Chapter Eighteen

Papa Jahat

POV: Adrian


Bi Imah menelepon jam sebelas lewat dua puluh.

“Adrian. Elea hilang.”

Tiga kata. Dan seluruh dunia menyempit jadi satu titik.

Aku nggak ingat menutup laptop. Aku nggak ingat berdiri. Aku nggak ingat Bayu yang berteriak Mas, ada apa? di belakangku. Aku cuma ingat lift yang terlalu lambat, tangga darurat yang kuturuni dua anak tangga sekaligus, dan suara Bi Imah di telepon yang gemetar dan pecah dan nggak jelas.

“…Bibi kira kamu kerja di gedung Rexton… Bibi bawa rantang… Mbak resepsionis bilang kamu nggak kerja di situ… Bibi ribut sebentar… cuma sebentar, Adrian… waktu Bibi noleh, Elea udah nggak ada…”

“Bi, di mana sekarang?”

“Lobi Rexton… Bibi udah cari di toilet, di kafe, di mana-mana… satpam lagi cari…”

“Aku ke sana. Lima menit.”

Gedung Hallworth di Sudirman cuma berjarak delapan ratus meter dari Rexton Tower. Delapan ratus meter. Aku lari. Di trotoar Sudirman jam sebelas siang, dengan kemeja kerja dan sepatu kulit, di bawah matahari yang membakar, di antara pejalan kaki yang menatapku dengan heran, aku lari.

Lima tahun aku nggak pernah kehilangan Elea. Lima tahun, nggak sekali pun. Di Oxford, di kereta, di bandara Heathrow, di taman-taman yang penuh orang, aku selalu memegang tangannya. Aku selalu tahu di mana dia. Aku selalu bisa melihatnya.

Delapan ratus meter, dan aku nggak bisa melihatnya.

Ponselku berdering lagi waktu aku sudah di depan pintu putar Rexton Tower.

Bi Imah. Suaranya berbeda sekarang. Lebih pelan.

“Adrian. Udah ketemu.”

Aku berhenti. Napasku memburu. Keringat mengalir di punggungku.

“Di mana?”

Diam sebentar.

“Lantai empat puluh,” kata Bi Imah. “Di ruangan Bianca.”


Lift direksi masih bisa diakses tanpa kartu. Kuncinya rusak. Aku melihat kertas kecil bertuliskan Dalam perbaikan yang ditempel miring di panel tombol, dan aku ingin meninju kertas itu.

Lantai empat puluh. Pintu lift terbuka.

Bi Imah berdiri di lorong dengan Elea di gendongannya. Elea yang tersenyum. Elea yang nggak terluka. Elea yang memegang sesuatu di tangannya dan melambai ke arahku dengan riang.

“PAPA! Papa, Elea ketemu Tante cantik! Elea naik lift emas sendiri! Elea gambar Tante! Terus—“

Aku mengambilnya dari gendongan Bi Imah. Aku memeriksanya. Wajah. Tangan. Kaki. Lutut. Aku menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Normal. Nggak panas. Nggak ada luka.

Lalu aku memeluknya. Terlalu erat.

“Papa… Papa, Elea nggak bisa napas…”

Aku melonggarkan pelukanku sedikit. Tapi nggak melepasnya.

Lalu aku mengangkat kepala, dan menatap ujung lorong.

Pintu kayu dengan papan nama kuningan. Bianca Rexton. Chief Executive Officer. Di depannya, berdiri perempuan muda berambut sebahu dengan kemeja merah muda. Tasya. Dengan mata merah dan tangan yang meremas-remas ujung kemejanya.

“Pak,” katanya cepat. “Pak, Bu Bianca nggak tahu. Anaknya naik sendiri. Liftnya rusak. Saya lagi telepon, saya nggak lihat—“

Aku berjalan melewatinya. Dengan Elea di gendonganku.

Aku membuka pintu itu.


Ruangannya besar. Kaca dari lantai sampai langit-langit. Jakarta di bawah sana. Rak buku. Sofa abu-abu. Meja kerja yang besar.

Di atas meja kerja itu, ada rantang empat susun yang dibungkus serbet kotak-kotak. Rantang Bi Imah.

Dan di balik meja kerja itu, di lantai, duduk bersandar ke laci, ada Bianca.

Dia mendongak waktu aku masuk.

Aku belum pernah melihatnya seperti itu. Nggak di lobi hotel. Nggak di ruang rapat. Nggak di atrium Kemayoran dengan debu di wajahnya. Nggak di basement dengan kaki telanjang dan stoking berdarah.

Wajahnya basah. Seluruhnya. Lipstik merahnya luntur, tergores ke sudut pipi seperti luka. Riasan matanya mengalir hitam ke bawah. Rambutnya setengah lepas dari cepol. Dan di dadanya, didekap dengan dua tangan seperti orang mendekap sesuatu yang paling berharga di dunia, ada selembar kertas HVS dengan gambar krayon.

Dia nggak berdiri. Dia nggak membersihkan wajahnya. Dia nggak memasang baju zirahnya.

Dia cuma menatapku dari lantai, dengan mata yang hancur.

Dan untuk satu detik yang sangat panjang, aku lupa kenapa aku marah.

Lalu aku ingat.

“Kamu sentuh dia?”

Suaraku keluar rendah. Sangat rendah. Elea di gendonganku berhenti bicara.

Bianca menatapku. Bibirnya bergetar.

“Iya,” bisiknya.

Satu kata. Tanpa alasan. Tanpa pembelaan. Tanpa dia yang naik ke pangkuanku. Tanpa aku nggak sengaja.

Iya.

Aku menatapnya. Dia menatapku balik. Dan aku melihat sesuatu di matanya yang membuatku ingin menghancurkan sesuatu. Bukan dia. Sesuatu. Apa saja. Kaca jendela itu. Meja kerja itu. Dunia ini.

Karena yang kulihat di matanya bukan rasa bersalah karena melanggar kontrak.

Yang kulihat adalah seorang ibu yang baru saja memeluk anaknya untuk pertama kalinya dalam lima tahun.

Dan aku nggak tahu harus melakukan apa dengan itu.

“Syarat nomor tujuh,” kataku, karena hanya itu yang bisa kukatakan. Karena aturan adalah satu-satunya hal yang masih bisa kupegang. “Ini akan dilaporkan.”

“Laporkan,” kata Bianca.

Aku berbalik. Aku keluar dari ruangan itu dengan Elea di gendonganku.

Di belakangku, aku nggak mendengar apa-apa. Nggak ada tangisan. Nggak ada permohonan.

Cuma hening.


Di mobil, Elea duduk di kursi belakang dengan sabuk pengaman, memegang kertas yang ternyata adalah gambar kedua, gambar yang dia buat untuk dirinya sendiri, gambar Tante cantik yang sama dengan yang dia tinggalkan di meja Bianca.

Bi Imah duduk di sampingnya. Diam. Sejak lift, dia belum bicara sepatah kata pun padaku.

Aku menyetir. Tanganku mencengkeram setir.

“Papa,” kata Elea dari belakang. “Papa marah?”

Aku nggak menjawab.

“Papa marah sama Elea?”

“Papa nggak marah.”

“Papa mukanya kayak marah.”

Lampu merah. Aku berhenti. Aku menatap Elea dari kaca spion. Wajah kecil yang menatapku balik dengan mata almond yang bulat dan khawatir.

“Elea,” kataku. Suaraku keluar terlalu keras. Terlalu tajam. “Papa udah bilang. Papa udah bilang berapa kali? Kamu nggak boleh dekat-dekat tante itu. Kamu janji sama Papa. Di lift hotel. Kamu janji.”

Elea membeku.

“Terus kamu naik lift sendiri. Ke lantai empat puluh. Di gedung yang kamu nggak kenal. Kamu tahu apa yang bisa terjadi? Kamu tahu Papa lari dari kantor Papa, delapan ratus meter, karena Papa kira kamu hilang? Kamu tahu Nenek Imah hampir pingsan?”

“Elea cuma—“

“Kamu bisa diculik! Kamu bisa jatuh! Kamu bisa—“ Suaraku naik. Lebih tinggi. Lebih keras. Lebih tajam daripada yang pernah kudengar dari mulutku sendiri. “Kenapa kamu nggak pernah dengar kata Papa?!”

Mobil itu hening.

Lalu Elea mulai menangis.

Bukan tangisan demam. Bukan tangisan mimpi buruk. Bukan tangisan kehilangan Mr. Snuggles. Tangisan yang lain. Tangisan yang kaget dan sakit dan bingung. Tangisan anak kecil yang baru saja dibentak oleh orang yang nggak pernah membentaknya.

Lima tahun. Lima tahun aku nggak pernah membentaknya. Nggak waktu dia menumpahkan susu di laptopku malam sebelum deadline. Nggak waktu dia menggambar di dinding flat Cowley dengan lipstik yang dia temukan entah di mana. Nggak waktu dia menggigit Bayu karena kalah main kartu.

Lima tahun. Dan aku membentaknya di lampu merah Sudirman, karena dia memeluk ibunya.

“Papa jahat!”

Elea melempar gambarnya. Kertas itu menghantam sandaran kursiku dan jatuh ke lantai mobil.

“Papa jahat! Papa jahat! Elea benci Papa! Tante cantik baik! Tante nggak marah sama Elea! Tante kasih Elea pensil warna! Tante dengerin cerita Elea! Tante nangis waktu Elea peluk! Papa jahat! Papa nggak pernah biarin Elea punya teman!”

Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson.

Aku nggak bisa bergerak.

Bi Imah, di samping Elea, menarik anak kecil itu ke pelukannya. Elea membenamkan wajahnya di dada Bi Imah dan menangis dengan seluruh tubuhnya.

Bi Imah menatapku dari kaca spion.

“Jalan, Adrian,” katanya pelan. “Lampunya udah hijau.”

Aku menginjak gas.


Di rumah, Elea langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintu.

“Selamat datang di rumah,” kata pintu depan.

Nggak ada yang menjawab.

Aku berdiri di ruang tengah. Bi Imah meletakkan tas jinjingnya di sofa. Pelan. Lalu dia berbalik, dan menatapku.

“Duduk,” katanya.

“Bi—“

“Duduk, Adrian.”

Aku duduk.

Bi Imah berdiri di depanku. Perempuan tua berumur lima puluh delapan tahun dengan daster batik dan kerudung cokelat dan sandal jepit katak. Tingginya cuma sampai bahuku kalau aku berdiri. Tapi waktu dia berdiri di depanku yang duduk, dia terlihat seperti gunung.

“Kamu marah sama siapa?” tanyanya.

Aku nggak menjawab.

“Kamu marah sama Bianca. Iya?”

“Bi, dia melanggar—“

“Bibi nggak tanya kontrak. Bibi tanya kamu marah sama siapa.” Suaranya nggak naik. Tapi setiap katanya jatuh seperti batu. “Kamu marah sama Bianca. Kamu marah sama keluarganya. Kamu marah sama lima tahun. Kamu marah sama dunia. Bibi ngerti. Bibi nggak pernah bilang kamu nggak boleh marah.”

Dia menunjuk ke arah lorong. Ke pintu kamar Elea yang tertutup.

“Terus kenapa yang kena dia?”

Aku menatap lantai.

“Anak itu nggak salah apa-apa, Adrian. Dia cuma ketemu perempuan yang baik sama dia. Perempuan yang kasih dia pensil warna, yang dengerin dia ngomong, yang nangis waktu dipeluk.” Bi Imah menarik napas. “Dia nggak tahu perempuan itu siapa. Kamu yang nggak kasih tahu dia. Kamu yang bilang ibunya di bintang.”

“Bi…”

“Kamu yang bohong sama dia. Lima tahun.” Suara Bi Imah akhirnya bergetar. “Dan hari ini dia ketemu ibunya, dan dia nggak tahu itu ibunya, dan dia senang, dan kamu bentak dia di mobil.”

Aku menutup wajahku dengan dua tangan.

Bi Imah diam lama. Lalu aku merasakan tangannya di kepalaku. Mengusap rambutku. Pelan. Seperti dulu, waktu aku umur sembilan tahun dan menangis di kamar sempit di Bandung karena teman-teman sekolah bilang aku anak buangan.

“Kamu laki-laki baik, Adrian,” bisiknya. “Bibi tahu. Bibi yang besarin kamu. Tapi dendam itu kayak api. Kamu pegang terlalu lama, yang kebakar duluan tangan kamu sendiri. Terus yang kamu sayang ikut kebakar.”

Dia mengusap rambutku sekali lagi. Lalu dia berjalan ke dapur.

“Selamat datang di dapur,” kata speaker di dinding.

Bi Imah nggak menjawab. Untuk pertama kalinya sejak dia tinggal di rumah ini, dia nggak menjawab speaker itu.


Elea nggak keluar kamar sampai malam.

Dia nggak mau makan siang. Dia nggak mau makan malam. Waktu Bi Imah mengetuk pintunya membawa nasi dan sop buntut, dia bilang dari balik pintu, dengan suara yang serak karena menangis, “Elea nggak lapar.” Waktu aku mengetuk, dia nggak menjawab sama sekali.

Jam delapan malam, aku duduk di lantai lorong, bersandar ke dinding di samping pintu kamarnya.

Aku memungut gambar yang Elea lempar di mobil. Aku membawanya masuk dan meluruskannya. Gambar perempuan berambut panjang, bergaun putih, dengan bibir merah yang tersenyum dan tahi lalat di bawah mata kiri.

Di bawahnya, dengan huruf-huruf besar yang miring:

TANTE CANTIK.

Dan di sebelahnya, lebih kecil, lebih ragu, seperti ditulis belakangan:

MIRIP MAMA?

Dengan tanda tanya.

Aku menatap tanda tanya itu sampai lampu lorong meredup otomatis karena nggak ada gerakan.


Jam sembilan, pintu kamar Elea terbuka. Sedikit. Celah selebar telapak tangan.

Aku mendongak.

Elea mengintip dari celah itu. Piyama kelinci. Mata bengkak. Rambut kusut. Mr. Snuggles di pelukan. Jepit kupu-kupu perak masih terselip miring di rambutnya.

Dia menatapku yang duduk di lantai. Lama.

“Papa ngapain di situ?”

“Nunggu kamu.”

“Dari kapan?”

“Dari tadi.”

Elea diam. Lalu dia membuka pintunya lebih lebar. Dan duduk di lantai juga, di ambang pintu, satu meter dariku. Nggak dekat. Nggak jauh.

Kami duduk seperti itu. Di lantai lorong yang gelap. Lampu tidur berbentuk bulan dari kamarnya memancarkan cahaya kuning pucat ke lantai di antara kami.

“Elea,” kataku akhirnya. “Papa minta maaf.”

Elea menatap Mr. Snuggles di pelukannya.

“Papa salah. Papa nggak seharusnya bentak kamu. Papa takut. Papa kira kamu hilang. Dan waktu Papa takut, Papa jadi marah. Dan waktu Papa marah, Papa jadi jahat.” Aku menelan sesuatu yang tajam. “Itu bukan salah kamu. Itu salah Papa.”

Elea masih menatap Mr. Snuggles.

“Papa nggak pernah bentak Elea,” bisiknya.

“Iya. Papa tahu.”

“Lima tahun nggak pernah.”

“Iya.”

“Terus kenapa sekarang?”

Aku nggak bisa menjawab. Nggak dengan jawaban yang sebenarnya. Karena jawaban yang sebenarnya adalah: karena perempuan yang kamu peluk tadi adalah ibumu, dan Papa nggak tahu harus melakukan apa dengan itu.

“Karena Papa capek, Sayang,” kataku. “Dan Papa lagi banyak pikiran. Dan Papa lupa bahwa kamu bukan bagian dari pikiran yang bikin Papa capek. Kamu bagian yang bikin Papa kuat.”

Elea mengangkat kepala. Menatapku.

“Papa capek?”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Papa nggak mau kamu khawatir.”

Elea berpikir. Lama. Dengan dahi berkerut. Lalu dia bergeser, pelan, sejengkal lebih dekat. Lalu sejengkal lagi. Lalu dia memanjat ke pangkuanku, seperti tadi siang dia memanjat ke pangkuan perempuan lain di lantai empat puluh, dan menyandarkan kepalanya di dadaku.

“Papa,” bisiknya. “Kalau Papa capek, bilang ke Elea. Nanti Elea pijitin.”

Aku tertawa. Atau menangis. Aku nggak tahu yang mana. Aku memeluknya. Kepalanya yang kecil. Rambutnya yang kusut. Jepit kupu-kupu yang dingin menekan daguku.

“Papa sayang Elea,” kataku.

“Elea tahu.”

Kami diam lama. Lampu tidur berbentuk bulan berpendar di lantai.

Lalu Elea menarik ujung lengan bajuku, seperti setiap malam.

“Papa percaya Elea?”

Ritual kami. Lima tahun. Setiap malam tanpa kecuali.

“Selalu.”

Elea diam. Dia nggak tersenyum dengan mata terpejam seperti biasanya. Dia menatapku, dengan mata almond yang bengkak dan serius.

“Kalau gitu Papa harus percaya ini,” katanya pelan. “Tante cantik itu baik, Pa. Elea tahu. Elea bisa lihat di matanya. Dia baik.”

Aku menatap anakku.

“Kenapa Papa nggak suka Tante?”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Papa juga nggak tahu, Sayang,” kataku akhirnya. Dan itu, untuk pertama kalinya hari itu, bukan bohong.

Elea menatapku lama. Lalu dia menguap, lebar sekali, dan menyandarkan kepalanya lagi di dadaku.

“Ya udah,” gumamnya. “Nanti kalau Papa udah tahu, bilang ke Elea, ya.”

Dia tertidur di pangkuanku. Di lantai lorong. Dengan Mr. Snuggles di satu tangan dan ujung lengan bajuku di tangan lain.

Aku nggak memindahkannya ke kasur.

Aku duduk di sana sampai lewat tengah malam, di lantai lorong yang dingin, memeluk anakku, dan menatap gambar perempuan bergaun putih dengan tanda tanya di sampingnya.

MIRIP MAMA?

Di ujung lorong, pintu kamar Bi Imah terbuka sedikit. Bi Imah mengintip, menatap kami berdua, lalu menutupnya lagi tanpa suara.

Aku mendengarnya bicara pelan dari balik pintu. Ke speaker di dinding kamarnya.

“Matiin lampu lorong, ya. Biar mereka tidur.”

Lampu lorong mati.

Dan untuk pertama kalinya sejak rumah itu disewa, sistem pintar itu menuruti perintah Bi Imah tanpa membantah.