Chapter Six

Empat Menit

POV: Bianca


Aku nggak tidur malam itu.

Bukan karena sedih. Aku nggak sedih. Aku memastikan diriku nggak sedih. Aku cuma marah, dan marah bikin orang nggak bisa tidur, dan aku memanfaatkan malam itu sebaik-baiknya.

Jam sembilan malam, aku sampai di apartemen, melepas sepatu hak tinggi yang sudah meninggalkan lecet merah di tumit kiri dan kananku, dan langsung membuka laptop.

Jam sepuluh, aku menelepon tim proyek Grand Nusantara dan menyuruh mereka mengirim semua data. Semua. Gambar teknis, jadwal konstruksi, rincian anggaran, daftar vendor, laporan inspeksi.

Jam sebelas, Tasya menelepon dan bertanya dengan suara takut-takut apakah aku baik-baik saja.

“Saya baik-baik saja, Tas. Kirim template presentasi Hallworth yang terbaru.”

“Bu, tadi itu… di lobi… Ibu yakin—“

“Template, Tasya.”

“Iya, Bu.”

Jam satu pagi, presentasinya mulai berbentuk. Tiga puluh dua slide. Ringkasan proyek. Progres konstruksi. Proyeksi pengunjung. Analisis risiko. Dan rencana integrasi sistem AURA ke dalam infrastruktur yang sudah ada, bagian yang paling kusiapkan dengan teliti, karena aku tahu dia akan menyerang di situ.

Jam tiga pagi, aku berhenti sebentar dan pergi ke dapur untuk minum air.

Di depan lemari dapur, aku berdiri lama.

Di rak paling atas, di belakang toples teh chamomile dan kotak-kotak granola yang nggak pernah kumakan, ada sebuah toples kaca kecil. Isinya kopi bubuk hitam. Kopi tubruk kampung. Aku membelinya dua tahun lalu dari penjual di pasar Bandung waktu kunjungan kerja, tanpa alasan, dan nggak pernah membukanya sekali pun.

Aku menatap toples itu.

Kamu udah buang dia.

Aku menutup lemari dengan keras, kembali ke laptop, dan bekerja sampai matahari terbit.


Rapat presentasi dijadwalkan jam sepuluh pagi di ruang rapat utama lantai empat puluh Rexton Tower.

Aku datang jam delapan. Lipstik merah. Setelan hitam hari ini, hitam dengan potongan yang tajam. Rambut dicepol lebih tinggi dan lebih rapat dari kemarin. Sepatu hak sepuluh senti yang berbeda, karena yang kemarin sudah nggak bisa kupakai lagi tanpa meringis. Plester di kedua tumitku tersembunyi di balik kulit sepatu.

Darren menungguku di depan lift.

“Kamu nggak tidur,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Aku tidur.”

“Bi.”

“Dua jam. Cukup.”

Dia menatapku dengan mata cokelatnya yang tenang. Lalu dia menyodorkan sesuatu. Gelas kertas. Teh hangat dengan madu. Dia tahu aku nggak minum kopi. Semua orang di gedung ini tahu aku nggak minum kopi.

“Aku dengar soal kemarin,” katanya pelan.

“Semua orang dengar.”

“Aku cuma mau bilang, aku di sini. Kalau kamu butuh apa-apa.”

Aku menatapnya. Darren Wiratama. Laki-laki yang sabar, laki-laki yang baik, laki-laki yang nggak pernah sekali pun memintaku menceritakan apa yang terjadi lima tahun lalu, walaupun dia pasti mendengar gosipnya dari setengah Jakarta.

Aku mengambil tehnya. “Makasih, Dar.”

“Kamu cantik hari ini,” katanya. “Kayak mau perang.”

“Memang mau perang.”

Dia tersenyum kecil. Lalu, dengan suara yang lebih pelan, dia bertanya: “Anak kecil kemarin, itu…”

“Dar.” Aku menatapnya. “Jangan hari ini.”

Dia mengangguk. Dan, karena dia Darren, dia nggak bertanya lagi.


Ruang rapat lantai empat puluh penuh jam sepuluh kurang lima.

Seluruh dewan direksi Rexton hadir. Oma di ujung meja, dengan tongkat perak dan wajah tanpa ekspresi. Om Hendra di kanannya. Marcel di ujung lain, masih dengan senyum yang ingin kulempar sepatu. Mama juga hadir, di kursi pengamat di sudut ruangan, dengan setelan krem dan senyum lembut yang dia tujukan padaku waktu aku masuk.

Tiga perwakilan Hallworth Capital duduk di sisi kanan meja. Dua laki-laki Inggris berjas abu-abu, dan seorang perempuan paruh baya berambut perak dengan kacamata tergantung di leher, Catherine Hall, pendiri Hallworth sendiri, yang terbang khusus dari London untuk rapat ini.

Dan di kursi tengah sisi kanan, kursi yang secara protokol diperuntukkan bagi tamu paling penting, duduk Adrian.

Kemeja putih. Jas abu-abu gelap tanpa dasi. Kacamata berbingkai tipis. Satu tablet di depannya, dan satu buku catatan hitam bersampul kulit yang sudah lusuh di ujung-ujungnya.

Dia nggak menatapku waktu aku masuk. Dia sedang membaca sesuatu di tabletnya. Dan dia terus membacanya, bahkan waktu Om Hendra membuka rapat dengan sambutan, bahkan waktu Catherine Hall menyampaikan kata pengantar dalam bahasa Inggris yang anggun, bahkan waktu namaku disebut sebagai project lead yang akan menyampaikan presentasi.

Aku berdiri di depan layar.

“Selamat pagi. Terima kasih atas kehadiran Ibu Hall, Bapak-bapak dari Hallworth, dan Dr. Renaldi.”

Dia masih membaca tabletnya.

Aku menekan tombol. Slide pertama muncul. Logo Rexton Grand Nusantara, emas di atas hitam.

Aku mulai.


Sepuluh menit pertama berjalan sempurna.

Aku tahu proyek ini seperti aku tahu tubuhku sendiri. Aku tahu berapa ton baja yang sudah terpasang di menara barat. Aku tahu berapa persen kontrak tenant yang sudah ditandatangani. Aku tahu jadwal topping off, jadwal soft opening, jadwal grand opening. Aku menyampaikan semuanya dengan suara yang jernih dan tenang, tanpa melihat catatan sekali pun.

Catherine Hall mengangguk-angguk. Salah satu laki-laki Hallworth mencatat sesuatu. Oma nggak bereaksi, yang berarti Oma puas.

Lalu aku sampai di slide dua puluh tiga. Integrasi AURA.

“Untuk integrasi sistem AURA, kami telah menyiapkan rencana tiga tahap,” kataku. “Tahap pertama, pemasangan jaringan sensor di struktur utama yang sudah—“

“Maaf.”

Satu kata. Pelan. Tanpa nada.

Seluruh ruangan menoleh.

Adrian akhirnya mengangkat kepalanya dari tablet. Dia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kemeja dengan gerakan yang sangat lambat, lalu memakainya lagi.

Dia menatapku untuk pertama kalinya pagi itu.

“Boleh saya lihat slide empat belas lagi, Bu Rexton?”

Bu Rexton.

Aku mempertahankan wajahku. “Slide empat belas adalah rincian anggaran konstruksi, Dr. Renaldi. Kita sedang membahas integrasi AURA.”

“Saya tahu.” Suaranya tetap pelan. Tetap sopan. “Boleh?”

Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan wajah yang sama sekali nggak bisa dibaca.

Aku menekan tombol. Mundur sembilan slide. Slide empat belas muncul di layar: tabel rincian anggaran, dua belas baris, enam kolom.

“Terima kasih.” Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi. “Bu Rexton, tolong bacakan baris ketujuh.”

“Dr. Renaldi, saya rasa semua orang di ruangan ini bisa membaca—“

“Tolong bacakan,” katanya. “Keras.”

Ruangan itu sangat sunyi. Aku bisa mendengar dengung AC. Aku bisa mendengar Marcel menahan tawa di ujung meja.

Aku menatap layar. Baris ketujuh.

“Struktur baja sekunder dan rangka atap atrium,“ bacaku. “Vendor: PT Sentra Bangun Abadi. Nilai kontrak: tiga ratus delapan puluh empat miliar rupiah.“

“Dan baris kesembilan.”

“Sistem kaca fasad dan skylight. Vendor: PT Sentra Bangun Abadi. Nilai kontrak: dua ratus sembilan belas miliar rupiah.“

“Terima kasih.” Adrian mengetuk tabletnya dua kali, dan entah bagaimana, layar di belakangku berganti. Dia sudah terhubung ke sistem presentasi ruang rapat. Aku bahkan nggak tahu kapan dia melakukannya.

Grafik. Dua batang. Satu biru, satu merah.

“Batang biru adalah harga pasar rata-rata untuk pekerjaan struktur baja sekunder dengan spesifikasi yang sama di Jakarta, berdasarkan data tender publik tiga tahun terakhir,” kata Adrian. “Batang merah adalah nilai kontrak PT Sentra Bangun Abadi.”

Batang merah lebih tinggi. Jauh lebih tinggi.

“Selisihnya tiga puluh delapan persen,” lanjutnya. “Untuk kaca fasad, selisihnya empat puluh satu persen. Saya juga mencatat bahwa spesifikasi teknis rangka atap atrium di dokumen yang dikirim ke Hallworth menggunakan baja grade S275, sementara gambar kerja yang saya terima kemarin dari tim lapangan menggunakan grade S355. Salah satu dokumen ini keliru. Kalau yang keliru adalah gambar kerja, berarti atap atrium seluas delapan ribu meter persegi yang akan menaungi delapan puluh ribu pengunjung per hari dirancang dengan baja yang lebih lemah dari yang tercatat.”

Catherine Hall menegakkan punggungnya.

“Dan kalau yang keliru adalah dokumen ke Hallworth,” Adrian melanjutkan dengan nada yang sama datarnya, “berarti investor utama proyek ini menerima informasi yang tidak akurat dari project lead-nya.”

Dia menatapku.

“Siapa yang menyusun angka ini, Bu Rexton?”

Aku merasakan semua mata di ruangan itu menempel di wajahku. Oma. Om Hendra. Mama. Catherine Hall. Darren, yang kulihat dari sudut mata sedang mencengkeram pulpennya sampai buku jarinya memutih.

Aku bisa bilang tim pengadaan. Aku bisa bilang divisi keuangan, yang dipimpin Om Hendra. Aku bisa bilang konsultan biaya eksternal. Semuanya benar. Aku nggak menyusun angka-angka itu dengan tanganku sendiri.

Tapi ini proyekku. Namaku di halaman pertama. Tanda tanganku di setiap laporan yang dikirim ke Hallworth.

“Saya,” kataku.

Adrian mengangguk pelan. Seolah itu jawaban yang dia harapkan.

“Berarti Ibu yang salah,” katanya. “Data Ibu rapi, Bu Rexton. Formatnya bagus. Grafiknya cantik.” Dia melirik jam tangannya. “Sayangnya salah.”

Dia menoleh ke Catherine Hall dan bicara dalam bahasa Inggris yang tenang dan fasih. “Catherine, I’d recommend we pause the integration discussion until a full independent audit of the structural procurement is completed. I can’t put AURA into a building I don’t trust.”

Catherine Hall mengangguk lambat. “Agreed.”

Adrian kembali menatap tabletnya.

Seluruh pembongkaran itu, dari kata “maaf” sampai kata “agreed”, berlangsung empat menit. Aku tahu, karena aku menatap jam dinding di seberang ruangan sepanjang waktu itu supaya nggak menatap wajahnya.

Empat menit. Dua minggu persiapan. Tiga malam tanpa tidur. Tiga puluh dua slide.

Empat menit.


Rapat bubar dua puluh menit kemudian dengan keputusan untuk mengaudit seluruh pengadaan struktur. Om Hendra keluar pertama, dengan langkah cepat dan wajah yang kaku. Marcel menyusul, untuk pertama kalinya tanpa senyum. Catherine Hall bersalaman dengan Oma dan bicara pelan dengannya beberapa menit.

Adrian keluar tanpa menoleh ke arahku.

Tapi waktu dia melewati kursi Mama di sudut ruangan, dia berhenti.

Hanya satu detik. Hanya cukup lama untuk menatap Mama, yang mendongak padanya dengan senyum lembut yang sama, senyum yang dia tujukan pada semua orang.

“Bu Veronica,” kata Adrian. Sopan. Datar.

“Adrian.” Mama tersenyum. “Kamu kelihatan sehat.”

“Terima kasih. Lima tahun di tempat yang jauh dari orang-orang tertentu memang baik untuk kesehatan.”

Lalu dia pergi.

Mama tetap tersenyum. Tapi aku melihat jemarinya, yang terlipat di pangkuan, mencengkeram tali tasnya sedikit lebih erat.


Aku pergi ke toilet eksekutif di ujung lorong lantai empat puluh. Satu-satunya ruangan di gedung ini yang terkunci dari dalam dan nggak punya kamera.

Aku mengunci pintunya. Aku menatap cermin.

Lipstik merah. Setelan hitam. Mata yang tajam.

Mataku memerah di sudut. Aku menolak membiarkannya. Aku mendongak, menatap lampu di langit-langit, mengedipkan mata cepat-cepat sampai rasa panas itu surut.

Lalu aku membuka tasku, mengambil lipstik, dan memulas ulang bibirku. Satu garis di bibir atas. Satu garis di bibir bawah. Rapatkan. Tekan dengan tisu. Ulangi.

Waktu aku selesai, wajah di cermin kembali jadi wajah CEO Rexton Malls.

Tapi ada satu hal yang terus berputar di kepalaku. Bukan kalimat-kalimatnya yang menusuk. Bukan Bu Rexton. Bukan sayangnya salah.

Tapi angka itu. Tiga puluh delapan persen.

Aku kenal PT Sentra Bangun Abadi. Vendor lama. Dipakai di hampir semua proyek konstruksi Rexton sejak sebelum Papa meninggal. Om Hendra yang selalu merekomendasikannya. Rekanan terpercaya, katanya. Harga bersaing.

Tiga puluh delapan persen di atas harga pasar bukan harga bersaing.

Dan baja yang lebih lemah untuk atap yang menaungi delapan puluh ribu orang.

Aku nggak memeriksa dua angka itu. Aku percaya pada tim. Aku percaya pada Om Hendra. Aku percaya pada sistem yang dibangun keluargaku.

Dan laki-laki yang kubenci menemukannya dalam semalam.


Waktu aku keluar dari toilet, Tasya sudah menunggu di lorong dengan wajah yang campur aduk antara simpati dan ketakutan.

“Bu.”

“Nggak apa-apa, Tas.”

“Bu, saya cuma mau bilang…” Tasya melirik ke kanan-kiri, lalu merendahkan suaranya. “Grup ‘Pantauan Pak Dokter’ udah saya bubarin. Beneran. Tadi pagi. Mereka semua kurang ajar.”

Aku menatapnya.

“Terus,” lanjut Tasya cepat, “saya bikin grup baru.”

“Tasya.”

“Namanya ‘Tim Bu Bianca’. Anggotanya baru tiga. Saya, Mbak Rina dari legal, sama Pak Darto satpam basement.” Dia menunduk. “Pak Darto minta masuk sendiri, Bu. Katanya dia kenal Ibu dari dulu.”

Pak Darto. Satpam gerbang rumah Menteng, yang pindah ke Rexton Tower tiga tahun lalu. Aku nggak tahu kenapa dia minta pindah. Aku nggak pernah bertanya.

Sesuatu di tenggorokanku terasa sempit.

“Bubarin juga grup itu,” kataku.

“Iya, Bu.”

“Tapi nanti aja.”

Tasya mendongak. Dan dia tersenyum, senyum kecil yang lega.

Aku berjalan kembali ke ruanganku dengan langkah tegak dan sepatu hak sepuluh senti yang menggesek plester di tumitku.

Di mejaku, ada sebuah amplop. Putih. Tanpa nama pengirim. Diantar kurir hotel sepuluh menit yang lalu, kata resepsionis lantai.

Aku membukanya.

Selembar kertas. Tulisan tangan. Huruf A yang miring ke kanan.

Kontrak kerja sama. Rapat besok, jam 9. Saya akan membacakan syarat-syarat saya.

Ada sebelas.

Bawa pulpen sendiri, Bu Rexton.