Chapter Thirty Eight

Kesalahan

POV: Bianca


Aku bangun sebelum dia.

Jam lima lewat sepuluh. Langit di luar jendela mulai abu-abu. Burung-burung di pohon mangga mulai bersahutan. Dari kejauhan, azan subuh.

Aku berbaring miring, menghadapnya.

Dia tidur telentang. Satu tangan di dada, satu tangan terulur ke arahku, telapak terbuka di atas seprai, seperti orang yang meraih sesuatu dalam tidur. Rambutnya berantakan. Napasnya teratur. Di dahinya, nggak ada keringat lagi.

Aku menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Kebiasaan. Kebiasaannya, yang sekarang jadi kebiasaanku.

Normal.

Aku menatap wajahnya. Tanpa kacamata. Garis-garis halus di sudut mata yang dulu nggak ada. Bayangan janggut tipis di rahang, karena dia nggak bercukur dua hari. Bulu mata yang lebih panjang dari yang kuingat.

Lima tahun lalu, setiap pagi, aku bangun sebelum dia dan menatap wajahnya seperti ini. Lalu aku turun ke dapur dan membuat kopi tubruk. Dua sendok. Air mendidih. Tiga kali aduk. Supaya waktu dia bangun, hal pertama yang dia cium adalah kopi, dan hal pertama yang dia lihat adalah aku.

Pagi ini, aku nggak turun ke dapur.

Pagi ini, aku cuma mau menatapnya sedikit lebih lama.

Aku nggak pernah berhenti sayang kamu. Itu yang paling aku benci.

Aku menyentuh tangannya yang terulur di atas seprai. Ujung jariku di telapak tangannya.

Dalam tidur, jari-jarinya menutup. Menggenggam jariku.

Aku menutup mata. Dan tersenyum.


Dia bangun jam enam.

Aku tahu dia bangun karena genggamannya di jariku berubah. Mengencang. Lalu mengendur. Lalu terlepas.

Aku membuka mata.

Dia menatap langit-langit. Wajahnya kosong. Nggak ada senyum. Nggak ada kantuk.

Lalu dia menoleh. Menatapku.

Dan aku melihatnya.

Aku melihat sesuatu runtuh di matanya. Bukan seperti kaca yang retak. Seperti bendungan yang jebol. Pelan, lalu sekaligus. Ketakutan. Panik. Sesuatu yang dingin dan tajam.

Dia duduk. Cepat. Menarik selimut. Turun dari kasur. Berdiri di sudut kamar, membelakangiku, mencari sesuatu di lantai. Kausnya. Jaketnya. Kacamatanya.

Dia menemukan kacamatanya di meja samping kasur. Memakainya. Tangannya gemetar.

“Adrian?”

Dia nggak menoleh.

“Adrian. Kamu nggak apa-apa? Demam lagi?”

Dia berdiri di sudut kamar, di dekat jendela, dengan kaus yang dipakai terbalik dan kacamata yang miring. Bahunya tegang. Punggungnya kaku.

“Bi,” katanya. Ke jendela. Bukan ke aku. “Semalam.”

Aku duduk. Menarik selimut ke dada.

“Semalam,” ulangnya. Suaranya datar. Datar seperti di ruang rapat. Datar seperti di lobi hotel. Datar seperti suara yang dia pakai di hari pertama dia kembali. “Itu kesalahan.”


Aku nggak bergerak.

Kata itu jatuh di antara kami. Di kamar yang masih remang. Di atas seprai yang kuganti sendirian semalam. Di atas jaket wol abu-abu yang masih tergeletak di lantai.

Kesalahan.

“Aku demam,” lanjutnya. Masih ke jendela. “Aku nggak tidur tiga hari. Aku nggak berpikir jernih. Aku bilang hal-hal yang…” Dia berhenti. “Aku bilang hal-hal yang nggak seharusnya aku bilang.”

“Kamu bilang kamu nggak demam lagi,” kataku pelan. “Tiga puluh tujuh koma delapan. Aku yang ukur.”

“Itu nggak berarti aku berpikir jernih.”

“Kamu bilang kamu nggak pernah seyakin itu soal apa pun.”

Dia diam.

“Kamu bilang,” lanjutku, dan suaraku mulai bergetar, “lima tahun kamu nunggu ada yang ketuk pintu. Dan yang kamu tunggu selalu aku.”

Bahunya bergetar. Sekali.

“Itu kesalahan juga?”

Dia berbalik. Akhirnya. Menatapku.

Wajahnya pucat. Bukan karena demam. Matanya di balik kacamata yang miring merah dan basah dan takut. Sangat takut.

“Bi,” katanya. “Aku nggak bisa.”

“Nggak bisa apa?”

“Ini.” Dia menunjuk kasur. Aku. Dirinya sendiri. Kamar ini. “Aku nggak bisa. Belum. Aku…”

Dia menarik napas. Gemetar.

“Lima tahun aku bangun benteng. Batu demi batu. Setiap hari. Di Oxford. Di flat Cowley. Di depan lemari es. Aku bangun benteng supaya nggak ada yang bisa masuk dan hancurin aku lagi kayak malam itu.” Suaranya pecah. “Dan semalam, dalam satu malam, kamu masuk. Kamu nggak ketuk. Kamu langsung masuk. Dan aku… aku biarin. Aku buka semua pintunya. Aku bilang semua yang aku sembunyiin lima tahun.”

“Dan itu salah?”

“Itu menakutkan, Bi.” Dia menatapku dengan mata yang hancur. “Karena kalau aku buka semua pintunya, dan kamu pergi lagi… kalau suatu hari kamu diam lagi… kalau suatu hari ada yang sodorin foto lagi, dan kamu percaya lagi…”

Dia berhenti.

“Aku nggak akan bisa bangun benteng lagi,” bisiknya. “Aku nggak punya batu lagi. Aku udah pakai semua batu yang aku punya. Lima tahun. Buat Elea. Buat bertahan. Kalau kamu hancurin aku lagi, aku nggak akan bisa bangun lagi.”

Aku menatapnya.

Lalu aku mengerti.

Ini bukan soal semalam. Bukan soal demam. Bukan soal kesalahan.

Ini soal laki-laki yang berlutut di karpet Persia dan nggak dijawab. Yang menunggu tiga detik di ambang pintu. Yang menelepon empat kali pagi itu, memohon anaknya disusui, dan ditolak. Yang lima tahun menunggu seseorang mengetuk pintu dan nggak ada yang datang.

Laki-laki itu nggak takut padaku.

Laki-laki itu takut pada dirinya sendiri. Pada betapa gampangnya dia membuka pintu untukku. Pada betapa besarnya sesuatu yang dia sembunyikan di balik benteng itu.

Dan pada betapa hancurnya dia nanti, kalau aku membuktikan bahwa ketakutannya benar.


Aku turun dari kasur.

Aku mengambil bajuku dari kursi. Kemeja yang kusut dengan noda bubur di kerah. Celana panjang. Aku memakainya. Pelan. Dengan tangan yang gemetar tapi gerakan yang tenang.

Dia berdiri di sudut kamar, menatapku.

Aku selesai memakai baju. Aku mengikat rambutku dengan ikat rambut yang kutemukan di meja samping kasur, di samping termometer dinosaurus hijau.

Lalu aku berjalan ke arahnya. Berhenti satu meter di depannya.

“Oke,” kataku.

Dia menatapku. Bingung.

“Kamu bilang itu kesalahan. Oke.” Aku menatapnya. Langsung. Tanpa berkedip. “Aku dengar. Aku nggak akan bantah. Kamu berhak bilang itu kesalahan. Kamu berhak takut. Kamu berhak bangun benteng lagi kalau kamu mau.”

Dia membuka mulut.

“Tapi aku mau kamu dengar satu hal,” lanjutku. “Dan setelah ini aku pulang.”

Aku melangkah maju. Setengah meter.

“Aku tetap cinta kamu,” kataku. “Kesalahan atau bukan.”

Matanya basah.

“Kamu boleh sebut semalam kesalahan. Kamu boleh sebut apa aja. Kamu boleh nggak ngomong sama aku seminggu. Sebulan. Kamu boleh buang kopiku ke wastafel lagi. Kamu boleh bikin aku berdiri tanpa kursi lagi.” Suaraku bergetar. Aku membiarkannya. “Aku tetap cinta kamu. Besok juga. Lusa juga. Setiap hari. Karena itu bukan sesuatu yang aku pilih. Itu sesuatu yang aku tahu. Kayak aku tahu kopi tubruk kamu dua sendok. Kayak aku tahu kamu selalu lupa bawa jaket ke Puncak.”

Aku menyentuh dadanya. Di atas kaus yang dipakai terbalik. Di tempat jantungnya.

Berdentum.

“Dan kalau suatu hari kamu siap buka pintu lagi,” bisikku, “aku nggak akan langsung masuk. Aku bakal ketuk. Dulu. Pelan-pelan. Dan nunggu sampai kamu bilang boleh.”

Aku menarik tanganku.

“Aku pulang. Kamu istirahat. Kalau demam lagi, telepon. Atau jangan telepon. Aku tetap datang. Itu bukan buat kamu. Itu buat aku. Aku nggak bisa biarin kamu sendirian lagi waktu demam.”

Aku berjalan ke pintu.

“Bi.”

Aku berhenti. Nggak menoleh.

“Maaf,” bisiknya.

Aku diam sebentar.

“Jangan minta maaf karena takut, Adrian,” kataku. “Aku juga takut. Lima tahun. Itu yang bikin aku diam malam itu. Takut.” Aku menarik napas. “Bedanya, sekarang aku tetap datang walaupun takut. Mungkin nanti kamu juga bisa.”

Aku keluar.


“Sampai jumpa,” kata pintu depan.

Aku nggak menjawab.

Aku berjalan ke mobilku. Aku masuk. Aku menutup pintu.

Lalu aku menyandarkan dahiku ke setir, dan menangis sampai matahari naik.

Bukan karena dia bilang kesalahan.

Aku menangis karena aku tahu persis rasanya. Rasa takut yang membuat orang menyebut sesuatu yang paling benar dalam hidupnya sebagai kesalahan. Lima tahun lalu, rasa takut yang sama membuatku menyebut suamiku pengkhianat dan anakku sesuatu yang nggak mau kulihat.

Aku menangis karena dia sedang melakukan hal yang sama. Dan aku nggak bisa menyalahkannya. Karena aku yang mengajarinya.


Aku nggak menghubunginya selama empat hari.

Tapi setiap pagi, jam tujuh, aku mengantar dua kopi ke kantor Hallworth. Sachet dan tubruk. Aku meletakkannya di mejanya. Aku bilang pagi, Dok. Aku pergi.

Dia nggak ada di kantor hari Senin. Masih istirahat, kata Bayu. Aku meninggalkan kopinya di meja.

Hari Selasa, dia ada. Dia menatapku waktu aku masuk. Dia nggak bicara. Aku juga nggak. Aku meletakkan kopi. Aku pergi.

Hari Rabu, sama.

Hari Kamis, sama.

Bayu bilang, di grup senam Zumba yang sekarang punya lima puluh satu anggota, bahwa Mas Adrian minum kopi tubruknya setiap hari. Hangat. Sampai habis. Setelah aku pergi.

Tasya bilang, di grup yang sama, bahwa Bu Bianca menangis di toilet eksekutif lantai empat puluh setiap hari Senin sampai Kamis jam tujuh lewat lima belas. Pas setelah antar kopi.

Pak Darto bilang dia nggak lihat apa-apa. Telinganya nggak bagus. Matanya juga.


Sabtu, kunjungan ketujuh.

Elea sudah pulang dari Bandung. Bi Imah juga. Aku tahu, karena Bi Imah mengirimiku pesan hari Jumat malam: Neng, Bibi udah pulang. Makasih udah jagain Adrian. Bibi tahu semuanya dari muka dia. Dia bodoh. Bibi udah marahin. Sabtu datang ya. Bibi masak sayur asem.

Aku datang jam sepuluh.

Elea membukakan pintu dengan wajah bersemangat yang langsung berubah waktu melihatku.

“Tante kenapa?”

“Tante nggak apa-apa, Sayang.”

“Tante bohong.” Elea menyipitkan mata. “Mata Tante kayak Elea kalau habis nangis. Bengkak.”

“Tante kurang tidur.”

Elea menatapku lama. Lalu dia menoleh ke dalam rumah. Ke ruang tengah. Ke kursi tunggal, tempat ayahnya duduk dengan lengan terlipat dan wajah yang nggak bisa dibaca.

Elea menatap ayahnya. Lalu menatapku. Lalu ayahnya lagi.

Dia tahu. Anak lima tahun itu tahu.

“Papa,” kata Elea, dengan suara yang tiba-tiba sangat dingin. “Papa bikin Tante sedih?”

“Elea—“

“Kontrak nomor dua.” Elea berjalan ke lemari es. Dia berjinjit. Dia menarik kontrak dari bagian paling atas pintu lemari es, yang ditempel dengan magnet berbentuk stroberi. Dia membawanya ke ruang tengah. Dia membukanya di depan ayahnya. “Kalau Papa dan Tante Bianca berantem, harus baikan sebelum Elea tidur.“

“Kami nggak berantem, Sayang.”

“Kalau nggak berantem, kenapa Tante matanya bengkak? Kenapa Papa mukanya kayak rapat?”

Adrian nggak bisa menjawab.

Elea menatap ayahnya dengan tatapan yang sama persis dengan tatapan Oma Margareth di ujung meja rapat. Dingin. Menilai. Menghakimi.

Aku hampir tertawa. Hampir menangis.

“Papa,” kata Elea. “Papa udah tanda tangan kontraknya. Papa nggak bisa batalin. Om Bayu bilang.”

“Om Bayu bukan pengacara—“

“Elea nggak mau ngomong sama Papa,” kata Elea. Dia berbalik. Dia menggandeng tanganku. “Sampai Papa baikan sama Tante.”

Lalu dia menarikku ke dapur. Ke Bi Imah. Ke sayur asem yang mendidih di kompor gas portabel.

Di belakang kami, Adrian duduk sendirian di kursi tunggal.


Elea benar-benar nggak bicara dengan ayahnya selama dua jam.

Waktu Adrian bertanya mau minum apa, Elea bilang ke Bi Imah, “Nenek, bilang ke Papa, Elea mau es teh.”

Waktu Adrian bertanya mau main apa, Elea bilang ke aku, “Tante, bilang ke Papa, Elea mau main origami sama Tante aja.”

Waktu Adrian bertanya kenapa kepangannya miring, Elea bilang ke Bi Imah, “Nenek, bilang ke Papa, yang ngepang Tante, dan Tante udah lebih bagus dari minggu lalu. Kalau Papa mau komentar, Papa harus baikan dulu.”

Bi Imah menyampaikan setiap pesan dengan wajah serius dan nada resmi, seperti juru bicara istana. Lalu dia berbalik ke kompor dan bahunya bergetar karena menahan tawa.

Aku nggak tertawa. Aku nggak bisa.

Karena setiap kali Elea menolak bicara dengan ayahnya, aku melihat wajah Adrian. Laki-laki yang membesarkan anak ini sendirian lima tahun. Yang mengepang rambutnya setiap pagi. Yang menyanyikan dangdut dengan suara pintu berderit jam tiga pagi.

Didiamkan anaknya sendiri. Karena aku.

Jam dua belas kurang sepuluh, sebelum kunjungan berakhir, aku berlutut di depan Elea di ruang tengah.

“Elea,” kataku pelan. “Tante mau minta satu hal.”

Elea menatapku.

“Ngomong sama Papa.”

“Nggak mau. Papa bikin Tante sedih.”

“Papa nggak bikin Tante sedih, Sayang.” Aku menyentuh lengannya. “Papa lagi takut. Kadang kalau orang takut, mereka bilang hal-hal yang bikin orang lain sedih. Tapi itu bukan karena mereka jahat. Itu karena mereka takut.”

“Papa takut apa?”

Aku menatap Adrian, yang berdiri di ambang dapur. Yang menatapku dengan mata yang nggak bisa kubaca.

“Papa takut Tante pergi lagi,” kataku. “Kayak dulu.”

Elea diam. Lalu dia menoleh ke ayahnya.

“Papa,” katanya. Untuk pertama kalinya dalam dua jam, langsung ke ayahnya. “Papa takut Tante pergi?”

Adrian nggak menjawab.

“Tante nggak akan pergi,” kata Elea dengan keyakinan penuh. “Peraturan nomor sebelas. Tante udah tanda tangan. Pakai pulpen emas.”

Adrian menatap anaknya.

“Papa harus percaya,” kata Elea. “Papa percaya Elea, kan?”

“…Selalu.”

“Elea percaya Tante. Jadi Papa juga harus percaya Tante.” Elea mengangguk dengan sangat puas, seperti baru menyelesaikan soal matematika yang sangat sulit. “Itu logika.”

“Logika dari mana, Sayang?”

“Dari Om Bayu,” kata Elea. “Om Bayu bilang kalau A sama dengan B, dan B sama dengan C, berarti A sama dengan C. Papa percaya Elea. Elea percaya Tante. Berarti Papa percaya Tante.”

Bi Imah menjatuhkan sendok sayur di dapur.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Adrian menatap anaknya lama sekali. Lalu, untuk pertama kalinya dalam seminggu, dia tertawa. Pendek. Patah. Hampir nggak terdengar.

“Logikanya nggak gitu, Sayang,” katanya pelan.

“Logikanya gitu,” kata Elea, dan berlari ke dapur untuk memeluk Bi Imah.


Adrian mengantarku ke pagar.

Kami berjalan tanpa bicara. Pot-pot bunga. Pohon mangga. Ayunan ban bekas.

Di pagar, aku berbalik.

Dia berdiri satu meter dariku. Jarak yang sama. Selalu.

“Elea didiemin kamu karena aku,” kataku. “Maaf.”

“Bukan karena kamu.”

“Karena aku.”

“Karena aku,” katanya. “Aku yang bilang kesalahan. Bukan kamu.”

Aku menatapnya.

Dia menatapku balik. Lama. Lalu dia bicara, dengan suara yang pelan dan berat.

“Bi. Yang aku bilang pagi itu. Soal benteng. Soal batu.”

“Iya.”

“Itu benar. Aku takut.” Dia diam sebentar. “Tapi yang aku bilang malam sebelumnya. Soal ketuk pintu. Soal nggak pernah berhenti.”

Aku menunggu.

“Itu juga benar,” katanya. “Dua-duanya benar. Aku takut. Dan aku nggak pernah berhenti. Dua-duanya. Barengan.”

Aku nggak bisa bicara.

“Aku nggak tahu cara pegang dua-duanya,” lanjutnya. “Aku cuma tahu cara pegang satu. Lima tahun aku cuma pegang takut. Dan sekarang aku nggak tahu cara taruh takutnya, biar tangan aku bisa pegang yang satunya.”

Aku menatapnya.

Lalu aku mengulurkan tanganku. Telapak terbuka. Di antara kami. Di depan pagar hitam.

“Nggak usah taruh takutnya,” kataku. “Pegang aja dua-duanya. Satu di tangan kiri. Satu di tangan kanan. Kalau berat, aku bantu pegang yang satu.”

Dia menatap tanganku.

Lama.

Lalu dia mengulurkan tangannya. Pelan. Dan menyentuh ujung jariku. Cuma ujung jari. Nggak menggenggam. Cuma menyentuh.

“Belum bisa,” bisiknya. “Tapi aku coba.”

“Itu cukup,” bisikku.

Aku menarik tanganku. Membuka pagar. Melangkah keluar.

“Besok,” kataku. “Jam tujuh.”

“Besok Minggu, Bi. Kantor tutup.”

Aku menoleh. Tersenyum.

“Aku tahu,” kataku. “Aku antar ke rumah.”

Lehernya merah.

Untuk pertama kalinya dalam seminggu.