluh delapan persen, sejak kabel penggantung panel di Kemayoran, sejak Oma menatap Om Hendra dengan tatapan dingin di gala, akhirnya mengendap dan membentuk kalimat yang utuh.

Kenapa seorang pencuri pulang lebih kaya dari keluarga yang dia curi?

Bukan sedikit lebih kaya. Jauh lebih kaya. Paten yang dibeli konsorsium Eropa dan Jepang. Kontrak dengan Hallworth. Rumah di Kebayoran. Sekolah internasional.

Laki-laki yang mencuri empat koma tujuh miliar seharusnya hidup dari uang curian itu. Seharusnya bersembunyi. Seharusnya takut ketahuan.

Bukan kuliah di Oxford sambil menggendong bayi. Bukan bekerja sampai jam tiga pagi di depan lemari es. Bukan menulis disertasi yang mengubah cara dunia membangun gedung.

Bukan kembali ke Jakarta, ke keluarga yang dia curi, dan menunjukkan pada semua orang di ruang rapat bahwa ada orang lain yang mencuri. Lebih banyak. Lebih lama. Di proyek yang sama yang dulu dia laporkan.

Proyek yang sama yang dulu dia laporkan.

Aku menegakkan punggung.

Aku mengambil tablet dari kursi penumpang. Layarnya retak di pojok, tapi masih menyala. Aku membuka sistem arsip internal Rexton. Aku mengetik di kolom pencarian, dengan jari yang gemetar karena dingin atau karena hal lain.

Laporan anomali pengadaan. Rexton Mall Kemayoran. Lima tahun lalu.

Hasil pencarian: nol.

Aku mencoba kata kunci lain. Building Systems. A. Renaldi. Laporan.

Nol.

Aku mencoba lagi. Dan lagi. Dengan rentang tanggal yang berbeda. Dengan nama divisi yang berbeda.

Nol. Nol. Nol.

Seolah laporan itu nggak pernah ada. Seolah Head of Building Systems Rexton Malls nggak pernah menulis apa-apa selama tujuh tahun dia bekerja di sana. Seolah seseorang sudah menghapus semuanya.

Aku menatap layar retak itu lama.

Lalu aku menyalakan mesin. Aku menyetir naik ramp, ke dalam hujan, ke jalan Sudirman yang tergenang.

Di lampu merah pertama, aku menelepon Tasya.

“Bu? Ibu udah pulang? Grup heboh, Bu, katanya rapat tadi—“

“Tasya. Besok pagi, sebelum jam tujuh, saya mau kamu cari satu orang di bagian arsip fisik. Yang paling lama kerja di sana. Yang paling tahu di mana dokumen-dokumen lama disimpan. Dokumen kertas. Bukan digital.”

Hening sebentar.

“Arsip fisik, Bu? Yang di gudang lantai B5?”

“Iya.”

“Bu, itu… itu gudang kertas. Nggak ada yang ke sana. Isinya cuma kardus-kardus lama sama tikus.”

“Saya tahu.”

“Ibu nyari apa?”

Aku menatap hujan yang menghantam kaca depan. Wiper bergerak kiri-kanan, kiri-kanan, nggak cukup cepat untuk membersihkannya.

“Saya nyari sesuatu yang seharusnya nggak dihapus,” kataku.

Lampu berubah hijau. Aku melaju.

Di kakiku, sandal jepit katak hijau menekan pedal gas dengan bunyi plak yang pelan.