Chapter Thirty Nine

Tawaran Oma

POV: Adrian


Surat itu datang hari Selasa. Lewat kurir pengadilan. Amplop cokelat dengan kop Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Bi Imah yang menerimanya di pintu. Dia membawanya ke ruang kerjaku di lantai dua, meletakkannya di meja, dan berdiri di sana, menunggu.

“Dari pengadilan, Adrian,” katanya. “Bibi takut.”

“Mungkin soal kasus Hendra, Bi. Panggilan saksi.”

Aku membukanya.

Bukan panggilan saksi.

Gugatan Hak Asuh Anak.

Penggugat: Bianca Rexton.

Tergugat: Adrian Renaldi.

Objek gugatan: Hak asuh atas anak bernama Elea Renaldi, perempuan, lima tahun.

Aku membaca halaman pertama. Lalu halaman kedua. Lalu halaman ketiga.

…Tergugat telah membawa anak tersebut ke luar negeri pada saat Penggugat dalam kondisi kesehatan mental yang tidak stabil pasca-melahirkan, tanpa persetujuan tertulis Penggugat… Tergugat memutus seluruh komunikasi antara anak dan ibu kandungnya selama lima tahun… Tergugat secara sistematis menanamkan kebohongan kepada anak bahwa ibu kandungnya telah meninggal dunia… Tergugat, melalui syarat kontrak kerja, secara melawan hukum melarang ibu kandung berada dalam radius lima puluh meter dari anaknya sendiri…

…Oleh karena itu, Penggugat memohon kepada Majelis Hakim untuk menetapkan hak asuh penuh atas anak kepada Penggugat, dengan hak kunjungan terbatas bagi Tergugat…

Di halaman terakhir, tanda tangan kuasa hukum. Firma hukum keluarga Rexton. Tiga nama partner senior.

Dan di bawahnya, di kolom Prinsipal, sebuah tanda tangan.

Rapi. Sedikit miring ke kiri.

Tanda tangan yang kukenal dari kartu ulang tahun. Dari catatan belanja di kulkas rumah Menteng. Dari buku nama bayi. Dari surat yang dia tinggalkan di meja samping pintu, setelah berlutut dua puluh menit. Kali ini aku yang nunggu.

Dari kontrak Elea, di bawah pohon mangga. Dengan Montblanc hitam berujung emas.


Aku nggak tahu berapa lama aku duduk menatap tanda tangan itu.

Aku tahu bahwa Bi Imah berdiri di sampingku sepanjang waktu, dan nggak bicara.

Aku tahu bahwa tanganku dingin. Dingin yang sama seperti malam di Menteng, waktu Hendra melempar foto-foto ke meja marmer.

Aku tahu bahwa ada suara di kepalaku. Suara yang sudah lima tahun tinggal di sana. Suara yang kukenal lebih baik dari suaraku sendiri.

Sudah kubilang.

Sudah kubilang dia akan begini.

Kamu buka pintunya. Kamu biarkan dia masuk. Dia suapin kamu bubur gosong dan nyanyi dangdut dan cium bekas luka di lengan kamu. Dan sekarang dia mau ambil Elea.

Itu rencananya dari awal. Berlutut. Kopi tiap pagi. Sandal jepit katak. Pasar Cicadas. Makam Ibu. Semuanya. Supaya kamu lengah. Supaya kamu buka benteng. Supaya dia bisa masuk dan ambil satu-satunya hal yang kamu punya.

Kamu bodoh. Lima tahun, dan kamu masih bodoh.

“Adrian,” kata Bi Imah pelan.

Aku nggak bisa menjawab.

“Itu tanda tangan dia?”

“Kelihatannya.”

“Kelihatannya,” ulang Bi Imah. “Atau beneran?”

Aku menatap tanda tangan itu.

“Aku nggak tahu, Bi.”


Bayu datang satu jam kemudian. Dia membaca gugatan itu di meja makan, dua kali, dengan wajah yang makin lama makin pucat.

“Mas,” katanya akhirnya. “Ini serius. Ini firma hukum terbesar di Jakarta. Mereka nggak main-main. Dan alasan-alasannya…” Dia menunjuk paragraf demi paragraf. “Bawa anak ke luar negeri tanpa izin tertulis. Bohong soal ibunya meninggal. Syarat lima puluh meter. Mas, secara hukum, semua ini bisa dipakai. Hakim bisa lihat ini sebagai pola. Ayah yang mengisolasi anak dari ibunya.”

“Dia yang bilang bawa anak itu.”

“Ada saksi? Selain kamu?”

Aku diam. Saksi malam itu. Hendra. Veronica. Oma. Marcel. Pengacara keluarga. Satpam.

Pak Darto.

Dan Bianca sendiri.

“Dan surat cerai,” lanjut Bayu. “Kamu nulis di halaman terakhir, hak asuh Elea ada pada saya, kamu sendiri yang bilang. Itu tulisan tangan kamu. Bukan bagian dari dokumen resmi. Pengacara mereka bisa bilang itu kamu memaksakan, bukan kesepakatan.”

Aku menatap gugatan itu.

“Mas,” kata Bayu pelan. “Kamu yakin Bianca yang tanda tangan ini?”

“Tanda tangannya mirip.”

“Mirip bukan berarti asli. Kamu yang tunjukin ke dia bedanya. Tanda tangan rekening yang dipalsukan. Huruf A yang tegak, bukan miring.” Bayu menatapku. “Keluarga ini udah pernah palsuin tanda tangan sekali, Mas. Tanda tangan kamu.”

Aku menatap Bayu.

“Tapi kalau asli,” kataku. “Kalau dia beneran tanda tangan. Kalau semua ini…”

Aku nggak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Bayu juga nggak menyelesaikannya untukku.


Jam empat sore, pintu depan bicara.

“Ada tamu di pintu depan.”

Aku melihat dari jendela ruang tengah.

Sebuah mobil sedan hitam, mewah, dengan sopir berseragam, berhenti di depan pagar. Sopir itu turun, membuka pintu belakang.

Dan dari pintu itu, dengan tongkat berkepala perak dan kebaya sutra ungu tua dan rambut putih yang disanggul rapi, turun Margareth Rexton.

Bi Imah, di sampingku, menahan napas.

“Itu…”

“Iya, Bi.”

“Mau apa dia ke sini?”

Aku nggak menjawab. Aku berjalan ke pintu depan.


Oma Margareth duduk di sofa ruang tengahku seperti duduk di singgasana.

Punggung tegak. Tangan terlipat di atas tongkat perak. Kebaya ungu tua yang nggak kusut sedikit pun. Mata yang tajam dan dingin, menyapu ruang tengah. Foto-foto Elea di dinding. Rak buku. Lemari es yang terlihat dari ruang tengah, penuh gambar krayon.

Dia menatap lemari es itu lama. Matanya berhenti di gambar terbaru. Tiga orang di kebun stroberi. Perempuan dengan kepang satu dan wajah yang lengkap.

Lalu dia menatapku.

“Kamu sudah terima suratnya,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Sudah.”

“Bagus. Itu menghemat waktu.” Oma meletakkan tongkatnya di samping sofa. “Saya nggak akan lama, Adrian. Saya sudah tua. Saya nggak suka basa-basi.”

“Silakan.”

“Kasus Hendra.” Oma menatapku. “Laporan kamu ke Bareskrim. Bukti-bukti yang kamu serahkan. Saksi perempuan dari Bekasi itu. Kelvin Tan dari Singapura. Semua itu.”

“Kenapa?”

“Cabut.”

Aku nggak bergerak.

“Cabut laporannya. Tarik saksinya. Kirim surat ke Kejaksaan bahwa ada kekeliruan dalam bukti-bukti kamu. Hallworth bisa lanjut dengan Rexton tanpa Hendra di posisi keuangan. Itu sudah terjadi. Hendra sudah dinonaktifkan. Marcel sudah diskors. Hukuman mereka sudah cukup.” Oma mengangkat dagunya sedikit. “Yang tersisa cuma nama Rexton di pengadilan. Di koran. Di televisi. Saya nggak mau itu.”

“Dan kalau saya cabut?”

“Saya cabut gugatan hak asuh.” Oma menatapku tanpa berkedip. “Kamu tetap pegang anak itu. Bianca tetap boleh kunjungan hari Sabtu, kalau kamu mau. Semua kembali seperti minggu lalu.”

Aku menatapnya.

“Dan kalau saya nggak cabut?”

Oma tersenyum. Senyum yang tipis dan dingin, senyum yang sama dengan senyum di kursi beludru hijau lima tahun lalu, waktu dia menatapku seperti noda di taplak meja.

“Firma hukum saya nggak pernah kalah di kasus hak asuh, Adrian. Tiga puluh tahun. Nggak sekali pun.” Dia mengetukkan jarinya di kepala tongkat. “Kamu laki-laki yang membawa bayi ke luar negeri tanpa izin ibunya. Yang bilang ke anak bahwa ibunya meninggal. Yang pakai kontrak bisnis untuk melarang ibu mendekati anaknya sendiri. Hakim mana pun di negeri ini akan lihat itu. Dan Bianca, sekarang, sudah pulih. Sehat. CEO. Punya rumah. Punya keluarga. Punya nama.”

“Dia nggak tinggal sama keluarganya. Dia keluar dari rumah Menteng.”

“Dia akan kembali.” Oma menatapku. “Semua Rexton akhirnya kembali.”

Aku menatap perempuan tua itu.

“Bianca tahu Oma ke sini?”

Oma diam sebentar. Satu detik. Terlalu lama.

“Bianca tanda tangan gugatannya,” katanya. “Kamu lihat sendiri.”

Aku menatapnya.

Dan di detik itu, di ruang tengah rumah sewa di Kebayoran, dengan Oma Margareth di sofa dan Bi Imah berdiri kaku di ambang dapur dan Bayu di tangga dengan wajah yang pucat, aku dihadapkan pada pilihan yang sama.

Pilihan yang sama yang dihadapi Bianca lima tahun lalu.

Di depanku ada bukti. Tanda tangan. Dokumen resmi. Firma hukum terbesar di Jakarta. Kalimat-kalimat yang tersusun rapi, dengan fakta-fakta yang memang benar. Aku memang membawa Elea ke luar negeri. Aku memang bilang ibunya di bintang. Aku memang memasang syarat lima puluh meter.

Dan di depanku ada seseorang yang lebih tua, lebih kuat, lebih berkuasa, yang bilang dengan suara yang tenang dan yakin: dia mengkhianatimu. Lihat buktinya.

Lima tahun lalu, Bianca duduk di sofa krem dengan bukti di meja dan suara Mama di telinganya. Dan dia memilih percaya pada bukti.

Hari ini, aku duduk di kursi tunggal dengan bukti di meja dan suara Oma di ruang tengahku.

Dan suara di kepalaku, suara yang sudah lima tahun tinggal di sana, bilang: percaya buktinya. Kamu ilmuwan. Kamu percaya data. Ini datanya.

Aku menatap tanda tangan di halaman terakhir gugatan itu. Rapi. Sedikit miring ke kiri.

Lalu aku memejamkan mata.

Dan aku melihat yang lain.

Aku melihat perempuan yang berlutut dua puluh menit di lantai ruang tengah ini, dan nggak minta apa-apa.

Aku melihat perempuan yang duduk di lorong delapan jam, dengan kaki telanjang di lantai kayu yang dingin, karena Elea bilang jangan masuk.

Aku melihat perempuan yang menolak menjemput Elea di hari Selasa, karena Elea berbohong, walaupun itu artinya dia nggak bisa bertemu kami.

Aku melihat perempuan yang bilang ke anak lima tahun bahwa neneknya berbohong, karena dia nggak mau anaknya tumbuh seperti dia.

Aku melihat perempuan yang bersaksi di Bareskrim melawan om dan sepupunya sendiri, tanpa pengacara keluarga. Lima tahun lalu saya diam waktu harusnya bicara. Saya nggak mau ngulangin itu.

Aku melihat perempuan yang memasang ujung seprai di kamarku, semalam, empat hari lalu. Ini kamar kita, biar aku yang urus.

Aku melihat perempuan yang bilang, di depan pagar hitam, dengan telapak tangan terbuka: Nggak usah taruh takutnya. Pegang aja dua-duanya. Kalau berat, aku bantu pegang yang satu.

Perempuan itu nggak akan menandatangani gugatan ini.

Aku nggak punya bukti. Aku nggak punya data. Aku nggak punya rekaman, atau faktur, atau registri Singapura, atau analisis metadata.

Aku cuma punya dia.

Dan aku memilih.


Aku membuka mata.

“Saya nggak cabut,” kataku.

Oma Margareth menatapku. Wajahnya nggak berubah.

“Kamu yakin?”

“Saya yakin.”

“Kamu akan kehilangan anak itu.”

“Mungkin.” Aku berdiri. “Tapi bukan karena Bianca.”

Oma mengangkat alis. Sedikit.

“Bianca nggak tanda tangan ini,” kataku. Suaraku tenang. Lebih tenang dari yang pernah kudengar. “Atau kalau dia tanda tangan, dia nggak tahu apa yang dia tandatangani. Atau tanda tangannya dipalsukan. Saya nggak tahu yang mana. Saya nggak punya buktinya.”

Aku menatap perempuan tua itu.

“Tapi saya nggak butuh bukti,” kataku. “Lima tahun lalu, cucu Oma nggak percaya saya, karena ada bukti di meja. Hari ini, saya nggak akan ulangi kesalahan yang sama. Ada bukti di meja saya. Dan saya nggak percaya buktinya. Saya percaya dia.”

Hening.

Di ambang dapur, Bi Imah menutup mulutnya dengan dua tangan.

Di tangga, Bayu duduk pelan-pelan di anak tangga, seperti lututnya tiba-tiba lemas.

Oma Margareth menatapku lama sekali. Lalu dia mengambil tongkatnya. Berdiri. Pelan. Merapikan kebayanya.

“Kamu bodoh, Adrian,” katanya. “Sama seperti Robert.”

“Pak Robert juga percaya sama seseorang tanpa bukti, Oma?”

Oma berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu bergerak di wajah Margareth Rexton. Sesuatu yang cepat. Sesuatu yang dia tutup dalam satu detik. Tapi aku melihatnya.

Duka.

“Robert percaya pada adiknya sendiri,” kata Oma pelan. “Dua puluh tahun. Tanpa bukti. Sampai dia meninggal.” Dia menatapku. “Lihat apa yang terjadi.”

Dia berjalan ke pintu.

“Selamat jalan,” kata pintu depan.

Oma Margareth berhenti di ambang pintu. Dia menatap pintu itu. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, nyaris nggak terdengar, dia berkata ke pintu itu:

“Rumah ini terlalu kecil untuk cicit saya.”

Lalu dia pergi.


Aku nggak tahu berapa lama aku berdiri di ruang tengah setelah mobil sedan hitam itu pergi.

Aku tahu bahwa di suatu titik, tanganku mulai gemetar. Lalu lututku. Lalu seluruh tubuhku.

Aku duduk. Di lantai. Di depan sofa. Di tempat Bianca berlutut dua puluh menit.

“Mas,” kata Bayu, turun dari tangga. “Mas. Kamu barusan…”

“Aku tahu, Bay.”

“Kamu barusan bilang ke Margareth Rexton, di depan muka dia, bahwa kamu nggak cabut laporan, dan kamu percaya Bianca tanpa bukti.”

“Aku tahu.”

“Mas, kalau kamu salah…”

“Aku tahu, Bay.”

Bayu duduk di lantai di sampingku. Dia nggak bilang apa-apa lagi. Dia cuma duduk di sana. Bahu ke bahu.

Bi Imah datang dari dapur. Dia nggak duduk di lantai, lututnya nggak kuat. Dia duduk di sofa di belakangku, dan meletakkan tangannya di kepalaku. Mengusap rambutku. Naik-turun.

“Kamu takut,” kata Bi Imah pelan.

“Aku takut, Bi.”

“Takut kehilangan Elea.”

“Iya.”

“Takut kamu salah percaya.”

“Iya.”

Bi Imah mengusap rambutku.

“Kamu tetap pilih percaya,” katanya. “Walaupun takut.”

Aku menutup mata.

Bedanya, sekarang aku tetap datang walaupun takut. Mungkin nanti kamu juga bisa.

“Iya, Bi,” bisikku. “Walaupun takut.”


Elea pulang dari sekolah jam lima. Dijemput Bayu, karena aku nggak bisa menyetir dengan tangan yang masih gemetar.

Dia masuk ke ruang tengah dengan ransel kelinci dan kepangan dua yang sudah setengah lepas dan noda cat air di lengan seragam. Dia berhenti waktu melihatku. Duduk di lantai. Di depan sofa.

“Papa ngapain duduk di lantai?”

“Papa lagi istirahat, Sayang.”

Elea menatapku dengan mata yang menyipit. Lalu dia meletakkan ranselnya, dan duduk di lantai di sampingku. Di tempat Bayu tadi duduk.

“Papa takut?” tanyanya.

Aku menatapnya. Anak lima tahun dengan mata almond yang selalu tahu.

“Kenapa Elea tanya gitu?”

“Muka Papa kayak muka Elea waktu petir di Puncak.”

Aku menarik napas. Lalu aku menarik anakku ke pangkuanku. Memeluknya. Menempelkan pipiku di kepalanya, di rambutnya yang wangi sampo bayi dan cat air.

“Iya, Sayang,” kataku. “Papa takut.”

“Takut apa?”

Aku nggak bisa bilang ke anak lima tahun bahwa neneknya yang lain, nenek buyutnya, baru saja datang ke rumah ini dan mengancam akan mengambilnya dari ayahnya.

“Takut Papa salah,” kataku.

“Salah apa?”

“Papa baru aja percaya sama seseorang. Tanpa bukti. Papa nggak tahu Papa benar atau salah.”

Elea berpikir. Lalu dia menoleh, menatapku dari dalam pelukanku.

“Percaya sama siapa?”

“Sama Tante.”

Elea menatapku lama. Lalu dia tersenyum. Lebar. Dengan gigi depan yang goyang, yang sekarang sudah hampir copot.

“Papa nggak salah,” katanya.

“Dari mana Elea tahu?”

“Logika,” kata Elea. “Papa percaya Elea. Elea percaya Tante. Berarti—“

“Papa percaya Tante,” kataku. “Iya. Om Bayu.”

Elea mengangguk puas. Lalu dia memelukku lagi. Dan berbisik di dadaku:

“Papa udah percaya Tante. Berarti Papa udah baikan. Kontrak nomor dua udah. Elea boleh ngomong sama Papa lagi.”

Aku tertawa. Atau menangis. Di lantai ruang tengah. Dengan anakku di pangkuanku.


Malam itu, waktu Elea sudah tidur, aku duduk di meja kerjaku di lantai dua dengan gugatan hak asuh di satu sisi dan ponsel di sisi lain.

Aku menatap ponsel itu lama.

Aku bisa menelepon. Aku bisa bertanya. Bi, kamu tanda tangan gugatan ini? Aku bisa meminta penjelasan. Aku bisa meminta bukti.

Itu yang dilakukan orang yang nggak percaya. Meminta bukti.

Aku membuka percakapan dengan nomor yang sekarang tersimpan di ponselku sebagai… aku nggak tahu kapan aku menyimpannya. Mungkin setelah Bogor. Mungkin setelah demam. Aku menyimpannya tanpa sadar, seperti orang menyimpan sesuatu di saku tanpa berpikir.

Bi.

Cuma itu. Bi.

Aku mengetik.

Hari ini ada surat dari pengadilan. Gugatan hak asuh Elea. Atas nama kamu. Tanda tangan kamu di halaman terakhir. Oma datang ke rumah sore ini. Dia bilang kalau aku cabut laporan soal Hendra, dia cabut gugatannya.

Aku membaca pesan itu.

Lalu aku menambahkan satu kalimat di bawahnya.

Satu kalimat yang lima tahun lalu aku minta sambil berlutut. Satu kalimat yang belum pernah kuberikan kepada siapa pun selain anakku. Bukan kalimat itu. Belum. Aku menyimpan kalimat itu untuk nanti. Untuk tempat yang tepat. Untuk waktu yang tepat.

Tapi kalimat yang ini, saudaranya.

Aku nggak percaya itu dari kamu.

Aku menatap kalimat itu lama.

Aku nggak percaya itu dari kamu.

Bukan aku percaya kamu. Belum.

Tapi aku nggak percaya buktinya. Aku nggak percaya tanda tangannya. Aku nggak percaya Oma.

Dan untuk laki-laki yang lima tahun cuma percaya pada data, itu sama saja.

Kirim.

Aku meletakkan ponsel menelungkup di meja. Aku nggak menunggu balasan.

Aku menatap jendela. Pohon mangga di halaman belakang. Ayunan ban bekas yang bergoyang pelan tertiup angin malam.

Lima menit.

Lalu ponselku bergetar. Nggak berhenti. Bergetar terus. Telepon.

Aku membaliknya.

Bi.

Aku mengangkatnya.

Dan dari ujung telepon, aku mendengar suara yang nggak pernah kudengar sebelumnya. Bukan suara CEO. Bukan suara perempuan yang berlutut. Bukan suara yang bernyanyi dangdut dengan nada kucing kejepit pintu.

Suara perempuan yang marah. Benar-benar marah. Bukan padaku.

“Aku nggak pernah tanda tangan itu, Adrian. Aku nggak tahu. Aku bersumpah aku nggak tahu.”

Jeda. Napas yang memburu.

“Kasih aku dua puluh empat jam. Aku yang urus.”

Lalu, lebih pelan, dengan suara yang tiba-tiba pecah:

“Kamu percaya? Tanpa nanya aku dulu? Tanpa bukti?”

Aku menatap jendela. Pohon mangga. Ayunan ban.

“Iya,” kataku.

Hening di ujung telepon. Lama sekali.

Lalu aku mendengarnya. Napas yang ditarik dalam-dalam. Lalu isakan. Satu. Pendek. Ditahan.

“Lima tahun lalu,” bisiknya, “aku nggak bisa kasih kamu itu.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu kasih ke aku. Tanpa aku minta.”

“Iya.”

Hening lagi.

“Dua puluh empat jam,” katanya akhirnya. Suaranya kembali tegas. Tajam. Suara yang dulu dia pakai di ruang rapat lantai empat puluh, waktu dia menantang Om Hendra di depan dewan. “Dan Adrian? Jangan cabut laporan apa pun. Jangan tarik saksi siapa pun. Kalau Oma mau perang, dia salah pilih lawan.”

Telepon ditutup.

Aku menatap layar ponsel yang kembali gelap.

Lalu aku tertawa. Sendirian. Di meja kerja di lantai dua. Tawa yang lepas dan sedikit gila dan sangat, sangat lega.

Dari kamar sebelah, aku mendengar Bi Imah membuka pintu kamarnya. Lalu suaranya, pelan, ke speaker di lorong:

“Matiin lampu lorong. Tapi jangan matiin lampu kerja Adrian. Biarin dia ketawa.”

Lampu lorong mati.

Lampu kerjaku tetap menyala.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku membuka buku catatan hitam di dapur rumah Summertown, tujuh bulan lalu, aku nggak memikirkan sumpah yang kutulis di halaman pertamanya.

Aku memikirkan suara di telepon.

Kalau Oma mau perang, dia salah pilih lawan.

Rexton nggak berhenti di tidak.

Dan ternyata, Rexton yang ini ada di pihakku.