Chapter Forty Six
Aku Percaya Kamu
POV: Adrian
Minggu malam, jam sebelas, aku membuka laci meja samping kasur.
Buku catatan hitam. Sampul kulit yang sudah lusuh di ujung-ujungnya. Buku yang kubeli di minggu pertama di Oxford, di toko alat tulis kecil di Cornmarket Street, dengan uang yang seharusnya untuk membeli popok. Buku yang halaman pertamanya kosong selama lima tahun, sampai suatu malam di dapur rumah Summertown, dengan surel Hallworth Capital di layar laptop dan kopi tubruk yang sudah dingin.
Aku membukanya.
Halaman pertama.
Aku tidak akan memaafkan mereka.
Tidak dia.
Tulisan tanganku. Huruf A yang miring ke kanan. Tinta hitam yang ditekan keras ke kertas, sampai di balik halaman, kalimat itu terbaca terbalik seperti bekas luka.
Tujuh bulan lalu, aku menulisnya dengan tangan yang nggak gemetar. Aku tahu persis apa yang kumau. Aku tahu persis siapa mereka dan siapa dia.
Malam ini, aku menatapnya lagi.
Mereka.
Hendra, yang sekarang di Rutan Salemba, menunggu dipindahkan ke Lapas Cipinang untuk tujuh tahun. Marcel, lima tahun, yang dari balik jeruji masih sempat menyuruh orang membakar ruang sampah di samping taman bermain anak. Veronica, yang berlutut di lantai keramik koridor pengadilan dan bertanya apakah cucunya pintar. Oma Margareth, yang sekarang duduk sendirian di kursi beludru hijau di ruang tengah rumah Menteng, dengan Duchess Kedua di pangkuannya, setelah dewan direksi Rexton Group memberhentikannya sebagai Ketua dalam rapat darurat hari Rabu.
Mereka.
Aku belum memaafkan mereka. Mungkin aku nggak akan pernah. Atau mungkin suatu hari. Aku nggak tahu.
Tapi aku nggak lagi menghabiskan malam dengan memikirkan mereka. Itu sesuatu.
Tidak dia.
Aku menatap dua kata itu.
Lalu aku mengambil pulpen.
Aku nggak mencoret kalimat itu.
Kalimat itu benar. Waktu aku menulisnya, kalimat itu benar. Aku nggak mau berpura-pura nggak pernah menulisnya. Aku nggak mau menghapus laki-laki yang duduk di dapur Summertown tujuh bulan lalu dengan tangan yang nggak gemetar dan dendam yang sudah lima tahun matang. Laki-laki itu pernah ada. Laki-laki itu membawaku pulang.
Aku cuma menulis di bawahnya.
Pelan. Dengan tangan yang, malam ini, gemetar sedikit.
Aku salah soal dia.
Aku berhenti. Menatap kalimat itu.
Lalu aku menulis lagi.
Bukan karena dia nggak salah. Dia salah. Dia diam waktu aku berlutut. Dia lega waktu Elea pergi. Dia lima tahun nggak datang. Dia sendiri yang bilang begitu, di depan hakim, di depan ratusan orang, tanpa menunduk.
Aku salah karena aku kira orang nggak bisa berubah.
Dia berlutut dua puluh menit di lantai ruang tengahku dan nggak minta apa-apa. Dia duduk delapan jam di lantai lorong waktu Elea bilang jangan masuk. Dia cabut semua kursinya supaya nggak bisa dipakai nukar kebenaran. Dia manjat panjatan dalam asap.
Dia ketuk pintu. Akhirnya. Lima tahun terlambat. Tapi dia ketuk.
Dan aku buka.
Aku berhenti lagi. Tanganku gemetar lebih keras sekarang. Aku meletakkan pulpen. Menarik napas. Mengambilnya lagi.
Sumpah ini kalah.
Aku rela.
Aku menutup buku catatan itu.
Lalu aku membukanya lagi. Dan menambahkan satu baris terakhir. Kecil. Di pojok bawah halaman.
Kupu-kupu awalnya ulat. — kata Pak Robert, ke putrinya, waktu dia tujuh belas tahun.
Ternyata dia benar.
Jam lima pagi, aku bangun sebelum siapa pun.
Aku turun ke dapur. Aku menyalakan kompor gas portabel Bi Imah. Tiga kali klik-klik-klik sebelum menyala. Aku mendidihkan air.
Aku mengambil toples kopi bubuk hitam dari lemari. Kopi tubruk kampung dari pasar Cicadas. Toples yang Bianca isi ulang minggu lalu, waktu dia pulang dari Bandung untuk kedua kalinya, kali ini untuk membeli kerupuk udang dan asam jawa dan, katanya, kopi yang benar.
Dua sendok penuh. Ke dalam termos hitam kecil. Termos yang sama yang dia bawa ke kantor Hallworth di hari pertama, yang kopinya kutuang ke wastafel.
Air mendidih. Bukan air panas. Mendidih yang baru diangkat dari kompor.
Aku menuangnya.
Tiga kali aduk. Searah jarum jam.
Ditutup. Empat menit.
Aku belum pernah membuat kopi tubruk untuknya. Satu setengah tahun menikah, dia yang membuatnya untukku setiap pagi. Lima tahun di Oxford, aku membuatnya untuk diriku sendiri. Empat bulan terakhir, dia membuatnya lagi, setiap pagi, dua cangkir di mejaku.
Pagi ini, aku yang membuatnya.
Dia nggak suka kopi. Dia nggak pernah minum kopi. Dia membuatkannya setiap pagi satu setengah tahun tapi nggak pernah meminumnya.
Tapi Bi Imah cerita, minggu lalu, sambil mengupas bawang di dapur. Neng Bianca sekarang minum kopi tubruk, Adrian. Tiap pagi. Di apartemennya. Katanya dulu nggak suka. Katanya sekarang suka. Katanya rasanya kayak menelan semua yang dia buang, tapi lama-lama jadi rasa yang dia cari.
Empat menit.
Aku menutup termos. Aku memasukkannya ke tas.
Lalu aku naik ke kamar Elea.
“Elea. Bangun, Sayang.”
Elea membuka satu mata. “Masih gelap, Papa.”
“Iya. Papa mau pergi sebentar.”
Elea membuka mata yang satunya. Dia duduk. Rambutnya kusut. Jepit kupu-kupu miring di atas telinga kanan.
“Ke mana?”
“Ke tempat yang benar.”
Elea menatapku. Lalu matanya membulat. Pelan. Seperti orang yang baru menyadari sesuatu.
“Tempat yang benar,” ulangnya. “Yang Papa bilang di tangga pengadilan? Rahasia?”
“Iya.”
Elea melompat dari kasur. Langsung. Tanpa protes soal gelap. Tanpa minta lima menit lagi. Dia berdiri di lantai dengan piyama kelinci dan menatapku dengan mata yang menyala.
“Elea ikut.”
“Sayang, ini—“
“Kontrak nomor delapan,” kata Elea. “Elea yang bikin. Elea harus lihat. Kalau Elea nggak lihat, nanti Papa curang.”
Aku menatap anakku.
Lalu aku tersenyum.
“Ganti baju,” kataku. “Yang kuning.”
Hotel Arunaya. Jalan Thamrin. Jam enam lewat dua puluh pagi.
Lobinya sepi. Lampu kristal di langit-langit menyala setengah. Lantai marmer yang baru dipel, mengilap. Bau kopi dari restoran di sudut yang baru buka.
Dan di tengah lobi, menghadap pintu masuk, sofa beludru hijau tua.
Sofa yang sama.
Aku berdiri di depannya lama.
Empat bulan lalu, seorang perempuan dengan setelan putih gading dan lipstik merah duduk di sofa ini. Tegak seperti patung. Tiga jam. Dengan sepatu hak tinggi yang membuat kakinya sakit. Dengan wartawan di sofa sebelah dan staf yang berbisik-bisik. Menunggu laki-laki yang nggak mau turun.
Aku membuatnya menunggu tiga jam.
Pagi ini, aku yang menunggu.
Aku duduk di sofa beludru hijau itu. Di tempat yang sama. Menghadap pintu masuk. Aku meletakkan termos hitam di meja kaca di depanku.
Elea duduk di sampingku. Gaun kuning. Kaus kaki putih berenda. Sepatu merah. Rambut dikepang dua dengan pita kuning, kepangan yang kubuat di mobil, di tempat parkir, dalam lima menit, sambil Elea bilang cepetan, Papa, cepetan. Jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanan.
Dia memegang tanganku. Erat.
“Papa,” bisiknya. “Tante… Mama datang jam berapa?”
“Jam tujuh.”
“Papa udah bilang ke Mama di sini?”
“Papa bilang jam tujuh. Papa nggak bilang di mana.”
Elea menatapku dengan horor. “Papa! Nanti Mama ke kantor Papa!”
“Papa kirim pesan jam setengah tujuh. Kasih tahu tempatnya.”
“Kenapa nggak dari kemarin?”
“Biar Mama nggak sempat ganti baju tujuh kali.”
Elea berpikir. Lalu dia mengangguk dengan sangat serius. “Itu pintar, Papa.”
Jam enam lewat tiga puluh, aku mengirim pesan.
Bi. Bukan di kantor Hallworth.
Hotel Arunaya. Lobi. Sofa hijau.
Aku udah di sini. Kamu nggak perlu buru-buru.
Aku tunggu.
Kirim.
Balasan datang dalam tiga detik.
Arunaya?
Lalu, lima detik kemudian:
Adrian. Kenapa Arunaya?
Aku nggak membalas.
Lalu, sepuluh detik kemudian, satu pesan lagi:
Oh.
Lalu nggak ada pesan lagi.
Resepsionis yang bertugas pagi itu adalah perempuan muda dengan senyum terlatih. Perempuan yang sama. Aku mengenalinya. Dia yang empat bulan lalu dengan suara gemetar menyampaikan pesanku ke seluruh lobi: Pak Renaldi hanya menerima tamu yang punya janji. Ibu Rexton tidak punya.
Dia menatapku dari meja resepsionis. Lalu menatap Elea di sampingku. Lalu menatap termos hitam di meja kaca.
Dia mengenaliku. Aku bisa melihat dari wajahnya. Dia mengenaliku dan dia ingat. Dan dia jelas nggak tahu harus melakukan apa dengan ingatan itu.
Aku berdiri. Aku berjalan ke meja resepsionis.
“Selamat pagi.”
“S-selamat pagi, Pak Renaldi.”
“Sebentar lagi akan ada tamu. Perempuan. Namanya Bianca.”
Resepsionis itu menelan ludah. “Ehm. Ibu Bianca Rexton, Pak?”
“Bianca,” kataku. “Cukup Bianca.”
“Baik, Pak. Ehm… Ibu Bianca punya janji, Pak?”
Aku menatap perempuan muda itu.
“Punya,” kataku. “Seumur hidup.”
Resepsionis itu menatapku. Mulutnya terbuka sedikit. Lalu, pelan-pelan, dia tersenyum. Bukan senyum terlatih. Senyum yang sebenarnya.
“Baik, Pak,” katanya. “Saya catat.”
Dia benar-benar mencatatnya. Aku melihatnya mengetik sesuatu di komputernya. Nanti, aku baru tahu dia mengetik apa. Di kolom catatan tamu, di bawah nama Bianca: Punya janji. Seumur hidup. — Pak Renaldi, 06.34.
Dari balik pilar marmer di sudut lobi, aku mendengar bisikan.
Aku menoleh.
Bayu. Mengintip dari balik pilar. Dengan kaus pink ZUMBA QUEEN di bawah jaket, karena itu sekarang jadi kaus keberuntungannya, katanya. Di sampingnya, Tasya, dengan tisu yang sudah setengah habis. Di belakang mereka, Bi Imah, dengan daster batik bergambar burung merak dan kerudung hijau dan rantang empat susun di pelukan.
Dan di belakang Bi Imah, setengah tersembunyi di balik tanaman pot besar, Pak Darto. Dengan seragam satpam yang kebesaran dan payung lipat jelek dengan gagang patah.
Aku menatap mereka.
Mereka menatapku balik dengan wajah yang sangat, sangat bersalah.
“Bay,” kataku pelan.
“Mas. Ini bukan salahku. Ini grup.”
“Grup apa?”
“Grup senam Zumba, Mas. Lima puluh tujuh anggota. Bi Imah yang bocorin. Bi Imah lihat kamu bikin kopi tubruk jam lima pagi pakai termos Bu Bianca, terus Bi Imah langsung kirim pesan suara ke grup.”
Aku menatap Bi Imah.
Bi Imah menatapku dengan dagu terangkat. “Bibi cuma bilang Adrian bikin kopi pagi-pagi. Bibi nggak bilang apa-apa lagi.”
“Bibi bilang Adrian bikin kopi pagi-pagi pakai termos Neng Bianca, kayaknya hari ini, ya Allah, kayaknya hari ini,” kata Tasya. “Saya dengar pesan suaranya, Bu Imah. Tiga kali.”
Bi Imah membuka mulut. Menutupnya.
“Pak Darto ngapain di sini?” tanyaku.
Pak Darto menatapku dari balik tanaman pot. Dia mengangkat payung lipat jelek itu sedikit.
“Saya udah nunggu lima tahun, Mas,” katanya. “Masa saya nggak nonton yang terakhir.”
Jam enam lewat lima puluh delapan, pintu putar lobi berputar.
Aku berdiri dari sofa.
Elea berdiri di sampingku. Tangannya mencengkeram tanganku.
Di balik pilar, Bayu dan Tasya dan Bi Imah dan Pak Darto menahan napas. Aku bisa mendengarnya. Empat napas yang ditahan bersamaan.
Dia masuk.
Bukan setelan putih gading. Bukan lipstik merah. Bukan sepatu hak sepuluh senti.
Kemeja putih. Kemeja putih bersih, seperti kertas. Celana panjang krem. Sepatu kanvas putih yang, aku bisa lihat dari sini, talinya diikat terburu-buru. Rambut digerai, belum disisir rapi, sedikit berantakan seperti baru bangun. Wajah tanpa riasan. Sama sekali. Bahkan pelembap bibir pun nggak.
Dia nggak sempat ganti baju tujuh kali.
Dia berhenti di dalam pintu putar. Menatap lobi. Menatap lampu kristal. Menatap meja resepsionis, tempat perempuan muda itu berdiri dengan senyum yang bukan senyum terlatih.
Lalu dia menatap sofa beludru hijau.
Dan aku, yang berdiri di depannya. Dengan Elea di sampingku. Dengan termos hitam di meja kaca.
Dia nggak bergerak.
Aku melihat wajahnya berubah. Pelan. Dari bingung. Ke mengerti. Ke sesuatu yang lain, yang membuat matanya basah sebelum dia sempat menahannya.
“Kamu,” katanya. Dari pintu putar. Sepuluh meter.
“Aku.”
“Kamu yang nunggu.”
“Aku yang nunggu.”
“Berapa lama?”
Aku melirik jam tangan.
“Empat puluh menit,” kataku. “Belum tiga jam. Tapi aku siap nunggu tiga jam. Atau lebih.”
Dia berjalan ke arahku.
Sepatu kanvas putih di lantai marmer. Nggak berbunyi tajam seperti sepatu hak tinggi. Bunyinya pelan. Lembut. Seperti langkah orang yang pulang.
Dia berhenti satu meter di depanku.
Dia menatap Elea. Elea menatapnya balik dengan senyum yang sangat lebar dan sangat ditahan, seperti anak yang tahu rahasia dan sudah hampir meledak.
“Elea,” kata Bianca pelan. “Kamu bangun jam berapa?”
“Jam lima, Mama. Papa bangunin. Masih gelap.”
Bianca menatapku.
“Kamu bawa anak lima tahun bangun jam lima pagi.”
“Dia yang maksa ikut.”
“Kontrak nomor delapan,” kata Elea dengan sangat resmi. “Elea yang bikin. Elea harus lihat.”
Bianca menutup mulutnya dengan tangan.
Aku mengambil termos hitam dari meja kaca. Aku membukanya. Aku menuangkan isinya ke cangkir keramik putih yang kubawa dari rumah. Cangkir yang sama yang dia pakai di hari pertama di kantor Hallworth. Cangkir yang kopinya kutuang ke wastafel.
Uap naik. Bau kopi tubruk menyebar di lobi Hotel Arunaya. Pahit. Gosong. Tanah dan asap.
Aku menyodorkan cangkir itu padanya.
“Dua sendok,” kataku. “Air mendidih. Tiga kali aduk. Searah jarum jam. Ditutup empat menit.”
Dia menatap cangkir itu.
“Aku yang bikin,” kataku. “Pertama kalinya. Buat kamu.”
Dia mengambil cangkir itu dengan dua tangan. Tangannya gemetar. Kopinya bergoyang di dalam cangkir.
Dia meminumnya. Satu teguk.
Dia menutup matanya.
“Pas,” bisiknya.
Aku mengambil cangkir itu dari tangannya. Aku meletakkannya kembali di meja kaca.
Lalu aku mengambil sesuatu dari saku jasku.
Buku catatan hitam.
Bianca menatap buku itu. Dia mengenalinya. Dia pernah melihatnya. Di ruang rapat Hallworth, waktu aku membacakan sebelas syarat. Di ruang rapat lantai empat puluh, waktu aku membentangkan bukti-bukti di depannya.
Aku membukanya ke halaman pertama.
Aku menyodorkannya padanya.
Dia membacanya.
Aku tidak akan memaafkan mereka.
Tidak dia.
Wajahnya berubah. Dia menatap dua kalimat itu. Lalu dia menatapku. Matanya bertanya.
“Baca di bawahnya,” kataku.
Dia membaca.
Aku salah soal dia.
Bukan karena dia nggak salah. Dia salah. Dia diam waktu aku berlutut. Dia lega waktu Elea pergi. Dia lima tahun nggak datang. Dia sendiri yang bilang begitu, di depan hakim, di depan ratusan orang, tanpa menunduk.
Aku salah karena aku kira orang nggak bisa berubah.
Tangannya mulai gemetar.
Dia berlutut dua puluh menit di lantai ruang tengahku dan nggak minta apa-apa. Dia duduk delapan jam di lantai lorong waktu Elea bilang jangan masuk. Dia cabut semua kursinya supaya nggak bisa dipakai nukar kebenaran. Dia manjat panjatan dalam asap.
Dia ketuk pintu. Akhirnya. Lima tahun terlambat. Tapi dia ketuk.
Dan aku buka.
Air mata jatuh. Ke halaman. Ke tinta. Dia buru-buru menghapusnya dengan ujung lengan kemeja putihnya, seperti di ruang kerja Papa waktu air matanya jatuh ke foto anak perempuan lima tahun dengan gaun kuning.
Sumpah ini kalah.
Aku rela.
Kupu-kupu awalnya ulat. — kata Pak Robert, ke putrinya, waktu dia tujuh belas tahun.
Ternyata dia benar.
Dia menutup buku itu. Pelan. Memeluknya ke dadanya.
Dia menatapku.
“Papa,” bisiknya. “Kamu tahu soal Papa? Soal kupu-kupu?”
“Elea yang cerita. Kamu cerita ke dia waktu kunjungan kelima. Dia cerita ke aku waktu ngepang rambut.”
Bianca menatap Elea. Elea mengangguk dengan sangat serius.
Aku menarik napas.
Lima tahun.
Lima tahun lalu, di ruang tengah rumah Menteng, di atas karpet Persia yang harganya lebih mahal dari rumah Bi Imah di Bandung, aku berlutut di depan perempuan ini. Dan aku memohon satu kalimat. Satu.
Bilang kamu percaya aku.
Dan dia diam.
Dan aku menunggu tiga detik di ambang pintu. Satu. Dua. Tiga. Dan dia nggak menoleh.
Dan aku bersumpah aku nggak akan pernah lagi berlutut di depan siapa pun. Dan aku nggak akan pernah lagi meminta siapa pun untuk percaya padaku.
Aku menepati sumpah yang kedua.
Aku nggak meminta.
Aku memberi.
Aku berlutut.
Di lantai marmer lobi Hotel Arunaya. Di depan sofa beludru hijau tua. Di depan perempuan dengan kemeja putih bersih dan wajah tanpa riasan dan buku catatan hitam di pelukannya.
Di balik pilar, aku mendengar Tasya terkesiap. Bayu bilang ya Allah. Bi Imah nggak bilang apa-apa. Bi Imah cuma menangis, dengan suara kecil, seperti burung.
Bianca membeku.
“Adrian,” bisiknya. “Jangan. Kamu bilang kamu nggak akan pernah berlutut lagi. Di depan siapa pun.”
“Aku bilang aku nggak akan berlutut buat minta,” kataku. “Aku nggak minta, Bi. Aku nggak minta dipercaya. Aku nggak minta dimaafkan. Aku nggak minta apa-apa.”
Aku menatapnya. Dari bawah. Seperti lima tahun lalu. Tapi kali ini, dari bawah, dia nggak terlihat jauh. Dia nggak terlihat tinggi. Dia terlihat dekat. Satu meter. Satu napas.
“Lima tahun lalu aku minta satu kalimat,” kataku. “Hari ini aku yang kasih.”
Aku menarik napas.
“Aku percaya kamu.”
Dunia berhenti.
Bukan untuknya. Untukku.
Aku nggak pernah mengucapkan kalimat itu ke siapa pun selain anakku. Papa percaya Elea. Selalu. Lima tahun, setiap malam, ke anak lima tahun dengan piyama kelinci.
Aku nggak pernah mengucapkannya ke orang dewasa. Ke siapa pun. Sejak malam di ruang tengah rumah Menteng.
Hari ini aku mengucapkannya.
Ke perempuan yang dulu nggak mengucapkannya untukku.
Bianca menatapku. Dia nggak bergerak. Dia nggak bicara. Buku catatan hitam di pelukannya. Air mata yang mengalir tanpa suara.
“Aku percaya kamu,” ulangku. Lebih pelan. “Waktu Oma datang dengan gugatan atas nama kamu. Waktu tanda tanganmu ada di halaman terakhir. Waktu semua bukti di meja bilang kamu mengkhianati aku. Aku percaya kamu. Tanpa nanya. Tanpa bukti.”
Aku menelan.
“Dan aku cinta kamu.”
Dia menutup mulutnya dengan tangan.
“Dua-duanya,” kataku. “Percaya dan cinta. Dua-duanya nggak pernah selesai, Bi. Lima tahun aku coba selesaikan. Aku tulis sumpah. Aku bangun benteng. Aku pasang syarat lima puluh meter. Aku tuang kopimu ke wastafel. Aku bikin kamu berdiri dua jam tanpa kursi.” Suaraku pecah. “Nggak ada yang selesai. Dua-duanya masih di sini. Dari lift Rexton Tower, waktu kamu jatuhin kopi ke sepatuku. Sampai hari ini.”
Aku merogoh saku jas lagi.
Kotak kecil. Beludru biru tua.
Aku membukanya.
Cincin.
Bukan cincin berlian. Bukan cincin mewah yang dijual di toko perhiasan di Rexton Mall.
Cincin perak. Sederhana. Ramping. Dan di tengahnya, satu batu kecil. Biru pucat. Seperti air di pagi hari.
Aquamarine. Batu kelahiran bulan Maret.
Batu yang sama dengan batu di tengah sayap jepit kupu-kupu perak di rambut anak kami.
“Aku pesan di tukang perak yang sama,” kataku. “Bi Imah yang cari. Di Bandung. Di gang belakang pasar Cicadas. Tukang perak yang dulu benerin jepit kupu-kupu Elea waktu sayapnya bengkok di Oxford. Aku kirim jepitnya ke Bandung lewat pos, waktu itu, karena di Oxford nggak ada yang bisa benerin perak kayak gitu.”
Bianca menatap cincin itu.
“Aku minta dia bikin batu yang sama,” kataku. “Biar kamu sama Elea pakai batu yang sama. Biar kalian berdua selalu tahu. Kalian dari satu kupu-kupu.”
Bianca menatapku.
Lalu, sebelum aku sempat bertanya, sebelum aku sempat mengucapkan kalimat yang sudah kusiapkan sejak Minggu malam, sebelum aku sempat menunggu satu detik, dua detik, tiga detik—
“Iya.”
Aku membeku.
“Aku belum nanya, Bi.”
“Aku tahu.” Dia berlutut. Di lantai marmer. Di depanku. Sekarang kami berdua berlutut. Sejajar. Satu jengkal. “Aku nggak mau kamu nunggu tiga detik lagi.”
Dia menangis. Dan tertawa. Dua-duanya. Barengan.
“Lima tahun lalu kamu nunggu tiga detik di pintu,” bisiknya. “Kamu hitung. Satu. Dua. Tiga. Dan aku nggak noleh.”
Dia memegang wajahku. Dua tangan. Ibu jarinya di tulang pipiku.
“Hari ini kamu nggak perlu hitung,” katanya. “Iya. Iya. Iya. Seribu kali iya. Sebelum kamu nanya. Sebelum kamu selesai. Sebelum satu detik.”
Dia menatapku.
“Aku percaya kamu juga,” bisiknya. “Dan aku cinta kamu. Dua-duanya. Selamanya. Nggak pernah selesai.”
Aku memasangkan cincin itu di jari manisnya.
Tanganku gemetar. Tangannya gemetar. Cincin itu meleset dua kali sebelum masuk. Waktu akhirnya masuk, pas. Sempurna. Seperti dibuat untuk jarinya.
Karena memang dibuat untuk jarinya. Aku masih ingat ukurannya. Lima tahun, dan aku masih ingat.
Kamu bilang benci aku. Tapi kamu masih hafal ukuran cincinku.
Dia pernah bilang itu. Aku nggak ingat kapan. Mungkin di mimpi. Mungkin dia nggak pernah bilang, dan aku cuma membayangkannya. Tapi itu benar.
Dia menatap cincin di jarinya. Batu biru pucat yang berkilau di bawah lampu kristal lobi.
Lalu dia menatapku. Dan menciumku.
Di lantai marmer lobi Hotel Arunaya. Di depan sofa beludru hijau. Berlutut. Berdua.
Bukan seperti di dapur, lima detik dengan kain lap di tangan. Bukan seperti di basement, marah dan rindu. Bukan seperti di kamar demam, pelan dan takut.
Ciuman orang yang pulang.
“KONTRAK NOMOR DELAPAN!”
Kami berdua tersentak.
Elea berdiri di samping kami. Dengan kedua tangan terangkat ke udara. Dengan wajah yang merah dan mata yang basah dan senyum yang sangat, sangat lebar.
“KONTRAK NOMOR DELAPAN!” teriaknya lagi, ke seluruh lobi Hotel Arunaya. “PAPA DAN MAMA BAIKAN! JADI PAPA DAN MAMA LAGI! ELEA YANG BIKIN! ELEA MENANG!”
Lalu dia menubruk kami berdua. Dengan seluruh badannya. Tangan kecil yang melingkar di leherku dan di leher Bianca sekaligus, menarik kepala kami berdua ke arahnya.
Kami bertiga jatuh. Ke lantai marmer. Bertumpuk. Tertawa. Menangis.
Dari balik pilar, Bayu dan Tasya berlari keluar. Tasya menjerit. Bayu berteriak DUA BULAN! AKU BILANG DUA BULAN! AKU MENANG SETENGAH! yang nggak masuk akal karena dia sudah kalah, tapi nggak ada yang peduli.
Bi Imah berjalan pelan dari balik pilar. Dengan rantang empat susun di pelukan. Dia berhenti di depan kami bertiga yang tertumpuk di lantai marmer. Dia menatap kami.
Lalu dia meletakkan rantangnya di meja kaca. Di samping termos hitam dan cangkir keramik putih.
“Bibi bawa sarapan,” katanya, dengan suara yang bergetar. “Nasi uduk. Telur balado. Kerupuk udang dari Bandung. Kalian pasti belum makan.”
Pak Darto keluar dari balik tanaman pot. Dia berdiri di pinggir. Dia menatap kami. Payung lipat jelek dengan gagang patah di tangannya.
Lalu dia membuka payung itu. Di dalam lobi hotel. Di bawah lampu kristal. Di mana nggak ada hujan.
Dan dia mengangkatnya. Tinggi. Di atas kami bertiga yang masih tertumpuk di lantai marmer.
“Lima tahun lalu saya kasih payung ini ke Mas, buat Neng kecil,” kata Pak Darto. Suaranya tua dan serak dan basah. “Di bawah hujan. Malam itu.”
Dia memegang payung itu di atas kami.
“Sekarang saya pegangin buat bertiga.”
Resepsionis di meja depan bertepuk tangan.
Pelan. Sendirian. Lalu staf lain bergabung. Petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai. Pelayan dari restoran di sudut. Satpam di pintu. Dua tamu hotel yang baru turun dari lift dengan koper, yang nggak tahu apa yang terjadi tapi ikut bertepuk tangan karena semua orang bertepuk tangan.
Lobi Hotel Arunaya, jam tujuh lewat lima pagi, dipenuhi tepuk tangan.
Dan di tengahnya, di lantai marmer, di depan sofa beludru hijau tua, di bawah payung lipat jelek dengan gagang patah, tiga orang yang tertumpuk dan tertawa.
Elea mengangkat kepala dari dadaku. Dia menatap ibunya. Lalu menatapku.
“Papa,” katanya. “Papa percaya Mama?”
Ritual kami. Di lobi hotel. Di bawah payung. Pukul tujuh pagi.
Aku menatap Bianca. Yang menatapku balik. Dengan cincin perak di jarinya dan batu biru pucat yang berkilau.
“Selalu,” kataku.
Elea tersenyum. Lebar. Dengan gigi depan yang, aku baru sadar, sudah copot. Tadi malam, mungkin. Atau tadi pagi, di mobil, waktu dia menggigit roti bintang.
“Mama,” kata Elea, menoleh ke ibunya. “Mama percaya Papa?”
Bianca menatap anaknya. Lalu menatapku.
Dan dia menjawab. Dengan kata yang lima tahun kuucapkan sendirian ke anak kami setiap malam. Kata yang sekarang, untuk pertama kalinya, diucapkan oleh orang lain. Untukku.
“Selalu.”
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu reading
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama