Chapter Thirty Two

Kepangan yang Gagal

POV: Adrian


Aku membaca pesan itu di dapur, jam delapan lewat sepuluh pagi, sambil memotong roti tawar jadi bentuk bintang.

Aku sayang kamu. Hari ini juga. Besok juga. Kamu boleh nggak jawab sampai kapan pun.

Pisau roti meleset. Bintang yang kupotong jadi punya enam sudut. Satu sudutnya miring.

“Papa, bintangnya cacat,” kata Elea dari kursi tingginya.

“Iya, Sayang.”

“Bintang nggak punya enam sudut.”

“Ada yang punya. Kepingan salju. Enam sudut.”

Elea menatap roti itu dengan curiga. “Itu bintang atau salju?”

“…Salju.”

“Elea nggak mau salju. Di Jakarta nggak ada salju. Elea mau bintang biasa.”

Aku memotong satu lagi. Lima sudut. Lurus. Elea menerimanya dengan puas.

Bi Imah, di kompor, menatap ponsel di tanganku yang masih menyala. Lalu menatap wajahku.

“Dari siapa?”

“Kerjaan, Bi.”

“Kerjaan bikin leher kamu merah?”

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Bi Imah tersenyum. Dia nggak bilang apa-apa lagi. Dia cuma mengaduk bubur kacang hijau sambil bersenandung lagu Rhoma Irama, dengan volume yang sedikit lebih keras dari biasanya.


Jam sepuluh tepat, pintu depan bicara.

“Ada tamu di pintu depan.”

Elea melompat dari sofa. Lalu dia berhenti. Ingat peraturannya sendiri. Dia merapikan gaunnya. Lalu dia berjalan, nggak berlari, ke pintu depan, dengan langkah yang dipelan-pelankan dan wajah yang dibuat serius.

Dia membuka pintu sebelum aku sempat.

“Selamat pagi, Tante,” katanya dengan nada formal, seperti resepsionis hotel.

“Selamat pagi, Elea.”

Bianca berdiri di teras. Kaus putih. Celana jins biru muda. Sepatu kanvas. Rambut dikepang satu, longgar, menjuntai di bahu kiri. Wajah tanpa riasan, kecuali sedikit warna di pipi yang mungkin bukan dari blush.

Di tangan kanannya, kantong kertas. Di tangan kirinya, nggak ada apa-apa. Tapi aku melihat jari-jarinya. Ujung jari telunjuk dan ibu jari kanan, dibalut plester. Bergambar kupu-kupu.

“Selamat datang di rumah,” kata pintu.

“Pagi,” jawab Bianca ke pintu.

Lalu dia menatapku. Di belakang Elea. Di ruang tengah.

Satu detik. Dua.

Lalu dia tersenyum. Senyum kecil yang sedikit bengkok di sudut kiri. Senyum yang bilang aku tahu kamu baca pesanku.

Leherku panas.


Kunjungan ketiga. Peraturan yang sama. Dua jam. Aku di ruangan yang sama.

Elea sudah menyiapkan agenda. Ditulis di kertas HVS dengan pensil warna empat puluh delapan warna, ditempel di pintu lemari es di samping gambar-gambar lama.

AGENDA SABTU KE-3: 1. Main kupu-kupu origami (Tante ngajarin bentuk baru) 2. Makan bubur Nenek 3. Tante kepang rambut Elea 4. Rahasia

“Nomor empat apa, Sayang?” tanyaku.

“Rahasia, Papa. Itu kenapa namanya rahasia.”

Nomor satu berjalan lancar. Bianca mengajari Elea membuat kupu-kupu origami dengan sayap ganda, model yang lebih rumit. Elea gagal empat kali, berhasil di percobaan kelima, dan merayakannya dengan berlari mengelilingi meja makan tiga kali sambil berteriak “ELEA BISA!”

Nomor dua berjalan lancar. Bi Imah menyajikan bubur kacang hijau dengan santan kental. Bianca menghabiskan dua mangkuk. Bi Imah menambahkan setengah mangkuk lagi. Bianca menghabiskannya juga.

“Kamu masih kurus,” kata Bi Imah.

“Saya udah naik dua kilo, Bi.”

“Kurang. Naik lima lagi.”

Nomor tiga.


Elea duduk di kursi meja rias kecil yang dia bawa sendiri dari kamarnya ke ruang tengah. Membelakangi sofa. Dengan sisir di tangan, yang dia serahkan ke Bianca dengan upacara yang sangat serius.

“Tante kepang Elea. Kepang dua. Kayak Papa.”

Bianca menerima sisir itu. Dia duduk di sofa di belakang Elea. Dia menatap rambut cokelat gelap yang tergerai di punggung kecil itu.

Aku duduk di kursi tunggal di seberang. Lengan terlipat. Mengawasi.

Bianca mulai menyisir. Pelan. Dari atas ke bawah. Tangannya sedikit gemetar. Aku bisa melihatnya dari sini.

Dia membagi rambut Elea jadi dua. Bagus. Lalu dia mengambil bagian kanan dan membaginya jadi tiga.

Kanan ke tengah. Kiri ke tengah. Kanan ke tengah.

Terlalu kencang.

“Aduh, Tante. Ketarik.”

“Maaf, maaf.” Bianca melonggarkan tangannya.

Kiri ke tengah. Kanan ke tengah.

Terlalu longgar. Kepangannya mulai lepas di atas.

Bianca menggigit bibir. Dia mencoba memperbaikinya. Menarik bagian yang lepas. Kepangannya jadi miring. Lalu lebih miring.

Dia terus mengepang. Dahinya berkerut. Lidahnya sedikit menjulur di sudut mulut. Persis seperti Elea waktu menggambar.

Waktu dia selesai, kepangan kanan Elea miring ke kiri dengan sudut empat puluh lima derajat, terlalu kencang di atas dan terlalu longgar di bawah, dengan beberapa helai rambut yang mencuat di tengah seperti antena.

Elea meraba kepangannya dengan tangan. Wajahnya berubah.

“Tante,” katanya pelan. “Ini kayak menara Pisa.”

Bianca menatap kepangan itu. Wajahnya memerah. Dari pipi sampai telinga.

“Tante… Tante latihan,” katanya. “Seminggu. Pakai kepala manekin. Tapi rambut manekin beda. Lebih kasar. Lebih…”

Dia berhenti. Dia menatap tangannya sendiri. Jari-jari dengan plester kupu-kupu.

Aku menatap jari-jari itu.

Seminggu. Kepala manekin. Jari yang lecet.

Lima tahun lalu, di flat Cowley, aku menonton video Easy French Braid for Dads tiga puluh dua kali sambil berlatih di kepala boneka bekas dari charity shop. Kepangan pertamaku untuk Elea miring ke kiri seperti menara Pisa, dan dia menangis karena rambutnya ketarik.

Jari-jariku juga lecet waktu itu. Rambut boneka bekas itu kasar.

Aku berdiri.


Aku nggak tahu kenapa aku berdiri.

Kakiku bergerak sendiri. Aku berjalan memutari kursi meja rias Elea. Ke belakang sofa. Ke belakang Bianca.

Dia menoleh, kaget.

“Lepas dulu,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kuinginkan. “Kepangannya. Lepas. Ulang.”

Bianca menatapku. Lalu, pelan, dia melepas kepangan miring itu. Rambut Elea tergerai lagi.

Aku berlutut di belakang sofa. Supaya tinggiku sejajar dengan tinggi Bianca yang duduk.

“Pegang bagian kanan,” kataku.

Dia memegangnya.

“Bagi tiga. Jangan sama besar. Yang tengah sedikit lebih tebal. Biar kepangannya nggak miring.”

Dia membaginya. Yang tengah sedikit lebih tebal.

“Sekarang…”

Aku mengulurkan tanganku. Melewati bahunya. Dan meletakkan tanganku di atas tangannya.

Tangan kananku di atas tangan kanannya. Tangan kiriku di atas tangan kirinya. Jari-jariku melingkari jari-jarinya. Jari-jari dengan plester kupu-kupu.

Dia berhenti bernapas.

Aku juga.

“Kanan ke tengah,” kataku. Pelan. Di belakang telinganya.

Aku menggerakkan tangannya. Bagian kanan, menyeberang ke tengah. Pelan. Dengan tekanan yang pas. Nggak terlalu kencang. Nggak terlalu longgar.

“Kiri ke tengah.”

Tangannya mengikuti tanganku. Bagian kiri, menyeberang ke tengah.

“Kanan ke tengah. Tarik sedikit. Sedikit aja. Cuma biar rapat.”

Dia menariknya sedikit.

“Bagus.”

Kanan ke tengah. Kiri ke tengah. Kanan ke tengah.

Aku bisa mencium rambutnya. Kepangan satu yang menjuntai di bahu kirinya, beberapa senti dari wajahku. Sampo yang sama. Lima tahun, dan sampo yang sama.

Aku bisa merasakan punggungnya. Bersandar ke dadaku. Sedikit. Sangat sedikit. Hampir nggak terasa. Tapi ada.

Aku bisa merasakan napasnya. Pendek. Cepat. Naik-turun di bawah lenganku yang melingkar di sekitar tubuhnya.

Kanan ke tengah. Kiri ke tengah.

Elea duduk di kursi meja rias di depan kami, membelakangi kami, dengan kepala tegak dan tangan terlipat di pangkuan. Diam. Sangat diam. Terlalu diam untuk anak lima tahun.

Kepangan kanan selesai. Lurus. Rapi. Nggak miring sama sekali.

Aku mengikat ujungnya dengan karet rambut kuning. Tangan Bianca di bawah tanganku. Jari-jarinya bergetar.

“Udah,” kataku.

Aku seharusnya melepaskan tangannya. Aku seharusnya berdiri. Aku seharusnya kembali ke kursi tunggal di seberang ruangan, melipat lengan, dan mengawasi.

Aku nggak melepaskannya.


Bianca menyandarkan punggungnya ke dadaku.

Bukan sedikit lagi. Sepenuhnya. Pelan. Seperti orang yang akhirnya berhenti menahan sesuatu. Kepalanya bersandar di bahuku. Pipinya menyentuh rahangku.

“Jangan dilepas dulu,” bisiknya.

Aku membeku.

“Lima detik aja.” Suaranya hampir nggak terdengar. Hanya untukku. “Aku kangen badan kamu. Bukan cuma kamu. Badan kamu. Tangan kamu. Dada kamu di punggungku. Aku kangen.”

Satu detik.

Tanganku masih di atas tangannya. Di ujung kepangan Elea. Jari-jariku melingkari jari-jarinya yang berplester kupu-kupu.

Dua detik.

Dia menoleh. Sedikit. Wajahnya sekarang menghadap wajahku. Sepuluh senti. Lima.

Aku bisa melihat bulu matanya. Panjang. Basah sedikit di ujung. Tahi lalat kecil di bawah mata kiri.

Tiga detik.

Matanya turun. Ke bibirku.

Aku menelan.

Empat detik.

Dia mendekat. Atau aku yang mendekat. Aku nggak tahu siapa. Jaraknya menyempit. Tiga senti. Dua. Aku bisa merasakan napasnya di bibirku. Hangat. Bau bubur kacang hijau dan santan.

Lima—

“Ehem.“


Kami berdua membeku.

Elea, di kursi meja rias, masih membelakangi kami. Kepalanya masih tegak. Tangannya masih terlipat di pangkuan.

“Ehem,” ulang Elea. Lebih keras. “Kepang yang kiri belum.”

Bianca menarik diri dari dadaku dengan kecepatan yang hampir membuatnya jatuh dari sofa. Aku menarik tanganku dari tangannya dengan kecepatan yang sama. Aku berdiri. Terlalu cepat. Lututku menabrak sandaran sofa.

“Iya,” kata Bianca. Suaranya tinggi. Terlalu tinggi. “Iya, Sayang. Kepang kiri. Sekarang.”

“Papa ajarin lagi,” kata Elea, masih tanpa menoleh. “Yang kanan bagus. Yang kiri juga harus bagus.”

Aku menatap punggung kecil anakku.

“Elea,” kataku pelan. “Kamu lihat?”

“Elea nggak lihat apa-apa,” kata Elea. “Elea lagi lihat dinding.”

Dia lagi lihat dinding.

Dinding di depan kursi meja riasnya. Dinding dengan cermin besar yang dipasang Bi Imah minggu lalu, biar Elea bisa lihat kepangannya sendiri.

Cermin yang memantulkan seluruh sofa di belakangnya.

Di dapur, Bi Imah menjatuhkan sendok sayur. Bunyinya keras sekali di lantai keramik. Lalu bunyi Bi Imah tertawa, tertahan, seperti orang yang tersedak.

“Nenek kenapa?” tanya Elea.

“Nggak apa-apa, Sayang!” teriak Bi Imah dari dapur. “Nenek kesandung semut!”


Kepangan kiri selesai dalam lima menit.

Aku nggak memegang tangan Bianca lagi. Aku berdiri di samping sofa, satu meter, dan memberi instruksi dengan suara. Bianca mengikutinya dengan tangan yang masih sedikit gemetar dan wajah yang masih merah sampai ke telinga.

Kepangannya sedikit miring. Lebih miring dari yang kanan. Tapi nggak seperti menara Pisa lagi.

Elea meraba kedua kepangannya. Kanan. Kiri. Lalu dia turun dari kursi, berbalik, dan menatap kami berdua.

Bianca di sofa. Aku berdiri di sampingnya. Keduanya merah.

Elea menatap kami lama. Dengan mata almond yang menyipit. Mata yang tahu.

“Kepangannya bagus,” katanya akhirnya. “Yang kanan lebih bagus. Soalnya Papa bantu.”

“Iya, Sayang,” kata Bianca.

“Yang kiri lumayan. Tante masih harus latihan.”

“Iya. Tante latihan lagi.”

Elea mengangguk. Lalu dia menatapku. “Papa.”

“Hm?”

“Muka Papa kayak tomat.”

Bi Imah, di dapur, tertawa keras sekali. Kali ini dia nggak repot-repot menyembunyikannya.


Nomor empat di agenda. Rahasia.

Elea menarik tangan Bianca ke halaman belakang. Ke pohon mangga. Ke ayunan ban bekas.

“Papa nggak boleh ikut,” katanya padaku, dengan tangan terentang di ambang pintu belakang seperti satpam. “Ini rahasia Elea sama Tante.”

“Papa harus di ruangan yang sama, Sayang. Itu peraturannya.”

Elea berpikir. “Papa boleh di dapur. Lihat dari jendela. Tapi nggak boleh dengar.”

Aku berdiri di jendela dapur. Bi Imah berdiri di sampingku, pura-pura mencuci piring yang sudah bersih.

Di luar, di bawah pohon mangga, Elea duduk di ayunan ban. Bianca berdiri di belakangnya, mendorong pelan. Elea bicara. Bianca mendengarkan. Lalu Bianca berhenti mendorong, dan berlutut di samping ayunan, supaya matanya sejajar dengan mata Elea.

Elea mengeluarkan sesuatu dari saku gaunnya. Kertas yang dilipat.

Kontrak. Kontrak Papa dan Tante Bianca. Yang dia buat hari Senin dengan Bayu.

Dia menyerahkannya ke Bianca.

Bianca membukanya. Membacanya. Dari atas sampai bawah.

Lalu dia berhenti di satu tempat. Di bawah. Aku tahu di mana. Nomor delapan. Yang ditulis Elea dengan pensil merah sambil menyembunyikannya dengan tangan.

Bianca menatap nomor delapan itu lama.

Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan.

Bahunya bergetar.

Elea menatapnya. Lalu Elea turun dari ayunan, berdiri di depan Bianca yang berlutut, dan menunjuk wajahnya dengan jari kecil.

Aku nggak bisa mendengar apa yang Elea katakan. Tapi aku bisa membaca bibirnya. Dua kata.

Peraturan satu.

Bianca tertawa. Sambil menangis. Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan, cepat-cepat, dan mengangguk.

Lalu dia mengambil pulpen dari saku celananya. Montblanc hitam dengan ujung emas. Dia selalu membawanya. Dan dia menandatangani kontrak itu di atas lututnya. Di bawah pohon mangga. Di samping ayunan ban bekas.

Elea mengambil kontrak itu kembali. Melipatnya. Memasukkannya ke saku.

Lalu dia berbalik, menatap jendela dapur, menatapku, dan melambaikan kertas itu dengan senyum lebar.

“Papa!” teriaknya dari halaman. “Tante udah tanda tangan! Sekarang giliran Papa!”


Waktu Bianca pulang, jam dua belas tepat, aku mengantarnya ke pagar.

Kami berjalan tanpa bicara. Pot-pot bunga. Pohon mangga. Ayunan ban bekas yang masih berayun pelan.

Di pagar, dia berhenti. Dia berbalik. Wajahnya masih merah di sekitar mata.

“Nomor delapan,” kataku. “Apa isinya?”

Dia menatapku.

“Elea bilang kamu harus baca sendiri,” katanya. “Setelah kamu tanda tangan.”

“Kalau aku nggak mau tanda tangan?”

“Kalau kamu nggak mau tanda tangan,” kata Bianca pelan, “kamu nggak akan pernah tahu.”

Dia membuka pagar sendiri. Melangkah keluar. Lalu berhenti, dan berbalik lagi.

“Adrian.”

“Hm?”

“Tadi. Di sofa.” Dia menatapku. Langsung. Tanpa berkedip. “Lima detik. Kita sampai detik keempat.”

Leherku panas.

“Lain kali,” katanya, “aku mau sampai lima.”

Dia berjalan ke mobilnya.

Aku berdiri di pagar, menatapnya pergi, dengan tangan yang masih bisa merasakan jari-jarinya di bawah jari-jariku. Plester kupu-kupu. Ujung jari yang lecet karena seminggu berlatih di kepala manekin.

Aku kembali ke dalam.

Elea menunggu di ruang tengah. Dengan kontrak di tangan. Dan pensil di tangan lain.

“Papa,” katanya. “Tanda tangan.”

Aku menatap kertas itu. Delapan nomor. Ditulis dengan pensil warna berbeda-beda. Dihiasi bintang dan kupu-kupu dan hamster bernama Kapitein.

Di bawah, dua garis. Garis pertama, TANTE BIANCA, sudah ditandatangani dengan Montblanc, tanda tangan yang rapi dan sedikit miring ke kiri.

Garis kedua, PAPA, kosong.

Nomor delapan ditutupi lipatan kertas. Elea melipatnya supaya aku nggak bisa membaca sebelum tanda tangan.

“Papa harus tanda tangan dulu,” kata Elea. “Baru boleh baca nomor delapan.”

“Itu nggak adil, Sayang. Orang harus baca kontrak sebelum tanda tangan.”

“Tante tanda tangan setelah baca.”

“Iya, karena—“

“Papa percaya Elea?”

Aku menatapnya.

Dia menatapku balik. Mata almond yang serius. Mata yang menunggu.

Ritual kami. Di siang hari. Di ruang tengah. Dengan kontrak di tangannya.

“Selalu,” kataku.

“Kalau gitu,” kata Elea, “tanda tangan.”

Aku menatap pensil yang dia sodorkan. Lalu menatap garis kosong di bawah tulisan PAPA.

Lalu aku menatap lantai ruang tengah. Di depan sofa. Tempat seorang perempuan berlutut dua puluh menit dua minggu lalu, dan nggak minta apa-apa.

Aku mengambil pensil itu.

Aku menandatanganinya.

Huruf A besar. Miring ke kanan. Seperti orang yang selalu terburu-buru ke depan.

Elea tersenyum lebar. Dia membuka lipatan kertas itu. Dan menunjukkan nomor delapan padaku.

Ditulis dengan pensil merah. Huruf-huruf besar yang miring dan nggak rata. Beberapa kata salah eja, dan Bayu jelas nggak membantu yang ini, karena salah ejanya terlalu jujur.

8. PAPA DAN TANTE BIANCA HARUS BAIKAN. TERUS JADI PAPA DAN MAMA LAGI. KAYAK DULU WAKTU ELEA MASIH BAYI. ELEA NGGAK INGAT TAPI ELEA MAU.

Aku menatap tulisan itu.

Lalu aku menatap tanda tanganku di bawahnya. Pensil. Huruf A yang miring.

Aku baru saja menandatanganinya.

“Papa udah tanda tangan,” kata Elea dengan sangat puas. “Nggak bisa dibatalin. Om Bayu bilang kontrak nggak bisa dibatalin.”

“Om Bayu bukan pengacara, Sayang.”

“Om Bayu doktor.”

“Doktor statistik.”

“Sama aja,” kata Elea, dan dia berlari ke dapur untuk menunjukkan kontrak itu ke Bi Imah.

Aku duduk di sofa. Di tempat Bianca duduk tadi. Masih hangat.

Aku menyandarkan kepala ke sandaran sofa dan menatap langit-langit.

Lain kali, aku mau sampai lima.

Dari dapur, aku mendengar Bi Imah membaca kontrak itu keras-keras, lalu diam lama, lalu bilang dengan suara yang bergetar, Ya Allah, Sayang. Nenek tempel ini di kulkas. Paling atas.

Dan Elea bilang, Di atas gambar Mama yang nggak ada mukanya, ya, Nek. Biar Mama tahu.