Chapter Forty One
Malam Sebelum Sidang
POV: Adrian
Bayu meneleponku jam lima lewat sepuluh.
“Mas. Kamu lagi di mana?”
“Di rumah. Ngepang rambut Elea buat les renang.”
“Mas, kamu harus tahu sesuatu. Tasya baru telepon. Dia nangis. Dia bilang jangan bilang ke siapa-siapa, termasuk grup, termasuk aku. Tapi dia bilang ke aku. Jadi aku bilang ke kamu. Itu logika.”
“Logika dari mana, Bay?”
“Dari Elea. Dia ngajarin aku kemarin.” Bayu menarik napas. “Mas. Bianca mundur.”
Tanganku berhenti di tengah kepangan.
“Mundur dari apa?”
“Dari semuanya. CEO Rexton Malls. Project lead Grand Nusantara. Dia tulis surat pengunduran diri tadi siang. Di rumah Menteng. Di depan Oma Margareth.”
Elea, yang duduk di kursi meja rias kecil di depanku, menoleh. “Papa? Kepangnya berhenti.”
“Sebentar, Sayang.”
“Mas,” lanjut Bayu, dengan suara yang lebih pelan. “Oma kasih dia tawaran. Kalau dia nggak bersaksi hari Kamis, dia dapat semuanya. Kursi Ketua Dewan. Saham almarhum ayahnya. Seluruh Rexton Group. Dan Oma janji nggak akan ganggu kalian lagi.”
Aku nggak bisa bernapas.
“Dan kalau dia bersaksi, Oma bakal cabut dia dari ahli waris. Cabut namanya. Semuanya.”
“Dan dia…”
“Dia nulis surat pengunduran diri pakai pulpen emas itu, Mas. Di kertas kop surat almarhum ayahnya. Terus dia bilang ke Oma, dan Tasya kutip ini persis…” Bayu diam sebentar. Suaranya bergetar. “Aku punya anak. Namanya Elea. Itu bukan cuma, Oma. Itu semuanya.“
Aku duduk di lantai.
Di belakang Elea. Di lantai kamar lavender dengan bintang-bintang plastik di langit-langit. Dengan kepangan kanan yang setengah jadi di tanganku.
“Mas?”
“Dia nggak bilang ke aku,” bisikku.
“Nggak, Mas. Dia cuma kirim pesan ke kamu soal gugatan yang dicabut, kan? Dia nggak bilang soal yang lain.”
Aku memejamkan mata.
Udah. Gugatannya dicabut. Kamu aman. Elea aman.
Aku Bianca. Bianca nggak telat lagi.
Dia kehilangan semuanya, dan dia cuma bilang kamu aman.
“Papa?” Elea memutar badannya di kursi. Menatapku yang duduk di lantai. “Papa kenapa?”
Aku menatap anakku.
“Bay,” kataku ke telepon. “Kamu bisa ke sini? Sekarang? Jaga Elea?”
“Udah di jalan, Mas. Udah di jalan dari tadi.”
Aku belum pernah ke apartemennya.
Lima tahun lalu, dia tinggal di rumah Menteng. Sekarang, kata Tasya, dia tinggal di apartemen di lantai tiga puluh dua sebuah gedung di Sudirman, tiga blok dari Rexton Tower. Apartemen yang dia beli dengan uangnya sendiri, tiga tahun lalu, waktu dia diangkat jadi CEO.
Satpam di lobi menatapku dengan curiga.
“Bapak mau ke unit berapa?”
“3207.”
“Atas nama?”
“Bianca.”
Satpam itu menatap layar komputernya. Lalu menatapku. Lalu dia mengangkat telepon interkom.
“Bu Bianca, ada tamu di lobi. Laki-laki. Kacamata. Atas nama…” Dia menatapku.
“Adrian.”
“Atas nama Adrian, Bu.”
Hening di interkom. Lama.
Lalu suara, kecil dan serak. “…Suruh naik.”
Pintu unit 3207 sudah terbuka waktu aku keluar dari lift.
Dia berdiri di ambang pintu. Kaus abu-abu yang kebesaran. Celana training hitam. Rambut diikat asal-asalan. Wajah tanpa riasan, dengan mata yang bengkak dan hidung yang merah.
Dia menatapku.
“Tasya,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Bayu.”
“Tasya bilang ke Bayu.”
“Grup senam Zumba,” kataku.
Dia menutup mata. Lalu tertawa. Pendek. Patah. Basah.
“Masuk,” katanya.
Apartemennya bukan apartemen CEO.
Itu yang pertama kupikirkan waktu melangkah masuk.
Ruang tamu yang kecil. Sofa abu-abu. Meja kopi kaca. Rak buku. Jendela besar yang menghadap Jakarta di malam hari. Semua yang seharusnya ada di apartemen CEO Rexton Malls.
Tapi di atas meja kopi, ada kepala manekin.
Plastik. Rambut sintetis cokelat gelap. Dikepang dua. Kepangannya lurus. Rapi. Nggak miring sama sekali.
Di samping kepala manekin itu, tumpukan karet rambut warna-warni. Sisir. Dan kotak plester bergambar kupu-kupu, setengah habis.
Aku menatap kepala manekin itu.
“Aku latihan tiap malam,” katanya di belakangku. Pelan. “Sejak kepangan Pisa. Sekarang udah lurus. Kamu lihat?”
Aku nggak bisa menjawab.
Aku berjalan lebih jauh ke dalam. Dapur kecil yang terbuka ke ruang tamu. Di meja dapur, toples kaca kecil berisi kopi bubuk hitam. Kopi tubruk kampung. Hampir habis. Di sampingnya, dua toples kaca lain dengan label kertas yang ditempel selotip, ditulis tangan dengan spidol hitam: GARAM. GULA.
Di pintu lemari es, ditempel dengan magnet berbentuk stroberi, foto. Foto yang dicetak di kertas foto biasa. Anak perempuan lima tahun dengan gaun kuning, kepang dua, pita merah, kupu-kupu kertas. Dan di sampingnya, foto lain. Foto yang aku nggak tahu dia punya.
Elea. Di kebun stroberi Puncak. Topi kelinci. Jus stroberi di dagu. Tertawa.
Foto yang kuambil diam-diam dengan ponselku. Yang kukira dia nggak lihat.
“Bayu kirim,” katanya. “Kamu share ke Bayu, Bayu share ke grup, Tasya kirim ke aku.”
Aku berbalik.
Di dinding di samping pintu kamar tidur, ada rak kecil. Di atasnya, berjajar rapi: sepasang sandal jepit hijau bergambar katak. Termos hitam kecil. Dan figura foto, yang di dalamnya bukan foto, tapi gambar krayon. TANTE CANTIK. TEMAN ELEA. BUKAN CADANGAN.
Dan di samping figura itu, lima amplop.
Amplop putih. Polos. Disusun berjajar, dari kiri ke kanan. Di setiap amplop, ditulis dengan tulisan tangan yang rapi dan sedikit miring ke kiri:
Untuk Elea. Ulang tahun pertama.
Untuk Elea. Ulang tahun kedua.
Untuk Elea. Ulang tahun ketiga.
Untuk Elea. Ulang tahun keempat.
Untuk Elea. Ulang tahun kelima.
Aku menatap lima amplop itu.
“Itu,” katanya di belakangku. Suaranya sangat pelan. “Itu buat tahun-tahun yang aku lewatin.”
Aku nggak tahu kapan aku mulai menangis.
Aku tahu bahwa aku berdiri di depan rak itu, menatap lima amplop putih, dan pandanganku buram.
“Aku mulai nulis seminggu setelah dapur,” katanya. Dia berdiri di belakangku. Nggak menyentuhku. “Setelah Elea tanya kenapa aku nggak datang. Aku nggak punya jawaban yang bagus. Jadi aku pikir, mungkin aku bisa kasih dia sesuatu yang lain. Bukan jawaban. Tapi… apa yang mau aku bilang di setiap ulang tahunnya, kalau aku ada.”
“Kapan kamu mau kasih?”
“Aku nggak tahu. Mungkin waktu dia udah nggak marah. Mungkin waktu dia udah bisa baca sendiri. Mungkin waktu dia tujuh belas tahun dan dia mau tahu ibunya pernah mikir apa.” Dia diam sebentar. “Atau mungkin nggak pernah. Kalau kamu bilang jangan.”
Aku berbalik. Menatapnya.
“Kenapa kamu nggak bilang ke aku?” tanyaku. Suaraku serak. “Soal Oma. Soal tawarannya. Soal kamu mundur.”
Dia menatapku.
“Karena itu bukan urusan kamu.”
“Bi—“
“Itu harga yang aku bayar, Adrian.” Dia melangkah maju. Satu langkah. “Bukan harga yang kamu perlu tahu. Kamu udah bayar lima tahun. Sendirian. Tanpa bilang ke siapa-siapa. Tanpa minta tolong. Aku juga mau bayar sendiri.”
“Kamu kehilangan semuanya.”
“Aku kehilangan kursi.” Dia menatapku dengan mata yang basah tapi jernih. “Kursi CEO. Kursi Ketua Dewan. Kursi di meja makan rumah Menteng. Kursi-kursi.” Dia tersenyum kecil. “Kamu pernah bikin aku berdiri dua jam tanpa kursi. Ingat? Ternyata aku bisa. Ternyata berdiri tanpa kursi nggak semenakutkan itu.”
Aku nggak bisa bicara.
“Dan aku nggak kehilangan semuanya,” lanjutnya pelan. “Aku nggak kehilangan Elea. Aku nggak kehilangan…”
Dia berhenti.
Aku menatapnya.
“Aku nggak kehilangan apa?”
Dia nggak menjawab.
Dia cuma menatapku. Lama. Dengan mata yang bilang semuanya.
Aku memeluknya.
Aku nggak tahu siapa yang bergerak duluan. Jarak di antara kami hilang, dan dia di pelukanku, dan aku di pelukannya.
Bukan seperti di fan meeting. Bukan dua detik. Bukan dinding di depan pagar besi.
Bukan seperti di basement. Bukan marah. Bukan rindu yang meledak.
Pelukan yang diam.
Tanganku di punggungnya. Tangannya di punggungku. Wajahnya di bahuku. Wajahku di rambutnya.
Kami nggak bicara.
Aku nggak bilang terima kasih. Aku nggak bilang maaf. Aku nggak bilang kamu bodoh, kamu nggak perlu, kenapa kamu lakuin ini. Aku nggak bilang apa-apa.
Aku cuma memeluknya.
Dan dia memelukku balik.
Di apartemen di lantai tiga puluh dua, di depan rak dengan lima amplop putih dan sandal jepit katak dan termos hitam, dengan kepala manekin berkepang lurus di meja kopi dan foto Elea di kebun stroberi di pintu lemari es.
Kami berdiri seperti itu lama. Sangat lama.
Aku merasakan bahunya bergetar. Lalu berhenti. Lalu bergetar lagi.
Aku merasakan bahuku sendiri bergetar.
Jakarta di luar jendela berkilau seperti lautan lampu. Mobil-mobil kecil seperti semut di bawah sana. Semut yang bingung.
Aku nggak tahu berapa lama. Sepuluh menit. Tiga puluh. Satu jam.
Aku nggak menghitung.
Waktu akhirnya kami melepaskan diri, dia menatapku. Matanya merah. Hidungnya merah. Rambutnya berantakan karena tanganku.
“Kamis,” katanya. “Kamu datang?”
“Aku saksi juga. Aku harus datang.”
“Bukan itu maksudku.”
Aku menatapnya.
“Waktu aku bersaksi,” katanya pelan. “Waktu aku duduk di kursi saksi dan pengacara Om Hendra tanya hal-hal yang… yang bakal bikin aku malu. Di depan semua orang. Di depan wartawan. Di depan Mama.” Dia menarik napas. “Kamu ada di sana?”
“Aku ada di sana.”
“Di mana?”
Aku diam sebentar.
“Di mana kamu bisa lihat,” kataku. “Kalau kamu takut, lihat aku.”
Dia menatapku.
Lalu dia mengangguk.
Sebelum pergi, aku berhenti di depan rak lagi. Lima amplop putih.
“Bi.”
“Hm?”
“Boleh aku bawa?”
Dia menatapku. “Amplopnya?”
“Aku nggak akan buka. Aku nggak akan baca. Aku cuma…” Aku mencari kata. “Aku cuma mau simpan. Di rumah. Di tempat Elea. Sampai kamu siap kasih.”
Dia menatap lima amplop itu lama.
Lalu dia mengambilnya. Satu per satu. Menyusunnya jadi tumpukan. Ulang tahun pertama di paling atas. Kelima di paling bawah.
Dia menyerahkannya padaku.
“Kamu yang pegang,” katanya. “Kamu pegang lima tahun dia sendirian. Kamu juga yang pegang ini.”
Aku menerima tumpukan amplop itu. Ringan. Kertas. Tinta.
Berat. Lima tahun.
Elea belum tidur waktu aku pulang jam sebelas malam.
Bayu tertidur di sofa ruang tengah dengan Mr. Snuggles di pelukan. Bi Imah tertidur di kursi makan dengan kepala di atas meja. Pintu kamar Elea di lantai dua terbuka sedikit, dan cahaya dari dalam masih menyala.
Aku naik.
Elea duduk di kasurnya. Dengan senter kecil berbentuk bintang dan buku gambar di pangkuan dan kotak pensil warna empat puluh delapan warna yang terbuka di sampingnya. Dia menggambar sesuatu dengan dahi berkerut dan lidah sedikit menjulur.
Waktu dia mendengar langkahku, dia menutup bukunya cepat-cepat dan menyembunyikannya di bawah bantal.
“Papa! Elea nggak ngapa-ngapain!”
“Papa nggak tanya, Sayang.”
Elea menatapku dengan curiga. Lalu dia melihat tumpukan amplop putih di tanganku.
“Itu apa?”
Aku duduk di tepi kasurnya. Aku menatap amplop-amplop itu. Lalu menatap anakku.
“Ini dari Tante,” kataku. “Buat Elea. Tapi belum boleh dibuka.”
“Kenapa?”
“Karena Tante yang harus kasih sendiri. Nanti. Kalau udah waktunya.”
Elea menatap amplop-amplop itu. Dia membaca tulisan di amplop paling atas. Pelan. Dengan bibir yang bergerak.
“Un… tuk. E… le… a. Ulang. Ta… hun. Per… ta… ma.“ Dia mengangkat kepala. “Ulang tahun pertama Elea? Itu kan udah lewat. Lama banget.”
“Iya, Sayang.”
“Tante nulis buat ulang tahun yang udah lewat?”
“Buat lima ulang tahun yang Tante nggak ada.”
Elea menatap tumpukan amplop itu. Lima. Dia menghitungnya dengan jari kecilnya. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Lalu dia diam lama.
“Papa,” katanya akhirnya. “Elea boleh pegang?”
Aku menyerahkan tumpukan amplop itu padanya.
Elea memeluknya. Ke dadanya. Seperti dia memeluk Mr. Snuggles. Seperti dia menggenggam jepit kupu-kupu di kursi belakang taksi lima tahun lalu.
“Elea nggak buka,” bisiknya. “Elea janji. Elea cuma peluk.”
Aku menatap anakku. Lima amplop putih di pelukannya. Senter berbentuk bintang yang menyala di sampingnya.
“Kenapa Tante nggak kasih sendiri?” tanyanya.
“Karena besok lusa, Tante harus ke pengadilan. Bilang hal-hal yang susah. Di depan banyak orang.”
“Hal-hal apa?”
Aku memilih kata-kata seperti memilih langkah di atas batu licin.
“Hal-hal yang jujur,” kataku. “Soal orang-orang yang dulu bohong soal Papa. Tante mau bilang ke semua orang bahwa Papa nggak salah.”
Elea menatapku.
“Itu berani,” katanya.
“Iya, Sayang. Itu sangat berani.”
“Lebih berani dari Elea waktu petir?”
“Jauh lebih berani.”
Elea mengangguk pelan. Lalu dia meletakkan amplop-amplop itu di samping bantalnya, dengan sangat hati-hati, dan menarik selimut.
“Papa,” katanya, waktu aku membetulkan selimutnya. “Papa percaya Elea?”
“Selalu.”
“Elea juga percaya Papa,” katanya. Dengan mata terpejam. Tanpa ragu. Tanpa sedikit. “Banyak. Sekarang udah banyak.”
Aku membeku.
“Soalnya Papa percaya Tante,” lanjut Elea, setengah tidur. “Waktu Nenek Oma datang. Papa nggak takut. Elea dengar dari tangga.”
Aku menatap anakku. Mata terpejam. Napas yang mulai teratur. Lima amplop putih di samping bantal.
Aku menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Normal.
Lalu aku mencium dahinya. Di antara alisnya. Seperti setiap malam.
“Papa sayang Elea,” bisikku.
“Elea tahu,” gumamnya. Lalu, lebih pelan, hampir nggak terdengar, sudah setengah dalam mimpi: “Elea juga sayang Mama.”
Aku membeku.
Mama.
Bukan Tante.
Dia nggak sadar dia mengatakannya. Dia sudah tidur. Napasnya teratur. Senyum kecil di sudut bibirnya.
Aku duduk di tepi kasurnya lama sekali.
Lalu aku melihat sesuatu. Di bawah bantalnya. Sudut buku gambar yang menyembul keluar.
Aku nggak membukanya. Aku nggak menariknya.
Tapi dari sudut yang menyembul itu, aku bisa melihat sebagian dari gambar di halaman yang terbuka. Rambut panjang bergelombang, diwarnai empat warna cokelat. Gaun putih. Mata cokelat. Bibir yang tersenyum, sedikit bengkok di sudut kiri. Tahi lalat kecil di bawah mata kiri.
Dan di bawahnya, huruf-huruf besar yang miring, ditulis dengan pensil warna merah. Setengah tertutup bantal. Aku cuma bisa membaca sebagian.
…LEA SAYANG MA…
Aku nggak membaca sisanya.
Aku nggak perlu.
Aku keluar dari kamar Elea dan menutup pintunya pelan-pelan.
Di lorong, aku mengeluarkan ponsel. Membuka percakapan dengan Bi.
Aku menulis. Menghapus. Menulis lagi. Menghapus lagi.
Akhirnya, aku mengirim satu kalimat.
Elea peluk amplopnya. Dia janji nggak buka. Dia cuma peluk. Sekarang udah tidur, amplopnya di samping bantal.
Balasan datang dalam tiga detik.
Bukan pesan. Telepon.
Aku mengangkatnya.
Dia nggak bicara. Aku cuma mendengar napasnya. Bergetar. Dan isakan yang ditahan.
Aku juga nggak bicara.
Kami diam di telepon. Lama. Dia di apartemen di lantai tiga puluh dua. Aku di lorong gelap rumah sewa di Kebayoran. Lima belas kilometer di antara kami.
Napasnya. Napasku.
Lalu, akhirnya, suaranya. Sangat pelan.
“Selamat tidur, Dok.”
“Selamat tidur, Bi.”
Aku nggak menutup telepon. Dia juga nggak.
Aku berjalan ke kamarku. Berbaring di kasur. Meletakkan ponsel di bantal, di samping telingaku. Telepon masih tersambung.
Dan aku tertidur, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, dengan suara napasnya di telingaku.
Teratur. Pelan. Seperti dulu.
Seperti di rumah Menteng, satu setengah tahun pernikahan, waktu aku tertidur dan dia tertidur dan napas kami jadi satu irama di kamar yang gelap.
Telepon itu nggak terputus sampai pagi.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang reading
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama