Chapter Twenty
Gedung yang Bernapas
POV: Adrian
“Papa, Papa kenal grup K-pop namanya Starlight Seven?”
“Nggak, Sayang.”
“Semua teman Elea kenal. Lucas kenal. Ms. Ratih kenal. Om Bayu juga kenal.”
Aku menoleh ke Bayu, yang sedang memakan bubur kacang hijau di meja makan dengan sangat fokus, seolah bubur itu adalah persamaan diferensial.
“Bay.”
“Mas, adik sepupuku fans berat. Aku cuma tahu dari dia. Aku nggak hafal lagunya. Paling cuma tiga. Empat. Ya udah, tujuh.”
“Om Bayu bisa dance-nya,” lapor Elea dengan bangga. “Elea lihat di kantor Papa. Waktu Papa lagi telepon.”
Bayu tersedak bubur.
Bi Imah, dari dapur, tertawa sampai harus bersandar ke kulkas.
“Starlight Seven konser di Rexton Mall Kemayoran hari Sabtu,” lanjut Elea, nggak peduli Bayu yang sedang batuk-batuk. “Fan meeting. Gratis. Tapi harus antre dari pagi. Lucas mau datang sama mamanya. Elea boleh ikut?”
“Nggak, Sayang.”
“Kenapa?”
“Karena Papa kerja di sana hari Sabtu.”
Itu benar. Hari Sabtu adalah uji AURA kedua di Rexton Mall Kemayoran. Uji pertama dengan kerumunan nyata dalam skala besar. Rexton Entertainment menggelar fan meeting grup idola Korea di atrium yang sudah diperbaiki, panel-panel plafon yang lama sudah dicopot semua dan diganti rangka baru yang kuawasi sendiri pemasangannya. Panitia memperkirakan tiga ribu penggemar. Kapasitas atrium dan koridor sekitarnya, menurut perhitunganku, aman untuk empat ribu.
Seribu orang margin keselamatan. Cukup.
Itu yang kupikirkan hari Kamis.
Hari Sabtu, jam sembilan pagi, sudah ada lima ribu orang di luar mal.
Jam sepuluh, tujuh ribu.
Aku berdiri di ruang kendali sementara di lantai empat Rexton Mall Kemayoran, ruang rapat kecil yang diubah jadi pusat komando AURA, dengan enam monitor besar, dua puluh kamera, dan Bayu yang mengetik dengan kecepatan yang biasanya cuma dia pakai waktu dikejar deadline jurnal.
“Mas, angka kepadatan di pintu timur udah lewat ambang batas kuning.”
“Berapa yang di dalam?”
“Tiga ribu dua ratus. Di luar, antre, empat ribu lebih. Dan masih nambah. Ada yang bilang di media sosial, Starlight Seven bakal turun ke kerumunan buat salaman. Jadi orang-orang yang tadinya mau nonton dari rumah sekarang datang.”
Aku menatap layar. Model tiga dimensi mal itu, garis-garis biru dan ribuan titik-titik kecil yang bergerak. Di sekitar atrium, titik-titik itu sudah berubah warna. Dari hijau ke kuning. Di beberapa tempat, oranye.
“Siapa yang pegang keputusan panitia?”
“Rexton Entertainment, Mas. Tapi Bu Bianca project lead gedungnya. Dia di bawah. Di area atrium.”
Tentu saja dia di bawah.
Dia datang jam delapan dengan celana panjang hitam, kemeja putih, sepatu datar, dan rambut diikat ekor kuda. Lipstiknya merah, tapi lebih tipis. Dia nggak menatapku waktu kami berpapasan di lift. Aku juga nggak menatapnya.
Tapi aku melihat dia memakai sepatu datar. Bukan hak tinggi.
Aku nggak tahu kenapa aku memperhatikan itu.
“Hubungi dia,” kataku. “Bilang dia harus tutup pintu masuk sekarang. Nggak ada lagi yang masuk.”
Bayu mengetik. Lalu dia menatapku. “Mas. Dia bilang panitia Rexton Entertainment nolak. Mereka bilang kontrak sponsor mewajibkan kapasitas minimal empat ribu. Kalau ditutup sekarang, mereka kena penalti.”
“Bilang ke dia, persetan dengan penalti.”
Bayu menatapku. “Pakai kata ‘persetan’, Mas?”
“Pakai kata apa aja, Bay.”
Jam sebelas lewat dua puluh, Starlight Seven naik ke panggung.
Aku mendengarnya dari lantai empat. Jeritan. Bukan jeritan. Gelombang suara yang menghantam dinding-dinding mal seperti ombak menghantam karang. Tiga ribu delapan ratus orang menjerit bersamaan.
Di layar, titik-titik di atrium bergerak. Semuanya. Serentak. Ke arah panggung.
“Mas…”
“Aku lihat, Bay.”
Kepadatan di area depan panggung naik dari oranye ke merah dalam sepuluh detik. Model tekanan AURA, yang membaca berat dan gerakan dari sensor di lantai dan kamera di langit-langit, mulai menampilkan garis-garis tekanan. Gelombang. Seperti riak air yang dilempar batu. Menjalar dari depan panggung ke belakang, memantul di dinding, menumpuk.
Dan di satu titik, di ujung selatan atrium, di tempat eskalator turun dari lantai satu bertemu dengan lantai dasar, gelombang-gelombang itu bertemu.
“Mas,” kata Bayu, suaranya berubah. “Eskalator selatan.”
Aku sudah melihatnya.
Eskalator selatan masih bergerak turun. Orang-orang dari lantai satu, yang tadinya menonton dari pagar balkon, mulai turun ke lantai dasar karena ingin lebih dekat ke panggung. Eskalator itu mengantarkan mereka terus-menerus, satu per satu, ke kaki eskalator, ke titik di mana kerumunan di lantai dasar sudah terlalu padat untuk menerima mereka.
Orang-orang di kaki eskalator nggak bisa bergerak maju. Orang-orang di eskalator nggak bisa berhenti turun.
Mesinnya terus berjalan.
“Model prediksi,” kataku.
Bayu mengetik. Wajahnya putih. “Mas. AURA bilang tekanan di kaki eskalator selatan udah empat setengah orang per meter persegi dan naik. Kalau sampai enam, orang bisa jatuh. Kalau satu jatuh di kaki eskalator yang masih jalan…”
Dia nggak menyelesaikan kalimatnya. Dia nggak perlu.
“Berapa lama?”
“Tiga menit. Mungkin dua.”
Aku nggak lari ke bawah. Belum.
Aku mengambil keyboard dari tangan Bayu.
Lima tahun aku membangun AURA. Lima tahun aku menulis setiap baris kodenya, menguji setiap algoritmanya, membayangkan setiap skenario. Di flat Cowley jam tiga pagi. Di laboratorium dengan Elea tidur di matras di sudut. Di perpustakaan Radcliffe Science dengan bayi di gendongan.
AURA bukan cuma bisa membaca gedung. AURA bisa bicara dengan gedung.
Dan uji kedua ini, atas permintaanku, sudah diberi akses penuh ke sistem gedung Rexton Mall Kemayoran. Eskalator. Pintu darurat. Pengeras suara. Lampu. Semuanya.
“Bay, buka override manual.”
“Mas, itu belum diuji di—“
“Buka, Bay.”
Bayu membukanya.
Aku mengetik.
Eskalator selatan: STOP. Bertahap, deselerasi lima detik. Supaya orang yang sedang di atasnya nggak terjatuh karena berhenti mendadak.
Eskalator selatan atas: ARAH BALIK. Naik. Supaya orang-orang di lantai satu yang mau turun nggak bisa turun lagi, dan orang-orang di kaki eskalator punya jalan keluar ke atas.
Pintu darurat B3, B4, B5 sisi barat: BUKA. Pintu-pintu yang nggak dipakai hari ini, yang dikunci panitia karena “terlalu jauh dari area acara”. Pintu-pintu yang mengarah ke koridor kosong dan tempat parkir di sisi barat.
Pencahayaan koridor barat: TERANG MAKSIMAL. Lampu arah hijau: AKTIF.
Pengeras suara atrium: Pengumuman darurat. Bahasa Indonesia, lalu Inggris, lalu Korea.
Aku menekan Enter.
Gedung itu bernapas.
Di layar, eskalator selatan melambat. Lima detik. Berhenti. Orang-orang di atasnya terhuyung sedikit, berpegangan pada pagar, tapi nggak ada yang jatuh.
Eskalator di sebelahnya, yang tadinya turun, berhenti, lalu mulai bergerak naik.
Di sisi barat atrium, tiga pintu darurat yang tadinya tertutup rapat terbuka bersamaan. Cahaya terang menyembur dari koridor di baliknya. Lampu-lampu hijau di lantai menyala, membentuk garis panah yang menunjuk ke arah pintu.
Dari pengeras suara di seluruh atrium, suara perempuan yang tenang dan jelas, suara rekaman yang kuprogram di Oxford dengan bantuan mahasiswi Korea di laboratorium kami:
“Perhatian. Untuk keselamatan Anda, mohon bergerak perlahan ke arah pintu barat yang ditandai lampu hijau. Tidak perlu terburu-buru. Acara tetap berlangsung.”
Lalu dalam bahasa Inggris. Lalu dalam bahasa Korea.
Dan di atas panggung, salah satu anggota Starlight Seven, entah karena diberi tahu kru atau karena dia sendiri melihat ada yang salah, mengambil mikrofon dan bicara dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata:
“Teman-teman! Tolong… tolong mundur sedikit! Kami nggak ke mana-mana! Kami sayang kalian! Hati-hati!”
Jeritan berubah jadi sorakan.
Dan di layar, titik-titik merah di kaki eskalator selatan mulai bergerak. Pelan. Ke kiri, ke arah pintu barat. Ke atas, ke eskalator yang sekarang naik. Tekanan turun. Lima koma dua. Lima. Empat koma delapan.
Bayu menghembuskan napas yang dia tahan sejak tadi.
“Mas,” bisiknya. “Mas, kamu barusan…”
Aku nggak mendengar sisanya. Mataku menatap satu kamera. Kamera nomor empat belas. Kamera yang mengarah ke area tengah atrium, di antara panggung dan eskalator selatan.
Di kamera itu, di tengah kerumunan yang mulai bergerak, ada satu titik yang bergerak ke arah yang berlawanan.
Bukan ke pintu barat. Bukan ke eskalator.
Ke tengah kerumunan.
Ke arah seorang anak kecil yang menangis sendirian di dekat pagar pembatas panggung, terpisah dari orang tuanya, terjepit di antara kaki-kaki orang dewasa.
Titik itu memakai kemeja putih dan rambut diikat ekor kuda.
Aku lari.
Tangga darurat. Empat lantai. Dua anak tangga sekaligus. Bekas jahitan di lengan kiriku berdenyut setiap kali aku memegang pegangan tangga.
Lantai dasar. Pintu tangga darurat terbuka ke koridor belakang atrium. Bunyi. Bau. Panas. Ribuan tubuh. Musik dari panggung yang masih menggelegar. Suara pengumuman yang terus berulang dalam tiga bahasa.
Aku masuk ke kerumunan.
Kerumunan itu sudah lebih longgar daripada lima menit lalu, tapi masih padat. Aku menyelinap di antara bahu-bahu. Remaja-remaja dengan lightstick. Ibu-ibu dengan kipas. Mahasiswa-mahasiswa dengan kaus bergambar wajah-wajah Korea. Semuanya bergerak pelan ke arah barat, seperti sungai yang berbelok.
Aku melawan arus.
Pagar pembatas panggung. Lima meter. Tiga meter.
Aku melihatnya.
Bianca berjongkok di dekat pagar pembatas, memeluk seorang anak laki-laki kecil, mungkin empat tahun, yang menangis histeris. Dia melindungi kepala anak itu dengan tangannya. Tubuhnya membentuk kubah di atas tubuh kecil itu.
Dan di belakangnya, sekelompok remaja yang nggak mendengar pengumuman, atau mendengar dan nggak peduli, masih mendorong ke depan, ke arah panggung, karena salah satu anggota Starlight Seven sedang turun dari panggung dan mendekati pagar.
Mereka mendorong. Dan Bianca, yang berjongkok di depan pagar, terhimpit di antara pagar besi dan tubuh-tubuh yang mendorong.
Aku melihat wajahnya. Merah. Napasnya terputus-putus. Tangannya masih melindungi kepala anak itu. Dia nggak bisa berdiri. Dia nggak bisa bergerak.
Aku sampai.
Aku nggak memikirkan apa-apa. Nggak ada ruang untuk berpikir. Aku memutar tubuhku, membelakangi kerumunan remaja itu, dan membentangkan dua tanganku di pagar besi, di kiri dan kanan Bianca. Membentuk dinding. Tubuhku jadi dinding antara dia dan kerumunan.
Dorongan dari belakang menghantam punggungku. Keras. Aku menahan. Bahuku berderit. Bekas jahitan di lengan kiriku robek sedikit, aku merasakannya, panas dan basah.
Aku menahan.
“Angkat anaknya,” kataku, menunduk ke arah Bianca. Wajahku sepuluh senti dari wajahnya. “Berdiri pelan. Aku tahan.”
Dia mendongak. Menatapku.
Mata yang lebar dan basah dan nggak percaya.
“Berdiri, Bi.”
Dia berdiri. Pelan. Dengan anak laki-laki itu di gendongannya. Di dalam dinding yang kubentuk dengan tubuhku, dia berdiri, dan kepalanya hampir menyentuh daguku.
“Pegang bajuku,” kataku. “Jangan lepas.”
Tangannya mencengkeram bagian depan kemejaku. Seperti di basement. Tapi kali ini bukan untuk menarik. Untuk bertahan.
Aku melepaskan satu tangan dari pagar. Aku meletakkannya di belakang kepalanya. Telapak tanganku menutupi bagian belakang kepalanya, melindunginya, dan aku menariknya ke dadaku. Dia dan anak laki-laki di gendongannya. Keduanya.
Lalu aku mulai bergerak. Ke samping. Menyusuri pagar. Menuju celah di ujung pagar, ke arah pintu barat. Pelan. Selangkah demi selangkah. Dengan punggungku menahan dorongan kerumunan, dan dua orang di dadaku.
Lima langkah. Sepuluh. Lima belas.
Celah.
Kerumunan di sisi ini lebih longgar. Lampu hijau di lantai berkedip, menunjuk ke arah pintu barat. Udara lebih dingin.
Aku berhenti.
Dan untuk dua detik, aku nggak melepaskannya.
Dua detik. Tanganku masih di belakang kepalanya. Dadanya masih menempel di dadaku, dengan anak laki-laki kecil yang masih terisak terjepit di antara kami. Aku bisa merasakan jantungnya. Cepat. Sangat cepat. Berdetak di dadaku seperti jantung burung.
Atau itu jantungku. Aku nggak tahu.
Rambutnya bau sampo yang sama. Lima tahun. Sampo yang sama.
Dua detik.
Lalu aku melepaskannya.
“Kevin!”
Seorang perempuan muda berlari menembus kerumunan, wajahnya basah oleh air mata, tangannya terulur. “Kevin! Ya Allah, Kevin!”
Anak laki-laki di gendongan Bianca menoleh, dan menjerit “MAMA!” dengan suara yang pecah.
Bianca menyerahkannya. Perempuan muda itu memeluk anaknya dan menangis, dan menangis, dan bilang terima kasih berkali-kali, terima kasih, Bu, terima kasih, Pak, terima kasih, sampai suaranya habis.
Lalu dia pergi, menggendong anaknya, ke arah pintu barat.
Bianca dan aku berdiri di tengah kerumunan yang mulai mencair. Satu meter. Nggak lebih.
Dia menatapku. Rambutnya lepas dari ikatan ekor kuda, jatuh berantakan di bahunya. Kemeja putihnya kusut dan basah oleh keringat. Lipstik merahnya luntur. Dan di wajahnya, nggak ada baju zirah. Nggak ada CEO Rexton Malls. Cuma seorang perempuan yang baru saja hampir terhimpit sampai mati, dan yang menatapku seperti melihat sesuatu yang nggak bisa dia mengerti.
“Kamu…” Suaranya serak. “Lengan kamu. Berdarah lagi.”
Aku melihat ke bawah. Lengan kemeja kiriku merah di bagian siku. Bekas jahitan yang robek.
“Nggak apa-apa.”
“Itu bukan nggak apa-apa.”
“Bianca.”
Dia berhenti.
Aku sadar aku memanggil namanya. Bukan Bu Rexton. Namanya. Untuk kedua kalinya hari ini, kalau dihitung yang tadi di pagar. Aku nggak tahu kapan aku berhenti memanggilnya Bu Rexton. Aku nggak tahu kapan namanya keluar begitu saja dari mulutku seperti dulu.
“Kenapa kamu masuk ke kerumunan?” tanyaku. Suaraku keluar lebih kasar dari yang kuinginkan. “Pengumuman udah jalan. Pintu udah dibuka. Kamu bisa keluar. Kenapa kamu masuk?”
Dia menatapku.
“Ada anak kecil,” katanya sederhana. “Nangis sendirian.”
Aku nggak bisa menjawab.
“Aku lihat dia dari ujung atrium,” lanjutnya, pelan. “Rambutnya cokelat. Kurus. Umurnya kira-kira… kira-kira lima tahun. Dari jauh aku kira…”
Dia berhenti.
Aku tahu apa yang dia kira. Aku tahu, karena di kamera nomor empat belas, waktu aku pertama kali melihat anak kecil yang menangis sendirian di dekat pagar, jantungku berhenti selama satu detik. Karena rambutnya cokelat. Karena kurus. Karena umurnya kira-kira lima tahun.
Karena dari jauh, aku juga mengira.
“Dia aman di rumah,” kataku pelan. “Sama Bi Imah. Nonton Starlight Seven di TV.”
Bianca menutup matanya. Napasnya bergetar.
“Aku tahu,” bisiknya. “Aku tahu. Aku cuma… aku nggak berpikir. Aku lihat anak kecil nangis, dan aku nggak berpikir.”
Kami berdiri di sana. Satu meter. Di tengah kerumunan yang berjalan pelan ke arah pintu barat, mengikuti lampu-lampu hijau di lantai.
Dan aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang menghantam dadaku lebih keras dari dorongan kerumunan tadi.
Lima tahun lalu, perempuan ini bilang dia nggak mau lihat anaknya.
Hari ini, dia lari ke tengah kerumunan tiga ribu orang karena seorang anak asing dari jauh terlihat mirip anaknya.
Aku nggak tahu bagaimana dua orang itu bisa jadi orang yang sama.
Videonya viral dalam dua jam.
Seseorang di balkon lantai satu merekamnya dengan ponsel. Tiga puluh dua detik. Laki-laki berkemeja biru dan berkacamata yang menembus kerumunan, membentuk dinding dengan tubuhnya di depan pagar besi, melindungi perempuan berkemeja putih yang memeluk anak kecil. Laki-laki itu menutupi kepala perempuan itu dengan tangannya. Menariknya ke dadanya. Menuntun mereka keluar dari kerumunan, selangkah demi selangkah.
Dan dua detik terakhir, waktu mereka sudah aman, laki-laki itu nggak langsung melepaskan perempuan itu.
Dua detik.
Judulnya, di akun gosip dengan tiga juta pengikut:
DOKTER PENYELAMAT REXTON! Dr. Adrian Renaldi Selamatkan CEO Rexton Bianca Rexton di Fan Meeting Starlight Seven. Netizen: “Kok Pelukannya Lama Banget?”
Komentarnya sudah dua puluh ribu.
“2 detik itu gue replay 50x”
“KATANYA DULU MEREKA SUAMI ISTRI???”
“Lihat tangannya di belakang kepala ceweknya ya Tuhan”
“Ini bukan penyelamatan ini adegan drakor”
“Yang di kerumunan pada lari ke pintu barat, dia malah lari ke ceweknya”
Bayu membacakan komentar-komentar itu keras-keras di ruang kendali, satu per satu, dengan nada yang makin lama makin seperti penyiar berita olahraga, sampai aku mengambil tabletnya dan memasukkannya ke laci.
“Mas,” kata Bayu, sama sekali nggak menyesal. “Dua puluh ribu komentar. Kamu trending nomor tiga se-Indonesia. Di atas berita harga cabai.”
“Bay, kerjakan laporan uji AURA.”
“Lagi kukerjakan, Mas.” Dia mengetik dengan satu tangan. Dengan tangan yang lain, dia mengeluarkan ponselnya sendiri dan membuka sesuatu. “Oh, satu lagi. Grup ‘Tim Bu Bianca’ juga heboh. Tasya kirim stiker nangis empat puluh kali.”
“Kamu masuk grup itu?”
“Dari minggu lalu, Mas. Lewat grup senam Zumba.”
Aku pulang jam tujuh malam dengan perban baru di lengan kiri. Enam jahitan ulang.
“Selamat datang di rumah,” kata pintu depan.
Elea berlari dari ruang tengah. Dia berhenti tiga langkah di depanku, menatap perban di lenganku, dan bibir bawahnya mulai bergetar.
“Papa, lengan Papa lagi?”
“Cuma sedikit, Sayang.”
“Elea lihat di TV!” Dia menunjuk ke ruang tengah, ke televisi yang masih menyala. Saluran berita. Video tiga puluh dua detik itu sedang diputar ulang, dengan judul besar di bawahnya. “Papa di TV! Papa lari ke tengah orang banyak! Terus Papa peluk… peluk…”
Dia berhenti. Dia menatap layar televisi. Video itu sedang memperbesar wajah perempuan berkemeja putih di dada laki-laki berkemeja biru.
Elea menatapnya lama.
“Itu Tante cantik,” bisiknya.
Aku nggak menjawab.
Elea menoleh padaku. Matanya lebar. Bingung. Dan, entah kenapa, sedikit berbinar.
“Papa nolongin Tante cantik?”
“Papa nolongin semua orang, Sayang.”
“Tapi yang Papa peluk cuma Tante cantik.”
Bi Imah, di ambang pintu dapur, berdeham keras sekali dan masuk kembali ke dapur.
“Papa,” kata Elea, menarik ujung lengan bajuku yang nggak berdarah. “Kalau Papa nolongin Tante cantik, berarti Papa udah nggak marah sama Tante?”
Aku menatap anakku. Lalu menatap televisi. Laki-laki di layar itu, dengan tangan di belakang kepala seorang perempuan, dua detik terlalu lama.
Aku nggak tahu siapa laki-laki itu.
“Papa nggak tahu, Sayang,” kataku. Jujur. Untuk kedua kalinya dalam seminggu.
Elea menatapku lama. Lalu dia tersenyum. Senyum kecil yang penuh rahasia, senyum yang jelas-jelas dia warisi dari seseorang yang bukan aku.
“Elea tahu,” katanya.
Lalu dia berlari ke kamarnya. Aku mendengar laci dibuka. Bunyi kertas. Bunyi krayon. Bunyi pensil warna empat puluh delapan warna yang masih baru, yang Bi Imah belikan entah kapan, dengan uang entah dari mana.
Malam itu, waktu aku menyelimutinya, dia memegang ujung lengan bajuku.
“Papa percaya Elea?”
“Selalu.”
“Kalau gitu,” katanya dengan mata terpejam, setengah tidur, “Papa harus percaya, Tante cantik juga sayang Papa. Elea lihat di TV. Mukanya kayak Elea kalau lihat Mr. Snuggles.”
Dia tertidur sebelum aku bisa menjawab.
Aku duduk di tepi kasurnya lama sekali, dengan lengan yang berdenyut di balik perban baru, dan menatap bintang-bintang plastik di langit-langit.
Dua detik.
Aku menghitungnya. Aku tahu persis berapa lama.
Dan aku tahu, dengan kejujuran yang nggak bisa kuhindari di kamar gelap itu, bahwa kalau Bianca nggak bergerak duluan, kalau ibu si anak laki-laki itu nggak datang berlari, aku nggak akan melepaskannya di detik kedua.
Aku mungkin nggak akan melepaskannya sama sekali.
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas reading
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama