Chapter Forty Nine
Epilog: Hari Ibu Pertama
POV: Bianca
Dua puluh dua Desember.
Aku duduk di kursi plastik kecil berwarna oranye. Kursi anak-anak. Lututku hampir menyentuh dagu. Perutku, yang sudah lima bulan, menekan pahaku. Di sebelah kiriku, seorang ibu dengan daster bunga-bunga dan kipas tangan. Di sebelah kananku, seorang ibu dengan blazer kantor yang terus-terusan melirik jam tangannya.
Di depan kami, di aula sekolah yang dihias kertas krep merah muda dan balon-balon yang sebagian sudah kempis, dua puluh tiga anak berdiri berbaris di panggung kecil. Dengan baju terbaik mereka. Dengan kertas di tangan. Dengan wajah yang sangat, sangat gugup.
Spanduk di atas panggung, dicat dengan tangan, huruf-hurufnya miring:
SELAMAT HARI IBU. TERIMA KASIH, MAMA.
Lima tahun aku nggak pernah duduk di kursi seperti ini.
Lima kali tanggal dua puluh dua Desember, aku ada di tempat lain. Rapat direksi. Peresmian mal. Makan malam bisnis di hotel bintang lima, dengan gaun yang harganya bisa membayar uang sekolah dua puluh tiga anak ini selama setahun. Lima kali, aku melihat spanduk Hari Ibu di lobi mal-mal Rexton, yang dipasang tim pemasaran untuk promo diskon tas dan parfum. Lima kali, aku berjalan melewatinya tanpa berhenti.
Karena aku bukan ibu siapa-siapa. Aku sudah memastikannya sendiri. Di ruang tengah rumah Menteng. Dengan diam.
Hari ini, aku duduk di kursi plastik oranye.
Dan aku gemetar.
Adrian duduk di sebelahku. Bukan di kursi plastik. Dia berdiri, di belakang barisan ibu-ibu, di dekat dinding, bersama tiga ayah lain yang juga datang. Karena Ms. Ratih bilang hari ini kursinya untuk Mama.
Dia memegang ponsel. Siap merekam. Dia sudah memeriksa baterainya tiga kali di mobil. Dia membawa powerbank. Dia membawa dua powerbank.
“Kamu gugup,” bisikku, menoleh ke belakang.
“Aku nggak gugup.”
“Kamu bawa dua powerbank.”
“Itu persiapan. Bukan gugup.”
“Kamu cek baterai tiga kali.”
“Itu…” Dia diam. “Oke. Aku gugup.”
Aku tersenyum.
Dia menatapku. Lalu menatap perutku. Lalu dia mengulurkan tangan dari belakang, melewati bahuku, dan meletakkan telapak tangannya di sana. Sebentar. Hangat. Seperti yang dia lakukan setiap malam sebelum tidur, setiap pagi sebelum minum kopi, setiap kali dia lewat di belakangku di dapur.
Adiknya Elea bergerak. Sedikit. Seperti kupu-kupu yang mengepakkan sayap di dalam toples.
Adrian membeku. Matanya membulat.
“Dia nendang,” bisiknya.
“Dia gugup juga,” bisikku. “Kayak papanya.”
Ms. Ratih naik ke panggung dengan mikrofon.
“Selamat pagi, Mama-Mama semua,” katanya, dengan senyum yang hangat. “Hari ini anak-anak sudah menyiapkan sesuatu. Mereka menulis sendiri. Ibu cuma bantu ejaannya. Isinya, seratus persen dari mereka.”
Ibu-ibu tertawa pelan.
Anak pertama maju. Laki-laki kecil dengan kemeja batik kebesaran. Dia membaca dengan suara keras dan sangat cepat, seperti dikejar sesuatu: Mama aku paling hebat karena masak nasi goreng paling enak sedunia dan nggak marah waktu aku pecahin piring dua. Terima kasih Mama. Selesai.
Ibunya, di barisan depan, menangis dan tertawa.
Anak kedua. Anak ketiga. Mama yang jago menjahit. Mama yang kerja di pabrik dan pulang malam tapi selalu cium di jidat. Mama yang galak tapi kalau aku sakit nggak tidur.
Lucas. Dengan rambut cokelat dan bahasa Indonesia yang sudah jauh lebih lancar. Mama aku orang Belanda tapi sekarang bisa bilang “kepedasan”. Mama aku juga beliin aku Kapitein. Kapitein hamster. Kapitein juga sayang Mama.
Aku tertawa. Lalu aku sadar aku menangis. Untuk anak-anak orang lain. Untuk ibu-ibu orang lain.
Lalu Ms. Ratih bilang:
“Elea Renaldi.”
Elea maju ke tengah panggung.
Gaun kuning. Gaun kuning yang sama dengan yang dia pakai di lobi Hotel Arunaya, sudah agak sempit di bahu sekarang karena dia tumbuh dua senti dalam sembilan bulan. Kaus kaki putih berenda. Sepatu merah. Rambut dikepang dua. Rapi. Sangat rapi. Pita kuning di ujung masing-masing kepangan.
Aku yang mengepang. Tadi pagi. Jam enam. Di dapur. Kanan ke tengah. Kiri ke tengah. Tarik sedikit. Sedikit aja.
Kepangan pertamaku yang nggak dicek ulang Adrian.
Jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanan.
Dia berdiri di tengah panggung. Memegang kertas dengan dua tangan. Kertas yang sudah lusuh di pinggir-pinggirnya karena dia melipat dan membukanya dan melipatnya lagi sepanjang minggu. Dia menolak memperlihatkannya padaku. Dia menolak memperlihatkannya pada Adrian. Rahasia. Kontrak rahasia.
Dia menatap ke barisan ibu-ibu. Mencari.
Menemukanku.
Dia tersenyum. Gigi depannya sudah tumbuh. Putih. Sedikit lebih besar dari gigi-gigi lainnya.
Lalu dia membuka kertasnya. Dan membaca.
“Mama Elea namanya Mama Bianca.”
Suaranya jernih. Nggak cepat seperti anak laki-laki dengan batik kebesaran. Pelan. Hati-hati. Setiap kata diucapkan seperti dia sudah berlatih ratusan kali. Mungkin memang sudah. Di kamar lavender. Di depan kepala manekin.
“Mama Elea cantik. Paling cantik. Mama Elea punya titik di bawah mata, sama kayak Elea. Kata Papa itu tanda kupu-kupu.”
Beberapa ibu menoleh ke arahku. Aku menunduk.
“Mama Elea datangnya telat.”
Aula hening.
Aku mengangkat kepala.
Elea menatap kertasnya. Lalu dia menatapku. Langsung. Melewati dua puluh dua ibu lain dan kursi-kursi plastik oranye dan balon-balon kempis.
“Mama Elea datangnya telat,” ulangnya. “Lima tahun. Waktu Elea bayi, Mama nggak ada. Waktu Elea belajar jalan, Mama nggak ada. Waktu Elea sakit di Oxford, Mama nggak ada. Waktu Hari Ibu yang dulu-dulu, Elea gambar Mama tapi nggak pakai muka. Soalnya Elea nggak tahu muka Mama.”
Aku nggak bisa bernapas.
Di belakangku, aku mendengar Adrian menarik napas. Tajam. Seperti orang yang baru dipukul.
Ibu di sebelah kiriku, dengan daster bunga-bunga, berhenti mengipas. Ibu di sebelah kananku, dengan blazer kantor, berhenti melirik jam tangan.
Elea menatap kertasnya lagi.
“Tapi Mama datang.”
Dia menelan ludah. Tangannya yang memegang kertas sedikit gemetar.
“Mama datang. Mama duduk di lantai depan kamar Elea delapan jam waktu Elea bilang jangan masuk. Mama nyuapin Elea bubur waktu Elea demam. Mama belajar kepang rambut Elea sampai tangannya pegel. Mama masak sayur asem tiap Minggu walaupun keasinan. Mama nggak marah kalau Elea bilang keasinan.”
Ibu-ibu tertawa. Pelan. Basah.
“Mama bilang yang benar di pengadilan. Walaupun semua orang lihat. Walaupun Mama malu. Papa bilang itu yang paling berani.”
Elea mengangkat kepala.
“Mama Elea datangnya telat,” katanya. “Tapi Mama nggak pergi lagi.”
Dia diam.
Lalu, dengan suara yang lebih pelan, yang hampir nggak terdengar dari barisan belakang, dia membaca baris terakhir.
“Terima kasih, Mama. Udah datang. Udah nggak pergi lagi. Elea percaya Mama.”
Dia melipat kertasnya.
“Selesai.”
Aku nggak ingat berdiri.
Aku cuma ingat bahwa tiba-tiba aku sudah di depan panggung. Dengan perut lima bulan dan lutut yang gemetar dan wajah yang basah. Dan Elea sudah melompat dari panggung, nggak lewat tangga, langsung melompat, dan aku menangkapnya. Atau dia menangkapku. Aku nggak tahu.
Dia memelukku. Lehernya di leherku. Kakinya melingkar di pinggangku, di atas perutku, hati-hati, karena Adrian sudah mengajarinya pelan-pelan, ada adek di situ.
“Mama nangis,” bisiknya di telingaku.
“Peraturan nomor satu udah dihapus,” bisikku balik.
“Iya. Elea tahu.” Dia mempererat pelukannya. “Elea juga nangis. Dikit.”
Di belakang kami, aula meledak dalam tepuk tangan. Ibu-ibu yang nggak kukenal. Ibu dengan daster bunga-bunga. Ibu dengan blazer kantor, yang sekarang menangis dan nggak peduli soal jam tangannya. Ms. Ratih di panggung, dengan mikrofon yang terlupakan di tangannya, menutup mulut.
Dan dari dinding belakang, Adrian. Dengan ponsel yang masih merekam, tapi dia nggak lagi menatap layarnya. Dia menatap kami. Dengan mata merah di balik kacamata.
Dua powerbank. Dan dia lupa mengarahkan kameranya.
Nanti malam, waktu kami menonton videonya di sofa, kami akan melihat sembilan puluh detik rekaman langit-langit aula yang dihias kertas krep merah muda. Dan suara Elea. Dan suara isakan laki-laki dewasa yang sangat dekat dengan mikrofon.
Elea akan bilang Papa payah. Adrian akan bilang Papa nangis, Elea, Papa nggak bisa lihat layar. Dan Elea akan memeluknya dan bilang ya udah, Elea maafin.
Sore itu, kami nggak langsung pulang.
Kami menyetir ke Bandung. Karena Bi Imah sudah menelepon tiga kali sejak pagi dan bilang dia masak.
Rumah bercat hijau muda. Atap baru yang nggak bocor. Teras tegel kuning. Bunga kertas di pagar bambu.
Bi Imah membukakan pintu dengan daster batik dan kerudung hijau dan wajah yang langsung basah waktu Elea menceritakan pidatonya di teras, lengkap, kata per kata, dengan gerakan tangan.
Lalu Bi Imah menatapku.
“Neng,” katanya. “Hari ini Neng yang masak.”
Aku menatapnya. “Bi, aku—“
“Sayur asem. Bibi udah siapin bahannya. Bibi duduk aja. Bibi nggak bantu. Bibi nggak lihat.”
“Bi, sayur asemku keasinan. Udah sembilan bulan keasinan.”
“Bibi tahu.” Bi Imah tersenyum. “Masak aja, Neng. Hari ini Hari Ibu. Ibu yang masak buat keluarganya.”
Dapur Bi Imah.
Kompor gas dua tungku. Panci aluminium yang penyok di satu sisi. Talenan kayu yang sudah tipis di tengah karena dipakai tiga puluh tahun.
Aku berdiri di depannya sendirian.
Melinjo. Kacang panjang. Labu siam. Jagung manis. Kacang tanah. Asam jawa. Daun salam. Lengkuas.
Aku nggak membuka buku catatan kecil berisi takaran. Aku meninggalkannya di tas. Di mobil.
Neng, ini bukan rumus kimia. Ini perasaan.
Aku memotong labu siam. Aku menyiangi kacang panjang. Aku memasukkan semuanya ke panci dengan urutan yang Bi Imah ajarkan, sembilan bulan, setiap Minggu, berpuluh-puluh kali.
Lalu garam.
Aku menatap toples garam di tanganku. Toples plastik tua dengan tutup merah.
Sembilan bulan, aku menakar garam dengan sendok. Satu setengah sendok teh. Dua sendok teh. Satu sendok teh lebih sedikit. Selalu terlalu banyak. Selalu keasinan. Karena aku takut kurang. Karena aku takut rasanya hambar dan Adrian akan diam dan Elea akan bilang nggak enak.
Karena aku masih memasak seperti orang yang takut ditolak.
Hari ini, aku menuang garam ke telapak tanganku. Sedikit. Lalu aku menatapnya.
Lalu aku membuang separuhnya kembali ke toples.
Dan memasukkan sisanya ke panci.
Aku mengaduknya. Searah jarum jam. Aku nggak menghitung berapa kali.
Lalu aku mencicipinya.
Aku diam.
Aku mencicipinya lagi.
Kami makan di teras. Di atas tikar pandan. Seperti malam pertama aku datang ke rumah ini, sembilan bulan lalu, dengan rambut yang dikepang Elea dan sandal jepit katak di kaki dan Bi Imah yang bilang ke tetangga ini mantu.
Bi Imah. Adrian. Elea. Aku. Dan adik Elea di dalam perutku, yang terus menendang seperti nggak sabar ikut makan.
Bi Imah menyendok kuah sayur asem ke mangkuknya. Dia meniupnya. Dia mencicipinya.
Dia diam.
Aku menahan napas.
Adrian mencicipinya. Dia diam juga.
Elea mencicipinya. Dia mengerutkan dahi. Dia mencicipinya lagi. Lalu dia menatapku dengan mata yang membulat.
“Mama,” katanya. “Ini nggak keasinan.”
Aku nggak bisa bicara.
Bi Imah meletakkan sendoknya. Dia menatapku. Matanya basah. Seperti biasa. Bi Imah selalu menangis. Tapi kali ini berbeda. Kali ini dia tersenyum dengan seluruh wajahnya.
“Enak, Neng,” katanya. “Ini enak.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Neng udah nggak takut,” kata Bi Imah pelan. “Bibi bisa ngerasain. Orang yang takut masaknya keasinan. Orang yang udah nggak takut masaknya pas.”
Aku menatap Adrian.
Dia menatapku balik. Dan dia nggak bilang enak. Dia nggak bilang pas. Dia nggak bilang apa-apa.
Dia cuma menyendok lagi. Dan lagi. Dan menghabiskan mangkuknya. Dan menyodorkan mangkuk kosongnya padaku.
“Nambah,” katanya.
Satu kata.
Lima tahun lalu, di malam aku membuang segalanya, aku nggak pernah membayangkan akan ada malam seperti ini. Teras kecil di gang belakang pasar Cicadas. Tikar pandan. Laki-laki yang dulu kupaksa berlutut, menyodorkan mangkuk kosong dan minta nambah. Anak perempuan yang dulu kubiarkan dibawa pergi di bawah hujan, sekarang duduk di sampingku dengan kepangan buatanku dan bilang Elea percaya Mama di depan dua puluh dua ibu lain.
Aku menyendokkan sayur asem ke mangkuknya.
Dia menatapku. Di bawah lampu teras yang kuning dan redup. Dengan kacamata yang sedikit berembun karena uap kuah.
“Aku cinta kamu,” katanya. Pelan. Di depan Bi Imah dan Elea. Tanpa malu.
Itu kalimatku. Kalimat pagiku. Yang kuucapkan setiap pagi, dua ratus delapan puluh pagi berturut-turut, sejak pagi pertama di dapur rumah Jalan Wijaya.
Malam ini dia yang mengucapkannya duluan.
“Ini bukan pagi,” kataku. Suaraku pecah.
“Nggak apa-apa,” katanya. “Tiap pagi kamu bilang. Malam ini giliranku.”
Malam itu, di kamar Adrian waktu kecil, di kasur tipis di atas dipan kayu, Elea tidur di antara kami lagi. Kasurnya bahkan lebih kecil dari kasur di kamar lavender. Kaki Adrian bukan cuma menggantung. Lututnya menempel di lemari dengan cermin retak.
Di dinding, di atas kepala kami, daftar target. Tujuh baris. Enam dicentang.
7. Adek.
Belum dicentang.
Empat bulan lagi.
Elea menatap daftar itu dengan mata setengah terpejam.
“Mama,” gumamnya.
“Iya, Sayang.”
“Nanti adek boleh Elea yang centang?”
“Boleh.”
“Nanti adek Elea yang ajarin baca?”
“Boleh.”
“Nanti adek Elea yang ajarin ritual?”
Aku menatap Adrian di sisi lain kasur. Dia menatapku balik.
“Boleh,” kata kami bersamaan.
Elea tersenyum. Matanya tertutup. Lalu terbuka sedikit.
“Mama percaya Papa?” gumamnya.
Aku menatap laki-laki di sisi lain kasur.
Laki-laki yang lima tahun lalu berlutut di depanku dan minta satu kalimat. Yang menunggu tiga detik di ambang pintu. Yang menggendong bayi kami di bawah hujan, di bawah payung lipat jelek dengan gagang patah. Yang membesarkannya sendirian di kota asing, dengan kopi tubruk dan rumus-rumus dan ritual malam yang dia ucapkan sendirian lima tahun. Yang pulang untuk membalas dendam, dan malah membuka pintu.
Laki-laki yang sekarang, di kasur tipis di kamar masa kecilnya, meletakkan tangannya di atas perutku. Di atas anak kami yang kedua. Yang akan lahir dengan ibu yang ada. Dari hari pertama. Dari detik pertama.
Aku datang terlambat lima tahun.
Tapi aku datang.
Dan aku nggak akan pergi lagi.
“Selalu,” kataku.
Elea tertidur.
Di luar, di gang belakang pasar Cicadas, hujan mulai turun. Pelan. Di atas atap baru yang nggak bocor.
Aku memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku nggak takut pada hujan.
TAMAT
- 1 Bilang Kamu Percaya Aku
- 2 Malam Itu, Aku Lega
- 3 Oxford, Jam Tiga Pagi
- 4 Nama yang Tidak Boleh Disebut
- 5 Tiga Jam di Lobi
- 6 Empat Menit
- 7 Papa Kepang Dua
- 8 Syarat Nomor Tujuh
- 9 Atrium Kemayoran
- 10 Gala Rexton
- 11 Tiga Puluh Sembilan Derajat
- 12 Lima Puluh Meter
- 13 Album Lama
- 14 Rapat Tanpa Kursi
- 15 Basement, Hujan
- 16 Sinta
- 17 Tante Kantor
- 18 Papa Jahat
- 19 Angka yang Tidak Mau Diam
- 20 Gedung yang Bernapas
- 21 Peringatan
- 22 Rekaman Surabaya
- 23 Lantai Empat Puluh
- 24 Mama, Kenapa?
- 25 Terlambat Lima Tahun
- 26 Kupu-Kupu di Selimut
- 27 Papa Bohong
- 28 Sumpah
- 29 Dua Jam Hari Sabtu
- 30 Kontrak Elea
- 31 Kopi Tubruk, Tanpa Gula
- 32 Kepangan yang Gagal
- 33 Sayur Asem
- 34 Aku Berhenti Memakai Dia
- 35 Darren
- 36 Bogor, Badai
- 37 Demam
- 38 Kesalahan
- 39 Tawaran Oma
- 40 Harga Nama Rexton
- 41 Malam Sebelum Sidang
- 42 Kursi Saksi
- 43 Veronica
- 44 Mama
- 45 Grand Opening
- 46 Aku Percaya Kamu
- 47 Pernikahan Kedua
- 48 Rumah
- 49 Epilog: Hari Ibu Pertama reading