Chapter Eleven

Tiga Puluh Sembilan Derajat

POV: Adrian


Bi Imah pulang ke Bandung hari Kamis, untuk pernikahan anak tetangganya.

“Cuma tiga hari,” katanya di depan pintu, dengan tas jinjing di satu tangan dan rantang kosong di tangan lain. “Kulkas udah Bibi isi. Ada rendang, ada sayur asem, ada sambal. Nasinya tinggal dimasak. Jangan beli makanan di luar terus, nggak sehat.”

“Iya, Bi.”

“Elea jangan dikasih es krim tiap hari.”

“Iya, Bi.”

“Kamu juga jangan begadang. Mata kamu udah kayak mata panda.”

“Iya, Bi.”

Bi Imah menatapku dengan curiga. “Kamu iya-iya terus. Kamu dengerin Bibi nggak?”

“Dengerin, Bi.”

“Bibi bilang apa barusan?”

“Mata panda.”

Bi Imah memukul lenganku pelan, lengan yang nggak terluka, dan memelukku sebentar. “Jaga Elea, ya.”

“Selalu, Bi.”

“Sampai jumpa,” kata pintu depan.

“Iya, kamu juga jaga rumah,” jawab Bi Imah. Lalu dia berhenti, menatap pintu itu, dan menambahkan dengan nada yang sangat serius: “Jangan biarin orang aneh masuk.”


Hari Jumat malam, jam sebelas lewat sepuluh, Elea mulai demam.

Aku tahu sebelum termometernya bunyi. Aku tahu dari cara dia menangis di kamarnya, tangisan yang berbeda dari tangisan mimpi buruk atau tangisan kehilangan Mr. Snuggles. Tangisan yang lemah dan panjang dan bergetar, yang datang dari tempat yang lebih dalam di tubuh kecilnya.

Aku sudah di kamarnya sebelum tangisan itu selesai.

Elea meringkuk di kasurnya, wajahnya merah, rambutnya basah oleh keringat. Waktu aku menyentuh dahinya dengan punggung tangan, kulitnya terasa seperti panci yang baru diangkat dari kompor.

“Papa…”

“Papa di sini, Sayang.”

“Elea panas… Elea pusing…”

Termometer digital berbunyi. Aku menatap angkanya.

Tiga puluh sembilan koma dua.

Aku sudah melewati ini sebelumnya. Lima tahun, dan aku sudah melewati demam Elea mungkin dua puluh kali. Flu musim dingin di Oxford. Cacar air di umur tiga tahun. Infeksi telinga yang membuatnya menangis tiga malam berturut-turut. Aku tahu urutannya. Aku tahu harus melakukan apa.

Tapi setiap kali, tanganku tetap dingin.

Aku memberinya parasetamol sirup dengan dosis yang sudah kuhafal di luar kepala. Aku membuka bajunya dan menggantinya dengan kaus tipis. Aku mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil, dan mulai mengompres dahinya, ketiaknya, lipatan lehernya.

“Papa… dingin…”

“Sebentar, Sayang. Biar panasnya turun.”

“Elea mau Nenek Imah…”

“Nenek lagi di Bandung, Sayang. Senin pulang.”

Bibir bawahnya bergetar. “Elea mau Nenek sekarang…”

“Papa di sini. Papa nggak ke mana-mana.”

Elea menangis lebih keras, tangisan lemah yang membuat dadaku sesak. Aku mengangkatnya dari kasur, menggendongnya, dan mulai berjalan. Ke jendela. Ke pintu. Ke jendela. Ke pintu. Seperti lima tahun lalu, di flat Cowley, tiga langkah ke jendela, tiga langkah ke pintu.

Aku memutar Kau Tega Nian dari ponselku dengan volume pelan.

Elea berhenti menangis. Pelan-pelan. Kepalanya yang panas terkulai di bahuku. Napasnya berat dan pendek di leherku.


Jam satu pagi, panasnya belum turun.

Tiga puluh sembilan koma empat.

Aku menelepon dokter anak di rumah sakit yang direkomendasikan sekolah. Perawat jaga bilang, kalau dalam empat jam setelah parasetamol panasnya nggak turun atau naik di atas empat puluh, bawa ke IGD. Kalau ada kejang, langsung bawa. Kalau anaknya masih mau minum dan masih sadar, kompres terus dan pantau.

Elea masih mau minum. Sedikit-sedikit. Dari gelas plastik bergambar kelinci, dengan sedotan.

Aku mengompres terus.

Jam satu tiga puluh, Elea mengigau.

“Papa…”

“Iya, Sayang.”

“Bintangnya banyak…”

Aku menatapnya. Matanya setengah terbuka, menatap langit-langit kamar yang ditempeli bintang-bintang kecil yang menyala dalam gelap. Bintang-bintang plastik yang kami tempel berdua di minggu pertama di rumah ini, dengan Elea duduk di bahuku dan menunjuk-nunjuk tempat yang dia mau.

“Iya, bintangnya banyak.”

“Papa…” Suaranya makin pelan, makin jauh. “Mama di bintang yang mana?”

Tanganku yang memegang handuk berhenti.

“Elea mau lihat Mama…” Matanya menutup, lalu terbuka lagi, nggak fokus. “Kalau Elea sakit… Mama bisa turun nggak dari bintang? Sebentar aja… Elea mau dipeluk Mama…”

Aku nggak bisa bernapas.

Bukan karena demamnya. Aku sudah biasa dengan demamnya. Aku bisa menangani tiga puluh sembilan koma empat. Aku bisa menangani empat puluh kalau perlu.

Tapi aku nggak bisa menangani ini.

Mama di bintang yang mana?

Dan aku nggak bisa menjawab. Karena jawaban yang sebenarnya adalah: Mama nggak di bintang, Sayang. Mama di apartemen lantai tiga puluh dua di Sudirman, dua belas kilometer dari sini. Mama sehat. Mama cantik. Mama minggu lalu pakai gaun merah anggur dan mengulurkan tangannya ke Papa di depan empat ratus orang. Dan Papa menolaknya.

Dan Papa yang bilang ke kamu bahwa Mama di bintang. Papa yang bohong.

Elea memejamkan mata lagi. Napasnya jadi lebih teratur. Tertidur, atau setengah tertidur, dengan tubuh yang masih panas seperti bara.

Aku duduk di lantai, bersandar di tepi kasurnya, dan menatap bintang-bintang plastik di langit-langit.

Ponselku menyala di sampingku. Aku mengambilnya untuk mengecek waktu. Satu lewat empat puluh tiga.

Dan entah bagaimana, entah karena lelah, entah karena tanganku gemetar, entah karena aku memang nggak berpikir jernih jam satu empat puluh tiga pagi dengan anak demam tiga puluh sembilan derajat di sampingku, jempolku menekan sesuatu di layar.

Panggilan cepat nomor satu.

Nomor yang dimasukkan Catherine Hall ke ponselku di hari pertama kontrak, dengan label Liaison — B. Rexton, sebagai kontak darurat untuk urusan proyek. Syarat nomor enam. Dua puluh empat jam. Tiga dering.

Aku nggak sengaja. Aku bersumpah aku nggak sengaja.

Tapi waktu aku menyadarinya, nada panggil sudah berbunyi.

Satu dering.

Dan diangkat.


“Halo?”

Suaranya. Serak karena tidur. Tapi waspada, langsung waspada, seperti orang yang tidur dengan ponsel di bawah bantal karena takut melewatkan sesuatu.

“Dr. Renaldi? Ada apa? Ada masalah di proyek?”

Aku nggak bisa bicara.

“Halo? Adrian?”

Adrian. Bukan Dr. Renaldi. Satu kali. Keluar begitu saja dari mulutnya, jam satu empat puluh tiga pagi, dengan suara yang masih setengah tidur.

Dan di tempat tidur di belakangku, Elea terbangun dan mulai menangis lagi. Tangisan lemah, panjang, bergetar.

“Papa… panas… Papa…”

Di ujung telepon, hening.

Hening yang sangat panjang. Aku bisa mendengar napasnya. Pendek. Tercekat. Seperti napas orang yang baru saja mendengar sesuatu yang menghantam dadanya.

“Itu…” Suaranya pecah. “Itu Elea?”

Itu pertama kalinya aku mendengar dia menyebut nama anaknya. Lima tahun. Mungkin lebih lama.

“Dia kenapa?” Suaranya naik, cepat, panik. “Adrian, dia kenapa? Dia sakit? Dia demam? Berapa panasnya? Kamu udah ke dokter? Kamu udah—“

Aku menutup telepon.

Aku menatap layar ponsel yang kembali gelap. Tanganku gemetar. Aku meletakkan ponsel itu menelungkup di lantai, jauh dariku, seperti meletakkan sesuatu yang berbahaya.

Elea masih menangis.

Aku naik ke kasurnya, berbaring di sampingnya, dan memeluknya. Tubuh kecil yang panas. Rambut yang basah. Aku mengusap punggungnya pelan, naik-turun, naik-turun, sambil bersenandung Kau Tega Nian dengan suara pintu berderit.

Ponsel di lantai bergetar.

Sekali. Dua kali. Lima kali. Sepuluh kali.

Aku nggak mengangkatnya.

Lalu berhenti. Lalu bergetar lagi. Pesan. Satu. Dua. Lima.

Aku nggak membacanya.

Jam tiga pagi, panas Elea turun ke tiga puluh delapan koma satu. Dia tertidur nyenyak di pelukanku, napasnya teratur, dahinya mulai berkeringat dingin, tanda demamnya mulai pecah.

Jam tiga lewat lima, aku akhirnya mengambil ponselku.

Dua puluh tiga panggilan tak terjawab. Semuanya dari satu nomor.

Sembilan pesan.

Adrian, tolong angkat.

Berapa panasnya?

Kalau di atas 39 dan nggak turun 4 jam setelah obat, bawa ke IGD. Aku baca di internet. Tolong.

RS Pondok Indah buka 24 jam. Dokter anak jaganya dr. Melinda, aku udah telepon, katanya bisa langsung datang.

Aku nggak akan datang. Aku tahu syarat nomor tujuh. Aku nggak akan datang.

Aku cuma mau tahu dia baik-baik aja.

Tolong.

Satu kata aja.

Tolong, Adrian.

Aku menatap pesan-pesan itu sampai layar ponselku meredup dan mati.

Lalu aku menyalakannya lagi. Dan mengetik satu kata.

Turun.

Aku mengirimnya. Lalu mematikan ponsel sepenuhnya, dan memeluk anakku sampai pagi.


Rapat dewan gabungan Rexton dan Hallworth dijadwalkan jam sembilan pagi hari Sabtu. Rapat darurat. Hasil audit awal pengadaan struktur dari firma independen yang kutunjuk akan dipresentasikan. Rapat paling penting sejak aku tanda tangan kontrak.

Jam tujuh pagi, Elea bangun dengan panas tiga puluh tujuh koma delapan, lemas, dan minta bubur.

Aku membuat bubur. Gosong di bagian bawah. Elea makan tiga sendok dan bilang buburnya pahit.

Jam delapan, aku menelepon Bayu.

“Bay, aku nggak bisa datang rapat.”

“Mas. Mas, serius? Ini rapat audit. Hendra Rexton bakal ada di sana. Kalau kamu nggak ada—“

“Elea demam tiga puluh sembilan semalam. Bi Imah di Bandung. Aku nggak bisa ninggalin dia.”

Bayu diam sebentar. Lalu suaranya berubah. “Oke. Oke, Mas. Aku yang presentasi datanya. Tapi Mas, kamu tahu Hendra pasti bakal pakai ketidakhadiran kamu buat—“

“Aku tahu.”

“Kamu nggak bisa titipin Elea ke siapa—“

“Nggak ada siapa-siapa, Bay.”

Bayu diam lagi. Lalu, pelan: “Iya, Mas. Aku tahu. Maaf.”

Aku menghabiskan pagi itu di sofa ruang tengah dengan Elea tidur di pangkuanku, menonton kartun tanpa suara, dan mengecek suhu badannya setiap tiga puluh menit dengan punggung tangan di dahinya.

Jam sebelas, Bayu menelepon lagi.

“Mas. Kamu nggak akan percaya ini.”

“Apa?”

“Rapatnya. Hendra Rexton buka rapat dengan bilang, dan aku kutip, ‘Kita perlu mempertanyakan komitmen konsultan yang bahkan nggak hadir di rapat audit yang dia sendiri minta.’ Terus Marcel ketawa. Terus beberapa direktur Rexton mulai bisik-bisik.”

Aku memejamkan mata. “Udah kuduga.”

“Bukan itu bagian yang nggak akan kamu percaya.” Bayu menarik napas. “Bianca Rexton berdiri. Terus dia bilang, dan aku kutip juga, ‘Dr. Renaldi absen atas izin saya sebagai penghubung, untuk urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Saya yang bertanggung jawab atas ketidakhadirannya.’ Terus dia minta datanya ke aku. Terus dia yang presentasi, Mas. Hasil audit kita. Dia baca datanya, dia jelaskan selisih harga PT Sentra, dia jelaskan soal grade baja, dia jelaskan soal kabel panel di Kemayoran. Di depan Hendra Rexton. Di depan omnya sendiri.”

Aku membuka mata.

“Hendra coba motong dua kali, Mas. Dua kali dia bilang, ‘Bianca, ini bukan wewenang kamu.’ Dan dua kali Bianca bilang, ‘Saya project lead, Om. Ini persis wewenang saya.’ Terus Catherine Hall tepuk tangan. Pelan. Tapi tepuk tangan.”

Aku nggak bilang apa-apa.

“Mas? Kamu masih di situ?”

“Masih.”

“Dia nggak tahu kenapa kamu absen, kan? Aku nggak bilang apa-apa ke dia.”

Aku menatap Elea di pangkuanku. Tidur dengan mulut sedikit terbuka, pipi masih sedikit merah, jepit kupu-kupu perak terselip miring di rambutnya yang kusut.

Itu Elea? Dia kenapa? Berapa panasnya?

“Dia tahu,” kataku.


Siang itu, Bayu mengirim tautan berita tanpa komentar.

Sebuah portal bisnis nasional. Wawancara yang kulakukan seminggu sebelum gala, untuk profil panjang tentang AURA. Wawancara yang kulakukan dengan kepala dingin, dengan kalimat-kalimat yang kupilih dengan hati-hati, dengan satu kalimat yang kusiapkan khusus sebagai pisau.

Judulnya terbit hari ini. Sabtu. Hari yang sama ketika Bianca Rexton berdiri di depan dewan dan membela laki-laki yang membencinya.

Dr. Renaldi: “Rexton Hebat, Kecuali Pemimpinnya”

Di bawah judul itu, foto Bianca. Diambil dari gala. Gaun merah anggur. Bahu terbuka. Wajah yang tenang dan dingin dan cantik.

Dan di paragraf ketiga, kutipan lengkapku:

“Rexton punya aset luar biasa. Gedung-gedung yang bagus, lokasi yang strategis, tenaga kerja yang terampil. Masalahnya cuma satu: kepemimpinan. Orang-orang di puncak Rexton lebih sibuk menjaga nama daripada menjaga gedung.”

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Seminggu lalu, waktu aku mengucapkannya ke wartawan, kalimat itu terasa seperti kemenangan. Terasa tepat. Terasa adil.

Hari ini, dengan Elea tidur di pangkuanku setelah malam tiga puluh sembilan derajat, dengan dua puluh tiga panggilan tak terjawab di ponselku, dengan suara Bayu yang bilang dia yang presentasi, Mas, di depan omnya sendiri, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang lain.

Sesuatu yang nggak bisa kunamai.

Aku menutup tautan itu.


Senin pagi, Bi Imah pulang dengan tas jinjing berisi oleh-oleh dan rantang penuh dodol.

Dia melihat wajahku. Lalu dia melihat Elea, yang sudah sehat dan berlari menyambutnya di pintu dengan teriakan NENEK! Lalu dia melihat wajahku lagi.

“Elea sakit?” tanyanya.

“Demam. Jumat malam. Udah sembuh.”

“Berapa?”

“Tiga puluh sembilan dua.”

Bi Imah menatapku lama. Lalu dia meletakkan rantangnya di meja, berjalan ke arahku, dan memeriksa wajahku dengan kedua tangannya seperti memeriksa melon di pasar.

“Kamu nggak tidur.”

“Tidur, Bi.”

“Bohong. Mata kamu bukan mata panda lagi. Mata kamu udah mata zombie.”

Aku tertawa, lelah.

Bi Imah nggak tertawa. Dia menatapku dengan mata yang tahu terlalu banyak. “Kamu sendirian, Adrian. Lima tahun kamu sendirian ngurus dia kalau sakit. Bibi tahu. Bibi cuma bisa telepon dari Bandung.”

“Aku nggak apa-apa, Bi.”

“Bibi tahu kamu nggak apa-apa. Kamu selalu nggak apa-apa.” Dia menepuk pipiku dua kali, pelan. “Itu yang bikin Bibi khawatir.”

Dia berbalik ke dapur. Di ambang pintu, dia berhenti.

“Selamat datang di dapur,” kata speaker di dinding.

“Iya, iya, Bibi udah pulang,” jawab Bi Imah. Lalu, tanpa menoleh ke arahku, dia bertanya dengan suara yang sangat biasa, sangat sambil lalu:

“Adrian. Hari Jumat malam itu… ada yang telepon kamu?”

Aku menatap punggungnya.

“Kenapa Bibi tanya gitu?”

“Nggak apa-apa.” Bi Imah mulai mengeluarkan dodol dari rantang. “Sabtu pagi, ada nomor nggak dikenal telepon Bibi. Perempuan. Nanya kabar Elea. Katanya dari sekolah.” Dia mengatur dodol di piring dengan sangat teliti. “Tapi sekolah Elea kan libur hari Sabtu.”

Aku nggak menjawab.

Bi Imah juga nggak bertanya lagi.

Tapi waktu dia menyajikan sepiring dodol di meja makan, dia meletakkan satu potong lebih banyak di piringku, dan menepuk bahuku sekali, dan bilang dengan suara yang pelan sekali sampai aku hampir nggak mendengarnya:

“Bibi bilang ke dia, Elea udah sembuh.”