Chapter Thirty Five

Darren

POV: Adrian


Bayu memakai baju senam warna pink di hari Senin.

Bukan karena dia mau. Karena dia lupa membawa baju ganti setelah kelas Zumba hari Minggu, dan dia menginap di rumah kami, dan pagi itu satu-satunya baju bersih di tasnya adalah kaus ketat warna pink fuschia dengan tulisan ZUMBA QUEEN dari payet perak di dada.

Dia duduk di meja makan dengan kaus itu, memakan bubur kacang hijau, dengan wajah orang yang sudah menerima nasibnya.

Elea menatapnya dari seberang meja dengan mata yang sangat lebar.

“Om Bayu,” katanya. “Om Bayu ratu?”

“Om Bayu kalah taruhan, Elea.”

“Taruhan apa?”

Bayu menatapku. Aku menatap bubur di mangkukku dengan sangat fokus.

“Taruhan soal Papa kamu,” kata Bayu.

“Papa kenapa?”

“Papa kamu…” Bayu memilih kata. “Papa kamu nyerah lebih cepat dari perkiraan Om.”

Elea menatapku. Lalu menatap Bayu. Lalu menatap Bi Imah di dapur, yang sedang menggoreng tempe sambil bersenandung dengan wajah orang yang menang lotre.

“Papa nyerah apa?”

“Om Bayu,” kataku, “habisin buburnya.”

“Siap, Mas.” Bayu menunduk ke mangkuknya. Payet perak di dadanya berkilau di bawah lampu dapur.

Elea menatap kami berdua dengan curiga yang dalam. Lalu dia menoleh ke Bi Imah.

“Nenek. Papa nyerah apa?”

Bi Imah membalik tempe di wajan. Dia nggak menoleh.

“Papa kamu nyerah jadi orang bodoh, Sayang,” katanya. “Akhirnya.”


Aku belum nyerah.

Itu yang kubilang ke diriku sendiri. Di mobil, perjalanan ke kantor Hallworth. Di lift. Di depan pintu kantor, jam tujuh kurang lima menit.

Aku belum nyerah. Bayu salah. Bi Imah salah. Seluruh grup senam Zumba, yang ternyata sekarang beranggotakan empat puluh tiga orang termasuk Pak Joko dari Medan dan Catherine Hall dari London, salah.

Aku cuma… belum tahu.

Cinta kamu datang telat lima tahun.

Aku tahu.

Piringnya tetap ada di meja. Setiap hari.

Aku membuka pintu kantor.

Dia sudah di sana.

Bukan di ambang pintu, seperti biasa. Di dalam. Berdiri di depan jendela, di tempat aku biasa berdiri jam enam pagi. Membelakangiku. Menatap Jakarta yang berkabut.

Blus putih. Rok krem. Rambut digerai.

Di mejaku, dua cangkir. Gelas kertas dengan kopi sachet. Cangkir keramik putih dengan kopi tubruk.

Uapnya masih naik dari keduanya.

Dia berbalik waktu mendengar pintu.

“Pagi, Dok.”

“Pagi.”

Dia nggak bergerak dari jendela. Dia nggak mendekat. Dia nggak duduk di tepi mejaku. Dia nggak menarik dasiku.

Dia cuma berdiri di sana, dengan tangan di saku rok, dan menatapku dengan mata yang tenang.

Sekarang aku nggak akan bilang lagi. Sampai kamu siap dengar.

Dia menepatinya. Seminggu. Setiap pagi, dua cangkir di mejaku. Setiap pagi, pagi, Dok. Setiap pagi, dia pergi tanpa menunggu aku membuang atau meminum.

Dan setiap pagi, aku menunggu dia pergi, lalu aku meminum kopi tubruk itu. Dingin. Jam delapan. Sendirian.

Hari ini hari kelima belas.

Lima belas hari sejak Senin pertama, waktu dia membawa dua cangkir dan aku menuang yang satu ke wastafel. Lima hari aku membuang. Sepuluh hari aku meminumnya dingin, setelah dia pergi.

Hari ini, aku berjalan ke mejaku.

Aku nggak mengambil gelas kertas.

Aku mengambil cangkir keramik putih.

Masih hangat. Uapnya naik ke wajahku. Wangi tanah dan asap dan sesuatu yang gosong.

Aku meminumnya.

Di depan dia. Satu teguk. Dua teguk. Tiga.

Hangat. Pahit. Pas.

Dua sendok. Air mendidih. Tiga kali aduk. Searah jarum jam. Ditutup tatakan, empat menit.

Nggak ada yang bisa membuatnya seperti ini. Bukan Bi Imah, yang selalu menambahkan gula setengah sendok karena pahit itu nggak sopan. Bukan aku sendiri, yang lima tahun membuatnya di dapur-dapur yang berbeda dan nggak pernah mendapat rasa yang sama.

Cuma dia.

Aku menurunkan cangkir itu. Aku menatapnya.

Dia masih berdiri di jendela. Tangannya sudah keluar dari saku rok. Tangannya menutup mulutnya.

Matanya basah.

Dia nggak bilang apa-apa. Aku juga nggak.

Aku menghabiskan kopi itu. Sampai ampasnya.

Lalu aku meletakkan cangkir kosong itu di mejaku. Bukan di samping wastafel.

Di mejaku. Di samping keyboard. Di tempat yang bisa dia lihat.

Dia menatap cangkir kosong itu lama.

Lalu dia berjalan ke pintu. Pelan. Di ambang pintu, dia berhenti. Dia nggak menoleh.

“Besok,” katanya. Suaranya serak. “Jam tujuh.”

Dia pergi.


Jam sepuluh pagi, Darren Wiratama mengetuk pintu kantorku.

Dia nggak membuat janji. Dia nggak lewat Bayu atau sekretaris. Dia cuma mengetuk, membuka pintu, dan berdiri di ambang dengan setelan abu-abu dan dasi biru tua dan wajah yang sangat tenang.

“Dr. Renaldi. Boleh minta waktu sepuluh menit?”

Bayu, di mejanya di sudut, berhenti mengetik. Masih memakai kaus pink ZUMBA QUEEN, karena dia belum sempat pulang ganti baju.

Darren melirik kaus itu. Lalu menatap Bayu.

“Mas Bayu,” katanya sopan. “Bajunya bagus.”

“Makasih, Pak Darren,” kata Bayu dengan martabat penuh. “Kalah taruhan.”

“Saya tahu. Saya ikut grup.” Darren tersenyum kecil. “Saya pasang tiga minggu. Saya kalah juga.”

Bayu menatapnya dengan mata lebar.

Aku menatap mereka berdua.

“Bay,” kataku. “Tolong.”

“Siap, Mas. Aku keluar. Aku… aku beli donat.” Bayu berdiri, mengambil dompetnya, dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti di samping Darren. “Pak Darren. Jangan pukul dia. Dia baru jahitan dua bulan lalu.”

“Saya nggak akan pukul dia, Mas Bayu.”

“Oke. Bagus.” Bayu keluar. Lalu kepalanya muncul lagi dari celah pintu. “Kecuali sedikit. Kalau perlu.”

Pintu tertutup.


Darren duduk di kursi di seberang mejaku. Dia menatap cangkir keramik putih kosong di samping keyboard-ku. Matanya berhenti di sana sedetik.

Lalu dia menatapku.

“Saya mundur,” katanya.

Aku diam.

“Dari pertunangan. Secara resmi. Saya udah bilang ke Oma Margareth tadi pagi. Saya udah bilang ke keluarga saya. Saya udah kirim surat ke pengacara keluarga Rexton soal perjanjian pranikah yang belum ditandatangani.” Dia menatapku dengan mata yang sangat jernih. “Nggak ada pertunangan. Nggak pernah ada, sebenarnya. Cuma ada keinginan Oma, dan kesabaran saya, dan Bianca yang nggak pernah bilang iya.”

“Kenapa kamu bilang ke saya?”

“Karena kamu harus tahu dari saya. Bukan dari Tasya. Bukan dari grup senam Zumba.” Darren tersenyum kecil. “Dan karena ada hal lain yang mau saya bilang.”

Dia mencondongkan badan sedikit ke depan.

“Di koridor lantai empat puluh. Setelah rapat itu. Waktu kamu suruh dia berdiri dua jam.” Darren menatapku. “Saya bilang ke kamu, dia pantas dapat yang lebih baik dari dua-duanya. Dari laki-laki yang nyelamatin pekerja di Kemayoran, dan dari laki-laki yang nyuruh dia berdiri tanpa kursi.”

“Saya ingat.”

“Saya salah.”

Aku menatapnya.

“Bukan soal kamu,” lanjut Darren. “Kamu memang kejam waktu itu. Itu nggak berubah. Tapi saya salah soal dia.” Dia menatap cangkir kosong di mejaku. “Dia nggak butuh yang lebih baik dari dua-duanya. Dia butuh yang ketiga.”

“Yang ketiga?”

“Laki-laki yang lagi kamu coba jadi.” Darren bersandar ke kursinya. “Laki-laki yang biarin dia masuk rumah jam satu pagi waktu dia basah kuyup. Yang ubah syarat nomor tujuh. Yang ngajarin dia ngepang rambut anak kalian dengan tangan di atas tangan.” Dia mengangkat alis. “Yang minum kopi tubruknya jam tujuh pagi, di depan dia, sampai habis.”

Aku nggak bisa menjawab.

“Pak Darto lihat di CCTV,” kata Darren. “Dia lapor ke grup. Lima menit lalu.”

“Pak Darto harus berhenti nonton CCTV.”

“Semua orang bilang gitu ke Pak Darto. Pak Darto nggak pernah dengar.” Darren berdiri. Dia merapikan jasnya. Lalu dia menatapku dari atas, dengan wajah yang sabar dan sedih dan sangat lega.

“Kamu salah sama dia,” katanya. “Lima tahun lalu, kamu salah karena nggak cukup lawan keluarganya. Kamu biarin mereka ngusir kamu tanpa…”

Dia berhenti. Menggeleng.

“Nggak. Itu nggak adil. Maksud saya…” Dia menarik napas. “Maksud saya, dia yang salah sama kamu. Jauh lebih salah. Itu nggak bisa dibantah. Tapi dia lagi bayar. Saya lihat dia bayar. Setiap hari. Di ruang rapat. Di Bareskrim. Di lantai lorong rumah kamu. Di pasar Cicadas jam empat pagi.”

Dia berjalan ke pintu.

“Saya cuma mau bilang satu hal lagi, Dr. Renaldi. Laki-laki ke laki-laki.”

Aku menunggu.

“Kalau kamu nggak mau dia,” kata Darren pelan, “bilang. Sekarang. Biar dia berhenti bayar. Karena dia akan bayar terus sampai kamu bilang berhenti. Dia nggak tahu cara berhenti. Dia Rexton. Rexton nggak berhenti di tidak. Tidak itu cuma belum.”

Dia membuka pintu.

“Dan kalau kamu mau dia,” lanjutnya, tanpa menoleh, “jangan bikin dia nunggu lima tahun. Dia udah nunggu cukup lama. Kalian berdua udah.”

Dia keluar.


Aku duduk di mejaku lama sekali.

Cangkir keramik putih di samping keyboard. Kosong. Ampas kopi mengering di dasarnya, membentuk pola seperti peta.

Kalau kamu nggak mau dia, bilang. Sekarang.

Aku mengambil cangkir itu. Menatap ampasnya.

Lalu aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku sesak.

Selama Darren bicara, sepuluh menit penuh, aku nggak memikirkan Bianca.

Aku memikirkan Darren.

Darren yang membawakannya nasi goreng kambing tengah malam. Darren yang ingat dia dari SMA. Darren yang berdiri waktu dia masuk ruangan. Darren yang memegang pinggangnya di lantai dansa gala, nggak terlalu erat, nggak terlalu longgar, dengan tepat. Darren yang menemaninya menelusuri registri Singapura sampai jam satu pagi.

Darren yang ada di sana. Lima tahun. Waktu aku nggak ada.

Dan aku merasakan sesuatu. Di perut. Panas dan asam dan pahit seperti ampas kopi yang ditelan.

Cemburu.

Aku cemburu.

Pada laki-laki baik yang baru saja datang ke kantorku untuk mengundurkan diri dari perempuan yang dia cintai. Laki-laki yang mundur dengan elegan. Laki-laki yang bilang dia butuh yang ketiga.

Aku cemburu pada lima tahun yang dia punya dan aku nggak.

Aku meletakkan cangkir itu. Pelan.

Lalu aku tertawa. Sendirian. Di kantor Hallworth. Tawa yang pendek dan kering dan sedikit gila.

Karena orang yang cemburu bukan orang yang belum nyerah.

Bayu benar. Bi Imah benar. Seluruh grup senam Zumba, empat puluh tiga orang termasuk Pak Joko dari Medan dan Catherine Hall dari London, benar.

Aku sudah kalah.

Aku cuma belum bilang.


Jam enam sore, hujan turun.

Aku di basement tiga Rexton Tower. Rapat koordinasi proyek dengan tim konstruksi Grand Nusantara baru selesai di lantai dua puluh. Bianca memimpin rapat itu. Dua jam. Dia duduk di kursi. Ada kursi untuknya. Aku yang memastikan ada kursi, lewat email ke sekretaris Catherine Hall seminggu lalu, satu kalimat: Mohon disediakan kursi untuk project lead di semua rapat.

Dia nggak tahu itu dari aku. Atau dia tahu. Aku nggak yakin.

Di basement tiga, hujan menderu dari ramp kendaraan. Genangan-genangan air di lantai beton. Lampu neon yang berkedip. Bau tanah basah dan oli.

Sama seperti malam itu. Tiga bulan lalu.

Mobilku diparkir tiga slot dari mobilnya. Sama seperti malam itu.

Dan dia berdiri di samping mobilnya. Sama seperti malam itu.

Bukan dengan kaki telanjang. Dengan sepatu datar. Bukan dengan stoking berdarah. Dengan celana panjang krem. Bukan dengan sepatu hak tinggi yang dilempar ke lantai. Dengan tas di bahu dan kunci mobil di tangan.

Dia menoleh waktu mendengar langkahku.

Dia nggak bergerak.

Aku berjalan ke arahnya.

Tiga slot. Sepuluh langkah. Sama seperti dia berjalan ke arahku tiga bulan lalu, dengan kaki telanjang di beton basah.

Aku berhenti satu meter di depannya.

“Darren datang ke kantorku,” kataku.

Dia menatapku. “Aku tahu. Dia bilang mau.”

“Dia mundur.”

“Aku tahu. Aku yang minta dibatalin. Dia yang bilang ke kamu.”

Aku menatapnya.

“Aku cemburu,” kataku.

Dia membeku.

“Sama Darren,” lanjutku. Suaraku keluar kasar. Serak. Lebih keras dari yang kuinginkan. “Lima tahun dia di samping kamu. Bawain kamu nasi goreng tengah malam. Ingat kamu dari SMA. Pegang pinggang kamu di lantai dansa. Nemenin kamu sampai jam satu pagi. Lima tahun, Bi. Waktu aku di Oxford ngepang rambut anak kita di kepala boneka bekas, dia di sini. Sama kamu.”

“Adrian—“

“Dan aku nggak berhak cemburu.” Aku melangkah maju. Setengah meter. “Aku tahu. Aku yang pergi. Kamu yang buang, tapi aku yang pergi. Aku nggak berhak. Tapi aku cemburu. Sepuluh menit dia duduk di depanku dan bilang dia mundur, dan sepuluh menit itu aku cuma mikirin tangan dia di pinggang kamu di gala.”

Dia menatapku. Matanya lebar. Bibirnya terbuka sedikit.

“Itu nggak masuk akal,” kataku. “Aku benci kamu lima tahun. Aku nggak maafin kamu. Aku belum bisa bilang apa-apa ke kamu. Dan aku cemburu sama laki-laki baik yang baru aja mundur dari kamu dengan elegan.”

Hujan menderu.

“Aku marah, Bi,” bisikku. “Aku marah sama kamu. Sama Darren. Sama diriku sendiri. Sama lima tahun.”

Dia melangkah maju.

Setengah meter jadi nol.

“Kalau ini marah,” katanya pelan, di depan wajahku, dengan suara yang bergetar dan mata yang basah dan bibir yang hampir menyentuh bibirku, “marahin aku lebih lama.”


Aku menciumnya.

Bukan pelan. Bukan ragu. Bukan lima detik di dapur, dengan kain lap di tangan dan punggung yang menabrak lemari es.

Aku menciumnya seperti orang yang sudah lima tahun kelaparan. Seperti orang yang marah. Seperti orang yang rindu. Seperti orang yang nggak tahu lagi bedanya marah dan rindu.

Tanganku di wajahnya. Dua-duanya. Ibu jariku di tulang pipinya. Jari-jariku di rambutnya, di belakang telinganya, di tengkuknya.

Dia mundur selangkah. Punggungnya menabrak pintu mobilnya. Aku mengikutinya. Menekannya ke pintu mobil itu. Tubuhku di tubuhnya. Seluruhnya. Dari dada sampai lutut.

Dia nggak mendorongku.

Tangannya meraih kerah kemejaku. Sama seperti tiga bulan lalu. Dua tangan. Mencengkeram kain putih itu.

Tapi kali ini dia nggak mendorong.

Dia menarik.

Lebih dekat. Lebih dalam. Bibirnya membuka di bawah bibirku. Napasnya masuk ke mulutku. Napasku masuk ke mulutnya. Kami bernapas dari udara yang sama, di basement yang bau oli dan tanah basah, di bawah lampu neon yang berkedip, dengan hujan yang menderu dari ramp seperti suara ombak.

Aku bisa merasakan jantungnya. Di dadaku. Berdentum seperti genderang.

Aku bisa merasakan jantungku. Lebih keras.

Aku bisa merasakan tangannya. Turun dari kerahku. Ke dadaku. Ke pinggangku. Melingkar di belakang punggungku. Menarikku lebih dekat lagi, padahal sudah nggak ada jarak lagi.

Aku bisa merasakan air matanya. Asin. Di pipiku. Atau air mataku di pipinya. Aku nggak tahu yang mana.

Lima detik.

Sepuluh.

Aku nggak menghitung.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku nggak menghitung.


Waktu kami berhenti, akhirnya, karena kami berdua kehabisan napas, aku nggak mundur.

Dahiku menempel di dahinya. Kacamataku miring. Napas kami memburu, bercampur, hangat di wajah satu sama lain.

Tangannya masih melingkar di punggungku. Tanganku masih di wajahnya.

“Adrian,” bisiknya.

“Hm.”

“Kamu masih marah?”

Aku memejamkan mata.

“Masih.”

“Bagus.” Ibu jarinya mengusap rahangku. Pelan. “Marahin aku lagi besok.”

Aku tertawa. Atau menangis. Aku nggak tahu. Napasku keluar seperti isakan, di dahinya, di antara kami.

“Bi.”

“Hm?”

“Aku belum bisa bilang.”

“Aku tahu.”

“Yang kamu bilang. Sayang. Cinta. Aku belum bisa.”

“Aku tahu.” Dia menarik diri sedikit. Cukup untuk menatapku. Mata yang basah dan merah dan sangat, sangat tenang. “Aku nggak nanya. Aku cuma bilang marahin aku lagi besok. Itu cukup.”

Aku menatapnya. Rambutnya berantakan karena tanganku. Bibirnya merah, bukan karena lipstik. Pipinya basah.

Dan aku teringat basement ini, tiga bulan lalu. Kaki telanjang. Stoking berdarah. Sepatu hak sepuluh senti yang dilempar ke lantai. Apa lagi yang kamu mau dari aku? Lima tahun.

Aku mengangkat tanganku. Ke wajahnya. Menyelipkan rambut yang berantakan ke belakang telinganya.

“Lima tahun,” kataku pelan.

Dia menatapku.

“Tiga bulan lalu kamu tanya apa yang aku mau. Aku bilang lima tahun.” Aku menatap matanya. “Aku salah. Aku nggak mau lima tahun. Lima tahun udah lewat. Nggak ada yang bisa balikin.”

“Terus kamu mau apa?”

Aku diam lama.

“Aku mau besok,” kataku akhirnya. “Kopi jam tujuh. Hari Sabtu jam sepuluh. Kamu marahin aku lagi. Itu dulu. Itu yang aku mau sekarang.”

Dia menutup mulutnya dengan tangan.

Lalu dia mengangguk.


“Bu.”

Kami berdua membeku.

Pak Darto berdiri di ujung deretan mobil, di dekat pos jaga basement. Seragam satpam yang kebesaran. Rambut putih cepak. Payung lipat jelek dengan gagang patah.

Dia menatap kami. Bianca di pintu mobil. Aku di depannya. Tanganku masih di wajahnya. Tangannya masih di dadaku.

Pak Darto berdeham.

“Maaf, Bu. Mas. Saya cuma patroli.” Dia menatap langit-langit basement. “Telinga saya nggak bagus. Mata saya juga, kayaknya. Udah tua.”

Bianca menutup wajahnya dengan dua tangan. Bahunya bergetar. Dia tertawa.

“Pak Darto,” kataku.

“Iya, Mas.”

“Bapak lapor ke grup?”

Pak Darto berpikir sebentar. “Belum, Mas.”

“Bapak mau lapor?”

Pak Darto menatapku. Lalu menatap Bianca, yang masih menutup wajahnya dan tertawa. Lalu menatapku lagi.

Lalu dia tersenyum. Senyum tua yang lebar, dengan satu gigi depan yang hilang.

“Lima tahun lalu saya kasih payung ini ke Mas, buat Neng kecil,” katanya. “Di bawah hujan. Malam itu.” Dia mengangkat payung lipat jelek itu sedikit. “Malam ini hujan juga. Tapi kayaknya Mas nggak butuh payung lagi.”

Dia berbalik, dan berjalan kembali ke pos jaganya.

“Saya nggak lapor, Mas,” katanya tanpa menoleh. “Ini bukan buat grup. Ini buat saya. Saya udah nunggu lima tahun buat lihat ini.”

Pintu pos jaga tertutup.

Bianca menurunkan tangannya dari wajah. Dia menatapku. Matanya basah dan merah dan tertawa.

“Dok,” katanya.

“Hm?”

“Leher kamu.”

Aku nggak perlu melihat. Aku tahu.

Merah. Dari bawah telinga sampai ke tulang selangka.

Dan untuk pertama kalinya, aku nggak berusaha menyembunyikannya.