Chapter Forty

Harga Nama Rexton

POV: Bianca


Aku nggak tidur malam itu.

Jam sebelas lewat dua puluh, aku menutup telepon dari Adrian. Jam sebelas lewat dua puluh satu, aku sudah duduk di meja makan apartemenku dengan laptop terbuka, ponsel di tangan kiri, dan salinan gugatan yang dia kirimkan lewat foto di layar.

Aku membacanya. Halaman demi halaman.

…Tergugat telah membawa anak tersebut ke luar negeri pada saat Penggugat dalam kondisi kesehatan mental yang tidak stabil…

…Tergugat secara sistematis menanamkan kebohongan kepada anak bahwa ibu kandungnya telah meninggal dunia…

Setiap kalimat adalah kebenaran yang dipotong. Seperti foto dari kamar 714. Tiga menit yang direkam di detik yang paling salah.

Aku sampai di halaman terakhir. Tanda tangan.

Aku memperbesar fotonya. Lalu memperbesarnya lagi.

Tanda tanganku. Atau sesuatu yang sangat mirip. Rapi. Sedikit miring ke kiri. Huruf B yang lengkungnya terlalu sempurna.

Terlalu sempurna.

Aku nggak pernah menulis B sesempurna itu. B-ku selalu sedikit penyok di lengkung bawah, karena aku menekan pulpen terlalu keras di akhir. Papa yang bilang itu dulu. Tanda tangan kamu kayak orang yang marah di akhir kalimat, Bi.

Aku menatap huruf B itu.

Lalu aku membuka email lama. Folder yang sudah lama nggak kubuka. Keluarga — Dokumen.

Satu bulan lalu. Sebelum Bogor. Sebelum fan meeting. Sebelum semuanya. Oma memanggilku ke rumah Menteng untuk menandatangani dokumen persiapan pertunangan. Perjanjian pranikah dengan keluarga Wiratama. Surat-surat administrasi. Lima belas halaman. Aku menandatanganinya di ruang kerja Om Hendra, cepat, tanpa membaca semuanya, karena waktu itu aku pikir aku harus menikah dengan Darren dan aku nggak peduli dengan apa pun yang tertulis di sana.

Halaman tujuh dari lima belas. Halaman yang cuma berisi satu kalimat dan satu garis tanda tangan.

Dengan ini saya memberikan kuasa penuh kepada Kantor Hukum Sastrowardoyo & Rekan untuk mewakili kepentingan hukum saya dalam segala urusan yang berkaitan dengan keluarga dan ahli waris Rexton.

Kuasa penuh. Segala urusan keluarga.

Aku menandatanganinya tanpa membaca.

Lima tahun lalu, aku mempercayai foto tanpa memeriksa. Sebulan lalu, aku menandatangani kuasa tanpa membaca. Dan Oma memakai keduanya. Dua kali. Untuk hal yang sama.

Mengambil anakku.


Jam dua pagi, aku menelepon pengacaraku sendiri.

Bu Larasati. Pengacara perempuan berumur empat puluhan yang kusewa sebulan lalu untuk mendampingiku memberi keterangan di Bareskrim. Pengacara yang nggak punya hubungan apa pun dengan keluarga Rexton, yang kantornya kecil di lantai tiga ruko di Tebet, dan yang menurut Tasya adalah pengacara paling galak se-Jakarta Selatan, Bu, dia pernah bikin hakim minta maaf.

Dia mengangkat telepon di dering ketiga.

“Bu Bianca. Jam dua pagi. Ini pasti bukan soal parkir.”

Aku menjelaskan semuanya dalam tujuh menit.

Hening di ujung telepon. Lalu suara kertas. Lalu suara kunci mobil.

“Kirim semua dokumennya ke email saya. Gugatannya. Surat kuasa yang Ibu tandatangani. Semua. Saya di kantor jam lima. Ibu di kantor saya jam enam.”

“Bu Laras, ini bisa dicabut?”

“Bu Bianca.” Suaranya dingin dan tajam seperti pisau bedah. “Kuasa yang diberikan atas dasar dokumen yang disamarkan sebagai administrasi pertunangan, lalu dipakai untuk menggugat hak asuh anak tanpa sepengetahuan prinsipal, itu bukan cuma bisa dicabut. Itu bisa dilaporkan ke Dewan Kehormatan Peradi. Itu bisa jadi perkara pidana.” Jeda. “Ibu mau saya cabut aja, atau Ibu mau saya bakar kantor mereka secara hukum?”

Aku menatap jendela. Jakarta jam dua pagi. Lampu-lampu yang berkedip.

“Cabut dulu,” kataku. “Bakarnya nanti.”

“Saya suka klien kayak Ibu,” kata Bu Laras, dan menutup telepon.


Jam sembilan pagi, aku berdiri di loket Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan Bu Laras di sampingku.

Surat pencabutan kuasa. Ditandatangani di depan notaris jam tujuh pagi, notaris yang Bu Laras bangunkan dari tidurnya dengan telepon yang menurut Bu Laras sangat persuasif.

Surat pencabutan gugatan. Ditandatangani olehku sendiri, sebagai prinsipal.

Dan surat pernyataan. Satu halaman. Ditulis tangan. Dengan Montblanc hitam berujung emas.

Saya, Bianca Rexton, dengan ini menyatakan bahwa saya tidak pernah memberikan persetujuan, secara lisan maupun tertulis, atas pengajuan gugatan hak asuh terhadap Adrian Renaldi. Saya tidak mengetahui gugatan tersebut sampai pukul 23.10 tanggal kemarin, ketika Tergugat sendiri yang memberitahu saya. Saya mencabut gugatan tersebut sepenuhnya. Saya menyatakan bahwa Tergugat adalah ayah yang baik, dan bahwa keputusan membawa anak kami ke luar negeri lima tahun lalu terjadi atas permintaan saya sendiri, yang saya ucapkan di hadapan saksi-saksi.

Panitera membaca surat itu. Dia menatapku. Lalu menatap surat itu lagi.

“Ibu yakin mau mencantumkan kalimat terakhir ini?” tanyanya. “Ini bisa dipakai sebagai pengakuan, kalau suatu hari Ibu mau mengajukan gugatan lagi.”

“Saya nggak akan mengajukan gugatan lagi.”

“Tapi kalau—“

“Saya yakin, Pak.”

Panitera menatapku lama. Lalu dia menstempel surat itu.

Diterima.


Di tangga pengadilan, Bu Laras menyalakan rokok. Dia nggak pernah merokok di depanku sebelumnya.

“Itu bagian yang mudah,” katanya, mengembuskan asap ke langit Jakarta yang kelabu. “Bagian yang susah, Ibu tahu apa?”

“Oma.”

“Oma Ibu.” Bu Laras menatapku. “Dia tahu Ibu bakal cabut. Dia nggak bodoh. Gugatan ini bukan buat menang, Bu Bianca. Gugatan ini buat menekan. Dia mau Dr. Renaldi takut. Dan kalau Dr. Renaldi nggak takut…” Dia mengetukkan abu rokoknya. “Dia bakal coba tekan Ibu.”

“Gimana?”

“Ibu saksi kunci di persidangan Hendra Rexton minggu depan. Keterangan Ibu soal faktur, soal percakapan yang Ibu dengar di rumah Menteng, soal pengakuan ibu Ibu. Tanpa keterangan Ibu, jaksa masih punya rekaman Sinta Maharani dan data keuangan. Tapi dengan keterangan Ibu, cucu dan keponakan terdakwa sendiri, kasusnya nggak bisa dibantah.”

Dia menatapku.

“Oma Ibu bakal tawarin sesuatu. Supaya Ibu nggak bersaksi. Dan tawarannya bakal bagus, Bu. Bagus banget.”


Bu Laras benar.

Jam dua siang, Oma meneleponku.

Bukan sekretaris Oma. Bukan pengacara Oma. Oma sendiri. Pertama kalinya dalam hidupku, Oma meneleponku langsung dari ponselnya sendiri.

“Bianca. Datang ke rumah. Sekarang.”

“Oma—“

“Sekarang, Bianca.”

Dia menutup telepon.


Ruang kerja Papa.

Bukan ruang tengah. Bukan ruang makan. Ruang kerja Papa, dengan rak buku dan album foto dan miniatur Rexton Mall pertama. Oma duduk di kursi kulit Papa, menghadap pintu. Aku nggak pernah melihat Oma duduk di kursi itu. Nggak sekali pun sejak Papa meninggal.

Mama duduk di sofa kecil di sudut. Wajahnya pucat. Tangannya meremas sapu tangan.

Om Hendra nggak ada. Om Hendra sudah sebulan nggak pernah terlihat di rumah ini. Dia tinggal di apartemennya di SCBD, menunggu sidang, dengan tiga pengacara dan larangan bepergian ke luar negeri.

“Duduk,” kata Oma.

Aku nggak duduk.

Oma menatapku. Lalu dia mengangguk pelan, seolah dia sudah menduganya.

“Kamu cabut gugatannya,” katanya.

“Gugatan yang nggak pernah aku ajukan.”

“Kamu tanda tangan kuasanya.”

“Oma sembunyiin kuasanya di halaman tujuh dokumen pertunangan.”

Oma nggak membantah. Dia nggak minta maaf. Dia cuma menatapku dengan mata yang dingin dan tenang.

“Saya akan bicara langsung, Bianca. Saya sudah tua. Saya nggak suka basa-basi.”

“Silakan, Oma.”

“Sidang Hendra minggu depan. Kamu dijadwalkan bersaksi hari Kamis.” Oma mengetukkan jarinya di lengan kursi kulit Papa. “Jangan bersaksi.”

Aku diam.

“Bilang ke jaksa kamu sakit. Bilang kamu tertekan secara emosional. Bilang ingatan kamu soal percakapan di rumah ini nggak jelas. Bilang apa saja. Pengacara saya bisa bantu menyusunnya.” Oma menatapku. “Tanpa keterangan kamu, Hendra akan terima tawaran jaksa. Mengaku bersalah atas penggelapan. Hukuman ringan. Tiga tahun, mungkin dua. Nggak ada sidang panjang. Nggak ada televisi. Nggak ada nama Veronica di berita.”

Di sudut, Mama menunduk.

“Dan sebagai gantinya?” tanyaku.

“Kamu tetap CEO Rexton Malls. Kamu jadi Ketua Dewan Direksi Rexton Group setelah saya pensiun tahun depan. Seluruh saham Robert, yang sekarang dalam perwalian saya, jadi milik kamu. Seluruhnya.” Oma diam sebentar. “Dan kamu boleh menemui anak itu kapan saja. Saya nggak akan ganggu lagi. Saya nggak akan ajukan gugatan apa pun lagi. Kamu dan laki-laki itu bisa atur sendiri.”

Aku menatap Oma.

Kursi Ketua Dewan. Saham Papa. Rexton Group. Semuanya.

Semua yang Oma ajarkan padaku sejak umur tujuh tahun, waktu aku menangis karena harus berpidato di depan karyawan. Kamu Rexton. Rexton nggak menangis. Rexton nggak mundur.

Semua yang Papa bangun dari toko kelontong Kakek di Glodok.

“Dan kalau aku bersaksi?”

Oma menatapku.

“Kalau kamu bersaksi,” katanya pelan, “kamu bukan lagi Rexton.”


Ruangan itu sunyi.

Mama mengangkat kepala. Menatap Oma. Wajahnya putih.

“Ma,” bisik Mama. Ke Oma. “Ma, jangan—“

“Diam, Veronica.”

Mama diam.

Oma menatapku. “Saya akan cabut kamu dari dewan. Saya akan cabut kamu dari daftar ahli waris. Saham Robert akan saya alihkan ke yayasan keluarga, yang saya kendalikan sampai saya mati. Nama Rexton di kartu nama kamu, di pintu ruangan kamu, di setiap kontrak yang kamu tanda tangani, akan saya ambil.”

Dia diam.

“Kamu akan jadi Bianca. Cuma Bianca. Perempuan tiga puluh tahun tanpa pekerjaan, tanpa warisan, tanpa nama.” Matanya menyala. “Untuk apa? Untuk laki-laki dari Bandung yang pernah kamu usir? Untuk anak yang lima tahun kamu nggak mau lihat?”

Aku menatap Oma.

Lalu aku menatap ruangan itu. Rak buku Papa. Miniatur Rexton Mall pertama. Album-album bersampul cokelat, berjajar rapi, dengan tahun yang dicetak emas di punggungnya.

Katanya mau jadi kupu-kupu kalau besar. Papa bilang dia udah jadi kupu-kupu.

Aku berjalan ke meja kerja Papa.

Aku membuka tasku. Aku mengambil Montblanc hitam berujung emas. Pulpen yang Papa berikan waktu aku lulus S2.

Aku mengambil selembar kertas dari tempat kertas di meja Papa. Kertas kop surat lama. Robert Rexton. Pribadi. Kertas yang sudah menguning di pinggir.

Dan aku mulai menulis.

Oma menatapku. Mama menatapku.

Aku menulis satu paragraf. Lalu tanda tangan. Huruf B yang penyok di lengkung bawah, karena aku menekan pulpen terlalu keras di akhir. Seperti orang yang marah di akhir kalimat.

Aku meletakkan kertas itu di meja. Di depan Oma.

Oma membacanya.

Kepada Dewan Direksi Rexton Group.

Dengan ini saya mengundurkan diri dari jabatan Chief Executive Officer Rexton Malls dan Project Lead Rexton Grand Nusantara, berlaku efektif hari ini.

Alasan pengunduran diri: saya akan bersaksi dalam persidangan perkara pidana yang melibatkan anggota keluarga Rexton, dan saya tidak ingin keterangan saya dianggap dipengaruhi oleh jabatan saya di perusahaan ini.

Saya juga tidak ingin jabatan ini dipakai untuk menukar kebenaran.

Bianca Rexton.


Oma menatap surat itu lama.

Lalu dia mengangkat kepala. Menatapku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku nggak melihat ketenangan di wajah Margareth Rexton. Aku melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang retak.

“Kamu nggak perlu ini,” katanya. Suaranya, untuk pertama kalinya, nggak sepenuhnya stabil. “Kamu nggak perlu mundur. Kamu cuma perlu diam satu hari. Satu hari, Bianca. Hari Kamis.”

“Aku udah diam satu malam, Oma. Lima tahun lalu.” Aku menutup Montblanc. Memasukkannya ke tas. “Harganya lima tahun anakku. Lima tahun dia. Aku nggak mau bayar harga itu lagi.”

“Nama Rexton—“

“Nama Rexton lebih tua dari aku. Oma udah bilang.” Aku menatap Oma. “Tapi Oma lupa satu hal. Nama itu bukan Rexton yang bikin. Kakek yang bikin. Dari toko kelontong di Glodok. Dari satu koper. Dari nol.” Aku menarik napas. “Kalau Oma ambil nama itu dari aku, aku nggak apa-apa. Aku bisa bikin nama sendiri. Dari nol. Kayak Kakek. Kayak Adrian.”

Oma nggak bicara.

“Dan Oma salah soal satu hal lagi,” lanjutku. “Oma bilang aku akan jadi cuma Bianca. Perempuan tiga puluh tahun tanpa pekerjaan, tanpa warisan, tanpa nama.”

Aku berjalan ke pintu.

“Aku punya anak,” kataku. “Namanya Elea. Dia lima tahun. Dia suka kupu-kupu dan gulali dan lagu Starlight Seven yang liriknya salah semua. Dia punya tahi lalat di bawah mata kiri, kayak aku. Kayak Papa. Dia bikin kontrak pakai pensil warna empat puluh delapan warna, dan nomor delapan di kontraknya bilang Papa dan Tante harus baikan.” Suaraku bergetar. Aku membiarkannya. “Itu bukan cuma, Oma. Itu semuanya.”

Aku membuka pintu.

“Bianca.”

Suara Mama.

Aku berhenti.

Mama berdiri dari sofa. Sapu tangannya jatuh ke lantai. Dia nggak memungutnya. Dia berjalan ke arahku. Pelan. Dengan wajah yang pucat dan mata yang basah.

“Hari Kamis,” bisiknya. “Kamu… kamu mau bilang soal Mama juga? Di pengadilan?”

Aku menatap Mama.

“Aku bilang yang aku tahu, Ma,” kataku. “Nggak lebih. Nggak kurang.”

“Yang kamu tahu soal Mama…”

“Mama ngaku. Di ruangan ini. Mama tahu fotonya palsu. Mama nolak telepon Adrian waktu dia mohon Elea disusuin. Mama ganti nomor telepon rumah.” Aku menatapnya. “Itu yang aku tahu. Itu yang aku bilang.”

Mama menutup mulutnya dengan tangan.

“Mama bisa bilang sendiri, Ma,” kataku pelan. “Sebelum aku. Mama bisa ke jaksa. Mama bisa bilang semuanya. Dari mulut Mama sendiri. Bukan dari aku.”

Mama menatapku.

“Kalau Mama yang bilang,” lanjutku, “Mama bukan perempuan yang ketahuan bohong. Mama perempuan yang akhirnya jujur. Itu beda, Ma. Aku baru belajar bedanya. Tiga bulan ini.”

Di belakangku, Oma mengetukkan tongkatnya ke lantai. Keras.

“Veronica. Duduk.”

Mama nggak duduk.

Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, Mama nggak menuruti Oma.

Dia berdiri di ambang pintu ruang kerja Papa, menatapku, dengan air mata yang mengalir dan tangan yang gemetar. Dia nggak bilang iya. Dia nggak bilang nggak.

Tapi dia nggak duduk.


Aku keluar dari rumah Menteng jam empat sore.

Pak Satpam muda membukakan gerbang. Dia menatapku dengan wajah bingung, karena aku tersenyum, dan dia nggak pernah melihatku tersenyum waktu keluar dari rumah ini.

Aku masuk ke mobil. Aku nggak langsung menyalakan mesin.

Aku mengeluarkan ponsel. Membuka percakapan dengan Dok.

Pesan terakhirnya masih di sana. Dari semalam.

Aku nggak percaya itu dari kamu.

Aku menatap kalimat itu lama.

Lalu aku mengetik.

Udah. Gugatannya dicabut. Kuasa hukumnya dicabut. Surat pernyataan udah masuk pengadilan. Kamu aman. Elea aman.

Kirim.

Aku nggak menulis soal pengunduran diri. Aku nggak menulis soal tawaran Oma. Aku nggak menulis soal saham Papa, atau kursi Ketua Dewan, atau nama Rexton.

Itu bukan urusannya. Itu harga yang aku bayar. Bukan harga yang dia perlu tahu.

Balasan datang dalam sepuluh detik.

Dua puluh empat jam. Kamu bilang dua puluh empat jam.

Ini baru tujuh belas.

Aku tertawa. Sendirian. Di mobil. Di depan gerbang rumah Menteng.

Aku Rexton, ketikku. Rexton nggak telat.

Lalu aku berhenti. Aku menatap kata Rexton di layar.

Besok, mungkin, nama itu bukan milikku lagi.

Aku menghapus pesan itu. Mengetik ulang.

Aku Bianca. Bianca nggak telat lagi. Udah cukup telat lima tahun.

Kirim.


Jam tujuh malam, aku membersihkan ruanganku di lantai empat puluh.

Bukan karena harus. Surat pengunduran diri baru akan dibahas dewan hari Senin. Secara teknis, aku masih CEO sampai dewan menerimanya.

Tapi aku nggak mau menunggu.

Tasya membantuku. Dia membawa tiga kardus kosong dan wajah yang sudah menangis sejak jam lima, waktu aku memberitahunya.

“Bu,” katanya, untuk kesepuluh kalinya. “Bu, Ibu yakin?”

“Yakin, Tas.”

“Ibu CEO terbaik yang pernah ada di gedung ini. Ibu yang bikin okupansi tenant naik tiga puluh persen. Ibu yang—“

“Tas.”

“Iya, Bu.” Tasya mengusap matanya. Dia memasukkan figura dari meja kerjaku ke kardus. Figura kosong. Figura yang lima tahun kuletakkan di meja tanpa foto di dalamnya, karena aku nggak tahu foto siapa yang harus kumasukkan.

Dia berhenti. Menatap figura kosong itu.

“Bu,” katanya pelan. “Ini kenapa kosong dari dulu?”

Aku menatap figura itu.

Lalu aku membuka laci meja kerjaku. Laci paling bawah. Aku mengeluarkan selembar kertas HVS yang dilipat dua.

Gambar Elea. Dari kunjungan pertama ke lantai empat puluh. Perempuan dengan rambut panjang, gaun putih, tahi lalat di bawah mata kiri. TANTE CANTIK. TEMAN ELEA. BUKAN CADANGAN.

Aku membuka figura kosong itu. Aku memasukkan gambar itu ke dalamnya. Aku menutupnya.

Lalu aku menyerahkan figura itu ke Tasya.

“Taruh paling atas,” kataku. “Di kardus. Biar nggak ketindih.”

Tasya menatap figura itu. Lalu menatapku. Lalu dia meletakkan semua yang dia pegang di lantai, dan memelukku.

Kencang. Seperti anak kecil.

“Bu,” katanya teredam di bahuku. “Saya ikut Ibu.”

“Ikut ke mana, Tas?”

“Ke mana aja Ibu pergi. Kalau Ibu bikin perusahaan baru, saya jadi sekretaris. Kalau Ibu jualan nasi goreng kambing di Sabang, saya jadi yang nyuci piring.” Dia menarik diri. Wajahnya basah. “Ibu satu-satunya bos yang pernah nyuci rantang sendiri. Saya nggak mau kerja sama bos yang nggak pernah nyuci rantang.”

Aku tertawa. Lalu menangis. Lalu tertawa lagi.

“Tas,” kataku. “Kamu nggak boleh ngomong ke siapa-siapa soal ini. Belum. Soal aku mundur. Soal tawaran Oma. Nggak ke siapa-siapa.”

“Iya, Bu.”

“Termasuk grup senam Zumba.”

Tasya membeku.

“Tas.”

“…Iya, Bu.”

“Termasuk Bayu.”

Tasya menatap lantai. Lama. Sangat lama.

“Tas,” kataku pelan. “Kamu udah bilang ke Bayu?”

“…Tadi jam lima, Bu. Waktu Ibu kasih tahu saya. Saya nangis di toilet. Mas Bayu telepon nanya kabar Ibu. Saya… saya nggak bisa bohong, Bu. Ibu tahu saya nggak bisa nyimpen rahasia.”

Aku menatap Tasya.

Lalu aku menghela napas panjang, dan duduk di kursi kerjaku untuk terakhir kalinya.

“Dia bakal tahu,” kataku. “Dari Bayu.”

“Iya, Bu. Maaf.”

“Dia bakal datang.”

Tasya menatapku. Lalu dia tersenyum. Kecil. Basah.

“Iya, Bu,” katanya. “Dia pasti datang.”