Chapter Forty Three
Veronica
POV: Adrian
Aku keluar dari kantin pengadilan jam lima sore untuk mengambil mobil.
Bianca masih di dalam, dengan Bu Laras dan Tasya dan teh manis yang sudah dingin. Bayu sudah pulang duluan, menjemput Elea dari les renang, dengan pesan dari Bi Imah yang dia bacakan keras-keras di kantin: Bayu, kalau kamu telat lima menit, Bibi nggak masakin kamu rendang sebulan.
Koridor pengadilan di sore hari sepi. Lampu neon yang berdengung. Lantai keramik putih yang sudah kusam. Bangku-bangku kayu panjang di sepanjang dinding. Bau kertas dan debu dan sesuatu yang mirip disinfektan.
Aku berjalan ke arah pintu keluar samping, yang menuju tempat parkir.
Dan di ujung koridor, di depan pintu ruang jaksa yang tertutup, di bangku kayu panjang, duduk seorang perempuan.
Setelan krem. Mutiara di leher. Rambut yang tadi pagi disanggul rapi, sekarang lepas sebagian, beberapa helai jatuh ke wajahnya. Riasan yang luntur di sekitar mata. Sapu tangan putih yang kusut di tangannya.
Veronica Rexton.
Dia sendirian. Nggak ada pengacara. Nggak ada sopir. Nggak ada Oma.
Dia menatap lantai.
Aku berhenti melangkah.
Aku bisa berbalik. Ada pintu keluar lain, di ujung koridor yang berlawanan. Aku bisa pura-pura nggak melihatnya. Aku bisa berjalan melewatinya tanpa menoleh, seperti aku berjalan melewati Bianca di lobi Hotel Arunaya, empat bulan lalu.
Aku nggak berbalik.
Aku juga nggak berjalan mendekat. Aku cuma berdiri di tengah koridor, sepuluh meter darinya, dan menatap.
Dia mengangkat kepala.
Dia melihatku.
Untuk satu detik, wajahnya kosong. Seperti orang yang terbangun dan nggak tahu di mana dia berada.
Lalu wajahnya berubah.
Bukan senyum. Bukan senyum lembut yang sempurna, yang dia berikan pada semua orang di ruang rapat, di gala, di ruang tengah rumah Menteng lima tahun lalu. Senyum itu hilang. Mungkin selamanya.
Yang ada di wajahnya sekarang adalah sesuatu yang telanjang. Sesuatu yang takut. Sesuatu yang sudah sangat lelah.
Dia berdiri. Pelan. Tangannya berpegangan di sandaran bangku. Kakinya goyah sedikit.
Dia berjalan ke arahku.
Lima langkah. Tujuh. Sembilan.
Dia berhenti satu meter di depanku.
“Adrian,” katanya.
Suaranya serak. Habis. Suara orang yang baru bicara dua jam di ruang jaksa, menceritakan hal-hal yang lima tahun dia simpan.
Aku nggak menjawab.
Dia menatapku lama. Mata yang merah. Bibir yang gemetar.
Lalu dia berlutut.
Di lantai keramik koridor pengadilan. Di depan pintu ruang jaksa. Lututnya menyentuh lantai dengan bunyi yang pelan. Setelan kremnya kusut. Mutiara di lehernya berayun sedikit.
Aku membeku.
Lima tahun lalu, aku berlutut di karpet Persia di ruang tengah rumahnya. Dan dia duduk di sofa krem, di samping anaknya, dan mengusap punggung anaknya, dan menatapku dengan senyum lembut yang sempurna.
Hari ini, dia berlutut di lantai keramik koridor pengadilan. Dan aku berdiri.
“Saya minta maaf,” katanya.
Dia nggak menunduk. Dia menatapku. Langsung. Seperti Bianca menatapku dari lantai ruang tengah di Kebayoran.
“Saya nggak minta kamu maafin saya,” lanjutnya. Suaranya bergetar. “Saya tahu saya nggak berhak. Saya cuma mau bilang. Di depan kamu. Bukan di depan jaksa. Bukan di depan hakim. Di depan kamu.”
Aku nggak bisa bicara.
“Saya yang bilang ke Hendra, iya,” katanya. “Waktu dia bawa foto itu. Saya yang bilang pakai. Saya tahu itu palsu. Saya tahu kamu nggak pernah sentuh perempuan itu. Saya tahu dari awal.”
Dia menarik napas.
“Saya kira uangnya benar. Saya kira kamu benar-benar ambil. Hendra tunjukin dokumen. Rapi. Lengkap. Saya nggak periksa. Saya nggak nanya.” Dia menutup matanya sebentar. “Saya mau kamu salah, Adrian. Itu kebenarannya. Saya mau kamu salah, karena kalau kamu salah, berarti saya benar soal kamu dari awal. Berarti ketakutan saya selama ini beralasan.”
Dia membuka matanya.
“Saya lihat kamu pertama kali di ruang tengah rumah saya. Kamu datang dengan jas pinjaman. Kamu bawa kue dari toko roti di Bandung. Kamu panggil saya Ibu, bukan Tante, dan kamu bilang saya mau menikah dengan putri Ibu karena saya mencintainya. Dan saya lihat kamu, dan saya lihat diri saya sendiri. Tiga puluh tahun lalu. Sekretaris dari Semarang dengan gaji tiga ratus ribu sebulan. Di ruang tengah yang sama. Ditatap Margareth Rexton kayak noda di taplak meja.”
Air matanya mengalir.
“Saya benci kamu karena kamu mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Saya benci kamu karena saya takut Bianca akan menderita seperti saya. Saya benci kamu karena saya pikir, kalau saya singkirkan kamu, saya bisa menyelamatkan anak saya dari tiga puluh tahun yang saya lewati.”
Dia menunduk. Akhirnya.
“Dan saya nggak menyelamatkan siapa-siapa. Saya cuma mengulangi apa yang Margareth lakukan ke saya. Ke kamu. Lebih buruk.”
Koridor itu sunyi.
Lampu neon berdengung. Dari kejauhan, suara langkah kaki petugas pengadilan. Bunyi pintu yang ditutup.
Veronica Rexton berlutut di depanku dengan kepala tertunduk dan bahu yang bergetar.
Aku menatapnya.
Dan aku menunggu.
Aku menunggu kemarahan. Kemarahan yang lima tahun kusimpan. Kemarahan yang kutulis di halaman pertama buku catatan hitam. Aku tidak akan memaafkan mereka. Mereka. Termasuk perempuan ini. Terutama perempuan ini.
Kemarahan itu ada. Aku bisa merasakannya. Panas. Di dada.
Tapi ada sesuatu yang lain di sampingnya. Sesuatu yang nggak kuduga.
“Ada satu hal lagi,” kata Veronica, masih menunduk. Suaranya hampir nggak terdengar. “Pagi itu. Waktu kamu telepon. Tiga kali.”
Aku membeku.
“Kamu bilang Elea nggak mau minum dari botol. Kamu bilang badannya mulai panas. Kamu minta… kamu minta bawa dia balik sebentar. Sekali aja. Buat disusuin.” Suaranya pecah. “Dan saya bilang nggak. Saya bilang Bianca nggak mau. Saya bilang jangan telepon lagi.”
Dia mengangkat kepala. Menatapku dengan wajah yang hancur.
“Dua belas jam, Adrian. Cucu saya dua belas jam nggak minum. Badannya panas. Dan saya yang nolak. Saya. Neneknya.”
Dia menutup wajahnya dengan dua tangan.
“Saya nggak tahu waktu itu,” bisiknya dari balik tangannya. “Saya nggak tahu dia sampai panas. Saya kira kamu cuma… cuma pakai bayi itu buat masuk lagi ke rumah. Saya kira itu taktik. Saya kira…”
Dia berhenti.
“Bi Sumi yang cerita. Minggu lalu. Setelah Bianca keluar dari rumah. Bi Sumi bilang dia yang angkat telepon keempat. Dia bilang kamu nangis. Dia bilang kamu tanya cara bikin Elea mau minum.”
Bahunya bergetar hebat.
“Laki-laki yang pakai bayi sebagai taktik nggak nangis di telepon jam sembilan pagi, nanya ke kepala pelayan cara bikin bayinya mau minum susu.”
Aku berlutut.
Aku nggak tahu kenapa. Aku nggak merencanakannya. Kakiku menekuk sendiri, dan lututku menyentuh lantai keramik koridor pengadilan, di depan Veronica Rexton.
Sekarang kami sejajar. Dua orang berlutut. Di lantai keramik yang kusam.
Dia menurunkan tangannya dari wajah. Dia menatapku. Kaget.
Aku menatapnya. Perempuan yang membenciku karena aku mengingatkannya pada dirinya sendiri. Perempuan yang menolak teleponku waktu anakku dua belas jam nggak minum. Perempuan yang mengusap punggung anaknya di sofa krem waktu aku berlutut.
Perempuan yang hari ini berdiri di tengah ruang sidang, di depan ratusan orang, dan bilang saya ingin menjadi saksi.
“Bu,” kataku.
Suaraku serak. Aku nggak tahu dari mana suara itu datang.
“Saya juga ayah.”
Dia menatapku.
“Lima tahun saya ayah. Sendirian. Saya tahu rasanya takut kehilangan anak. Saya tahu rasanya mau melindungi anak dari apa pun. Dari siapa pun. Dengan cara apa pun.” Aku menarik napas. “Saya bilang ke anak saya ibunya di bintang. Karena saya takut dia sedih. Karena saya mau melindungi dia. Saya bohong ke dia tiga tahun.”
Veronica menatapku dengan mata yang lebar.
“Jadi saya ngerti, Bu,” kataku pelan. “Saya ngerti kenapa Ibu takut. Saya ngerti kenapa Ibu mau melindungi Bianca. Saya ngerti rasanya lihat seseorang dan mikir orang ini bakal nyakitin anakku.”
Aku diam sebentar.
“Tapi Ibu salah cara.”
Dia menutup mulutnya.
“Ibu salah cara, Bu. Ibu bohong ke dia. Ibu putuskan buat dia. Ibu ambil pilihan dari dia, waktu dia lagi terlalu lemah buat milih sendiri. Dan Ibu sebut itu sayang.” Suaraku bergetar. “Saya juga salah cara. Saya bohong ke Elea. Saya putuskan buat dia. Saya ambil pilihan dari dia. Dan saya sebut itu melindungi.”
Aku menatapnya.
“Bedanya, Bu, saya udah minta maaf ke anak saya. Dan dia masih marah. Tapi dia biarin saya ngepang rambutnya lagi.”
Veronica menangis. Tanpa suara. Dengan bahu yang bergetar dan tangan yang menutup mulut.
“Saya belum bisa maafin Ibu,” kataku. “Saya nggak tahu kapan saya bisa. Mungkin nggak pernah. Mungkin besok. Saya nggak tahu.”
Aku berdiri.
Lalu aku mengulurkan tanganku. Ke Veronica. Yang masih berlutut di lantai keramik.
Dia menatap tanganku.
“Tapi saya nggak mau Ibu berlutut di depan saya,” kataku. “Saya pernah berlutut di depan Ibu. Saya tahu rasanya. Saya nggak mau siapa pun ngerasain itu karena saya. Bahkan Ibu.”
Dia menatap tanganku lama.
Lalu dia mengulurkan tangannya. Gemetar. Dan meletakkannya di tanganku.
Aku menariknya berdiri.
Kami berdiri di koridor pengadilan. Satu meter.
Veronica merapikan setelannya dengan tangan yang gemetar. Dia memungut sapu tangan yang jatuh ke lantai. Dia menyeka matanya. Riasannya luntur semua sekarang. Dia terlihat lebih tua. Lebih kecil.
Lebih manusia.
“Elea,” katanya pelan. “Dia… dia baik-baik aja?”
“Dia baik-baik aja.”
“Dia… dia pintar?”
“Dia bikin kontrak pakai pensil warna empat puluh delapan warna. Dia menang debat sama doktor statistik. Dia bilang krimer itu kejahatan terhadap kemanusiaan, karena dia dengar dari saya.”
Veronica tertawa. Pendek. Basah. Lalu tawanya pecah jadi isakan.
“Dia mirip Bianca?”
“Matanya. Tahi lalatnya. Cara dia miringin kepala.” Aku diam sebentar. “Dan cara dia keras kepala. Rexton nggak berhenti di tidak.”
Veronica menutup matanya.
“Robert yang bilang itu,” bisiknya. “Ke Bianca. Waktu dia kecil.”
“Saya tahu. Bianca cerita.”
Veronica menatapku lama. Lalu dia bertanya, dengan suara yang sangat pelan, seperti orang yang takut ditolak:
“Boleh saya ketemu dia? Suatu hari? Nggak sekarang. Saya tahu nggak sekarang. Tapi suatu hari?”
Aku menatap perempuan di depanku.
Aku memikirkan Elea. Duduk di lantai lorong, dengan Mr. Snuggles di pelukan, bertanya Papa percaya Elea? Memeluk lima amplop putih tanpa membukanya. Menggambar perempuan dengan wajah lengkap dan menulis TANTE BIANCA. CANTIK. TAPI MASIH TANTE.
Elea yang memilih sendiri. Kapan memanggil Tante. Kapan memanggil Mama. Kapan percaya. Kapan marah.
“Itu bukan pilihan saya, Bu,” kataku.
Veronica menunduk.
“Itu pilihan Elea,” lanjutku. “Suatu hari, kalau dia tanya soal nenek-neneknya, saya akan bilang yang benar. Semuanya. Tanpa bohong. Dan kalau dia mau ketemu Ibu, saya nggak akan halangin.”
Veronica mengangkat kepala.
Kalau suatu hari Bianca mau ketemu, aku nggak akan halangin.
Kalimat yang sama. Lima tahun lalu, ke Bi Sumi, di telepon, jam sembilan pagi. Kalimat yang nggak pernah sampai ke Bianca, karena perempuan di depanku menyembunyikannya.
Sekarang aku mengucapkannya lagi. Langsung. Ke perempuan yang dulu menyembunyikannya.
Veronica menyadarinya. Aku bisa melihat dia menyadarinya. Wajahnya berubah. Dari kaget. Ke malu. Ke sesuatu yang lebih dalam dari malu.
“Terima kasih,” bisiknya.
Aku mengangguk. Lalu aku berbalik, dan berjalan ke arah pintu keluar.
“Adrian.”
Aku berhenti.
“Bianca,” kata Veronica di belakangku. “Dia… dia bahagia? Sekarang?”
Aku nggak menoleh.
Aku memikirkan kantin pengadilan. Teh manis yang dingin. Bianca yang tertawa sampai Bu Laras khawatir. Tangannya yang menggenggam ujung jariku di pagar. Napasnya di telepon yang tersambung semalaman.
“Belum,” kataku. “Tapi dia lagi belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar nggak diam.”
Aku keluar.
Di tempat parkir, aku duduk di mobil dan nggak langsung menyalakan mesin.
Aku menatap tanganku. Tangan yang menarik Veronica Rexton berdiri dari lantai keramik.
Lima tahun lalu, nggak ada yang menarikku berdiri. Satpam mendorong bahuku keluar pintu. Pengacara keluarga menyerahkan amplop cokelat. Bianca nggak menoleh.
Aku berdiri sendiri. Di bawah hujan. Dengan bayi empat bulan di dadaku.
Hari ini, aku menarik seseorang berdiri.
Aku nggak tahu apa artinya itu. Aku nggak tahu apakah itu berarti aku sudah memaafkan. Aku nggak tahu apakah itu berarti aku lemah.
Aku cuma tahu bahwa waktu tangannya ada di tanganku, gemetar, kemarahan di dadaku nggak hilang. Tapi bergeser. Sedikit. Memberi ruang untuk sesuatu yang lain.
Sesuatu yang mirip lega.
Aku menyalakan mesin.
Ponselku bergetar. Pesan.
Bi.
Kamu di mana? Tasya bilang kamu ke parkiran 30 menit lalu. Mama juga hilang. Kamu ketemu Mama?
Aku menatap pesan itu.
Lalu aku mengetik.
Ketemu. Di koridor depan ruang jaksa.
Balasan datang dalam dua detik.
Terus?
Aku menatap jendela mobil. Gedung pengadilan di sore hari. Langit yang mulai jingga.
Dia berlutut. Aku tarik dia berdiri.
Hening di layar. Lama. Satu menit. Dua.
Lalu:
Kenapa?
Aku memikirkan pertanyaan itu.
Karena aku pernah berlutut di depan dia. Aku nggak mau dia ngerasain itu karena aku.
Hening lagi. Lebih lama.
Lalu pesan terakhir. Dengan banyak salah ketik, seperti orang yang mengetik sambil menangis.
Kamu orang paling baik yg pernah aku kenal. Dulu juga. Skrg lebih. Aku nggak pantes. Tapi aku tetep sayang kamu. Hati2 di jalan, Dok.
Aku menatap pesan itu sampai layar meredup.
Lalu aku menyalakan layar lagi. Dan mengetik.
Kamu juga. Hati-hati di jalan, Bi.
Aku menghapusnya.
Aku mengetik lagi.
Aku tunggu kamu di rumah. Elea mau tahu Tante yang berani. Bi Imah masak rendang.
Kirim.
Lalu aku menyetir pulang.
Elea menungguku di pintu depan.
“PAPA! Om Bayu bilang Papa ke pengadilan! Om Bayu bilang Tante bersaksi! Om Bayu bilang Tante berani banget! Om Bayu bilang Tante bilang hal-hal yang susah di depan banyak orang!”
“Selamat datang di rumah,” kata pintu depan.
Aku berlutut. Memeluk anakku. Rambutnya wangi kaporit dari kolam renang.
“Iya, Sayang. Tante berani banget.”
“Lebih berani dari Elea waktu petir?”
“Jauh lebih berani.”
Elea menarik diri. Menatapku dengan mata yang serius.
“Papa,” katanya. “Tante datang?”
“Tante datang. Nanti. Habis maghrib.”
Elea menatapku lama. Lalu dia berlari ke dapur, berteriak, “NENEK! TANTE DATANG! ELEA MAU KASIH GAMBAR!”
Bi Imah muncul di ambang dapur dengan sutil di tangan. Dia menatapku. Lalu dia menatap wajahku. Lama.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
“Nggak kenapa-kenapa, Bi.”
“Bohong. Muka kamu beda.”
Aku menatap Bi Imah. Perempuan tua yang membesarkanku sejak sembilan tahun. Yang membuka pagar untuk laki-laki pemabuk yang basah kuyup di musim hujan di Bandung. Yang jahat urusan Tuhan. Yang kedinginan urusan kita.
“Bi,” kataku. “Hari ini aku ketemu ibunya Bianca. Dia berlutut. Di depanku.”
Bi Imah diam.
“Aku tarik dia berdiri.”
Bi Imah menatapku lama. Lalu dia meletakkan sutilnya di meja dapur. Dia berjalan ke arahku. Dia menempelkan telapak tangannya di pipiku. Seperti waktu aku sembilan tahun dan jatuh dari sepeda.
“Itu anak Bibi,” katanya pelan. Matanya basah. “Itu anak yang Bibi besarin.”
Dia menepuk pipiku dua kali. Lalu dia kembali ke dapur.
“Selamat datang di dapur,” kata speaker di dinding.
“Iya, iya,” jawab Bi Imah. “Rendangnya hampir mateng. Jangan berisik.”
Dan aku mendengarnya bersenandung. Lagu Rhoma Irama. Pelan. Dengan suara yang bergetar.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica reading
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama