Chapter Thirty Seven

Demam

POV: Adrian


Tiga hari aku nggak tidur.

Bukan karena nggak bisa. Karena nggak ada waktu.

Hari Senin, Hallworth mempercepat jadwal Grand Nusantara. Grand opening dimajukan enam minggu, karena investor baru, bank-bank yang dulu ragu setelah skandal Hendra Rexton, sekarang mau masuk lagi, asalkan proyeknya terbukti jalan. Catherine Hall meneleponku jam enam pagi dari London dan bilang, dengan suara yang minta maaf, I need AURA fully integrated in four weeks, Adrian. Not eight. Four.

Hari Selasa, Kejaksaan mengirim berkas tambahan yang harus diverifikasi sebelum Hendra dan Marcel resmi dilimpahkan ke pengadilan. Tiga ratus halaman dokumen keuangan. Bayu dan aku membacanya sampai jam tiga pagi di kantor Hallworth, dengan kopi tubruk dari termos Bi Imah dan donat yang Bayu beli dalam jumlah yang mengkhawatirkan.

Hari Rabu, aku di lokasi Grand Nusantara dari jam enam pagi sampai jam sebelas malam. Memasang sensor. Menguji kamera. Memprogram ulang algoritma prediksi untuk atrium yang luasnya tiga kali atrium Kemayoran. Hujan turun sore hari, dan aku di lantai tiga puluh, di rangka baja yang belum beratap, basah kuyup selama empat jam.

Kamis pagi, aku bangun dengan tenggorokan yang terbakar.

Kamis siang, aku menggigil di kantor Hallworth dengan jaket wol abu-abu yang dibelikan Bianca, dan Bayu menatapku dengan wajah ngeri.

“Mas. Kamu pucat.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu gemetar.”

“AC-nya dingin.”

“Mas, AC-nya mati. Aku matiin dari tadi pagi karena kamu menggigil.”

Kamis sore, Bi Imah menelepon dari Bandung. Dia membawa Elea ke sana hari Rabu, untuk libur panjang, karena sekolah libur empat hari dan Elea mau melihat kamar Papa waktu kecil yang katanya kasurnya keras.

“Adrian, suara kamu kenapa?”

“Serak sedikit, Bi.”

“Kamu sakit?”

“Nggak, Bi.”

“Bohong. Bibi pulang besok.”

“Jangan, Bi. Elea lagi seneng di sana. Aku nggak apa-apa. Beneran.”

Bi Imah diam lama.

“Kamu sendirian di rumah?”

“Iya, Bi. Tapi aku nggak apa-apa.”

“Kamu selalu nggak apa-apa,” kata Bi Imah, dengan suara yang aku kenal. “Itu yang bikin Bibi khawatir.”


Kamis malam, jam sepuluh, aku pulang ke rumah yang gelap dan kosong.

“Selamat datang di rumah,” kata pintu depan.

Aku nggak menjawab. Aku berjalan ke dapur. Aku membuka lemari obat. Parasetamol. Dua tablet. Air putih.

Aku menelan tabletnya. Lalu aku berdiri di dapur, bersandar ke meja, menatap lemari es.

Gambar-gambar krayon. Perempuan tanpa wajah, bertahun-tahun. Dan di atasnya, paling tinggi, kontrak Elea dengan nomor delapan. Dan di samping kontrak itu, gambar terbaru. Gambar yang Elea tempel sendiri sebelum berangkat ke Bandung.

Tiga orang. Laki-laki berkacamata dengan jaket abu-abu. Anak perempuan berkepang dua dengan topi kelinci. Perempuan dengan kepang satu dan blus putih berkancing kuning.

Perempuan itu punya wajah.

Di bawahnya, dengan huruf-huruf besar yang miring: PAPA, ELEA, TANTE. DI KEBUN STROBERI. TANTE MAKAN PAKAI TANGAN TAPI BERANTAKAN.

Aku menatap gambar itu sampai pandanganku berputar.

Lalu aku berjalan ke kamar, jatuh di kasur dengan baju kerja dan sepatu masih terpasang, dan nggak ingat apa-apa lagi.


Aku terbangun karena dingin.

Dingin yang datang dari dalam. Dari tulang. Gigiku bergemeletuk. Tanganku gemetar. Aku menarik selimut, lalu selimut lagi, lalu jaket wol, dan tetap dingin.

Lalu panas.

Panas yang membakar. Keringat mengalir di dahi, di leher, di punggung. Aku melempar selimut. Melempar jaket. Napasku pendek dan berat.

Lalu dingin lagi.

Aku nggak tahu jam berapa. Kamar itu gelap. Lampu tidur mati. Atau aku yang lupa menyalakannya. Jendela di seberang kasur memperlihatkan langit yang hitam, lalu abu-abu, lalu putih.

Pagi. Mungkin.

Aku mencoba bangun. Kepalaku berputar. Aku jatuh lagi ke bantal.

Ponselku di meja samping kasur. Bergetar. Berhenti. Bergetar lagi.

Aku nggak bisa meraihnya.


Aku bermimpi tentang Oxford.

Flat Cowley. Lemari es. Jam tiga pagi. Elea demam di dadaku, sepuluh bulan, tiga puluh delapan derajat. Aku berjalan bolak-balik, tiga langkah ke jendela, tiga langkah ke pintu, dengan laptop di atas lemari es dan laporan yang setengah jadi.

Dalam mimpi, aku menunggu seseorang mengetuk pintu.

Nggak ada yang mengetuk.

Mr. Hakan nggak mengetuk. Bayu nggak mengetuk. Prof. Whitmore nggak mengetuk.

Aku menunggu. Dan menunggu. Dan Elea menangis di dadaku, dan aku menyanyikan Kau Tega Nian dengan suara pintu berderit, dan aku menunggu seseorang, siapa saja, mengetuk pintu flat sempit di atas toko kebab dan bilang, biar aku yang gendong sebentar, kamu istirahat.

Nggak ada yang mengetuk.

Lima tahun. Nggak ada yang mengetuk.


“Adrian.”

Suara. Dari jauh. Dari dalam air.

“Adrian. Bangun. Buka mata.”

Tangan. Di dahiku. Dingin. Sejuk. Seperti air.

Aku membuka mata.

Langit-langit kamarku. Lampu tidur yang menyala kuning. Jendela dengan tirai yang ditarik setengah. Cahaya siang yang masuk miring.

Dan di samping kasurku, berlutut di lantai, dengan tangan di dahiku dan wajah yang pucat karena takut, Bianca.

“Kamu,” kataku. Suaraku keluar seperti kertas amplas.

“Aku.”

“Gimana kamu…”

“Bayu.” Dia menyentuh pipiku. Lalu leherku. Dengan punggung tangan. Seperti aku mengecek dahi Elea setiap pagi. “Aku bawa kopi ke kantor jam tujuh. Kamu nggak ada. Bayu bilang kamu nggak masuk, nggak angkat telepon, dan kemarin kamu menggigil. Aku telepon kamu dua belas kali. Nggak diangkat.” Suaranya bergetar. “Aku ke sini. Pintunya nggak dikunci. Kamu nggak kunci pintu, Adrian. Kamu tidur pakai sepatu.”

Aku melihat ke bawah. Sepatuku sudah nggak ada. Kaus kakiku juga.

“Aku lepasin,” katanya. “Kamu nggak sadar.”

“Jam berapa?”

“Jam dua siang. Jumat.”

Jumat. Aku kehilangan satu hari.

Dia mengambil termometer dari meja samping kasur. Termometer Elea, yang berbentuk dinosaurus hijau. Dia menyelipkannya di bawah lenganku. Tangannya gemetar.

Bunyi bip.

Dia membacanya. Wajahnya makin pucat.

“Tiga puluh sembilan koma delapan.”

“Nggak apa-apa.”

“Itu bukan nggak apa-apa.” Suaranya naik. Lalu turun lagi. Dia menarik napas. “Kamu udah minum obat?”

“Kemarin malam. Dua.”

“Dua belas jam lalu.” Dia berdiri. “Aku ambil obat. Sama air. Sama handuk.”

“Bi, kamu nggak perlu—“

Dia berhenti di ambang pintu kamar. Dia berbalik. Dia menatapku.

“Diam,” katanya.

Aku diam.

“Sekali ini,” katanya. Pelan. Suaranya bergetar. “Sekali ini aja, biar aku yang jaga kamu. Lima tahun kamu jaga semua orang sendirian. Elea. Bi Imah. Sinta. Pekerja di Kemayoran. Orang-orang di fan meeting. Aku.” Dia menelan. “Lima tahun nggak ada yang jaga kamu. Biar aku. Sekali ini. Diam.”

Dia keluar.

Aku menatap pintu yang terbuka. Langit-langit. Lampu tidur.

Lima tahun. Nggak ada yang mengetuk pintu.

Hari ini ada.


Dia merawatku seperti aku merawat Elea.

Parasetamol. Dua tablet. Air putih hangat, nggak dingin, biar tenggorokan kamu nggak tambah sakit. Handuk kecil yang dibasahi air hangat, bukan air dingin, air dingin bikin pembuluh darah menyempit, panasnya malah ketahan di dalam, aku baca di internet. Kompres di dahi. Di leher. Di lipatan siku.

Dia membuka kancing kemeja kerjaku, yang masih kupakai sejak kemarin, yang basah oleh keringat. Pelan. Satu kancing. Dua. Tiga.

“Bi—“

“Kemeja kamu basah. Kamu bisa tambah demam.”

Tangannya gemetar di kancing keempat. Dia berhenti. Menarik napas. Lanjut.

Dia membantuku duduk. Melepas kemeja itu dari bahuku. Dari lenganku. Pelan. Dia nggak menatap dadaku. Dia menatap lengan kiriku.

Bekas jahitan. Dari siku sampai pergelangan. Garis merah muda yang memudar, dengan bagian di dekat siku yang lebih merah, lebih baru.

Dia mengambil kaus bersih dari lemariku. Dia tahu di laci mana. Dia nggak perlu bertanya. Dia membantuku memakainya. Kepala. Lengan kanan. Lengan kiri.

Waktu lengan kiriku masuk ke lengan kaus, dia berhenti.

Dia memegang lenganku. Di bawah siku. Di bekas jahitan.

Lalu dia membungkuk. Dan menciumnya.

Bekas luka itu. Pelan. Bibirnya hangat di kulitku yang panas karena demam. Satu kali. Di bagian yang lebih merah, di dekat siku. Bagian dari fan meeting. Bagian yang robek waktu aku membentuk dinding di depan pagar besi untuk dia.

Aku menatapnya.

Dia mengangkat kepala. Matanya basah.

“Yang ini dari aku,” bisiknya. “Yang di fan meeting. Kamu robek lagi karena aku.”

“Bukan karena kamu.”

“Karena aku masuk ke kerumunan. Karena aku nggak berpikir.” Dia menyentuh bekas luka itu dengan ujung jari. “Aku nggak pernah bilang terima kasih. Buat yang ini. Kamu bilang kamu nyelamatin proyek, di Kemayoran. Tapi di fan meeting kamu nggak bilang apa-apa. Kamu cuma… jadi dinding.”

Dia menatapku.

“Terima kasih,” bisiknya. “Udah jadi dinding.”

Aku nggak bisa bicara.

Dia menarik lengan kaus itu sampai ke pergelangan. Menutupi bekas luka. Lalu dia membantuku berbaring lagi.


Dia membuat bubur.

Aku mendengarnya dari dapur. Bunyi panci. Bunyi kompor gas portabel Bi Imah, klik-klik-klik waktu dinyalakan, tiga kali gagal sebelum berhasil. Bunyi dia bicara ke speaker di dinding dapur, aku nggak minta kamu ngomong, diam, dan speaker itu menjawab maaf, saya tidak mengerti, dan dia bilang ya udah, nggak usah ngerti, diam aja.

Aku tertawa. Di kasur. Sendirian. Tawa yang serak dan menyakitkan tenggorokan.

Buburnya datang setengah jam kemudian. Di mangkuk keramik Bi Imah. Bubur nasi putih dengan sedikit garam. Polos. Sedikit gosong di bagian bawah, aku bisa mencium baunya.

“Aku nggak bisa bikin bubur ayam,” katanya, duduk di tepi kasur. “Ini bubur biasa. Mungkin agak gosong. Kompornya Bi Imah susah.”

“Kompornya Bi Imah emang susah.”

“Kamu juga bikin bubur gosong?”

“Waktu Elea demam. Dia bilang pahit.”

Dia tersenyum. Lalu dia mengambil sendok. Menyendok bubur. Meniupnya. Pelan. Tiga kali.

Lalu dia menyodorkan sendok itu ke mulutku.

Aku menatap sendok itu.

“Aku bisa makan sendiri, Bi.”

“Tangan kamu gemetar.”

Aku melihat tanganku. Memang gemetar.

Aku membuka mulut.

Dia menyuapiku. Sendok demi sendok. Meniup setiap sendok tiga kali. Membersihkan sudut bibirku dengan tisu waktu bubur menempel di sana. Seperti aku menyuapi Elea waktu dia demam di flat Cowley.

Nggak ada yang pernah menyuapiku. Sejak aku sembilan tahun. Sejak Bi Imah menyuapiku bubur di malam pertama setelah pemakaman, waktu aku nggak mau makan dan nggak mau bicara dan cuma mau Ibu pulang.

Aku menghabiskan setengah mangkuk.

“Cukup,” kataku. “Aku kenyang.”

“Setengah lagi.”

“Bi.”

“Bi Imah bilang setengah lagi.” Dia menyodorkan sendok. “Aku telepon dia tadi. Dia bilang kamu selalu bilang kenyang waktu demam, padahal belum. Dia bilang paksa.”

“Kamu telepon Bi Imah?”

“Dia telepon aku. Jam tujuh pagi. Sebelum aku ke kantor.” Dia meniup sendok. “Dia bilang kamu sendirian. Dia bilang suara kamu kemarin kayak kertas amplas. Dia bilang…” Dia berhenti. “Dia bilang, Neng, tolong. Bibi nggak bisa pulang sekarang, Elea lagi seneng. Tolong lihat Adrian. Dia nggak akan minta. Dia nggak pernah minta.“

Aku menatapnya.

“Jadi aku nggak nunggu kamu minta,” katanya. “Buka mulut.”

Aku membuka mulut.


Sore hari, panasnya naik lagi.

Tiga puluh sembilan koma lima. Lalu empat puluh.

Aku menggigil lagi. Dingin dari tulang. Gigi bergemeletuk.

Dia menyelimutiku dengan tiga selimut. Lalu jaket wol. Lalu dia naik ke kasur.

Bukan di bawah selimut. Di atas. Dia berbaring di sampingku, di atas selimut, dan memelukku. Dari samping. Tangannya melingkar di dadaku, di atas tiga selimut. Kepalanya di bahuku.

“Kamu dingin,” bisiknya. “Biar aku angetin.”

Aku nggak bisa protes. Gigiku bergemeletuk terlalu keras.

Dia memelukku sampai gigilnya berhenti. Satu jam. Mungkin lebih. Aku setengah tertidur, setengah sadar, dan setiap kali aku membuka mata, dia masih di sana. Memelukku. Matanya terbuka. Menatapku.

Sekali, aku bermimpi lagi. Flat Cowley. Lemari es. Menunggu seseorang mengetuk pintu.

Dan dalam mimpi itu, untuk pertama kalinya, ada yang mengetuk.

Aku membuka pintu.

Dan dia berdiri di sana. Dengan kepang satu dan blus putih berkancing kuning. Dan dia bilang, biar aku yang gendong sebentar. Kamu istirahat.

Aku terbangun. Dengan air mata di pipi.

Dia mengusapnya. Dengan ibu jari. Pelan.

“Mimpi buruk?” bisiknya.

“Nggak,” kataku. “Mimpi bagus.”


Jam sebelas malam, panasnya pecah.

Aku tahu, karena keringat dingin mengalir dari seluruh tubuhku, membasahi kaus dan selimut. Tanda demam yang pecah. Tanda yang selalu kutunggu waktu Elea sakit, jam tiga pagi, di depan lemari es.

Dia mengukur suhu lagi. Termometer dinosaurus hijau.

Tiga puluh tujuh koma delapan.

Dia menutup matanya. Napasnya keluar panjang. Lega. Bahunya turun.

“Turun,” bisiknya.

Satu kata. Kata yang dulu kukirim padanya jam tiga pagi, waktu Elea demam tiga puluh sembilan dua dan dia menelepon dua puluh tiga kali.

Turun.

Dia membantuku mengganti kaus lagi. Kaus yang basah oleh keringat. Kali ini aku nggak protes. Kali ini tanganku nggak gemetar. Kali ini aku sadar. Sepenuhnya. Kepala jernih, untuk pertama kalinya dalam dua hari.

Dia mengganti seprai. Sendirian. Sementara aku duduk di kursi di sudut kamar, dengan jaket wol di bahu, dan menatapnya. Dia menarik seprai yang basah. Memasang yang baru. Menyelipkan ujung-ujungnya di bawah kasur dengan rapi. Persis seperti yang dulu dia lakukan di kamar kami di rumah Menteng, setiap Minggu pagi, karena dia nggak mau pelayan yang mengganti seprai kami.

Ini kamar kita, katanya dulu. Biar aku yang urus.

Aku lupa itu. Lima tahun aku lupa.

Dia selesai. Dia berdiri di samping kasur. Rambutnya berantakan, lepas dari ikat rambut. Kemejanya kusut, lengannya digulung sampai siku. Ada noda bubur di kerahnya. Ada lingkaran gelap di bawah matanya.

Dia nggak tidur dua puluh jam. Aku bisa melihatnya.

Dan dia cantik.

Dia selalu cantik. Di lobi hotel dengan lipstik merah. Di gala dengan gaun merah anggur. Di bazar dengan gaun putih. Di dapur dengan daster bunga matahari Bi Imah.

Tapi malam ini, di kamarku, dengan rambut berantakan dan noda bubur di kerah dan mata yang lelah karena merawatku dua puluh jam, dia lebih cantik dari semuanya.

“Udah,” katanya. “Kamu tidur lagi. Aku di ruang tengah. Kalau butuh apa-apa, panggil.”

Dia berjalan ke pintu.

“Bi.”

Dia berhenti.


Aku nggak tahu kenapa aku memanggilnya.

Kepalaku jernih. Demamku sudah turun. Aku sadar sepenuhnya, lebih sadar dari yang pernah kurasakan dalam lima tahun. Dan karena aku sadar, aku tahu persis apa yang mau kukatakan. Aku tahu persis betapa berbahayanya.

Aku tetap mengatakannya.

“Jangan ke ruang tengah.”

Dia berbalik. Pelan. Menatapku.

Aku berdiri dari kursi. Jaket wol jatuh dari bahuku ke lantai. Aku berjalan ke arahnya. Tiga langkah. Kakiku masih sedikit lemah, tapi stabil.

Aku berhenti di depannya. Satu jengkal.

“Lima tahun,” kataku. Suaraku masih serak, tapi jernih. “Lima tahun aku nunggu ada yang ketuk pintu. Di Oxford. Jam tiga pagi. Waktu Elea demam. Aku nunggu siapa aja ketuk pintu dan bilang biar aku yang gendong, kamu istirahat. Nggak ada yang ketuk.”

Dia menatapku.

“Hari ini kamu ketuk,” kataku. “Bukan. Kamu nggak ketuk. Kamu langsung masuk. Pintunya nggak dikunci, dan kamu masuk, dan kamu lepas sepatuku waktu aku nggak sadar, dan kamu suapin aku bubur gosong, dan kamu peluk aku waktu aku menggigil, dan kamu ganti seprai sendirian kayak dulu di rumah Menteng. Ini kamar kita, biar aku yang urus.“

Matanya basah.

“Kamu ingat?” bisiknya.

“Aku baru ingat. Tadi. Lihat kamu nyelipin ujung seprai.”

Aku mengangkat tangan. Ke wajahnya. Ke rambutnya yang berantakan. Menyelipkannya ke belakang telinga.

“Aku nggak pernah berhenti,” bisikku.

Dia membeku.

“Lima tahun. Aku benci kamu. Aku bilang ke diriku sendiri setiap hari bahwa aku benci kamu. Aku tulis di buku catatan. Aku tidak akan memaafkan mereka. Tidak dia.“ Suaraku pecah. “Tapi aku nggak pernah berhenti, Bi. Aku nggak pernah berhenti sayang kamu.”

Air mata jatuh dari matanya. Satu. Dua.

“Itu yang paling aku benci,” bisikku. “Bukan kamu. Itu. Bahwa aku nggak bisa berhenti. Bahwa di Oxford, jam tiga pagi, waktu aku nunggu ada yang ketuk pintu, yang aku tunggu itu kamu. Selalu kamu. Lima tahun, Bi. Selalu kamu.”


Dia menciumku.

Atau aku menciumnya. Aku nggak tahu siapa duluan. Jarak satu jengkal itu hilang, dan bibirnya di bibirku, dan tangannya di wajahku, dan tanganku di rambutnya.

Bukan seperti di dapur. Bukan seperti di basement.

Pelan. Sangat pelan. Seperti orang yang menemukan sesuatu yang sudah lama hilang, dan takut kalau bergerak terlalu cepat, benda itu akan hilang lagi.

Aku merasakan air matanya di pipiku. Asin. Hangat.

Aku merasakan tangannya turun dari wajahku. Ke leherku. Ke dadaku. Berhenti di sana. Di tempat jantungku berdetak.

“Detaknya,” bisiknya di bibirku.

“Nggak bohong,” bisikku. “Malam ini nggak bohong.”

Dia menarik diri. Sedikit. Menatapku. Mata yang basah dan merah dan sangat jernih.

“Adrian,” katanya. “Kamu sadar? Kamu nggak demam lagi?”

“Tiga puluh tujuh koma delapan. Kamu yang ukur.”

“Kamu yakin?”

Aku menatapnya. Perempuan yang kubuang dari pikiranku lima tahun. Perempuan yang berlutut di lantai ruang tengahku dua puluh menit. Perempuan yang duduk di lorong delapan jam. Perempuan yang menyabuti rumput di makam ibuku dengan tangannya sendiri. Perempuan yang menyanyikan dangdut dengan suara kucing kejepit pintu supaya anak kami nggak takut petir.

Perempuan yang mengetuk pintu. Akhirnya.

“Aku nggak pernah seyakin ini,” kataku. “Lima tahun aku nggak pernah seyakin ini soal apa pun.”

Dia menatapku lama.

Lalu dia mengangkat tangannya. Melepas kacamataku. Pelan. Melipatnya. Meletakkannya di meja samping kasur, di samping termometer dinosaurus hijau dan mangkuk bubur yang setengah kosong.

“Biasanya,” bisiknya, “kamu lepas ini kalau udah kalah.”

“Aku kalah,” kataku. “Dari dulu. Dari lift Rexton Tower. Waktu kamu jatuhin kopi ke sepatuku.”

Dia tertawa. Sambil menangis.

Lalu dia mematikan lampu tidur.


Dan untuk satu malam, di kamar sewa di Kebayoran, dengan seprai yang baru diganti dan jaket wol yang jatuh di lantai, aku berhenti menghitung.

Lima tahun.

Tiga detik di ambang pintu.

Empat puluh sembilan transfer.

Dua jam tiga belas menit tanpa kursi.

Dua detik di fan meeting.

Lima detik di dapur.

Malam itu, aku nggak menghitung apa-apa.

Malam itu, cuma ada dia.