Chapter Ten
Gala Rexton
POV: Bianca
Gaunnya merah anggur.
Aku nggak memilihnya. Mama yang memilih, tiga bulan lalu, waktu gala ulang tahun keempat puluh Rexton Group masih berupa tanggal di kalender dan nama Adrian Renaldi masih nama yang nggak boleh disebut. Mama bilang warna ini akan membuat semua orang menoleh. Mama bilang aku harus jadi wajah Rexton malam itu, wajah dari generasi berikutnya.
Sutra merah anggur yang jatuh lurus sampai lantai. Bahu terbuka. Punggung terbuka sampai pinggang. Satu belahan tinggi di kaki kiri yang hanya terlihat waktu aku melangkah. Rambutku digerai, dibentuk gelombang besar oleh penata rambut yang datang ke apartemen jam empat sore. Anting berlian kecil milik almarhumah nenekku dari pihak Papa. Lipstik dengan warna yang sama dengan gaunnya.
Penata rambut itu, perempuan muda bernama Sasa, berdiri di belakangku waktu aku menatap cermin, dan menutup mulutnya dengan dua tangan.
“Mbak Bianca,” bisiknya. “Saya udah dandanin artis, udah dandanin pengantin, udah dandanin istri menteri. Tapi demi Tuhan, Mbak, Mbak yang paling cantik.”
Aku menatap bayanganku.
Perempuan di cermin itu memang cantik. Aku bisa melihatnya dengan objektif, seperti melihat foto produk di katalog. Tulang selangka yang tegas. Leher panjang. Mata yang tajam dengan riasan gelap yang membuatnya terlihat lebih tajam lagi. Tahi lalat di bawah mata kiri, yang Sasa tawarkan untuk ditutup dan yang kutolak.
Tapi yang kulihat di cermin bukan perempuan cantik.
Yang kulihat adalah perempuan yang sepuluh hari lalu berlutut di lantai granit atrium Kemayoran, dengan setelan krem yang bernoda darah orang lain, dan dipeluk oleh laki-laki yang membencinya selama empat detik. Aku menghitungnya. Empat detik.
Setelan krem itu masih di lemari. Belum kucuci. Nodanya sudah mengering jadi cokelat.
Aku nggak tahu kenapa aku belum mencucinya.
Ballroom Hotel Arunaya malam itu seperti mimpi orang kaya.
Empat ratus tamu. Lampu kristal raksasa di langit-langit. Meja-meja bundar bertaplak putih dengan rangkaian anggrek ungu setinggi satu meter. Kuartet gesek di sudut memainkan Vivaldi. Di dinding utama, layar LED selebar dua puluh meter menampilkan sejarah Rexton Group: foto hitam-putih Kakek berdiri di depan toko kelontong pertama di Glodok tahun 1986, foto Papa muda di depan Rexton Mall pertama, foto peluncuran Rexton Cinemax, foto konser-konser besar Rexton Entertainment.
Dan foto terakhir: rendering Rexton Grand Nusantara, berkilau di bawah langit senja.
Aku berdiri di samping Oma di dekat pintu masuk, menyambut tamu. Menteri. Duta besar. Direktur bank. Selebriti dari film-film produksi Rexton. Setiap orang yang datang menatapku satu detik lebih lama dari sopan, lalu bilang hal yang sama dengan kata-kata berbeda.
Bianca, kamu cantik sekali malam ini.
Ya ampun, Bu Bianca, gaunnya.
Pantas majalah bilang kamu wajah paling memesona.
Aku tersenyum. Aku berterima kasih. Aku menjabat tangan dan mencium pipi dan mengingat nama istri dan anak setiap orang.
Dan setiap kali pintu ballroom terbuka, mataku melirik ke sana sebelum aku sempat menghentikannya.
“Dia datang?” bisik Darren di sampingku. Tuksedo hitam, dasi kupu-kupu, rambut disisir rapi. Dia tampan malam itu, dengan cara yang tenang dan sopan, seperti biasa.
“Hallworth konfirmasi dia hadir,” kataku. “Sebagai tamu kehormatan.”
“Lengannya?”
“Dua belas jahitan.” Aku nggak tahu kenapa aku hafal angkanya. “Sudah dilepas kemarin.”
Darren menatapku. Lalu dia menatap ke depan lagi, dan nggak bertanya lagi.
Dia datang jam delapan lewat sepuluh.
Aku tahu dia datang sebelum aku melihatnya, karena bunyi di ballroom berubah. Percakapan melambat. Kepala-kepala menoleh. Bisikan menyebar seperti riak di kolam.
Itu dia. Yang dari Oxford.
Yang nyelamatin pekerja di Kemayoran?
Videonya viral, kan? Yang lari ke bawah panel itu?
Katanya dulu dia menantu Rexton, lho.
Masa? Terus kenapa…
Aku menoleh.
Tuksedo hitam. Kemeja putih. Dasi hitam yang lurus, bukan dasi kupu-kupu. Kacamata berbingkai tipis. Rambut yang disisir ke belakang lebih rapi dari biasanya, memperlihatkan dahi dan garis rahang yang tegas. Dia berjalan masuk dengan Catherine Hall di lengan kanannya, perempuan tua berambut perak itu tersenyum bangga seperti ibu yang membawa anaknya ke wisuda.
Dan dia tampan.
Itu bukan pikiran yang kuinginkan. Itu bukan pikiran yang kuizinkan. Tapi pikiran itu datang sendiri, seperti air yang menemukan celah di bendungan.
Dulu dia nggak pernah memakai tuksedo. Di pernikahan kami, dia memakai jas pinjaman dari teman kantornya yang lengannya kepanjangan dua senti, dan dia terus-menerus menarik ujung lengannya sepanjang resepsi sampai aku memegang tangannya dan bilang, Udah. Kamu ganteng. Berhenti narik-narik.
Sekarang tuksedonya pas sempurna di bahunya. Dibuat khusus. Dia nggak menarik-narik lengannya. Dia berjalan seperti orang yang tahu semua mata di ruangan itu menatapnya, dan nggak peduli.
Dia lebih kurus dari dulu. Lebih tajam. Ada garis-garis halus di sudut matanya yang dulu nggak ada.
Dan waktu matanya menyapu ruangan, dan berhenti di aku, dan menatapku dari ujung kepala sampai ujung gaun merah anggur ini, aku melihat sesuatu bergerak di rahangnya. Sekali. Seperti orang yang menelan sesuatu yang tajam.
Lalu dia mengalihkan mata, dan tersenyum pada menteri yang menghampirinya.
Di sampingku, Oma mengetukkan tongkat peraknya sekali ke lantai.
“Jangan menatap terlalu lama, Bianca,” katanya tanpa menoleh. “Orang-orang memperhatikan.”
Pukul sembilan, acara resmi dimulai.
Om Hendra membuka dengan pidato tentang empat puluh tahun Rexton Group. Pidato yang sama yang dia bawakan setiap tahun, dengan angka-angka yang diperbarui. Lalu Oma naik ke panggung dan berbicara singkat tentang Kakek, tentang toko kelontong di Glodok, tentang mimpi seorang pemuda yang datang ke Jakarta dengan satu koper.
Lalu Om Hendra kembali ke mikrofon.
“Dan malam ini, kita punya tamu kehormatan yang sangat istimewa. Seseorang yang akan membawa Rexton Grand Nusantara menjadi gedung paling aman dan paling cerdas di Asia Tenggara. Seseorang yang, sepuluh hari lalu, menyelamatkan dua puluh tiga nyawa di Rexton Mall Kemayoran.” Om Hendra tersenyum lebar, senyum yang nggak sampai ke matanya. “Hadirin, Dr. Adrian Renaldi.”
Tepuk tangan meledak.
Adrian berjalan ke panggung dengan langkah tenang. Dia menerima mikrofon dari Om Hendra tanpa menjabat tangannya. Dia berdiri di tengah panggung, di bawah lampu sorot, di depan layar LED yang menampilkan foto Kakek di depan toko kelontong Glodok.
Dia menunggu sampai tepuk tangan reda.
“Terima kasih,” katanya. “Saya nggak akan bicara lama. Saya ilmuwan, bukan pembicara. Dan saya tahu semua orang di sini lebih tertarik ke hidangan penutup daripada ke saya.”
Tawa kecil menyebar di ballroom.
“Saya pernah bekerja di Rexton. Dulu. Tujuh tahun. Dan orang pertama yang mengajari saya bahwa gedung itu hidup adalah almarhum Pak Robert Rexton.”
Aku membeku.
“Pak Robert pernah menghabiskan satu sore penuh menjelaskan ke saya, staf teknik biasa, kenapa eskalator di Rexton Mall pertama dipasang di sudut empat puluh lima derajat. Kenapa air mancur di atrium membuat orang mau berlama-lama. Kenapa lampu di koridor harus sedikit lebih hangat dari lampu di toko.” Dia diam sebentar. “Beliau bilang ke saya, Kamu ngerti gedung, Adrian. Kebanyakan orang cuma ngerti uang.“
Ballroom itu sunyi.
Aku merasakan sesuatu yang panas naik di belakang mataku. Aku menatap meja di depanku. Anggrek ungu. Gelas sampanye. Taplak putih.
Papa nggak pernah cerita soal sore itu. Papa nggak pernah cerita bahwa dia pernah bicara berdua dengan Adrian. Papa meninggal dua tahun sebelum… sebelum semuanya. Dan aku nggak tahu. Aku nggak pernah tahu.
“Saya rasa beliau benar,” lanjut Adrian. “Dan saya rasa kalau beliau masih di sini, beliau akan bangga melihat Grand Nusantara. Jadi saya mau mengangkat gelas untuk beliau.”
Dia mengangkat gelas sampanye dari nampan pelayan di samping panggung.
“Untuk Pak Robert Rexton.”
“Untuk Pak Robert,” gema empat ratus orang.
Aku mengangkat gelasku dengan tangan yang gemetar. Aku nggak meminumnya.
Adrian belum menurunkan gelasnya.
“Dan satu lagi,” katanya. Suaranya nggak berubah. Masih tenang. Masih sopan. “Untuk keluarga Rexton.”
Dia menatap ke meja keluarga di depan panggung. Ke Oma. Ke Om Hendra, yang sudah kembali ke kursinya. Ke Mama. Ke Marcel. Ke aku.
“Yang mengajari saya bahwa kepercayaan itu barang mewah.”
Ruangan itu berhenti bernapas.
“Dan saya sekarang,” Adrian mengangkat gelasnya sedikit lebih tinggi, “mampu membelinya sendiri.”
Dia meminum sampanyenya dalam satu tegukan. Meletakkan gelas kosong di nampan. Menyerahkan mikrofon ke pembawa acara yang menatapnya dengan mulut terbuka.
Lalu dia turun dari panggung.
Tepuk tangan datang terlambat, ragu-ragu, nggak serempak. Sebagian orang nggak mengerti. Sebagian orang mengerti terlalu baik. Aku mendengar bisikan-bisikan menyebar lagi, kali ini lebih cepat, lebih tajam.
Dan di tengah semua itu, aku melihat sesuatu yang nggak seharusnya kulihat.
Oma, di kursinya, menoleh ke Om Hendra.
Hanya sedetik. Tatapan yang singkat, tajam, dan dingin, tatapan yang sama yang Oma berikan pada pelayan yang menumpahkan sup. Dan Om Hendra, yang selalu tenang, yang selalu bisa membacakan vonis mati dengan intonasi menu makan siang, membuang muka.
Aku nggak mengerti tatapan itu.
Tapi aku menyimpannya.
Dansa pembuka dimulai jam sepuluh.
Tradisi Rexton sejak gala pertama: pewaris generasi berikutnya membuka lantai dansa bersama tamu kehormatan. Lima tahun lalu, sebelum semuanya, aku membuka dansa dengan Adrian di gala ulang tahun ketiga puluh lima. Dia menginjak kakiku dua kali dan minta maaf tiga kali dan aku tertawa sampai riasanku luntur.
Tahun ini, protokolnya sama. Pembawa acara sudah mengumumkannya. Kuartet gesek sudah memainkan nada pembuka waltz. Lampu sorot sudah turun ke tengah lantai dansa yang kosong.
Dan empat ratus pasang mata menatapku.
Aku berdiri. Gaun merah anggur jatuh mengalir di kakiku. Aku berjalan ke tengah lantai dansa, sendirian, dengan langkah yang kupastikan tegak dan tenang. Lampu sorot mengikutiku.
Adrian berdiri di pinggir lantai dansa, di samping Catherine Hall, dengan tangan di saku celana.
Aku berhenti di depannya. Satu meter.
Lalu, di depan empat ratus orang, di bawah lampu sorot, di tengah musik waltz yang mengalun, aku mengulurkan tanganku.
“Dr. Renaldi,” kataku. Suaraku jernih dan tenang dan nggak bergetar sedikit pun. Aku bangga pada diriku sendiri. “Atas nama keluarga Rexton, boleh saya mengajak Anda membuka lantai dansa?”
Dia menatap tanganku.
Lama.
Aku bisa merasakan setiap detiknya. Empat ratus orang menahan napas. Kuartet gesek terus memainkan waltz, nadanya terdengar terlalu ceria. Catherine Hall menatap Adrian dengan alis sedikit terangkat.
Adrian mengeluarkan tangannya dari saku celana.
Lalu dia menoleh ke kiri.
“Mbak Tasya,” katanya.
Di meja staf di pinggir ballroom, Tasya, dengan gaun hijau zamrud dan rambut yang dikeriting khusus untuk malam ini, sedang memasukkan potongan kue ke mulutnya. Dia membeku dengan garpu di depan bibirnya.
“Mbak Tasya mau dansa sama saya?”
Tasya menatap Adrian. Lalu menatapku. Lalu menatap Adrian lagi. Wajahnya berubah dari merah muda ke putih ke merah tua dalam waktu dua detik, rekor barunya.
“S-saya?”
“Iya.”
“Tapi… Bu Bianca—“
“Saya nggak dansa dengan Bu Rexton,” kata Adrian, cukup keras untuk didengar sampai meja-meja terdekat. “Tapi saya dengar Mbak Tasya admin grup ‘Pantauan Pak Dokter’. Rasanya nggak sopan kalau saya nggak dansa sama admin grup penggemar saya.”
Tawa meledak dari meja-meja terdekat. Tawa yang canggung, tawa yang lega, tawa orang-orang yang nggak tahu harus bereaksi bagaimana dan memilih tertawa.
Tanganku masih terulur di udara.
Aku menurunkannya. Pelan. Dengan anggun. Seolah memang itu yang kurencanakan.
Tasya berjalan ke lantai dansa dengan langkah orang yang menuju tiang gantungan. Dia melewatiku dan berbisik, dengan suara yang hampir menangis, “Bu, maaf, Bu, saya nggak tahu, Bu, saya nggak bisa nolak, Bu—“
“Dansa aja, Tas,” bisikku. “Senyum.”
Aku berjalan kembali ke meja keluarga. Tegak. Tenang. Gaun merah anggur mengalir di belakangku seperti darah.
Tasya menginjak kaki Adrian empat kali.
Aku menghitungnya dari meja, sambil memegang gelas sampanye yang nggak kuminum dan tersenyum pada siapa pun yang menatapku. Sekali di putaran pertama. Sekali di putaran ketiga, cukup keras sampai Adrian meringis. Dua kali berturut-turut di putaran kelima, waktu Tasya panik karena salah langkah dan mencoba memperbaikinya dengan melangkah lebih cepat.
Setiap kali, Tasya bilang “Maaf, Pak! Maaf!” dengan suara yang cukup keras untuk terdengar di seluruh ballroom.
Dan setiap kali, Adrian bilang “Nggak apa-apa,” dengan wajah yang makin lama makin seperti orang yang menahan sakit gigi.
Di putaran keenam, waktu Tasya menginjak kakinya untuk kelima kali, kelima, aku salah hitung tadi, Adrian akhirnya berhenti. Dia memegang kedua bahu Tasya dengan lembut, menatapnya, dan bilang sesuatu yang nggak bisa kudengar.
Tasya tertawa. Tawa yang lepas, tawa yang lega, tawa perempuan muda yang tadinya ketakutan dan sekarang nggak lagi.
Lalu Adrian tersenyum.
Bukan senyum sopan yang dia berikan pada menteri. Bukan senyum dingin yang dia berikan padaku. Senyum yang sebenarnya. Senyum yang membuat sudut matanya berkerut dan wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda.
Aku kenal senyum itu.
Lima tahun lalu, senyum itu milikku.
Aku meletakkan gelas sampanyeku di meja. Terlalu keras. Sampanyenya tumpah sedikit ke taplak putih.
“Bianca.” Darren berdiri di sampingku, tangannya terulur. “Dansa sama aku?”
Aku menatap tangannya. Tangan yang hangat, sabar, baik.
Aku menerimanya.
Darren berdansa dengan baik. Dia nggak menginjak kakiku. Dia memegang pinggangku dengan tepat, nggak terlalu erat, nggak terlalu longgar. Dia membawaku berputar dengan langkah yang ringan dan pasti.
Dan sepanjang dansa, aku menatap bahunya, dan melihat ke belakang bahunya, ke sudut lantai dansa tempat Adrian sudah berhenti berdansa dengan Tasya dan sekarang berdiri di pinggir dengan segelas air putih.
Dia nggak menatapku.
Dia menatap Darren. Tangan Darren di pinggangku.
Dan rahangnya bergerak lagi. Sekali. Lalu dua kali.
“Bi,” bisik Darren di dekat telingaku. “Kamu nggak lagi dansa sama aku.”
“Aku lagi dansa sama kamu.”
“Badan kamu iya.” Suaranya lembut, tanpa marah. “Mata kamu nggak.”
Aku nggak menjawab.
Waltz berakhir. Tepuk tangan. Darren melepaskan pinggangku, membungkuk sopan, dan menatapku dengan mata cokelat yang sabar.
“Aku ambilin kamu air putih,” katanya. Lalu dia pergi.
Aku berdiri sendirian di tengah lantai dansa untuk satu detik.
Dan dalam satu detik itu, Adrian berjalan melewatiku. Ke arah pintu keluar. Bahunya hampir menyentuh bahuku yang terbuka.
Dia nggak berhenti. Dia nggak menoleh. Tapi waktu dia lewat, aku mendengar suaranya. Pelan. Hanya untukku.
“Merah nggak cocok sama kamu.”
Lalu dia pergi.
Aku berdiri di tengah lantai dansa dengan gaun merah anggur, di bawah lampu kristal, di antara empat ratus tamu yang mulai berdansa di sekelilingku.
Merah nggak cocok sama kamu.
Dulu, waktu kami baru menikah, dia pernah bilang warna favoritnya untukku adalah putih. Bukan putih gading. Bukan krem. Putih bersih, seperti kertas. Kamu kelihatan kayak pagi, katanya.
Lima tahun aku nggak pernah memakai putih bersih.
Aku nggak tahu kenapa aku baru menyadarinya sekarang.
Di mobil, di perjalanan pulang, Tasya mengirim pesan.
Bu. Saya minta maaf banget. Saya nggak tahu harus gimana tadi.
Nggak apa-apa, Tas.
Bu, tadi waktu saya injak kakinya yang kelima, Pak Dokter bilang sesuatu ke saya. Ibu mau tahu?
Aku menatap pesan itu. Lalu menatap jendela mobil. Lampu-lampu Jakarta berkelebat di luar.
Apa?
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Lama.
Dia bilang, “Mbak Tasya, tolong jagain bos Mbak baik-baik. Dia nggak makan dari siang. Tadi saya lihat dia cuma pegang gelas, nggak minum, nggak makan. Tolong suruh dia makan.”
Terus saya ketawa, Bu, karena saya kaget. Masa dia perhatiin Ibu nggak makan? Terus dia senyum. Terus dia bilang, “Jangan bilang ke dia saya ngomong gini.”
Maaf, Bu. Saya bilang. Saya nggak bisa nyimpen rahasia. Ibu tahu kan.
Aku menatap layar ponselku lama sekali.
Lalu aku mematikannya, menyandarkan kepala ke jendela mobil yang dingin, dan menutup mata.
Perutku kosong. Aku memang nggak makan dari siang.
Aku nggak tahu bagaimana dia tahu.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton reading
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama