Chapter Twenty One

Peringatan

POV: Bianca


Dua detik.

Aku menontonnya sembilan puluh tujuh kali.

Aku tahu angkanya karena aplikasi itu menghitungnya. Di bawah video, di sudut kecil yang hanya bisa dilihat pemilik akun, ada angka Ditonton olehmu: 97 kali. Aku nggak tahu aplikasi itu bisa menghitung sampai segitu. Aku nggak tahu aku bisa menonton sesuatu sampai segitu.

Tiga puluh dua detik. Laki-laki berkemeja biru menembus kerumunan. Membentangkan tangannya di pagar besi. Menunduk. Bicara sesuatu yang nggak terdengar di video. Menarik perempuan berkemeja putih ke dadanya, dengan telapak tangan di belakang kepala perempuan itu.

Dan dua detik terakhir.

Di detik pertama, kepala perempuan itu terbenam di dadanya. Di detik kedua, tangan laki-laki itu, yang di belakang kepala perempuan itu, bergerak. Sangat sedikit. Hampir nggak terlihat. Jemarinya menyisir rambut perempuan itu ke bawah. Sekali. Seperti dulu. Seperti setiap malam, lima tahun lalu, waktu aku tertidur di dadanya menonton film yang nggak pernah selesai.

Lalu perempuan itu menarik diri.

Aku yang menarik diri. Di detik kedua. Karena aku mendengar ibu si anak berteriak Kevin! Karena aku harus menyerahkan Kevin. Karena aku harus.

Kalau aku nggak menarik diri…

Aku mematikan ponselku dan meletakkannya menelungkup di meja.

Lalu aku menyalakannya lagi.

Sembilan puluh delapan.


Darren datang ke ruanganku hari Senin dengan wajah yang sulit dibaca.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya. “Aku telepon kamu sepuluh kali hari Sabtu.”

“Aku nggak apa-apa. Maaf. Aku matiin ponsel.”

“Karena video itu?”

Aku nggak menjawab.

Darren duduk di kursi di seberang mejaku. Dia menatapku lama. Lalu dia bilang, dengan suara yang sangat tenang:

“Aku lihat videonya, Bi.”

“Semua orang lihat videonya.”

“Aku lihat dua detik terakhir.” Darren menatap tangannya sendiri, yang terlipat di pangkuannya. “Dan aku lihat muka kamu. Waktu kamu narik diri dari dia. Waktu kamu nyerahin anak itu ke ibunya.” Dia diam sebentar. “Kamu nggak pernah natap aku kayak gitu.”

“Dar—“

“Nggak apa-apa.” Dia tersenyum. Senyum yang sabar dan sedih. “Aku nggak marah. Aku cuma… aku cuma mau kamu tahu bahwa aku tahu.”

Aku nggak bisa bicara.

“Aku nggak akan pergi,” lanjut Darren. “Belum. Kamu masih butuh orang yang bisa akses registri Singapura. Dan kamu masih butuh orang yang bawain nasi goreng kambing tengah malam.” Dia berdiri. “Tapi aku nggak akan pura-pura nggak lihat lagi, Bi. Itu aja.”

Dia keluar.

Aku menatap pintu yang tertutup. Lalu aku menatap ponselku.

Aku nggak menyalakannya lagi. Untuk sementara.


Hari Rabu, Mama mengajakku makan siang.

Bukan di rumah Menteng. Di restoran Prancis di lantai tiga puluh delapan Hotel Arunaya. Restoran dengan taplak putih dan gelas kristal dan pelayan yang menyebut setiap hidangan dengan aksen yang dibuat-buat. Restoran favorit Mama.

Mama sudah duduk waktu aku datang. Setelan sutra krem. Mutiara di leher. Rambut disanggul rapi. Senyum yang lembut.

“Sayang. Kamu kelihatan capek.”

“Aku baik-baik aja, Ma.”

“Kamu nggak baik-baik aja.” Mama meraih tanganku di atas meja. Tangannya hangat dan halus. “Mama lihat videonya.”

Tentu saja Mama lihat.

“Itu cuma insiden keselamatan, Ma. Dia konsultan keselamatan gedung. Itu tugasnya.”

“Mama tahu.” Mama mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. “Mama tahu, Sayang. Dan Mama bersyukur kamu selamat. Tapi orang-orang nggak lihat itu sebagai insiden keselamatan. Orang-orang lihat itu sebagai…” Dia berhenti, memilih kata. “Sebagai sesuatu yang lain. Dan itu nggak baik buat Rexton. Nggak baik buat kamu. Nggak baik buat Darren.”

Pelayan datang dengan hidangan pembuka. Sesuatu dengan saus dan daun-daun kecil yang ditata seperti lukisan. Aku nggak menyentuhnya.

“Dan ada hal lain,” kata Mama setelah pelayan pergi. Suaranya turun. Lebih pelan. Lebih lembut. “Marcel bilang ke Mama, kamu ke gudang arsip B5 minggu lalu. Jam enam pagi.”

Aku membeku.

“Marcel tahu?”

“Pak Joko dari arsip melapor ke bagian umum. Prosedur standar. Siapa pun yang masuk gudang arsip harus dicatat.” Mama tersenyum. “Bagian umum melapor ke Om Hendra. Om Hendra cerita ke Marcel. Marcel cerita ke Mama. Kamu tahu keluarga kita, Sayang. Nggak ada rahasia.”

Pak Joko. Laki-laki tua dengan kacamata tebal yang bilang saya cek nanti di buku. Aku nggak tahu apakah dia melapor karena prosedur atau karena takut.

“Kamu nyari apa di sana, Sayang?”

Aku menatap Mama. Perempuan yang membesarkanku. Perempuan dengan senyum yang lembut dan tangan yang hangat.

“Arsip Building Systems,” kataku. “Lima tahun lalu.”

Senyum Mama nggak berubah. Tapi tangannya, yang mengusap punggung tanganku, berhenti.

“Untuk apa?”

“Audit Hallworth. Mereka butuh data historis pengadaan.” Aku bohong. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bohong pada Mama dengan sengaja, dengan wajah yang tenang, dengan suara yang nggak bergetar. “Prosedur standar, Ma.”

Mama menatapku lama.

Lalu dia tersenyum lagi. Lebih lebar. Dan menarik tangannya kembali ke pangkuannya.

“Bianca, Sayang,” katanya. “Mama mau minta satu hal. Bukan sebagai Mama. Sebagai orang yang sayang sama kamu lebih dari siapa pun di dunia ini.”

Aku menunggu.

“Berhenti menggali.”

Pelayan datang lagi. Menuangkan air ke gelas kristal kami. Mengucapkan sesuatu dalam bahasa Prancis. Pergi.

“Apa pun yang kamu cari, Sayang, berhenti.” Suara Mama masih lembut. Masih sabar. Tapi ada sesuatu di bawahnya. Sesuatu yang keras, seperti batu di dasar sungai yang tenang. “Ada hal-hal di keluarga ini yang lebih tua dari kamu. Hal-hal yang Papa kamu sendiri pilih untuk nggak sentuh. Kamu nggak perlu tahu semuanya. Kamu cuma perlu tahu bahwa semua yang Mama lakukan, semua, Bianca, Mama lakukan buat kamu.”

“Semua yang Mama lakukan,” ulangku pelan.

“Semuanya.”

“Termasuk apa, Ma?”

Mama menatapku. Dan untuk satu detik, sangat singkat, aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang sama yang kulihat di ruang kerja Papa minggu lalu, waktu dia melihat album tahun 2001 di pangkuanku.

Takut.

Lalu hilang.

“Makan, Sayang,” kata Mama. “Hidangan pembukanya keburu dingin.”


Aku nggak makan.

Aku duduk di sana sampai hidangan penutup, mendengarkan Mama bicara tentang pesta pertunangan yang Oma rencanakan untuk bulan depan, tentang gaun yang sudah Mama pesan dari desainer di Paris, tentang daftar tamu yang sudah mencapai lima ratus orang. Aku mengangguk di tempat yang tepat. Aku tersenyum di tempat yang tepat.

Dan aku nggak mendengar satu kata pun.

Karena di kepalaku, cuma ada satu kalimat.

Hal-hal yang Papa kamu sendiri pilih untuk nggak sentuh.

Papa. Papa yang menghabiskan satu sore penuh di ruang kerjanya dengan seorang staf teknik yatim piatu, menjelaskan sudut eskalator. Papa yang bilang kamu ngerti gedung, Adrian, kebanyakan orang cuma ngerti uang.

Papa yang meninggal dua tahun sebelum Adrian melaporkan anomali PT Sentra.

Apa yang Papa tahu?


Hari Minggu pertama setiap bulan, keluarga Rexton makan malam bersama di rumah Menteng.

Tradisi sejak Kakek masih hidup. Meja makan panjang dari kayu jati untuk dua puluh orang, meskipun yang datang biasanya cuma delapan. Taplak renda putih. Lilin di tempat lilin perak. Hidangan yang disiapkan sejak pagi oleh tiga juru masak. Oma di ujung meja. Om Hendra di kanannya. Mama di kirinya.

Aku di tempatku yang biasa. Di samping Mama. Di seberang Marcel.

Malam itu, Marcel tersenyum padaku sepanjang makan malam.

Bukan senyum yang biasa. Bukan senyum mengejek yang dia berikan di ujung meja rapat. Senyum yang lain. Senyum yang terlalu lebar. Senyum orang yang tahu sesuatu yang kamu nggak tahu, dan menikmatinya.

“Bi,” katanya di tengah hidangan utama, dengan nada santai. “Video kamu viral, ya. Selamat.”

“Itu bukan video aku.”

“Iya, iya. Video kalian.” Marcel memotong steaknya dengan sangat teliti. “Romantis banget. Mantan suami istri. Dia nyelamatin kamu. Kamu meluk dia. Netizen sampai bikin fan account. Aku follow, lho. Namanya @AdrianBiancaForever.”

Om Hendra berdeham. “Marcel.”

“Apa, Pa? Aku cuma kasih selamat.”

“Cukup.”

Marcel mengangkat tangan, pura-pura menyerah. Lalu dia menatapku lagi, dengan senyum yang sama.

“Aku cuma heran aja,” katanya pelan, lebih pelan, hanya untukku. “Lima tahun lalu kamu nggak mau lihat dia. Sekarang kamu peluk dia di depan tiga ribu orang. Orang bisa berubah, ya?”

Aku meletakkan garpu.

“Kamu yang ambil kardus arsip Building Systems dari gudang B5,” kataku. Pelan. Tenang. Hanya untuknya. “Lima tahun lalu. Dua minggu setelah dia keluar. Kamu suruh staf kamu ke sana malam-malam, pakai kartu akses direksi.”

Senyum Marcel membeku.

Hanya sedetik. Lalu kembali. Tapi lebih tipis.

“Siapa yang bilang?”

“Orang bisa berubah, Marcel.” Aku mengambil garpuku lagi. “Termasuk orang yang dulu diam.”

Di ujung meja, Oma meletakkan pisau dan garpunya. Bunyi perak di atas porselen terdengar keras di ruang makan yang tiba-tiba hening.

Oma nggak menatap Marcel. Oma nggak menatapku.

Oma menatap Om Hendra.

Tatapan yang sama dengan tatapan di gala. Singkat. Tajam. Dingin.

Dan Om Hendra, sekali lagi, membuang muka.


Setelah makan malam, aku pergi ke toilet di lantai dua. Bukan karena perlu. Karena aku butuh lima menit sendirian, jauh dari meja makan, jauh dari senyum Marcel dan tatapan Oma dan tangan Mama yang terus-menerus mengusap punggungku.

Waktu aku keluar dari toilet, aku mendengar suara dari ujung lorong.

Ruang kerja Om Hendra. Ruangan yang dulu ruang tamu kecil, yang diubah Om Hendra jadi kantor pribadinya waktu dia pindah ke rumah ini setelah Papa meninggal. Pintunya tertutup, tapi nggak rapat.

Suara Marcel. Rendah. Cepat. Marah.

“…dia tahu soal kardusnya, Pa. Dia tahu. Pak Joko pasti ngomong.”

Suara Om Hendra. Lebih tenang. “Pak Joko udah diurus.”

“Diurus gimana?”

“Dipindahkan. Ke kantor cabang Medan. Mulai minggu depan.”

Aku berhenti bernapas.

“Itu nggak cukup, Pa. Bianca nggak bodoh. Kalau dia udah sampai ke kardus, dia bakal sampai ke faktur. Kalau dia sampai ke faktur…”

“Dia nggak akan sampai ke faktur.”

“Pa, dia CEO Rexton Malls! Dia punya akses ke semua catatan pembayaran!”

Hening. Lalu suara Om Hendra, sangat pelan, sangat dingin. Suara yang belum pernah kudengar darinya.

“Kalau dia sampai ke faktur, kita bicara sama mamanya. Veronica tahu cara menenangkan Bianca. Dia sudah melakukannya sekali.”

Aku menempelkan punggungku ke dinding lorong. Tanganku menutup mulutku.

Dia sudah melakukannya sekali.

“Dan yang di Bekasi?” tanya Marcel. “Perempuan itu. Orang Hallworth udah ke sana, Pa. Aku dapat kabar dari orang kita di gang itu. Dua laki-laki, satu pakai rompi kurir. Mereka ketuk pintunya.”

“Dia bicara?”

“Nggak tahu. Pintunya nggak dibuka. Tapi mereka di sana lima belas menit.”

Hening lagi. Lebih panjang.

“Pastikan perempuan Bekasi itu tetap diam,” kata Om Hendra. “Dengan cara yang sama seperti dulu. Adiknya di Cirebon masih punya dua anak, kan?”

“Masih, Pa.”

“Bagus.”

Aku nggak ingat bagaimana aku sampai di tangga. Aku nggak ingat menuruninya. Aku nggak ingat melewati ruang tengah, melewati karpet Persia dengan bagian yang sedikit lebih pudar di depan sofa krem, melewati Duchess Kedua yang tidur di anak tangga ketiga.

Aku ingat pintu depan. Pintu kayu jati setinggi tiga meter. Aku ingat membukanya dan melangkah keluar.

Dan aku ingat Mama, berdiri di ujung ruang tengah, di samping kursi beludru hijau Oma, menatapku dengan senyum lembut yang sempurna.

“Sayang? Kamu mau ke mana? Hidangan penutupnya belum keluar.”

Aku menatapnya.

Mama. Perempuan yang membuatkan teh chamomile. Perempuan yang mengusap punggungku di sofa krem. Perempuan yang bilang semua yang Mama lakukan, Mama lakukan buat kamu.

Veronica tahu cara menenangkan Bianca. Dia sudah melakukannya sekali.

“Aku lupa sesuatu di kantor, Ma,” kataku.

“Malam-malam begini?”

“Penting.”

Mama menatapku lama. Lalu senyumnya melembut lagi, lebih lembut, sangat lembut.

“Hati-hati di jalan, Sayang.”

Hati-hati di jalan, Nak.

Kalimat yang sama. Dari dua perempuan yang berbeda.

Yang satu menulisnya di kertas buku tulis bergaris, dengan tulisan tangan yang besar dan miring, di samping toples kerupuk udang.

Yang satu mengucapkannya dengan senyum sempurna di bawah lampu kristal, di samping kursi tempat Oma duduk lima tahun lalu dan menatap seorang laki-laki berlutut seperti menatap noda di taplak meja.

Aku menutup pintu kayu jati itu di belakangku.


Di mobil, di depan gerbang rumah Menteng, aku nggak langsung menyalakan mesin.

Aku duduk di kursi pengemudi dan menatap rumah itu. Jendela-jendela yang menyala kuning. Atap genteng yang tinggi. Pohon kamboja di taman depan, tempat seorang anak perempuan lima tahun dengan gaun kuning pernah berdiri dan mengangkat kupu-kupu kertas ke arah kamera.

Lalu aku mengambil ponselku. Aku menyalakannya.

Video itu langsung muncul di layar. Dua detik. Tangan di belakang kepala. Jemari yang menyisir rambut ke bawah, sekali.

Aku menutupnya.

Aku membuka daftar kontak. Aku menggulir ke bawah. Ke huruf A.

Nggak ada. Aku nggak pernah menyimpan nomornya. Nomornya cuma ada di riwayat panggilan. Panggilan masuk, jam satu empat puluh tiga pagi. Dua puluh tiga panggilan keluar setelahnya, yang nggak dijawab.

Aku menatap nomor itu.

Lalu aku menulis pesan.

Pak Joko dari arsip dipindahkan ke Medan minggu depan. Sinta di Bekasi dalam bahaya. Adiknya di Cirebon punya dua anak. Om Hendra baru saja bilang “pastikan dia tetap diam, dengan cara yang sama seperti dulu.”

Aku membacanya. Tanganku gemetar.

Ini pengkhianatan. Aku tahu. Ini aku, Bianca Rexton, pewaris keluarga Rexton, mengirim informasi tentang omku sendiri, tentang keluargaku sendiri, ke laki-laki yang keluargaku usir lima tahun lalu.

Rexton nggak mengkhianati Rexton.

Itu yang Oma ajarkan. Itu yang Papa ajarkan, dulu, sebelum dia meninggal.

Tapi Papa juga yang menulis di bawah foto anak perempuan bergaun kuning: Katanya mau jadi kupu-kupu kalau besar. Papa bilang dia udah jadi kupu-kupu.

Kupu-kupu awalnya ulat. Semua orang bisa berubah.

Aku menambahkan satu kalimat di bawah pesan itu.

Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu. Tapi aku mulai berpikir aku salah.

Jariku melayang di atas tombol kirim.

Lalu aku menghapus kalimat terakhir itu. Huruf demi huruf.

Belum. Aku belum bisa bilang itu. Belum ke dia.

Aku mengirim pesan yang pertama saja.

Terkirim.

Lalu aku menyalakan mesin, dan menyetir menjauh dari rumah Menteng, dari jendela-jendela yang menyala kuning, dari pohon kamboja, dari perempuan dengan senyum sempurna yang berdiri di samping kursi beludru hijau.

Di lampu merah pertama, ponselku bergetar.

Satu pesan.

Dari nomor yang sama.

Terima kasih.

Dua kata.

Lalu, lima detik kemudian, satu pesan lagi:

Hati-hati di jalan, Bi.