Chapter Twenty Six

Kupu-Kupu di Selimut

POV: Bianca


Daster Bi Imah bergambar bunga matahari besar-besar, warna kuning dan cokelat, dan kebesaran dua ukuran.

Aku memakainya di kamar mandi kecil di samping dapur, sambil gemetar. Bajuku yang basah kuletakkan di ember plastik yang Bi Imah sodorkan. Rambutku kukeringkan dengan handuk yang wangi pelembut pakaian murah, wangi yang sama dengan wangi rumah ini. Aku menatap cermin kecil di atas wastafel.

Perempuan di cermin itu memakai daster bunga matahari dan nggak memakai riasan apa pun dan matanya bengkak dan hidungnya merah.

Aku nggak mengenalinya.

Atau mungkin, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku mengenalinya.


Dapur Bi Imah hangat.

Kompor gas portabel menyala di samping kompor induksi yang nggak dipakai. Panci kecil di atasnya, berisi air dan jahe yang dimemarkan dan gula merah, mendidih pelan. Bau jahe dan gula merah memenuhi ruangan.

Dinding dapur penuh. Kalender dari toko emas di Bandung. Jadwal sekolah Elea, ditulis tangan dengan spidol warna-warni. Daftar belanja. Dan pintu lemari es, ditutupi gambar-gambar krayon dari ujung ke ujung.

Aku berdiri di depan lemari es itu.

Gambar rumah dengan pohon mangga dan ayunan ban. Gambar beruang di bawah bulan, yang kelihatan seperti kentang. Gambar Lucas dari Belanda dan hamster bernama Kapitein. Gambar laki-laki berkacamata besar dengan perban di lengan, ditempeli plester bergambar bintang.

Dan di tengah, di tempat yang paling tinggi, gambar-gambar yang lebih tua. Kertasnya sudah menguning. Krayonnya sudah pudar. Coretan-coretan anak dua tahun, tiga tahun, empat tahun.

Semuanya punya satu hal yang sama.

Tiga orang. Laki-laki berkacamata. Anak perempuan berkepang. Dan perempuan berambut panjang bergelombang, dengan gaun yang berganti warna di setiap gambar, merah muda, biru, kuning, ungu, dikelilingi bintang-bintang.

Tanpa wajah.

Lingkaran kosong. Tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut.

Bertahun-tahun. Gambar demi gambar. Perempuan tanpa wajah.

Aku menyentuh salah satu gambar itu dengan ujung jari. Yang paling tua. Kertasnya rapuh. Coretan krayon merah muda yang hampir nggak berbentuk. Di bawahnya, dengan tulisan tangan Adrian yang miring:

Elea, 2 tahun 6 bulan. “Mama Elea di bintang. Elea nggak tahu muka Mama. Nanti kalau udah tahu, Elea gambar.”

Aku menarik tanganku.

“Duduk, Neng,” kata Bi Imah di belakangku. Pelan.

Aku duduk di meja makan kecil. Bi Imah meletakkan secangkir teh jahe di depanku. Uap naik. Aku memegang cangkir itu dengan dua tangan. Panas. Panasnya menembus telapak tanganku yang masih dingin.

Adrian berdiri di ambang dapur. Bajunya juga basah. Dia nggak ganti. Dia berdiri bersandar di kusen pintu dengan lengan terlipat di dada, dan menatapku.

Nggak dingin lagi. Nggak marah lagi. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang lelah dan berat dan menunggu.


“Bianca,” kata Bi Imah, duduk di kursi di seberangku. “Bibi mau tanya satu hal. Boleh?”

Aku mengangguk.

“Jepit kupu-kupu yang dipakai Elea.” Bi Imah menatapku. “Itu punya kamu, kan?”

Di ambang pintu, Adrian menegakkan punggungnya.

Aku menatap teh jahe di tanganku.

“Iya,” kataku.

Hening.

“Papa kasih ke aku waktu ulang tahun ketujuh belas,” lanjutku pelan. “Batu birunya aquamarine. Batu kelahiran bulan Maret. Papa bilang, biar kamu ingat, kupu-kupu itu awalnya ulat. Semua orang bisa berubah jadi lebih indah.“

“Aku nemu itu di selimut Elea,” kata Adrian dari ambang pintu. Suaranya serak. “Di taksi. Malam itu. Aku nggak tahu itu punya siapa. Aku kira punya pengasuh. Aku hampir buang ke luar jendela.” Dia diam. “Elea yang ambil. Dia genggam. Terus dia tidur.”

Aku menatapnya.

“Lima tahun dia nggak mau lepas,” lanjutnya. “Kalau hilang, dia nangis sampai ketemu. Aku pernah coba ganti sama jepit lain. Yang lebih bagus. Dia tolak. Dia bilang…”

“Dari dulu punya Elea,“ bisikku.

Adrian menatapku. Lama.

“Gimana jepit itu bisa ada di selimutnya?”


Aku nggak pernah menceritakan ini ke siapa pun.

Aku bahkan nggak pernah menceritakannya ke diriku sendiri. Lima tahun, ingatan itu kukubur di tempat yang paling dalam. Di bawah semua karung pasir. Di bawah kelegaan, di bawah rasa bersalah, di bawah lipstik merah dan setelan rapi dan angka-angka. Aku menguburnya begitu dalam sampai aku sendiri nggak yakin apakah itu ingatan atau mimpi.

Sampai jepit itu tersangkut di akar pohon ketapang, di depan sepatuku.

“Malam itu,” kataku. “Sebelum Mama bawa aku turun ke ruang tengah.”

Aku menatap teh jahe. Uapnya naik, berputar, hilang.

“Mama masuk ke kamarku dengan map cokelat. Mama tunjukin foto-fotonya. Rekeningnya. Terus Elea nangis dari kamar sebelah. Dan Mama bilang, biar suster yang urus, kamu turun ke bawah, Oma mau bicara.” Aku menarik napas. “Mama keluar duluan. Bilang mau panggil suster.”

Bi Imah diam. Adrian diam.

“Aku nggak langsung turun,” bisikku. “Aku masuk ke kamar bayi.”

Aku melihatnya lagi. Kamar bercat krem. Awan-awan kecil di langit-langit. Boks kayu putih.

“Elea nangis di boksnya. Mukanya merah. Tangannya ngepal di udara. Dan aku berdiri di samping boks, dan aku… aku nggak bisa angkat dia. Aku takut. Aku takut kalau aku angkat dia, aku bakal jatuhin dia. Aku takut kalau aku lihat mukanya terlalu lama, aku bakal lihat muka kamu. Aku takut kalau aku pegang dia, aku nggak akan bisa lepas, dan aku harus turun, dan Mama nunggu, dan Oma nunggu.”

Tanganku gemetar di sekitar cangkir.

“Jadi aku cuma berdiri di sana. Lihat dia nangis. Dan aku nggak tahu kenapa, tapi aku… aku lepas jepit itu dari rambutku. Jepit dari Papa. Yang aku pakai setiap hari. Dan aku selipin di selimutnya. Di lipatan selimut rajut biru muda yang Bu Imah bikin.”

Bi Imah menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku nggak tahu kenapa aku ngelakuin itu,” bisikku. “Waktu itu aku nggak tahu. Aku cuma… aku cuma merasa harus kasih dia sesuatu. Sesuatu dari aku. Kayak… kayak kalau terjadi apa-apa malam itu, kalau dia pergi, dia harus punya sesuatu.”

Aku mengangkat kepala. Menatap Adrian di ambang pintu.

“Kayak bagian dari aku udah tahu,” kataku, “bahwa aku bakal buang dia.”


Adrian nggak bergerak.

Dia berdiri di ambang pintu dapur, dengan baju yang basah dan lengan yang terlipat, dan wajahnya… wajahnya nggak berubah. Tapi aku melihat sesuatu di rahangnya. Bergerak. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

“Itu satu-satunya yang aku kasih sebagai ibu,” kataku. “Satu jepit rambut. Selama lima tahun. Itu satu-satunya.”

“Dan uang,” kata Bi Imah pelan.

“Uang bukan pemberian ibu, Bu Imah.” Aku menatap perempuan tua itu. “Uang itu pemberian orang asing yang merasa bersalah.”

Bi Imah menunduk.

Aku menatap Adrian lagi. Ada satu hal lagi. Satu hal terakhir. Hal yang paling memalukan. Hal yang nggak pernah kuakui bahkan pada diriku sendiri dengan kalimat yang utuh. Hal yang Mama ucapkan di ruang kerja Papa, dan aku nggak bisa membantahnya.

Kalau aku mau dia tahu semuanya, dia harus tahu ini juga.

“Pagi itu,” kataku. “Waktu aku bangun. Waktu Bi Sumi bilang Elea dibawa kamu.”

Adrian menunggu.

“Aku nggak nanya lagi. Aku nggak minta dicari. Aku cuma bilang oh, terus aku tidur lagi.” Suaraku hampir nggak terdengar. “Dan aku lega, Adrian.”

Hening.

“Aku lega,” ulangku. Lebih keras. Karena dia harus mendengarnya. Karena aku harus mengatakannya keras-keras, sekali, di depan dia, di dapur rumah tempat anakku tumbuh. “Waktu anakku pergi, aku lega. Karena nggak ada lagi tangisan. Karena nggak ada lagi jam tiga pagi. Karena nggak ada lagi rasa takut tiap kali aku lihat mukanya dan nggak ngerasain apa yang seharusnya aku rasain.”

Bi Imah menangis. Pelan. Dengan tangan menutup mulut.

“Mama bohong soal foto. Mama bohong soal telepon. Mama bohong soal kamu blokir nomor. Semua itu salah Mama.” Aku menatap Adrian, dan air mata jatuh lagi, dan aku nggak menghapusnya. “Tapi lega itu punyaku. Diam itu punyaku. Oh itu punyaku. Nggak ada yang nyuruh aku ngerasain lega. Nggak ada yang bisa aku salahin untuk itu. Cuma aku.”

Adrian menatapku.

Dan untuk pertama kalinya sejak dia kembali, aku melihat matanya basah.

Bukan karena hujan.


Petir menyambar di luar. Cahaya putih menerangi jendela dapur sesaat. Lalu guntur. Panjang. Berat. Menggetarkan kaca.

Dan dari belakang Adrian, dari arah tangga, terdengar suara kecil.

“Papa?”

Adrian membeku.

Aku membeku.

Bi Imah berdiri dari kursinya dengan cepat, terlalu cepat, kursi plastiknya bergeser di lantai dengan bunyi yang keras.

“Papa, petirnya keras. Elea takut.”

Langkah kaki kecil di tangga. Pelan. Satu anak tangga. Dua.

Adrian berbalik. “Elea, Sayang, naik lagi. Papa ke atas sekarang—“

Tapi langkah kaki kecil itu sudah sampai di bawah. Sudah di ruang tengah. Sudah di belakang Adrian, di ambang dapur.

Elea.

Piyama kelinci. Rambut kusut karena tidur. Mr. Snuggles di pelukan. Dan di rambutnya, terselip miring, jepit kupu-kupu perak dengan batu biru pucat.

Dia mengintip dari balik kaki ayahnya. Matanya bengkak karena kantuk. Dia menatap dapur. Bi Imah yang berdiri dengan mata merah. Panci teh jahe di atas kompor.

Dan aku.

Duduk di meja makan kecil. Memakai daster bunga matahari Nenek Imah yang kebesaran. Dengan rambut setengah basah dan wajah tanpa riasan dan mata yang bengkak.

Elea menatapku lama.

Lalu wajahnya berubah. Mata yang mengantuk jadi lebar. Bibir yang cemberut jadi terbuka.

“Tante cantik?”


Nggak ada yang bergerak.

Aku nggak bisa bergerak. Bi Imah nggak bergerak. Adrian berdiri seperti patung di ambang pintu, dengan tangan setengah terulur ke arah Elea, membeku di udara.

Elea melangkah melewati kaki ayahnya. Masuk ke dapur. Satu langkah. Dua.

“Tante kok di sini? Tante kok pakai baju Nenek?”

Aku membuka mulut. Nggak ada suara yang keluar.

“Tante nangis lagi?” Elea berhenti di samping meja, menatapku dari bawah. “Kenapa Tante nangis terus?”

“Elea.” Suara Adrian. Serak. “Sayang, ayo naik. Udah malam.”

Elea nggak menghiraukannya. Dia menatapku. Dengan kepala dimiringkan sedikit ke kanan. Persis seperti anak perempuan di foto tahun 2001.

“Tadi Elea dengar,” katanya pelan. “Dari tangga. Elea dengar Tante ngomong.”

Dunia berhenti.

“Tante bilang anakku,” lanjut Elea. Matanya menatapku, polos, bingung, sungguh-sungguh. “Tante bilang waktu anakku pergi. Terus Nenek bilang bukan pemberian ibu. Terus Tante bilang aku kasih jepit itu.”

Dia mengangkat tangannya. Menyentuh jepit kupu-kupu di rambutnya.

“Jepit ini?”

Aku nggak bisa bernapas.

“Tante yang kasih jepit ini ke Elea?”

Di belakangnya, Adrian menutup mata.

“Tapi Papa bilang,” kata Elea, dan suaranya mulai bergetar. “Papa bilang jepit ini dari dulu punya Elea. Papa bilang Papa nggak tahu dari mana. Papa bilang…”

Dia menoleh ke ayahnya.

“Papa bilang Mama di bintang.”


Adrian membuka mata. Dia menatap anaknya. Dan aku melihat wajahnya. Wajah laki-laki yang di ruang rapat empat menit membongkar presentasiku tanpa berkedip. Wajah laki-laki yang menembus kerumunan tiga ribu orang dan membentuk dinding dengan tubuhnya. Wajah laki-laki yang mengucapkan percaya kamu nggak ada harganya lagi di balik pagar hitam di bawah hujan.

Wajah itu hancur.

“Elea…”

“Papa bilang Mama di bintang,” ulang Elea. Air mata mulai mengalir di pipinya. “Papa bilang Mama jauh. Jauh sekali. Papa bilang Elea nggak bisa ketemu Mama.”

Dia menoleh padaku lagi.

Dan aku melihatnya. Aku melihatnya menyusun semuanya. Di kepala kecilnya. Tante cantik di hotel yang matanya kayak mau nangis. Tante cantik di bazar yang memungut jepitnya. Tante cantik di gedung R yang membiarkannya naik ke pangkuan dan menangis waktu dipeluk. Tante cantik yang punya tahi lalat di bawah mata kiri, persis seperti miliknya.

MIRIP MAMA?

Dengan tanda tanya.

Tanda tanya itu, di detik itu, di dapur rumah Kebayoran, jam satu lewat dua puluh pagi, dengan petir yang menyambar di luar, menghilang.

“Tante,” bisik Elea. Suaranya kecil sekali. “Tante… Mama Elea?”

Aku nggak bisa menjawab.

Aku nggak tahu apakah aku berhak menjawab. Aku nggak tahu apakah kata iya itu milikku untuk diucapkan, setelah lima tahun, setelah empat puluh sembilan transfer tanpa nama, setelah oh, setelah lega.

Aku menatap Adrian.

Adrian menatapku.

Dan aku melihatnya mengangguk. Sangat pelan. Hampir nggak terlihat. Bukan izin. Bukan pengampunan. Cuma… pengakuan. Bahwa kebenaran ini nggak bisa disimpan lagi.

Aku turun dari kursi. Aku berlutut di lantai dapur, di depan anakku, supaya mataku sejajar dengan matanya.

Aku nggak menyentuhnya.

“Iya,” bisikku. “Iya, Sayang. Aku Mama kamu.”


Elea menatapku.

Lama sekali.

Aku menunggu. Aku menunggu dia memelukku seperti di lantai empat puluh. Aku menunggu dia tersenyum. Aku menunggu dia bilang Elea sayang Tante lagi. Aku menunggu apa saja.

Elea mundur satu langkah.

Lalu satu langkah lagi.

Wajahnya berubah. Bukan senang. Bukan lega. Sesuatu yang belum pernah kulihat di wajah anak lima tahun. Sesuatu yang sakit dan bingung dan dikhianati.

“Mama nggak di bintang,” bisiknya.

“Nggak, Sayang.”

“Mama di sini. Di Jakarta. Dari dulu.”

“…Iya.”

“Mama tahu Elea di mana?”

Aku nggak bisa bohong. Nggak lagi. Nggak ke dia.

“Iya.”

Elea menatapku. Bibir bawahnya bergetar. Air mata mengalir lebih deras.

“Terus kenapa Mama nggak datang?”

Pertanyaan itu.

Pertanyaan yang lima tahun kuhindari. Pertanyaan yang kutimbun dengan karung pasir dan lipstik merah dan transfer bulanan. Pertanyaan yang ditanyakan oleh suara paling kecil dan paling jujur di dunia.

Aku nggak punya jawaban.

Nggak ada jawaban yang bisa diucapkan ke anak lima tahun. Nggak ada Mama sakit waktu itu. Nggak ada Nenek Veronica bohong. Nggak ada Mama takut. Semuanya benar. Dan semuanya nggak cukup.

Elea menunggu. Satu detik. Dua. Tiga.

Aku diam.

Lagi.

Elea menoleh ke ayahnya.

“Papa bohong,” bisiknya. “Papa bohong sama Elea.”

Adrian berlutut. “Elea, Sayang, dengar Papa—“

“Papa bilang Mama di bintang! Papa bilang Elea nggak bisa ketemu! Papa bilang jangan dekat-dekat Tante! Papa tahu Tante itu Mama! Papa tahu dari awal!” Suaranya naik, pecah, jadi jeritan. “Papa bohong! Papa bohong! Papa BOHONG!”

Dia berbalik.

Dia berlari. Melewati ayahnya. Melewati ruang tengah. Menaiki tangga. Mr. Snuggles terjatuh di anak tangga ketiga. Dia nggak berhenti untuk memungutnya.

Pintu kamar di ujung lorong lantai dua dibanting.

Lalu bunyi kunci diputar.

Lalu tangisan. Tangisan yang terdengar sampai ke dapur. Tangisan yang lebih keras dari petir.


Nggak ada yang bergerak di dapur.

Bi Imah berdiri di samping kompor dengan dua tangan menutup wajah. Bahunya bergetar.

Adrian berlutut di lantai dapur, di ambang pintu, dengan satu tangan masih terulur ke arah tangga. Ke arah anak yang sudah nggak ada di sana.

Aku berlutut di lantai dapur, dua meter darinya, dengan daster bunga matahari dan tangan yang terkepal di pangkuan.

Kami berdua berlutut. Di lantai dapur yang sama. Menatap tangga yang sama.

Lima tahun lalu, salah satu dari kami berlutut, dan yang lain duduk di sofa dan diam.

Malam ini, kami berdua berlutut.

Dan anak kami menangis di atas, di balik pintu yang terkunci, karena kedua orang tuanya bohong padanya.

Aku dengan diamku.

Dia dengan bintangnya.


Adrian akhirnya berdiri. Pelan. Seperti orang tua.

Dia berjalan ke tangga. Dia memungut Mr. Snuggles dari anak tangga ketiga. Dia memeluk boneka beruang itu sebentar, ke dadanya. Lalu dia menaiki tangga.

Di anak tangga kelima, dia berhenti. Dia nggak menoleh.

“Pulang, Bi,” katanya. Pelan. Bukan dingin. Bukan marah. Cuma lelah. Sangat, sangat lelah. “Malam ini, pulang. Biar aku yang urus dia.”

Dia naik.

Aku mendengar langkah kakinya di lorong lantai dua. Aku mendengar ketukan di pintu kamar Elea. Pelan. Tiga kali.

“Elea. Ini Papa. Papa bawa Mr. Snuggles.”

Tangisan di balik pintu nggak berhenti.

“Elea, Sayang. Papa minta maaf. Papa salah. Papa bohong. Papa minta maaf.”

Tangisan di balik pintu nggak berhenti.

Aku berdiri dari lantai dapur.

Bi Imah menurunkan tangannya dari wajah. Dia menatapku. Matanya merah dan basah dan sangat sedih.

“Neng,” bisiknya. “Bajumu masih basah. Bawa daster Bibi aja.”

Aku mengangguk.

Aku berjalan ke ruang tengah. Ke pintu depan. Aku berhenti di depan lemari es di dapur, satu kali lagi, dan menatap gambar-gambar itu.

Perempuan tanpa wajah. Bertahun-tahun. Gambar demi gambar.

Malam ini, perempuan itu punya wajah.

Dan anaknya nggak mau melihatnya.

“Sampai jumpa,” kata pintu depan waktu aku membukanya.

Aku keluar ke hujan, dengan daster bunga matahari dan sepatu basah, dan berjalan ke mobilku yang diparkir miring, setengah di trotoar.

Aku duduk di kursi pengemudi.

Aku nggak menyalakan mesin.

Aku menatap jendela lantai dua rumah itu. Jendela kamar di ujung, yang lampunya menyala. Di balik tirai lavender, aku bisa melihat bayangan seorang laki-laki. Duduk di lantai. Bersandar ke pintu. Menunggu.

Aku duduk di mobil sampai lampu itu mati.

Jam empat pagi.