Chapter Thirty One

Kopi Tubruk, Tanpa Gula

POV: Bianca


Syarat nomor delapan nggak pernah dicabut.

Bu Rexton bertanggung jawab mengantarkan kopi saya ke kantor Hallworth setiap hari kerja, jam tujuh pagi, secara pribadi.

Aku membacanya lagi hari Minggu malam, di apartemen, dengan salinan kontrak di pangkuan dan segelas teh chamomile yang sudah dingin. Lampiran C. Sebelas syarat. Nomor tujuh sudah diubah, Catherine Hall mengirim versi revisinya hari Jumat. Tapi nomor delapan masih ada di sana. Utuh. Nggak disentuh.

Selama dua minggu terakhir, sejak malam di ruang rapat lantai empat puluh, aku berhenti mengantarnya. Aku pikir dia nggak mau melihatku. Aku pikir kopi itu cuma alat untuk mempermalukanku, dan setelah semua bukti di atas meja, alat itu nggak dibutuhkan lagi.

Dia nggak pernah menagih.

Tapi dia juga nggak pernah mencabut syaratnya.

Aku menatap kalimat itu lama.

Lalu aku berdiri, berjalan ke dapur, dan membuka lemari paling atas.


Senin pagi, jam enam lewat lima puluh, aku berdiri di depan pintu kantor Hallworth di lantai dua puluh enam.

Di tangan kanan, gelas kertas dari minimarket di lobi. Kopi sachet tiga ribuan. Persis seperti yang dia minta di hari pertama. Yang tiga ribuan di minimarket. Saya nggak pilih-pilih.

Di tangan kiri, termos hitam kecil.

Pintunya sudah terbuka. Lampunya sudah menyala. Dia sudah di sana, di balik meja dekat jendela, dikelilingi tiga monitor.

Dia mengangkat kepala waktu aku mengetuk.

Dia menatap gelas kertas di tangan kananku. Lalu termos di tangan kiriku. Lalu wajahku.

Aku nggak memakai lipstik merah hari ini. Aku memakai blus putih dan rok krem selutut dan sepatu datar. Rambutku digerai, disematkan satu jepit kecil di sisi kiri. Jepit biasa. Bukan kupu-kupu.

“Pagi, Dok,” kataku.

Dia nggak menjawab. Lehernya, di atas kerah kemeja biru muda, sudah mulai merah. Aku menghitung. Tiga detik.

Aku meletakkan gelas kertas di mejanya. Lalu aku membuka termos, menuangkan isinya ke cangkir keramik putih yang kubawa dari apartemen, dan meletakkannya di samping gelas kertas.

Dua kopi. Berdampingan.

Uap naik dari keduanya. Satu wangi krimer dan gula buatan. Satu wangi tanah dan asap dan sesuatu yang gosong.

“Syarat nomor delapan bilang kopi,” kataku. “Nggak bilang berapa.”

Dia menatap dua cangkir itu.

“Yang sachet sesuai permintaan kamu,” lanjutku. “Yang satunya sesuai…” Aku berhenti. Memilih kata. “Sesuai yang aku ingat.”

Dia nggak bergerak.

Aku menunggu. Satu detik. Dua.

Lalu dia mengambil gelas kertas. Kopi sachet. Dia meminumnya. Seteguk. Dua teguk. Wajahnya nggak berubah, tapi aku melihat ujung hidungnya sedikit mengerut. Seperti orang yang menelan obat.

Lalu dia berdiri. Dia mengangkat cangkir keramik putih itu. Kopi tubruk.

Dia berjalan ke pantri kecil di sudut ruangan. Ke wastafel stainless di bawah jendela.

Dan dia menuangkannya ke wastafel.

Pelan. Seperti hari pertama.

Tapi kali ini dia nggak bilang apa-apa. Nggak ada ngingetin saya ke pengkhianat. Nggak ada besok kopi sachet aja. Dia cuma menuangkannya, meletakkan cangkir kosong di samping wastafel, dan kembali ke mejanya.

Aku menatap cangkir kosong itu.

Lalu aku tersenyum. Sedikit.

“Besok,” kataku, “jam tujuh.”

Aku keluar.

Di lift, aku menekan tombol berhenti darurat di antara lantai dua puluh dan sembilan belas. Ketiga kalinya dalam hidupku.

Tapi kali ini bukan untuk menangis.

Kali ini untuk tertawa. Sendirian. Dengan tangan menutup mulut. Karena laki-laki yang membuang kopiku ke wastafel tadi lehernya merah sampai ke telinga, dan dia menuangkannya pelan-pelan sekali, sangat pelan, terlalu pelan, seperti orang yang berharap kopinya nggak habis-habis.


Selasa, dia membuangnya lagi.

Rabu, lagi.

Kamis, Bayu ada di ruangan waktu aku datang. Dia sedang makan donat cokelat di mejanya sendiri, di sudut. Dia menatap dua cangkir yang kuletakkan di meja Adrian, lalu menatap Adrian yang menuangkan kopi tubruk ke wastafel, lalu menatapku.

“Bu Bianca,” katanya dengan mulut penuh donat. “Udah berapa hari?”

“Empat.”

“Dia buang terus?”

“Terus.”

“Ibu bawa terus?”

“Terus.”

Bayu menatap Adrian yang sudah kembali ke mejanya dengan wajah datar dan leher merah. Lalu menatapku lagi.

“Bu,” katanya pelan, “Ibu tahu nggak, dia nggak pernah minum kopi sachet sebelumnya. Di Oxford dia bilang krimer itu kejahatan terhadap kemanusiaan.”

“Bay,” kata Adrian tanpa mengangkat kepala.

“Dan tiap pagi setelah Ibu pergi,” lanjut Bayu, mengabaikannya, “dia nyeduh kopi tubruk sendiri. Dari termos dia. Yang dia bawa dari rumah. Bi Imah yang bikinin.”

Aku menatap Adrian.

Adrian menatap monitornya dengan sangat fokus.

“Jadi tiap pagi,” kataku pelan, “kamu minum kopi sachet yang kamu benci. Buang kopi tubruk yang aku bikin. Terus minum kopi tubruk yang Bi Imah bikin.”

Adrian nggak menjawab.

“Itu nggak efisien, Dok.”

“Bay,” kata Adrian, dengan nada yang jelas-jelas mengusir.

Bayu mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah, dan kembali ke donatnya.

Aku berjalan ke pintu. Di ambang pintu, aku berhenti.

“Kopi Bi Imah enak?” tanyaku.

Adrian diam lama. Lalu, masih tanpa mengangkat kepala:

“Bi Imah pakai gula setengah sendok. Dia nggak bisa nggak pakai gula. Katanya pahit itu nggak sopan.”

“Terus?”

“Terus… terus nggak sama.”

Aku menatapnya.

“Nggak sama kayak apa?”

Dia nggak menjawab.

Tapi dia nggak perlu. Aku sudah tahu jawabannya. Dan aku keluar dari ruangan itu dengan senyum yang nggak bisa kuhapus dari wajahku sampai lantai satu.


Hari Jumat, aku datang jam enam lewat tiga puluh.

Lebih pagi dari biasanya. Bayu belum datang. Kantor Hallworth masih sepi. Cuma ada satu lampu yang menyala, di meja dekat jendela.

Adrian ada di sana. Tapi dia nggak sedang bekerja.

Dia berdiri di depan jendela, menatap Jakarta yang masih berkabut di pagi hari, dengan kedua tangan di saku celana. Kemeja putih. Lengan digulung. Kacamata terlepas, dipegang di satu tangan, ujung gagangnya diketuk-ketukkan pelan di paha.

Aku tahu kebiasaan itu. Dulu dia selalu melepas kacamata dan mengetuk-ngetukkannya kalau sedang memikirkan sesuatu yang berat. Masalah teknis yang nggak bisa dia pecahkan. Atau pertengkaran kecil kami yang dia nggak tahu cara menyelesaikannya.

Aku berdiri di ambang pintu dan menatapnya.

Lima tahun lalu, aku jatuh cinta pada laki-laki ini. Staf teknik muda di Rexton Tower. Yang menjatuhkan kopi ke sepatuku di lift, bukan, aku yang menjatuhkan kopi ke sepatunya, dan dia bilang nggak apa-apa, sepatu ini emang udah jelek dan tersenyum sampai sudut matanya berkerut. Yang menyelipkan surat cinta di bawah pintu ruanganku dengan tulisan tangan miring ke kanan. Yang memakai jas pinjaman dengan lengan kepanjangan dua senti di pernikahan kami.

Aku jatuh cinta padanya karena dia lembut, dan pintar, dan karena dia menatapku seperti aku satu-satunya hal yang masuk akal di dunia.

Laki-laki di jendela itu bukan laki-laki yang sama.

Laki-laki di jendela itu membesarkan anak kami sendirian di negeri asing. Mengepang rambutnya setiap pagi selama lima tahun, setelah berlatih di kepala boneka bekas. Menulis disertasi dengan bayi demam di bahunya, di depan lemari es, jam tiga pagi. Membangun sistem yang bisa membuat gedung bernapas, dari mengamati semut-semut yang bingung di stasiun dengan anaknya di bahunya. Lari ke bawah panel yang mau jatuh. Membentuk dinding dengan tubuhnya di depan pagar besi. Duduk di lantai lorong empat malam berturut-turut menunggu anaknya membuka pintu.

Laki-laki di jendela itu lebih keras dari yang dulu. Lebih tajam. Lebih dingin.

Dan lebih baik. Jauh lebih baik.

Dan aku jatuh cinta lagi.

Bukan pada kenangan. Bukan pada laki-laki dengan jas pinjaman. Pada laki-laki ini. Yang di jendela. Yang melepas kacamata dan mengetuk-ngetukkannya di paha jam enam pagi, memikirkan sesuatu yang berat.

Aku jatuh cinta dua kali pada laki-laki yang sama.

Dan yang kedua jauh lebih dalam. Karena kali ini, aku tahu harganya.


“Dok.”

Dia berbalik. Kacamata masih di tangannya.

Tanpa kacamata, matanya terlihat lebih lelah. Lebih telanjang. Ada lingkaran gelap di bawahnya, dan garis-garis halus di sudutnya yang dulu nggak ada.

“Kamu pagi,” katanya.

“Aku kangen.”

Kata itu keluar sebelum aku sempat menghentikannya.

Dia membeku.

Aku melangkah masuk. Aku meletakkan dua kopi di mejanya, seperti biasa. Sachet. Tubruk. Lalu aku nggak pergi ke pintu. Aku berjalan memutari meja.

Dan aku duduk di tepi mejanya.

Di samping tumpukan dokumen. Di depan monitornya. Kaki disilang. Rok krem selutut yang naik sedikit waktu aku duduk.

Dia menatapku. Lalu menatap kakiku. Lalu menatapku lagi. Cepat.

Leher. Merah. Dua detik kali ini.

“Bi,” katanya. “Itu meja kerja.”

“Aku tahu.”

“Turun.”

“Itu ada di syarat nomor berapa?”

Dia membuka mulut. Menutupnya.

Aku mengulurkan tangan. Ke kerah kemejanya. Dasinya. Dasi biru tua yang sedikit miring, karena dia selalu memasang dasi sendiri di depan cermin kamar mandi tanpa melihat dengan benar.

Aku membetulkannya. Pelan. Ujung jariku menyentuh simpul dasi, merapikannya, menariknya sedikit ke tengah.

Lalu aku nggak melepaskannya.

Aku memegang dasinya. Dan menariknya. Pelan. Sangat pelan. Sampai wajahnya turun sedikit. Sampai wajahnya sejajar dengan wajahku. Dua puluh senti.

Dia nggak melawan.

“Leher kamu merah lagi,” bisikku.

Dia diam. Napasnya terdengar.

“Dulu aku tahu cara bikin itu lebih merah,” kataku pelan. “Kamu ingat?”

Rahangnya bergerak.

Aku melepaskan dasinya. Lalu, sebelum dia sempat mundur, aku meletakkan telapak tanganku di dadanya. Di atas kemeja putih. Di tempat jantungnya.

Berdentum. Cepat. Sangat cepat. Seperti genderang.

Aku menatapnya.

“Detaknya bohong, Dok,” bisikku. “Mulut kamu bilang benci. Ini bilang lain.”


Pintu terbuka.

“Pagi, Mas! Aku bawa donat, rasa baru, matcha—“

Bayu berhenti di ambang pintu.

Dia menatap kami. Aku duduk di tepi meja Adrian. Tanganku di dada Adrian. Adrian berdiri di depanku, membungkuk sedikit, tanpa kacamata, dengan wajah merah dari dahi sampai leher.

Kotak donat di tangan Bayu miring. Satu donat matcha meluncur keluar dan jatuh ke lantai.

Bayu menatap donat di lantai. Lalu menatap kami.

“Aku,” katanya. “Aku… lupa sesuatu. Di mobil. Iya. Di mobil.”

Dia berbalik.

Lalu dia berbalik lagi, memungut donat matcha dari lantai, dan menggigitnya sambil berjalan keluar.

“Bay, itu udah jatuh—“ kata Adrian.

“Lima detik, Mas,” kata Bayu dengan mulut penuh donat. “Aturan lima detik.”

Pintu tertutup.

Dari koridor, terdengar suara Bayu yang tersedak. Batuk-batuk keras. Lalu suara Bayu yang menelepon seseorang, dengan suara tertahan yang sama sekali nggak tertahan: “Bi Imah? Bi, Bibi menang. Bibi pasti menang. Aku pakai baju senam pink…”


Aku menarik tanganku dari dadanya.

Pelan. Telapak tanganku menyusuri kemejanya ke bawah waktu menarik diri. Lalu lepas.

Dia masih berdiri di depanku. Membungkuk. Tanpa kacamata. Napasnya pendek.

Aku turun dari meja.

Aku berdiri. Sekarang kami sejajar. Satu jengkal.

“Adrian,” kataku.

Dia menatapku.

Aku nggak merencanakan ini. Aku bersumpah aku nggak merencanakan ini. Aku datang jam enam tiga puluh karena aku nggak bisa tidur. Aku duduk di meja karena aku ingin melihat lehernya merah. Aku memegang dasinya karena aku ingin tahu apakah dia masih membiarkanku.

Aku nggak merencanakan yang ini.

“Aku sayang kamu.”

Tiga kata.

Kalimat yang nggak pernah kuucapkan dalam lima tahun. Kalimat yang dulu kuucapkan setiap pagi, setiap malam, di telepon, di pesan, di bawah selimut, sampai dia bosan dan bilang iya, iya, aku tahu, dan aku bilang aku tetap mau bilang.

Lima tahun aku nggak mengucapkannya.

Sekarang aku mengucapkannya. Di kantor Hallworth, jam enam lewat empat puluh pagi, dengan dua cangkir kopi di meja dan donat matcha yang sudah dimakan Bayu.

Adrian menatapku.

Lama sekali.

Lalu dia memakai kacamatanya. Pelan. Dengan tangan yang sedikit gemetar.

Dia mengambil tablet dari mejanya.

Dan dia berjalan melewatiku. Ke pintu. Tanpa bicara.

Pintu terbuka. Pintu tertutup.

Dia pergi.


Aku berdiri sendirian di ruangan itu.

Di meja, dua cangkir. Kopi sachet, yang belum dia minum hari ini. Kopi tubruk, yang belum dia buang.

Aku menatap pintu yang tertutup.

Dia nggak menjawab. Dia nggak bilang aku juga. Dia nggak bilang jangan. Dia nggak bilang percaya kamu nggak ada harganya. Dia nggak bilang apa-apa.

Dia cuma pergi.

Aku menunggu rasa sakit. Rasa ditolak. Rasa malu.

Nggak datang.

Yang datang adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang aneh dan hangat dan sangat, sangat sabar.

Karena dia nggak membuang kopi tubruk itu.

Pertama kalinya dalam lima hari. Dia meninggalkan ruangan tanpa membuangnya. Cangkir keramik putih itu masih di mejanya, penuh, uapnya sudah tipis.

Aku nggak menyentuhnya.

Aku keluar dari ruangan itu dan meninggalkan cangkir itu di sana.


Di lift, ponselku bergetar.

Tasya.

Bu. Mas Bayu kirim foto ke grup. Foto donat matcha di lantai. Captionnya “SAKSI BISU”. Terus dia bilang dia harus pakai baju senam pink hari Minggu. Saya nggak ngerti. Ibu ngerti?

Aku tertawa sendirian di lift.

Nggak ngerti, Tas, ketikku.

Bu, Ibu bohong. Saya bisa rasain dari sini.

Aku memasukkan ponsel ke tas.


Jam tujuh malam, aku duduk di ruang tamu kecil apartemen Bayu di Kemang.

Ruangan yang penuh. Tiga monitor di meja kerja. Rak buku penuh jurnal statistik. Poster Starlight Seven di dinding yang dia klaim punya sepupunya. Dan di sofa, Bayu, dengan gitar akustik di pangkuan dan wajah orang yang menahan sesuatu yang sangat besar.

“Bu Bianca,” katanya. “Saya cuma mau konfirmasi. Ibu datang ke apartemen saya, malam-malam, minta diajarin lagu dangdut.”

“Iya.”

“Kau Tega Nian.“

“Iya.”

“Lagu yang Elea suka dari bayi.”

“Bi Imah bilang kamu bisa main gitarnya.”

Bayu menatapku. Lama. Lalu dia meletakkan gitarnya di sofa, menutup wajahnya dengan dua tangan, dan berbicara dari balik tangannya.

“Bu. Pagi tadi Ibu megang dada Mas Adrian di kantor. Terus Ibu bilang sayang. Terus dia kabur. Dan sekarang Ibu di sini minta diajarin dangdut.”

“Iya.”

Bayu menurunkan tangannya. Matanya basah.

“Bu,” katanya dengan suara yang bergetar. “Ini plot terbaik yang pernah saya saksikan. Lebih bagus dari drakor. Lebih bagus dari jurnal Nature.”

“Bayu.”

“Iya, Bu. Fokus.” Bayu mengambil gitarnya lagi. Dia mengusap matanya dengan lengan kaus. “Ibu bisa nyanyi?”

“Nggak.”

“Sama sekali?”

“Waktu SMA aku pernah ikut paduan suara. Dikeluarin di minggu kedua. Pelatihnya bilang suaraku kayak kucing kejepit pintu.”

Bayu menatapku.

“Bu,” katanya hati-hati. “Mas Adrian juga suaranya kayak pintu berderit.”

“Aku tahu.”

“Berarti Elea udah biasa sama suara jelek.”

“Itu yang aku harapkan.”

Bayu tertawa. Lalu dia memetik gitarnya. Intro yang sederhana. Nada-nada yang mengalun dan sedikit sendu, khas dangdut lama.

“Oke, Bu. Kita mulai dari bait pertama. Saya nyanyi dulu, Ibu ikutin.”


Jam sepuluh malam, aku pulang ke apartemen dengan suara serak dan jari yang lecet karena Bayu memaksaku mencoba main gitar juga, biar Ibu ngerti ritmenya, Bu.

Aku duduk di meja makan. Di depanku, sebuah benda yang kubeli tadi sore di toko perlengkapan salon di Blok M.

Kepala manekin. Plastik. Dengan rambut sintetis panjang berwarna cokelat gelap.

Aku menatap kepala manekin itu. Dia menatapku balik dengan mata kosong yang dicat.

Lalu aku membuka laptop dan memutar video YouTube.

Easy French Braid for Beginners.

Aku menonton video itu. Lalu aku mencoba. Membagi rambut manekin jadi dua. Lalu tiga. Kanan ke tengah. Kiri ke tengah.

Kepangannya miring ke kiri. Seperti menara Pisa.

Aku melepasnya. Mencoba lagi.

Miring ke kanan.

Lagi.

Terlalu longgar di atas, terlalu kencang di bawah.

Lagi. Lagi. Lagi.

Jam satu pagi, jari-jariku lecet. Ujung jari telunjuk dan ibu jari kanan merah dan perih, karena rambut sintetis manekin itu kasar dan aku menariknya terlalu keras puluhan kali.

Kepangan yang terakhir masih miring. Sedikit. Tapi lebih baik dari yang pertama.

Aku menempelkan plester di ujung jariku. Plester bergambar kupu-kupu, yang kubeli di apotek sebelah toko salon karena aku melihatnya di rak dan teringat sesuatu.

Lalu aku menatap kepala manekin itu, dengan kepangan miring di rambut sintetisnya.

“Besok lagi,” kataku ke manekin itu.

Manekin itu nggak menjawab.

Aku pergi tidur. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidur nyenyak, tanpa mimpi tentang karpet Persia.


Sabtu pagi, sebelum berangkat ke Kebayoran, ponselku bergetar.

Nomor yang belum kusimpan. Nomor yang sekarang sudah kuhafal di luar kepala.

Satu pesan.

Kopi tubruk kemarin. Aku minum. Jam delapan. Udah dingin.

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu satu pesan lagi, sepuluh detik kemudian:

Nggak ada gulanya. Pas.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Lalu satu pesan lagi, tiga puluh detik kemudian. Seperti orang yang mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Itu bukan jawaban buat yang kamu bilang. Belum. Aku cuma mau kamu tahu kopinya aku minum.

Aku membaca tiga pesan itu sampai layar meredup.

Lalu aku mengetik balasan.

Aku nggak minta jawaban. Aku cuma mau kamu dengar.

Kirim.

Lalu, sebelum aku bisa menghentikan diriku:

Aku sayang kamu. Hari ini juga. Besok juga. Kamu boleh nggak jawab sampai kapan pun.

Kirim.

Aku memasukkan ponsel ke tas dan berangkat ke Kebayoran dengan plester kupu-kupu di ujung jari, dan suara yang masih serak karena dangdut, dan jantung yang berdetak seperti genderang.

Persis seperti jantungnya. Kemarin. Di bawah telapak tanganku.